Aku dan Dhira

aku dan dhira

Bagi sebagian orang, hari lahir adalah waktu paling istimewa, momen membahagiakan ketika orang-orang sekitar mengucapkan selamat, kejutan lilin di tengah malam. Ada juga orang yang amat gugup menghadapi hari ini, karena deretan target yang belum tercapai, atau karena angka yang semakin menggelayut, apalagi bagi perempuan yang belum menikah di usia matang [stop sampe sini, gak akan dibahas :p ]. Buatku hari ini amat biasa. Semalam sebelum tidur taksedikitpun ada kecemasan menghadapi tanggal keramat ini. Satu-satunya alasan adalah kepulangan Dhira, temanku di kamar Sofiyah Binti Huyyay.

Hari-hariku bersama Dhira diawali dengan berita baik tentang pekerjaan baruku. Dia satu-satunya orang yang benar-benar menemaniku menjalani pengalaman pertama ini. Sejak berubah status dari pengangguran terselubung menjadi dosen, hari-hariku berubah drastis. Aku yang pada awalnya menghabiskan waktu di kamar kini harus setiap pagi berangkat ke kampus yang lumayan jauh dari asrama. Yang paling aku khawatirkan adalah kebiasaan Dhira menyendiri di kamar. Selalu terpikir bagaimana sarapan dan makan siangnya, karena aku hanya bisa benar-benar bertemu dia pada malam hari. Karena lebih banyak diam, waktu itu aku taksempat menyampaikan kekhawatiran itu.

Suatu hari ada sebuah perlombaan resensi buku. Waktu itu aku berencana meresensi novel Assalamualaikum Beijing. Ternyata Dhira sudah pernah menonton versi filmnya. Aku jadi bisa menanyakan persamaan dan perbedaan jalan cerita antara film dan novel. Sejak saat itu kami mulai sering bertukar pikiran. Dhira ternyata termasuk anak yang sudah terbiasa membaca sejak kecil. Novel bacaannya sudah pasti jauh lebih banyak daripada bacaanku. Tidak hanya karya penulis Indonesia, dia juga membaca novel-novel terjemahan yang notabene termasuk sastra kanon di dunia. Dhira juga sering cerita soal film yang diangkat dari dongeng anak-anak di Barat. Kemampuanya menganalisis tanda di film atau video clip sebuah lagu juga luar biasa. Menurutku, waktu seusianya aku takpernah berpikir untuk menganalisis setajam kemampuannya.

Sekamar dengan Dhira mulai menyenangkan. Ia suka sendirian karena sudah terhibur dengan kebiasaan menonton Running Man. Siapapun akan mengakui bahwa acara ini sangat menghibur. Akupun mulai ikut menemaninya nonton, mengenal Joong Ki, Joong Kok, Ji Suk, Suk Jin, Ji Hyo, Haha, Gwang Soo, dan Gery. Semua penghuni asrama mungkin terganggu dengan suara tawaku yang nyaring. Nonton juga pasti dianggap aktivitas terlarang untuk penghafal Al Quran. Sebab itu, kami juga selalu saling mengingatkan tentang target hafalan.

Sejak mengenalnya sampai saat ini, aku dapat pelajaran dari Dhira tentang memahami diri dan orang lain. Kita pasti pernah mengalami posisi ambang, berada di pertengahan jalan menuju sebuah capaian. Di depan kita ada sebuah tebing terjal yang harus didaki seorang diri. Persiapan yang harus dijalani ternyata membutuhkan waktu yang amat panjang. Hari demi hari harus diisi dengan kerumitan sebuah persiapan. Tentu yang hadir adalah kebosanan. Yang diperlukan adalah hiburan, bukan kebosanana yang lain lagi. Ada kalanya kecemasan, stress hanya bisa dihadapi seorang diri karena tidak semua orang mampu menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain.

Ada orang yang menyimpan rapat kecemasannya dan hanya menceritakan sesuatu paling permukaan tentang hidupnya. Kehidupan membuatnya amat selektif memilih teman dekat. Boleh jadi sikap ini muncul karena hasil pola didik orang tua, atau karena pengalaman pernah dikhianati oleh orang yang pada awalnya sangat dipercaya. Akhirnya kepercayaan hanya jatuh kepada orang tua dan saudara kandung. Tidak ada satupun orang luar yang dianggap berhak mendapatkan cerita (bahkan remeh-temeh) tentang dirinya. Kami termasuk manusia jenis ini.

Aku sering bercerita kepadanya tentang berbagai pengalaman pertama di dunia baruku karena tahu dia tidak akan menceritakannya kembali kepada sembarang orang. Aku juga tahu, dia tidak akan peduli dengan ceritaku yang tidak penting baginya. Ia hanya akan mendengarkan tanpa berminat untuk menceritakannya (baca: menggosipkannya) kepada orang lain. Dia juga terkadang bercerita tentang pengalamannya di luar asrama. Aku mengerti bahwa yang dia ceritakan adalah segala sesuatu yang memang ingin dia ceritakan dan aku berhak mengetahuinya.

Hal lucu yang sering terjadi di kamar Sofiyah adalah kekagetan kami akibat kebiasaan orang-orang membuka pintu tanpa mengetuk atau mengucapkan salam. Mereka kadang membuka pintu kamar, melihat-lihat ke dalam tanpa bicara, dan pergi tanpa bicara pula. Mungkin itu terjadi karena mereka sedang mencari sesuatu atau seseorang yang ternyata tidak ada di kamar kami. Kadang ada juga orang yang tiba-tiba masuk dan berkata “minjem setrika.” Kemudian dia mengambil setrika dan keluar. Ada juga orang yang datang karena minta garam, berkonsultasi skripsi, mengingatkan tugas piket asrama, atau meminjam laptop. Semuanya hampir tanpa kata-kata pembuka dan itu cukup mengganggu ketenangan kami.

Selain tawa, setiap selesai menonton sebuah film kami sering membahas isi ceritanya. Analisisnya membuat aku sadar bahwa hidup adalah rangkaian kejadian. Hidup adalah transaksi kepentingan yang menagih keberanian untuk mempersiapkan diri menghadapi kejadian-kejadian tersebut. Percaya, dikhianati – berkhianat, penyesalan, ketakutan – keberanian, pertanyaan – jawaban, menunggu – ditunggu, mencintai – dicintai, bertemu – berpisah, mengingat – diingat, melupakan – dilupakan, tersenyum, tertawa, menangis, marah, bersalah, dan berbagai hal  membuat hidup jadi hidup. Kehidupan bukan hanya tentang perjuangan mencapai mimpi yang berakhir kebahagiaan. Bahagia takselama datang dari kesenangan. Hantaman berbagai kejadian yang semena-mena datang bertubi-tubi kadang menyenangkan, paling tidak untuk berkata pada dunia bahwa kita masih bertahan.

Hari ini paling tidak aku berani mengatakan bahwa aku kini kembali sendirian. Bertemu Dhira seperti menemukan aku di masa lalu. Bersamanya seperti bercakap-capak dengan diriku yang dulu. Ya, pulang dan menggapai cita-cita bersama keluarga adalah jalan terbaik untuknya. Aku baru bisa menjadi teman, belum bisa mengambil posisi kakak, guru, apalagi orang tua buatnya. Semoga Dhira mendapat ketetapan terbaik, diterima di universitas pilihan Allah yang mendekatkannya dengan Al Quran. Semoga suatu hari kami bisa kembali berbagi malam, berbagi kecemasan dan tawa. Uhibbukifillah.[]

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: