Karma

Wangi tanah basah pindah ke hati yang pasrah
Gelisah leleh bersama lelah yang salah
Gemericik detik membidik pekik
Satu rindu tersapu sedu sendu

Biar waktu menjadi tandu
pengobat luka yang murka
Puji puja buta sirna
Hanya meminta: karma

 

* Balasan puisi untuk Sukab dalam #DuetPuisi

Advertisements

Nada Sumbang

 

girl_heart_balloon

: Sukab

Tanya menjelma berita gembira kepada lara sukma nan lupa rasanya bahagia. Bimbangmu merdu lagu sendu menyapu layu rindu yang meragu.

Katamu peluru lugu menipu waktu. Remang kenang meregang tenang centang perentang. Gerimis tangis nyaris habis. Perlahan Tuhan menjelaskan: Cinta bukan kata, bukan luka.

Yang Selalu Rindu

Maneka

 

Balasan puisi Sukab dalam #DuetPuisi

*gambar dari sini

Lelaki Musim Semi

image

: Sukab

percik cemburu takmampu menghancurkan kebatuan
setiamu pada ingatan
rinduku redup di kelam matamu yang menggugurkan
kepahitan dari petirahan kenangan

sejuk rayuan mengelabukan terik risau
pada katamu yang kemarau
aku ranting kering, terhempas
sebab kedukaan sekerat senja takmau lepas

biarpun beku di masa lalu
kau musim semi di nuraniku
subuhmu hangat mentari yang menyemai doa-doa
tentang kita

Aku dan Kamu

Yang Selalu Rindu

Maneka

Balasan untuk Sukab dalam #DuetPuisi

Derai Jiwa

broken heart

:Sukab

Kepada Pemeluk Bayang-bayang..

Kukira November tiba bersama renjana
Percaan pengabulan dibumikan hujan
Keracaknya memperkenankan harapan
Atas nama kita berdua

Ternyata penyambutan harus ditunda
Ia menyeret tanda tanya tentang hawa
Kelu aku mengeja namanya
Lebih dari satu dasawarsa ia hilang jiwa

Sabdamu mengusir desir ke Padang Pasir Lut
Mengasingkannya dalam kemelut
Kalbu beku di puncak Gunung Thor sebatang kara
Terpencil sukma dan raga

Wahai pemahat remang kenangan..

Bilah tanyamu menebas gerak batinku
Asa lunglai di pengasingan waktu
Yang kutahu hanya satu
Tuhan masih berpihak kepadaku[]

 

Yang selalu rindu
Maneka

 

Balasan puisi untuk Sukab dalam #DuetPuisi

Batas Waktu

danbo

Hai Sukab, pengerat senjaku, apa kabar? Aku mau cerita sesuatu nih…

Udah berbulan-bulan ya aku nggak cerita-cerita ke kamu. Ini kata-kata udah jlimet apa gimana gitu. Mau nyerita apa, aku juga bingung. Ngabisin waktu di kosan, di kamar, di masjid tanpa berhubungan sama orang lain, aku mau nyeritain apa coba? After all, akhirnya ada juga sesuatu yang mungkin jadi simpulan atau hmm jadi sesuatu yang bisa menjangkiti pikiran kita sebagai sebuah keresahan… mungkin ya..

Sukab, sang penggembiran, aku mulai memutuskan kediaman ini sejak Februari tahun ini. Terdiam emang kebiasaan aku siy, cerewet juga lebih sering. Tetapi kali ini jedanya cukup lama menurutku. Setelah selesai kuliah S2, ternyata Tuhan ngasih aku kuliah tambahan dalam perjalanan sunyi ini. Dramatis banget kesannya hahaha! Setelah lebih dari setengah usiaku meninggalkan rumah, merantau jauh untuk menuntut ilmu akhirnya aku dikasih izin nemenin keluarga agak lama. Kadang sebagai melankolis yang kebanyakan mikir aku sempet kepikiran, “Ada apa ini? Kok lama banget dapet kesempatan nemenin keluarga? Apa aku bakal dapet kerja di tempat yang jauh ya? Atau bentar lagi aku bakal ketemu kamu Sukab? Atau umur aku udah bentar lagi?” Bukan maksud minta kematian (kayak cowok di facebook) yang konyol itu sih. Diakui atau enggak, kematian kan satu-satunya takdir menakutkan yang paling pasti kita hadapi.

Setelah libur lebaran, semua orang pergi dari rumah nenek. Lama di Bandung, beberapa keluarga ngiranya aku libur panjang di Tasik. Aku sebut aja begitu, walaupun sebenernya lagi ngegarap kerjaan freelance yang gak ada liburnya. Selama pengalamanku berkutat dengan tulisan, sampai titik ini aku baru bisa bersyukur ada kata waktu di dunia ini. Buat siapapun yang sedang tenggelam dalam dunia berdeadline, kadang waktu jadi momok bahkan musuh mungkin. Aku maklum, aku juga baru kali ini menemukan kebahagiaan dalam batas waktu.

Pada kesibukanku mencari homebase mengajar selama beberapa bulan ini, mungkin sudah 11 kampus yang aku kirimi surat lamaran. Semuanya tanpa keyakinan dan kepercayaan diri. Benarlah, hanya dua kampus yang memberikan sinyal positif, dan itu belum aku tindak lanjut karena takada deadline. Pokoknya ikhtiar dan jangan diam. Seperti beban yang dicangkokkan ke otak, kewajiban mengabdi tiga tahun itu terus-terusan menuntut. Akhirnya kuciptakan batas waktu, “suatu saat Dikti pasti menerbitkan SK homebase tanpa kamu mencari sendiri kok. Suatu hari waktu pencarian homebase  itu akan berakhir. Suatu hari kamu akan sibuk ngajar dan menyelesaikan tugas pengabdian sesuai dengan waktu yang disyaratkan Dikti.”

Dalam hirup-pikuk mengedit buku, awalnya aku takterlalu memikirkan batas waktu yang diajukan pemilik naskah. Aku pikir, semua ada di tanganku. Aku dengan bebas dapat menentukan kapan naskah ini selesai kukerjakan. Tetapi ternyata hari ini batas waktu itu sedang aku gunakan untuk menetapkan kapan aku harus beranjak dari sini dan kembali pada kehidupan lain. Batas waktu yang awalnya menyeramkan itu, aku gunakan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaanku. Batas waktu itu juga yang aku jadikan patokan untuk menjawab teman-teman yng bertanya “kapan ke Bandung lagi?”

Ternyata, pada satu kejadian, batas waktu dapat menjadi harapan. Walaupun kita sedikitpun nggak tahu, kebahagiaan apa yang akan didapat setelah batas waktu itu terlampaui. Bahkan kita pun takpernah dapat memastikan apakah masa-masa setelah batas waktu itu terlampaui, kita akan merasakan jalan cerita yang lebih bermakna dari pengalaman hiruk-pikuk ketika mengejar batas waktu. Kita juga takpernah tahu, apakah setelah batas waktu itu terlangkahi, kita bisa benar-benar menemukan diri kita sendiri seperti ketika dalam keripuhan menyelesaikan semuanya sebelum batas waktu. Beruntungnya Tuhan memberi semangat, keresahan, dan usaha untuk menyelesaikannya di batas waktu.

Di sini aku hidup berdua dengan seorang nenek yang sudah ditinggalkan suaminya hampir tujuh tahun lalu. Dengan 12 putra-putri ia menjalani hidup dan melayani suaminya. Waktu aku masih duduk di bangku SMP, dia amat kuat dan tegar. Penggarapan sawah milik keluarga diatur olehnya dari awal sampai akhir. Tidak ada hari tanpa pergi ke sawah. Lepas SMA dan kuliah aku baru sadar ia sudah menua. Bahkan hari ini, dia takpernah benar memanggil namaku. Rupanya dia sudah mulai pikun. Senin, Selasa, Rabu, dll sudah mulai membingungkan untuknya. Hari-hari ini tugasku adalah memasak dan mengingatkannya untuk makan pagi, siang, dan malam dengan teratur.

Selain makan, shalat, dan berjalan-jalan di sekitar rumah, tak ada lagi yang  ia lakukan. Sesekali anak-anaknya dari perantauan menelponnya. Anak-anak yang setahun sekali datang itu memberinya harapan dengan kiriman uang sebulan sekali. Ya, mungkin inilah batas waktu yang terus-menerus menjadi sepercik energi untuknya. Setiap tanggal 1 akan ada anaknya yang mengirimkan uang. Harapan pada kehadiran tanggal 1 itu selalu ada, walaupun  ia takpernah membeli sesuatu yang istimewa setelahnya. Dengan penyakit hipertensi, makan daging ayam atau sapi tentu tak boleh. Cukup dengan menu-menu yang takbisa disebut istimewa.

Pada masanya, kematian akan jadi batas waktu yang takterhindarkan. Mengamati apa yang dialami nenekku ini, aku tersadar, setiap orang sedang ada dalam kesibukannya. Di satu sudut dunia ada yang sibuk bergulat dengan usia dan berlelah menunggu kematian. Di sisi lain ada yang sengit bertarung memperebutkan keuntungan dari kekuasaan. Di titik lain ada yang asik masyuk mengingat satu demi satu kalamullah mengejar janji mahkota untuk orangtua. Pada akhirnya kematian adalah batas waktu yang paling pasti sudah menunggu setiap orang. Beruntunglah Tuhan telah menjanjikan sesuatu setelah batas waktu itu. Beruntunglah Ia telah menjanjikan bahwa setelah batas waktu, tak akan ada lagi batas waktu. Beruntunglah, Ia telah memberikan acuan tentang bagaimana menempuh surga dan menghindari neraka.

Pertanyaaannya, apakah kita bisa dengan rendah diri menerima apa-apa yang harus dikerjakan untuk meraih surga? Pertanyaanya apakah kita dapat menguatkan hati untuk menghindari neraka?[]

takdir kita selalu datang di saat yang tepat dan selalu tepat pula dengan kondisi keimanan kita saat itu. Semoga kematian kita, saat itulah puncak keimanan kita.-Tya

 

 

Yang selalu rindu,

Maneka

 

*gambar dari sini

** baca sambil dengerin ini:

Akhir Juni

image

Dear Sukab,

Ini hari sudah masuk senja di Bulan Juni, tapi aku jelas-jelas takmampu menepati janji, menyuratimu setiap hari. Entah ada apa dengan Bulan Juni, namanya takberenergi untuk membuatku hiruk-pikuk bercerita. Dia mengalir begitu saja. Ah, bukankah sejak dulu harimu sudah membosankan seperti itu?!

Sukab, Juni takterlalu buruk ternyata. Setidaknya ada tiga hal yang amat aku syukuri di bulan ini. Bisa merasakan peliknya jadi kakak, bukankah itu lumayan menyenangkan? Dalam keterbatasan, jasad yang cuma seonggok ini bisa diberdayakan untuk sedikit melancarkan kebahagiaan orang sekitar.

Di awal bulan, aku menemani adik beliaku melahirkan. Masih saja aku menyebutnya belia, padahal dia sudah bersuami dan sedang menyusun TA sarjana. Mungkin karena aku tahu masa kecilnya. Perjalanan kehamilannya aku genap tahu. Dapat kesempatan mengantarnya periksa, mengantarkan barang-barang keperluan bayinya, dan menghadiri persalinannya, bukankah itu pelajaran berharga?! Bayi cantik bernama Celmira pun lahir. Dalam hidup yang membosankan, menjadi bagian dari kehadirannya amat menyenangkan.

Beberapa hari kemudian aku mendapat telpon dari ayah. Adik sepupuku yang lain sedang menuju Jakarta. Ia mengikuti workshop pekerjaan pertamanya. Adikku yang satu ini takjauh beda, ia masih sedang menjalani tingkat akhir perkuliahannya. Aku sempat iri melihatnya bisa bekerja sejak dini. Mungkin saat seusianya, aku masih sedang sibuk memikirkan skripsi dan organisasi. Dari Jakarta, adikku mendapat orientasi karyawan baru di Bandung. Alhamdulillah kami sempat bertemu, menjenguk Celmira, dan menghabiskan beberapa waktu. Menjadi bagian dari kisah kesuksesan orang-orang yang kita sayangi menyenangkan bukan?!

Kisah terakhir masih kujalani sampai hari ini. Aku membantu pendaftaran adikku yang masuk ke perguruan tinggi. Jika sedang bekerja fulltime di kantor, mungkin aku tidak akan bisa membantu menangani bagian ini. Allah sebaik-baik penentu cerita hidup memang. Seperti yang biasa terjadi, mendaftar ke universitas tidak pernah sederhana. Kau juga genap pernah merasakannya Sukab. Antrean di mana-mana, gerombolan di mana-mana, dan aku bersyukur dapat dengan mudah menjalaninya.

Mengisi formulir pendaftaran tanpa siempunya, menulis kembali nama ayah dan ibu, pendidikan terakhir mereka, pekerjaan dan penghasilan mereka. Serasa kembali ke masa lalu. Bahkan program studi yang akan ia jalani, aku yang memilihkan. Hmm, menimbang-nimbang masa depan dan membolak balik pertanyaan apakah ia akan bahagia menjalaninya adalah keharusan. Belum lagi saat pengembalian formulir yang seharusnya takboleh diwakilkan. Menggantikan posisi perempuan mungkin bisa dikelabukan, ini aku sedang mendaftrkan adiiku yang laki-laki. Untunglah petugas pendaftaran amat baik menghadapiku. Semuanya berjalan lancar. Kini tinggal membantu kelancaran bimbingan tes, tryout, dan tes tulis bulan depan. Besok adikku akan tiba di Bandung. Semoga ia dapat teman terbaik selama di sini.

Nah, demikian tiga kebahagiaanku bulan Juni. Buatmu dan buat yang lain, mungkin ini sesuatu yang biasa. Bulan depan, tugasku adalah menemani Ramadhan adikku (yang lain) selama tiga minggu. Ini Ramadhan pertamanya di Bandung. Aku menginap di kontrakan (yang ia takpernah rela disebut kosan)nya. Dengan kesenggangan hari-hariku, semoga target Ramadhanku tercapa dengan mulus. Semoga doa-doaku terkabul. Semoga ayah dan ibu kita sehat, bahagia dunia akhirat. Semoga cita-cita sederhana kita tercapai di penguhujungnya.

Sukab, jangan terlalu mencemaskan aku 🙂

yang selalu rindu,

Maneka

*foto by siriusbintang

Perempuan Pada Dasarnya

perempuan 2

Dear Sukab,

Sudah beberapa hari aku gelisah tentang apa-apa yang berkaitan dengan diriku yang terlahir perempuan. Berkali-kali aku membolak-balik pikiran untuk menulis surat ini buatmu. Sebenarnya ingin kulepaskan saja surat ini sebagai cerita biasa. Tetapi sunggu aku lebih ingin bercengkerama denganmu soal ini. Riwayat ini mungkin bisa kamu saksikan dari siapapun yang ada di penjuru dunia. Namun, aku benar-benar ingin menyampaikannya kepadamu.

Yang selalu dianggap lemah fisik adalah perempuan. Entah organ tubuh bagian mana yang membuat dunia memandangnya demikian. Mendaki gunung, menyelami laut padahal perempuan bisa. Namun, entah mengapa kecemasan laki-laki akan keselamatan mereka selalu dua kali lipat. Bisa jadi, kecelakaan yang menimpa perempuan pada hal-hal yang dianggap berbahaya terjadi bukan karena fisik mereka, melainkan ketidakpercayaan laki-laki pada kekuatan perempuan. Biasa sajalah menyikapi perempuan. Membawa kandungan selama sembilan bulan pun mereka bisa. Ini sebuah beban yang takbisa direhat sedetikpun. Pada masa itu mereka makan untuk dua badan. Pada waktu itu ada dua detak jantung dalam satu tubuh. Ini takakan terjadi pada laki-laki. Maka jangan terlalu melemahkan mereka dengan kecemasanmu wahai laki-laki. Biasa sajalah!

Pada sekali waktu, perempuan ketakutan melihat binatang-binatang melata atau serangga. Aku sempat kaget dengan ekspresi temanku saat melihat segerombolan semut hitam di balik tirai penutup becak. Mungkin geli, jijik, atau takut dengan gigitannya. Ini bagian yang akupun sukar menjelaskannya. Seperti kebencianku pada kecoa. Jijik, inilah alasan yang dapat kulontarkan soal kecoa. Aku bisa dengan segera mengambil sandal dan menginjaknya dalam hitungan detik bila ia muncul di hadapanku. Takadil memang. Hanya karena jijik, satu nyawa kecoa melayang. Padahal satu nyawa kecoa serupa dengan satu nyawa manusia pada dasarnya. Pada perkara ini, yang aku pesankan hanya satu, jangan berlelucon menakut-nakuti perempuan dengan serangga dan binatang melata. Tertawamu pada ketakutan perempuan justru memperlihatkan seberapa lemah kau sebagai laki-laki.

Hal lain yang mengelilingi perempuan adalah perhiasan. Semua perempuan menyukainya. Yang membedakan adalah sebanyak apa dan bagaimana mereka menyukainnya. Anting, kalung, gelang, cincin, baju, sepatu, tas, dan perhiasan mahal lainnya acap kali membuat perempuan merasa berharga. Mungkin, perempuan adalah perhiasan. Oleh sebab itu, ia suka menampakkan perhiasannya. Alfa aku soal bagaimana rasanya memiliki barang-barang mewah itu. Tas bermerek terkenal dengan harga jutaan rupiah, bagaimana rasanya menggunakannya? Aku takgenap tahu soal ini. Apakah benda-benda itu membebaskan perempuan dari rendah diri? Perempuan adalah konsumen dan marketer paling hebat memang. Sebab itu, pemodal dan pengiklan menjadikan mereka sebagai sasaran empuk. Aku kadang bertanya pada diriku sendiri, “perasaan macam apa yang akan menghinggapimu jika kau ditakdirkan untuk selalu menggunakan barang-barang mewah?” Soal ini, aku hanya ingin kamu takterlalu menjadikan penampilan sebagai pusat segala sesuaitu. Ini tidak hanya membebani perempuan tapi juga membebanimu sebagai laki-laki.

Ayah Pidi berkata bahwa perempuan jatuh cinta berdasarkan apa yang ia dengar dan laki-laki berdasarkan apa yang ia lihat. Ini menjadi muasal perempuan berlomba-lomba untuk mengindahkan penampilannya. Lalu cantik hanya berakhir pada dimensi fisik. Aku tahu, cantik itu relatif, tapi industri membuat satu prototipe kecantikan yang kalian amini. Lantas perempuan berbondong-bondong mencari krim paling ampuh untuk memutihkan wajah dan kulitnya, mencari minuman paling efektif untuk melangsingkan perut, dan meninggikan postur tubuh. Belum lagi perawatan rambut yang membuat sebagian perempuan enggan berhijab.

Akibatnya mantra “cantik itu putih, langsing, tinggi,” yang diciptakan oleh industri kecantikan menyihir perempuan dan membuat kalimat “kamu harus cantik,” tertanam di benak mereka. Demikianlah perempuan melakukannya demi perhatian kalian. Aku mungkin kurcaci jelek atau bebek buruk rupa jika harus mengikuti semua kriteria cantik versi industri. Bahkan aku sempat berpikir, “Kamu takmudah percaya pada manusia, lantas mengapa dengan mudah kamu memercayakan kulit wajahmu pada sebuah produk pembersih wajah yang bahan-bahannya tidak kamu ketahui dengan pasti komposisinya?” Padahal krim pembersih muka itu adalah satu-satunya kosmetik yang aku gunakan. Maka putar otakmu sedikit agar benar-benar terlihat bahwa dirimu berlogika. Fisik adalah bagian paling fana dari diri manusia. Carilah dimensi lain yang lebih nyata tentang kecantikan perempuan.

Satu hal lagi yang masih aku pertanyakan soal perempuan adalah keselamatan. Yang paling cemas pada keselamatan perempuan saat pulang malam adalah kalian. Lalu mengapa penjahat-penjahat yang merampok, mencopet, memerkosa lalu membunuhnya adalah manusia pada jenis kalian, laki-laki. Mengapa sebagian dari kalian berpikiran untuk menjahati perempuan? Tidak ingatkah mereka pada ibu, adik, istri, dan anak-anak yang juga perempuan? Berhentilah menjadikan diri sebagai pusat, karena perempuan juga punya ruang di dunia ini yang mewajibkan keamanan dan kenyamanan bagi diri mereka. Udara yang sama, sinar matahari, dinginnya malam, derasnya hujan, dan sejuknya pagi juga menjadi hak perempuan. Berhentilah menjadi ancaman bagi manusia lain.

Ini sebagian yang dapat aku catat tentang perempuan. Dunia membisikinya dengan hal-hal tersebut, tapi mereka juga manusia yang memiliki kemampuan dan hak untuk balik berteriak “Ya, itu saya!” atau “Tidak, itu bukan saya!”[]

Perempuanmu,

Maneka

*foto bidikan @siriusbintang

Sebenarnya Kamu

image

Dear Sukab,

Sukab, apa kabar senja? Masihkah ia menawarkan keindahan yang pasti berakhir? Masihkan ia mencampurkan keremangan dengan rasa getir yang sukar dijelaskan? Sudah lama aku tidak dapat menikmatinya. Terlalu banyak bangunan yang menghalangiku untuk menengadahkan kepala. Atau aku memang sedang takmengizinkan diriku mengamatinya untuk waktu yang agak lama. Rasionalitas hidup memaksaku untuk menghindari perasaan sentimentil saat menatap senja. Ia terasa biasa saja kini. Hanya gurat jingga penanda malam akan segera tiba.

Sukab, pada pertemuan kita nanti, bolehkah aku bertanya tentang luka? tentang siapa yang paling menorehkan luka terdalam di hatimu dan bagaimana kau menyembuhkannya. Aku hanya tidak ingin menjadi orang itu. Aku hanyai ingin menghindari apa yang ia lakukan terhadapmu.

Bermain di dunia luar membuat aku bertemu banyak jenis manusia, merasakan bagaimana menghadapi mereka. Kepelikanku hanya satu, memperlakukan mereka dari sudut pandang mereka, bukan hanya dari sudut pandangku sendiri. Yang berat adalah menyadari demikianlah mereka hidup, menjalaninya sebagai rutinitas, dan menerimaku sebagai satu bagian dari rutinitas hidup mereka. Menangkap kecemasan mereka sekuat tenaga dengan cara paling benar ternyata rumit juga. Apalagi ketika kadang kala kecemasan itu takberarti sedikitpun buatku. Membaca kekecewaan mereka terhadap sesuatu ternyata tidak mudah, karena setiap orang memiliki sumber kekecewaan masing-masing.

Aku kadang berpikir, dengan kehadiran yang singkat, dapatkan aku menjadi bagian yang menyisakan kenang paling lama dalam ingatan mereka? Aku amat sangat sadar, bahkan dalam dunia yang sementara ini, aku masih ditakdirkan untuk menjadi yang sementara. Itulah pekerjaan rumahku kemudian. Bagaimana membuat satu demi satu bagian dalam hidupku memasukanku dalam kenangan dan ingatan mereka. Bukankah manusia hidup dalam kenangan dan ingatan?

Bagaimana cara menatap orang lain bukan dari perspektifku? Bagaimana cara membaca aku dari perspektif mereka? Bagi sebagian orang mungkin sangat mudah dan mengalir begitu saja, tapi bagiku itu perlu dipelajari. Belum lagi kebiasaanku yang payah dalam basa-basi. Lebih baik diam daripada salah bicara. Soal ini semua, semoga aku bisa belajar darimu Sukab.

Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan sosok serupa kamu. Mengagumkan memang, terlihat tulus dan berusaha sebaik mungkin menjadi dirimu. Tapi rutinitas mengembalikannya pada dirinya yang asli. Ah, bicara apa aku ini? Benar kata seorang teman, kamu bukan sosok mengagumkan, tapi menenangkan. Pantaslah waktu aku melihat manusia seolah-olah kamu itu, ada kecemasan aneh dalam benakku. Ada semacam ketakrelaan. Pada pertemuan pertama kita nanti, aku mohon jadilah sebenar-benarnya kamu agar aku takterlalu sulit menemukanmu.

Yang selalu rindu,

Maneka

*gambar dari sini

Antagonis

image

Dear Sukab,

Manusia bijak, apa kabar? Masih rindukah kau padaku. Semoga pertanyaan itu takmembombardirmu. Semoga ia takmembuatmu kelu. Pernahkah terpikir tentanga alasan inti mengapa kau masih belum menemukanku? Mungkinkah ini berkaitan dengan peranku?!

Sukab yang malang, ketika kau menonton film, sinetron, atau pementasan drama, siapa yang kau citrakan sebagai aku? Apakah Bawang Putih, perempuan baik yang selalu dijahati oleh Bawang Merah? Ataukah Cinderella yang beruntung karena kehilangan sebelah sepatunya? Jika begitu, mungkin agak lama kau akan menemukan aku.

Dalam panggung kehidupanku yang sempit ini, aku adalah manusia antagonis. Jika kau mencariku dari satu sisi, sampai kapanpun kita tak akan pernah bertemu. Akulah yang selalu pulang larut malam hanya untuk menghindari tugas memimpin doa. Setiap mendapat giliran memimpin doa di akhir malam, kadang terpikir “Bagaimana rasanya dipimpin berdoa oleh manusia menyebalkan? Adakah yang waswas tentang keselamatan doanya di perjalanan? Adakah yang berpikir, jika aku yang memimpin, doa mereka takkan sampai pada Tuhan?”

Jika taksuka pada seseorang, aku dapat membisu, mengunci mulutku sehari, seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun. Ahahaha! Ini hebat atau gila?! Ataaauu, ini kegilaan yang hebat?! Aku hanya ingin diam, itu saja. Aku hanya tahu seberapa tajam bilah lidahku. Aku hanya tahu seberapa mematikan racun hatiku. Dengan diam, tak ada yang terluka, tak ada yang terracuni. Hahaha! Sudah siapkah kau bertemu dengan manusia berperangai buruk ini?!

Aku adalah pembunuh berdarah dingin yang tak pernah menggunakan samurai, senapan, atau racun untuk membunuh. Jika hatiku sudah membenci, maka aku akan menghunjamkan belati berkali-kali. Sakitnya terasa lebih lama. Jika bisa, aku selalu ingin membunuhnya berkali-kali. Hidup-mati-hidup-mati-hidup-mati, begitu seterusnya. Mengerikan bukan?!

Jadi, kau ingin bertemu aku sekarang atau nanti?! Nanti saja lah ya? Bila taksiap, tunggu saja sampak sutradara memberiku peran protagonis yang kau gadang-gadang itu. Mungkin juga sampai kau diberi peran pahlawan atau ahli jiwa yang dapat membantu menyembuhkan manusia sinting macam aku. Aku tak akan berlagak jadi anugerah jika sebenarnya diri ini musibah.

Biasa sajalah menghadapi drama-drama itu. Mungkin dengan begitu, aku akan terbantu untuk berubah menjadi figuran yang berlalu lalang di sekitarmu. Ah, jika kau adalah manusia protagonis yang amat baik itu, maafkan aku.[]

yang masih rindu,

Maneka

gambar dari sini

Mengasing

image

Dear Sukab,

Ini hari keduabelas dan aku baru beberapa kali menyuratimu. Maaf atas keterputusan ini. Ah, bukankah jeda merupakan hal biasa buat kita?! Seperti berada dalam masa ambang, atau berada di tengah-tengah pelayaran yang sudah amat lama. Kita takpernah lagi terlalu berharap untuk cepat sampai. Kita takpernah sedikitpun ingin berlari memutar haluan. Inilah masanya perjalanan terasa tawar. Saat ini detak jantung taklagi genit dengan perubahan. Ia sudah menemukan ritmenya. Ada dan tiada aku, kau sudah genap tahu. Yang penting cuma satu, kita harus tetap tahu waktu.

Sukab, boleh aku bertanya sesuatu? Semoga takterlalu sulit kau menjawabnya. Bagaimana hubunganmu dengan Ia yang menulis namaku pada takdirmu? Apakah kau bersikap baik pada-Nya, yang menggenggam waktu dan tempat pertemuan kita? Sudah berapa lama kau menagihnya? Sudah berapa kali kau menanyakanku kepada-Nya? Adakah kau memikirkan orang lain? Ah, untuk yang ini aku mati kutu. Akan sangat sulit memang, meminta pertemuan pasti dengan seseorang yang takpasti. Seperti menghendaki keramaian dalam ruang kosong. Kebingaran justru kita ciptakan di benak sendiri.

Aku takmengenalmu Sukab. Aku takmengenalmu, demi Tuhan! Aku hanya menimbultenggelamkan bayangan berbagai jenis manusia yang kukenal. Lalu kau menghilang pada sebuah latar yang menghitam, gelap, dan menyedihkan. Kembali kukatakan, “tidak tahu” itu amat menyakitkan. Maafkan jika aku lancang memasang bayangan. Tetapi, selain itu, aku bisa apa?

Sukab yang periang, doaku tentangmu mengasing entah ke mana. Kucari dia ke sudut dunia. Namun, aku masih belum menemukannya. Mungkin ia sedang beristirahat. Nampaknya ia lelah. Siapa yang takmarah dirapal ribuan kali dengan penuh kecurigaan?! Siapa yang takkesal ditagihkan berjuta kali tanpa keyakinan?! Tapi, aku masih bahagia. Keasingannya membuatku menemukan diriku.

Entah kapan doa-doaku kembali. Aku masih malu untuk menemuinya. “Hey, kau melihat doa-doa berkeliaran sekitar sini? Kalau melihat, itu adalah doaku. Tolong pastikan dia baik-baik saja dan dalam keadaan selamat sampai ke langit. Aku titip,” ujarku pada setiap orang yang kutemui di jalanan. Egois memang, tapi bagaimana lagi? Dia ingin pergi sendiri. Ah, mungkin ia tahu si empunya terlalu pecundang untuk mengawalnya ke langit.

Dalam keadaan begini, harapanku tinggal satu, hubunganmu dengan Tuhan lebih baik daripada hubunganku dengan-Nya. Mintalah doamu menunggu doaku di pintu langit. Jika tidak, jemput saja, bagaimana? Ah, keberadaannya saja aku tidak tahu, apalagi kau Sukab. Dalam perjalanan seberliku apapun, semoga ia tepat waktu. Maaf jika harus semakin sabar menunggu. Aku percaya kau mampu.[]

yang selalu rindu,

Maneka