Alasan Zubair Bin Awwam Menceraikan Asma Binti Abu Bakar

yaya

Setelah beberapa waktu lalu menyumbang terkaan tentang alasan Zubair Bin Awwam menceraikan Asma Binti Abu Bakar, hari ini Allah SWT menjodohkanku dengan sebuah ensiklopedi yang memuat biografi singkat Asma Binti Abu Bakar. Ya, memang tak ada yang tahu alasan pasti perceraian mereka.

Asma’ memang ditalak oleh suaminya, Zubair. Mengenai penyebab talaknya ulama berbeda pendapat. Satu pendapat mengatakan bahwa Abdullah (anaknya) berkata kepada Zubair, “Orang sepertiku, ibunya tidak akan diwathi.” Teman-teman yang belum tahu tentang wathi silakan baca di sini. Pendapat lain mengatakan bahwa Asma sudah tua dan sudah melahirkan tiga anak bagi Zubair yaitu Abdullah, Urwah, dan Mundzir. Pendapat lain mengatakan bahwa Zubair pernah memukulnya, lalu Asma menjerit memanggil anaknya, Abdullah. Zubair berkata, “Kalau engkau masuk, maka ibumu aku talak.” Lalu Abdullah berkata, “Mengapa engkau menjadikan ibuku sebagai target sumpahmu?” Abdullah masuk sehingga Zubair melepaskan Asma dan mentalaknya dengan talak ba’in, (Ensiklopedia Nabi Muhammad di antara Para Shahabiyah, Jilid 4).

Nah, itu dia pendapat para ulama tentang penyebab perceraian Asma dan Zubair. Tulisan sebelumnya mungkin kisah pemicu perceraian ya. Mohon maaf bila ada kesalahan pada tulisan sebelumnya. Wallahua’lam.

 

Mengapa Zubair bin Awwam Menceraikan Asma binti Abu Bakar?

brh

“Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”, (Abu Dawud, al-Baihaqi, dan Ibn ‘Ady)

Dewasa ini gosip tentang perceraian artis sudah seperti kacang goreng di televisi. Pemicunya pun dipaparkan begitu rupa oleh infotainment dengan jelasnya. Kehadiran orang ketiga kerap menjadi pemicu terbanyak sebuah perceraian. Kali ini, kita tidak sedang bergosip tentang retaknya pernikahan seorang yang biasa.

Sekali lagi, kita tidak sedang bergosip. Kita hanya sedang mengambil ibrah dari perceraian pasangan mulia ‘Asma binti Abu Bakar dan Az Zubair Bin Awwan. Mereka adalah dua sosok generasi pertama yang menikah dan memperlihatkan bahwa perceraian pun dapat terjadi pada pernikahan para sahabat. Dalam buku Pengikat Surga, disebutkan bahwa kehadiran Atikah binti Zaid adalah penyebab utama perceraian mereka. Para muslimah tentu dapat membayangkan betapa terlukanya hati ‘Asma binti Abu Bakar, seorang istri yang diceraikan karena kehadiran istri lain.

Mengapa ‘Asma binti Abu Bakar diceraikan oleh seorang suami yang kiprahnya dalam medan jihad membuatnya mendapat kabar dijamin masuk surga, Az Zubair bin Awwan? Siapakah sosok Atikah binti Zaid? Mengapa Az Zubair menikahinya? Benarkah ia yang menyebabkan Az Zubair menceraikan ‘Asma? Mengapa seorang yang dijamin masuk surga berani menceraikan putri khalifah pertama, sahabat kepercayaan Rasulullah SAW? Artikel ini mencoba ngengurai kekusutan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

‘Asma binti Abu Bakar adalah shahabiyah yang diberi gelar dzaatun nithaaqain (perempuan pemilik dua selendang) oleh Rasulullah SAW. ‘Asma bertutur “Aku membuat makanan untuk Rasulullah dan ayahku ketika mereka hendak bertolak ke Madinah untuk berhijrah. Aku berkata kepada ayah, ‘aku tidak membawa sesuatu untuk mengikat makanan kecuali selendang pinggangku ini.’ Ayahku berkata, ‘Belahlah selendangmu menjadi dua,’ Aku mengikuti perkataannya, maka aku dijuluki dzaatun nithaaqain” (HR Bukhari).

‘Asma binti Abu bakar memang perempuan pemberani. Tidak salah jika ia ditugasi mengantarkan makanan untuk Rasulullah SAW dalam suasana penuh ancaman kafir Quraisy. Saat ia kecil, ketika ia dan keluarganya masuk Islam, saat keislaman menghadirkan konsekuensi lepasnya nyawa, Asma ditugasi oleh Abu Bakar ra. untuk mengawasi kelangsungan ibadah sahabat-sahabat yang baru masuk Islam. Keceriaannya dan keakrabannya dengan siapapun membuat ayahnya memintanya tetap bermain dan melihat perlakuan kaum kafir terhadap sahabat yang baru masuk Islam. Jika ada sahabat yang terkena diskriminasi, ia harus melaporkannya kepada Abu Bakar.

Az Zubair Bin Awwan adalah sosok sepermainan ‘Asma. Az Zubair dan Thalhah bin Ubaidillah kerap menjadi pengganggu saat ‘Asma bermain bersama Ruqayah binti Muhammad SAW. Walaupun sering mengganggu ternyata dua pemuda tersebut juga menjadi generasi pertama yang memeluk Islam. ‘Asma mengenal Az Zubair dengan segala keberaniannya di medan perang. Tidak ada seorang perempuan pun yang tidak tertarik kepada pendamping setia Rasulullah SAW.

Zubair Bin Awwam menikahi asma setelah sebelumnya pernah menikah dengan Amah binti Sa’id bin Al Ash. Az Zubair meminang ‘Asma setelah ia melaksanakan hijrah ke Habasiyah. Berberapa hari sebelum Az Zubair berangkat hijrah, ‘Asma memperlihatkan ketertarikannya. Lelaki yang dijuluki Hawari ini pun menyambut ketertarikan ‘Asma dengan jawaban pasti. Beberapa hari setelah pulang dari Habasiyah Abu Bakar bertemu Az Zubair di rumah Rasulullah SAW. Di sana ia menawarkan pernikahan dengan putrinya. Az Zubair menjawab pertanyaan Abu Bakar pada hari yang sama dengan mengunjungi rumahnya. Betapa senangnya hati ‘Asma seketika itu. Az Zubair menerima tawaran ayah ‘Asma. Alasan terbesar Az Zubair menikahi ‘Asma adalah karena ketertarikan ‘Asma kepadanya. Saat peristiwa hijrah ke Madinah, ‘Asma sedang hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan. Abdullah bin Zubair pun lahir dan menjadi bayi pertama yang lahir di Madinah. Kelahirannya menempas kedustaan kaum Yahudi akan kutukan bahwa tidak akan ada bayi yang lahir di Madinah setelah peristiwa hijrah.

‘Asma mendampingi Az Zubair selama 28 tahun. Ia memiliki putra dan putri Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra, Ummul Hasan, dan Aisyah dalam pernikahannya bersama Lelaki Surga itu. Dalam pernikahannya, ‘Asma selalu menjaga perasaan suaminya. Ketika ia pulang menempuh jarak 3,4km dari kebun kurma milik suaminya dengan membawa berkilo-kilo kurma, Rasulullah SAW berpapasan dengannya. Ia menawari agar ‘Asma ikut menaiki unta rombongan Rasulullah SAW. Namun, ‘Asma menolak karena ia tahu bahwa suaminya sangat pencemburu. Saat tiba di rumah ia berkata kepada suaminya, “Tadi aku bertemu Rasulullah SAW ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa orang sahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya. Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.” Az Zubair menanggapinya, “Demi Allah, keadaanmu membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku daripada kau naik unta bersama beliau.”

* * *

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya,karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang bergama, (jika tidak) maka celakalah kamu.” (HR. Jamaah kecuali Tirmidzi).

Ia adalah wanita yang sangat cantik. Abdullah bin Abu Bakar, kakak ‘Asma berkata, “Ia adalah wanita yang gerak-geriknya menggerlorakan cinta.” Atikah binti Zaid pertama kali menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar. Dengan demikian, Atikah pernah menjadi kakak ipar ‘Asma.

Pada saat menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar, Atikah pernah membuat suaminya melupakan perniagaan karena terlalu mencintainya. Oleh sebab itu, Abu Bakar meminta Abdullah menceraikan Atikah. Setelah beberapa saat Abdullah dapat melobi ayahnya dan diizinkan untuk rujuk. Pada sebuah perang, Abdullah bin Abu Bakar syahid di medan jihad. Karena kecintaannya yang besar, ia mewariskan sejumlah harta dan meminta Atikah untuk tidak menikah lagi. Namun, pada saat itu Zaid bin Khatab (salah satu saudara Umar bin Khatab) tertarik kepadanya. Ia teringat dengan ucapan Umar bin Khatab, “Wahai Atikah, janganlah kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kepadamu.” Karena perkataan tersebut, setelah masa iddal, Atikah menikah dengan Zaid bin Khatab.

Pada perang Uhud, Zaid bin Khatab syahid. Ia menitipkan istrinya kepada Umar bin Khatab. Oleh sebab itu, Atikah menikah dengan Umar bin Khatab setelah kematian Zaid. Pada saat Umar meminangnya, Atikah meberikan syarat Umar tidak boleh melarangnya shalat ke masjid Nabawi. Umar menyanggupinya walaupun ia kurang setuju karena kecantikan Atikah dapat menimbulkan fitnah yang membahayakan. Suatu hari Abu Musa Al Asy’ari pernah memberi sebuah karpet kepada Atikah. Saat karpet tersebut dibawa ke rumah, Umar marah melihat pemberian tersebut. Ia langsung mendatangi Abu Musa dan bertanya, “Apa alasanmu memberikan barang ini kepada istriku?” Umar mengembalikan karpet tersebut sembari berkata, “kami tidak membutuhkannya.” Kecantikan Atikah membuat suami-suaminya amat menjaganya dan menjadi pencemburu.

Pada 23 Hijriyah Umar bin Khatab syahid karena ditusuk dengan belati oleh Abu Lu’luah, seorang penganut Majusi. Ia melipat kesedihannya dalam sebuah syair:

Hai mata, berikanlah ratapan dan tangisan

Kepada imam yang mulia jangan bosan

Kabar duka, penunggang kuda menyampaikan

Di saat bertugas dan peperangan

Katakan kepada orang-orang susah, matilah!

Karena kematian telah menjemput

Aku tidak bisa tidur, mataku terjaga

oleh isi hati penuh ketakjubab

Hari ini mataku benar-benar terjaga

Aku tangisi Amirul Mukminin dan semuanya

Kepada para pelayan kemanfaatnan dan kelapangan

Keindahan syair itu membuat Az Zubair kagum kepadanya. Kecintaannya terhadap Atikah sangat terlihat dari kekagumannya. Setelah Umar bin Khatab wafat, Atikah dipinang oleh Az Zubair bin Awwam, suami ‘Asma. Az Zubair tetap mengizinkannya untuk shalat ke masjid Nabawi. Namun, ia tetap membuntuti Atikah dari belakang. Tapi tak lama setelah itu, Az Zubair resmi melarang Atikah pergi ke masjid Nabawi dan ia tidak pernah melakukannya lagi. Az Zubair memang pencemburu.

Perhatiannya kepada Atikah seolah menyiratkan pertanyaan di hati ‘Asma, “Az Zubair, kau memberikan padaku segalanya. Menanamkan benih-benih hebat pejuang tauhid. Kau mengokohkanku dengan kisah-kisah pengorbanan tulus dalam setiap desahmu. Kau memberikan segalanya, kecuali cinta yang bergelora. Az Zubair, suamiku, jenis cinta apakah yang kemu miliki untukku?” Kecantikan Atikah membuat Az Zubair harus menjaga istrinya yang satu ini dengan ekstra ketat. Sedangkan ‘Asma yang sejak kecil merupakan perempuan pemberani tentu tidak melahirkan kekhawatiran di hati Az Zubair. Oleh sebab itu, perhatian Az Zubair terhadap ‘Asma tidak sebesar perhatiannya terhadap Atikah. Ketidakseimbangan inilah yang menjadi badai dalam pernikahan ‘Asma dan Az Zubair. Pada suatu siang, sekitar tahun ke 29 Hijriyah, setelah selama 28 tahun Asma mendampinginya, Az Zubair menceraikan ‘Asma. Entah karena alasan spesifik apa. Kecenderungan Az Zubair kepada Atikah yang menjadi alasan terbesar perceraian tersebut.

Pada tahun ke 36 Hijriyah Az Zubair syahid saat Atikah berusia lebih dari 50 tahun. Ia adalah wanita yang diketahui seantero dunia telah meratapi kematian suaminya dengan syair. Pada saat itu tidak pernah disebut-sebut tentang ‘Asma binti Abu Bakar. Yang terkenal pada peristiwa kematian Az Zubair adalah syair yang dibuat oleh Atikah:

Anak Jarmuz mengkhianati pemimpin pasukan

Suatu hari tanpa perlawanan

Hai ‘Amr, jika kau beritahu, dia akan siaga

Tidak akan gemetar jiwa dan tangannya

Berapa banyak kesulitan dilewatinya

Dia tidak akan tercela, wahai orang yang akan disiksa

Demi Allah, kau telah membunuh seorang muslim

Layak engkau dihukum, pembunuh dengan sengaja

* * *

Walaupun pernah bersama adalah ‘Asma, ternyata yang menjadi pendampingnya dikala syahid adalah Atikah. Bahkan pada kematian Az Zubair membuat Atikah terkenal sebagai istri para syuhada. Ia sempat dipinang oleh Ali bin Abi Thalib. Namun, pada saat itu, Atikah mengajukan syarat agar Ali tidak berperang karena takut Ali syahid seperti suami-suaminya yang lain. Karena persyaratan itu, Ali tidak jadi menikahinya. Atikah lalu menikah dengan Hasan bin Ali. Inilah pernikahan terakhirnya. Atikah wafat pada tahun 41 Hijriyah.

Setelah perceraian dengan Az Zubair, sejarah ‘Asma binti Abu Bakar adalah sejarah perjuangannya bersama putra-putranya. Ia tidak pernah menikah lagi. Keputusan ini karena perkataan ayahnya, “Putriku, Sabarlah. jika seorang wanita mempunyai suami yang shaleh dan dia meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan dipersatukan kembali di surga.” Asma meninggal tujuh belas hari setelah Abdullah bin Az Zubair meninggal dunia. Ia wafat pada tahun ke 73 Hijriyah. Adz Dzahabi berkata, “Asma adalah orang terakhir yang meninggal di antara golongan kaum Muhajjirin.”

Allah menakdirkannya berusia 100 tahun. Ia tidak pikun, giginya tidak satupun yang tanggal, pikirannya pun tetap kuat dan prima. Begitu pun keimanannya masih tetap teguh dalam ketakwaan.

KESIMPULAN

Terkadang dinikahi oleh orang yang dicintai selalu menghasilkan tanya, “Cintakah kau kepadaku?” Seperti pertanyaan ‘Asma ra. kepada Az Zubair ra. yang jawabannya belum dapat ditemukan dalam literatur manapun. Kecantikan dapat menjadi salah satu hal yang menjadi alasan mengapa perempuan dinikahi tapi ketinggian iman merupakan pilihan yang paling menyelamatkan. Di samping keshalihan dan kecerdasan, ternyata kecantikan merupakan kriteria penting yang membuat lelaki memilih istri, termasuk pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Kecemburuan adalah duri dan belenggu dalam pernikahan terutama pada pernikahan poligami. Hal terpenting dari kisah ini, mempertahankan pernikahan lebih sulit daripada meraihnya.

Pustaka

Al Misri, Muhammad. 2006. 35 Shirah Shahabiyah jilid 2. Jakarta: Al Itishom

Bent Soe, Hisani. 2010. Pengikat Surga. Cimahi: Ten-Q

Ridha, Akram. 2006. Cerdas dan Dicintai. Jakarta: Maghfirah

Kameela, Ayyesha.2009.Menjadi Hamba Allah Yang Dirindukan Surga. Jakarta: Jendela Dunia

Hidayatullah, Irfan. 2009. Perempuan Bersayap Surga. Bandung: DAR! Mizan

repost dari sini

Ya, Aku sedang memenuhi panggilan-Nya untuk berjilbab

wartawan perempuan
Tahun 1999, waktu itu orang-orang berkata bahwa kiamat akan terjadi pada hari ke 9, bulan ke 9 tahun itu. Pada tahun itulah aku mulai mengenakan jilbab. Pada satu tahun sebelum perayaan milenium kedua itu, aku mulai masuk SMP. Di rumah kami ada 2 orang yang mulai melangkah ke sekolah menengah, aku dan sepupu perempuanku. Waktu itu, ibuku yang tinggal di Denpasar bertanya lewat surat, “Perlu kain berapa meter buat seragam sekolah?” Aku membalas surat itu dengan rincian kain yang diperlukan untuk membuat seragam sekolah rok pendek dan baju pendek.

Berbeda denganku, sepupuku justru memilih untuk membuat seragam SMP versi lengan panjang dan rok panjang. Waktu itu aku agak heran. Bagiku yang dibesarkan di Denpasar -minoritas Islam- seragam siswa SMP adalah baju pendek dan rok pendek. Seragam lengan panjang dan rok panjang hanya dipakai oleh siswa yang sekolah di MTs saja. Namun, keherananku itu aku simpan saja. Takpenting juga aku sampaikan kepada orang lain.

Singkat cerita, aku mulai menjalani sekolah di kelas 1 SMP. Waktu itu aku duduk di kelas 1-1, sekelas dengan sepupuku. Seperti biasa, siswa SMP pasti punya temen satu gank kan. Nah, waktu itu aku 1 gank ber 4.  Dua di antara kami menggunakan seragam panjang. Entah ada angin apa, mungkin itulah yang dinamakan kehalusan Allah membisikkan hidayah, aku ingin mencoba seragam model panjang. Senin sampai Kamis aku memakai seragam pendek. Jumat dan Sabtu aku memakai baju seragam pramuka panjang milik temanku. Untuk mencicipi jilbab pertama kali waktu itu, aku harus bertukar baju dengan temanku. Belum lagi badanku yang lebih kecil dari teman-teman yang lain. Rok milik temanku itu aku lipat berkali-kali agar cukup di badan. Subhanallah, inilah yang disebut sebuah kebiasaan yang takbiasa.

Berpinjam baju seragam aku lakukan beberapa pekan. Belum lagi baju olah raga yang semuanya hanya ada versi pendek. Aku menggunakan baju lengan pendek -tanpa memakai manset- dan menggunakan celana tiga perempat. Untuk menutupi aurat, kaos kaki aku naikkan sampai ke atas. Betapa lucunya kostumku waktu itu bukan? Jujur, waktu itu aku belum paham bahwa berjilbab itu adalah kewajiban -walaupun saat itu aku sudah baligh- Aku belum paham bahwa berjilbab itu harus menutupi seluruh tangan dan kaki. Makanya, aku cuek bebek menggunakan baju lengan pendek ketiga berolah raga.

Setelah nyaman dengan seragam panjang, karena takmungkin meminjam seragam orang lain yang kedodoran, akhirnya aku meminta seragam baru kepada ibu. Akhirnya dalam beberapa bulan setelah meminjam seragam teman lain, aku bisa menggunakan seragam panjang milikku sendiri.

Tantangan takberhenti di sana. Bagian lain yang masih aku ingat adalah pengalamanku mengikuti ekskul basket. Memakai jilbab saat pelajaran olah raga saja sudah merupakan sebuah ketakbiasaan, apalagi ketika mengikuti ekskul dan itu adalah bakset, makin takbiasa. Masih teringat waktu aku menelpon mama -waktu itu masih di wartel- Aku sampai harus bernegosiasi untuk membeli kerudung langsungan/ kerudung bergo untuk tetap berjilbab ketika basket. “Iya, beli aja kerudung langsungan, nanti mama kirim uangnya,” ujar mama dari Denpasar sana. Sebetulnya tujuanku menelpon bukan hanya ingin meminta jilbab baru, tapi ingin meminta kekuatan keyakinan tambahan dari mama. Waktu itu mama belum berjilbab, tapi tetap menyemangatiku untuk konsisten berjilbab ketika mengikuti ekskul bakset. Masih teringat panggilan teman-teman lelaki ketika kami berlatih “Labaik! Labaik!” Nama itulah yang mereka berikan kepadaku. Labaik artinya aku memenuhi panggilan-Mu. Kalau aku bisa kembali ke masa itu, aku akan berkata “Ya, aku  sedang memenuhi panggilan-Nya untuk berjilbab.”

sampai di puncak
Sekarang, takada masalah dengan jilbab. Jadi wartawan perempuan, atau mendaki sampai puncak gunung Burangrang dengan kostum lengkap (jilbab dan rok) juga AKU BISA ^^9.

*mau ikutan lomba, tapi telat. akhirnya posting di sini. tetep intinya narsis foto*

Jangan Menghalangi Muslimah Menikahi Pria Pilihannya

foto

Memilih suami adalah hak besar wanita Muslimah tanpa intervensi siapapun baik itu keluarganya, orang lain maupun negara. Ayah, ibu, saudara, saudari, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan dan semua keluarga, dekat atau jauh tidak berhak mencegah pilihan suami wanita. Demikian pula shahabat, bos, guru, Musyrif, Musyrifah, Murobbi, Murobbiyah, Mursyid, Mursyidah, ustadz, ustadzah, Amir, bahkan Khalifah juga tidak berhak mengintervensi (yang bersifat memaksa/menekan) keputusan wanita dalam memilih suami. Memilih suami adalah hak penuh wanita. Dialah yang berhak menentukan siapa calon suaminya, dan dia pula yang berhak menentukan apakah menerima seorang lelaki atau menolaknya.

Dalil yang menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita adalah Nash-Nash berikut:

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Gadis tidak boleh dinikahi hingga dimintai izin, dan janda tidak bleh dinikahi hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “tandanya diam.” (H.R. Bukhari)

Riwayat Muslim berbunyi:

‘Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)

Riwayat Muslim dari Ibnu Abbas berbunyi;

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya adalah izinnya.” Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis), maka ayahnya harus meminta persetujuan atas dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya.” Atau mungkin beliau bersabda: “Dan diamnya adalah persetujuannya.” (H.R. Muslim)

Wanita tidak lepas dari kondisi; janda atau gadis. Dalam kondisi gadis, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang dia dinikahkan sebelum dimintai izinnya, dalam kondisi janda Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang dia dinikahkan sebelum diajak musyawarah untuk dimintai pertimbangan. Semua perlakuan ini menunjukkan bahwa wanita dalam kondisi apapun tidak boleh dipaksa menikah dengan seseorang yang tidak dia inginkan. Maknanya, hak penuh memilih ada pada tangannya, bukan ditangan walinya atau orang lain.

Nabi pernah merekomendasikan kepada seorang wanita untuk menikahi seorang lelaki yang sangat mencintainya. Sayangnya wanita tersebut tidak mencintai lelaki itu sehingga dia menolaknya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam tidak memaksa wanita itu untuk menikahi lelaki itu meski sang lelaki sangat mencintainya. Bukhari meriwayatkan:

Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Bariroh adalah seorang budak. Namanya Mughits. Sepertinya aku melihat ia selalu menguntit di belakang Bariroh seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Bariroh dan kebencian Bariroh terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “andaisaja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Bariroh bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Bariroh pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” (H.R. Bukhari)

Mughits sangat mencintai Bariroh. Besarnya cinta ini sampai membuat Mughits mengikuti kemanapun Bariroh pergi dengan derai air mata yang membasahi janggutnya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam iba dengan penderitaan Mughits, lalu merekomendasikan Bariroh agar berkenan menikah dengan Mughits. Ternyata Bariroh menolaknya dan Nabipun tidak memaksa. Tidak adanya paksaan dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kepada Bariroh kepada Mughits padahal Mughits sangat mencintai Bariroh, menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita hingga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sendiripun tidak berani intervensi yang bersifat memaksa/menekan.

Bahkan pembangkangan seorang wanita terhadap ayahnya atau ibunya dalam hal pilihan suami, tidak tergolong kedurhakaan. Bukhari meriwayatkan;

Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya -ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. (H.R. Bukhari)

Riwayat Ahmad berbunyi;

Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (H.R. Ahmad)

Seandainya pembangkangan Khonsa’ binti Khidzam kepada ayahnya dalam hal pilihan suami termasuk kedurhakaan, niscaya Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam akan memerintahkan Khonsa’ taat atas keputusan ayahnya dalam hal pilihan suami. Ketika Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam justru memberikan pilihan kepada Khonsa’ untuk membatalkan pernikahan atau melanjutkannya, maka hal ini menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak besar wanita yang bahkan menjadi Takhsish atas keumuman perintah taat kepada Ayah/wali atau perintah berbakti kepada orang tua.

Lebih jauh dari itu, aktivitas menghalang-halangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang telah menjadi pilihannya adalah kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan Fikih Islam dengan istilah ‘Adhl. Adhl hukumnya haram dan pelakunya dihukumi fasik yang gugur hak perwaliannya dan tidak diterima persaksiannya. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl.

Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)

Ayat ini turun berkaitan Adhl yang dilakukan seorang shahabat bernama Ma’qil bin Yasar yang tidak mau menikahkan saudarinya ketika dilamar seorang lelaki. At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya:

Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menikahkan saudarinya dengan seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya tinggal bersama suaminya beberapa waktu, setelah itu dia menceraikannya begitu saja, ketika masa Iddahnya usai, ternyata suaminya cinta kembali kepada waanita itu begitu sebaliknya, wanita itu juga mencintainya, kemudian dia meminangnya kembali bersama orang-orang yang meminang, maka Ma’qil berkata kepadanya; hai Tolol, aku telah memuliakanmu dengannya dan aku telah menikahkannya denganmu, lalu kamu menceraikannya, demi Allah dia tidak akan kembali lagi kepadamu untuk selamanya, inilah akhir kesempatanmu.” Perawi berkata; “Kemudian Allah mengetahui kebutuhan suami kepada istrinya dan kebutuhan isteri kepada suaminya hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya.” QS Al-Baqarah: 231 sampai ayat “Sedang kamu tidak Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar dan patuh kepada Rabbku, lalu dia memanggilnya (mantan suami saudarinya yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.” (At-Tirmidzi)

Semua aktivitas menghalang-halangi pernikahan wanita dengan calon suami pernikahannya secara zalim termasuk ‘Adhl yang hukumnya haram. Tidak boleh menghalang-halangi pernikahan wanita dengan alasan misalnya calon suaminya kurang ganteng, kurang kaya, kurang punya kedudukan sosial, tidak bisa dibanggakan, bukan keturunan ningrat, sudah menikah, keluarganya tidak terkenal, bukan satu ras/kabilah/keluarga/marga/kelompok/partai/harokah/organisasi, belum menyelesaikan studi dan mengamankan masa depan, dll. Adapun jika alasannya Syar’I seperti calon suaminya kafir, fasik (tidak/jarang sholat, mabuk-mabukan, penjudi, pezina, rusak akhlaknya-penipu-), termasuk mahrom, wanita masih di masa iddah, wanita pernah berzina dan blm melakukan istibro’ dll maka menghalangi demikian tidak teramsuk ‘Adhl karena bukan kezaliman.

Atas dasar ini, memilih calon suami adalah hak penuh wanita dan tidak boleh dihalang-halangi menikah dengan lelaki pilihannya. Penanya hendaknya memeriksa kasusnya, apakah halangan dari keluarga bisa dikatakan Syar’I ataukah termasuk ‘Adhl. Jika halangannya Syar’i, maka hendaknya dihilangkan dulu penghalang-penghalang tersebut, sementara jika sudah terkategori Adhl maka lanjutkan terus tanpa ada keberatan. Wali yang melakukan ‘Adhl gugur hak perwaliannya dan berpindah pada wali yang terdekat. Jika ayah gugur perwaliannya, maka hak perwalian untuk menikahkan pindah ke kakek (ayah-nya ayah), buyut (ayahnya ayah ayah), saudara, paman, dst sesuai aturan gradasi wali dalam fikih Islam. Wallahua’lam.

repost dari sini

*tulisan arab haditsnya nggak dimasukin, soalnya ribet rata kiri or kanannya.

Tutorial Pashmina Syar’i [Menurutku]

Pashmina adalah kain unik yang bentuknya segi empat panjang. Buat akhwat jilbaber biasanya agak kesulita menggunakan bahan yang biasa digunakan hijabers ini. Namun, beberapa kali melihat teh Nina (Maha Guru dalam perpashminaan buatku), aku jadi yakin kalau aku juga bisa pakek pashmina syar’i. Kebetulan di lemari ada beberapa pashmina yang udah lama gak dipakek karena i have idea to use it. Alhamdulillah setelah bertemu teh Nina, aku jadi tahu cara menggunakan pashmina yang menurutku syar’i. Ini dia teh Nina Mahaguruku eheheh!)


Sebelum mulai menggunakan pashmina, yang aku sarankan: pilihlah pashmina yang tebal agar tidak menerawang dan kita nggak usah pakek jilbab daleman. *di peragaan ini pakek jilbab dobel karena untuk menutupi aurat* #eaaaaa


1. Bentangkan pashminamu. Hmm.. usahakan gunakan pashmina yang panjang. Kebetulan pashmina yang aku pakai kali ini panjangnya 2 meter.
2. Lipat ujung kiri sampe membentuk segi tiga
3. Pastikan bagian yang dilipat ada di sebelah kiri (ikutin madzhabku ya) soalnya ini kebiasaanku ahhahah!
4. Terus pashminanya dipenitiin seperti biasa. Karena wajahku bulet, aku pakek ciput topi. Setelah pakek peniti/ jarum pentul (sesuai kebiasaan) sisi kanan pasti lebih panjang dari sisi kiri. (eiya, ini sisinya berdasarkan gambar ya).

5. Tarik bagian kiri biar menutup dada
6. Penitiin bagian kiri sampai bahu belakang, pokoknya semakin ke belakang semakin oke hehe..
7. Nah sekarang tinggal mempercantik bagian kanan ^^8

8. Tarik bagian kanan pahsmina ke kiri sampe kainnya keangkat semua (jangan tanggung-tanggung ya) hati-hati kecekek ehehehe!
9 (tampak belakang)
10. (tampak samping depan)
11. Jangan lupa bagian belakang dikasih jarum biar diem (hati-hati kalo ketarik jarumnya bisa lepas)

12. Naaaahhh.. bagian kanan udah pindah ke kanan lagi hehe.. Setelah pakek jarum  tinggal ditarik sampe bisa menutupi bahu kita
13. Pakek bros buat nyambungin antara pashmina kanan dan kiri. Usahakan brosnya yang tajam dan kokoh biar kita nyaman dan gak ngerusak pashmina kesayangan kita
Selesai sudah pashmina syar’i yang Alhamdulillah tampak belakangnya lumayan lebar ^^8


Selamat mencoba.. kalau merasa bermanfaat, silakan share ke temen-temen biar pashmina mereka bisa dipakek dan tetep tampil syar’i dengan pashmina ^^8

~ Doakan aku~

NB: Gambar ini diambil dari kamar Zainab binti Huzaimah @baitulmaqdis

Soal aku yang ndut, ruangan yang acak-acakan dan wajahku yang penuh jerawat gak usah dikomenin yaaah ahahah!

Yang motret @essafatimah

Tutorial ini diajari sama teh Nina

Pashmina Syar’i [menurutku]

Setelah beberapa lama menunggu pertemuan dengan teh Nina, photografer yang suka motret dengan kostum pashmina. Akhirnya pekan lalu aku bertemu beliau juga. Karena tahu teh Nina bakal dateng di acara Sekolah Ibu, aku sengaja bawa pashmina buat belajar. Alhamdulillah akhirnya bisa juga makek pashmina yang syar’i *menurutku. Soalnya aku nyaman menggunakannya ke kampus saat presentasi di depan dosen ^^8

Langkah pemakaiannya aku bikin besok ya.. (kalo sempet). Sekarang aku posting hasilnya dulu 😀

Ini dia Gaya Pashmina Maha Guru

Nah, yang ini gaya Pashminaku ^^8

Okey! Tutorialnya klik di sini

How Does It Feel?

Image

How does it feel? Hatiku tentu berkata demikian soal pengalaman itu. Tentang adanya seseorang yang memeras keberaniannya, menanggalkan keraguannya dan berbisik soal akad suci. Tentang diajak berjuang bersama menjalani kehidupan berdua. Walaupun sudah mengikuti pendidikan tentang pernikahan, sudah berkali-kali menghadiri walimahan, sudah membaca buku soal rumah tangga, tapi pertanyaan itu tetap muncul. How does it feel?

Perasaan itu benar-benar misteri buatku. Mengapa? Ia terasa amat dekaaat. Setelah pada suatu hari seorang teman memintaku menemaninya sebelum pernikahan. Fulanah, Fulanah, Fulanah, mereka kutemani semalam sebelum seorang lelaki mengucapkan akad suci dengan ayah mereka. I just can be someone beside them! Apa yang mereka rasakan tetap tak aku alami bukan? Belum lagi amanah membuat rundown acara pernikahan. How amazing it is? Rasanya pertemuan suci itu semakiin dekat! Allah semakin mempersiapkanku untuk menghadapi hari itu dengan penuh keberanian dan kemantapan.

“Baju ini cocok nggak buat akad?” ujar seorang teman. Subhanallah.. senyumku tersungging lebar. Bahagia sekali melihat mereka bahagia. Baju akad, baju resepsi, baju pertama yang akan digunakan untuk memuliakan suami. Semua diperlihatkan kepadaku. Hanya bisa menilai, membayangkan tapi perasaan itu tetap saja misteri.

Terakhir, saudaraku yang lain bertanya soal cincin yang diberikan oleh suami, apakah itu termasuk mahar atau hanya hadiah. Nampaknya saudaraku ini sedang ditanya oleh calon suaminya tentang mahar yang ia minta. Aku tentu takboleh berkata, “kok nanya ke aku siy! aku kan belum nikah!” Hmm.. How amazing this story. Namun hatiku tetep berujar, “how does it feel?”

yang aku tahu hanya soal menjaga diri, memantaskan diri, mempersiapkan diri sebelum pernikahan. aku sudah jelas pernah merasakannya. yang aku tahu hanya soal kebisuan menjadi perempuan. biarlah Allah yang mengunci sebuah ruang di hati ini sampai tiba saatnya seseorang membukanya. biarlah aku duduk di ruang tunggu ini sampai ada seseorang yang keluar dari sebuah ruangan atau dia membuka pintu dan membawaku ke tempat lain. i certanly know this feeling!

sebiasa apapun perasaan itu, semoga aku merasakannya. sebuah kelegaan yang amat sangat pada akhirnya.

DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang, Darah namanya |
Dalam diriku menggenang telaga darah, Sukma namanya |
Dalam diriku meriak gelombang sukma, Hidup namanya |
Dan karena hidup itu indah, Aku menangis sepuas-puasnya [SDD]

[ Repost dari MP Anty ] Kabar Gembira bagi yang lagi didatengin Sailormoon: Hukum I’tikaf bagi wanita haid

Bismillaah..Ramadhan kariim, 10 hari terakhir yang biasa kita optimalkan dengan i’tikaf untuk taqarrub ilallaah demi berburu karunia Allah berupa malam lailatul Qadr. Untuk Muslimah yang didatangi sailormoon tentu sedikit-banyak akan sedih mengingat banyak amalan yang tidak bisa dilakukannya.

Apakah Muslimah yang haid diperbolehan i’tikaf (berdiam diri di Masjid)?
Berikut ini penjelasan mengenai hukum i’tikaf bagi wanita haid.

Anty copaskan artikel dari sumber (insya Allah) terpercaya yang menyatakan bahwa i’tikaf bagi muslimah yang sedang haid itu boleh loohhh.. hanya saja content ibadahnya yang rada berubah dari bidadari yang ga kena halangan..
cekidot yaaaa…

1. Pertanyaan A:
Bagaimana hukumnya wanita yang sedang haid menghadiri kajian yang dilakukan di masjid. Apakah hal ini dibolehkan? Jazzakumullah atas jawabannya.

Jawabannya:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Namun, menurut pendapat yang shahih wanita yang sedang haidh boleh masuk masjid untuk mengikuti kajian.

Adapun hadits yang bunyinya ” Saya tidak halalkan masjid bagi wanita haidh dan orang junub” maka hadits dhaif jiddan menurut para peneliti.

*sumber: http://media-ilmu.com/?p=187

2. Pertanyaan B
Assalamualaikum
Ustd Abdl Hadrami yang saya cintai karena Allah

saya mau tanya tentang hukum wanita haid memasuki mesjid dan apa saja yang tidak diperbolehkan atasnya?

Jawaban:

Wa’alaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh

Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat, amma ba’du;

Saudaraku–Barokalloh fiik,

Hukum Wanita Haid Masuk dan Berdiam Diri Dalam Masjid

Hanya ada empat larangan atas wanita haid yang telah disepakati para Ulama’ dan tidak ada khilaf diantara mereka dalam keempat larangan tersebut, yaitu:

1. Shalat.
2. Shoum (puasa).
3. Thawaf di Ka’bah.
4. Jima’ di farji (kemaluan).

Hanya empat larangan itu saja yang disepakati, adapun yang lainnya maka terjadi perbedaan pendapat, termasuk tentang hukum wanita haid masuk dan menetap di dalam masjid.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah membahas masalah ini panjang lebar dan memuaskan dalam kitabnya “JAMI’ AHKAAMIN NISAA’ “ Jilid 1 Dari Halaman 191 Sampai Halaman 198.

Ringkasnya,
Beliau (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah) mengatakan bahwa tidak ada satupun dalil yang sahih (sanadnya) dan sharih (secara jelas dan terang) melarang seorang wanita yang sedang haid masuk ke dalam masjid, karena inilah beliau merajihkan pendapat yang membolehkannya.

Dalil yang Membolehkan:

1. Al-Bara’ah Al-‘Ashliyyah, maksudnya seseorang itu pada asalnya adalah terbebas dari larangan selama tidak adanya larangan tersebut.

2. Pada masa Nabi –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam terdapat seorang wanita kulit hitam yang biasa membersihkan masjid, tinggal di dalam masjid. Tidak ada keterangan bahwa Nabi –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam memerintahkan kepadanya untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya. (HR. Bukhari).

3. Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepada ibunda ‘Aisyah -Radhiallahu ‘Anha ketika beliau datang bulan (haid) sewaktu melaksanakan ibadah haji bersama beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Lakukanlah apa yang diperbuat oleh seorang yang berhaji kecuali jangan engkau Thawaf di Ka’bah.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam hanya melarang wanita haid (Ibunda Aisyah –Radhiallahu ‘Anha) thawaf di Ka’bah dan tidak melarangnya untuk masuk ke masjid.

4. Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak najis.” (HR. Bukhari dan Muslim).

5. ‘Atha’ bin Yasar -Rahimahullah berkata : “Aku melihat beberapa orang dari sahabat Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam duduk di dalam masjid dalam keadaan mereka junub apabila mereka telah berwudhu seperti wudhu shalat.” (Diriwayatkan Said bin Manshur dalam Sunan-nya dengan sanad hasan).

Sebagian ulama meng-qias-kan (menganalogkan) wanita haid dengan orang junub.

Juga mereka berdalil dengan keberadaan Ahli Shuffah yang bermalam di masjid dan tentunya pasti ada yang mimpi basah ketika dalam keadaan tidur. Demikian pula bermalamnya orang-orang yang i’tikaf di masjid, tidak menutup kemungkinan di antara mereka ada yang mimpi basah hingga terkena janabah dan di antara wanita yang i’tikaf ada pula yang haid.

6. Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda kepada Ibunda ‘Aisyah –Radhiallahu ‘Anha: “Ambilkan untukku Al-Khumrah (sajadah) dari dalam masjid.” Ibunda ‘Aisyah –Radhiallahu ‘Anha menjawab: “Sesungguhnya aku dalam keadaan haid.” Lalu bersabda Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim).
Dalam hadis ini Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam membolehkan wanita haid untuk masuk ke dalam masjid.

Adapun hadis yang berbunyi: “Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang junub dan tidak pula bagi wanita haid.” Maka hadits ini adalah DHA’IF (lemah) kerana ada seorang perawi yang bernama Jasrah bintu Dajaajah.

Setelah Beliau (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah) membawakan dalil-dalil yang melarang secara panjang lebar, Beliau mengatakan: “Pada akhirnya kami memandang tidak ada dalil yang shahih dan sharih (yang tegas dan jelas) melarang wanita haid masuk ke masjid, dan berdasarkan hal itu boleh bagi wanita haid masuk masjid dan berdiam di dalamnya.” (1/195-196)

Beliau (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah) juga menukil ucapan Asy-Syaukani –Rahimahullah dalam kitabnya “NAILUL AUTHAR (1/230)”: “Dan yang berpendapat tentang bolehnya wanita haid masuk masjid dan bahwasanya dia tidak dilarang kecuali apabila dikhawatirkan apa yang terjadi daripadanya (maksudnya, apabila dikhawatirkan darahnya akan mengotori masjid) adalah Zaid bin Tsabit –Radhiallahu ‘Anhu, dan Al-Khaththabi menyebutkan bahwa ini juga pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ahlu Dhahir. Adapun yang melarang adalah Sufyan, Ashhabur Ra’yi dan yang masyhur dari madzhab Malik.”

Beliau (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy –Hafidhahullah) mengatakan pada bagian akhir pembahasannya dalam masalah ini yang panjang lebar (1/198): “Setelah dilakukan penelitian, menjadi jelas bahwasanya tidak ada dalil sahih yang melarang wanita haid masuk ke dalam masjid. Oleh karena itulah, maka boleh baginya untuk masuk ke dalam masjid. Wabillaahit Taufiiq.”

PENTING!!!
Wajib atas setiap muslim untuk bersatu, menghormati dan menghargai saudaranya sesama muslim, juga berlapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat seperti ini. Masalah ini adalah masalah furu’iyyah (cabang agama) dan bukan masalah ushuliyyah (pokok dan prinsip dasar agama), oleh sebab itu janganlah masalah ini dijadikan sebagai bahan perpecahan diantara kaum muslimin. Hendaklah masing-masing mengamalkan keyakinannya selama hal itu dilakukan atas dasar ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah karena berilmu adalah wajib sebelum berucap dan berbuat. Semoga Bermanfaat.

 

[Akhwat] Tetap I’tikaf Saat Haid


Ramadhan ini aku “terancam” haid di 10 hari terakhir. So that, lagi haid pengen tetep i’tikaf. Daku termasuk yang sepakat bahwa perempuan haid boleh tilawah Quran dan i’tikaf.

Pagi tadi Ustadz Saiful Islam membahasnya di kajian Senin pagi. I’tikaf itu sebenarnya meninggalkan segala urusan dunia di luar sana dengan cara fokus di masjid, bertaqarrub kepada Allah Swt. Kunci i’tikaf itu ya, 1: berdiam di masjid. Otomatis yang membatalkannya adalah yg membuat kita tidak ada di masjid bukan? Yang membatalkan i’tikaf hanya 2 hal:
keluar masjid dan jima’ atau hubungan suami istri.

Soal i’tikaf dan pelarangan perempuan haid dan nifas berdiam di masjid ini dia haditsnya:
Beberapa orang sering melarang perempuan haid dan junub tinggal di masjid atau masuk masjid karena ada hadits berikut:

“Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” (Abu Daud).

Hadits ini ternyata dhaif, Abu Daud sendiri yang menceritakan kedhaifannya dan ia menjelaskan dalam syarahnya tentang siapa perawi yang membuat hadits ini dhaif. Syaikh Al Albani juga menyebutkan hadits ini dhaif.

Ada juga hadits lain yang bercerita soal haid dan masjid yang disampaikan oleh Aisyah Ra.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepadanya, “Ambilkan sajadah untukku di masjid!” Aisyah mengatakan, “Saya sedang haid.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu.” (HR. Muslim).

Naaah, hadits shahim muslim ini mengisyaratkan bahwa orang haid boleh memasuki masjid selama mengotori masjid dengan darah haidnya. Zaman sahabat belum ada pembalut kaaan,, jadi, sangat dikhawatirkan darah haid bisa mengotori masjid. Sekarang, inovasi pembalut udah banyak dan kemungkinan untuk tembus sudah semakin langka. Jadi, kita yang sedang haid boleh i’tikaf di masjid. Kecuali kalau pas hari banyak-banyaknya dan sering tembus, lebih baik tunggu darah haidnya berkurang. Kalau sudah yakin nggak akan tembus, baru i’tikaf. []

*gambar dari sini

Bersama Muslimdaily Wawancarai Muslimah Gaza

Konfrensi Internasional Pembebasan Al Quds dan Palestina resmi dibuka oleh Marzuki Ali pagi itu, 14 Sya’ban 1433H di Bandung. Sebelumnya sesi pertama dimulai, tim Muslimdaily berkesempatan untuk berbincang dengan Shaima Shehab, muslimah Gaza yang menjadi salah satu wakil dari Palestina. Bersama suaminya, Dr. Mahmud Anbar, ia tiba di Bandung setelah menempuh perjalanan 28 jam dari Gaza.

Ukhti Shaima sejak kapan sampai di Bandung?

Saya tiba di Bandung pagi tadi. Dari Gaza kami berangkat ke Mesir menempuh perjalanan selama 15 jam. Dari Mesir kami bertolak ke Cina dan menghabiskan waktu 5 jam perjalanan. Dari Cina barulah kami berangkat ke Jakarta selama 5 jam. Ternyata dari Jakarta pun kami harus menempuh perjalanan 3 jam untuk mencapai Bandung. Kami harus menempuh perjalanan yang panjang ke Mesir terlebih dahulu karena tidak ada bandara di Palestina. Alhamdulillah setelah menempuh perjalanan dari sana kami bisa bertemu dengan saudara-saudara di sini.


Bagaimana semangat ikhwan-akhwat di sana dalam menghafal Al Quran?

Di Palestina setiap tahun selalu lahir hafidz dan hafidzhah baru. Wisuda penghafal Al Quran diadakan setiap tahun. Setiap liburan musim panas selalu diadakan perkemahan khusus untuk menghafal Al Quran. Pemerintah Palestina sangat perhatian pada penjagaan firman-firman Allah Swt ini. Setiap orang dari anak-anak sampai orang dewasa mengikuti perkemahan ini. Negara sangat memperhatikan program penghafalan Al Quran ini. Alhamdulillah baik yang hafal 30 juz, 20 juz, atau 10 juz sangat dihargai negara karena kemuliaan Islam ada pada Al Quran. Setiap penghafal Al Quran sangat dihargai tanpa mengenal usianya.


Bagaimana peran muslimah dalam perjuangan di Gaza?

Alhamdulillah, peran utama yang paling awal adalah tarbiyatul aulaad. Sejak kecil anak-anak diajari untuk mencintai jihad dan mencintai negaranya. Anak-anak di Gaza selalu disemangati untuk rajin belajar dan mendapat peringkat terbaik di sekolah. Anak-anak pun kadang bertanya-tanya mengapa mereka harus mendapatkan peringkat terbaik di sekolah. Para ibu menjelaskan bahwa ilmu adalah salah satu hal yang dapat mendukung jihad dan percepatan kemerdekaan negara kami.

Walaupun perempuan memiliki peran domestik khusus, tapi kami tidak bekerja sendiri-sendiri. Kami berjuang bersama dan turut membantu secara langsung dalam perjuangan memerdekaan negara kami. Sampai saat ini sangat banyak perempuan Palestina yang ditawan oleh yahudi. Salah satu yang syahid adalah Fatimah An Najr. Saya mengetahui perjalanan kesyahidannya. Subhanallah.. Di Gaza ada juga seorang ibu dan 3 anaknya syahid. Kesyahidan itu membahagiakan kami. Mereka berperan untuk membebaskan negara kami. Insyaallah kami dapat membebaskan Al Aqsa dalam waktu dekat.


Apakah dukungan dari Indonesia atas kemerdekaan Palestina sampai ke sana?

Berita tentang dukungan kalian sampai ke negara kami. Kami sangat bahagia mendengarnya. Indonesia dan Malaysia adalah negara yang paling sering kami dengar beritan dan kami terima bantuannya. Longmarch, aksi solidaritas, dan sumbangan-sumbangan dari Indonesia telah sampai ke negara kami. Semangat kalian menumbuhkan rasa cinta kami kepada saudara-saudara yang ada di Indonesia. Cinta kalian sampai ke sana.


Bagaimana pendapat warga Palestina tentang kemenangan M. Murshi di Mesir?

Kami berharap pemerintahan Mesir yang sekarang dapat membantu penyebrangan Rafah agar akses kami ke negara lain dapat lebih mudah. Saat pemerintahan Husni Mubarak penyebrangan menuju negara lain sangat sulit.


Apa saja aktivitas ukhti Shaima di Palestina?

Setelah menyelesaikan studi dalam bidang syariah, tiga tahun ini saya melanjutkan studi Bahasa Inggris. Selain itu saya aktif di Multaqa Ar Rahmah, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat. Beberapa aktivitas Multaqa Ar Rahmah ini adalah melakukan pemberdayaan terhadap perempuan-perempuan yang mengalami masalah perempuan yang belum mendapat pekerjaan. Mereka diberi pelatihan keterampilan. Bantuan-bantuan dari luar negara-negara lain seperti makanan, obat-obatan, dan pakaian-pakaian ditampung dan kami salurkan kepada orang-orang yang memerlukan dan datanya sudah kami miliki. Multaqa Ar Rahmah juga membantu mahasiswa-mahsiswa berprestasi yang berprestasi. Diadakan pula lomba cerdas cermat sesuai dengan pelajaran yang ada di sekolah mereka.


Bagaimana pendapat ukhti Shaima dengan konfrensi Internasional Pembebasan Al Quds dan Palestina ini?


Alhamdulillah ini adalah konfrensi yang sukses. Kami berharap konfrensi semacam ini dilakukan lagi tidak hanya di Indonesia atau negara muslim saja tapi negara-negara lain juga ikut. Setelah ini kami berharap konfrensinya tidak hanya membahas tentang Al Quds. InsyaAllah di konfrensi mendatang Al Quds sudah merdeka dan kita bisa membahas permasalahan yang lain, dengan susunan acara yang lebih menarik dan peserta yang lebih banyak lagi. Saya berharap untuk kesempatan yang akan datang pembicaranya tidak hanya laki-laki saja yang di depan. Perempuan tidak hanya jadi peserta tapi juga jadi pembicara di depan (ujarnya sambil tertawa ringan).

 

Ada pesan untuk remaja dan perempuan Indonesia?

Alhamdulillah para pemudi Indonesia semangat-semangat, terlihat ada di mana-mana. Begitu melihat pemudi Indonesia, justru membuat kami lebih bersemangat. Jika saya harus berpesan, pesan saya, pemudi Indonesia harus memiliki peran di mana-mana tidak hanya di satu bagian tapi di berbagai sisi kehidupan. Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Namun, belajar setelah tua pun bukan masalah, tidak perlu khawatir. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. []

Reporter: Linda Handayani
Translater: Tati Istianah dari LIPIA

*alhamdulillah dipertemukan dengan ukhti Isti dari LIPIA. Allah memudahkanku menerjemahkan perkataan Ukhti Shaima. Semua yang ditanyakan standar, mungkin banyak media yang pernah meliput, tapi aku ingin dengar dengan telingaku sendiri. Hari itu aku merasa diberkahi bisa jadi wartawan

**berita dari sini

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript