I Miss You

i miss you

Hey! Tahukah kamu? Akhir-akhir ini aku sedang suka nonton drama Korea. Sejak dulupun suka, tapi kali ini aku sedang benar-benar mengejarnya, mencari tahu, hanya untuk menghabiskan waktu. Hmm.. apakah aku kembali tiba pada kehidupan waktu itu? Menghabiskan waktu hanya untuk membunuhnya. atau aku sedang sangat kebingungan dengan tesis yang sedang menyudutkanku? hmm.. entahlah.. tapi aku bisa sedikit abai dengan apapun di sekitarku ketika menonton drama korea. film pertama yang aku saksikan adalah I Miss You. Apa yang aku dapat dari film itu?

Film ini hanya meminta kita menjawab satu pertanyaan sederhana:

Apabila masa lalumu berisi pengalaman mengerikan yang ingin kamu lupakan, tapi di dalamnya ada satu orang yang tidak ingin kamu lupakan, kamu berpisah dengan orang itu selama belasan tahun, dia mencarimu, dia merindukanmu, apa yang kamu pilih? melupakan orang itu agar bisa melupakan masa lalu yang mengerikan? atau tetap mengingat orang itu walaupun masa lalu yang mengerikan terus menghantuimu? dilematis bukan?!

Bagian yang paling aku suka dalam film ini adalah kata “Swaaah!” Seperti seorang pesulap yang sedang mengucapkan mantra, kata “Swaah!” bisa membuatmu melupakan hal-hal buruk dalam masalalumu.

“Swaah!” lalu semua ingatan hilang dan takterjadi apa-apa. Hmm.. menyenangkan bukan?!

“Swaah!” lalu yang kamu hadapi hanya hari ini, kepahitan masa lalu menjadi bagai sebuah dinding berwarna putih tanpa bekas. Menyenangkan bukan?!

Hanya bagian itu yang paling aku suka, karena sisanya hanya cerita mustahil yang takperlu dijelaskan dalam tulisan ini. Silakan saksikan keajaiban mantra “Swaaah!” dengan menonton film I Miss You. Kamu pasti merasakan sensasi lupa yang menyenangkan ;)

Belajar Mencintai Indonesia Dari Deddy Mizwar

Beberapa hari setelah deklarasi pencalonan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat dari koalisi PKS, PBB, Partai Hanura, dan PPP pada Pilgub 2013 saya terkaget dengan sebuah selebaran yang bertajuk “Kalem We da Aya #Ayobalikkekampus! H2S Hari-hari Sastra.” Pasalnya selebaran yang dibagikan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya tersebut adalah undangan untuk mengikuti KURUCETRA “Kumpul Rutin Cerita Sastra” yang membedah film “Tanah Surga Katanya” bersama Deddy Mizwar. Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang (hanya baru) melek politik, saya berpikir acara ini akan menjadi ajang kampanye buat Deddy Mizwar. Namun, setelah mengikuti acara tersebut ada ruh lain yang saya dapat.

Ya! Ruang-ruang diskusi sastra adalah tempat bisu untuk para praktisi politik. Di sana mereka tidak dapat berkampanye secara vulgar. Sastra adalah tempat insan-insannya menjual gagasan. Takada ruang istimewa bagi yang bertangan kosong dalam sastra. Siapapun menjual ideologi dalam karyanya. Pramoedya Ananta Toer dengan sosialismenya, Ayu Utami dengan feminismenya, atau M. Irfan Hidayatullah dengan Islamnya, mereka dengan penuh kesadaran membawa ideologi dalam karya-karyanya. Orang-orang yang bertangan kosong hanya akan berada di pinggiran dengan karya absurd yang tanpa sadar mendukung ideologi mainstream. Takada karya tanpa gagasan yang dijual dalam sastra.

Berbicara film berarti berbicara isi cerita. Membaca isi cerita berarti membaca gagasan yang ditawarkan oleh seorang seniman. Begitupun pada film “Tanah Surga Katanya..” yang diproduseri oleh Deddy Mizwar. Film ini menceritakan perjalanan panjang seorang Salman mengeja kecintaan terhadap bangsanya. Ia dihadapkan dengan situasi-situasi antagonis yang memaksanya untuk mencari penghidupan di Malaysia. Ayahnya menikah dengan perempuan malaysia agar lebih mudah menjadi warga negara sana. Ia diajak ikut pindah dan menjadi warga negara malaysia. Di sisi lain, kakeknya adalah mantan relawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965. Kakeknya tentu takmengizinkan Salman pindah kewarganegaraan. Sesederhana apapun kehidupan di Perbatasan Indonesia-Malaysia itu, kakeknya tetap lebih memilih hidup di negeri sendiri ketimbang di negeri orang.

“Perjalanan cinta Salman pada negaranya ini mengajari kita soal anugerah terindah dalam mencintai,” kata Deddy Mizwar. “Cintailah manusia tanpa harus mengingkari kebenaran,” tambahnya. Film ini mengajari kita soal banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghargai negara ini. Di Malaysia bendera Indonesia hanya dijadikan alas dagangan rempah-rempah. Ia taklebih dari warna merah dan putih yang takberbeda dengan warna kuning, hijau, dan coklat. Adegan ini jadi simbol bahwa pihak yang menjual Sumber Daya Alam Indonesia ke luar negeri hanya menjadikan negara sebagai alas dagangannya untuk memperkaya diri. Salman sampai harus bersiasat untuk mengambil bendera itu dari orang yang menjadikannya sebagai alas. Ia menukarnya dengan sebuah sarung dan mengibarkannya sambil berlari ke Indonesia. Dalam adegan itu sangat terlihat perbedaan jalan Indonesia – Malaysia. Jalan di Malaysia lebih bagus daripada jalan di Indonesia. “Namun, sejelek apapun, itulah kebenarannya. Saya tidak mungkin membagus-baguskan negara kita dalam film itu. Nanti saya bohong!” ujar Deddy Mizwar. “Kalau dalam sepakbola Indonesia dikalahkan Malaysia, saya juga tidak mungkin menceritakan Indonesia menang dalam film ini, nanti saya bohong lagi. Citra visual dalam film adalah refleksi realitas yang ada di Indonesia.” Tambahnya.

Pesan dalam film ini terrangkum dalam puisi Salman ketika menyambut pejabat pemerintah dari Jakarta:

Tanah Surga Katanya

Bukan lautan hanya kolam susu, katanya

Tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu

Kail dan jala cukup menghidupimu, katanya

tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara

Tiada badai tiada topan kau temui, katanya

Tapi kenapa ayahku tertiup angin ke malaysia?

Ikan dan udang menghamiri dirimu, katanya

Tapi kata kakek, “Awas ada udang di balik batu!”

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya

Tapi kata dokter intel, belum semua rakyatnya sejahtera. Banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri

Benar kata Deddy Mizwar, cintailah bangsa ini tanpa harus mengingkari kebenaran. Pesan ini dirangkum dalam adegan terakhir, pesan sang kakek sebelum wafat, “Apapun yang terjadi jangan pernah kehilangan cinta pada negeri ini!” Film ditutup dengan adegan Salman berlari membawa bendera merah putih sambil berlari dari Malaysia ke Indonesia. Kembali gagasan nasionalisme disampaikan oleh Deddy Mizwar. Namun, kali ini disajikan dengan lebih halus, tidak sesatir Nagabonar Jadi Dua dan Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Gagasan nasionalisme ini adalah ajakan untuk membenahi negara ini berdasarkan realitas yang ada di perbatasan. Generasi mudalah yang menjadi pemegang amanah perbaikan negara ini. “Kaum Nabi Nuh dimusnahkan oleh Allah karena takmelakukan perbaikan, kaum Nabi Luth juga demikian, bahkan Turki Utsmani juga dimusnahkan oleh Allah, jangan sampai negara kita mengalami hal yang sama. Kalau ada ketidakberesan di negeri ini, lakukan sesuatu karena merasa tidak suka dalam hati adalah perbuatan selemah-lemahnya iman. Kalaupun negara ini akan dimusnahkan, paling tidak, saya ada di barisan orang-orang yang berbuat sesuatu melalui film,” ujar Deddy Mizwar. “Tapi janganlah sampai negeri ini dimusnahkan. Ayo kita berbuat sesuatu untuk negeri kita dengan karya paling tidak.” Tambahnya. Moderator diskusi waktu itu sampai berkata, “Saya merasa sedang ada di PPT (Para Pencari Tuhan-pen). Serasa dinasehati sama Bang Jek.”

Gagasan dalam film ini sudah menjadi salah satu alasan saya untuk memilihnya dalah Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013 nanti. Ide perbaikan dan nasionalisme sudah ada dalam film-film Deddy Mizwar. Saatnya ia bekerja konkret untuk Jawa Barat sebagai salah satu bagian dari Indonesia. Gagasan besar untuk negara ini selalu hadir dari seorang besar bukan?!

Proposal Tesis S2 Penciptaan

 

Buat kamu-kamu yang asing dengan dunia seni dan budaya, pasti kaget dengan postingku ini. Tesis biasanya sebuah karya ilmiah tebal yang dipertanggungjawabkan dalam sidang magister. Kalau yang jurusannya MIPA or sejenisnya, tesis juga bisa berupa produk inovasi.  Nggak jauh beda dengan itu, beberapa waktu lalu aku menyimak kakak kelas S2 yang kuliah di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung yang lagi seminar proposal tesis mereka. Bagaimana calon tesis mereka? Ini dia:

Sebelum masuk ruangan kita dikasih stiker ini. Isinya menggambarkan apa yang akan kami saksikan. Sebenernya ada banyak pertunjukan, tapi kerana aku telat jadi yang terdokumentasi hanya sedikit.

Drama dengan judul Massa Mengambang

Drama ini mengangkat kondisi politik saat masa kampanye dalam PEMILU di negara kita. Massa mengambang adalah sekelompok masyarakat yang belum punya putusan pilihan sebelum PEMILU. Biasanya calon yang menjadi peserta PEMILU memanfaatkan suara dari massa mengambang ini dengan bagi-bagi uang. Nah, orang-orang yang ada di bawah ini adalah oknum partai yang bertugas membagi-bagi uang untuk membeli suara. Lucunya mereka tidak hanya membagi uang dari partai biru tapi juga dari partai merah.

Sutradara Massa Mengambang:

Musik : Boboko

Boboko ini bener-bener pentas yang i have no idea about that. Ide dasarnya adalah boboko, tempat makan yang berasal dari sebilah bambu. Bambu kan punya ruang di tengahnya, sama seperti kerongkongan kita. Nah, ternyata bambu itu dibuat menjadi boboka (tempat nasi) dalam bahasa sunda. Nasi yang kita makan juga melalui kerongkongan bukan? Musisi ini akhirnya terinspirasi untuk membuat musik yang vokalisnya menggunakan kerongkongan, musik underground. Pokoknya bunyinya nggak jauh dari orang yang teriak-teriak deh. Karena penampilannya serba hitam, aku nggak bisa ngambil gambarnya. Dalam pentas ini ada dupa sebagai penanda kematian dan kemagisan boboko. Secara, sekarang boboko sudah hilang fungsinya. Magicom sudah mengganti fungsi boboko. Musik ini jadi terasa agak bisa dinikmati karena diiringi piano. sayangnya aku gak bisa dapet gambarnya karena gelap.

Komposer:

Drama Musikal: Aku Ingin

Penampilan ketiga adalah drama musikal Aku ingin. Drama ini terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul sama dengan judul drama ini. Ceritanya klasik soal percintaan anak SMU yang mulai masuk kuliah. Drama ini digabung dengan video. Jadi gimana ya jelasinnya,,, hmmm.. ketika kita nonton drama, latar suasana di belakangnya berupa video shooting. Selain nonton drama, kita juga nonton rekaman video anak-anak itu sebagai citra visual juga sebaga latar suasana. Ini inovasi latar. Misalnya, orang yang di depan stage lagi akting ngelamun, nah,,,, di layar akan terlihat citra visual yang sedang ia lamunkan. begitu sederhananya..

Di akhir para aktor musikalisasi puisi Aku Ingin:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

sutradara:

The end

Setelah aku nonton tiga proposal itu, entah kenapa terbersit sebuah puisi #halah.. Aku tulis di secarik tisyu yang udah GJ. Daaaaan puisi ini jadi mantra paling mujarab buat temenku yang baru-baru ini menikah. Ahaha!

 

 

 

 

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript