#25DayBlogChallenge Day 6: School Days; What Inside The Bag

image

Hari keenam tantangannya adalah memperlihatkan isi tas ketika hari-hari sekolah. Kamu juga pasti sepakat, tas perempuan itu sekecil apapun selalu jadi kantong Doraemon, segala ada! Mungkin bawaan SD kali ya. Ini bikin aku inget ponakanku yang kelas 5 SD. Maksud hati pengen beliin dia tas-tas cewek lucu, feminin yang ada di pinggir-pinggir jalan CWalk, apa daya ingatan soal barang-barang yang selalu dibawanya menghantuiku. Ponakanku selalu pakek tas ransel (gak terlalu gede) tapi pas diangkat, beraaat banget dah. *Sayup-sayup terdengar dari sudut sana “ngikutin kebiasaan tantenya.” Hahaha..

Okey, sebagai pengakuan, inilah isi tasku setiap berangkat ke kampus. Setiap pakai gamis hitam, aku selalu pakai tas hitam ini. Kalau setelanku atasan kuning dan jeans biru, tas hitam ini cocok menemani. Ketika pakai gamis hijau tua dan jilbab pink, tas hitam ini tetap menemani. Intinya aku gak punya tas lagi selain ini hahaha! Ada deng, tas ransel coklah, tapi jarang dipakek ngajar. Isi tasku simpel: netbook, buku bahasa Indonesia, tab, payung, dompet, Al quran, dan buku catatan.

Netbook balloonku ini namanya Embun. Dia nemenin aku sudah sejak 22 Februari 2012. Katanya siy dia limited edition, tapi ya limitednya selama setahun dan di puluhan negara. Walhasil tetep aja si Embun jadi pasaran. Aku namai dia Embun karena bikin balon-balonnya berwarna semacam uraian cahaya. Dia juga selalu sukses bikin seger kalo lagi suntuk karena dia satu-satunya temen curhat paling rahasia *padahal password udah kesebar di temen-temen hahaha. Sesedrhana apapun dia, Embun udah setia nemenin aku nyelesein tesis lah paling enggak.

Buku bahasa Indonesia, bacaan wajib buat guru bahasa Indonesia kan! Al Quran juga bacaan utama muslim. Sebab itu, keduanya aku bawa ke mana-mana. Dompet hitam yang ada di samping Al Quran itu memorable banget. Dia aku beli waktu aku masih ngerjain skripsi, 2009. Dompet ini aku beli di Okedoku Jatos waktu jalan bareng sama rekan duoku, si Rena. Dompet ini awet banget. Untuk orang yang percaya bahwa isi dompet selalu setara dengan harga dompet, dia gak akan pernah punya dompet ini. Sebagai salah satu keajaiban dunia, dompet ini harganya cuma 6rebu. Yang mau nitip, boleh ke aku qeqeqe! Mungkin sampai tahun lalu kami masih kembaran dompet. Nampaknya sekarang si Rena udah ganti dompet siy.

Buku catatan kecil ini masih tetep aku bawa walaupun udah ada tab. Mengapa? Awalnya siy kerana di asrama setiap kajian gak boleh bawa tab atau HP. So that, aku harus punya buku catatan. Buku ini juga selalu jadi tempat nyatet ide-ide tulisan. Biasanya kalau nulis di catatan tab, aku sering gagal fokus gegara notif twitter or fb. Nah, kalau pakek buku catatan ini aku terbebas dari gangguan, walaupun agak pegel nulisnya.

Payung! Benda ini wajib dibawa selama musim hujan. Ukuran payungku kayak aksesoris ya, kecil banget. Biarkan, prinsipnya dia bisa dibawa walaupun aku pakek tas kecil. Kekurangannya siy, aku gak bisa berbagi payung sama orang lain. So that, aku selalu berdoa orang disekitarku gak lupa bawa payung sendiri. Semoga ini bukan bagian dari keselfishanku :p

Isi kotak pinsilku apa? *Penting banget buat dibahas :))
image

Pembahasan ini buat pengumuman kalau ketemu aku dan ada yang mau pinjem sesuatu. Inilah isi kotak pensilku. FD 16 GB gak akan dipinjemin ke peternak virus. Gantungannya, si Batman, hadiah dari Joker. Modem putih silakan digunakan, free, karena di sana gak ada kartunya. Yang mau minjem, pakek kartu sendiri :p Pulpen merah buat ngoreksi tugas mahasiswa, pulpen hitam buat nyatet dan nandatangan. Kalo ketemu aku mau minjem pisau atau pinsil, gak usah sungkan ya. Spidolku warna biru muda. Seorang mahasiswa pernah bilang “Suka biru ya Bu!” Tebakan dia benar. Ya sudah, kita akhiri ketidakpentingan ini….

PS: sejak beberapa menit lalu waktumu terbuang percuma karena baca posting ini.

Advertisements

#25DayBlogChallenge: 10 Song I L.O.V.E

lagu

Karena nggak pernah update soal lagu, aku biasanya ngulang-ngulang satu lagu yang –semacam harta karun- baru aku temui. Padahal lagu itu udah jamuran di folder orang-orang sekitarku. Aku juga lebih suka ngedengerin musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono. Salah seorang temen bilang, musikalisasi puisi yang aku dengerin mirip lagu gereja. Tetapi sampai hari ini aku masih suka aja ngedengerinnya. Setiap ngangkot, aku suka pakek headset dan lagi-lagi ngedengerin satu lagu yang diulang-ulang. Karena memori HP yang terbatas, cuma ada empat lagu di sana. Dengan prolog yang gak penting dan apologis ini, berikut adalah lagu-lagu yang aku punya, entah bisa disebut lagu yang aku cintai atau enggak.

Incomplate – Backstreetboys

Nggak maksud siy ngasih peringkat sama lagu-lagu yang aku suka. Aku nyebutin lagu ini di bagian pertama karena dia udah jadul aja. Aku suka BSB sejak eSeMPe. Sejak menghafal Quran, aku ngehapus semua lagu tapi entah kenapa selalu balik ngedonlot lagu ini. Yang jadi magnet lagu ini cuma bait:

I’d try to go on like i never knew you

I’m awake but my world is half asleep

I pray for this heart to be unbroken

But without you all i’m going to be is incomplete

Mungkin ya, karena ada kata pray aku jadi suka bagian lagu ini. Lagu ini memperlihatkan usaha untuk melupakan orang yang dia perlukan. Frasa “try to go on like i never know you,” sama “pray for this hearth to be un broken,” menggambarkan usaha yang besar banget buat lupa. Jawabannya ya incomplete itu. Selain maknanya, faktor terbesar yang bikin aku suka, bagian ini dinyanyiin sama Nick Carter, personil kesukaan siapapun yang merasa alay. Ahahah! Pokoknya, walaupun sudah tersisih dari perbendaharaan lagu yang ada di HP, lagu ini masih ada di laptop lah. Hearable kalo aku mau nostalgila dan meng(g)enang masa-masa alay tingkat akhir kuliah atau masa awal kerja.

Hurt – Cristina Aguilera

Ternyata ya ternyata, aku pencinta lagu galau hahah! Lagu ini nggak mungkin banget aku tirukan, karena suara Cristina Aguilera jadi impian bahkan buat penyanyi Sherina sekalipun. Lha aku, bisa bikin lubang kubur sendiri kalo ngikutin nyanyi pas ngedengerin lagi ini pakek headset. Linda Fales lah jadinya nanti. Aku suka lagu ini semenjak selesai kuliah keduaku. Setelah sempat nemenin ayah-ibu di rumah. Kerasa banget lah pokoknya berpisah itu kadang bikin kangen dan keseringan bareng itu bikin gampang berantem sama orang tua. Setelah balik ke Bandung, aku jadi suka lagu ini, apalagi bagian ini:

Oh, I’m sorry for blaming you

For everything I just couldn’t do

And I’ve hurt myself

Begitulah orang-orang bergolongan darah O. Secara kasat mata mereka lagi blaming padahal di dalem hati lagu hurt myself. Makanya jangan pernah nyoba berkonflik sama golongan darah ini. Kasihan ke kamu dan ke dianya juga. Pentiiing! Hahaha!

Ketika Cinta Memanggil – Opick

Lagu ini mulai dipopulerkan oleh Siti Nurhaliza sejak ada film Perempuan Berkalung Sorban. Aku lebih suka lagu versi Opick karena kesannya lebik khusyuk. Lagu ini semacam lagu cinta, jadi sufistik karena jadi soundtrack film Hanung Bramantyo. Sampai saat ini aku belum pernah nonton film itu dan gak akan terjebak makna berdasarkan film. Aku suka lagu ini karena dia mengingatkan pada syahadat.

Ada tiada rasa dalam jiwa

Rindu akan memanggil Mu

Karna setiap jiwa tlah bersumpah setia

Hanyalah pada Mu

Selalai apapun pikiran seseorang, hati akan selalu condong pada kebenaran Allah SWT. Namun, ada orang yang ngikutin kata hati, mencari hidayah dan bertemu dengan kebenaran, ada juga yang ingkar. Ya, karena dulu, duluuu sekali kita pernah berjanji. Karena manusia sering lupa, Allah SWT mencatatnya dalam Al Quran:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (Kami melakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,” (Al A’raf: 172).

Kalau udah terpaut hatinya sama Allah SWT, terjadilah bait kedua dalam lagu ini:

Bila cinta ada di dalam jiwa

Wangi bunga dunia tanpa nestapa

Sgala yang dirasa hanyalah Dia

Hatikan memuja hanya padaNya

Hati hanya tunduk kepada pemiliknya. Pahit, manis, asam, asin kehidupan dunia ya dianggapnya tawar-tawar saja. Dunia tidak melenakannya. Kalau lagi galau dunia, buru-buru deh dengerin lagu ini. Aku ya.. kebiasaanku maksudnya.

Hanya Hamba Allah – Opick feat. Amanda

 

Sudah dapat dipastikan ya, aku adalah pendengar setia lagu-lagu Opick. Menurutku lagunya lebih khusyuk ketimbang lagu-lagu nasyid zaman sekarang yang konsentrasinya kebanyakan cinta lawan jenis. Ya, kalo mau ngedengerin begituan, mending sekalian denger lagu Noah atau Backstreetboys. Semacam lagu pertama yang aku review di atas hehe. Lagu ini aku suka karena bait-baitnya menenangkan.

Detik waktu kan berlalu

Suka duka kan berlalu

Tiadalah semua abadi

Tangis tawa air mata

Semua kan berlalu dan pergi

Lagu ini ngingetin aku sama salah satu ayat favorit di surat Al Hadid:

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri,” (Al Hadid: 22-23).

Biarpun ya.. biarpun.. nampaknya lagu-lagu yang aku dengerin mencerminkan kegalauan yang penting ada sedikiiit manfaat yang bisa diambil dari lagu-lagu yang aku dengarkan.

Terhebat – CJR

Kealayanku semakin terlihat dengan munculnya CJR di list lagu yang aku dengerin hahahay! Udah jadi rahasia umum kalau lagu-lagu cinta CJR banyak yang menyesatkan anak-anak ABG. Mereka jadi dewasa sebelum waktunya. Aku juga kaget ada lagu ini di antara lagu-lagu cinta gak jelas macam #eaaa #eaaa Coboy Junior dulu. Lagu ini jadi mood booster setiap aku ikutan kompetisi apapun.

Tak perlu tunggu hebat untuk berani memulai apa yang kau impikan

Hanya perlu memula untuk menjadi hebat raih yang kau impikan

Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut

Yakini bahwa kamu terhebat

Ya, walaupun disebut naif karena percaya sama lagu anak ABG alay, aku masih tetep mempertahankan lagu ini di HP jadulku.

Sebelum Selamanya – Sherina

Aku jadi penggemar Sherina sejak dia meluncurkan album pertama. Alhamdulillah, aku masih jadi generasi yang pernah ngalamin ngedenger lagu anak-anak dengan kualitas syair, musik, dan suara penyanyi yang bermutu tinggi. Beruntungnya juga, dari sisi musik, setelah dewasa Sherina well educated. Dia sudah menyanyikan lagu-lagu yang diciptakan dan diaransemen sendiri.

Lagu yang biasa tapi jadi nggak biasa karena liriknya bagus adalah “Sebelum Selamanya.” Maknanya standar tentang komitmen yang diminta seseorang terhadap pasangannya sebelum melangkah lebih jauh, tapi padanan katanya keren. Ini bukan tentang pacaran, ini tentang pernikahan. Ini bukan cuma tentang dunia, ini tentang akhirat juga. Mengapa? karena semua pertanyaan diajukan sebelum selamanya, kehidupan yang never ending. OMG! Aku lebay banget ya! Ini sudah memasuki halaman ke-4. Soal kutipan lirik, aku suka semua bagian lagu ini. Kalau dikutip nampaknya bakal ngabisin tempat. Sila cari sendiri liriknya, atau kamu pasti sudah punya lagu ini :p

Sabar – Afgan

Tibalah aku pada kebiasaan paling biasa yang dilakukan oleh perempuan-perepuan Indonesia, yaitu ngedengerin lagu Afgan. Sebenernya aku suka lagu ini tanpa sengaja. Waktu ngilangin ngantuk ngerjain tesis jam 3.30 pagi, kebiasaanku adalah nonton video klip Sherina. Nah, karena label Sherina dan Afgan sama, nyasarlah aku ke video klip lagu ini. Yang bikin aku jatuh cinta sama lagu ini adalah ide kreatif video klipnya. Tim kreatifnya paaasti riset dulu sebelum memutuskan pilihan cerita ini. Video klip lagu ini gabungan antara riset, cerita, teknik penyajian cerita yang top. Alurnya yang maju-mundur itu keren! Detail properti di kamar Afgan yang terisolasi juga keren. Salut lah pokoknya sama tim kreatifnya.

Setelah sering nonton video clipnya, aku makin sering dengerin lagunya. Hmm.. bagus juga. Apalagi pas bagian “rahasiakan aku sedalam-dalamnya cintamu.” Biar kita makin lekas bertemu, cukup sebut-sebut namaku dihadapan-Nya, nggak usah disebutin ke manusia! “Selamanya, di hidupmu, aku kekasihmu.” Di syair ini juga ada kata “selamanya.” Aku maknai sebagai kehidupan yang selamanya juga. So that, ketika hanya disebut-sebut di hadapan-Nya saja, semoga bisa jadi kekasih dalam kehidupan yang selamanya. Selamat datang di posting alay Linda!

Perahu Kertas – Fatin Sidqiya Lubis

 

Sebelumnya aku agak alergi sama perahu kertas. Mungkin karena envy sama Dewi Lestari yang bisa bikin lagu sederhana dengan makna yang dalam. Diksinya di lagu itu memperlihatkan keakraban “aku” dan “kau.” Pantaslah kalau dia menjadi cerita percintaan sahabat. Aku mulai menyerah ngedengerin lagu ini sejak dinyanyikan Fatin di XFactor. Suaranya yang power full aku pikir nggak cocok nyanyiin lagu macam ini. Ternyata eh ternyata, aku lebih suka lagu versi Fatin. Selain itu, video Fatin yang nyanyiin lagu ini sambil duduk di panggun XFactor juga bikin aku terkesan. Jilbabnya hijau toska bikin Fatin anggun banget deh.

If Aint Got You – Alicia Key

Lagu ini masuk playlistku sejak aku nonton drama korea Inocent Man. Ceritanya tentang seorang laki-laki bernama Kang Ma Ru yang gak pernah ngedapetin satupun keinginan dalam hidupnya. Takdir mengharuskan dia ngelepas cita-cita, harta, dan cinta yang sudah pada detik-detik terakhir akan dia dapatkan.

Some people live for the fortune

Some people live just for the fame

Some people live for the power, yeah

Some people live just to play the game

Menjelang akhir cerita ternyata Kang Ma Ru harus operasi karena ada gumpalan darah di otaknya. Setiap operasi selalu berisiko kematian. Ya, akhirnya ketakutan terbesar setiap orang adalah kematian. Bagi yang percaya keberadaan kehidupan setelah kematian, rugi banget kalo gak bisa nyiapin bekal di dunia. Buatku, If Aint Got You, tertuju ke Tuhan. Coba deh dengerin dengan pemaknaan yang berbeda, mungkin lagu ini bisa lebih bermakna.

Just The Way You Are – Bruno Mars

 

Buat perempuan, seperti biasa lagu ini memotivasi diri untuk tampil apa adanya. Berdasarkan video clipnya siy, ada pesan tentang perempuan berkulit hitam juga tetep cantik. Di belahan bumi bagian sana kan disadari atau tidak, apartheid sudah dihapuskan pun tetap sisa-sisa kepercayaan bahwa yang putih lebih cantik daripada yang hitam itu masih jadi kepercayaan sebagian besar perempuan. Buatku, jadi diri sendiri kan nggak melulu soal fisik ya. Apapun lah, apapun nggak usah lah terpengaruh orang lain kalau memang Allah nggak ngelarang dan gak benci.[]

 

PS: Yang baca, sejak beberapa menit lalu waktumu terbuang sia-sia :p

#25DayBlogChallenge Day 4: Favorite Quote

sahabat

Dear Sahabat,

Hari ini aku dapat ilham menulis untuk kamu ketika mengayuh sepeda, diperjalanan pulang dari kantor pos, mengirim beberapa surat harapan untuk diri sendiri. Setelah lama menemanimu memperjuangkan surat tanda lulus, aku pengen cerita sesuatu nih. Mungkin itu yang disebut unspoken message versi aku. Bicara langsung ke kamu itu suka gak tega. Raut wajahku itu kalo gak malesin, ya kesannya marah atau bete. Bisa jadi juga volume suaraku naik turun waktu bicara soal ini. Semoga ini tidak kamu nilai sebagai sebuah keluhan.

Sahabat. Sebutan itu mewah sekali buatku. Kadang aku bertanya-tanya, pada tahap apa aku bisa menjadi sahabat bagi seseorang? Perlu berapa lama bercengkrama dengan seseorang untuk menjadi sahabatnya? Seberapa dalam sebuah hubungan harus terjalin agar ia dapat disebut persahabatan? Ayah Pidibaiq pernah berkata bahwa teman adalah seseorang yang ketika bersamanya kamu tidak merasa sendirian. Bisakah keberadaanku membuat kamu nggak merasa sendirian? Mungkin pertanyaan-pertanyaan tadi muncul karena aku belum menemukan satupun orang yang benar-benar membuat diri ini merasa taksendirian pada saat terberat. Mungkin juga ini terjadi karena ekspektasiku terhadap orang-orang yang menganggapku sebagai sahabatnya terlalu tinggi, atau sifat posesifku yang membuatku berpikir bahwa sahabat harus selalu ada menemaniku setiap saat, bukan hanya pada sedihku atau pada bahagianya. Sahabat buatku selalu ada ketika membutuhkanku atau tidak, ketika dibutuhkan atau tidak.

sahabat 2

Aku adalah pemercaya fanatik kutipan anonim ini, “A good friend know all your best stories. A best friend has lived them with you.” Maka aku berazzam untuk menemanimu dalam perjuangan yang kita jalani akhir-akhir ini. Dalam persahabatan tentu ada rasa manis, asam, asin, bahkan pahit yang harus dilalui. Buatku, kamu itu unik, mampu menampilkan ketenangan dalam keadaan setegang apapun. Pada posisi tersudut, jika pun bukan tenang yang tampil, kamu dapat menampilkan wajah takterganggu sedikitpun oleh gertakan atau intimidasi orang. Mungkin pikirmu, “Mau digimanain lagi, memang begini adanya.” Kamu tahan banting memang, walaupun mungkin ini adalah ketakmampuanku memahami kamu dari raut muka. Tapi kadang, sikap lurusmu itu membuatku sulit membacamu. Apalagi olehku yang saat tersudut sekalipun akan tetap sekuat tenaga melakukan perlawanan. Aku juga paham, kamu mungkin bukan takbisa melawan, melainkan enggan menghadirkan kekeruhan baru dalam suasana yang sudah keruh.

Namun, menurutku takhanya suasana bahagia yang membutuhkan ekspresi. Kedongkolan terhadap pihak-pihak yang mempersulit urusan kita pun perlu diintrupsikan. Siapa tahu kesulitan itu memang biasa mereka datangkan dan mereka merasa keenekana mengintimidasi orang melalui kekuasaan. Orang-orang seperti itu perlu diberi pelajaran melalui kekecewaan, karena sejatinya merekalah pelayan dan kita adalah tuan.

Selain itu, sebuah perjuangan memang selalu menagih mahar. Paling tidak, mahar itu dapat berupa kerelaan menunda keinginan. Ujian selalu datang pada waktu-waktu hampir kesudahan. Beberapa langkah lagi sampai finish, liburan bersama teman-teman bisa melalaikan. Perasaan tidak enak karena absen juga menjadi rintangan. Kadang pernyataan, “Selama ini mereka hanya mengambil tenagaku dan membayarnya dengan jauh dari layak. Ini tanda mereka gak terlalu peduli dengan beban hidupku. Lantas mengapa aku harus terbebani oleh beban yang akan mereka tanggung tanpa kehadiranku?!” perlu diulang-ulang untuk membuat diri tenang dalam perjuangan. Sederhananya, kadang kita harus egois untuk melawan keegoisan orang lain. Sebenarnya sudah berlalu, tapi aku tetap ingin menyampaikan pendapatku tentang itu.

Dari setiap langkah yang kita jalani selama ini, ada hal yang belum dapat aku atasi: sifat pesimismu lebih besar dari sifat optimisku. Aku jadi takbisa mencari akal untuk meyelesaikan sesuatu jika yang harus aku hadapi adalah ketiadaan harapan. Bagaimana orang yang takpunya peluang sepertiku ini bisa menyemangatimu yang sudah menutup peluang? Dalam setiap tikungan, sifat optimislah yang membuka pintu-pintu peluang. Tidak ada yang bisa menetapkan kejadian detik mendatang kecuali Dia. Maka jangan serahkan kekecualian ini pada makhluk-makhluk-Nya. Yakinlah, apa yang kamu perjuangkan bukan hanya untukmu tapi juga untuk ibu, ayah, adik, kakak, atau siapapun yang kamu cintai. Jika secara pribadi kualifikasi diri takpunya kepantasan untuk mendapat keajaiban, yakinlah ada mereka-meraka yang menggelayutimu yang Ia sayang. Maka jangan pernah putus harapan.

Sampai kapanpun aku akan selalu berharap, bisa menjadi orang pertama yang kamu hubungi dalam keadaan paling sulit dan paling menyenangkan. Selama Allah SWT masih memberiku kecukupan, semoga aku bisa menjadi satu bagian dari kesuksesanmu sekecil apapun itu. Aku mencintaimu karena Allah SWT.

*gambar quote dari sini

#25DayBlogChallenge Day 3: What Are You Afraid Of?

: CEMAS

Betapa takterberkati hidup dalam kecemasan, betapa tanpa rahmat hidup dalam kegelisahan. Setiap orang harus mampu menguak tempurung kegelapannya, setiap orang harus berjuang menguak ketakutannya,” (SGA, Negeri Senja).

Soal tulisan ketiga ini, agak lama memang aku memikirkannya. Baru hari ini dapat aku simpulkan hasilnya. Inspirasinya aku dapat dari pengalamanku pekan lalu. Aku menyaksikan dua kondisi tidak ideal yang dialami beberapa teman. Dalam sebuah acara edukasi ibu-ibu sebuah kelurahan, salah satu teman menjadi ketua panitia. Dengan posisi strategisnya, perempuan beranak tiga yang masih di bawah usia SD ini tetap rendah hati menyajikan minuman istimewa (berupa jus) kepada para peserta. Padahal dengan kesibukan mengurus anak, mungkin kita terpikir untuk hanya menyajikan air mineral. Namun, dia tidak berpikir demikian. Disediakannya minuman alami yang dapat menghilangkan kantuk para peserta.

Ketika ada perserta yang baru datang, sambil menggendong putrid yang masih kecil, satu persatu para ibu itu disambutnya. Setelah itu, bukannya menyuruhku mengambil minuman, ia justru menitipkan putrinya ke pangkuanku dan menghidangkannya di hadapan ibu-ibu. Aku sadar, ada hubungan yang harus selalu dibangun dan dipertahankan antara dirinya dan ibu-ibu peserta pelatihan tersebut. Sebagai da’i, dia harus memberikan pelayanan terbaik kepada objek dakwahnya. Dua putranya yang sangat aktif dan kadang menyulut kemarahan dihadapi dengan senyuman. Simpulanku, dia mandiri, cekatan, dan tangguh. Padahal sebelumnya aku tahu kondisi keuangan keluarganya tidak dalam keadaan baik. Sang suami baru bangkit dari pemutihan di kantornya. “Saat ini kami sedang belajar menikmati keterbatasan ekonomi,” ujarnya dalam sebuah pertemuan terbatas. Aku masih ingat, betapa sebelum ini ia berada dalam kecukupan dan sangat dermawan. Allah SWT mengujinya dengan keterbatasan bahkan ketiadaan.

Kawan lain aku saksikan kehidupannya ketika membantu menyelenggarakan arisan komplek. Karena aktivitas sebagai perempuan pekerja, konsumsi tamu dipesan dari catering. Saat menyiapkan makanan untuk tamu, putri bunsunya yang baru genap satu tahun mengisengi kami dan mengambil beberapa kue, memakannya, dan memuntahkannya. Kawan saya itu dengan sabar mengajak putrinya berdialog dengan cara yang tidak menyeramkan untuk anak-anak.

Jelang sore, tamu arisan tiba. Ia menerima tamu dan putrinya dimandikan oleh asisten rumah tangga (ART). Dari dapur terdengan sayup-sayup keceriaan dan kedekatan anaknya dengan ART. Tidak lama, dari luar muncul sang suami yang baru selesai salat ashar. Di kamar sang ART sedang memakaikan baju anak yang baru selesai dimandikan tadi. Setelah berpakaian rapi, sang anak digendong oleh sang suami. Sebagai seseorang yang tidak tahu secara dalam kondisi keluarganya, aku merasa sedang menyaksikan kejadian yang seharusnya dijalankan oleh suami-istri bukan oleh suami dan pembantu. Pembantu mengambil beberapa peran istri dalam keluarga karena sang istri sudah telanjur sibuk dengan pekerjaan. Beruntungnya sang suami adalah laki-laki shalih yang bisa menjaga dirinya dan nafsunya.

Dalam rumah tangga, ada hubungan yang harus dipertahankan keberlangsungannya. Hubungan itu tidak dapat diraih dengan mewakilkan orang lain atau dibeli dengan setumpuk uang. Apalagi hubungan dengan anak.

Seperti yang disampaikan oleh Barbara Johnson,To be in your children’s memories tomorrow, you have to be in their live today. 

Namun, cicilan mobil, cicilan rumah, hasrat untuk membeli gadget, makan enak, jalan-jalan, dan gaya hidup lainnya membuat bekerja menjadi lebih penting dan mendesak ketimbang hubungan ini.

Menyaksikan dua kejadian tersebut aku jadi berpikir tentang diri sendiri. Bagaimana kehidupan keluargaku kelak. Dengan terbata aku bisa berkata bahwa saat ini aku sedang berbahagia. Aku bisa bekerja sebagai guru di akhir pekan dan mendapat kesempatan berinteraksi dengan Al Quran pada hari kerja. Amat memalukan bila hafalan takbertambah dan tilawah tidak lebih banyak dari orang-orang yang bekerja. Hidup memang perlu biaya. Pekerjaan mengajar akhir pekan tentu belum dapat menutupinya. Jika melihat capaian-capaian duniawi orang lain, keinginan untuk bekerja fulltime muncul kembali.

Namun, bukankah ada banyak definisi tentang bahagia? Bukankah kesempatan berinteraksi dengan Al Quran adalah kebahagiaan yang tidak ada duanya? Aku juga masih ingat betapa sibuknya diri ini ketika bekerja dan betapa mahalnya kedekatan dengan Al Quran pada waktu itu terasa. Tubuh lelah kadang membuat abai pada ayat-ayat Allah SWT, satu-satunya yang dapatan menemani dalam kesunyian alam kubur, ketika takada lagi teman-teman lain yang dapat membersamai. Bukankah setiap orang punya kebahagiaan masing-masing? Maka bahagiaku hari ini adalah merasa cukup dengan kehidupan yang aku jalani sekarang.

Umar Bin Khathab RA berkata, “Antara seorang hamba dengan rezekinya ada pemisah. Jika dia qonaah (merasa cukup) dan jiwanya merasa ridha, rezekinya akan menghampirinya. Akan tetapi, jika dia memaksa masuk dan meruntuhkan hijab itu, dia tidak akan bisa menambah rezekinya di atas kadar yang telah ditentukan untuknya.”

Merasa cukup dan ridha ternyata pelajaran yang tidak mudah menjalaninya. Qanaah juga bukan berarti tidak berbuat apa-apa, karena berkelebihan harta juga nilainya utama apabila harta tersebut digunakan untuk kebaikan-kebaikan di jalan Allah SWT. Qanaah tidak melulu berkaitan dengan kemiskinan, karena buktinya banyak orang yang berlimpah harta tetap saja tidak merasa cukup dengan rezekinya.

Lalu, apa ketakutanku yang sebenarnya? Yang aku takutkan adalah kecemasan takmemiliki hal-hal duniawi dan tidak merasa cukup dengan kehidupan yang Allah SWT karuniakan. Aku takut suatu hari diri ini mencemaskan capaian-capaian duniawi orang lain, sehingga membuat diri lupa mencemaskan capaian-capaian akhirat. Aku takut kecemasan itu membuat diri lupa bersyukur betapa mewahnya suasana batinya yang merasa cukup dan jiwa yang ridha dengan kehidupan yang sedang dijalani.

Tulisan ini semacam wasiat untuk diri sendiri. Jika suatu saat aku sedang sibuk dengan hiruk-pikuk dunia, semoga jiwa tidak lupa untuk mencemaskan kehidupan akhirat.  Perjuangan hari ini adalah karantina untuk menghadapi dunia dengan percaya diri dan terhormat bersama Al Quran.  Semoga hati ini selalu ridha dan merasa cukup dalam keadaan lapang ataupun sempit. Semoga ketika jiwa ridha dengan ketetapan-Nya, Dia juga ridha terhadap diri ini. Apakah tanda-tanda keridhaan-Nya itu? Jiwa diringankan untuk melaksanakan amalan-amalan wajib, dan dinaikkan derajat dengan amalan-amalan sunnah. Kalau Allah SWT ridha, apa lagi yang harus dicemaskan di dunia dan akhirat?!

#25DayBlogChallenge Day 2: 20 Facts About Me

black

Selamat datang pada kejenuhan berikutnya! Hari ini aku dapet tugas nyeritain 20 fakta tentang diri sendiri. Kebetulaaaaan banget beberapa pekan lalu ada tantangan yang sama di instagram. Aku juga curiga tantangan ini berhubungan. Yaudah lah ya, kita perparah kejenuhan ini dengan memulai pembahasan tentang hal-hal membosankan berikut:

this is crazy beauty #20FactsAboutMe
1. ordinary muslimah
2. really like Barthes’ semiotic
3. random thinker. still studying structural thinking through writing and public speaking
4. steeped in cultural studies
5. etnographer wanna be
6. ever made bread, condensed milk, and instant noodles as a staple food
7. fried rice lovers since high school
8. love the creative world
9. want to live in a blessed house with blessed people
10. partner in crime of @fatimahhusna and @linaafyan | like a curse that can only be freed by prince
11. gordes (can’t translated in english)
12. novel hater
13. possessive
14. know a lot of people but have little friends
15. blood type O with choleric personality
16. struggle woman
17. personal appearance is not my concern
18. silence when angry
19. still studying ilmu taubat
20. obsessed to be tawakkal person

Ini bener-bener salin – tempel dari instagram karena ternyata ketika aku jelasin satu-satu bener-bener bisa ngabisin berlembar-lembar halaman A4 hahaha! Ali bin Abi Thalib bilang, gak usah cerita tentang diri sendiri lah, orang lain gak terlalu peduli kok (kata-kata versi aku-pen). Nggak penting juga panjang lebar soal ini.

#25DayBlogChallenge Day 1: Introduction

tantangan

: Demi Apa?

Hahaha! Dua kata itu yang tercetus ketika memutuskan ikutan #25DayBlogChallenge ini. Kosong amat hidup kamu ampe bisa-bisanya ikutan tantangan nulis ini, 25 hari pula. Ya, paling enggak ruang tunggu yang biasanya membosankan ini gak sepi-sepi amat lah. Sarang laba-laba udah ada di mana-mana, semoga nggak kemasukan tikus atau kecoa. Untungnya tantangan menulis ini udah ada tema-temanya. Otak nggak terlalu terbebani untuk nyari tema tiap harinya hahaha *pemalas.

Okelah ya, kewajibanku di hari pertama ini adalah perkenalan. Sebenernya beberapa hal tentang aku udah ada di buku tamu, tapi gak ada salahnya buat ngemeng dikit soal kegiatan terbaruku sekarang.

Namaku, Linda Handayani, orang Sunda aseli yang sempat dibesarkan di Denpasar. Orang yang pertama kali ketemu kadang mengira aku orang Padang. Setelah tahu aku pernah dibesarkan di Bali, orang yang have no idea buat ngobrol biasanya bilang, “pantes kayak orang Bali.” Padahal aku yakin 60% dari pernyataan mereka adalah basa-basi. Secara ayah dan ibuku 100% orang Tasikmalaya.

Aku ordinary woman yang dapet kehormatan jadi ngajar Bahasa Indonesia di Universitas Al Ghifari, Bandung, setiap hari Minggu. Kerja di hari Minggu bikin Senin jadi sahabat terbaik dan jarak antara Selasa-Sabtu serasa cepeeeet banget. Terus, Senin s.d. Sabtu ngapain aja? Kamu pasti nanya begitu. Untungnya aku tinggal di asrama Maqdis, mungutin berkah dari temen-temen yang semangat hafalan Quran. Jadi, aku punya alasan untuk ikutan-ikutan hafalan Quran, dan punya jawaban pertanyaan kamu tadi. Selain itu, aku lagi ngerampungin buku yang udah ngebet pengen terbit secepatnya. Pengennya siy, buku itu jadi key buat silaturahim sama temen-temen di Indonesia bahkan seluruh dunia *ah, sesi mimpi dimulai.

What next? Yang menarik dari hidupku hari ini adalah pandanganku terhadap gadget, sekarang kok mulai gak terasa serunya ya lalalala. Setiap jam 9 malem gadget dikumpulin di kamar ketua asrama. Padahal gak sedikit juga temen yang gak berhubungan sama gadget dan biasa aja. Hikmahnya siy, bisa bangun malem tanpa bantuan alarm HP dan kebangun pakek jam weaker yang super berisik milik teman sekamarku. Oh iya, aku tinggal sekamar bertiga sama Zulfa dan Uni. Mereka adalah dua teman baik hati yang bikin aku malu kalo gak nyentuh Quran. Merasa terberkahi dapet kesempatan kenal mereka berdua. Hari ini cukup sampai di sini karena besok adalah Senin buat ku.

Setelah hari ini, selamat membaca hal-hal membosankan tentang aku melalui tantangan ini. Maaf.

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript