Ampunkan

Forgive Me

// tortured mind photography // website 

:Tuhan

Alhamdulillah, mungkin kata ini yang paling pantas aku jadikan awal surat ini. Demi Kamu, rasanya canggung banget bikin surat buat pencipta diri sendiri. Mungkin rasa malu mendominasi atau lebih tepatnya tahu diri. Dalam kesempatan ini, aku, yang awalnya butiran debu, sangat berterima kasih telah diciptakan. Terima kasih telah menciptakanku sebagai manusia. Lebih dari apapun, terima kasih telah menakdirkanku terlahir sebagai seorang muslim.

Sebenarnya isi surat ini adalah antologi dari semua pertanyaan yang muncul di kepalaku dan Kamu juga pasti sudah tahu. Ah, saat mengetik ini pun aku jadi bertanya-tanya, apa tujuan-Mu menggerakkan tanganku untuk menulis satu demi satu kata dalam suratku. Hmm.. apakah karena Kamu merindukanku? Aku jadi ingat pernyataan panjang-Mu dalam hadits qudsi tentang hubungan baik-Mu dengan doa-doaku.  Beberapa tahun lalu aku masih menyimpannya bahkan menyebarkannya kepada banyak orang. Sekarang, aku agak lupa menyimpan filenya di mana. Kurang ajar bukan? Jadi, waktu itu aku sedang rajin berdoa atau memaksakan obsesiku kepada-Mu? Apakah Kamu sedang tersenyum dan berkata, ternyata makhluk-Ku tahu diri juga.

Kalau memperhatikan apa yang aku rasakan sekarang, naga-naganya Kamu memang sedang rindu. Hampir setiap hari aku menghafalkan kalam-kalam-Mu. Lebih dari lima kali sehari aku menghadap-Mu. Benarkah Kamu masih rindu? Nampaknya ada yang salah dengan diriku. Dalam pertemuan yang sesering itu, aku masih membuat-Mu rindu. Apakah ini karena Sukab? Adakah dia mengambil posisi terlalu besar dalam hatiku, atau target-target hidup yang makin menyita pikiranku? Agaknya dalam pertemuan yang takjarang itu hatiku kerap mangkir. Terus terang, aku masih bimbang, apakah diri ini masih layak untuk Kau-rindukan. Dalam keadaan diliputi kesalahan, aku terlalu wirang untuk mendaulat kerinduan.

Pasti Kamu yang menetapkan diri ini untuk kembali belajar, menjadi orang biasa dengan amal unggulan. Aku kerab bercanda dengan teman. Apa amal unggulanmu? Ia menjawab, bersikap sabar ketika kau kerjai habis-habisan. Apa amal unggulanmu? Bersikap sabar ketika acapkali kau tinggalkan. Hahaha.. Inilah aku yang menjadi alasan kesabaran banyak orang. Lalu aku terdiam ketika ditanya tentang amal unggulan. Semuanya perlahan menghilang. Luntur satu demi satu karena kesibukan. Orang bijak berkata, menyerah pada sesuatu bukan tentang tiba-tiba berhenti, melainkan diam-diam, sedikit-demi sedikit kau tinggalkan.

Nampaknya aku takperlu mengaku. Kamu juga sudah genap tahu hari-hariku. Hedon bukan? Kebaikan-kebaikan itu hanya menjadi selingan, lebih banyak istirahat, didominasi kelalaian. Padahal di sekelilingku, ketaatan mudah sekali ditemukan. Kebebalanku nampaknya sulit dikendalikan. Dalam ketergesaan, harapku: semua ini Kau ampunkan.

 

Yang selalu rindu,

 

Langitshabrina

Advertisements

Kepada Rangga

Hai Pujangga, apa kabar New York pagi ini? Apakah sedingin ruang tunggu Cinta
yang kau tinggalkan dengan bilangan purnama? Atau terasa lebih hangat berkat
secangki kopi yang pahitnya sampai ke Jakarta.

Menurut desas-desus, sebentar lagi kamu akan pulang, melengkapi kenangan
perempuan yang datang atas nama cinta. Sikapmu kemarin-kemarin memang
mengecewakan, meninggalkan kekasih selama itu tanpa berita. Memang
menurutmu ciuman terakhir itu cukup membuat Cinta bahagia menunggu
bertahun-tahun? Kamu pikir barisan sajak pada halaman terakhir itu cukup
membuatnya takkesepian?

Rupa-rupanya ia salah satu menganut pemikiran Sukab yang acapkali berkata, “Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya.” Dengan penantian yang pasti melelahkan itu, aku yakin, ia masih akan memberikan senyum yang sama dengan senyumnya belasan tahun lalu kepadamu.

Kekasihmu mengambil alih semua pemarkah cinta. Gejolak, kebahagiaan,
kepahitan, dan kesetiaannya, ia dekap semua. Semoga ini bukan karena kutukan
namanya. Waktu itu aku masih ingat, gadis ceria yang kau sebut “tak punya pendirian” mengubah hidupnya karena bertemu seorang penyair penuh rahasia sepertimu. Untuk seorang perempuan populer, menarik diri dari keramaian adalah putusan yang takmain-main. Mungkin itu kali pertama ia benar-benar jatuh cinta.

Bila benar-benar akan kembali bersama, aku amat penasaran apa yang akan
kalian bicarakan. Permohonan maaf, seharusnya jadi yang pertama diungkapkan.
Agaknya akan ada sedikit kemarahan akibat lelah penantian. Semoga kisah
selanjutnya akan menjawab segala ketertangguhan. Paling tidak, memberi sedikit
gambaran pernyataan AIS,

kesetiaan adalah batu, ia takkenal waktu.

Salam hangat,

Maneka

Penghuni Kursi Bisu 2

ballon

Dear Perempuan,

Surat kedua ini kutulis khusus untukmu bersama pagi yang takpernah bosan kembali membawa harapan. Di sini jendela sengaja takkubuka. Pagi ini, khusus pagi ini, aku ingin memberi waktu lebih panjang pada kehangatan malam untuk tinggal di sini, di kamarku yang masih saja sepi, agar ia dapat kubagi bersamamu lewat suratku.

Perempuan, apa kabar? Apakah kamu sedang terjaga akibat pahit empedu yang kau minum dengan sengaja sambil memutar kembali memori bisu bersama Sang Pengembara? Ah, aku lupa, siapa pengembara sebenarnya. Dia atau kamu? Sudah berapa jauh kamu pergi akhir-akhir ini? Berapa banyak manusia yang kau temui? Semoga kepergianmu kemarin bukan pelarian. Semoga ia takhanya menyegarkan raga tapi juga ingatan. Aku hanya takut, tamasya itu sebenarnya langkah-langkah rapat yang membuat ingatanmu tentangnya semakin melekat. Kau bawa ia ke mana-mana bersama angan-angan yang menikam harapan pelan-pelan. Pesiarmu adalah ritual merayakan firasat tentang kepergiannya yang semakin dekat. Sadarkah kau wahai Perempuan? Ia seperti pil penahan nyeri rasa stroberi yang membuatmu lupa pada luka yang semakin menganga. Aku hanya kawatir kau taksadar sebenarnya ingatanmu takpernah beranjak dari dunia bernama dia.

Kini dia pergi juga. Waktu mengusirnya dari ruang tunggumu. Bagaimana rasanya? Tak sesakit yang kau bayangkan bukan? Ia seperti helaan nafas amat panjang yang kau keluarkan di awal, terputus-putus bersama air mata yang mulai menganak sungai, membuatmu tergugu mengeluarkan sesal bernama penantian panjang. Ia hanya keinginan yang terus saja menekan “undo” atau bahkan diam-diam menyinggahi “recycle bin” sambil menekan “restore all item”. Ia bagaikan air dingin dari kutub utara yang tersembur membuatmu sulit tidur karena tak berani terbangun. Dunia seakan tak memiliki esok tanpanya.

Ah, anggap saja itu cubitan ringan di wajah yang menyegarkan pembuluh darah. Setelah itu ia akan menjadi kegelapan yang tiba-tiba menghadiahkan layar besar, terang-benderang bernama harapan. Benar-benar baru. Kau bisa berlari sejauh-jauhnya, sekencang-kencangnya ke dunia nyata. Masa depan yang telah lama bersabar menahan rindu, sedang menyambut hangat senyummu.

Jangan lupa singgah ke ruang tungguku, sebuah ruangan berpintu biru di persimpangan jalan. Aku akan menemani awal perjalananmu. Di sini sudah aku siapkan permen asam manis yang ada tebak-tebakan di bungkus belakangnya. Ada satu kotak pendingin berisi eskrim rasa blueberry. Kita memang takperlu bawa air putih. Itu bisa kita dapatkan di setiap persinggahan dengan cuma-cuma. Kamu bawa apa? Jangan bawa komik Naruto, aku tidak suka! Assalamualaikum Beijing! jangan juga, aku sudah baca. Cukup bawa berlembar-lembar kertas kosong yang bisa kita isi dengan tawa ceria.

Kamu mau main ke stasiun, tempat kesukaanku? Di sana kita akan bertemu lalu-lalang kereta, berteriak sekencang-kencangnya, mengucapkan selamat tinggal pada ia yang beranjak ke Kota Kenangan. Agak katrok memang, tapi ini lumayan ampuh untuk mengeluarkan kepenatan. Hmm.. kamu sudah terlalu sering main ke pantai kan?! Lautan sudah penuh dengan nama-namanya sejak dulu. Kita takperlu pergi ke situ. Kita main di kamarku, memanggil orang-orang yang lewat dari jendela, saat mereka menoleh kita pura-pura takmelihatnya. Hmm.. apa lagi ya, kita nonton film horor Thailand, teriak suka-suka, tanpa air mata. Ah, ngomong-ngomong, yang aku bahas hedon semua hahaah!

Apapun. Setelah ini lebih banyaklah sibuk dengan diri sendiri. Orang di sekitarmu hanya pemeran figuran, siapapun dia. Kamu adalah tokoh utama dalam kehidupanmu. Jika takkau temukan dia yang baru, izinkan dia menemukanmu. Berjalanlah bersisian dengan masa lalu, agar kau taktergoda untuk berbalik. Tunjukkan bahwa kau kuat menghadapinya, mendahuluinya, dan meninggalkannya. Yakinlah, kamu yang sekarang adalah sebenarnya kamu.

Sahabat lamamu,

Maneka

PS: surat pertamaku dulu

* gambar dari sini

Batas Waktu

danbo

Hai Sukab, pengerat senjaku, apa kabar? Aku mau cerita sesuatu nih…

Udah berbulan-bulan ya aku nggak cerita-cerita ke kamu. Ini kata-kata udah jlimet apa gimana gitu. Mau nyerita apa, aku juga bingung. Ngabisin waktu di kosan, di kamar, di masjid tanpa berhubungan sama orang lain, aku mau nyeritain apa coba? After all, akhirnya ada juga sesuatu yang mungkin jadi simpulan atau hmm jadi sesuatu yang bisa menjangkiti pikiran kita sebagai sebuah keresahan… mungkin ya..

Sukab, sang penggembiran, aku mulai memutuskan kediaman ini sejak Februari tahun ini. Terdiam emang kebiasaan aku siy, cerewet juga lebih sering. Tetapi kali ini jedanya cukup lama menurutku. Setelah selesai kuliah S2, ternyata Tuhan ngasih aku kuliah tambahan dalam perjalanan sunyi ini. Dramatis banget kesannya hahaha! Setelah lebih dari setengah usiaku meninggalkan rumah, merantau jauh untuk menuntut ilmu akhirnya aku dikasih izin nemenin keluarga agak lama. Kadang sebagai melankolis yang kebanyakan mikir aku sempet kepikiran, “Ada apa ini? Kok lama banget dapet kesempatan nemenin keluarga? Apa aku bakal dapet kerja di tempat yang jauh ya? Atau bentar lagi aku bakal ketemu kamu Sukab? Atau umur aku udah bentar lagi?” Bukan maksud minta kematian (kayak cowok di facebook) yang konyol itu sih. Diakui atau enggak, kematian kan satu-satunya takdir menakutkan yang paling pasti kita hadapi.

Setelah libur lebaran, semua orang pergi dari rumah nenek. Lama di Bandung, beberapa keluarga ngiranya aku libur panjang di Tasik. Aku sebut aja begitu, walaupun sebenernya lagi ngegarap kerjaan freelance yang gak ada liburnya. Selama pengalamanku berkutat dengan tulisan, sampai titik ini aku baru bisa bersyukur ada kata waktu di dunia ini. Buat siapapun yang sedang tenggelam dalam dunia berdeadline, kadang waktu jadi momok bahkan musuh mungkin. Aku maklum, aku juga baru kali ini menemukan kebahagiaan dalam batas waktu.

Pada kesibukanku mencari homebase mengajar selama beberapa bulan ini, mungkin sudah 11 kampus yang aku kirimi surat lamaran. Semuanya tanpa keyakinan dan kepercayaan diri. Benarlah, hanya dua kampus yang memberikan sinyal positif, dan itu belum aku tindak lanjut karena takada deadline. Pokoknya ikhtiar dan jangan diam. Seperti beban yang dicangkokkan ke otak, kewajiban mengabdi tiga tahun itu terus-terusan menuntut. Akhirnya kuciptakan batas waktu, “suatu saat Dikti pasti menerbitkan SK homebase tanpa kamu mencari sendiri kok. Suatu hari waktu pencarian homebase  itu akan berakhir. Suatu hari kamu akan sibuk ngajar dan menyelesaikan tugas pengabdian sesuai dengan waktu yang disyaratkan Dikti.”

Dalam hirup-pikuk mengedit buku, awalnya aku takterlalu memikirkan batas waktu yang diajukan pemilik naskah. Aku pikir, semua ada di tanganku. Aku dengan bebas dapat menentukan kapan naskah ini selesai kukerjakan. Tetapi ternyata hari ini batas waktu itu sedang aku gunakan untuk menetapkan kapan aku harus beranjak dari sini dan kembali pada kehidupan lain. Batas waktu yang awalnya menyeramkan itu, aku gunakan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaanku. Batas waktu itu juga yang aku jadikan patokan untuk menjawab teman-teman yng bertanya “kapan ke Bandung lagi?”

Ternyata, pada satu kejadian, batas waktu dapat menjadi harapan. Walaupun kita sedikitpun nggak tahu, kebahagiaan apa yang akan didapat setelah batas waktu itu terlampaui. Bahkan kita pun takpernah dapat memastikan apakah masa-masa setelah batas waktu itu terlampaui, kita akan merasakan jalan cerita yang lebih bermakna dari pengalaman hiruk-pikuk ketika mengejar batas waktu. Kita juga takpernah tahu, apakah setelah batas waktu itu terlangkahi, kita bisa benar-benar menemukan diri kita sendiri seperti ketika dalam keripuhan menyelesaikan semuanya sebelum batas waktu. Beruntungnya Tuhan memberi semangat, keresahan, dan usaha untuk menyelesaikannya di batas waktu.

Di sini aku hidup berdua dengan seorang nenek yang sudah ditinggalkan suaminya hampir tujuh tahun lalu. Dengan 12 putra-putri ia menjalani hidup dan melayani suaminya. Waktu aku masih duduk di bangku SMP, dia amat kuat dan tegar. Penggarapan sawah milik keluarga diatur olehnya dari awal sampai akhir. Tidak ada hari tanpa pergi ke sawah. Lepas SMA dan kuliah aku baru sadar ia sudah menua. Bahkan hari ini, dia takpernah benar memanggil namaku. Rupanya dia sudah mulai pikun. Senin, Selasa, Rabu, dll sudah mulai membingungkan untuknya. Hari-hari ini tugasku adalah memasak dan mengingatkannya untuk makan pagi, siang, dan malam dengan teratur.

Selain makan, shalat, dan berjalan-jalan di sekitar rumah, tak ada lagi yang  ia lakukan. Sesekali anak-anaknya dari perantauan menelponnya. Anak-anak yang setahun sekali datang itu memberinya harapan dengan kiriman uang sebulan sekali. Ya, mungkin inilah batas waktu yang terus-menerus menjadi sepercik energi untuknya. Setiap tanggal 1 akan ada anaknya yang mengirimkan uang. Harapan pada kehadiran tanggal 1 itu selalu ada, walaupun  ia takpernah membeli sesuatu yang istimewa setelahnya. Dengan penyakit hipertensi, makan daging ayam atau sapi tentu tak boleh. Cukup dengan menu-menu yang takbisa disebut istimewa.

Pada masanya, kematian akan jadi batas waktu yang takterhindarkan. Mengamati apa yang dialami nenekku ini, aku tersadar, setiap orang sedang ada dalam kesibukannya. Di satu sudut dunia ada yang sibuk bergulat dengan usia dan berlelah menunggu kematian. Di sisi lain ada yang sengit bertarung memperebutkan keuntungan dari kekuasaan. Di titik lain ada yang asik masyuk mengingat satu demi satu kalamullah mengejar janji mahkota untuk orangtua. Pada akhirnya kematian adalah batas waktu yang paling pasti sudah menunggu setiap orang. Beruntunglah Tuhan telah menjanjikan sesuatu setelah batas waktu itu. Beruntunglah Ia telah menjanjikan bahwa setelah batas waktu, tak akan ada lagi batas waktu. Beruntunglah, Ia telah memberikan acuan tentang bagaimana menempuh surga dan menghindari neraka.

Pertanyaaannya, apakah kita bisa dengan rendah diri menerima apa-apa yang harus dikerjakan untuk meraih surga? Pertanyaanya apakah kita dapat menguatkan hati untuk menghindari neraka?[]

takdir kita selalu datang di saat yang tepat dan selalu tepat pula dengan kondisi keimanan kita saat itu. Semoga kematian kita, saat itulah puncak keimanan kita.-Tya

 

 

Yang selalu rindu,

Maneka

 

*gambar dari sini

** baca sambil dengerin ini:

Awesome

somereason

Dear Sukab,

Beberapa waktu lalu ada yang minta fotoku dari blog sebelah. Udah hampir lupa juga siy, segalanya yang berhubungan dengan blog itu *dasar pelupa hahaha.. Bukan apa-apa, blog ini aja udah banyak sarang laba-labanya, gimana ngurus blog “berat” yang satu itu. Pada beberapa bagian ada yang menarik siy.. Ada beberapa orang yang nulis doa-doanya di bagian sini Buat kamu yang suka berdoa, silakan tulis di sana. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan hehe..

Di bagian foto-foto bareng sama akhwat sms tauhiid, ada yang comen minjem foto ini:

awalnya

Ternyata sama orang itu (namanya Hamdan Hasan) diedit sedemikian rupa…

fotoku1

Akhirnya jadi begini deh… Judulnya Feeling Blue

fotoku

*Yang editan lebih keren daripada yang aslinya. Pasti komenmu begitu :p

Apapun, menurutku ini Awesome, secara mana ada yang mau ngedit fotoku ahahaha.. Terima kasih Hamdan.

Oneday, kamu bakal mau ngedit fotoku kan Sukab?! *Merajuk

** ini posting buat Sukab ya, bukan buat yang ngeditin fotoku. Khawatir salah peeersepsiii ahahah! Siapa juga..

With Love

Maneka

Never Look Back!

image

Dear Puji,

Hmm.. apa aku orang pertama yang menyapamu dengan nama itu? Ah.. i have no idea, kenapa harus pakek nama itu. Menurutku, itu lebih unik ketimbang nama Ndezz yang biasa aku gunakan.

Demi Dia yang menciptakan penawar segala luka, aku benar-benar hanya iseng membahas soal apa, siapa, dan bagaimana kegalauanmu muncul. Alasanku cuma satu, kamu adalah penyibuk yang aku kira takkan sempat memikirkan hal remeh temeh semacam dia. Status tulang rusuk yang mengemban beban tulang punggung juga membuatku berpikir bahwa kamu steril dari telikungan manusia di tikungan bernama perasaan.

:Teman

Soal dia adalah fase yang harus dilewati sebelum benar-benar dipertemukan Tuhan dengan Sang Tuan, aku setuju benar. Ah, aku si steril inipun ternyata sempat diajari Tuhan untuk mencecap ujian yang tujuannya pasti untuk menguatkan. Sukab yang kugadang pernah ada dan menghirup udara yang sama. Tetapi ternyata dia cuma jeda, mungkin juga satu agenda yang ditulis Tuhan dalam skenario-Nya agar aku peka dengan hologram dunia.

Ndezz, jika sampai saat ini goresan itu belum mengelupas, coba sesekali pandang wajahmu di cermin. Hmm.. tak usah cermin kamar, kalau tidak ada. Cermin angkot juga bisa. *semoga muat :)) Lihat wajahmu dengan saksama, lalu tersenyumlah. Bukankah dia masih lebih dari baik-baik saja? Cantik, sehat, dan terhormat dengan beragam kesibukan memberi manfaat untuk orang sekitar. Setelah itu, kamu akan lebih sibuk berbuat untuk menciptakan senyum di paras cantik itu. *Jangan lupa kata Teti, lesung pipit jangan sampe ilaaang! :))

Itu sekadar tips, karena ternyata memandang kita di kaca angkot berarti memandang diri yang taklepas dari orang lain. Kita adalah bagian dari mereka. Kita adalah bagian dari hidup. Kita adalah bagian dari cerita dia yang melewatkan kita. Mari ingat apa kata embun, “Orang yang melewatkan kita adalah orang yang meninggalkan kita selama-lamanya.” Ini bukan hanya untuk menenangkan, tapi juga untuk meyakinkan kita bahwa dia takpernah berpikiran untuk kembali.

with love

linda langitshabrina

*jawaban hasil stalking kotak nasi :p

Kita Sama-sama Tahu Ndezz..

image

“kita sama-sma tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai…” -alina-

Entah. Aku ini benar-benar tahu atau pura-pura tahu tentang apa yang kamu sebut ‘galau’ akhir-akhir ini. Yang hampir pasti, kita sedang pada posisi atau status yang sama (sialnya aku harus ngaku) *sambil meringis. Ya! Untuk orang sesibuk dan seakrab kamu dengan naskah-naskah itu, nampaknya gak ada waktu buat galau. Kecuali karena ada “orang sinting” yang lewat sambil dadah-dadah, atau lagi pengen aja ngerasain sensasi galau dengan mengikuti akun gak jelas. Ah.. aku sarankan, sensai itu nggak jauh dari rujak yang kurang bumbu. Kita jelas tahu rasa yang sebenarnya sudah kita alami (entah kapan) di masa lalu. Cukup, cukup, cukup. Bersenang-senang dengan mimpi dan pencapaian target justru lebih nyaman bukan?! Asal kita sama-sama tahu saja bahwa ada saatnya kita mengapung dan beranjak dari lautan pekerjaan.

Nah, undangan itulah yang mungkin jadi alat kejut buat kita. Sedikiiit saja penyadaran bahwa suatu saat akan kita rasakan degup kencang sebagai tanda “Ya,” pada seorang yang meminang. Suatu ketika akan ada yang bertanya ukuran jari tangan kita (hati-hati ah, jangan jempol semua | dieeeet!). Dengan canggung akan ada seorang ibu yang “menculik” untuk membeli seserahan bersama (ini khayalan tingkat tinggi atau apa?!) Ahahaha! Persiapan desain undangan itu, membagikannya, hiruk-pikuk kostum pernikahan walaupun amat sederhana, dan aqad nikah sebagai janji suci. Ah, Tuhan selalu tepat waktu.

Soal manusia, waktu, dan tempat masih misteri itu, jika Tuhan sudah mengabarimu, jangan simpan dari aku ya! Kamu harus kasih tahu! Paling tidak, aku bisa siapkan baju paling bagus untuk hadir ke perhelatanmu. *inget kaaan! “Iraha bade ngulem, supados abdi tiasa meser acuk sae.” Bwahahaha!

Yah! Delapan Maret, biar bisa hadir di ibukota malam hari, kita wajib nebeng sama Eyang atau Nanan. *Ampun meuni disebutkeun di blog. Semoga to do list selanjutnya nggak terhambat deadline or wawancara kerjaku di tempat baru. Doain ya, aku bisa dapet tempat ngajar baru secepatnya.. Sebagai magister, aku masih hijau, pasti banyaaaaak saingan. Makanya doamu berhargaaaa…

Surat kedua dari kamu, baru aku balas kali ini hihihi..

*itu kutipan di awal cuekin aja, gagayaan wungkul=))

Sahabatmu,

Linda Langitshabrina

foto dari sini

Tuhan Selalu Tepat Waktu

image

Dear Sukab,

Tuhan memang selalu punya waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Bahkan pada ketika yang kita sebut terlambat, tetap ada ketepatan di dalamnya. Pada lelah yang direntas sendirian, ternyata Tuhan selalu dengan teliti menyelesaikan segala sesuatu untuk menghadiahkan bahagia kepada ciptaan-Nya. Bahkan pada sebuah keterlambatan -menurut manusia- ada banyak senyum, kebahagiaan, dan faidah yang bisa dinikmati manusia.

Dialah Tuhan yang takpernah membiarkanmu sendirian. Setelah mendapatkan satu-satu jawab, aku pun jadi tahu, cuma Dia yang takpernah membiarkan aku jatuh. Ia selalu memberiku keberanian untuk mencoba berbagai cara untuk meraih mimpi. Bahkan pada penyesalan, Ia masih menghadiahiku peluang. Ah, aku saja yang tak tahu diri pernah mengambil jalan pintas untuk menemukanmu Sukab. Ternyata mengikuti arah yang ditunjukkan-Nya jauh lebih menyelamatkan.

Seterlambat apapun menurutmu, Tuhan selalu tepat waktu.

yang selalu rindu,

Maneka

Terpencil

image

Untuk para Orangtua,

Sebenarnya aku hanya ingin menyurati satu orang yang bernama Sukab bulan ini. Aku berencana untuk membuat janji dengannya. Tetapi  demi menceritakan kepenatanku tentang masalah yang dihadapi oleh anak kelas 4 SD, aku menulis ini untuk kalian, sekelompok orang yang menyandang gelar “orang tua”.

Tempo hari aku dapat telpon dari seorang ibu yang merah muka karena kelakuan anaknya di facebook. kelakuan anaknya itu disampaikan saat suaminya menghadiri rapat komite sekolah. Di sela rapat salah seorang guru berujar secara personal, “Putri Bapak bertengkar dengan temannya di facebook. Bahasanya seperti orang dewasa. Dia biasa main facebook pakek HP siapa?” Bisa jadi, saat itu karena jengah, sebongkah bahkan segunung kemarahan terbangun di  kepada sang bapak. Dari sekolah, sudah disiapkan sepasang kalimat pertanyaan dan pernyataan yang sudah saling menjawab. Intinya hanya kemarahan yang akan berbuah hukuman. Ditambah dengan ketidakpernahan orang tua ini menggunakan facebook membuat dirinya merasa takpunya andil dalam kesalahan sang anak. “itu salahmu, bukan salahku!”

Sampai di rumah sang anak benar diadili oleh ibu dan ayah -orang tuanya-. Pertengkaran dan posting yang memuat tuduhan pacar-pacaran gaya anak SD menjadi alat bukti. Sang anak mengelak, dia beralasan bahwa facebooknya dibajak oleh temannya saat membuka facebook menggunakan tab-ku. Ya, aku salah satu orang yang terlibat dalam masalah ini. Itulah mengapa orang tua anak itu menelponku, memintaku menonaktifkan facebook anaknya. Selain karena aku yang membuatnya, hanya aku yang dapat membantunya menggunakan facebook. Dalam sela permintaan sang ibu melalui telpon, aku mendengar samar cekcok antara ia, anaknya, dan suaminya. Mereka sebagai orang tua menyalahlan sang anak karena membuat malu di hadapan komite guru dan orang tua, membuat aib di hadapan teman sekomunitas, semua merembet ke mana-mana.

Para orang tua, sederhana sajalah.. jangan terlalu ambil pusing dengan rasa malu yang ditimbulkan akun facebook anak kalian. Apalagi membuat anakmu terpencil di kursi terdakwa sendirian. Jika tuduhan itu menimpa kalian, pasti kalian sibuk mencari dukungan untuk membuat pembelaan. Paling tidak, mencari orang yang mau mendengarkan kejadian sebenarnya.

Seorang psikolog berkata, setiap anak pasti ingin tampil baik di hadapan orang tua mereka. Pada perjalanannya, penampilan baik itu bisa dibangun dengan berbagi cara. Ada yang membangunnya bersama orang tua. Ada yang membagunnya sendirian. Orang tua hanya sebagai komentator bila sang anak membuat kesalahan. Celakanya, tidak sedikit orang tua yang berkomentar menyalahkan. Akhirnya sang anak kehilangan harga diri dan terpencil di hadapan orang tua yang seharusnya menjadi pembelanya.

Anak yang dididik dengan menyalahkan hanya akan tumbuh dengan penghinaan dan kebohongan. Ia akan memproteksi diri dengan menciptakan kebohongan. Ia juga akan terbiasa menghina orang lain karena terbiasa mendapat penghinaan dari orang tuanya. Ini menyedihkan, menurutku.

Anak kecil itu tak tahu apa-apa kecuali yang mereka dapat dari orang tua. Aku menyebut orang tua ya, bukan orang dewasa, karena tua tidak menjamin kedewasaan seseorang. Saat anak kecil berbuat sesuatu yang menurut orang tua salah, berarti orang tua juga ikut salah. “Anak salah, berarti ada yang keliru dalam pendidikan orang tua.” Sederhananya demikian. Janganlah angkat tangan, apalagi cuci tangan jika anak Anda bersalah. Kasihan dia. Orang tua seharusnya jadi pembela pertama jika anak sedang disalahkan oleh orang lain. Tetapi, ini ada syaratnya. Orang tua dan anak harus terbuka. Salah satu langkah awalnya adalah dengan apresasi dalam setiap perkembangan anak. Keterbukaan penting, kebohongan harus dihindari. Orang tua bisa berkata, “Jika kamu jujur kepadaku, suatu saat bila kamu melakukan kesalahan aku bisa tahu dengan cara apa aku memproteksimu.”

Di pengadilan Tindak Pidana Korupsi saja seorang terdakwa punya hak jawab. Lantas mengapa di rumah, anak yang dituduh bertengkar seperti orang dewasa harus berlelah berbohong, bahkan menyalahkan orang lain demi melepaskan diri dari kesalahan karena tidak diberi hak jawab dan hak praduga takbersalah. Kasihan ia. Jangan sampai, pernyataan guru yang mempermalukan lantas membuat kita langsung menyalahkan anak kita sendiri. Apalagi hanya karena dunia facebook yang sudah amat sampah. Jangankan anak SD kelas 4, coba lihat akun seorang magister (nunjuk muka sendiri) masih saja banyak kalimat sampah di dalamnya. Boleh jadi, akun para guru itu lebih sampah dari akun anak kalian.

Anak kalian adalah hasil didikan kalian. Jika mereka disalahkan, yang mereka butuhkan pelukan. Bukan hanya pelukan secara fisik, melainkan dalam kalimat dan sikap. Tidak ada orang paling dekat yang mereka butuhkan kecuali orang tua. Bukan maksudku meminta orang tua untuk menutupi kesalahan anak atau membelanya. Hanya tolong, mereka jangan diasingkan, apalagi dipencilkan sendirian.[]

yang sok tahu,

langitshabrina

Antagonis

image

Dear Sukab,

Manusia bijak, apa kabar? Masih rindukah kau padaku. Semoga pertanyaan itu takmembombardirmu. Semoga ia takmembuatmu kelu. Pernahkah terpikir tentanga alasan inti mengapa kau masih belum menemukanku? Mungkinkah ini berkaitan dengan peranku?!

Sukab yang malang, ketika kau menonton film, sinetron, atau pementasan drama, siapa yang kau citrakan sebagai aku? Apakah Bawang Putih, perempuan baik yang selalu dijahati oleh Bawang Merah? Ataukah Cinderella yang beruntung karena kehilangan sebelah sepatunya? Jika begitu, mungkin agak lama kau akan menemukan aku.

Dalam panggung kehidupanku yang sempit ini, aku adalah manusia antagonis. Jika kau mencariku dari satu sisi, sampai kapanpun kita tak akan pernah bertemu. Akulah yang selalu pulang larut malam hanya untuk menghindari tugas memimpin doa. Setiap mendapat giliran memimpin doa di akhir malam, kadang terpikir “Bagaimana rasanya dipimpin berdoa oleh manusia menyebalkan? Adakah yang waswas tentang keselamatan doanya di perjalanan? Adakah yang berpikir, jika aku yang memimpin, doa mereka takkan sampai pada Tuhan?”

Jika taksuka pada seseorang, aku dapat membisu, mengunci mulutku sehari, seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun. Ahahaha! Ini hebat atau gila?! Ataaauu, ini kegilaan yang hebat?! Aku hanya ingin diam, itu saja. Aku hanya tahu seberapa tajam bilah lidahku. Aku hanya tahu seberapa mematikan racun hatiku. Dengan diam, tak ada yang terluka, tak ada yang terracuni. Hahaha! Sudah siapkah kau bertemu dengan manusia berperangai buruk ini?!

Aku adalah pembunuh berdarah dingin yang tak pernah menggunakan samurai, senapan, atau racun untuk membunuh. Jika hatiku sudah membenci, maka aku akan menghunjamkan belati berkali-kali. Sakitnya terasa lebih lama. Jika bisa, aku selalu ingin membunuhnya berkali-kali. Hidup-mati-hidup-mati-hidup-mati, begitu seterusnya. Mengerikan bukan?!

Jadi, kau ingin bertemu aku sekarang atau nanti?! Nanti saja lah ya? Bila taksiap, tunggu saja sampak sutradara memberiku peran protagonis yang kau gadang-gadang itu. Mungkin juga sampai kau diberi peran pahlawan atau ahli jiwa yang dapat membantu menyembuhkan manusia sinting macam aku. Aku tak akan berlagak jadi anugerah jika sebenarnya diri ini musibah.

Biasa sajalah menghadapi drama-drama itu. Mungkin dengan begitu, aku akan terbantu untuk berubah menjadi figuran yang berlalu lalang di sekitarmu. Ah, jika kau adalah manusia protagonis yang amat baik itu, maafkan aku.[]

yang masih rindu,

Maneka

gambar dari sini