Membaca Ojek Syar’i dari Jauh

ojek-syari-660x330

Tulisan ini dibuat setelah aku mendapat sebuah broadcast dari seorang teman perempuan di sebuah grup alumni kampus. Broadcast itu berisi tentang lowongan ojek perempuan yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan. Pesannya lengkap dengan rincian keuntungan yang akan dicapai dan beberapa persyaratan berupa surat-surat formal. Pengumuman tersebut memberi citra bahwa tawaran kerja ini resmi, serius, dan keuntungan yang akan didapat pun menjanjikan.

Mitos Gojek

Kemunculan ojek syar’i taklepas dari boomingnya Gojek baru-baru ini. Bermodalkan sebuah app bernama Gojek, seorang lulusan universitas luar negeri dapat menjadikan ponsel pintar android beralih fungsi menjadi pangkalan ojek. Teknologi yang digunakan mungkin saja lama, tapi peruntukannya yang membuat ia sangat berguna bagi penggunanya. Pada waktu itu, entah kapan, aku lupa tanggalnya, Gojek jadi berita yang “gegap gempita” di media massa Indonesia. Seperti tersirap, semua media menyoroti Gojek dari berbagai sisi – keuntungan perusahaan, latar belangan CEO-nya, dll. Banjir berita soal Gojek ini membuat citra kesuksesan perusahaan ini memang nyata. Padahal, (sebagai orang Bandung dan gak gaul) aku jelas-jelas tidak pernah melihat satupun Gojek di jalan raya. Citra positif perusahaan Gojek pun menggelinding di masyarakat Indonesia yang sedang betah menjadi masyarakat virtual. Segala realitas yang didapat adalah realitas virtual. Turkley menyebutkan bahwa realitas virtual memberikan gambaran kehidupan yang lebih nyata dibandingkan dengan kehidupan nyata, (Lubis, 2014:185). Berita yang disampaikan media massa diterima masyarakat dengan bulat-bulat tanpa mempertanyakan kembali. Barthes menyebutnya dengan kepercayaan palsu. Berita tentang Gojek serta-merta membuatnya menjadi perusahaan sukses. Aku yakin pemiliknya merogoh kocek yang taksedikit untuk strategi pertama ini.

Dalam obrolan urban yang berjudul Tiada Ojek di Paris, Seno menyebutkan bahwa,

ojek adalah bukti kreativitas dalam usaha survival kelas bawah dalam tingkat kemakmuran ekonomi seadanya yang bisa diperjuangkan negara baik dari masa pemerinta Orde Baru sampai Reformasi. Bahwa di satu pihak ojek dibutuhkan di Jakarta adalah bukti terbatasnya jangkauan pemikiran pemerintah DKI, di lain pihak bahwa manusia terpaksa menjadi tukan ojek sebagai alternatif satu-satunya, adalah bukti terbatasnya lapangan kerja dalam struktur yang mampu disediakan pemerintah Indonesia. Kepentingan tukang ojek hanyalah makan untuk hari ini, dan kepentingan pengguna ojek adalah sampai tujuan secepat-cepatnya, (2015: 189).

Kemudian kita dihadapkan dengan iklan-iklan Gojek app di bagian bawah twitter atau app lain ketika online. Gojek mulai menyelinat dalam kehidupan vertual kita. Selanjutnya mulai muncul ojek-ojek yang berjaket dan berhelm Gojek (mungkin) di Jakarta. Realitas virtual mulai ditunjang dengan realitas fisik. Bulan Ramadhan Gojek memberikan diskon kepada penggunanya. Tanpa diminta, pengguna jasa Gojek mewicarakan pesan ini. Pada saat itu Gojek sedang dimitoskan oleh masyarakat. Momentum tidak disia-siakan oleh pemiliknya. Bergulir berita baru tentang kesuksesan driver Gojek yang berpenghasilan puluhan juta. Strategi ini diambil tentu untuk memperbanyak ojek-ojek online dan memasarkan Gojek  app.Pemitosan ini nampaknya berhasil.

Sejak kemunculan Gojek, citra tukang ojek sudah bergeser dari pemikiran Seno. Menjadi tukang ojek juga ternyata adalah profesi sampingan yang menguntungkan. Memang, pada obrolannya, Seno pun menyebutkan, dari sisi kecepatannya ojek bukan sepenuhnya menjadi sarana transportasi kelas bawah. Keserbacepatan dunia metropolitan bahkan membuat para menteri menggunakan ojek untuk menerobos kemacetan. Di kota metropolitan, kini profesi tukang ojek naik kelas. Tidak hanya cepat untuk penggunanya, ojek juga menguntungkan dan menjadi pekerjaan resmi. Surat- surat formal yang menjadi persyaratan seleksi adalah penanda keresmiannya. Beramai- ramai orang mengantre mengikuti seleksi Gojek. Katanya “ingin mencari penghasilan tambahan.” Bahkan seorang sarjana pun tertarik untuk ikut menjadi ojek. Fakta ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Gojek telah menjadi mitos.

Latah Ojek Syar’i

Hingar-bingar Gojek ini lantas menyuntik semangat seorang perempuan muda yang peduli terhadap mobilitas muslimah yang rendah. Ia memunculkan ide Ojek Syar’i yang terdiri dari perempuan dan khusus mengantar perempuan. Biasanya bantuan ojek ini diperlukan untuk dua kondisi darurat. Pertama, untuk menjangkau jalan yang tidak dilalui angkutan umum. Kedua, ketika harus menempuh jalan-jalan yang sudah tidak dilalui angkot pada malam hari.

Tolak-Gojek-9-7-2015-30

Sebelum berbusa-busa bicara, aku ingin mengamini pernyataan Seno soal Jakarta sebagai kota Postmodern. Ini ditandai dengan hiperrealitas (lebih nyata dari nyata) dan simulakral (imitasi tanpa adanya keaslian). Ini juga aku rasa terjadi di Bandung. Berita media massa sudah lebih realitas dari realitas. Berita kesuksesan driver Gojek sudah  lebih nyata dari para tukang ojek yang beramai-ramai memasang spanduk “NO GOJEK” di pangkalannya. Berita driver Gojek perempuan yang dipukuli oleh tukang ojek lebih nyata dari faktanya yang ternyata mengalami kecelakaan.

kecelakaan

Ketercengangan manusia kota Postmodern atas hiperrealitas inilah yang melahirkan Ojek Syar’i. Kata syar’i yang sedang booming saat ini pun menjadi pijakannya. Hijab syar’i, bank syariah, asuransi syariah, dan berbagai hal yang diembeli syar’i dan syariah lagi-lagi menjadi alat pemitosan sebuah produk komoditas. Idenya adalah dengan menggunakan ojek perempuan, perempuan -terutama muslimah dapat mendatangi tempat yang tidak terjangkau angkot/ mobil umum tanpa harus naik ojek (yang mayoritas laki-laki). Tanpa berdua-duaan dengan laki-laki di motor, perempuan / muslimah dapat cepat sampai di rumah ketika pulang malam dan tidak ada angkot.

Yang terlupakan adalah nasib perempuan yang mengambil beban sebagai tukang ojek syar’i. Apabila dia mahasiswa, bukankah seharusnya fokus kuliah? Normatif memang. Apalagi untuk dijawab oleh mahasiswa yang aktivis dakwah. Mungkin akan berkata, “kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengantar muslimah?” Mereka semacam mengambil beban penyelamatan muslimah yang ingin bepergian tapi tidak mau naik motor bersama laki-laki yang bukan mahram. Lantas bagaimana kalau perempuan ojek syar’i ini adalah ibu rumah tangga? Makin hancur lagi nampaknya. Bagaimana nasib urusan rumah tangga, pendidikan anak-anak? Yang jadi pertanyaan lebih besar lagi, suami mereka ke mana?

Tugas muslimah sebagai ibu peradaban akan dipindahkan ke pundah siapa? Jadi, waktu senggang mahasiswa muslimah dan ibu-ibu muslimah yang bisa digunakan untuk aktualisasi diri harus dipakai untuk narik ojek? Kapan mereka bisa baca buku? Kapan mereka bisa ngafalin Al Quran? Kapan mereka bisa belajar resep-resep masakan yang baru? Kapan mereka bisa mengajari anaknya hafalan Quran?

Tugas dakwah memang banyak, tapi ada pundak-pundak yang lebih tepat bertugas menanggungnya. Agar tepat waktu, seorang muslimah tentu seharusnya terbiasa berangkat lebih awal. Agar takpulang malam, seorang muslimah tentu bisa mengerjakan tugas kuliah atau pekerjaan kantor lebih cepat dari perempuan biasa. Jangan sampai kebiasaan ngaret membuat muslimah lain harus menanggung beban dengan menjadi ojek syar’i. Jangan sampai kebiasaan pulang malam mengorbankan muslimah lain berkeliaran malam hari sebagai ojek syar’i.

043382000_1415607148-ojek

Beda lagi ceritanya jika ojek syar’i ini ternyata adalah ojek laki-laki yang motornya dihalangi dengan besi sebagai pembatas. Jadilah ia produk syar’i yang paling permukaan. “Tetap bepergian dengan lawan jenis yang bukan mahram tapi dihalangi lempengan besi bertuliskan ‘syariah’ sebagai pembatas.” Jika demikian, benarlah perkataan Nukman, “Ojek pun ada yg syariah, bentuk segmentasi pasar. Kelas premium.” Tidak ada nilai syariat sama sekali di dalamnya. Gojek dan Ojek Syar’i hanya membuktikan pernyataan Seno bahwa,

Homo Jakartensis (sebagai representasi kota besar dan Indonesia) adalah ndoro mas dan ndoro putri yang mboten kersa (ogah) berjalan kaki, (2015: 189).

Sekadar mengutip:

Ajidarma, Seno Gumira. 2015. Tiada Ojek di Paris. Bandung: Mizan

Lubis, Akram Yusuf. 2014. Postmodernisme. Depok: Rajagrafindo Persada

foto dari sinisini, sini dan sini

Next Post
Leave a comment

1 Comment

  1. suka quote om Seno yg terakhir: ndoro mas dan ndoro putri yg mboten kersa jalan kaki😀
    well, enlightening post. nice ^^d

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: