Menuju Pertanyaan Prioritas

islam-di-indonesia

peta persebaran Islam di Indonesia

Baiklah, setelah lama membiarkan blog ini takberguna, akhirnya saya harus kembali menulis. Paling tidak, beberapa tulisan dapat menjadi bukti bahwa ruang tunggu sunyi ini bisa menjadi tempat untuk menemukan-Nya.

Pada awalnya…

Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas muslim. Mayoritas muslim di Indonesia menjadi muslim karena orangtuanya muslim. Berdasarkan pengalaman saya, sebelum teknologi informasi datang ke Indonesia, pengetahuan agama didapat dari ulama-ulama pesantren tradisional. Sebagai anak yang dekat dengan lingkungan Nahdatul Ulama, bagi saya, Islam adalah berbagai hal yang tergambar dalam kitab-kitab kuning dan tafsir Jalalain. Pendidikan Islam tradisional mengajarkan bahwa Islam adalah hukum halal-haram, ritual keagamaan, perbedaan fiqh. Penguasaan bahasa Arab –menghafal kitab Alfiyah misalnya- dilakukan untuk membaca dan menjelaskan kembali kitab-kitab kuning dan beberapa tafsir klasik. Mempelajari Islam lebih dalam berarti mempertajam pengetahuan tentang sufisme. Orang-orang yang sudah menguasai bahasa Arab biasanya berpindah mempelajari syair-syarir sufi yang direpresentasikan sebagai cara untuk mendekati Allah SWT. Pola pendidikan tersebut saya dapatkan  di pesantren.

Hal itu memang kontras dengan pendidikan yang saya dapat di Rohis –pascareformasi tentunya. Islam yang saya pelajari di Rohis bukan lagi lingkaran pengetahuan yang personal dan bersifat teoretis. Islam tidak lagi sebagai aturan hitam-putih yang hanya berbicara halal, haram, bid’ah dalam ibadah. Kesempurnaan Islam mulai terlihat terlihat di mata saya. Sebagai sebuah jalan hidup yang dianut umat manusia, Islam meliputi segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Apalagi ketika Tarbiyah memperkenalkan muslim sebagai sebuah ummah. Tarbiyah memperkenalkan Palestina, Suriyah, Turki, Mekah, Madinah, dan tempat-tempat yang antah berantah bagi saya sebelumnya. Sebelumnya saya tidak pernah tahu Al Aqsa eksis di muka bumi ini. Tarbiyah membuka pengetahuan saya tentang dua kalimat syahatah sebagai sumber ikatan persaudaraan yang lebih kental dari darah. Islam sempurna tidak hanya sebagai jalan hidup tapi juga sebagai sebuah entitas.

Kemudian dua pola pendidikan ini menguat di Indonesia sampai saat ini. Pascareformasi, entitas muslim mulai mengambil langkah politik dengan Islam sebagai identitas. Sebenarnya hal ini wajar terjadi karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Namun, publik membuatnya tidak wajar karena prareformasi muslim dengan keislamanya dikerdilkan di pesantren-pesantren. Sufisme sebagai religiusitas tertinggi ala pesantren membuat citra muslim ideal adalah mereka yang salih pribadi dan jauh dari keramaian dunia. Menghadapi dunia dengan identitas Islam dianggap menodai kesakralan Islam sebagai sebuah agama. Berpolitik dianggap menjual agama demi kekuasaan.

Pada periode selanjutnya gerakan Islam mulai berkembang. Orang-orang dari gerakan muslim di Indonesia mulai sadar bahwa salah satu hal yang dapat menguatkan muslim sebagai ummat adalah ekonomi. Para ustadz mulai sadar bahwa dakwah Islam perlu ditopang dengan dana memadai. Menjadi kaya untuk menopang dakwah adalah sesuatu yang tidak diharamkan dalam Islam. Kemudian lagi-lagi budaya pesantren membentur gerakan ekonomi ini. Ulama yang memiliki harta berlebih dinilai tidak zuhud. Zuhud yang diajarkan sufisme lagi-lagi membuat pelaku dakwah ekonomi menjadi antagonis. Bank syariah, koperasi syariah, asuransi syariah dan berbagai lembaga yang berkaitan dengan syariah dicitrakan sebagai akal-akalan lembaga konvensional untuk menambah nasabah.

Kemudian…

Setelah Indonesia dilanda era media Informasi, muslim –terutama remaja- kebanjiran informasi. Muslim yang mendapatkan pola didik di pesantren kini menjadi orangtua. Sebagian dari mereka tetap berislam dengan pengetahuan pesantren tradisionalnya, sebagian mendapatkan pengetahuan baru dari gerakan-gerakan Islam yang menyentuh realitas. Diterima atau tidak, orangtua yang tetap hidup dengan pengetahuan dasarnya hanya akan sibuk dengan pertikaian sektarian antara kebijakan NU, Muhammadiyah, Persis, dll. Mereka hanya akan sibuk dengan perdebatan qunut dalam salat, hilal Idul Fitri, dan berbagai hal cabang dalam Islam. Orangtua muslim yang meluaskan pengetahuannya melalui gerakan Islam akan terbagi dua golongan: pertama, mereka menerima kesempurnaan Islam sebagai sebuah pengetahuan –sama seperti ketika mereka belajar Islam di pesantren. Kedua, mereka menerima kesempurnaan Islam sebagai sesuatu yang dapat direalisasikan dalam hidup.

Pada saat yang sama, para remaja (anak-anak dari orangtua yang mendapatkan pendidikan Islam seperti saya) menjadi bagian dari masyarakat global melalui internet. Jendela dunia (ponsel pintar) sudah ada di genggaman tangan mereka. Di satu sisi mereka mendapat berbagai pengaruh dunia luar seperti sinetron, musik, drama Korea, KPop, film Hollywood, dsb. yang jauh dari nilai-nilai Islam. Di sisi lain mereka mendapatkan informasi simpang siur tentang Islam yang mereka anut sejak lahir. Sejak internet sampai ke Indonesia, islamophobi bukan lagi sesuatu yang terjadi di barat. Media-media di Indonesia meramunya dan membuat muslim menjadi komunitas antagonis. Perdebatan tentang muslim yang berpolitik dan terjun ke dunia ekonomi menjadi topik yang dikapitalisasi.

Selanjutnya…

Perdebatan antarumat muslim tidak menutup kemungkinan pada satu waktu akan dipertanyakan kepada para remaja yang kebanjiran informasi ini. Lebaran tahun ini kamu ikutan NU atau Muhammadiyah? Kenapa kamu qunut dia nggak qunut? Kenapa di masjid ini tarawihnya 11 rakaat di masjid itu 23 rakaat? Kemudian pertanyaan akan semakin melebar, Indonesia kan negara Pancasila, kenapa sih ada partai politik Islam yang pakek asas Islam? Beneran gak sih bank syariah itu menerapkan sistem syariah? Kok ada ya ustadz yang ke mana-mana pakek mobil mewah? Kamu lihat video pembunuhan oleh ISIS gak? Islam ngajarin membunuh ya? Kemudian pertanyaan itu akan membuat remaja muslim tidak nyaman dengan keislamannya. Remaja yang tidak mengetahui jawabannya akan berkata, “bukan urusan gue.” Remaja yang mulai belajar Islam akan menanyakan jawabannya kepada guru ngajinya sambil feel bad dengan keislamannya. Mereka akan mencari jawaban bukan untuk menambah keimanan tapi untuk melakukan perdebatan. Pertanyaan-pertanyaan cabang ini akan membuat mereka abai dengan pertanyaan utama: Untuk apa saya diciptakan? Apa yang harus saya capai dalam hidup? Ke mana tujuan akhir hidup saya? mengapa saya saya muslim? Mengapa saya menyembah Allah SWT? Benarkah akhirat itu ada? Apakah surga dan neraka itu ada?

Kejadian ini pernah dialami oleh Yahudi dan Nasrani pada zaman dulu. Al Quran mengabadikannya dalam QS As-Syura: 14.

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka  ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pasti hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh orang-orang yang mewarisi kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad SAW) benar-benar berada dalam keraguan mendalam tentang kitab (Al Quran) itu.”

Perdebatan para ahli kitab membuat generasi yang mewarisi kitab setelah mereka pada ratusan tahun kemudian ragu terhadap Al Quran –sebagai wahyu terakhir yang menyempurnakan kitab sebelumnya-. Generasi selanjutnya tidak akan mau bertanya kepada para pemuka agama yang berdebat. Kemudia mereka kehilangan kepercayaan terhadap Taurat dan Injil. Generasi yang mewarisi mereka –ratusan tahun kemudian- tidak percaya bahwa dalam Injil terdapat pesan tentang kehadiran nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Kemudian sebagian besar dari mereka meragukan kebenaran Al Quran yang dibawah oleh Rasulullah SAW.

Apa yang akan terjadi pada generasi muslim Indonesia mendatang? Jika para orangtua sibuk dengan pertanyaan cabang dan dilemahkan keimanannya oleh pertanyaan-pertanyaan absurd yang megantagoniskan Islam dan muslim, siap-siap saja generasi kita ratusan tahun mendatang akan mengalami keraguan yang sama. Pada awalnya mungkin mereka hanya meninggalkan Al Quran. Generasi selanjutnya akan menganggap ibadah sebagai sesuatu yang tidak penting. Generasi selanjutnya mungkin akan menganggap agama sebagai sesuatu yang bukan prioritas. Generasi selanjutnya akan menganggap semua ajaran agama sama. Generasi selanjutnya akan menikah dengan agama lain. Generasi selanjutnya akan hidup dalam keluarga yang berbeda agama. Generasi selanjutnya sudah tidak ada lagi muslim. Naudzubillahimindzalik.

Sebelum hal buruk ini terjadi pada generasi kita mendatang, tidak salah bila kita kembali menguatkan keimanan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan prioritas. Status kita sebagai masyarakat dunia global saat ini membuat kita tidak selamat dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat ragu/tidak percaya diri/merasa buruk/merasa bersalah dengan keimanan dan keislaman kita. Menjadi muslim di era teknologi informasi berarti menjadi muslim yang menguatkan syahadah terus-menerus. Tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan prioritas. Sebelum ajal menjemput, masih ada kesempatan untuk mempelajari Islam sebagai agama yang haq dari Allah SWT dan menjadi muslim yang paham bukan hanya muslim yang memeluk Islam karena keturunan.[]

Bersambung insyaAllah…

*gambar dari sini

Previous Post
Leave a comment

2 Comments

  1. suci maulani

     /  November 13, 2016

    Mbak… aku share di pesbuk ya…. boleh ya

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: