#25DayBlogChallenge Day 3: What Are You Afraid Of?

: CEMAS

Betapa takterberkati hidup dalam kecemasan, betapa tanpa rahmat hidup dalam kegelisahan. Setiap orang harus mampu menguak tempurung kegelapannya, setiap orang harus berjuang menguak ketakutannya,” (SGA, Negeri Senja).

Soal tulisan ketiga ini, agak lama memang aku memikirkannya. Baru hari ini dapat aku simpulkan hasilnya. Inspirasinya aku dapat dari pengalamanku pekan lalu. Aku menyaksikan dua kondisi tidak ideal yang dialami beberapa teman. Dalam sebuah acara edukasi ibu-ibu sebuah kelurahan, salah satu teman menjadi ketua panitia. Dengan posisi strategisnya, perempuan beranak tiga yang masih di bawah usia SD ini tetap rendah hati menyajikan minuman istimewa (berupa jus) kepada para peserta. Padahal dengan kesibukan mengurus anak, mungkin kita terpikir untuk hanya menyajikan air mineral. Namun, dia tidak berpikir demikian. Disediakannya minuman alami yang dapat menghilangkan kantuk para peserta.

Ketika ada perserta yang baru datang, sambil menggendong putrid yang masih kecil, satu persatu para ibu itu disambutnya. Setelah itu, bukannya menyuruhku mengambil minuman, ia justru menitipkan putrinya ke pangkuanku dan menghidangkannya di hadapan ibu-ibu. Aku sadar, ada hubungan yang harus selalu dibangun dan dipertahankan antara dirinya dan ibu-ibu peserta pelatihan tersebut. Sebagai da’i, dia harus memberikan pelayanan terbaik kepada objek dakwahnya. Dua putranya yang sangat aktif dan kadang menyulut kemarahan dihadapi dengan senyuman. Simpulanku, dia mandiri, cekatan, dan tangguh. Padahal sebelumnya aku tahu kondisi keuangan keluarganya tidak dalam keadaan baik. Sang suami baru bangkit dari pemutihan di kantornya. “Saat ini kami sedang belajar menikmati keterbatasan ekonomi,” ujarnya dalam sebuah pertemuan terbatas. Aku masih ingat, betapa sebelum ini ia berada dalam kecukupan dan sangat dermawan. Allah SWT mengujinya dengan keterbatasan bahkan ketiadaan.

Kawan lain aku saksikan kehidupannya ketika membantu menyelenggarakan arisan komplek. Karena aktivitas sebagai perempuan pekerja, konsumsi tamu dipesan dari catering. Saat menyiapkan makanan untuk tamu, putri bunsunya yang baru genap satu tahun mengisengi kami dan mengambil beberapa kue, memakannya, dan memuntahkannya. Kawan saya itu dengan sabar mengajak putrinya berdialog dengan cara yang tidak menyeramkan untuk anak-anak.

Jelang sore, tamu arisan tiba. Ia menerima tamu dan putrinya dimandikan oleh asisten rumah tangga (ART). Dari dapur terdengan sayup-sayup keceriaan dan kedekatan anaknya dengan ART. Tidak lama, dari luar muncul sang suami yang baru selesai salat ashar. Di kamar sang ART sedang memakaikan baju anak yang baru selesai dimandikan tadi. Setelah berpakaian rapi, sang anak digendong oleh sang suami. Sebagai seseorang yang tidak tahu secara dalam kondisi keluarganya, aku merasa sedang menyaksikan kejadian yang seharusnya dijalankan oleh suami-istri bukan oleh suami dan pembantu. Pembantu mengambil beberapa peran istri dalam keluarga karena sang istri sudah telanjur sibuk dengan pekerjaan. Beruntungnya sang suami adalah laki-laki shalih yang bisa menjaga dirinya dan nafsunya.

Dalam rumah tangga, ada hubungan yang harus dipertahankan keberlangsungannya. Hubungan itu tidak dapat diraih dengan mewakilkan orang lain atau dibeli dengan setumpuk uang. Apalagi hubungan dengan anak.

Seperti yang disampaikan oleh Barbara Johnson,To be in your children’s memories tomorrow, you have to be in their live today. 

Namun, cicilan mobil, cicilan rumah, hasrat untuk membeli gadget, makan enak, jalan-jalan, dan gaya hidup lainnya membuat bekerja menjadi lebih penting dan mendesak ketimbang hubungan ini.

Menyaksikan dua kejadian tersebut aku jadi berpikir tentang diri sendiri. Bagaimana kehidupan keluargaku kelak. Dengan terbata aku bisa berkata bahwa saat ini aku sedang berbahagia. Aku bisa bekerja sebagai guru di akhir pekan dan mendapat kesempatan berinteraksi dengan Al Quran pada hari kerja. Amat memalukan bila hafalan takbertambah dan tilawah tidak lebih banyak dari orang-orang yang bekerja. Hidup memang perlu biaya. Pekerjaan mengajar akhir pekan tentu belum dapat menutupinya. Jika melihat capaian-capaian duniawi orang lain, keinginan untuk bekerja fulltime muncul kembali.

Namun, bukankah ada banyak definisi tentang bahagia? Bukankah kesempatan berinteraksi dengan Al Quran adalah kebahagiaan yang tidak ada duanya? Aku juga masih ingat betapa sibuknya diri ini ketika bekerja dan betapa mahalnya kedekatan dengan Al Quran pada waktu itu terasa. Tubuh lelah kadang membuat abai pada ayat-ayat Allah SWT, satu-satunya yang dapatan menemani dalam kesunyian alam kubur, ketika takada lagi teman-teman lain yang dapat membersamai. Bukankah setiap orang punya kebahagiaan masing-masing? Maka bahagiaku hari ini adalah merasa cukup dengan kehidupan yang aku jalani sekarang.

Umar Bin Khathab RA berkata, “Antara seorang hamba dengan rezekinya ada pemisah. Jika dia qonaah (merasa cukup) dan jiwanya merasa ridha, rezekinya akan menghampirinya. Akan tetapi, jika dia memaksa masuk dan meruntuhkan hijab itu, dia tidak akan bisa menambah rezekinya di atas kadar yang telah ditentukan untuknya.”

Merasa cukup dan ridha ternyata pelajaran yang tidak mudah menjalaninya. Qanaah juga bukan berarti tidak berbuat apa-apa, karena berkelebihan harta juga nilainya utama apabila harta tersebut digunakan untuk kebaikan-kebaikan di jalan Allah SWT. Qanaah tidak melulu berkaitan dengan kemiskinan, karena buktinya banyak orang yang berlimpah harta tetap saja tidak merasa cukup dengan rezekinya.

Lalu, apa ketakutanku yang sebenarnya? Yang aku takutkan adalah kecemasan takmemiliki hal-hal duniawi dan tidak merasa cukup dengan kehidupan yang Allah SWT karuniakan. Aku takut suatu hari diri ini mencemaskan capaian-capaian duniawi orang lain, sehingga membuat diri lupa mencemaskan capaian-capaian akhirat. Aku takut kecemasan itu membuat diri lupa bersyukur betapa mewahnya suasana batinya yang merasa cukup dan jiwa yang ridha dengan kehidupan yang sedang dijalani.

Tulisan ini semacam wasiat untuk diri sendiri. Jika suatu saat aku sedang sibuk dengan hiruk-pikuk dunia, semoga jiwa tidak lupa untuk mencemaskan kehidupan akhirat.  Perjuangan hari ini adalah karantina untuk menghadapi dunia dengan percaya diri dan terhormat bersama Al Quran.  Semoga hati ini selalu ridha dan merasa cukup dalam keadaan lapang ataupun sempit. Semoga ketika jiwa ridha dengan ketetapan-Nya, Dia juga ridha terhadap diri ini. Apakah tanda-tanda keridhaan-Nya itu? Jiwa diringankan untuk melaksanakan amalan-amalan wajib, dan dinaikkan derajat dengan amalan-amalan sunnah. Kalau Allah SWT ridha, apa lagi yang harus dicemaskan di dunia dan akhirat?!

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: