Bahagia Takharus Sama

difference1

Demi menulis pada bulan Ramadhan, hari ini aku mau cerita soal remeh temeh yang aku alami di asrama Maqdis, sebuah pondok hafalan Quran di Bandung. Begini ceritanya..

Aku adalah common people yang paling common dalam sisi pendidikan di Indonesia ini. Sekolah dasar 80% aku jalani di Denpasar sebagai minoritas muslim. Buatku, pengalaman itu amat berat. Ini terbukti dengan kebiasaanku berganti-ganti teman sebangku. Belum lagi pelajaran bahasa Bali yang menjadi teror buatku. Masa-masa itu meninggalkan kenangan
yang takmenyenangkan. Setelah pindah ke Tasikmalaya, aku melanjutkan sekolah dasar di sebuah SD depan rumah. Pengalaman awal berada jauh dari orang tua ternyata takmudah. Setiap pekan ada saja waktu menangis. Ini juga jadi kenangan yang takterlalu menyenangkan.

Memasuki jenjang SMP semuanya berubah. Dalam sejarah pendidikanku, dapat dikatakan SMP adalah masa kejayaan. Seorang anak perempuan yang sedang mencoba berbagai hal baru dengan kenakalan baru tapi ia dapat menjadi sosok berprestasi di kelas. Sekarang aku takpernah habis pikir, kenapa seorang Linda bisa mengerjakan tugas fisika dan menjadi
sumber contekan teman sekelasnya. Dengan aktifitas ekskul seabrek, aku bisa mendapat nilai 9 di ulangan matematika. Belum lagi kepercayaan diri yang over dosis. Hari ini aku menemukan, ah, nampaknya dengan menjadi diri sendiri aku bahagia.

Tiba di SMA, pengalaman buruk datang seperti gunung yang ditimpakan ke pundakku ketika aku masih menguap setelah bangun tidur. *Perumpamaan alay* Jadi si 1% di sebuah SMA yang katanya lumayan favorit memang tak menyenangkan. Hari-hari diisi dengan berbagai PR yang mayoritas jawabannya selalu salah ketika dikoreksi di sekolah. Masa ini bolehlah aku sebut sebagai zaman keterpurukan. Nilai mi, re, do, alias 3, 2, 1 adalah hal biasa buatku. Mendapat nilai 6 pada ulangan harian pelajaran Matematika dan IPA adalah keajaiban. Untunglah pada waktu yang sama aku menemukan sebuah pengalaman baru di organisasi Rohis sekolah. Aku bisa menerima diri yang jauh dari kegemilangan di SMP dulu. Aku bisa belajar menghargai orang lain tidak hanya dari kecerdasar akademiknya. Aku sadar bahwa ada bagian lain yang membuat orang berharga, paling tidak bagi dirinya sendiri. Waktu itu, I accept my pretty weakness. Keadaan lemah itu membuat aku tahu diri dan melakukan usaha lebih dari yang lain untuk melanjutkan kuliah. Penerimaan itu yang nampaknya membuat aku bahagia.

Sampai di Sastra Indonesia Unpad aku menemukan diriku yang autentik. Aku taklagi bertemu dengan orang-orang eksak yang sempat seperti hantu buatku. Di Fakultas Sastra, setiap orang dari jurusan apapun dihargai dengan cara yang sama. Walaupun jurusan favorit adalah Sastra Inggris dan Jepang, mereka amat biasa saja. Semua sadar bahwa mempelajari sastra bukan hal yang main-main, termasuk sastra Indonesia. Sastra Prancis Unpad yang katanya paling sedikit peminat ternyata adalah jurusan paling baik kualitas lulusannya di antara prodi sastra Prancis di Indonesia. Selain egaliter, hidup di sastra juga amat bebas. Takada cibiran, kecurigaan, atau pertanyaan untuk perempuan yang mulai bercadar. Begitupun bagi perempuan yang merokok, kami biasa saja menerimanya. Setiap orang memilih sesuatu karena sudah mengetahui konsekuensi dan tanggung jawab yang harus dipikul. Kebebasan itu yang membuatku belajar menghargai perbedaan. Kemampuan menahan diri dari gaya dakwah yang “memaksa” adalah satu hal yang membuat aku bahagia waktu itu.

Melanjutkan kuliah pascasarjana dengan beasiswa merupakan sesuatu yang membahagiakan menurutku. Namun, setelah masuk kuliah dan bertemu dengan banyak mahasiswa yang mayoritas adalah dosen penerima BPPS, ternyata beasiswa adalah sesuatu yang common di Unpad. Dua hal baru yang aku temukan ketika menjalankan S2 adalah kehidupan ibu-ibu yang kuliah dan mahasiswa yang bekerja. Di kampus, aku belajar bersama seorang dosen, psikolog, perempuan Jawa lengkap dengan kehidupannya. Menjadi dosen, ibu, dan mahasiswa pada waktu yang sama ternyata bukan hal mudah. Di asrama, sebagai common people aku hidup bersama teman-teman yang kuliah S1 sambil bekerja, mereka membiayai kuliah dan biaya hidup sehari-hari dari pekerjaan sebagai guru Al Quran. Kehidupan mereka adalah sesuatu yang takpernah sedikitpun terpikir di benakku waktu kuliah S1. Dulu aku sibuk dengan tugas kuliah dan organisasi. Uang tambahan didapan dari beasiswa. Takpernah terpikir bisa bekerja. Dengan hiruk-pikuk pekerjaan, tugas hafalan Quran, dan tugas kuliah, mereka tetap bahagia. Dari situ aku menemukan, ah, takperlu sama untuk bahagia.

Lalu aku dipertemukan dengan Tita, seorang teman yang sudah hafal Al Quran sebelum usianya genap 17 tahun. Setelah SMP ia menghafal Al Quran di Al Hikmah. Dalam waktu kurang dari 1 tahun ia bisa menamatkan setoran hafalan 30 juz. Untuk masuk kuliah, ia mengikuti program paket C. “Tita juga pengen ngalamin kuliah kayak orang lain,” katanya ketika bercerita soal rencananya ikut seleksi beasiswa kuliah untuk penghafal Quran. Alhamdulillah, dengan berbagai rintangan yang dilalui, akhirnya adikku itu lulus dan menjalani kuliah. Qadarullah, di semester 3 seorang hafidz datang melamarnya. Calon suaminya bersedia mengganti beasiswa yang sudah diterimanya selama ini. Adikku akhirnya menikah, berhenti kuliah, dan mendampingi suaminya sambil mengajar Al Quran. Kisahnya membuat aku sadar, bahwa kebahagiaan itu tidak common, dia unik dan siapapun bisa mendapatkannya. Takperlu sekolah SMA untuk masuk kuliah, dan takperlu lulus kuliah S1 untuk menikah, takperlu menjadi sarjana untuk sukses dan bahagia.

Hari ini aku kembali hidup dengan anak-anak yang melepas pendidikan formalnya untuk menghafal Quran. Di sini ada seorang santri yang sejak kecil menjalani home schooling sampai pada tingkat yang setara dengan SMP. Aku yakin wawasannya berpuluh kali lipat lebih banyak dari wawasanku yang belajar di sekolah formal dulu. Mereka melewatkan pendidikan SMA, menghafal Al Quran, dan akan mengikuti ujian paket C untuk masuk universitas. Mereka memang takmasalah melanjutkan kuliah di kampus swasta. Lagi-lagi aku menemukan ketakbiasaan. Takperlu masuk SMA untuk bisa kuliah dan takperlu kuliah di kampus negeri untuk bisa bahagia.

Dalam keterbiasaan menghadapi yang takbiasa, setelah bekerja di lingkungan kampus, aku menemukan kebiasaan yang takbiasa lainnya. Di pondok, aku biasa dengan orang-orang yang bangun malam untuk mengerjakan shalat. Di kampus, aku menemukan hampir semua mahasiswa masih terjaga sampai pukul 3 dini hari untuk mengerjakan tugas. Mereka didisiplinkan untuk bersaing mengejar nilai terbaik di kampus. Kalau dirunut dari kisahku di atas, menurutku, mereka sedang mengejar kebahagiaan yang paling common dengan usaha yang lebih dari biasanya. Mereka benar-benar dihargai dari nilai akademik. Entahlah, mereka tahu atau tidak soal orang-orang yang taklagi mementingkan pendidikan formal.  Aku jadi semakin yakit, takperlu sama untuk bahagia dan takharus berbeda untuk bahagia.

Dari kisah panjang ini, aku belajar menghargai orang dengan latar belakang pendidikan apapun. Aku tidak bersikap berlebihan pada orang-orang yang menyelesaikan pendidikan formalnya sampai jenjang yang paling tinggi. Aku jadi suka mencari kisah di balik perjuangan para doktor dalam menjalani studi mereka. Yang membuatku menghormati mereka bukan gelar, tapi keistimewaan kemampuan mereka untuk menerjang semua tantangan hidup ketika menyelesaikan studinya. Sikap mereka yang rendah hati, tidak pernah mempersulit sebuah pekerjaan, bahkan mempermudah dan penuh penghargaan membuatku amat menghormati mereka. Kerendahan hati itu taksedikitpun menurunkan penghormatan kami kepada mereka, dan dapat aku pastikan, mereka amat bahagia.

Ya dalam tulisan bertele-tele ini lagi-lagi aku sampaikan: takperlu sama dengan orang lain untuk bahagia, takperlu berbeda untuk bahagia, dan takperlu mendapatkan kepabahagiaan yang sama dengan orang lain untuk bahagia. Bahagia itu milikmu.

gambar dari sini

Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Indeed. Kita bahagia dengan jalan masing2

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: