Bahagia Takharus Sama

difference1

Demi menulis pada bulan Ramadhan, hari ini aku mau cerita soal remeh temeh yang aku alami di asrama Maqdis, sebuah pondok hafalan Quran di Bandung. Begini ceritanya..

Aku adalah common people yang paling common dalam sisi pendidikan di Indonesia ini. Sekolah dasar 80% aku jalani di Denpasar sebagai minoritas muslim. Buatku, pengalaman itu amat berat. Ini terbukti dengan kebiasaanku berganti-ganti teman sebangku. Belum lagi pelajaran bahasa Bali yang menjadi teror buatku. Masa-masa itu meninggalkan kenangan
yang takmenyenangkan. Setelah pindah ke Tasikmalaya, aku melanjutkan sekolah dasar di sebuah SD depan rumah. Pengalaman awal berada jauh dari orang tua ternyata takmudah. Setiap pekan ada saja waktu menangis. Ini juga jadi kenangan yang takterlalu menyenangkan.

Memasuki jenjang SMP semuanya berubah. Dalam sejarah pendidikanku, dapat dikatakan SMP adalah masa kejayaan. Seorang anak perempuan yang sedang mencoba berbagai hal baru dengan kenakalan baru tapi ia dapat menjadi sosok berprestasi di kelas. Sekarang aku takpernah habis pikir, kenapa seorang Linda bisa mengerjakan tugas fisika dan menjadi
sumber contekan teman sekelasnya. Dengan aktifitas ekskul seabrek, aku bisa mendapat nilai 9 di ulangan matematika. Belum lagi kepercayaan diri yang over dosis. Hari ini aku menemukan, ah, nampaknya dengan menjadi diri sendiri aku bahagia.

Tiba di SMA, pengalaman buruk datang seperti gunung yang ditimpakan ke pundakku ketika aku masih menguap setelah bangun tidur. *Perumpamaan alay* Jadi si 1% di sebuah SMA yang katanya lumayan favorit memang tak menyenangkan. Hari-hari diisi dengan berbagai PR yang mayoritas jawabannya selalu salah ketika dikoreksi di sekolah. Masa ini bolehlah aku sebut sebagai zaman keterpurukan. Nilai mi, re, do, alias 3, 2, 1 adalah hal biasa buatku. Mendapat nilai 6 pada ulangan harian pelajaran Matematika dan IPA adalah keajaiban. Untunglah pada waktu yang sama aku menemukan sebuah pengalaman baru di organisasi Rohis sekolah. Aku bisa menerima diri yang jauh dari kegemilangan di SMP dulu. Aku bisa belajar menghargai orang lain tidak hanya dari kecerdasar akademiknya. Aku sadar bahwa ada bagian lain yang membuat orang berharga, paling tidak bagi dirinya sendiri. Waktu itu, I accept my pretty weakness. Keadaan lemah itu membuat aku tahu diri dan melakukan usaha lebih dari yang lain untuk melanjutkan kuliah. Penerimaan itu yang nampaknya membuat aku bahagia.

Sampai di Sastra Indonesia Unpad aku menemukan diriku yang autentik. Aku taklagi bertemu dengan orang-orang eksak yang sempat seperti hantu buatku. Di Fakultas Sastra, setiap orang dari jurusan apapun dihargai dengan cara yang sama. Walaupun jurusan favorit adalah Sastra Inggris dan Jepang, mereka amat biasa saja. Semua sadar bahwa mempelajari sastra bukan hal yang main-main, termasuk sastra Indonesia. Sastra Prancis Unpad yang katanya paling sedikit peminat ternyata adalah jurusan paling baik kualitas lulusannya di antara prodi sastra Prancis di Indonesia. Selain egaliter, hidup di sastra juga amat bebas. Takada cibiran, kecurigaan, atau pertanyaan untuk perempuan yang mulai bercadar. Begitupun bagi perempuan yang merokok, kami biasa saja menerimanya. Setiap orang memilih sesuatu karena sudah mengetahui konsekuensi dan tanggung jawab yang harus dipikul. Kebebasan itu yang membuatku belajar menghargai perbedaan. Kemampuan menahan diri dari gaya dakwah yang “memaksa” adalah satu hal yang membuat aku bahagia waktu itu.

Melanjutkan kuliah pascasarjana dengan beasiswa merupakan sesuatu yang membahagiakan menurutku. Namun, setelah masuk kuliah dan bertemu dengan banyak mahasiswa yang mayoritas adalah dosen penerima BPPS, ternyata beasiswa adalah sesuatu yang common di Unpad. Dua hal baru yang aku temukan ketika menjalankan S2 adalah kehidupan ibu-ibu yang kuliah dan mahasiswa yang bekerja. Di kampus, aku belajar bersama seorang dosen, psikolog, perempuan Jawa lengkap dengan kehidupannya. Menjadi dosen, ibu, dan mahasiswa pada waktu yang sama ternyata bukan hal mudah. Di asrama, sebagai common people aku hidup bersama teman-teman yang kuliah S1 sambil bekerja, mereka membiayai kuliah dan biaya hidup sehari-hari dari pekerjaan sebagai guru Al Quran. Kehidupan mereka adalah sesuatu yang takpernah sedikitpun terpikir di benakku waktu kuliah S1. Dulu aku sibuk dengan tugas kuliah dan organisasi. Uang tambahan didapan dari beasiswa. Takpernah terpikir bisa bekerja. Dengan hiruk-pikuk pekerjaan, tugas hafalan Quran, dan tugas kuliah, mereka tetap bahagia. Dari situ aku menemukan, ah, takperlu sama untuk bahagia.

Lalu aku dipertemukan dengan Tita, seorang teman yang sudah hafal Al Quran sebelum usianya genap 17 tahun. Setelah SMP ia menghafal Al Quran di Al Hikmah. Dalam waktu kurang dari 1 tahun ia bisa menamatkan setoran hafalan 30 juz. Untuk masuk kuliah, ia mengikuti program paket C. “Tita juga pengen ngalamin kuliah kayak orang lain,” katanya ketika bercerita soal rencananya ikut seleksi beasiswa kuliah untuk penghafal Quran. Alhamdulillah, dengan berbagai rintangan yang dilalui, akhirnya adikku itu lulus dan menjalani kuliah. Qadarullah, di semester 3 seorang hafidz datang melamarnya. Calon suaminya bersedia mengganti beasiswa yang sudah diterimanya selama ini. Adikku akhirnya menikah, berhenti kuliah, dan mendampingi suaminya sambil mengajar Al Quran. Kisahnya membuat aku sadar, bahwa kebahagiaan itu tidak common, dia unik dan siapapun bisa mendapatkannya. Takperlu sekolah SMA untuk masuk kuliah, dan takperlu lulus kuliah S1 untuk menikah, takperlu menjadi sarjana untuk sukses dan bahagia.

Hari ini aku kembali hidup dengan anak-anak yang melepas pendidikan formalnya untuk menghafal Quran. Di sini ada seorang santri yang sejak kecil menjalani home schooling sampai pada tingkat yang setara dengan SMP. Aku yakin wawasannya berpuluh kali lipat lebih banyak dari wawasanku yang belajar di sekolah formal dulu. Mereka melewatkan pendidikan SMA, menghafal Al Quran, dan akan mengikuti ujian paket C untuk masuk universitas. Mereka memang takmasalah melanjutkan kuliah di kampus swasta. Lagi-lagi aku menemukan ketakbiasaan. Takperlu masuk SMA untuk bisa kuliah dan takperlu kuliah di kampus negeri untuk bisa bahagia.

Dalam keterbiasaan menghadapi yang takbiasa, setelah bekerja di lingkungan kampus, aku menemukan kebiasaan yang takbiasa lainnya. Di pondok, aku biasa dengan orang-orang yang bangun malam untuk mengerjakan shalat. Di kampus, aku menemukan hampir semua mahasiswa masih terjaga sampai pukul 3 dini hari untuk mengerjakan tugas. Mereka didisiplinkan untuk bersaing mengejar nilai terbaik di kampus. Kalau dirunut dari kisahku di atas, menurutku, mereka sedang mengejar kebahagiaan yang paling common dengan usaha yang lebih dari biasanya. Mereka benar-benar dihargai dari nilai akademik. Entahlah, mereka tahu atau tidak soal orang-orang yang taklagi mementingkan pendidikan formal.  Aku jadi semakin yakit, takperlu sama untuk bahagia dan takharus berbeda untuk bahagia.

Dari kisah panjang ini, aku belajar menghargai orang dengan latar belakang pendidikan apapun. Aku tidak bersikap berlebihan pada orang-orang yang menyelesaikan pendidikan formalnya sampai jenjang yang paling tinggi. Aku jadi suka mencari kisah di balik perjuangan para doktor dalam menjalani studi mereka. Yang membuatku menghormati mereka bukan gelar, tapi keistimewaan kemampuan mereka untuk menerjang semua tantangan hidup ketika menyelesaikan studinya. Sikap mereka yang rendah hati, tidak pernah mempersulit sebuah pekerjaan, bahkan mempermudah dan penuh penghargaan membuatku amat menghormati mereka. Kerendahan hati itu taksedikitpun menurunkan penghormatan kami kepada mereka, dan dapat aku pastikan, mereka amat bahagia.

Ya dalam tulisan bertele-tele ini lagi-lagi aku sampaikan: takperlu sama dengan orang lain untuk bahagia, takperlu berbeda untuk bahagia, dan takperlu mendapatkan kepabahagiaan yang sama dengan orang lain untuk bahagia. Bahagia itu milikmu.

gambar dari sini

Kita Telah Berubah

ci

Ramadhan ketiga ini ditutup dengan gambaran umum soal apa yang menimpa umat Islam, khususnya kalangan anak muda. Mulanya dari pembicaraan soal gerakan kaum liberal yang sedang mengkampanyekan penghapusan arabisasi Islam di Indonesia. Bagian yang paling digugat adalah busana muslimah atau hijab. Pakaian serba hitam dan cadar menjadi  penanda yang digugat. “Lima atau sepuluh tahun ke depan Indonesia akan menjadi Arab.” Belum lagi istilah-istilah Arab banyak digunakan di Indonesia. Bahkan kata ikhwan dan akhwat yang sering muncul di WC masjid pun dibahas oleh mahasiswa/ dosen sastra Arab yang ikut-ikutan menyudutkan Islam. Ikhwanul Muslimin disebut-sebut sebagai salah satu yang memengaruhi kehadiran dua istilah ini. Seorang yang takpaham berujar, “Berarti kalau bukan saudara sedarah gak boleh masuk WC masjid dong!” Di situ kesalahan mereka. Mereka belum paham benar makna persaudaraan menurut Islam yang diimplementasikan oleh Ikhwanul Musliman. “Sesama muslim itu bersaudara,” sederhananya demikian. Namun, liberalis itu alfa soal prinsip ini. Untuk melawan ini, muncullah istilah Islam nusantara, Islam yang asli Indonesia. Salah satu produknya yang paling dekat kita saksikan adalah pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa.

Pagi pertama Ramadhan seorang ustadz membahas ini dalam sebuah kuliah subuh. Ia menyebutkan bahwa sejak kehadirannya, Islam sudah menjadi nafas kehidupan di Indonesia. Buktinya berbagai hal yang berhubungan dengan pengaturan masyarakat, mayoritas menggunakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata hukum, hakim, adil, musyawarah, wakil, mahkamah, dll berbahasa Arab. Apabila pegiat Islam Nusantara ini menggugat istilah Arab semacam ikhwan – akhwat, ubahlah dulu butir Pancasila. Kata keadilan, hikmat, permusyawaratan, perwakilan, dll dalam Pancasila ubah dulu ke bahasa Indonesia asli. Alih- alih mengubah yang Arab jadi Nusantara, justru ujungnya malah westernisasi. Akhirnya ustadz mengutarakan pernyataan paling aku suka, “Orang yang melakukan Arabisasi Islam dan Islam Nusantara, keduanya sama: fundamentalis. Islam ya Islam titik”

Ide Islam nusantara ini pernah terjadi pada Islam di Turki sejak kemunculan Mustafa Kemal Attaturk. Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merobohkan masjid itu. Cerita yang lain mengatakan, ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya. Sejarah mungkin berulang, liberalis Indonesia mungkin rada ketinggalan zaman. Mereka mau melakukan hal yang sama di Indonesia. Ya, semoga mereka juga belajar soal akhir hayat Kemal Attaturk yang mengenaskan itu. Kehadiran Said Nursi menggubah kisah Islam di Turki menjadi lebih baik. Lalu generasi kemudian, Erdogan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya soal posisinya.

“Speaking at Kanal D TV”s Arena program, PM Erdogan commented on the term “moderate Islam”, often used in the West to describe AKP and said, “˜These descriptions are very ugly, it is offensive and an insult to our religion. There is no moderate or immoderate Islam. Islam is Islam and that’s it,” (Source: Milliyet, Turkey, August 21, 2007).

Lalu, di Indonesia, siapakah pembaharu itu? Akhirnya pembicaraan kami berpindah pada kisah pelengseran Sukarno tahun 66. Seperti Said Nursi yang menyebar tulisannya dari penjara, Taufiq Ismail pun menyebar tulisannya kepada sesama mahasiswa untuk berbagi semangat. Kami pun membahas soal posisi mahasiswa di Indonesia. Saat ini mahasiswa sedang “dipindahkan” oleh pemodal media massa dari jalanan ke kursi-kursi penonton di acara-acara televisi. Kegiatan BEM pun saat ini lebih banyak mengundang grup band dan komedian. Kegiatan yang berhubungan dengan penelitian amat langka. Belum lagi hantaman budaya virtual saat ini. Mahasiswa sekarang lebih banyak ngegalau di media sosial ketimbang berkarya. Yang produktif nulis buku, kebanyakan ngegalau di puisi, cerpen, atau novel. Yang berprestasi di bidang akademik dan ilmiah juga ada, tapi jumlahnya sangat sedikit.

Setiap pulang kerja di angkot, setiap seangkot sama anak SMP, SMA, atau mahasiswa laki-laki, pasti yang dibahas adalah game. Bahkan ada yang rela begadang demi naik level sebuah game. It’s oke lah kalo game itu menghasilkan penelitian (baca: tesis). Kalau cuma buang waktu, mau jadi apa hidupmu? Nah, kalau perempuan sekarang lagi dihantam sama drama Korea dan boyband KPOP. *Yang nulis termasuk tersangka. Sometime aku jadi mikir, kalau game adalah part of life-nya cowok-cowok masa kini, apa jadinya generasi mendatang ayahnya tukang ngegame? Begitupun tentang perempuan yang kecanduan drama Korea, “Kapan sih mereka sadar dan bangun?” Aku bahkan curiga ada sekelompok orang yang dibayar oleh pemerintah Korea untuk mengunggah video drama Korea satu detik setelah drama itu selesai ditayangkan di TV. Penelitian ke arah situ kayaknya bakal lama dan multidisipliner banget.

Sebagai anak Kajian Budaya, Ya! Aku mengiyakan bahwa sudah sangat lama anak muda Indonesia digempur dengan imperialisme cultural. Ini lebih menyeramkan dari hantaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina menurutku. Muslim Palestina digempur secara fisik, ruhiyahnya menguat dan semangat perlawanannya hidup. Di Indonesia, gaya hidup dan alam pikiran yang sedang digempur. Akhirnya lahirlah generasi memble. Kapan semua ini akan berakhir? Bergantung kesadaran orang tua masa kini dalam mendidik anaknya di rumah. Itu hal minimal yang harus dilakukan. Namun, anak muda zaman sekarang gak mungkin dihadapi dengan konfrontasi (baca: larangan). Mereka harus benar-benar dipahamkan dan diarahkan.

Semua celoteh di atas bisa disingkat dengan kalimat Piliang:

mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171).

Satu solusi tawaran Piliang yang aku sepakati:

Di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kasih sayang, kedamaian, keadilan, kearifan, dan keshalihan. Kedua, kekuatan militer yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kesatuan, keamanan, stabilitas dan kekuasaan. Ketiga, kekuatan pasar yang dibangun berdasarkan prinsip keuntungan.
………………………………………………………………………………………………………………

Bagi Indonesia, milenium ketiga harus dijadikan sebagai milenium renaisans spiritual atau milenium kebangkitan agama. Agama harus dijadikan way of life, sehinggi tidak sekadar jadi benteng terakhir tapi justru menjadi energi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada kenyataanya konsep-konsep kejujuran, kerja keras, keterbukaan, kesederhanaan yang diperlukan dalam kancah globalisasi ekonomi dan informasi saat dewasa ini adalah konsep-konsep yang berasal dari agama.

Oleh sebab itu, menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi dari berbagai kegiatan ekonomi,sosial, politik tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menyambut milenium ketiga. Tantangan masa depan adalah menciptakan sebuah dunia hiper-modern yang bernuansa spiritual, sebuah supermaju yang berkearifan.

(Dunia Yang Dilipat, Piliang, 2011: 454).

*jurnal paling random

Jangan Biarkan Dirimu Sendirian

20150405_212521

Teman:

Hari ini ketemu lagi Ramadhan. Kalo dipikir-pikir, tempat paling kesepian dalam kehidupanku ya waitingroom ini. Dia jadi semacam kotak-kotak kenangan yang aku simpan di sudut gelap, di mana entah. Sambil melangkah aku meninggalkannya dalam keterpencilan, sama tepat seperti ketika aku menulis satu demi satu tulisan yang lebih banyak pahit ketimbang manis, lebih banyak galau ketimbang serius, lebih banyak ragu ketimbang yakin. Aku berjalan menuju hingar bingar, dan dia ditinggalkan dalam kesepian. Maafkan aku ruang tungguku.

Ramadhan tahun ini membawaku pada kontemplasi tentang Ramadhan-Ramadhanku satu, dua, tiga, empat, bahkan lima tahun lalu. Betapa banyak pelajaran keimanan telah diujikan-Nya tanpa aku sadari. Satu demi satu manusia baru datang dan pergi silih berganti, semuanya dalam rangka menguji keimanan. Siapa atau apa yang paling kamu butuhkan? Allah SWT atau selain Allah SWT? Bahkan ketika jawabannya secara sadar sudah ada di tataran akal, keimanan gak pernah bisa bohong. Dia juga tahu banget apa yang ada dalam lubuk hati terdalam manusia. Dia tahu prioritas kebutuhan mahluk-Nya. Dia menentukan takdir terbaik bagi ciptaan-ciptaan-Nya. Dialah Robb yang pasti mengurus ciptaan-ciptaan-Nya. Yang sering luput dari mahluk adalah kesadaran untuk beribadah, menjadikan-Nya satu-satunya Ilah. Mahluk terlalu banyak keinginan atau harapan yang digantungkan ke mahluk atau kejadian. Akhirnya salah prioritas dan tanpa sadar, dirinya sedang “membiarkan” dirinya sendirian. Dalam keadaan “membiarkan” diri sendirian dengan jauh dari ketaatan pun, Allah SWT takpernah lepas mengurus mahluk-Nya.

Dalam keadaan sendirian, jangan pernah biarkan dirimu benar-benar terpencil sendiri. Jangan pernah biarkan dirimu luput dari pengawasan dirimu sendiri. Jangan pernah kamu telantarkan dirimu dan membuat dirimu tanpa sadar sedang diurus oleh-Nya. Jangan sampai dirimu hanya menjadi seonggok jasad tanpa kekuatan ruh di dalamnya. Allah SWT sudah menyediakan teman, satu-satunya teman yang akan menemanimu saat kamu benar-benar sendirian nanti: Al Quran. Dia adalah teman yang takpernah berhenti menawarkan diri dan kamu acap kali mengabaikannya. Ramadhan ini, yuk sadar sesadar sadarnya bahwa ada teman sejati yang bisa membuat jasad yang seonggok ini lebih berarti. Hidup pasti berakhir dan akhirat itu abadi. Yang pasti menemani dan mendatangi sahabatnya nanti adalah Al Quran. Dia adalah salah satu kunci kita sebagai mahluk memahami Allah SWT sebagai Robb dan Ilah. Semoga setelah paham, kita bisa makin mendekat dan berlari kepada-Nya.

*ceritanya ngomong ke diri sendiri

Akhir Juni

image

Dear Sukab,

Ini hari sudah masuk senja di Bulan Juni, tapi aku jelas-jelas takmampu menepati janji, menyuratimu setiap hari. Entah ada apa dengan Bulan Juni, namanya takberenergi untuk membuatku hiruk-pikuk bercerita. Dia mengalir begitu saja. Ah, bukankah sejak dulu harimu sudah membosankan seperti itu?!

Sukab, Juni takterlalu buruk ternyata. Setidaknya ada tiga hal yang amat aku syukuri di bulan ini. Bisa merasakan peliknya jadi kakak, bukankah itu lumayan menyenangkan? Dalam keterbatasan, jasad yang cuma seonggok ini bisa diberdayakan untuk sedikit melancarkan kebahagiaan orang sekitar.

Di awal bulan, aku menemani adik beliaku melahirkan. Masih saja aku menyebutnya belia, padahal dia sudah bersuami dan sedang menyusun TA sarjana. Mungkin karena aku tahu masa kecilnya. Perjalanan kehamilannya aku genap tahu. Dapat kesempatan mengantarnya periksa, mengantarkan barang-barang keperluan bayinya, dan menghadiri persalinannya, bukankah itu pelajaran berharga?! Bayi cantik bernama Celmira pun lahir. Dalam hidup yang membosankan, menjadi bagian dari kehadirannya amat menyenangkan.

Beberapa hari kemudian aku mendapat telpon dari ayah. Adik sepupuku yang lain sedang menuju Jakarta. Ia mengikuti workshop pekerjaan pertamanya. Adikku yang satu ini takjauh beda, ia masih sedang menjalani tingkat akhir perkuliahannya. Aku sempat iri melihatnya bisa bekerja sejak dini. Mungkin saat seusianya, aku masih sedang sibuk memikirkan skripsi dan organisasi. Dari Jakarta, adikku mendapat orientasi karyawan baru di Bandung. Alhamdulillah kami sempat bertemu, menjenguk Celmira, dan menghabiskan beberapa waktu. Menjadi bagian dari kisah kesuksesan orang-orang yang kita sayangi menyenangkan bukan?!

Kisah terakhir masih kujalani sampai hari ini. Aku membantu pendaftaran adikku yang masuk ke perguruan tinggi. Jika sedang bekerja fulltime di kantor, mungkin aku tidak akan bisa membantu menangani bagian ini. Allah sebaik-baik penentu cerita hidup memang. Seperti yang biasa terjadi, mendaftar ke universitas tidak pernah sederhana. Kau juga genap pernah merasakannya Sukab. Antrean di mana-mana, gerombolan di mana-mana, dan aku bersyukur dapat dengan mudah menjalaninya.

Mengisi formulir pendaftaran tanpa siempunya, menulis kembali nama ayah dan ibu, pendidikan terakhir mereka, pekerjaan dan penghasilan mereka. Serasa kembali ke masa lalu. Bahkan program studi yang akan ia jalani, aku yang memilihkan. Hmm, menimbang-nimbang masa depan dan membolak balik pertanyaan apakah ia akan bahagia menjalaninya adalah keharusan. Belum lagi saat pengembalian formulir yang seharusnya takboleh diwakilkan. Menggantikan posisi perempuan mungkin bisa dikelabukan, ini aku sedang mendaftrkan adiiku yang laki-laki. Untunglah petugas pendaftaran amat baik menghadapiku. Semuanya berjalan lancar. Kini tinggal membantu kelancaran bimbingan tes, tryout, dan tes tulis bulan depan. Besok adikku akan tiba di Bandung. Semoga ia dapat teman terbaik selama di sini.

Nah, demikian tiga kebahagiaanku bulan Juni. Buatmu dan buat yang lain, mungkin ini sesuatu yang biasa. Bulan depan, tugasku adalah menemani Ramadhan adikku (yang lain) selama tiga minggu. Ini Ramadhan pertamanya di Bandung. Aku menginap di kontrakan (yang ia takpernah rela disebut kosan)nya. Dengan kesenggangan hari-hariku, semoga target Ramadhanku tercapa dengan mulus. Semoga doa-doaku terkabul. Semoga ayah dan ibu kita sehat, bahagia dunia akhirat. Semoga cita-cita sederhana kita tercapai di penguhujungnya.

Sukab, jangan terlalu mencemaskan aku 🙂

yang selalu rindu,

Maneka

*foto by siriusbintang

Kamu Lebih Penting

the-empty-chair by dena-cardwell

Bulan ini ada dua teman yang menghubungiku. Katanya mereka punya kado buatku. Keduanya menghubungi via WA. Soal media chatting ini, aku jadi ingat celotehku kepada beberapa teman yang kutemui akhir-akhir ini. “kamu sekarang di mana siy?” Aku jawab, temui aku di WA.” Sekali waktu ada juga yang bertanya di YM, “Kamu ke mana aja?” “Ini aku ada,” jawabku. Semenjak chat via WA itu, kami belum sempat bertemu atau sengaja janjian bertemu. Kalaupun bertemu, itu terjadi di sebuah acara yang takdirencanakan. Maklum, kedua temanku ini sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Oiya, dua kado itu sudah dinamai oleh pemberinya. Satu teman menyebutnya kado perpisahan karena kepergianku dari asrama Maqdis. Si empunya adalah teman yang sudah dua kali sekamar denganku di asrama. Beberapa pengalaman berteman sudah kami alami. Dari sangat dekat, merenggang, dan kembali mendekat. Setelah beberapa tahun bersaudara dengannya, aku tahu bahwa takada yang abadi di dunia ini. Semua berubah dan aku adalah manusia yang mudah sekali berubah karena keadaan. Selain membuatku jadi lebih baik, berteman dengan orang baik pun ternyata perlu will untuk berubah lebih baik.

Satu lagi adalah kado ulang tahunku bulan lalu. Tahu kenapa temanku yang satu ini memberiku kado? Karena dia punya setumpuk kado yang sudah ditentukan siapa empunyanya. Adak ado pernikahan dan kado ulang tahun. Aku juga heran dengan kebiasaanya menyiapkan kado. Waktu melihat tumpukan kado yang dia siapkan, aku sempat berujar “Kalau aku ulang tahun, aku juga mau kado ya!” Menyedihkan bukan? Diberi kado karena sudah meminta sebelumnya.  Berkali-kali aku tanya tentang waktu bertemu dia hanya menjawab dengan tawa.

Ya. Aku masih ada di sini, di sekitar kalian. Kita masih ada di bawah langit yang sama. Bahkan ketika geotag dijalankan, bisa jadi kita masih berada di wilayah yang sama. Bukan dinding, udara, dan bongkahan besi yang membuat keterpisahan ini. Mungkin ini hanya tentang kita yang belum mengizinkan diri untuk saling bertemu. Terlepas dari jasad yang masih belum mendapat izin untuk saling bertemu, aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mengingatku, menyiapkan kado, dan mengabarkannya kepadaku. Terima kasih telah menghubungiku, bertanya tentang kabarku, dan mungkin bertanya kapan aku bisa datang ke tempatmu untuk mengambil kado itu. Sejujurnya, yang lebih ingin kutemui adalah kamu.

foto:  The Empty Chair by Dena Cardwell

Pertemuan

image

Kali ini hariku dimulai dengan berbagai hiruk-pikuk pagi hari. Dengan asap rokok, dan antrean angkot gratis kampus ia berawal. Ah, ada yang salah dengan format revisi tesisku. Haruskah aku rombak lagi? Aku berniat demikian agaknya. Aku harus siap menerima protesan dari dosen-dosen lain tentang kesalahan format ini. Huffh! Hadapi sajalah!

Pagi ini aku juga melihat mahasiswa yang sudah duduk manis, mengawali harinya dengan wifi kampus. Betapa terjajahnya ia oleh dunia maya. Mungkinkah semalam ia juga tidak tidur karena mengobrol dengan teman virtualnya? Masih teringan bertahun lalu aku dan beberapa kawan amat betah duduk di PSBJ lengkap dengan terminal listrik pribada karena khawatir takdapat jatah listrik ketika laptop kehabisan energi. Sampai maghrib. Aku ingat sekali batas waktu pulang ke kosan. Bahkan teman-teman yang laki-laki tetap tinggal sampai larut malam. Demikianlah, selalu ada saja generasi yang fakir internet pada sebuah masa. Hahaha!

Perbedaan lain di kampus adalah masjid. Kali ini masjid laki-laki dan perempuan dipisahkan. Feminisme sudah mengakar sampai masjid rupanya?! Hahaha, aku bercanda. Alhamdulillah ruangan shalat untuk ribuan mahasiswa dari sembilan jurusan sudah lebih senggang, walaupun tidak dapat diingkari toilet dan tempat wudhunya masih belum ada perbaikan. Masjid ini tetap sejuk untuk orang-orang yang terengah-engah dengan kepenatan kelas.

Tuhan mengajariku tentang ketepatan waktu. Ia terkesan relatif bagi kita, tapi amat akurat bagi-Nya. Tepat pukul 11 aku mengetuk pintu ruangan seorang dosen. Bukan hanya takada ia, pintu terkunci bahkan. Aku hanya mengirim sms tanpa balasan darinya. Untuk memastikan, aku cari namanya di jadwal mata kuliah gedung B dan C. Takada jadwalnya hari ini. Aku putuskan untuk pulang dan mengejar dosen lain. Di angkot kampus, pukul 11.30 ia membalas smsku dan berkata bahwa dirinya ada di ruangan yang tadi aku ketuk. Seketika aku meminta turun dari angkot dan menuju ruangan tersebut. Dapat juga aku tanda tangan itu.

Saat bertemu dosenku berujar, “tadi ada keperluan dulu.” Ah, Allah memang menyelesaikan urusan semua hamba-Nya, bukan cuma aku. Bahagia sekali mendengar cerita dosenku itu. Setelah mendapat tanda tangan, aku menuju tempat lain, kembali meminta tanda tangan. Sebelum pukul 3 sore aku tiba di lantai 3 gedung pascasarjana Unpad. Kali ini beliau juga langsung menanda tangan tesisku. “kalau kamu telat sedikit, saya sudah masuk ruangan, bisa sampai jam 6 kamu menunggu.” katanya.

Yang aku suka dari hariku ini adalah ketepatan waktu. Allah selalu tepat waktu. Walaupun lama menunggu, berat mengejar tempat pertemuan, aku bahagia. Terutama karena orang-orang yang akan bertemu tidak terbebani dengan pertemuan tersebut.[]

foto dari sini

Perempuan Pada Dasarnya

perempuan 2

Dear Sukab,

Sudah beberapa hari aku gelisah tentang apa-apa yang berkaitan dengan diriku yang terlahir perempuan. Berkali-kali aku membolak-balik pikiran untuk menulis surat ini buatmu. Sebenarnya ingin kulepaskan saja surat ini sebagai cerita biasa. Tetapi sunggu aku lebih ingin bercengkerama denganmu soal ini. Riwayat ini mungkin bisa kamu saksikan dari siapapun yang ada di penjuru dunia. Namun, aku benar-benar ingin menyampaikannya kepadamu.

Yang selalu dianggap lemah fisik adalah perempuan. Entah organ tubuh bagian mana yang membuat dunia memandangnya demikian. Mendaki gunung, menyelami laut padahal perempuan bisa. Namun, entah mengapa kecemasan laki-laki akan keselamatan mereka selalu dua kali lipat. Bisa jadi, kecelakaan yang menimpa perempuan pada hal-hal yang dianggap berbahaya terjadi bukan karena fisik mereka, melainkan ketidakpercayaan laki-laki pada kekuatan perempuan. Biasa sajalah menyikapi perempuan. Membawa kandungan selama sembilan bulan pun mereka bisa. Ini sebuah beban yang takbisa direhat sedetikpun. Pada masa itu mereka makan untuk dua badan. Pada waktu itu ada dua detak jantung dalam satu tubuh. Ini takakan terjadi pada laki-laki. Maka jangan terlalu melemahkan mereka dengan kecemasanmu wahai laki-laki. Biasa sajalah!

Pada sekali waktu, perempuan ketakutan melihat binatang-binatang melata atau serangga. Aku sempat kaget dengan ekspresi temanku saat melihat segerombolan semut hitam di balik tirai penutup becak. Mungkin geli, jijik, atau takut dengan gigitannya. Ini bagian yang akupun sukar menjelaskannya. Seperti kebencianku pada kecoa. Jijik, inilah alasan yang dapat kulontarkan soal kecoa. Aku bisa dengan segera mengambil sandal dan menginjaknya dalam hitungan detik bila ia muncul di hadapanku. Takadil memang. Hanya karena jijik, satu nyawa kecoa melayang. Padahal satu nyawa kecoa serupa dengan satu nyawa manusia pada dasarnya. Pada perkara ini, yang aku pesankan hanya satu, jangan berlelucon menakut-nakuti perempuan dengan serangga dan binatang melata. Tertawamu pada ketakutan perempuan justru memperlihatkan seberapa lemah kau sebagai laki-laki.

Hal lain yang mengelilingi perempuan adalah perhiasan. Semua perempuan menyukainya. Yang membedakan adalah sebanyak apa dan bagaimana mereka menyukainnya. Anting, kalung, gelang, cincin, baju, sepatu, tas, dan perhiasan mahal lainnya acap kali membuat perempuan merasa berharga. Mungkin, perempuan adalah perhiasan. Oleh sebab itu, ia suka menampakkan perhiasannya. Alfa aku soal bagaimana rasanya memiliki barang-barang mewah itu. Tas bermerek terkenal dengan harga jutaan rupiah, bagaimana rasanya menggunakannya? Aku takgenap tahu soal ini. Apakah benda-benda itu membebaskan perempuan dari rendah diri? Perempuan adalah konsumen dan marketer paling hebat memang. Sebab itu, pemodal dan pengiklan menjadikan mereka sebagai sasaran empuk. Aku kadang bertanya pada diriku sendiri, “perasaan macam apa yang akan menghinggapimu jika kau ditakdirkan untuk selalu menggunakan barang-barang mewah?” Soal ini, aku hanya ingin kamu takterlalu menjadikan penampilan sebagai pusat segala sesuaitu. Ini tidak hanya membebani perempuan tapi juga membebanimu sebagai laki-laki.

Ayah Pidi berkata bahwa perempuan jatuh cinta berdasarkan apa yang ia dengar dan laki-laki berdasarkan apa yang ia lihat. Ini menjadi muasal perempuan berlomba-lomba untuk mengindahkan penampilannya. Lalu cantik hanya berakhir pada dimensi fisik. Aku tahu, cantik itu relatif, tapi industri membuat satu prototipe kecantikan yang kalian amini. Lantas perempuan berbondong-bondong mencari krim paling ampuh untuk memutihkan wajah dan kulitnya, mencari minuman paling efektif untuk melangsingkan perut, dan meninggikan postur tubuh. Belum lagi perawatan rambut yang membuat sebagian perempuan enggan berhijab.

Akibatnya mantra “cantik itu putih, langsing, tinggi,” yang diciptakan oleh industri kecantikan menyihir perempuan dan membuat kalimat “kamu harus cantik,” tertanam di benak mereka. Demikianlah perempuan melakukannya demi perhatian kalian. Aku mungkin kurcaci jelek atau bebek buruk rupa jika harus mengikuti semua kriteria cantik versi industri. Bahkan aku sempat berpikir, “Kamu takmudah percaya pada manusia, lantas mengapa dengan mudah kamu memercayakan kulit wajahmu pada sebuah produk pembersih wajah yang bahan-bahannya tidak kamu ketahui dengan pasti komposisinya?” Padahal krim pembersih muka itu adalah satu-satunya kosmetik yang aku gunakan. Maka putar otakmu sedikit agar benar-benar terlihat bahwa dirimu berlogika. Fisik adalah bagian paling fana dari diri manusia. Carilah dimensi lain yang lebih nyata tentang kecantikan perempuan.

Satu hal lagi yang masih aku pertanyakan soal perempuan adalah keselamatan. Yang paling cemas pada keselamatan perempuan saat pulang malam adalah kalian. Lalu mengapa penjahat-penjahat yang merampok, mencopet, memerkosa lalu membunuhnya adalah manusia pada jenis kalian, laki-laki. Mengapa sebagian dari kalian berpikiran untuk menjahati perempuan? Tidak ingatkah mereka pada ibu, adik, istri, dan anak-anak yang juga perempuan? Berhentilah menjadikan diri sebagai pusat, karena perempuan juga punya ruang di dunia ini yang mewajibkan keamanan dan kenyamanan bagi diri mereka. Udara yang sama, sinar matahari, dinginnya malam, derasnya hujan, dan sejuknya pagi juga menjadi hak perempuan. Berhentilah menjadi ancaman bagi manusia lain.

Ini sebagian yang dapat aku catat tentang perempuan. Dunia membisikinya dengan hal-hal tersebut, tapi mereka juga manusia yang memiliki kemampuan dan hak untuk balik berteriak “Ya, itu saya!” atau “Tidak, itu bukan saya!”[]

Perempuanmu,

Maneka

*foto bidikan @siriusbintang

Pada Suatu Hari Nanti #SDD

alone

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari

Sapardi Djoko Damono

Malaikat Kecil

fahirah

Dua malaikat kecilku, Naylah dan Hanifah

“Aku Ultah”

katanya lewat sms yang aku terima tadi pagi.

Niat sekali ia mengirimiku sms, padahal itu baru pukul 5.55 Wib dan aku pun jelas-jelas masih ingat 10 Juni adalah tanggal kelahirannya. Namun, aku tentu tidak akan mengucapkan selamat ulang tahun pada anak kelas 3 SD pada waktu sepagi itu.  Itu terlalu berlebiham menurutku. Aku coba menghubungi handphonenya, ternyata paggilan terputus. Beberapa kali dicoba tetap takberhasil. Akhirnya kuurungkan menelpon pagi tadi. Aku bersiap untuk berangkat ke kantor.

Di angkot ternyata datang sms dari ibunya, “Hari ini Hanifah ulang tahun. Lupa ya?” Aku yang mulai takmementingkan hari ulang tahun jadi berpikir, “Sepenting itukah hari ini buat malaikat kecil itu?” Akhirnya aku jawab sms ibunya, “Inget kok, tapi ngucapinnya nanti siang aja.” Kebisingan pagi hari ini menyadarkanku pada sebulan lalu, hari ulang tahunku. Malaikat kecil itu menghadiahiku sepucuk surat, secarik gambar, segenggam kertas yang berisi cerita pendek karya pertamanya, dan kenang-kenangan berupa mainan. Aku yakin mainan itu adalah hasil selesi dari setumpuk mainan yang sudah takdicintainya lagi. Tetapi biarlah, sesederhana apapun hadiah itu, dia tetap berusaha mengingat dan menghadiahiku sesuatu. Bahkan pada saat menitipkan benda-benda itu, ia sampai memohon-mohon kepada kakeknya untuk membawanya. Pada secarik kertas ia berujar, ” Bi Maaf ya aku cuma bisa ngasih ini. Mungkin bisa jadi kenang-kenangan.”

5

Kado Ulang Tahun GeJe dari Malaikat Kecil

Siang hari handphoneku berbunyi lagi. Sebuah sms masuk, “Hanifah sudah pulang.” Baru mau kupijit tombol telpon, ternyata handphoneku sudah lebih dulu berbunyi. Benar saja, malaikat kecilku yang menelpon. “Assalamualaikum Bi,” ujarnya. “Waalaikumussalam. Selamat ulang tahun ya!” kataku takbanyak basa-basi. Aku pikir, itulah kalimat yang paling ia tunggu-tunggu hari ini. Setelah kalimatku selesai, dia berterima kasih dan bercerita soal kejadian yang dialaminya hari ini.

Tentang Fabian, anak laki-laki seangkatan yang taksekelas dengannya, dia bercerita. Menurutnya, anak lelaki itu pintar, shalih, dan ganteng. Nampaknya dia sedang meniti arti kekaguman di usia 9 tahun. “Tadi aku ketemu Fabian, terus aku tanya ke dia, ‘tau gak hari ini tanggal berapa?’ ‘Tanggal 10,’ kata Fabian. ‘Bulan apa?’ tanyaku. ‘Bulan Juni,’ kata Fabian. Terus aku tanya lagi, ‘Tahu gak hari ini hari apa?’ Fabian langsung ngejawab, ‘Hari ini hari ulang tahunmu ya?!’ Bi.. Fabian inget hari ulang tahunku lho!” Di dalam hati aku berujar “Eaaaa, capedeh! Pastilah inget, wong didesek pakek pertanyaan-pertanyaan itu!” Tapi tentu kalimat itu takkulontarkan.

Dia bercerita tentang adiknya, Nayla. “Tadi waktu berangkat sekolah, aku nyuruh Nayla ngucapin selamat ulang tahun. ‘Kalo kamu nggak ngucapin, nanti ada monster loh!’ aku takut-takutin aja. Akhirnya si Nayla ngucapin, ‘Selamat ulang tahun!’ Aku bilang lagi, ‘Kamu ngucapin cuma gara-gara takut ya!’ kataku gitu.” Huffh! Lagi-lagi dia mendesak orang lain untuk mengucapkan selamat. Kali ini adiknya, Nayla yang usianya baru 4 tahun.

Selain Nayla, dia juga mendapat ucapan selamat dari sahabatnya. Kali ini benar, sahabatnya takperlu didesak untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Namun, hari ini ia takdapat hadiah dari sahabatnya itu. “Katanya kadonya menyusul besok.” ujarnya. Ngomong-ngomong soal kado, akhirnya tibalah pada poin penting yang ia tuju: hadiah ulang tahun. “Bi, aku mau hadiah ulang tahun,” katanya. “Kamu mau hadiah apa?” jawabku. “Hmm.. aku mau… mau.. mau jam tangan. Beliin yang warna biru ya! Kalau nggak warna biru, warna ungu. Kalau bisa siy, gabungan antara biru dan ungu,” ujarnya. “Baiklah, nanti aku cariin jam tangan warna biru ya!” jawabku.

Permintaan jam tangan ini menghisapku pada belasan tahun lalu, waktu aku gamebling meminta hadiah jam tangan jika masuk rangking 4 besar di kelas 4 SD. Buat anak yang takpernah memikirkan belajar, ulangan harian, bahkan ulangan umum, berpikir akan meraih rangking 4 itu adalah sebuah kegilaan. Whatever, waktu itu aku mengadu keberuntungan. Dari rangking yang selalu pada angka 7 atau 8, akhirnya aku merasakan dapat rangking 4 dalam atmosfer persaingan sebagai siswa minoritas di Denpasar.

Masih teringat, aku membeli jam tangan Q&Q ba’da isya’, bulan Ramadhan, ketika mudik ke Tasikmalaya. Waktu itu toko-toko banyak yang tutup. Hari ini akupun yakin waktu itu aku berbelanja jam tidak sebagai orang kaya. Bahkan lebih tepat sebagai anak kelas menengah-bawah yang mencicipi dinginnya malam Kota Tasikmalaya karena keberuntungan meraih rangking 4 di sekolah.

Saat itu aku takhabis pikir juga mengapa harus meminta jam tangan. Sampai saat ini pun aku takpernah habis menemukan kapan pertama kali aku dapat membaca waktu di jam dinding dan jam tangan. Mungkin, sejak saat itulah momen aku mulai percaya diri membaca jam tangan. Walaupun aku yakin, saat itu aku belum genap tahu bagaimana memaknai waktu. Apa artinya terlambat, apa artinya datang tepat waktu, atau datang lebih dulu.

Pernahkah terpikir bahwa apa yang berputar di tanganmu menjadi penanda makhluk yang takpernah bisa dihentikan? Putarannya yang terasa amat lambat itu ternyata amat kencang bagi orang-orang yang takmengerti artinya bersegera. Gerakannya yang takbisa dipercepat ternyata bisa mengendapkan orang yang berdiam diri di masa lalu. Detik demi detiknya jadi amat ringkas bagi orang yang dikejar kepadatan aktivitas. Dia seperti tinta yang mencatat otomatis sejarah hidup kita dulu, kini, dan nanti. Ia juga dapat dijadikan alat untuk menguji kekuatan sesuatu. Emas, kertai, air raksa, api, manusia, bahkan kekuatan cinta dapat diuji dengan waktu.

Lalu aku, jika aku menjadi malaikat kecilku dalam keadaan mengerti tentang hakikat waktu, maka sungguh tidak akan sedikitpun aku bagi kekagumanku pada seorang lelakipun selain suamiku. Jika sejak kecil aku mengerti tentang makna gerakan jarum jam menuju angka demi angka itu, aku takakan melelakan diri mengingat-ingat seorang Fabian yang bahkan mungkin takmemikirkan diriku sedikitpun. Aku akan fokus pada perbaikan diriku sendiri. Aku hanya ingin menjadi kebanggaan ayah dan ibu dengan rajin shalat, mengaji, dan sekolah. Aku akan sangat sibuk dengan prestasi-prestasi dalam bidang apapun yang aku sukai. Aku tidak akan menghitung kesuksesan orang lain. Aku tidak akan menjadikan kesuksesan orang lain sebagai standar karena kesuksesankulah yang menjadi standar nilai tertinggi bagi orang lain.

Namun, waktu itu sudah berlalu bukan? Aku ada di sini sekarang. Aku berada di antaran kemarin dan esok. Maka kemarin amat jauh bagiku, taksedikitpun aku sesali dan kuputuskan takkan kuseret ia ke masa depan. Aku hanya akan menjadikannya pelajaran karena aku tidak sedang hidup di masa itu. Bagian-bagian apapun yang takmenyenangkan dengan amat terpaksa harus kumintai maaf karena aku akan benar-benar menyingkirkan dan melupakannya. Bagian yang menyenangkan akan kujadikan semangat untuk meraih prestasi yang lebih baik lagi di masa depan.

Maka kuputuskan, ketika menyerahkan jam tangan itu nanti, dengan terpaksa aku harus berdiskusi dengan malaikatku soal waktu dan kesia-siaan yang harus alfa darinya. Mungkin itu akan kuceritakan dengan amat ringan dan sedikit demi sedikit dulu.

Sebelum Selamanya – Sherina

promise

Hei coba dengarkanlah harapan aku ini
Sebelum kita lanjutkan mimpi kita bersama
Hei coba pandanglah jiwa yang bertanya ini
Sebelum kita lanjutkan kisah yang kan berlangsung selamanya
Jaga hati yang ku serahkan untukmu
Jangan lupa rasa jatuh cinta pertama kita
Dan tali asmara yang kan diuji waktu
Berjanjilah sayangku sebelum selamanya

Hei jangan kau abaikan semua yang indah ini
Sebelum kita lanjutkan cita kita berdua
Hei ini guratan sebagai tanda tangan
Sebelum kita lanjutkan kasih yang dijanjikan selamanya, selamanya

Jaga hati yang ku serahkan untukmu
Jangan lupa rasa jatuh cinta pertama kita
Dan tali asmara yang kan diuji waktu
Berjanjilah sayangku sebelum selamanya

(Berjanjilah sayangku sebelum selamanya
Sebelum selamanya)

Jaga hati yang ku serahkan untukmu
Jangan lupa rasa jatuh cinta pertama kita
Dan tali asmara yang kan diuji waktu
Berjanjilah sayangku sebelum selamanya

(Jaga hati yang ku serahkan untukmu) selamanya
(Jangan lupa rasa jatuh cinta pertama kita)
Dan tali asmara (yang kan diuji waktu)
Berjanjilah sayangku sebelum selamanya

Dari sini

donlot lagunya di sini

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript