Membaca Ojek Syar’i dari Jauh

ojek-syari-660x330

Tulisan ini dibuat setelah aku mendapat sebuah broadcast dari seorang teman perempuan di sebuah grup alumni kampus. Broadcast itu berisi tentang lowongan ojek perempuan yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan. Pesannya lengkap dengan rincian keuntungan yang akan dicapai dan beberapa persyaratan berupa surat-surat formal. Pengumuman tersebut memberi citra bahwa tawaran kerja ini resmi, serius, dan keuntungan yang akan didapat pun menjanjikan.

Mitos Gojek

Kemunculan ojek syar’i taklepas dari boomingnya Gojek baru-baru ini. Bermodalkan sebuah app bernama Gojek, seorang lulusan universitas luar negeri dapat menjadikan ponsel pintar android beralih fungsi menjadi pangkalan ojek. Teknologi yang digunakan mungkin saja lama, tapi peruntukannya yang membuat ia sangat berguna bagi penggunanya. Pada waktu itu, entah kapan, aku lupa tanggalnya, Gojek jadi berita yang “gegap gempita” di media massa Indonesia. Seperti tersirap, semua media menyoroti Gojek dari berbagai sisi – keuntungan perusahaan, latar belangan CEO-nya, dll. Banjir berita soal Gojek ini membuat citra kesuksesan perusahaan ini memang nyata. Padahal, (sebagai orang Bandung dan gak gaul) aku jelas-jelas tidak pernah melihat satupun Gojek di jalan raya. Citra positif perusahaan Gojek pun menggelinding di masyarakat Indonesia yang sedang betah menjadi masyarakat virtual. Segala realitas yang didapat adalah realitas virtual. Turkley menyebutkan bahwa realitas virtual memberikan gambaran kehidupan yang lebih nyata dibandingkan dengan kehidupan nyata, (Lubis, 2014:185). Berita yang disampaikan media massa diterima masyarakat dengan bulat-bulat tanpa mempertanyakan kembali. Barthes menyebutnya dengan kepercayaan palsu. Berita tentang Gojek serta-merta membuatnya menjadi perusahaan sukses. Aku yakin pemiliknya merogoh kocek yang taksedikit untuk strategi pertama ini.

Dalam obrolan urban yang berjudul Tiada Ojek di Paris, Seno menyebutkan bahwa,

ojek adalah bukti kreativitas dalam usaha survival kelas bawah dalam tingkat kemakmuran ekonomi seadanya yang bisa diperjuangkan negara baik dari masa pemerinta Orde Baru sampai Reformasi. Bahwa di satu pihak ojek dibutuhkan di Jakarta adalah bukti terbatasnya jangkauan pemikiran pemerintah DKI, di lain pihak bahwa manusia terpaksa menjadi tukan ojek sebagai alternatif satu-satunya, adalah bukti terbatasnya lapangan kerja dalam struktur yang mampu disediakan pemerintah Indonesia. Kepentingan tukang ojek hanyalah makan untuk hari ini, dan kepentingan pengguna ojek adalah sampai tujuan secepat-cepatnya, (2015: 189).

Kemudian kita dihadapkan dengan iklan-iklan Gojek app di bagian bawah twitter atau app lain ketika online. Gojek mulai menyelinat dalam kehidupan vertual kita. Selanjutnya mulai muncul ojek-ojek yang berjaket dan berhelm Gojek (mungkin) di Jakarta. Realitas virtual mulai ditunjang dengan realitas fisik. Bulan Ramadhan Gojek memberikan diskon kepada penggunanya. Tanpa diminta, pengguna jasa Gojek mewicarakan pesan ini. Pada saat itu Gojek sedang dimitoskan oleh masyarakat. Momentum tidak disia-siakan oleh pemiliknya. Bergulir berita baru tentang kesuksesan driver Gojek yang berpenghasilan puluhan juta. Strategi ini diambil tentu untuk memperbanyak ojek-ojek online dan memasarkan Gojek  app.Pemitosan ini nampaknya berhasil.

Sejak kemunculan Gojek, citra tukang ojek sudah bergeser dari pemikiran Seno. Menjadi tukang ojek juga ternyata adalah profesi sampingan yang menguntungkan. Memang, pada obrolannya, Seno pun menyebutkan, dari sisi kecepatannya ojek bukan sepenuhnya menjadi sarana transportasi kelas bawah. Keserbacepatan dunia metropolitan bahkan membuat para menteri menggunakan ojek untuk menerobos kemacetan. Di kota metropolitan, kini profesi tukang ojek naik kelas. Tidak hanya cepat untuk penggunanya, ojek juga menguntungkan dan menjadi pekerjaan resmi. Surat- surat formal yang menjadi persyaratan seleksi adalah penanda keresmiannya. Beramai- ramai orang mengantre mengikuti seleksi Gojek. Katanya “ingin mencari penghasilan tambahan.” Bahkan seorang sarjana pun tertarik untuk ikut menjadi ojek. Fakta ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Gojek telah menjadi mitos.

Latah Ojek Syar’i

Hingar-bingar Gojek ini lantas menyuntik semangat seorang perempuan muda yang peduli terhadap mobilitas muslimah yang rendah. Ia memunculkan ide Ojek Syar’i yang terdiri dari perempuan dan khusus mengantar perempuan. Biasanya bantuan ojek ini diperlukan untuk dua kondisi darurat. Pertama, untuk menjangkau jalan yang tidak dilalui angkutan umum. Kedua, ketika harus menempuh jalan-jalan yang sudah tidak dilalui angkot pada malam hari.

Tolak-Gojek-9-7-2015-30

Sebelum berbusa-busa bicara, aku ingin mengamini pernyataan Seno soal Jakarta sebagai kota Postmodern. Ini ditandai dengan hiperrealitas (lebih nyata dari nyata) dan simulakral (imitasi tanpa adanya keaslian). Ini juga aku rasa terjadi di Bandung. Berita media massa sudah lebih realitas dari realitas. Berita kesuksesan driver Gojek sudah  lebih nyata dari para tukang ojek yang beramai-ramai memasang spanduk “NO GOJEK” di pangkalannya. Berita driver Gojek perempuan yang dipukuli oleh tukang ojek lebih nyata dari faktanya yang ternyata mengalami kecelakaan.

kecelakaan

Ketercengangan manusia kota Postmodern atas hiperrealitas inilah yang melahirkan Ojek Syar’i. Kata syar’i yang sedang booming saat ini pun menjadi pijakannya. Hijab syar’i, bank syariah, asuransi syariah, dan berbagai hal yang diembeli syar’i dan syariah lagi-lagi menjadi alat pemitosan sebuah produk komoditas. Idenya adalah dengan menggunakan ojek perempuan, perempuan -terutama muslimah dapat mendatangi tempat yang tidak terjangkau angkot/ mobil umum tanpa harus naik ojek (yang mayoritas laki-laki). Tanpa berdua-duaan dengan laki-laki di motor, perempuan / muslimah dapat cepat sampai di rumah ketika pulang malam dan tidak ada angkot.

Yang terlupakan adalah nasib perempuan yang mengambil beban sebagai tukang ojek syar’i. Apabila dia mahasiswa, bukankah seharusnya fokus kuliah? Normatif memang. Apalagi untuk dijawab oleh mahasiswa yang aktivis dakwah. Mungkin akan berkata, “kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengantar muslimah?” Mereka semacam mengambil beban penyelamatan muslimah yang ingin bepergian tapi tidak mau naik motor bersama laki-laki yang bukan mahram. Lantas bagaimana kalau perempuan ojek syar’i ini adalah ibu rumah tangga? Makin hancur lagi nampaknya. Bagaimana nasib urusan rumah tangga, pendidikan anak-anak? Yang jadi pertanyaan lebih besar lagi, suami mereka ke mana?

Tugas muslimah sebagai ibu peradaban akan dipindahkan ke pundah siapa? Jadi, waktu senggang mahasiswa muslimah dan ibu-ibu muslimah yang bisa digunakan untuk aktualisasi diri harus dipakai untuk narik ojek? Kapan mereka bisa baca buku? Kapan mereka bisa ngafalin Al Quran? Kapan mereka bisa belajar resep-resep masakan yang baru? Kapan mereka bisa mengajari anaknya hafalan Quran?

Tugas dakwah memang banyak, tapi ada pundak-pundak yang lebih tepat bertugas menanggungnya. Agar tepat waktu, seorang muslimah tentu seharusnya terbiasa berangkat lebih awal. Agar takpulang malam, seorang muslimah tentu bisa mengerjakan tugas kuliah atau pekerjaan kantor lebih cepat dari perempuan biasa. Jangan sampai kebiasaan ngaret membuat muslimah lain harus menanggung beban dengan menjadi ojek syar’i. Jangan sampai kebiasaan pulang malam mengorbankan muslimah lain berkeliaran malam hari sebagai ojek syar’i.

043382000_1415607148-ojek

Beda lagi ceritanya jika ojek syar’i ini ternyata adalah ojek laki-laki yang motornya dihalangi dengan besi sebagai pembatas. Jadilah ia produk syar’i yang paling permukaan. “Tetap bepergian dengan lawan jenis yang bukan mahram tapi dihalangi lempengan besi bertuliskan ‘syariah’ sebagai pembatas.” Jika demikian, benarlah perkataan Nukman, “Ojek pun ada yg syariah, bentuk segmentasi pasar. Kelas premium.” Tidak ada nilai syariat sama sekali di dalamnya. Gojek dan Ojek Syar’i hanya membuktikan pernyataan Seno bahwa,

Homo Jakartensis (sebagai representasi kota besar dan Indonesia) adalah ndoro mas dan ndoro putri yang mboten kersa (ogah) berjalan kaki, (2015: 189).

Sekadar mengutip:

Ajidarma, Seno Gumira. 2015. Tiada Ojek di Paris. Bandung: Mizan

Lubis, Akram Yusuf. 2014. Postmodernisme. Depok: Rajagrafindo Persada

foto dari sinisini, sini dan sini

Advertisements

Kita Telah Berubah

ci

Ramadhan ketiga ini ditutup dengan gambaran umum soal apa yang menimpa umat Islam, khususnya kalangan anak muda. Mulanya dari pembicaraan soal gerakan kaum liberal yang sedang mengkampanyekan penghapusan arabisasi Islam di Indonesia. Bagian yang paling digugat adalah busana muslimah atau hijab. Pakaian serba hitam dan cadar menjadi  penanda yang digugat. “Lima atau sepuluh tahun ke depan Indonesia akan menjadi Arab.” Belum lagi istilah-istilah Arab banyak digunakan di Indonesia. Bahkan kata ikhwan dan akhwat yang sering muncul di WC masjid pun dibahas oleh mahasiswa/ dosen sastra Arab yang ikut-ikutan menyudutkan Islam. Ikhwanul Muslimin disebut-sebut sebagai salah satu yang memengaruhi kehadiran dua istilah ini. Seorang yang takpaham berujar, “Berarti kalau bukan saudara sedarah gak boleh masuk WC masjid dong!” Di situ kesalahan mereka. Mereka belum paham benar makna persaudaraan menurut Islam yang diimplementasikan oleh Ikhwanul Musliman. “Sesama muslim itu bersaudara,” sederhananya demikian. Namun, liberalis itu alfa soal prinsip ini. Untuk melawan ini, muncullah istilah Islam nusantara, Islam yang asli Indonesia. Salah satu produknya yang paling dekat kita saksikan adalah pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa.

Pagi pertama Ramadhan seorang ustadz membahas ini dalam sebuah kuliah subuh. Ia menyebutkan bahwa sejak kehadirannya, Islam sudah menjadi nafas kehidupan di Indonesia. Buktinya berbagai hal yang berhubungan dengan pengaturan masyarakat, mayoritas menggunakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata hukum, hakim, adil, musyawarah, wakil, mahkamah, dll berbahasa Arab. Apabila pegiat Islam Nusantara ini menggugat istilah Arab semacam ikhwan – akhwat, ubahlah dulu butir Pancasila. Kata keadilan, hikmat, permusyawaratan, perwakilan, dll dalam Pancasila ubah dulu ke bahasa Indonesia asli. Alih- alih mengubah yang Arab jadi Nusantara, justru ujungnya malah westernisasi. Akhirnya ustadz mengutarakan pernyataan paling aku suka, “Orang yang melakukan Arabisasi Islam dan Islam Nusantara, keduanya sama: fundamentalis. Islam ya Islam titik”

Ide Islam nusantara ini pernah terjadi pada Islam di Turki sejak kemunculan Mustafa Kemal Attaturk. Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merobohkan masjid itu. Cerita yang lain mengatakan, ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya. Sejarah mungkin berulang, liberalis Indonesia mungkin rada ketinggalan zaman. Mereka mau melakukan hal yang sama di Indonesia. Ya, semoga mereka juga belajar soal akhir hayat Kemal Attaturk yang mengenaskan itu. Kehadiran Said Nursi menggubah kisah Islam di Turki menjadi lebih baik. Lalu generasi kemudian, Erdogan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya soal posisinya.

“Speaking at Kanal D TV”s Arena program, PM Erdogan commented on the term “moderate Islam”, often used in the West to describe AKP and said, “˜These descriptions are very ugly, it is offensive and an insult to our religion. There is no moderate or immoderate Islam. Islam is Islam and that’s it,” (Source: Milliyet, Turkey, August 21, 2007).

Lalu, di Indonesia, siapakah pembaharu itu? Akhirnya pembicaraan kami berpindah pada kisah pelengseran Sukarno tahun 66. Seperti Said Nursi yang menyebar tulisannya dari penjara, Taufiq Ismail pun menyebar tulisannya kepada sesama mahasiswa untuk berbagi semangat. Kami pun membahas soal posisi mahasiswa di Indonesia. Saat ini mahasiswa sedang “dipindahkan” oleh pemodal media massa dari jalanan ke kursi-kursi penonton di acara-acara televisi. Kegiatan BEM pun saat ini lebih banyak mengundang grup band dan komedian. Kegiatan yang berhubungan dengan penelitian amat langka. Belum lagi hantaman budaya virtual saat ini. Mahasiswa sekarang lebih banyak ngegalau di media sosial ketimbang berkarya. Yang produktif nulis buku, kebanyakan ngegalau di puisi, cerpen, atau novel. Yang berprestasi di bidang akademik dan ilmiah juga ada, tapi jumlahnya sangat sedikit.

Setiap pulang kerja di angkot, setiap seangkot sama anak SMP, SMA, atau mahasiswa laki-laki, pasti yang dibahas adalah game. Bahkan ada yang rela begadang demi naik level sebuah game. It’s oke lah kalo game itu menghasilkan penelitian (baca: tesis). Kalau cuma buang waktu, mau jadi apa hidupmu? Nah, kalau perempuan sekarang lagi dihantam sama drama Korea dan boyband KPOP. *Yang nulis termasuk tersangka. Sometime aku jadi mikir, kalau game adalah part of life-nya cowok-cowok masa kini, apa jadinya generasi mendatang ayahnya tukang ngegame? Begitupun tentang perempuan yang kecanduan drama Korea, “Kapan sih mereka sadar dan bangun?” Aku bahkan curiga ada sekelompok orang yang dibayar oleh pemerintah Korea untuk mengunggah video drama Korea satu detik setelah drama itu selesai ditayangkan di TV. Penelitian ke arah situ kayaknya bakal lama dan multidisipliner banget.

Sebagai anak Kajian Budaya, Ya! Aku mengiyakan bahwa sudah sangat lama anak muda Indonesia digempur dengan imperialisme cultural. Ini lebih menyeramkan dari hantaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina menurutku. Muslim Palestina digempur secara fisik, ruhiyahnya menguat dan semangat perlawanannya hidup. Di Indonesia, gaya hidup dan alam pikiran yang sedang digempur. Akhirnya lahirlah generasi memble. Kapan semua ini akan berakhir? Bergantung kesadaran orang tua masa kini dalam mendidik anaknya di rumah. Itu hal minimal yang harus dilakukan. Namun, anak muda zaman sekarang gak mungkin dihadapi dengan konfrontasi (baca: larangan). Mereka harus benar-benar dipahamkan dan diarahkan.

Semua celoteh di atas bisa disingkat dengan kalimat Piliang:

mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171).

Satu solusi tawaran Piliang yang aku sepakati:

Di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kasih sayang, kedamaian, keadilan, kearifan, dan keshalihan. Kedua, kekuatan militer yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kesatuan, keamanan, stabilitas dan kekuasaan. Ketiga, kekuatan pasar yang dibangun berdasarkan prinsip keuntungan.
………………………………………………………………………………………………………………

Bagi Indonesia, milenium ketiga harus dijadikan sebagai milenium renaisans spiritual atau milenium kebangkitan agama. Agama harus dijadikan way of life, sehinggi tidak sekadar jadi benteng terakhir tapi justru menjadi energi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada kenyataanya konsep-konsep kejujuran, kerja keras, keterbukaan, kesederhanaan yang diperlukan dalam kancah globalisasi ekonomi dan informasi saat dewasa ini adalah konsep-konsep yang berasal dari agama.

Oleh sebab itu, menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi dari berbagai kegiatan ekonomi,sosial, politik tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menyambut milenium ketiga. Tantangan masa depan adalah menciptakan sebuah dunia hiper-modern yang bernuansa spiritual, sebuah supermaju yang berkearifan.

(Dunia Yang Dilipat, Piliang, 2011: 454).

*jurnal paling random

Jilboobs : Tubuh Tanpa Ideologi

Membahas wacana hijab style kurang seru tanpa membahas fenomena jilboobs. Julukan bernada pelecehan yang ditujukan kepada muslimah yang jilbabnya takmenutup dada dan mempertontonkan bentuk payudara (boobs) ini mencuat di media sosial pada Agustus 2014. Foto-foto muslimah berjilbab dengan kaos ketat dan celana jins yang membentuk bagian payudara dan bokong beredar di Facebook dan Twitter. Tagar jilboobs sempat ramai di lini masa Twitter. Sebagian orang mengutuk para penggunanya karena telah mencemarkan nama jilbab dan kehormatan muslimah. Sebagian yang lain menanggapinya dengan kesan lebih bijak. Para pengguna jilboobs sedang berproses menuji jilbab yang syar’i. Tidak sepantasnya masyarakat mengutuknya. Alih-alih semakin semangat menggunakan hijab, bisa jadi kutukan itu malah membuat pengguna jilboobs melepas jilbabnya.

Jika dirunut dari sejarah perkembangan gerakan menutup aurat di Indonesia, aliran berpakaian dengan mengenakan jilbab, tapi tetap memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh tertentu sempat menjadi tren pada tahun 1998 s.d. 2004-an. Hal itu bersamaan dengan booming film India di Indonesia, (Al Amin: 2014). Hal ini juga berbarengan dengan mulai berjilbabnya artis Inneke Koesherawati. Ia menjadi pusat tren jilbab gaul pada tahun 2002 yang juga disebut jilbab cekek karena helaian jilbab dililitkan ke leher. Model jilbab ini juga disebut sebagai jilbab pentul korek karena bentuknya yang menyerupai pentul korek. Gaya jilbab yang dililitkan ke leher tentu tidak sesuai dengan aturan Islam (menutup dada) sehingga bentuk payudara terlihat jelas.

Baju dan celana ketat adalah ciri khas komunitas berpakaian ini. Mengapa disebut komunitas? Sejak Januari 2014, setidaknya ada empat grup Jilboobs di jejaring sosial Facebook. Grup Jilboobs paling awal didirikan 25 Januari 2014 dan disukai oleh 9.330 akun (diakses 22/10/2014). Komunitas kedua diluncurkan pada 6 Februari 2014 dan dalam enam bulan sudah diikuti oleh 12.140 akun. Komunitas Jilboobs Lover yang didirikan 6 Agustus 2014 dalam sebulan sudah diikuti oleh 2.292 akun. Kehadiran komunitas-komunitas ini tentu bukan ketaksengajaan. Sebuah grup eksis di jejaring sosial tentu ada pembuatnya dan inisiatornya. Dari sisi kajian budaya, Jilboobs takberbeda dengan Punk yang merupakan aliran subkultur dalam fashion. Pengguna Jilboobs sedang belajar menggunakan jilbab tapi belum rela mengganti baju seksinya dengan jilbab yang serba tertutup. Ia juga bisa jadi merupakan protes terhadap pandangan bahwa pengguna jilbab takdapat terlihat seksi. Komunitas ini seolah ingin menyatakan, “Pengguna jilbab juga bisa terlihat seksi.” Fenomena ini terjadi karena tidak sedikit perempuan yang menumpukan citra kecantikan pada seksualitas tubuh.

Dalam kemudahan akses informasi saat ini, bertebarannya gambar-gambar pengguna jilboobs menjadi satu penanda hilangnya aura tubuh muslimah. Baudrillard menyebut zaman ini sebagai era akhir rahasia, (Piliang, 2011: 169). Aurat yang sejatinya menjadi rahasia seorang muslimah kini dengan mudah dapat terlihat oleh siapapun bahkan ketika ia menggunakan jilbab. Komunitas-komunitas Jilboobs di Facebook membagi gambar-gambar muslimah berjilbab seksi. Tanpa sadar, perempuan-perempuan yang gambarnya disebarkan oleh akun komunitas Jilboobs sedang menjadi tontonan. Pada awalnya meraka menganggap diri menjadi subjek popularitas. Padahal sebenarnya mereka sedang menjadi objek tontonan yang tanpa sadar memarginalkan diri mereka sendiri.

Menurut Piliang, dalam masyarakat tontonan, tubuh perempuan sebagai objek tontonan dalam menjual komoditas mempunyai peran yang sangat sentral. Menjadikan tubuh sebagai tontonan bagi sebagian perempuan merupakan jembatan atau jalan pintas untuk memasuki pintu gerbang budaya populer, mencari popularitas, mengejar gaya hidup, dan memenuhi kepuasan material, tanpa menyadari bahwa mereka sebetulnya telah dikonstruksi secara sosial untuk berada di dunia marginal, dunia objek, dunia citra, dan dunia komoditas,” (2011: 331-332). Ini dialami oleh muslimah yang foto-fotonya disebarkan melalui akun komunitas Jilboobs. Pada saat wacana ini ramai diperbincangkan di media, foto-foto mereka dicaplok oleh portal-portal berita online. Tidak jarang foto mereka pun menjadi bahan pelecehan terhadap jilbab. Keuntungan material takdidapat, malah ujungnya, popularitas yang didapat adalah sebagai citra negatif pengguna jilbab. Inilah yang dinamakan tubuh tanpa ideologi. Perempuan pengguna jilboobs seperti awan yang bergerak ke mana angin berhembus. Ia tidak memiliki pegangan yang jelas dalam berpakaian.

Fenomena Jilboobs yang lahir pada hiruk-pikuk wacana hijab style sebagai sebuah komoditas fashion hanya akan menjadikan pengguna jilboobs sebagai objek belaka. Jilboobs yang merupakan akronil dari Jilbab dan boobs. Secara semiotik kata ini mewakili komunitas perempuan beragama Islam yang familiar disebut muslimah. Boobs berasal dari bahasa Inggris yang berarti payudara. Payudara sebagai salah satu bagian tubuh menandakan sensualitas perempuan. Komunitas Jilboobs seolah menjadi agen pembuka rahasia yang selama ini ditutupi oleh muslimah pengguna jilbab. Dari sisi wacana, tanpa sadar komunitas Jilboobs sedang menanggalkan jilbab dan hijab kaum muslimah dan menelanjanginya. Ia menanggalkan jilbab sebagai identitas ideologis muslimah.

Dilihat dari segi bahasa, lagi-lagi boobs -bahasa Inggris- sebagai wakil dari Barat menjadi biang kerok pelecehan jilbab ini. Pamer tubuh sebagai citra eksistensi kecantikan di Barat mengontaminasi alam pikiran perempuan dan membuatnya mencampurkan antara aturan berpakaian menurut Islam dengan kriteria kecantikan versi Barat. Tubuh yang sejak awal dilindungi, dan diberi identitas dengan jilbab, malah dicampakan, dilecehkan dengan mempertontonkan aurat sebagai citra kecantikan ala Barat. Tubuh dilepaskan dari aturan Islam yang memproteksinya. Fenomena ini menjadi bukti lahirnya budaya ketelanjangan, budaya tanpa rahasia, tanpa hijab dalam dunia muslimah. Aurat sebagai wilayah pribadi dipertontonkan dan berubah menjadi wilayah publik. Tanpa disadari tren hijab style menjauhkan hijab yang digunakan muslimah saat ini dengan pakem hijab yang telah diajarkan dalam Islam.

*Mungkin tulisan ini sangat ketinggalan zaman, tapi takapalah. Sebetulnya ini menjadi salah satu bab dalam calon buku saya, tapi saya terbitkan di blog sebagai penanda bahwa ini adalah pernyataan saya. Bagi pembaca Yasraf Amir Piliang mungkin bisa menangkap kata atau frasa beliau yang memengaruhi tulisan ini. Demikianlah, pernyataan-pernyataan beliau dalam “Dunia yang Dilipat” memang hampir semua saya amini.

Jurnal Estetika Postmodernisme dalam Hijab Style

iklan jurnal panggung

Sebagai produk budaya postmodern, hijab style lahir di era tumpah ruahnya realitas semu. Citra modernitas, pemenuhan hasrat kecantikan, dan citra perempuan kelas atas dapat dibeli dengan cepat di toko-toko hijab online. Menurut Piliang, mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171). Desain hijab yang semakin jauh dari syar’i, harganya yang semakin tinggi, dan mencuatnya fenomena jilboobs menggambarkan bahwa pandangan masyarakat tentang hijab telah berubah. Pasar sudah mengubah hijab bukan lagi sebagai identitas melainkan komoditas bisnis.

Lalu dalam ceceran tanda-tanda ini sebagian besar dari kita hanya dapat berkata bahwa hijab style telah mengubah apa-apa yang dahulu melekat pada hijab dengan dalil syar’i yang sebagian orang awam takbisa menerimanya. Banyak dari kita kelelahan berkata bahwa hijab style sudah taklagi memperlihatkan identitas hijab tapi kesulitan membuktikan tanda identitas mana yang mulai terkikis. Oleh sebab itu, jurnal “Estetika Postmodernisme dalam Hijab Style” menjadi jawaban singkat saya tentang bagian mana yang berubah. Mengapa hijab style takdapat lagi disebut bagian dari hijab syar’i? Mengapa hijab style layak didakwa mengaburkan fungsi hijab sebagai identitas muslimah? Bukti-buktinya visual saya tampilkan dalam jurnal ini..

Jurnal ini terbit di Jurnal Panggung STSI Bandung Vol. 24 No. 1. Ia bergabung dengan beberapa jurnal lain yang membahas “Fenomena dan Estetika Seni.” Bagi teman-teman yang berminat memiliki jurnal tersebut silakan hubungi kontak pada gambar. Mohon maaf saya tidak dapat menjelaskan langsung di blog karena berkaitan dengan hak cipta. InsyaAllah ide jurnal ini akan saya cuplik dalam buku “Hijab Style Undercover” yang masih dalam penggarapan. Mohon doa, semoga lekas terbit.

Menguliti Cover Buku “Cinta Itu…” Karya @ManJaddaWaJadaa

cinta iitttu

Akhir-akhir ini dunia penerbitan memang sedang gandrung dengan akun-akun komunitas yang mulia mengabadikan tweet mereka dalam bentuk buku. Dari sisi komoditas, salahsatu penggiatnya adalah akun-akun islami dengan mayoritas follower remaja yang belajar Islam. Di lini massa, keshalihan bukan lagi barang langka. Ia jadi trend remaja muslim di era media sosial ini. Dengan misi melunturkan pacaran yang telah menjadi budaya alamiah di seluruh dunia, akun-akun islami ini lantas membawa ide jomblo mulia, menerjemahkan cinta sesuai dengan ajaran Islam. Seperti kita tahu, di masa ini cinta bagai kacang goreng yang dijual murah di pasar malam. Lagu-lagu, film, drama, buku-buku tumpah ruah menawarkan definisinya tentang cinta. Sebagai seseorang yang sudah tua Bangka (sok gitu guwe), aku mau cerita tentang satu sampul buku menarik yang berani-beraninya ngajarin soal cinta.

Jurnalku kali ini menyelisihi idiom orang Inggris “don’t judge a book by its cover,” yang disebut-sebut di buku George Eliot. Ide-ide singkat tentang cover buku “Cinta Itu..” sudah dibahas dalam ceracauku yang bertagar #keposemiotik beberapa waktu lalu. Menurut Barthes, cover buku merupakan mitos yang berisi ideologi di dalamnya. Melalui cover buku, seorang illustrator dan penulis sedang melesapkan, membungkus, dan mengekalkan ideologi yang ada dalam buku tersebut. Mitos baru dibangun untuk meruntuhkan mitos yang telah lama eksis di masyarakat. Ideologi dalam mitos adalah kepercayaan baru (kadang palsu) yang dibangun dengan motif tertentu. [ceritanya ini kajian teori #halah!].

Dalam cover buku “Cinta itu..” sebenarnya ada dua frasa tambahan, yaitu “memantaskan diri, dan memantapkan hati.” Dua frasa ini tentu dipilih untuk membangun ide besar yang terdapat dalam buku. Untuk sebuah judul buku, menggunakan tiga frasa memang terlalu panjang. Maka, dua frasa terakhir ditulis sebagai subjudul cover yang secara tidak langsung menjawab titik-titik kosong setelah frasa pertama. Secara verbal cover ini memberi jawaban atas pertanyaan, “Apasih cinta itu?” dengan jawaban “Cinta itu memantaskan diri dan memantapkan hati.” Lalu bagaimana citra visual menguatkan pesan ini?

Sebagai bacaan kalangan remaja, buku ini memang sengaja dibuat menggunakan ilustrasi kartun, bukan foto yang nyata. Secara sederhana cinta itu digambarkan dengan dua pasang kaki bersepatu perempuan dan laki-laki. Pesan pertama yang dapat ditangkap: ini tentang cinta antara adam dan hawa, bukan cinta dalam keluarga atau persahabatan. Ini tentang cinta kacangan yang benihnya sudah tersebar luas di seluruh dunia. Karena sudah kacangan, dari kulitnya kita dapat melihat kebaikan kualitas, kebersihan, dan nutrisi yang ada di dalamnya. Walaupun kacangan, jika ia berkualitas baik, bersih, dan bernutrisi, mungkin hati akan tergerak untuk memilih definisi cinta yang ditawarkan dalam buku ini. Dari sisi mitologi Barthes, cinta yang sudah kacangan di dunia ini merupakan mitos yang sudah eksis lama dalam kebudayaan manusia. Cinta membara, bergairah, buta, mempesona, bahkan berakhir kematian seperti dalam cerita Romeo-Juliet, Rama-Shinta, atau Kayis-Layla merupakan mitos cinta yang eksis di dunia. Sesengit itukah cinta?

Memang mitos ini terlalu berat nampaknya buat remaja-remaja yang notabene #Galauers #Alayers itu. Belum lagi kisan LDR yang menguras hati haahahaha! Berat banget nampaknya cinta buat anak zaman sekarang. Jadi gue harus mati minum racun dulu untuk tahu apa artinya cinta? Masa gue harus mati buat tahu apa artinya cinta? Dengan gambar kartun, buku ini semacam banyolan yang bilang “gaaaak usaaaaaaah!” Frasa “memantaskan diri” dan “memantapkan hati” juga jadi jawaban sederhana dari pertanyaan besar yang muncul akibat mitos-mitos cinta yang eksis sebelumnya.

Dua pasang kaki yang berhadapan jadi penanda bahwa saat memantaskan diri dan memantapkan hati harus ada jarak antara laki-laki dan perempuan. Bahkan cinta adalah jarak antara mereka. Walaupun dilihat dari gambar, kepantasan dan kemantapan adalah garis finish pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang sedang berhadapan ini. Kaki menjadi penanda sosok karena dengan kaki manusia bisa move on atau move off. *kayak bener aja ni istilah qiqiqiqi. Bergerak selalu diawali dengan langkah kaki. Sejauh apapun sebuah perjalanan, ia diawali oleh gerakan kaki untuk langkah pertama.

Mengapa kedua kaki itu menggunakan sepatu? Ini adalah tanda kesiapan. Kesiapan seorang muslim itu digambarkan dengan formalitas sepatu. Ketika menghadiri wawancara kerja, kita pasti memilih menggunakan sepatu daripada sanda. Saat UAS atau UTS di sekolah atau di kampus mana berani kita menggunakan sandal (kecuali di Sastra Indonesia Unpad angkatan 2005 #abaikan) dan pasti bersepatu. Sepatu sebagai bagian dari fashion adalah cara seseorang menampakkan dirinya ke hadapan dunia.

Perempuan dalam sampul ini digambarkan dengan sepatu feminin bukan cepatu cats atau sandal gunung. Ilustrasi ini berpesan bahwa kepantasan seorang perempuan dalam cinta adalah ketia ia telah menemukan femininitas dalam dirinya. Pantaskan dirimu dengan mempersiapkan diri menjadi perempuan sesungguhnya. Dua kaki perempuan itu merapa lurus menandakan bahwa memantaskan diri itu duduk manis menunggu, bukan agresif (*teriak pakek toa masjid). Untuk seorang perempuan, mencintai lelaki berarti sibuk memantaskan diri untuk menjadi perempuan terbaik baginya. Tidak memalukan bukan, memaknai cinta sebagai kesibukan memantaskan diri. Ini juga gambaran mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Ini juga pesan bahwa sebaik-baiknya menuntuk yang terbaik dari orang lain adalah dengan menyiapkan yang terbaik pada diri sendiri.

Femininitas dalam sampul ini bukan berarti fisik atau penampilan semata ya. Kasihan buat cewek or akhwat casual yang punya azzam untuk memantaskan diri. Kesempurnaan perempuan memang tergambar dari femininitas, ini sudah menjadi sesuatu yang membatu dalam Islam dan kebudayaan Indonesia. Sepatu feminin ini memang gambaran paling lugas untuk memeras makna femininitas secara batiniah, iner beauty kata orang Barat. Takperlu berbaju selalu pink untuk menceritakan bahwa kamu sudah bisa masak, pandai merajut, atau merawat bayi. Takperlu berjubah hitam untuk mengesankan bahwa hafalan Al Quranmu sudah hampir selesai. Sepatu feminin ini adalah gambaran iner beauty yang dimilik perempuan sebagai tanda kesiapan.

Laki-laki digambarkan dengan sepatu casual merah bertali putih. Hmm.. Banyak gak sih laki-laki yang pakek sepatu merah macem begini? Kayaknya sih mayoritas lelaki atau cowok alay yang berani pakek sepatu sengejreng ini. Kamu, iya kamuuu! Hahahah! Ngaku deh, di rak sepatu kamu ada kan sepatu merah macam begini?! Wkwkwk! Yah, yang namanya ilustrasi nggak akan jauh dari tanda-tanda. Walaupun maksa, mari kita artika warna merah atau mirip-mirip merah itu sebagai keberanian. Keberanian itu ada dua dalam cinta kata Ali Bin Abi Thalib: mengambil kesempatan atau mempersilakan. Nah! Soal ini, pesan antiPHP besar banget buat cowok. Kalau kamu cowok sejati, kamu berani maju dan berani mundur juga. Jangan ngasih harapan palsu ke cewek. Kalau sudah ngambil langkah, jangan pernah menyesal! Itulah yang dimaksud memantapkan hati.

Tali putih di sepatu cowok itu ada maknanya gak sih? Ya sudah, kita maknai saja sebagai liku-liku tantangan yang dihadapi cowok dalam memantaskan diri. Keberlikuan itu warnanya tetap putih. Seperti yang disebutkan sebelumnya, cinta yang sudah kacangan ini, carilah yang paling bersih. Putih ini jadi penanda kesucian proses memantaskan diri dan memantapkan hati dalam rangka mewujudkan cinta. Sebagai sebuah perjalanan, sewajarnya sih sepatu ini belepotan kotoran ya. Tetapi, nampaknya pesan kesucian sedang ditanamkan di dalamnya (illustrator: gue gak kepikiran itu sama sekali | aku: bodo amat!). Lalu mengapa sepatu casual yang menggambarkan lelaki dalam sampul ini? Cinta itu hak setiap orang, termasuk remaja. Memantaskan diri dan memantapkan hati adalah hak setiap orang juga. Walaupun masih abangan, selengean, belum mapan, gue juga berhak dong mencintai. *kata cowok alay. Kemantapan hati tidak selalu berbanding lurus dengan kemapanan finansial (yang biasanya digambarkan dengan sepatu pantofel).

Yang agak janggal dalam bangunan makna sampul buku ini adalah langkah kaki laki-laki yang terlihat tidak lurus. Pertanyaan yang akan muncul, “itu kaki mundur karena mau maju sebagai ancang-ancang atau mundur karena ragu-ragu?” Dari sisi semiotik, gambar ini membawa pesan keraguan. Sebagai masyarakat yang lekat dengan aktivitas tubuh bagian kanan, melangkah maju diawali dengan kaki kanan. Gambar ini menyiratkan kemunduran karena kaki kiri lebih maju daripada kaki kanan. Dalam memantapkan hati keraguan adalah tantangan paling biasa, asal jangan kelamaan.

Singkatnya, cinta (antara laki-laki dan perempuan) itu memantaskan diri dan memantapkan hati untuk menikah. Beruntungnya cinta diartikan sebagai proses, maka jodoh akan datang setelah dua proses ini. Boleh jadi jodoh datang saat memantaskan diri walaupun nyatanya belum pantas. Bisa jadi, jodoh datang saat memantapkan hati padahal hati belum benar-benar mantap. Untunglah Allah Swt menilai cinta dari proses bukan hasilnya. Jadi, cinta itu memantaskan diri dan memantapkan hati. Yang menentukan sudah pantas atau sudah mantap biar Allah Swt saja.[]

*gambar dari sini

Membaca dan Menulis

image

Pada masa aku kecil, membaca dan menulis adalah kemampun yang harus dimiliki anak sejak dini. anak kecil yang bisa membaca dan menulis lebih awal dinggap pintar. Usia SD awal bahkan TK lebih disukai jika sudah bisa membaca dan menulis. Padahal di finlandia, negara nomer satu dalam pendidikan mematok usia awal anak-anak masuk sekolah dasar adalah 7 tahun. Ini berarti pada saat itulah mereka belajar (serius) membaca dan menulis.

Salah satu madzhab linguistik menyebutkan bahwa parole (tuturan) adalah elemen linguistik paling utama. Semasa kuliah, aku tidak sepakat dengan pendapat ini karena menyelisihi madzhab strukturalis sebagai madzhab mainstream dalam linguistik. setelah mengamati perkembangan kemampuan bahasa anak-anak balita di sekitarku, nampaknya akuberubah pikiran.

Pada awalnya elemen bahasa yang dikuasai anak-anak (manusia) memang adalah tuturan. Bahasa sebagai alat komunikasi dipelajari seorang anak dari ibunya. Dengan bahasa tuturan (tanpa perlu bisa membaca dan menulis) seorang anak bisa survive menjalani hidup. Lalu, perlukah mereka belajar membaca dan menulis sejak dini?

Saat ini menulis masih menjadi profesi prestisius. Ketika kita bicara menulis, tentu yang dimaksud bukan hanya menulis huruf atau angka. Ini berkaitan dengan ide yang disampikan melalui tulisan yang ditulis. Ide-ide itu pun hanya bisa ada setelah proses membaca. Sederhananya, tidak ada aktivitas menulis tanpa membaca.

Membaca dan menulis berkaitan dengan ide. Anak-anak belajar membaca sejatinya sedang menyerap pengetahuan baru yang benar-benar belum mereka ketahui sebelumnya. Ketika belajar menulis, akan lebih asik jika aktivitas ini diisi dengan menceritakan kembali apa yang didapat dari bacaan yang sudah dibacanya. Oleh sebab itu, konten bacaan tidak lagi hanya tentang Ini Ibu Budi, Ini Bapak Budi yang absurd sejak dulu. Bahkan absurditas Aku anak sholeh pun setara dengan Ini Bapak Budi. Mengapa? Tidak sedikit orang yang bernama Sholeh di dunia ini. Poinnya, kejelasan ide dalam konten bacaan menjadi sangat penting. Ia bukan hanya ide religius yang tendensius harus ditanamkan kepada anak-anak, tapi juga rangkaian bahasa yang dikemas akrab dan mudah dicerna oleh anak-anak. Karena kita sepakat bahwa pada usia dini, anak-anak adalah kertas putih yang bisa digambari apapun. Salah gambar, salah pula pesan yang dihasilkan.

Jika kurikulum pendidikan 2013 yang banyak digugat oleh para profesor itu masih absurd, aku cuma titip sama guru Bahasa Indonesia kelas 1 untuk kreatif dalam membuat contoh kalimat. Guru Bahasa Indonesia harus banyak membaca hal-hal di luar pelajaran yang diampunya. Berilah pengetahuan baru pada anak-anak dan semangatilah mereka untuk menulis kembali apa yang mereka pikirkan. Membaca membuat mereka cerdas dan menulis membuat mereka berani menuangkan gagasan. Tidak ada salah dan benar dalam gagasan karena setiap orang punya daya tangkap masing-masing. Kalau sudah demikian, membaca dan menulis akan menjadi pelajaran yang dirindukan pada jenjang manapun.[]

foto dari sini

Perihal Boikot Produk Prozionis

boycott-bullets.560x388

Berita tentang bagaimana zionis menjajah Palestina telah sampai padaku sejak SMA. Seperti sebuah mimpi buruk atau bahkan film perang sadis, kejadian yang dialami warga Palestina takpernah terbayangkan akan terjadi di Indonesia. Seruan untuk memboikot produk-produk prozionis baru aku ketahui sejak kuliah. Setelah dilihat daftar produknya, waw! Barang-barang yang aku gunakan bukan hanya ada tapi banyak! Ada kecamuk di benak ketika memutuskan untuk mengganti barang-barang yang biasa digunakan. Sampai hari ini aku bisa katakan bahwa memboikot produk prozionis adalah sebuah perjalanan gaya hidup. Ini amat personal dan idelogis. Ini tentang kemana uangmu kamu belanjakan.

Produk-produk perusahaan prozionis ini banyak macamnya, ada yang takterhindarkan dan ada yang bisa disubstitusi dengan produk lain. Berdasarkan pengalamanku, yang takterhindarkan adalah intel yang ada di komputer atau laptop. Dalam keadaan takdapat menggunakan produk lain, pada bagian ini aku mengaku, aku punya satu intel dan sedang aku gunakan untuk menyerukan bahwa produk ini menjadi bagian dari produsen peluru pembunuh saudaraku di Palestina. Semoga tulisan ini bisa menggerakkan anak bangsa untuk membuat produk dalam negeri serupa intel bahkan lebih canggih dari itu.

Yang berkali-kali ditanyakan oleh rekan seperguruan soal boikot ini adalah Facebook dan jejaring sosial yang pemiliknya berdarah Yahudi. Aku hanya bisa bilang, media sosial ini aku gunakan untuk membagi gambar-gambar kedzaliman yang dilakukan oleh bangsa si empunya Facebook. Prinsipku mengacu pada Al quran, “Mereka punya makar, Allah punya makar. Allah sebaik-baik pembuat makar.” Aku dengan jelas dapat membayangkat keresahan zionis yang bekerja di Facebook ketika server mereka pada beberapa hari ini penuh dengan foto-foto kejahatan bangsanya. Mungkin boleh jadi mereka tertawa menang. Tetapi hati nurani siapa yang takakan gelisah membaca kutukan atas kejahatan mereka yang diunggah oleh ribuan bahkan jutaan orang dan lembaga di berbagai negara. Selain itu, masih banyak pula orang baik dan lembaga yang menggunakan Facebook untuk menyeru pada kebaikan. Menurutku, ini adalah bagian dari makar Allah SWT. Allah SWT memberi fasilitas menggunakan tangan musuh-Nya. Yang salah, adalah yang tidak menggunakannya untuk kebaikan.

boycott-card.jan2012.front.640

Perusahaan yang menyokong zionis rata-rata adalah perusahaan multinasional. Strategi marketinyapun tentu takmain-main. Yang ditawarkan bukan lagi produk tapi gaya hidup. Keyakinan palsu ditanamkan kepada konsumen yang kemudian mengubah gaya hidup. Contohnya, sampo Clear sebagai mitos sampo antiketombe di Indonesia. Ketika membaca produk sampo antiketombe yang diluncurkan oleh perusahaan dalam negeri, mungkin kita akan sok pintar mencari tahu bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Bagaimana produk ini bisa menghilangkan ketombe? Apakah benar rempah-rempah ini dapat membersihkan kulit kepala? Lalu dengan bodoh kita menyandingkan bahan-bahan yang tertulis dalam kemasan Clear dengan bahan-bahan yang terdapat pada produk sampo lokal. Demikianlah kepercayaan palsu itu dibuat oleh produsen Clear. Dengan tangan terbuka kita menerima penghinaan “Orang Indonesia cuma punya ketombe!”

Kepercayaan palsu ini membuat setiap orang ragu mencoba produk lain. Padahal Clear nggak bikin kepala bersih dari ketombe. Bahkan ketombe itu tetap ada dan bertahan karena kalau ketombe hilang, orang akan berhenti menggunakan Clear. Personalitas memboikot produk tersebut ada pada bagian ini. Relakah kita –yang seolah-olah sudah mempercayakan rambut kepada Clear- mencoba dan mengganti sampo dengan produk lain? Belum lagi dari sisi harga yang lebih murah, atau potongan harga yang lebih tinggi. Ah, cuma kasih sayang kepada sesama muslim yang bisa membuat kita (terutama perempuan) bergerak. Karena perihal kepercayaan terhadap sebuah produk konsumer di zaman ini berkaitan dengan hasrat. Hasrat ini bersifat bawah sadar, dan pengendalian hasrat hanya bisa dilakukan dengan rasionalitas ideologi yang mengakar dalam diri.

boycott-card.jan2012.back.640
Produk-produk yang masuk list boikot itu kualitasnya selalu lebih baik dari produk substitusinya. Ya! Benar sekali. Pemutih wajah, pelembut pakaian, kopi instan, minuman ringan, makanan siap saji, coklat, kosmetik, dan berbagai produk yang sudah seperti jaring laba-laba yang membelenggu kita itu dari sisi branding memang selalu terlihat paling baik. Namun, lagi-lagi aku katakan, itu hanya citra-citra yang dibuat agar kita sebagai konsumen terus menerus mereproduksi kebutuhan terhadap produk-produk tersebut. Saat meminum kopi di Starbucks pada dasarnya pahit yang kamu rasakan sama dengan pahit kopi tubruk di angkringan. Bedanya hanya satu, ketika kamu minum kopi Starbucks saat itu pula kamu sedang menyeruput darah rakyat Palestina.

Mereka yang suka berapologi acap berargumen padaku, “Orang Palestina juga minum Pepsi.” Atau, “Berdasarkan riset ekonomi, angka konsumsi negara-negara muslim terhadap produk prozionis ini tidak signifikan. Kita lihat lah, mayoritas muslim itu berada di negara miskin dan negara berkembang. Mana mungkin angka konsumsinya bisa berpengaruh terhadap pendanaan senjata untuk menyerang Palestina!” Lagi-lagi aku katakan, pemboikotan produk prozionis ini sesuatu yang ideologis. Ini bukan lagi tentang kepedulian kepada warga Palestina berdasarkan hitung-hitungan matematika. Bahkan rasa kemanusiaanpun takcukup. Ini sudah berkaitan dengan rasa cinta kepada saudara seaqidah. Ini tentang bagaimana Islam sebagai ideologi diintegrasikan dalam gaya hidup. Lebay? Bodo amat!

Bagaimana dengan orang-orang yang berteriak boikot tapi pada kenyataannya tetap menggunakan produk prozionis itu? Inilah yang membuatku setelah bertahun-tahun baru berani menulis hari ini. Aku amat takut menjadi bagian dari orang-orang yang menjilat ludah sendiri. Kembali aku katakan, memboikot produk prozionis merukapan perjalanan panjang tentang mengendalikan gaya hidup. Tidak semua orang bisa melakukannya dengan sempurna. Aku cuma bisa menyampaikan kalimat ustadzah Yoyoh Yusroh, “Bersikap ketatlah terhadap diri sendiri, dan berusaha longgar terhadap orang lain.” Ketika kamu yang membaca tulisan ini takpernah teriak-terika boikot tapi berkeinginan untuk memboikot, lakukanlah. Jangan biarkan mereka yang takkonsisten membuatmu terpengaruh. Jangan biarkan mereka yang goyah membuatmu memuntahkan pertanyaan nyinyir. Kita yang nggak ngaku aktivis dakwah tapi boikot produk prozionis dalam diam menurutku berkali-kali lebih keren ketimbang orang-orang yang ngaku da’i, antizionis, tapi di kamar mandinya masih ada produk prozionis.

Perjalanan gaya hidup ini seperti gelombang, ada pasang surutnya. Di depan kulkas eskrim kadang pikiran mulai mengungkapkan permakluman untuk sekali saja merasakan Magnum. Atau rasa penasaran dengan wangi parfum Kelvin Clain membuat kita balik kanan dari kios parfum isi ulang. Tapi itulah perjalanan. Kalau sudah mengalami sengitnya perjalanan ini, saudara-saudaramu di Palestina seolah menyapamu ketika memilih produk di swalayan. Mereka akan kamu ingat ketika mengambil satu demi satu bumbu yang ada di dapur. Mereka akan ada pada pilihan air mineral yang kamu minum ketika kehausan. Bahkan, mereka bisa tiba-tiba kamu ingat ketika memasuki kamar mandi teman, guru ngaji, atau orang yang baru saja kamu kenal. Produk-produk itu tanpa sadar bertebaran di sekeliling kita. Menghindarinya perlu perjuangan.

10384734_10202181152351272_8505087147279214557_n
Kalau sudah terbiasa, kamu akan merasa biasa-biasa saja berbelok dari Dunkin Donuts ke kios Donat Madu. Kamu akan merasa acuh menggunakan krim pemutih Wardah ketika yang lain memakai Ponds atau Maybelline. Kamu akan tenang-tenang saya makan di warteg ketika yang lain makan siang di KFC atau McD. Kamu akan biasa-biasa saya menyeruput kopi tubruk di angkringan ketika yang lain meminum Starbucks Coffee. Kamu akan biasa saja takpernah seumur hidup merasakan eskrim Magnum demi cintamu kepada sesama muslim di Palestina. Semua produk itu jadi indah karena citra yang ditampilkan dalam iklan. Padahal aslinya biasa-biasa saja. Biasa-biasa sajalah, karena hidup hanya tentang perjalanan yang berakhir dengan kematian. Yang menggiurkan di dunia hanya sementara. Keabadian itu cuma ada di akhirat. Di sana kita tidak akan ditanya tentang bagaimana manisnya eskrim Magnum, nyamannya ngopi di Starbucks Coffee, atau segarnya minum Coca cola. Tetapi, di sana kita pasti ditanya kemana uang kita dibelanjakan. []

*gambar dari sini

Tutorial Pashmina Syar’i [Menurutku]

Pashmina adalah kain unik yang bentuknya segi empat panjang. Buat akhwat jilbaber biasanya agak kesulita menggunakan bahan yang biasa digunakan hijabers ini. Namun, beberapa kali melihat teh Nina (Maha Guru dalam perpashminaan buatku), aku jadi yakin kalau aku juga bisa pakek pashmina syar’i. Kebetulan di lemari ada beberapa pashmina yang udah lama gak dipakek karena i have idea to use it. Alhamdulillah setelah bertemu teh Nina, aku jadi tahu cara menggunakan pashmina yang menurutku syar’i. Ini dia teh Nina Mahaguruku eheheh!)


Sebelum mulai menggunakan pashmina, yang aku sarankan: pilihlah pashmina yang tebal agar tidak menerawang dan kita nggak usah pakek jilbab daleman. *di peragaan ini pakek jilbab dobel karena untuk menutupi aurat* #eaaaaa


1. Bentangkan pashminamu. Hmm.. usahakan gunakan pashmina yang panjang. Kebetulan pashmina yang aku pakai kali ini panjangnya 2 meter.
2. Lipat ujung kiri sampe membentuk segi tiga
3. Pastikan bagian yang dilipat ada di sebelah kiri (ikutin madzhabku ya) soalnya ini kebiasaanku ahhahah!
4. Terus pashminanya dipenitiin seperti biasa. Karena wajahku bulet, aku pakek ciput topi. Setelah pakek peniti/ jarum pentul (sesuai kebiasaan) sisi kanan pasti lebih panjang dari sisi kiri. (eiya, ini sisinya berdasarkan gambar ya).

5. Tarik bagian kiri biar menutup dada
6. Penitiin bagian kiri sampai bahu belakang, pokoknya semakin ke belakang semakin oke hehe..
7. Nah sekarang tinggal mempercantik bagian kanan ^^8

8. Tarik bagian kanan pahsmina ke kiri sampe kainnya keangkat semua (jangan tanggung-tanggung ya) hati-hati kecekek ehehehe!
9 (tampak belakang)
10. (tampak samping depan)
11. Jangan lupa bagian belakang dikasih jarum biar diem (hati-hati kalo ketarik jarumnya bisa lepas)

12. Naaaahhh.. bagian kanan udah pindah ke kanan lagi hehe.. Setelah pakek jarum  tinggal ditarik sampe bisa menutupi bahu kita
13. Pakek bros buat nyambungin antara pashmina kanan dan kiri. Usahakan brosnya yang tajam dan kokoh biar kita nyaman dan gak ngerusak pashmina kesayangan kita
Selesai sudah pashmina syar’i yang Alhamdulillah tampak belakangnya lumayan lebar ^^8


Selamat mencoba.. kalau merasa bermanfaat, silakan share ke temen-temen biar pashmina mereka bisa dipakek dan tetep tampil syar’i dengan pashmina ^^8

~ Doakan aku~

NB: Gambar ini diambil dari kamar Zainab binti Huzaimah @baitulmaqdis

Soal aku yang ndut, ruangan yang acak-acakan dan wajahku yang penuh jerawat gak usah dikomenin yaaah ahahah!

Yang motret @essafatimah

Tutorial ini diajari sama teh Nina

Pashmina Syar’i [menurutku]

Setelah beberapa lama menunggu pertemuan dengan teh Nina, photografer yang suka motret dengan kostum pashmina. Akhirnya pekan lalu aku bertemu beliau juga. Karena tahu teh Nina bakal dateng di acara Sekolah Ibu, aku sengaja bawa pashmina buat belajar. Alhamdulillah akhirnya bisa juga makek pashmina yang syar’i *menurutku. Soalnya aku nyaman menggunakannya ke kampus saat presentasi di depan dosen ^^8

Langkah pemakaiannya aku bikin besok ya.. (kalo sempet). Sekarang aku posting hasilnya dulu 😀

Ini dia Gaya Pashmina Maha Guru

Nah, yang ini gaya Pashminaku ^^8

Okey! Tutorialnya klik di sini

MAHA PENGHIBUR

Kamu percaya nggak, Allah Swt Yang Maha Baik itu ternyata Maha Penghibur???? Kalau aku percaya dan yakin bangeeeeeeet! Kalau ada satu bagian hidupku yang do’a tentangnya sedang ditangguhkan, atau waktu pengabulannya belum tepat menurut-Nya, Allah Swt selalu memudahkan hidupku pada bagian lain. Aku yakin, bagian lain yang ia mudahkan dan sempurnakan itu adalah salah satu wasilah buatku memantaskan diri menyambut pengabulan do’a yang lain dari-Nya.

Beberapa waktu lalu aku nyari buku Hijab Style official diterbitkan oleh Hijabers Community. Pertama aku dateng ke Palasari. Ternyata bukunya nggak ada. Akhirnya aku malah nemu buku Elemen-Elemen Semiologi karya Roland Barthes. Aku beli buku ini buku Barthes memang langka, takut keabisan. Jadi, kepaksa beli.


Takmenyerah, aku nyari lagi buku hijab style ke Gramedia, tapi ternyata gak ada. Sempat sedih siy. Eh, ternyata aku nemu buku Hijab Street Style karya Dian Pelangi yang justru mendukung penelitianku. Buku Elemen-elemen Semiologi sama Hijab Street Style itu cetak pertama bulan September 2012. Jadi, wajar aja Allah Swt nggak menakdirkan aku kepikiran mau nulis tesis soal Hijab Style sejak sebelum Ramadhan, wong Dia menakdirkan dua buku itu terbit setelah bulan Ramadhan.

Yang mencengangkan lainnya, aku kan mau nganalisis hijab style dari sisi fashion atau gaya berpakaian ya.. Eeeeh, di teori elemen semiologi itu ada definis pakaian sebagai elemen semiologi. Howaaaah! Tambah bahagia ajah. Padahal beli buku itu aja nggak sengaja. Aaahh.. takada kebetulan di dunia ini. Semuanya sempurna diukur oleh Allah Swt.
Kemaren sore, hal yang sama kembali aku alami. Pas hati lagi perlu dirapikan dengan penuh perjuangan, lagi cemas gak jelas, tetiba chagie sms, “Teh, Hari ini aku ke Bandung, bawa buku pesananmu.. Kapan bisa bersua?” Begitulah Allah Swt merapikan hati yang sedang runyam. Akhirnya janjian sama chagi di Masjid Al Jihad Unpad. Di sana aku dapet 3 buku baru.

Semiologi Roland Barthes

Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya karya Benny H. Hoed

  Imaji, Musik, Teks karya Roland Barthes.

Setelah dapet buku, kami makan siang di WS sambil berbincang soal soal PILGUB Jabar, kepemimpinan orang Sunda, Perang Bubat, larangan orang Sunda menikah dengan orang Jawa, semuanya dari sudut pandang mitologi dan semiologi 😀 Senang sekali ada teman yang bisa diajak mengasah otak, memuntahkan satu bagian kepala yang mulai mendesak. Semoga hiburan dari Allah Swt ini tidak aku sia-siakan. Februari 2013 sudah ada di depan mata. Agustus 2013 sudah mulai berlari mengejarnya. Hap! Hap! Prioritas hari ini adalah ~> Amanah editing Buku Tauhiid, Hafalan Quran, Tesis, dan Adik Liqoan. Website Kemuslimahan KAMMI sama Website Sekolah Ibu gimana? *Hadeuuuh banyak yang harus dikerjain, tapi yang malah banyak tulisannya justeru blog ini ahahahah!

Semoga terselesaikannya amanah ini menjadi wasilah tibanya waktu yang tepat itu #Halah! Doakan aku temans! Doakan agar aku selalu punya alasan untuk berkata, “Takdir Allah Swt pasti selalu baik ^^9”

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript