Penghuni Kursi Bisu 2

ballon

Dear Perempuan,

Surat kedua ini kutulis khusus untukmu bersama pagi yang takpernah bosan kembali membawa harapan. Di sini jendela sengaja takkubuka. Pagi ini, khusus pagi ini, aku ingin memberi waktu lebih panjang pada kehangatan malam untuk tinggal di sini, di kamarku yang masih saja sepi, agar ia dapat kubagi bersamamu lewat suratku.

Perempuan, apa kabar? Apakah kamu sedang terjaga akibat pahit empedu yang kau minum dengan sengaja sambil memutar kembali memori bisu bersama Sang Pengembara? Ah, aku lupa, siapa pengembara sebenarnya. Dia atau kamu? Sudah berapa jauh kamu pergi akhir-akhir ini? Berapa banyak manusia yang kau temui? Semoga kepergianmu kemarin bukan pelarian. Semoga ia takhanya menyegarkan raga tapi juga ingatan. Aku hanya takut, tamasya itu sebenarnya langkah-langkah rapat yang membuat ingatanmu tentangnya semakin melekat. Kau bawa ia ke mana-mana bersama angan-angan yang menikam harapan pelan-pelan. Pesiarmu adalah ritual merayakan firasat tentang kepergiannya yang semakin dekat. Sadarkah kau wahai Perempuan? Ia seperti pil penahan nyeri rasa stroberi yang membuatmu lupa pada luka yang semakin menganga. Aku hanya kawatir kau taksadar sebenarnya ingatanmu takpernah beranjak dari dunia bernama dia.

Kini dia pergi juga. Waktu mengusirnya dari ruang tunggumu. Bagaimana rasanya? Tak sesakit yang kau bayangkan bukan? Ia seperti helaan nafas amat panjang yang kau keluarkan di awal, terputus-putus bersama air mata yang mulai menganak sungai, membuatmu tergugu mengeluarkan sesal bernama penantian panjang. Ia hanya keinginan yang terus saja menekan “undo” atau bahkan diam-diam menyinggahi “recycle bin” sambil menekan “restore all item”. Ia bagaikan air dingin dari kutub utara yang tersembur membuatmu sulit tidur karena tak berani terbangun. Dunia seakan tak memiliki esok tanpanya.

Ah, anggap saja itu cubitan ringan di wajah yang menyegarkan pembuluh darah. Setelah itu ia akan menjadi kegelapan yang tiba-tiba menghadiahkan layar besar, terang-benderang bernama harapan. Benar-benar baru. Kau bisa berlari sejauh-jauhnya, sekencang-kencangnya ke dunia nyata. Masa depan yang telah lama bersabar menahan rindu, sedang menyambut hangat senyummu.

Jangan lupa singgah ke ruang tungguku, sebuah ruangan berpintu biru di persimpangan jalan. Aku akan menemani awal perjalananmu. Di sini sudah aku siapkan permen asam manis yang ada tebak-tebakan di bungkus belakangnya. Ada satu kotak pendingin berisi eskrim rasa blueberry. Kita memang takperlu bawa air putih. Itu bisa kita dapatkan di setiap persinggahan dengan cuma-cuma. Kamu bawa apa? Jangan bawa komik Naruto, aku tidak suka! Assalamualaikum Beijing! jangan juga, aku sudah baca. Cukup bawa berlembar-lembar kertas kosong yang bisa kita isi dengan tawa ceria.

Kamu mau main ke stasiun, tempat kesukaanku? Di sana kita akan bertemu lalu-lalang kereta, berteriak sekencang-kencangnya, mengucapkan selamat tinggal pada ia yang beranjak ke Kota Kenangan. Agak katrok memang, tapi ini lumayan ampuh untuk mengeluarkan kepenatan. Hmm.. kamu sudah terlalu sering main ke pantai kan?! Lautan sudah penuh dengan nama-namanya sejak dulu. Kita takperlu pergi ke situ. Kita main di kamarku, memanggil orang-orang yang lewat dari jendela, saat mereka menoleh kita pura-pura takmelihatnya. Hmm.. apa lagi ya, kita nonton film horor Thailand, teriak suka-suka, tanpa air mata. Ah, ngomong-ngomong, yang aku bahas hedon semua hahaah!

Apapun. Setelah ini lebih banyaklah sibuk dengan diri sendiri. Orang di sekitarmu hanya pemeran figuran, siapapun dia. Kamu adalah tokoh utama dalam kehidupanmu. Jika takkau temukan dia yang baru, izinkan dia menemukanmu. Berjalanlah bersisian dengan masa lalu, agar kau taktergoda untuk berbalik. Tunjukkan bahwa kau kuat menghadapinya, mendahuluinya, dan meninggalkannya. Yakinlah, kamu yang sekarang adalah sebenarnya kamu.

Sahabat lamamu,

Maneka

PS: surat pertamaku dulu

* gambar dari sini

Leave a comment

4 Comments

  1. Kangen tulisan kamu🙂

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: