Perempuan Dalam Singgah Karya Jia Effendie Dkk. [Bagian 1]

singgah
Singgah adalah sebuah kumpulan cerpen karya Jia Effendie dkk yang berisi cerita-cerita dalam setting tempat persinggahan. Stasiun kereta api, dermaga, terminal, bandara adalah tempat-tempat yang menjadi sember energi kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini. Bagi sebagian orang yang menyukai tempat-tempat tersebut (salah satunya adalah aku), takperlu membaca detail review kisah di sampul belakang, melihat gambar tempat yang disukai saja sudah membuat memilih untuk memiliki buku ini.

Hal yang menyihir dari buku ini adalah terapi hati (membaca abjeksi) untuk memahami luka, cinta, rindu, dan sepi dalam kisah yang amat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin kita pernah dengan penuh harap dan cemas menunggu seseorang di stasiun kereta api. Namun, pada waktu yang berbeda kita harus menatap kosong kebingaran stasiun karena harus melepas kepergian seseorang. Maka kisah dalam kumpulan cerpen ini seperti gempuran keras pada hati kita. Ia seolah berujar “It’s Happened!” Kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam kehidupan dan diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Ya, pertemuan selalu melahirkan perpisahan. Persinggahan selalu menagih perhentian dan keberangkatan. Maka, hati yang dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini tak akan ciut. Ia akan semakin kuat menghadapi perjalanan hidup.

Enam dari sebelas penulis kumpulan cerpen ini adalah perempuan. Bagian ini amat menarik untuk ditelusuri. Bagaimana perempuan menggambarkan perpisahan? Bagaimana perempuan menggambarkan ketakterjangkauan dalam sebuah cerita. Mari kita bedah beberapa cerita dalam kumpulan cerpen ini.

Bertolah dari Julia Kristeva

Berdasarkan pemikiran Kristeva, secara psikologis, bagi anak perempuan, tubuh ibu adalah kesenangan primer yang pertama kali mereka miliki. Anak perempuan masih merasa bahwa ibu adalah bagian dari dirinya. Untuk membangun identitas subjek pada dirinya, seorang anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya. Pelepasan diri ini dilakukan melalui penolakan yang diistilahkan oleh Kristeva sebagai abjection (penolakan terhadap tubuh ibu).

“Masa ini menurut Lacanian dan Freudian merupakan masa penyapihan dan pemisahan yang biasanya menimbulkan frustasi dan ketakutan akan kastrasi. Bagi Kristeva masa ini adalah masa antara chora dan tahap cermin yang merupakan tahap pra-linguistik penting pada usia 4-8 bulan” (Christina, 2010:9).

Pada masa ini anak perempuan harus melakukan abjection pada ibunya untuk mengidentifikasi me dan not me.  Kristeva juga berpendapat bahwa  masa ini tidak selalu diwarnai dengan ketakutan, penolakan maupun pemisahan pun bisa menyenangkan. Dalam tahap penyapihan ini terjadi krisis narsistik ketika bayi menjadi antara subjek dan objek, self dan other, hidup dan mati. Masa pemisahan ini oleh Kristeva diasosiasikan dengan abjeksi (Christina, 2010:9).

Hubungan pemikiran Kristeva dengan perempuan dan makna perpisahan?

Disapih dari ibu merupakan keterpisahan pertama yang dialami perempuan dalam hidupnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya karena dirinya sendiri secara psikologis harus menemukan subjek dalam diri. Anak perempuan harus menemukan makna “inilah aku” yang otonom dalam dirinya. Secara psikologis, abjeksi (penolakan terhadap tubuh ibu) adalah cara yang paling tepat untuk menemukan eksistensi diri sendiri. Salah satu konsekuensi logis dari abjeksi ini adalah rasa frustasi dan ketakutan. Walaupun menurut Kristeva bisa penyapihan juga bisa menyenangkan.

Mekanisme abjeksi ini terus menerus dilakukan perempuan secara tidak sadar dalam menghadapi perpisahan demi perpisahan. Perpisahan ini dapat diartikan dalam konteks apa saja. Bukan hanya perpisahan fisik tapi juga psikologis. Bahkan ketidaksinkronan antara kenyataan dengan apa yang diinginkan pun dapat disebut keterpisahana (keterpisahan antara kemauan dan kenyataan). Oleh sebab itu, hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihadapi oleh perempuan dengan abjeksi. Ketakterjangkauan juga dihadapi perempuan dengan abjeksi.

Fantasi Sebagai Abjeksi dalam Cerpen Jantung

Salah satu cara perempuan melakukan abjeksi adalah dengan menulis. Karya fiksi dapat menjadi media abjeksi (dalam konteks ini: penolakan terhadap perpisahan atau kejadian yang tidak disukai) dengan menghadirkan fantasi-fantasi di dalamnya. Fantasi ini bisa berupa imajinasi, mimpi, dongeng, khayalan, dsb.

Dalam cerpen Jantung karya Jia Effendi, kita akan mendapatkan cerita tentang seorang perempuan yang berpisah dengan kekasihnya, padahal dirinya sedang hamil. Kekasihnya tidak mau menikahnya karena lelaki itu merasa bayi yang dikandung bukan anaknya. Ada dua abjeksi dalam cerita ini. Pertama, penolakan perempuan terhadap kehilangan laki-laki yang ia harap-harapkan menjadi suaminya. Kedua, penolakan terhadap perbedaan antara angan-angan kebersamaan dengan perpisahan. Singkatnya, abjeksi pertama dilakukan terhadap tokoh antagonis yaitu lelaki yang menjadi kekasihnya. Abjeksi kedua dilakukan terhadap situasi antagonis, yaitu keterpisahan. Sebagai seorang perempuan yang selalu menjadi second person dalam dunia gender, abjeksi ini diperlihatkan oleh Jia Effendi dengan dramatis.

“Kita berpisah baik-baik. Tapi kamu masih membawa drama ke sini. Aku masih memelukmu! Masih menghargaimu! Tapi kau malah berteriak-teriak mempermalukanku. Aku masih mau memelukmu, membiarkanmu masuk ke rumah ini! Kamu sampah! Aku masih memungutmu!” (Jantung: 16).

Inilah situasi antagonis yang diabjeksi oleh perempuan. “Kamu sampah! Aku memungutmu!” kalimat pedas ini menjadi satu mekanisme yang digunakan perempuan untuk melakukan penolakan terhadap situasi antagonis dan menyadarkan keberadaan dirinya. Saat itu perempuan dalam kisah ini harus berpisah dengan kekasihnya. Ia harus sadar sesadar-sadarnya menerima keadaan ini. Dalam situasi antagonis ini, perempuan dalam cerpen melakukan hal yang dalam kenyataan tak mungkin dilakukan,

“Seperti mendapat kekuatan dari yang tak kasat mata, aku mendorongnya. Dia terpental jauh menabrak dinding. Kepalanya terantuk. Dengan sisa kekuatanku, aku menyeretnya ke dapur, menyapu apapun yang ada di meja makan ke lantai, susah payah mengangkat tubuhnya, menguliti pakaiannya… Dengan selembar rumput tajam, aku menorehkan dari dada ke perutnya. Segumpal jantung yang masih berdenyut kucuri dari dadanya. Kumasukkan ke dalam kotak es. Rintihku berkali-kali bergumam aku mencintaimu.” (Jantung: 17).

Prilaku ini tidak mungkin dilakukan oleh perempuan dalam dunia nyata. Kalaupun ada, tentu hanya segelintir orang yang melakukannya. Abjeksi ini semacam ekspresi kemarahan yang dilakukan untuk benar-benar memperlihatkan bahwa “inilah aku” kata perempuan sebagai tokoh utama. Pencurian jantung yang dilakukan oleh tokoh utama ini sebenarnya hanya ingin menjelaskan sebuah kalimat jujur dari lubuk hatinya,

“Tak ada yang namanya perpisahan baik-baik! Kalau kita baik-baik saja, kau masih bersamaku!”

Perempuan tokoh utama ini lalu menyimpan jantung itu di dalam icebox. Ia membawanya ke sebuah tempat dan melakukan hal irasional.

“Ruang bercat putih itu berukuran 3×3 meter. Tak ada apapun di dalamnya kecuali seorang lelaki telanjang dada yang memunggungiku. Tubuhnya memancarkan sinar seperti bola lampu.

“permisi” Dia tidak bereaksi.

“Sebutkan keinginanmu!”…
“Aku ingin jantung kekasihku bersatu bersama jantungku,” aku berkata mantap.

Jika kalian sudah menyimak sedari tadi, tentu mengerti mengapa aku mengambil jantung kekasihku setelah membelah dadanya. Jantung hatinya, agar dia mencintaiku selamanya. Agar aku tidak pernah terpisah darinya.”

Inilah puncak abjeksi (penolakan terhadap kenyataan) yang dilakukan oleh tokoh perempuan terhadap tokoh antagonis dan situasi antagonis. Pada tokoh antagonis, ia melakukan pencurian jantung dan meminta penyatuan jantung. Penyatuan jantung sebagai tanda bahwa pemilik jantung itu tidak akan berhenti mencintainya. Padahal situasinya justru berkebalikan, lelaki itu sudah tidak mencintainya. Pencurian jantung jadi semacam sebuah penolakan, pemberontakan, kemaranah akibat frustasi dan ketakutan (seperti yang dikatakan Lacanian dan Freudian) menghadapi perpisahan.

Abjeksi terhadap situasi antagonis tergambar dari alur cerita secara utuh. Ini bisa dirasakan oleh tokoh perempuan dalam cerpen, penulis -sebagai perempuan- dan pembaca perempuan. Cerpen Jantung karya Jia Effendie ini semacam abjeksi yang menyadarkan perempuan untuk menemukan dirinya sebagai subjek ketika mengalami perpisahan. Tokoh perempuan dalam cerpen ini mewakili kemarahan dan hasrat perempuan ketika menghadapi perpisahan, ketika disebut sampah, ketika kelimpungan saat hamil dan dibuang begitu saja oleh orang yang dicintai. Ketaksampaian melakukan kekerasan (semacam pembedahan, pembunuhan, mutilasi, bahkan cangkok jantung) sudah diwakili oleh tokoh perempuan dalam cerpen.  Otomatis, pada sebagian perempuan, cerpen ini amat melegakan. Kemarahan dan hasrat yang tertahan di dunia nyata, bisa “terlampiaskan” di dunia fiksi. Perempuan yang mengalami pengalaman yang sama dengan tokoh perempuan dalam cerpen ini akan menemukan me dan melepaskan ketergantungannya terhadap the others melalui efek abjeksi cerpen ini. Efek abjeksi cerpen ini dapat menyadarkan perempuan bahwa selama ini ia telah menjadikan orang lain sebagai kesenangan primer yang mengeliminasi me (baca: dirinya sendiri). Ia telah bergantung pada the others dan telah menjadikan diri sebagai objek. Melalui abjeksi, ia akan kembali menemukan me dan menjadi subjek bagi diri dan kehidupannya.

Bersambung…

foto dari sini

Cerita tentang Yang Pendek #SGA

OLEH SENO GUMIRA AJIDARMA

• Judul Buku: Terima Kasih, Anakku

• Penulis: Rayni N Massardi

• Penerbit: Padasan, Ciputat

• Cetakan: 2012

• Tebal: xvi + 172 halaman

• ISBN: 978-602-19280-5-9

Seno Gumira Ajidarma

Bukunya kecil, isinya pendek-pendek. Namun, panjang atau pendek tentu bukan ukuran mutu. Jadi apa ukurannya? Inilah masalahnya. Setiap kepala yang membaca dan menilai punya ukurannya masing-masing sehingga hasil penilaian bisa saling bertentangan.

Nah, apakah mengukur dan menilai itu memang begitu perlu? Kalau tidak perlu mengukur dan menilai, tetapi membacanya saja bagaimana? Betapapun, rupa-rupanya, mengukur dan menilai tak terhindarkan, ketika ukuran dan nilai memang telanjur ada.

Coba kita periksa buku Rayni N Massardi ini. Dari judulnya, Terima Kasih Anakku: Kumpulan Cerita, terjelaskan bahwa isinya tentu sejumlah cerita. Sampai di sini saja sudah dapat dipertanyakan, cerita dalam pengertian apa? Cerita dalam pengertian gagasan atau cerita dalam pengertian alur? Kodok mati adalah cerita, kodok mati karena terlindas stoom adalah alur. Namun kalau yang dimaksud dengan cerita adalah gagasan saja, apakah perlu dibukukan lantas dijual? Kalau filsafat, memang tentang gagasan, tapi tak disebut cerita tentunya; kalau cerita, tentu tak mengandalkan gagasannya, karena ada pendapat, “Tak penting temanya besar atau kecil, yang penting cara berceritanya.” Cara? Mungkinkah maksudnya seni bercerita? Kita tengok saja.

Gembira!

Rasa senang sekali, selalu saya hindari. Karena selalu ada sesuatu di balik kegembiraan. Ada sebuah misteri yang setiap saat bisa terkuak.

Dan kalau itu terbongkar, akan mental-lah kita ke sana-ke mari bak lontaran bongkah es! Ih, dingin! Makanya waktu sudah tampak gelagat akan senang, saya selalu siap ancang-ancang untuk lari kencang!

Mengingat keterbatasan ruang, saya kutip yang cukup pendek, meski ada yang lebih pendek. Di manakah, atau adakah, “seninya”? Tentu ada perbandingan: “kisah-kisah telapak tangan Kawabata”, puisi prosa Solzhenitsyn, dan tentu saja “cerita” Sapardi Djoko Damono, seperti terdapat dalam Pengarang Telah Mati. Untuk diketahui, Sapardi adalah penerjemah Kawabata dan Solzhenitsyn dari bahasa Inggris, padahal masing-masingnya menulis dalam bahasa Jepang dan Rusia. Artinya, gejala penulisan cerita-sependek-mungkin ini sudah membentuk tradisinya sendiri. Namun jika dalam hal Kawabata merupakan “konversi” haiku, dan dalam hal Solzhenitsyn lahir dari keterpenjaraannya di gulag pengasingan Siberia, yang sebagai produk susastra lantas mendorong penulisan Sapardi, apakah ujung-ujungnya mendorong pula penulisan Rayni?

Lebih baik dibandingkan saja, misalnya “Bis Jemputan Sekolah” karya Sapardi. Cerita dan bahasa seolah tidak istimewa. Namun menjadi lebih dari biasa ketika naratornya ternyata bus sekolah itu. Nah, ada “seninya”! Bukan dalam bahasa, melainkan sudut pandang. Mundur ke belakang, Kawabata dan Solzhenitsyn memperlihatkan ketenangan luar biasa, ibarat permukaan danau yang dapat digunakan untuk berkaca. Dengan kata lain, format yang pendek terbentuk bukan karena menghemat atau kehabisan tinta, melainkan konstruksi faktor determinan. Tidak terkecuali cerita-cerita Rayni dalam buku ini. Menjadi menarik tentunya: faktor determinan macam apa?

Tentu mesti disisir penanda-penandanya, yang tentu bukan haiku bukan pula kesempitan ruang waktu dalam penjara. Namun karena tak mungkin menyisir serinci mungkin, barangkali bisa dipertimbangkan saja cerita “Gembira!” tadi. Jika Kawabata, Solzhenitsyn, dan Sapardi dapat dianggap menuliskan usaha pencapaian kebahagiaan, dalam cerita ini naratornya secara eksplisit justru takut dengan kebahagiaan itu. Apakah ketakutan ini semacam angst-nya Heidegger? Argumennya sendiri minimalis, dan ketika misteri terkuak, yang ada bongkah es. Entah bongkah es konkret atau simbolik, ada pengingkaran terhadap kefanaan hidup bahwa kebahagiaan tak mungkin abadi. Namun alih-alih menerima kebahagiaan seadanya, lebih baik tidak pernah bahagia saja, daripada kehidupan—bukan kematian—merenggutnya.

Tergantung kepada pembaca

Dalam dunia yang tua, adakah cara baru menyikapi hidup? Mungkin saja. Generasi media sosial adalah generasi yang merasa sahih urusan dengkulnya sendiri diketahui orang banyak. Ketika kesadaran ruang privat makin tinggi, media sosial bagaikan kompensasi lebay atas pembatasan diri di ruang publik yang konkret. Jadinya media sosial bukan untuk kepentingan sosial, melainkan kepentingan personal. Hehe. “The personal is political”.

Banyak buku terbit sebagai kepanjangan tangan media sosial yang maya. Jika tidak, mentalitas media sosial pun, yakni curhat secepatnya tanpa saksama, lebih dari cukup untuk menyahihkan keberadaan dirinya di media cetak. Namun, betapapun, seperti judul buku Sapardi, yang teracu ke Roland Barthes, pengarang sudah mati bukan? Tergantung kepada pembaca sendiri untuk memberi makna bacaannya, akan berguna bagi dirinya atau tidak. Dalam hal saya, izinkanlah untuk memberi makna dengan cara mengutip cerita lain di dalam buku ini:

Tolong!

Teriakan tolong di mana-mana.

Rintihan kesakitan!

Amukan kemarahan sangat!

So what!

Sirine menguing-nguing!

Selalu sebuah tanda.

Sumber : Kompas edisi Minggu 10 Maret 2013
SENO GUMIRA AJIDARMA Wartawan

PS: Orang yang bisa membaca dengan teliti tulisan ini pasti bisa membaca kualitas buku yang diresensi.

#3 PENYELINAP

Kisah ini lanjutan dari #2 Kucing Dan Majikannya

: Langit Senja
Sore itu aku memberanikan diri bertanya kepadanya soal kalimat suram yang ia sampaikan padaku tempo hari. Tentu aku takmendatanginya karena jarak kami amat jauh. Aku hanya bertanya padanya melalui sebuah surat elektronik berisi seikat alasan keberanianku menanyakan keberadaanku dalam kisah hidupnya. Aku mengiriminya sebuah alasan panjang tentang kebahagiaan atas kisah panjang perjalananku bertemu dengan-Nya.

Penyelinap    : Seperti biasa, kau selalu hebat

Langita             : Kau juga hebat. lalu masihkah aku memiliki kemungkinan itu?

Penyelinap    : Kemungkinan itu hanya milik Allah Ta. Namun, kali ini aku takbisa melanjutkan kisah itu. Hanya itu.

Langita     : Okey! Paling tidak, aku sudah memberanikan diri untuk bertanya.

Penyelinap    : Kau harus mencoba mencari lelaki yang lebih baik dariku.

Langita        : Hanya Allah yang bisa menyamakan persepsi antara pesan panjang  yang  kukirim dengan isi hatimu.

Setelah percakapan itu, aku berani mengatakan, perempuan itu mungkin bukan aku. Waktu bicara soal pernikahan, ia sedang berbasa-basi, melemparkan pertanyaan kosong tentang kegamangannya atas masa depan. Jawabannya membuatku sadar. Serupa tangan yang menampar pipiku saat taksadar tertidur di perjalanan. Kalimatnya mengingatkanku tentang kesiaan yang kupupuk berlipat-lipat waktu.

Pada waktu yang telah lama berlalu, aku sepertimu, berbahagia dalam kegelisahan. Dulu ia sempat pergi dariku, mengasingkanku dari hidupnya. Namun, perlahan ia timbul tenggelam dalam hari-hariku. Prilakunya itu membuatku kembali berpikir, “Ia sedang berjuang membenahi hidupnya, maka akupun harus ikut berjuang, bertahan dalam sebuah keyakinan akan kembalinya.” Berkemasnya kami waktu itu kupikir akan berakhir pada sebuah pertemuan di ujunga jalan. Bahkan aku sudah mengantongi sebuah pernyataan yang kusimpan rapi bila suatu hari nanti ia benar-benar kembali. “Jangan pernah pergi lagi!” Hmm.. Pernyataan itu benar-benar tersimpan rapi bahkan terkunci dalam palung hatiku. Ia terpencil kini. Ia terkucil oleh realitas yang mendesaknya pergi jauh.

Embun.. dia bukan lelaki yang singgah dan hanya berani ada didepan pintu. Dia bukan hanya lelaki yang takberani mengetuk apalagi masuk, seperti yang kau katakan. Dia adalah manusia ruang tunggu. Dulu.. dulu sekali, sejak pertama kami mengenalnya, aku pernah berkata padanya, “Jika kau lelah menunggu, sesekali bergeraklah ke luar, bukalah pintu, dan carilah takdirmu. Bolehjadi ia ada di depan pintu sedang menunggumu.” Ia pemalu. Ia amat pemalu. Lalu akulah perempuan penyelisihnya yang ia permalukan di muka bumi ini.

Aku seperti tertidur di musim dingin dan terbangun di musim panas. Keyakinanku seperti pakaian lengkap musim dingin yang seketika harus kutanggalkan di musim panas. Pernyataannya seperti petir yang menyambarku saat bermain-main di rintik hujan, di sisi taman. Dalam kondisi ini, apa dayaku selain benar-benar membenahi hati, berpikir kembali soal kecenderungan hati yang tidak dapat dicampuri kecuali oleh Pemilik langit dan bumi. Ia tersembunyi amat lubuk, jauh di dalam sana. Tidak dapat ditaksir dari raut muka. Ia digenggam erat oleh Pemilik semesta. Ia takterjangkau olehku yang renta.

Kini tugasku mengobati hati yang tertikam berkali-kali. “Jangan panik!” itu saja yang kuwanti-wanti pada diri ini. Hadapi apapun dengan biasa-biasa saja. Apapun, jika Ia tidak menghendaki, tidak akan terjadi. []

Bersambung…..

#2 Kucing Dan Majikannya

cerita ini sambungan dari #1 Penyelinap

: Embun

Adalah setetes manis yang menyentuh hidup hambarku ketika menyimah berita kehidupanmu sekarang. Percayalah, sakitmu takhanya sembuh dengan setumpuk obat-obat itu. Jauh di lubuk sana, ada qolbu yang harus dipapah perlahan menuju kesehatan.

Embun, kau tahu, aku suka berbicara, memberi keterangan, mengabadikan detik demi detik pelajaran yang Allah titipkan dalam setiap cambukan atau belaian hidupku. Tapi jujur saja kukatakan, ini bagaikan menggarami luka dalam yang menganga. Harus kutahan perihnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ingin rasanya berhenti bercerita, tapi ada sebaris manusia yang perlu belajar salah-salah kita, agar mereka tidak jatuh pada lubang yang sama.

***

Mendengar kedekatanmu dengan kitab suci kita, aku iri sekali wahai Embun. Di sini aku masih lemah, tergopoh mengeja dentang denting irama hidupku. Senin kembali ke Senin aku bahkan kadang sibuk mencari faidah yang dapat kuberikan untuk orang lain. Aaah.. mencari diriku sendiri saja aku masih sangat kesulitan. Apalagi harus menyematkan faidah untuk orang lain. Rasanya masih beribu mil jaraknya dari aku yang ada kini. Huffh..

Aku iri padamu, soal mata yang masih bisa terjaga pukul 2 dini hari. Aku iri padamu soal tinta yang masih bisa tergores di siang hari. Ingin! Aku ingin betul dapat menguatkan diri ini untuk terjaga sampai selarut itu. Tapi aku amat rindu kesegaranku pada dini hari. Aku belum mampu berdiri bertemu Dia disepertiga malam bila tak mulai memejamkan mata pukul 10. Terlambat sedikit saja, aku bisa kehilangan makna tahajjudku. Rakaatnya bisa sangat singkat hanya untuk mengejar selimut dan menghilangkan kantukku. Aaah.. aku takmau itu! Sejatinya tahajjud adalah pertemuan paling nyaman untuk menumpahkan kemasygulan hidup kita yang sangat rapat tersimpan bukan?! Aku akan kehilangan munajjatku bila taktidur tepat waktu.

Embun..

Aku bukan kau yang dapat dengan ringan bercerita kepada siapapun tentang kucing-kucing dan majikannya itu. Aku bukan kau yang yang dengan ringan mengenalkannya kepada setiap dinding kamar di tempat kita dulu. Mendengar ceritamu, aku agak khawatir. Kisahmu yang satu ini jadi sebercak noda dari perjalanan panjangmu menuju-Nya. Mungkin karena kita pernah mengalami hal yang sama, lalu kau dapat ringan-ringan saja bercerita tentang dia.

Embun, apa yang kau alami itu hanya kepernahan buatku. Saat ini kau masih sedang asyik masyuk menikmati kebahagiaan semu dari seorang lelaki maya, majikan kucing-kucing itu. Sungguh, setiap episode yang kau alami sudah pernah kurasakan. Manis, asam, lalu pahit. Dia sudah terlalu lama mengganjali perjalananmu menuju-Nya. Ia sudah terlalu lama menjadi persimpangan setiap jalan lurus yang sudah dengan susah payah kau kuarkan. Berhenti! Berhenti! Berhenti merasa bahagia dengan keberadaannya. Itu hanya bagai gincu yang kau lihat di bibir merah pelacur hina. Demi Allah, Berhentilah!

Mulanya kau hanya berkirim pesan singkat dengannya. Sederet peraturan ketat kau buat untuk menjaraki interaksi. Lalu siapa? Tahukah kau siapa yang paling bahagia dalam kebahagiaan semumu itu? Dia musuh kita, setan yang selalu membisikkan kepalsuan berkedok bahagia. Dia membisikimu untuk melanggar satu-persatu peraturan ketat itu. Kadang aku berpikir soal pertarungan antara setan dan diri kita. Adakah ia berjuang keras untuk menyesatkan kita? Atau hanya kita yang takmampu bertahan menjaga keimanan yang terus menerus melemah tak tahu arah.

Seperti kecepatan detakannya, secepat itulah hati kita dapat berubah. Perjuangannya menuju kekukuhan membaja memang perlu kesungguhan. Apalagi bila ujiannya adalah kebahagiaan. Detaknya akan semakin memburu, kecepatan perubahannya akan semakin melaju. Jika kau takpandai menelisik satu-persatu usaha setan dalam menggodamu, bersiaplah menangis di ujung kisahmu. Putuskan untuk berhenti! Jangan campurkan kelemahan logikamu dengan Kemahaberkehendakan Allah! Semua kebetulan-kebetulan itu hanya ujian. Pernahkah ia menjanjikanmu sebuah kepastian? Atau hanya setitik iktikad baik untuk berjanji setia di hadapan-Nya?  Sungguh kau hanya sedang tertipu dengan kekosongan tempat yang kau jejali orang itu.

Embun.. kita berbeda. Kau dan aku sudah genap tahu itu. Lalu mengapa kita harus mencari-cari orang untuk membagi perbedaan ini? Berhentilah membagi penat atau bahagiamu kepada orang itu. Berhentilah menganggap deretan kata yang kau lihat di layar kecil handphonemu sebagai pernyataan dari mahluk bernyawa. Sungguh, realitasnya dia hanya manusia maya. Kau hanya mencintai sederet kata menggugah dari kode angka. Kau hanya mencintai kelegaan dari sebuah akun percakapan dengan sebuah nama samaran.

Embun.. sampai kapanpun kau takakan menemukan kekurangan lelaki itu. Karena kaulah ketaksempurnaan itu. Kau dan dia amat berbeda. Oleh karenanya, logikamu berkata, ia sempurna dan kau taksempurna tanpanya. Ia sempurna dan kau takperlu menyempurnakan kekuranganmu karena cukup ada dia. Tanya pada nuranimu! Ketaksempurnaan itu bisa kau isi sendiri tanpa bantuan orang lain. Ada Allah Yang Maha Sempurna dengan mudah dapat menutupi kekuranganmu.

Ingatlah saat Allah dengan mudah membuatmu hafal ayat-ayat-Nya. Kemampuan itu bukan milikmu! Itu adalah karunia dari-Nya. Lalu mengapa kau memisahkan ketaatan sebagai sebuah taman dan pertemuanmu dengan lelaki itu sebagai padang ilalang lainnya. Kau seolah dapat dengan bebas berlari ke sana-kemari tanpa berpikir bahwa takada patahan dalam hidup ini. Allah melihatnya sempurna. Jangan sampai satu kebaikan kau hapus dengan puluhan keburukan yang menjelma kebahagiaan. Jangan permainkan Allah!

Allah adalah Allah! Ia bukan berhala yang kau persembahi ketaatan yang dengan kebaikannya dapat membuatnya menakdirkan serentetan kebaikan, menggerakan hati lelaki itu menujumu. Lalu siapa Tuhanmu yang sebenarnya? Allah yang sama denganku? Atau tuhan yang kau simpan dalam telpon genggam? Allah bukan mesin kebaikan yang bisa kau minta setiap saat. Dia bukan perantara antara kau dengannya. Dia adalah Pusat.

Embun… aku sayang padamu. Jangan terlalu lama berbahagia dalam kesemuan itu. Kita genap tahu bahwa kita berbeda dengan yang lain. Yang bisa mengisi kekosongan ruang itu hanya Allah. Ia tempat kita berkisah, berkeluh kesah. Ia yang menggenggam hidup kita. Seluruh isi hati ada dalam pengetahuan-Nya. Bahkan Allah-lah yang menciptakan isi hati kita. Mulanya akan sangat sulit memang, mendesak orang yang kita sekap dalam hati untuk keluar dengan cepat. Sakitnya takubah meregang nyawa. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya. tinggalkan dia secepatnya. Sebelum kau tersungkur dalam penyesalan pada kerak dosa yang kau perbuat di masa lalu. Yang kau sesali nanti bukan indahnya masa lalu yang mulai beringsut pergi, bukan ketiadaanya di masa depanmu, tapi dosa yang kau lalui dengan bahagia.

Namun, Dialah Allah Yang Maha Menyembuhkan. Saat sadar bahwa setiap yang bernyawa ada dalam genggaman-Nya, saat insyaf bahwa setiap isi hati yang takterkata sudah ada dalam rencana-Nya, maka tak sulit bagi-Nya untuk menenangkan hati kita. Saat tangisan tentang kenangan akan pecah, ada enggan yang datang dengan sendirinya. Bukankan kenangan adalah bagian yang paling jauh dari diri kita? Bukankah Allah selalu menutup mata pada masa lalu kelam kita? Dia-lah yang selalu mengingatkan kita pada perbaikan hari ini dan masa depan. Berlarilah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya pelarian. Melepaskan genggaman tangan lelaki itu memang sangat sulit. Namun, jangan biarkan kau harus berjuang keras untuk menggenggam tangan Allah sehingga perjuanganmu akan terasa amat sakit. []

Bersambung……

#1 PENYELINAP [akuan]

: Embun

Apa kabar? Terima kasih telah bersedia menyimak ceritaku. Semoga embun matamu takmenetes setelah ini. Karena ia berharga. Hari-hari tanpamu menjadi biasa-biasa saja. Hmm.. Sejak kapan aku  mengganggap hari menjadi spesial? Kau pun tahu bahwa hariku selalu begini-begini saja. Mungkin karena rutinitasku takberubah, atau karena aku telah menggantungkan perubahan kepada orang lain. Jikapun  berubah, perubahannya hanya bagai siput yang beringsut dari inchi ke inchi. Ah.. kembali pada ketiadaanmu. Semua biasa-biasa saja, hanya mungkin takada yang menguntitku dengan pertanyaan soal menulis, soal masa depanku, soal penyelinap itu, dan soal kucing-kucing bersama majikannya.

Yang agak menggangguku justru tentang orang baru yang datang ke tempatku. Dia amat lembut dan berperawakan persis denganmu. Kadang aku berpikir, “Kau takakan benar-benar pergi dari tempat ini sebelum Tuhan mendatangkan orang yang mirip denganmu.” Ah.. akhirnya ia pun datang. Dan yang mencengangkan, dia penyuka warna hijau. Ia bagaikan dirimu waktu belum tercemari oleh warna biru. Ia benar-benar polos, cerdas, dan baik hati. Ah.. kadang aku pikir, ada sebagian dirimu yang ia ambil. Atau kau harus segera berbenah, berkemas, agar takterjebak dalam labirin gelap bersama kucing-kucing dan majikannya itu. Soal penghuni baru itu, kucukupkan sekian. Aku justru rindu mendengar ceritamu di sana. Bagaimana kisah indah tempatmu diobati kini? Kisah kucing-kucing dan majikannya dapatkah aku mendengar ceritanya lagi? Atau soal embun di negeri sakura, sudahkah ia kembali? Semoga kau dapat menceritakannya kepadaku.

***

Nampaknya kau sedang tertarik dengan cerita penyelinap itu, bukan? Beberapa hari lalu ia mengagetkanku. Senja itu, awalnya kami hanya berbincang tentang pernikahan seseorang dan persiapannya. Hmm.. orang yang kami bicarakan telah menyiapkan pernikahannya sejah 120 hari akad nikah. Dengan tiba-tiba ia bertanya soal pernikahannya.

penyelinap     : Kalau aku akan menikah bulan depan, bagaimana menurutmu?

Membaca pesan itu rasanya tombol “ON” roller coaster hidupku kembali ditekan, nampaknya ia akan kembali lupa kapan harus menghentikannya.

langita              : siapa perempuan beruntung itu? ini sebuah peningkatan!

penyelinap    : belum tahu 😀

Mendapat jawaban itu penilaianku kembali ke titik nol.

langita            :  kau akan menyiapkan pernikahan dalam hitungan 30 hari?

penyelinap    : pekan lalu, ada yang hanya 4 hari

langita             : menikah bukan sedang mengajak orang lain untuk nonton bioskop, Tuan!

penyelinap    : tak ada yang takmungkin bagi Tuhan

Embun, Kau mengerti apa yang dikatakan lelaki itu? Samar bukan? Tapi menurutku, itu adalah pernyataannya yang ini amat melegakan. Dunia sudah takmemberatkannya soal takdir. Ia sudah sedikit mengerti bahwa pernihakan adalah sesuatu yang amat ruhaniyah. Ini tentang bagaimanan takdir-Nya -yang serupa kematian- dirayakan. Ini tentang membaca dengan pembacaan yang paling cermat apa yang telah dituliskan Tuhan di langit. Ini tentang pembacaan iman.

Aaah.. Roller coaster itu berpacu lagi, bahkan kecepatannya diduakalikan. Selepas perbincangan itu tiba waktuku pulang dari kantor. Di perjalanan senyum di wajahku takhenti tersungging. Sukma dan logikaku berdialog sahut menyahut.

“Bagaimana kalau aku harus menikah bulan depan? Rambutku belum memanjang dengan sempurna. Berat badanku belum stabil. Krim pemutin ini belum genap sebulan aku gunakan!”

“Bukankah pernikahan takhanya bicara soal fisik semata? Kau sudah belajar banyak setahun ini. Kepergiannya waktu itu sudah membawamu pada berbagai persiapan bukan?”

Aku bahkan takgenap mengerti perkataan mana yang diajukan sukma, mana yang disampaikan logika. Yang paling pasti, percakapan tadi menggerakkanku untuk memutar MP3 handphoneku dengan senandung ini,

“ku berdoa untuk dia yang kurindukan
Jangan pernah lupakan aku jangan tinggalkan diri
Jangan pernah lupakan aku jangan pergi dari aku”

Seperti yang kau tahu, aku takpernah membiarkan keraguan merajaiku dalam waktu lama. Aku butuh tahu perempuan itu. Menurutmu aku tanyakan langsung, atau aku tunggu dia menanyaiku? Apakah seorang perempuan bertanya langsung tentang keberadaanya dalam skenario seorang lelaki adalah sebuah dosa?

Sukma dan logikaku kembali berdebat,

“Padahal pertanyaan itu sudah bertahun lalu dijawabnya. Padahal berkali-kali ia memintamu untuk menawarkan hati ini.”

“Tapi mengapa ada bahagia ketika mendapat pertanyaan bagaimana darinya?”

“Padahal boleh jadi, itu adalah paling standar dari seorang lelaki pengecut.”

“Tapi mengapa dia bercerita soal pernihakan jika bukan bermasud menikahiku?” Ah.. logika memang selalu mengakali kemungkinan dari setiap ketidakmungkinan.

“Lelaki labil selalu bisa menembakkan pelurunya ke segala arah. Sudah berapa lama ia kenghubungimu? Takterpikirkah dia sedang bercerita tentang dirinya sendiri dan orang lain? Dia hanya sedang bermain-main denganmu!”

Selepas angkot yang kutumpangi berhenti,  kutemukan satu simpulan: aku harus bertanya langsung padanya!

Bersambung..

*sengaja dibuat lebih realis biar mudah dimengerti 😉

gambar jepretan siriusbintang

Surat Untuk Adik Kecilku

Bergerak jemarinya di atas agenda kecilnya, menggambarkan suasana hati yang sedang tak mampu mengadu pada siapapun yang mengacu pada waktu.

“…waktu itu makhluk yang tak pernah diam
Alam semesta juga tak pernah diam
Angin pun selalu berhembus, tak pernah diam
Masihkah manusia malas-malasan dan tetap diam
Malam dan siang selalu hadir disiplin setiap hari
Tata surya sangat disiplin mengelilingi matahari
Planet buni bergerak disiplin dalam rotasi
Nafas dan denyut jantung berdisiplin sebelum mati….”

Afifah berhenti sejenak dalam sajaknya. Mengingat sosok yang ia kagumi sejak dulu.  Sosok yang memotivasi dan memperkenalkan ia dengan keindahan kalam-Nya. Sosok yang kini hanya menjadi bayang-bayang motivatornya. Di bukanya kertas putih bergaris folio.

“…adikku, pernahkah anda berdialog dengan Allah? Tuhan kita secara langsung tanpa hijab? Tentu tidak ada yang pernah merasakannya dan mustahil kecuali Nabi Musa yang beruntung berbicara dan bisa melihat cahaya-Nya. Benar! Ia hanya diizinkan menatap nur-Nya di Gunung Tursina. Allah menampakkan cahaya-Nya supaya bisa berdialog dengan makhluk-Nya. Siapa yang tidak ingin berdialog dengan Allah, curhat kepada Tuhan yang Maha menciptakan kita. Curhat pada raja diraja alam semesta. Allah Maha Kuasa. Maha Sempurna. Maha Lembut. Maha Bijaksana. Maha yang semaha-mahanya. Kita hamba yang dhoif dan hina lalu ingin curhat kepadaNya. Wah, alangkah mulianya, suatu kehormatan yang tiada terkira.

Adikku, curahan hati adalah pelepas rasa. Pelepas beban dari segala tekanan dan himpitan hidup. Lalu kita lepaskan beban dan rasa itu kepada Allah. Mencurahkan hati itu kepada Alah sepenuh harap, kepatuhan, sampai kehampaan dosa. Tapi bagaiman caranya, kapan waktunya, kondisinya seperti apa, mengapa harus curhat kepada-Nya dan apa hasil curhatnya? Bukankah cahaya-Nya tidak terlihat mata, cahaya-Nya tidak terindera, tidak nampak, terbiaskan oleh ruang dan masa? Yang ada sekarang hanya cahaya –cahaya tua seusia dunia, yang makin meredup. Cahaya matahari pun semakin kehabisan energinya. Cahaya bintang banyak yang hilang. Lalu planet-planet berpamitan. Cahaya cakrawala mulai mengerut. Dan akhirnya menyempit kembali ke titik semula. Alangkah malangnya dunia yang kecil dan sementara. Masihkan mau curhat kepadanya dan memburu bangkainya? Alangkah tertipunya manusia yang rindu pada dunia.

Adikku, mari kita mencari cahaya Allah yang abadi itu. Menerobos celah-celah kegelapan lalu menembus sisa warisan cahaya Allah yang masih tersimpan di bumi ini. Lalu kita bisa menatapnya, merasakannya. Memahami pancarannya. Yang lebih terang dari cahaya siang. Petunjuknya lebih lurus dari mistar. Kasih sayangnya lebih halus dari belaian kain sutera. Ungkapannya berbahasa indah. Puitis. Sentuhan tema bervariasi. Kisahnya sangat rekreatif. Ilmunya mengajak untuk berwisatadan berimajinatif.

Tahukah, apakah cahaya itu wahai saudaraku?

Cahaya itu adalah kalam-Nya, firman-Nya. Dialah yang disebut Allah bernama Al Quran. ‘Bacaan’. Nurnya masih hadir di dunia kini, yang banyak cahaya lampu listrik tapi gelap petunjuknya. Ayo marilah kita berdialog dengannya, kepada yang merindukan menatap wajah Allah sejelas purnama bulan yang bukan hanya cahayanya di surga kelak. Mari kita curahkan segala isi hati kita pada Al Quran. Ungkapkan perasaan terdalam kita kepada Al Quran. Membuka belenggu kecemasan. Gelisah jiwa dengan curhat kepada Al Quran menjadi tenang. Akhirnya bergembira ria. Perjuangan pun terasa.

Tentu harus berkenalan dulu dengannya. Dengan perkenalan yang akrab dan sempurna. Pelajari nama-namanya yang indah. Fadhilah yang besar. Syafaatnya yang tinggi. Kisah-kisah rahasianya yang menguak masa lalu dan menembus masa depan. Bersahabatlah dengannya! Untuk kita kenali karakternya, tabiat kepribadiannya, sifat buruk manusia, perintah dan larangannya. Berteman mesra dengan maknanya. Kita mengenali secara mendalam tentang Al Quran barulah bisa curhat kepadanya secara rutin dan seksama.

Hai! Ternyata Al Quran itu menjawab semua isi curhatmu. Menyimak keluhan dan pengaduanmu. Begitu perhatian. Al Quran terus menatap matamu yang sendu. Semangatmu yang kembali layu. Tenanglah. Terus berharap jangan putus asa. Masalahmu akan direspon dengan lembut dan bijaksana. Adikku…pernahkah merasakan semua itu? Bukan satu kali tapi berkali-kali. Al Quran secara ajaib juga mengenali siapa dirimu, karaktermu, sifat keprobadianmu. Insin bersahabat dengan akrab denganmu.

Curhat kepada Al Quran harus dengan pengulangan yang berkali-kali. Bukan pertemuan biasa di pinggir jalan. Tapi pertemuan khusus di waktu yang rutin. Sudah dibilang curhat kepada Allah salah satunya dengan curhat kepada Al Quran, kalam-Nya, firman-Nya. Berbeda kalau curhat kepada teman, guru, orang tua, ustadz. Mereka kadang tidak merespon karena ada bayaran. Kadang bosan, tidak perhatian. Kadang marah dan salah dalam memberikan solusi permasalahan. Lalu kita pun kecewa untuk mencurahkan hati lagi kepada mereka.

Curhatlah kepada Al Quran. Anda tidak akan kecewa. Al Quran tidak akan bosan mendengar lantunan suaramu. Sampai anda merasa bosan sendiri, atau ketagihan terus menyampaikan lantunan pengaduan berkali-kali. Al Quran tidak akan salah. Tidak akan menyimpan baik dari kira ataupun kanan. Tidak memberimu keputus asaan.

Al Quran selalu mendengar curhatmu itu dengan pendekatanmu. Bersahabat akrab dengan pendekatanmu. Maka dengan modal tilawah, tahfidz muraja’ah , tadabur, amalan dan dakwah, hidupmu insyaallah selalu bersama Al-quran berada dalam naungannya. Tentu tidak sampai disini. Kalau Al Quran sudah hadir di hidupmu, mengalir di jiwamu, memenuhi lisan dan akalmu. Terlukis dalam akhlakmu. Mari kita teruskan perjalanan. Karena jalan masih panjang dan banyak tugas besar.

Curhatku ini adalah proses sepanjang masa!
Karena perjuangannya di jalan yang panjang.
Allahu akbar!!!

Sudut kanan masjid,
Akhir malam, 02.00.

Cerpen dari blog Nabila Jazakillah inspirasinya ^^8

Berita Pernikahan*


“Hal yang paling menyedihkan adalah merasa sedih dan kehilangan sesuatu
yang tidak pernah kita miliki” (shabira ika)

Berita pernikahan itu menggetarkan hatinya, mengoyak penantian rumpangnya yang hari demi hari ia tambal dengan harapan akan berubahnya sebuah keputusan. “Bukankah doa dari hati yang ikhlas dapat membuat-Nya mengubah ketetapan? Bukankah bersama doa selalu ada pengabulan di belakangnya?” Ia kembali meyakinkan diri.

Berita pernikahan itu membuat hatinya penasaran. “Dengan siapa lelaki berperawakan jangkung itu akan melayari samudera kehidupan barunya?” “Siapa perempuan yang membuatnya menjadi lelaki paling pemberani, memutuskan satu langkah besar? Dengan siapa ia akan melangkahkan kakinya ke Surga?”

“Sudah! Jangan kau garami lukamu!” ujar salah seorang sahabatnya.

“Aku hanya penasaran,” ujarnya tanpa bisa membendung tetesan lembut dari matanya.

Lelaki sahaja itu memang masih muda tapi ilmunya sudah jauh melebihi usianya. Kapasitas manfaatnya sudah merambah jauh, ribuah kilometer dari desa tempat tinggalnya. Tidak ada satu perempuan pun yang berani menolaknya. Namun, apalah daya seorang perempuan. Bagaimana bisa menolak jika dipilih pun tidak. Air matanya kembali menetes saat mengenal masa-masa perkenalan dengannya. Bertemu pun tidak, tapi karya-karyanya membuat perempuan itu dan setiap orang ingin lebih mengenalnya.

Berita pernikahan itu semakin jelas kebenarannya. Lelaki cerdas itu mengaku bahwa dirinya telah melamar seorang perempuan. Tentu bukan perempuan itu yang sedang berselisih dengan waktu agar ia berhenti saja atau kembali ke masa lalu.

“Nampaknya yang terpilih adalah perempuan yang sekantor dengannya,” ujar perempuan itu.

“Mungkin,” jawab salah satu temannya takbegitu yakin.

Berita ucapan selamat atas kelancaran pernikahannya dengan perempuan itu sudah mulai berdatangan. “Mereka memang satu kantor, satu pekerjaan, satu perjuangan, pantaslah jika dinikahkan.” ujar perempuan itu. Namun, pengumuman yang pasti tentang pernikahan itu belum juga muncul. Rasa penasaran semakin menggerogoti keyakinannya pada penantian.

Berita pernikahan itu memang benar adanya. Tuhan telah menggenapkan penantiannya. Ia menyudahinya, semua yang terjadi sudah tertulis di buku-Nya. Tinta sudah mengering, waktu sudah bergulir, air mata sudah menetes. Kini saatnya perempuan itu menyeka air matanya dengan tangannya sendiri.

***

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab-Nya (Lauhl Mahfudz) sebelum Kami mewujudkanya. Sunggu yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati atas apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira atas apa yang telah diberikan-Nya kepadamu...(Al Hadid 22-23).

*belajar bikin FF ^^8
** foto dari sini

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript