Penghuni Kursi Bisu 3

Dear Perempuan,

Surat terakhir ini aku tulis di Sabtu malam yang paling ajaib, hadiah berupa kekosongan yang tidak akan meninggalkan sedikitpun beban dalam tidurku malam ini. Bersama sisa rintik hujan yang tersesat di jendela kamarku. Kata orang, seharusnya ini musim kemarau. Namun, ada saja hujan yang taksabar menahan rindu, menembus waktu ke daun-daun sunyi di belakang rumahku.

 

Apa kabar perempuan? Rindukah kau pada tulisanku yang sudah seperti obat penawar racun mematikan, datangnya amat lama karena harus dicari ke ujung dunia. Ngomong-ngomong, berapa cangkir kopi yang sudah kau habiskan untuk sebuah ketenangan? Apakah kau sudah benar-benar terbangun dari angan-angan panjangmu? Apakah keterlepasan ini membuatmu beku, seperti jasad yang frustasi akibat gagal menolak perpisahan dengan jiwanya? Apakah ia seperti manis yang dipaksa mengucapkan selamat tinggal pada madu?

 

Keterpisahan dengan dia yang selama ini membelenggumu akhirnya berlalu juga bukan. Hari itu benar-benar datang. Waktu yang kau cemaskan akhirnya menjadi kenangan. Bila dibayangkan, sakitnya seperti meregang nyawa. Tidak ada bagian dari keterlepasan, apalagi dengan orang yang ditafsirkan sebagai belahan jiwa. Dia meninggalkanmu bersama kesetiaan penantian. Sudah seperti apa kebergantunganmu kepadanya dulu? Apakah seperti matahari yang selalu setia membagi bahagia pada bumi? Apakah seperti bulan yang bersedia lembur demi menemanimu tidur? Apakah seperti udara yang kau hirup tanpa meminta balas jasa? Apakah seperti jantung yang dengan senyap berdegup dalam tubuhmu tanpa kenal waktu?

 

Biasa sajalah, ia hanya bagian kuat dari dirimu yang sedang dengan sengaja kau lemahkan. Ia hanya satu ruang hangat yang sengaja kau kosongkan demi sebuah kelengkapan. Ia hanya waktu-waktu senggang dari semua kesibukanmu yang kau izinkan diselinapi angan-angan. Ia hanya secari kisah yang kau paksapasangkan dalam lembaran-lembaran hidupmu yang sudah sempurna. Kini sudah saatnya ia terlepas.

 

Mata yang sulit terpejam di akhir malam, ketakutan yang datang saat terjaga pagi hari, rasa yang tiba-tiba linglung mencari persembunyiannya, biarkan saja. Rindu yang merengek setengah mati, sesal yang tak mau beranjak pergi, kehampaan yang membuntuti, abaikan saja. Mereka hanya sedang menghibur diri setelah menyadari bahwa kau benar-benar akan bergegas pergi ke masa depan. Mereka hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan tentang takdir yang selalu berakhir di kotak kenangan.

 

Kini tiba waktumu membuka lembaran baru. Kebergantungan terhadap dia yang amat lemah itu ternyata membuat-Nya cemburu. Padahal takpernah sedikitpun dia menjadi musabab ketenanganmu. Kata-Nya, ketenangan hanya ada pada keyakinan dan ketaatan. Renungkanlah![]

Sahabat lamamu,

Maneka

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: