: Sendiri

Sendiri itu kondisi batin, ia takbisa dilihat dengan mata kasat. Mungkin dua, dua puluh, atau dua ratus orang ada di sekitarmu saat itu, tapi kamu bisa tetap sendiri. Sendiri itu kekuatan batin. Kalau kamu biasa sendiri, waktu dan keadaanpun kadang membiarkanmu menyendiri. Saat berniat datang ke sebuah undangan misalnya. Kamu mungkin berniat, bahkan sudah menelpon temanmu untuk pergi bersama, tapi ternyata Dia menghendakimu untuk tetap datang sendiri, berhaha-hihi dengan berbagai jenis orang, lalu pulang sendiri. Kesendirian itu seperti sesuatu yang sudah dianugerahkan kepada orang-orang yang menjalaninya.

Sendiri itu kondisi batin, ia hadir karena sepi yang diciptakan hati. Ia hadir karena kekosongan hati dari apapun yang kasat. Saat menghadapi ujian dengan berbagai pilihan, bertanya kepada siapapun yang ada di sekitar, mereka malah menyerahkan pilihan kepada si empunya pertanyaan. Tuhan seolah sedang memintanya untuk bekerja keras menerjemahkan jawaban paling benar dari-Nya. Kemudian tidak ada lagi cara terbaik menerjemahkan jawaban-Nya kecuali dengan mendekat kepada-Nya dan menjadikan Ia satu-satunya teman. Lalu tidak ada lagi sumber jawaban kecuali Dia. Setiap keputusan hanya disandarkan kepada-Nya.

 

Maka untukmu yang selalu sendiri, jangan biarkan ruang kosong diisi oleh penebar keraguan.

 

 

Terinspirasi dari lagu Belahan Jiwa by Lusy Rahmawati

: kepada mereka aku rindu

Dear Sukab,

Kepada kursi ruang tunggu stasiun, Kepada bangku taman, kepada rumah ibadah, kepada kertas-gunting-batu, kepada rak-rak buku di toko itu, kepada setiap sudut jalan, sudah kusampaikan salam darimu. Salam pura-pura yang kuterjemahkan sendiri. Entah pernah terlintas lagi atau tidak di benakmu tentang mereka.

Sampaikan salamku kepada pantai, kepada suara kereta api, kepada bising terminal, kepada pintu yang kau ketuk setiap larut malam, kepada anak-anak kecil yang rajin mengaji, kepada teman pengajianmu yang mengajari soal tahnik bayi, kepada perempuan bercadar yang waktu itu berlalu, kepada penjaga rental play stasion, dan kepada setiap remeh-temeh yang aku tanyakan dan kau jawab selalu dengan sekenanya. Kepada semua yang hanya kudengar dan taksedikitpun dapat kulihat, katakan, “aku rindu.”

Kepada senja, tolong bisikkan kerinduanku. Takberniatkah kau memberi sekerat untukku? Cukup sekerat saja. Takperlu sebesar potongan yang kau berikan kepada Alina. Aku berjanji, takkanan membalas potongan senja darimu dengan surat ketus semacam yang Alina lakukan.

Kepada Ar Rahmaan, tolong sampaikan “Apa kabarmu?”
Kepada syalku, titip pesan, “baik-baiklah di sana.”
Terakhir, kepada ibu sampaikan maafku karena selalu takada kesempatan untuk bertemu.

Penuh Cinta

Maneka

____________________________________________________________________________________

*potongan syair:

ku berjalan terus tanpa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdoa di tengah indahnya dunia
ku berdoa untuk dia yang kurindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang kurindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
bernyanyilah na na na na na
bernyanyilah untuk dia yang kurindukan

jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan pergi dari aku

Lagu: Jangan Lupakan – Nidji
Lagu dan lirik lagu dari sini 

*ada beberapa syair yang dihilangkan karena beberapa alasan*

kisah Sukab dapat dibaca di website Seno Gumira Ajidarma

gambar tetap jepretan siriusbintang

: Untuk Setiap Luka

Tak Ada Beban Tanpa Pundak

Terasa menyesakkan semua yang telah terjadi
apa yang ku banggakan kini tinggal cerita
kau uji aku, sekilas aku rasa tak kuasa
namun kusadari dan aku mengerti kuserahkan pada Mu

Takkan aku bertanya mengapa harus terjadi
karna aku yakini tak ada beban tanpa pundak
Kau uji aku karna ku bisa melewatinya
ini yang terbaik bagi hidupku
semua hanya ujian

Biarkan aku oh malam.
menangis di sepanjang sholatku karna hanya Allah
yang bisa membuatku tegar menjalani semua ini.

Biarkan aku oh malam.
Bersimbah Rahmat dan ampunanNya
badaipun pasti berlalu menguji imanku

Kini kutahu Ya Allah, tiada beban tanpa pundak
Kuatkan diri Ya Allah…

Setiap luka pasti ada obatnya. Ada waktunya ia mengering dan kembali pulih. Bahkan ada luka yang takmembekas sedikitpun bukan? Hanya tubuh yang penuh perawatan yang takmemiliki bekas luka.

Begitupun hati. Hati yang terluka karena goresan orang lain atau cabikan yang disisakan oleh diri sendiri akan mengalami sakit. Pada setiap rasa sakit pasti ada kekuatan dari-Nya untuk menjalani sampai pulih. Sampai pulih. Sampai benar-benar pulih.

Dialah yang memberi luka, Dia pula yang memberi kekuatan dan penawarnya. Pada setiap rasa sakit di hati ini, cukuplah Allah Swt yang menjadi pemberi sebaik-baik obat.

Awalnya pasti luka dan rasa sakit itu akan terasa dalam, perih, menyisakan hening. Takada suara sedikitpun karena diri sibuk merasa dan menerjemahkan luka. Lalu hanya air mata yang menganaksungai, menetes, mengalir, melelahkan, menyesakkan. Lemah, lemah, lemah selemah-lemahnya. Hanya akan ada pertanyaan “mengapa?” Lalu pikiran berputar, bekerja keras mengobati luka itu dengan tuduhan-tuduhan pada sesiapa yang layak disalahkan. Pada waktu, pada manusia, pada masa lalu, pada sikap, pada dunia, bahkan pada Tuhan semua tuduhan itu ditujukan.

Setiap saat yang dilakukan adalah menyalahkan. Salah! Salah! Salah! Tidak ada yang benar di dunia ini, waktu itu. Jika bukan Allah Swt yang dijadikan pegangan, yang dilakukan adalah berlari sejauh-jauhnya dari masahal. Lelah akan datang menjadi penanda kesembuhan. Lelah adalah penolong terbaik menuju keinsyafan.

Luka adalah sapaan Allah Swt padamu tentang keberadaan-Nya. Bila hati segera sadar akan pertolongan-Nya, Ia akan segera mengobati lukamu. Ia yang memberi luka sebagai ujian, maka Ia yang akan mengobatinya. Tentu dengan obat terbaik dan terindah. Maka mengadulah hanya kepada-Nya, pada Ia yang menulis takdir dan mewujudkanya. Pada Ia yang takada sesuatupun lepas dari genggaman-Nya. Pada Ia yang memiliki jawaban atas semua pertanyaan.

Lega! lega! lega selega-leganya bila yang mendengarkanmu hanya Dia. Lalu jawaban atas setiap pertanyaan akan hadir satu demi satu dari-Nya. Hanya keyakinan tentang luka sebagai takdir terbaik yang akan muncul. Semakin dekat, dekat, dan dekat saja kepada-Nya melalui tilawah dan tahajjud yang dirindukan. Akhirnya hanya syukur yang dilakukan atas luka sedalam apapun. Apalah artinya luka-dalam bila imbalannya adalah semakin dekat dengan Allah Swt. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah kecuali dekat dengan-Nya.

Maka pada setiap luka, syukurilah!
Semoga ia berbuah kedekatan dengan-Nya.

*gambar dari sini

** lirik lagu dari sini

Lagu Nasyid “Tak Ada Beban Tanpa Pundak” by Tiar

: but i need to know

Dear Sukab,

Seemed impossible, seemed absurd, I didn’t even know you before
Kept my distance, closing in, I don’t mind caressing your skin

Kebingaran. Itulah aku. Aku adalah manusia keterangan. Segala yang kualami rasanya harus kusampaikan kembali kepada orang lain seterang-terangnya. Segala sesuatu harus diberi keterangan. Semakin banyak kalimat pengurai, semakin terasa jelas apa yang dimaksudkan. Lalu aku mulai menerangkan segala yang terasa baru. keterangan menjadi keseharian. mampu menerangkan apa yang dirasakan padamu menjadi kebahagiaan amat sangat. mungkin waktu itu tujuanku hanya satu, menerjemahkan apa yang aku rasakan agar kamu mengeri dan merasakan hal yang sama. Namun aku lupa, taksemua orang perlu keterangan.

Kebisuan. Itulah kamu. Kamu adalah manusia yang takperlu keterangan. Segala sesuatu yang kamu alamai cukup dirasakan sedalam-dalamnya. Takperlu sedikitpun keterangan. Semakin dalam perasaan yang kamu rasakan, semakin ringkas pernyataan yang tersampaikan. Singkatan menjadi keseharian. Akhirnya aku taktahu banyak soal kamu. Rahasia adalah inti dirimu. Namun kamu taksadar, taksemua orang bisa menerima kebisuan.

Waktu mengajari kita belajar tentang kebingaran dan kebisuan. Bila taksatupun yang mengambil pelajaran, yang akan muncul pasti pertanyaan soal keterangan tentang kita. Tapi tetap saja jawabannya adalah kebisuan. Lalu pada sebuah jeda, aku sangat suka bernyataan manusiawimu tentang pertanyaan dan jawaban:

“Lah? Mana ada orang gak boleh tanya kalau gak tau jawabannya.

Ada juga orang nanya karena butuh jawaban”

That’s right! Pernyataanmu benar dan sangat tepat. Tapi mengapa itu terdengar agak aneh ya? Semua yang kamu katakan menyelisihi apa yang kamu lakukan.

Setiap pertanyaan perlu jawaban. Setiap orang yang bertanya perlu jawaban atas pertanyaannya. Dalam hidup, banyak pertanyaan yang menyediakan pilihan: boleh dijawab atau tidak. Namun, ada juga pertanyaan yang harus dijawab. Banyak juga pertanyaan yang tidak dapat ditimpali dengan kalimat “terserahku dong, mau dijawab atau enggak!” Ada pertanyaan yang benar-benar harus dijawab. Celakanya, kebisuan tidak dapat dihitung sebagai jawaban.

Seperti halnya ujian sekolah, setiap pertanyaan bebas kamu jawab dengan jenis jawaban manapun. Namun, jangan lupa! Setiap ujian punya batas waktu menjawab. Setiap pertanyaan punya usianya. Setiap jawaban punya masa kadaluarsa. Mungkin ada pertanyaan yang bisa kamu tangguhkan menjawabnya, tapi ada pertanyaan yang harus kamu jawab saat itu juga.

Waktu mengajariku tentang kebisuanmu. Aku mencoba menerjemahkan setiap kebisuan sebagai sebuah keterangan. Namun, hasilnya hanya membuatku tersesat dalam makna ketiadaan dan kelemahan. Jawabanmu mungkin berumur panjang, tapi pertanyaanku berbatas waktu. Huffh.. Aku rindu keteranganmu. Terangkanlah…

Something old, something new, something I didn’t thought could be true
Love’s too strong and a bit cliché, For now this is enough, I’ve got a long way
Something old, something new, Something I didn’t thought could be true
I’m afraid to ask but I need to know, Would you want me to stay?Or would you want me to go?

These are my feeling I hope you’ll understand  It might not be much, but it’s more than I can spend

Penuh Cinta

Maneka

*song: Better Than Love [Sherina]

kisah-kisah Sukab bisa dibaca di blog Seno Gumira Ajidarma

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript