Perempuan Dalam Singgah Karya Jia Effendie Dkk. [Bagian 1]

singgah
Singgah adalah sebuah kumpulan cerpen karya Jia Effendie dkk yang berisi cerita-cerita dalam setting tempat persinggahan. Stasiun kereta api, dermaga, terminal, bandara adalah tempat-tempat yang menjadi sember energi kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini. Bagi sebagian orang yang menyukai tempat-tempat tersebut (salah satunya adalah aku), takperlu membaca detail review kisah di sampul belakang, melihat gambar tempat yang disukai saja sudah membuat memilih untuk memiliki buku ini.

Hal yang menyihir dari buku ini adalah terapi hati (membaca abjeksi) untuk memahami luka, cinta, rindu, dan sepi dalam kisah yang amat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin kita pernah dengan penuh harap dan cemas menunggu seseorang di stasiun kereta api. Namun, pada waktu yang berbeda kita harus menatap kosong kebingaran stasiun karena harus melepas kepergian seseorang. Maka kisah dalam kumpulan cerpen ini seperti gempuran keras pada hati kita. Ia seolah berujar “It’s Happened!” Kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam kehidupan dan diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Ya, pertemuan selalu melahirkan perpisahan. Persinggahan selalu menagih perhentian dan keberangkatan. Maka, hati yang dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini tak akan ciut. Ia akan semakin kuat menghadapi perjalanan hidup.

Enam dari sebelas penulis kumpulan cerpen ini adalah perempuan. Bagian ini amat menarik untuk ditelusuri. Bagaimana perempuan menggambarkan perpisahan? Bagaimana perempuan menggambarkan ketakterjangkauan dalam sebuah cerita. Mari kita bedah beberapa cerita dalam kumpulan cerpen ini.

Bertolah dari Julia Kristeva

Berdasarkan pemikiran Kristeva, secara psikologis, bagi anak perempuan, tubuh ibu adalah kesenangan primer yang pertama kali mereka miliki. Anak perempuan masih merasa bahwa ibu adalah bagian dari dirinya. Untuk membangun identitas subjek pada dirinya, seorang anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya. Pelepasan diri ini dilakukan melalui penolakan yang diistilahkan oleh Kristeva sebagai abjection (penolakan terhadap tubuh ibu).

“Masa ini menurut Lacanian dan Freudian merupakan masa penyapihan dan pemisahan yang biasanya menimbulkan frustasi dan ketakutan akan kastrasi. Bagi Kristeva masa ini adalah masa antara chora dan tahap cermin yang merupakan tahap pra-linguistik penting pada usia 4-8 bulan” (Christina, 2010:9).

Pada masa ini anak perempuan harus melakukan abjection pada ibunya untuk mengidentifikasi me dan not me.  Kristeva juga berpendapat bahwa  masa ini tidak selalu diwarnai dengan ketakutan, penolakan maupun pemisahan pun bisa menyenangkan. Dalam tahap penyapihan ini terjadi krisis narsistik ketika bayi menjadi antara subjek dan objek, self dan other, hidup dan mati. Masa pemisahan ini oleh Kristeva diasosiasikan dengan abjeksi (Christina, 2010:9).

Hubungan pemikiran Kristeva dengan perempuan dan makna perpisahan?

Disapih dari ibu merupakan keterpisahan pertama yang dialami perempuan dalam hidupnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya karena dirinya sendiri secara psikologis harus menemukan subjek dalam diri. Anak perempuan harus menemukan makna “inilah aku” yang otonom dalam dirinya. Secara psikologis, abjeksi (penolakan terhadap tubuh ibu) adalah cara yang paling tepat untuk menemukan eksistensi diri sendiri. Salah satu konsekuensi logis dari abjeksi ini adalah rasa frustasi dan ketakutan. Walaupun menurut Kristeva bisa penyapihan juga bisa menyenangkan.

Mekanisme abjeksi ini terus menerus dilakukan perempuan secara tidak sadar dalam menghadapi perpisahan demi perpisahan. Perpisahan ini dapat diartikan dalam konteks apa saja. Bukan hanya perpisahan fisik tapi juga psikologis. Bahkan ketidaksinkronan antara kenyataan dengan apa yang diinginkan pun dapat disebut keterpisahana (keterpisahan antara kemauan dan kenyataan). Oleh sebab itu, hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihadapi oleh perempuan dengan abjeksi. Ketakterjangkauan juga dihadapi perempuan dengan abjeksi.

Fantasi Sebagai Abjeksi dalam Cerpen Jantung

Salah satu cara perempuan melakukan abjeksi adalah dengan menulis. Karya fiksi dapat menjadi media abjeksi (dalam konteks ini: penolakan terhadap perpisahan atau kejadian yang tidak disukai) dengan menghadirkan fantasi-fantasi di dalamnya. Fantasi ini bisa berupa imajinasi, mimpi, dongeng, khayalan, dsb.

Dalam cerpen Jantung karya Jia Effendi, kita akan mendapatkan cerita tentang seorang perempuan yang berpisah dengan kekasihnya, padahal dirinya sedang hamil. Kekasihnya tidak mau menikahnya karena lelaki itu merasa bayi yang dikandung bukan anaknya. Ada dua abjeksi dalam cerita ini. Pertama, penolakan perempuan terhadap kehilangan laki-laki yang ia harap-harapkan menjadi suaminya. Kedua, penolakan terhadap perbedaan antara angan-angan kebersamaan dengan perpisahan. Singkatnya, abjeksi pertama dilakukan terhadap tokoh antagonis yaitu lelaki yang menjadi kekasihnya. Abjeksi kedua dilakukan terhadap situasi antagonis, yaitu keterpisahan. Sebagai seorang perempuan yang selalu menjadi second person dalam dunia gender, abjeksi ini diperlihatkan oleh Jia Effendi dengan dramatis.

“Kita berpisah baik-baik. Tapi kamu masih membawa drama ke sini. Aku masih memelukmu! Masih menghargaimu! Tapi kau malah berteriak-teriak mempermalukanku. Aku masih mau memelukmu, membiarkanmu masuk ke rumah ini! Kamu sampah! Aku masih memungutmu!” (Jantung: 16).

Inilah situasi antagonis yang diabjeksi oleh perempuan. “Kamu sampah! Aku memungutmu!” kalimat pedas ini menjadi satu mekanisme yang digunakan perempuan untuk melakukan penolakan terhadap situasi antagonis dan menyadarkan keberadaan dirinya. Saat itu perempuan dalam kisah ini harus berpisah dengan kekasihnya. Ia harus sadar sesadar-sadarnya menerima keadaan ini. Dalam situasi antagonis ini, perempuan dalam cerpen melakukan hal yang dalam kenyataan tak mungkin dilakukan,

“Seperti mendapat kekuatan dari yang tak kasat mata, aku mendorongnya. Dia terpental jauh menabrak dinding. Kepalanya terantuk. Dengan sisa kekuatanku, aku menyeretnya ke dapur, menyapu apapun yang ada di meja makan ke lantai, susah payah mengangkat tubuhnya, menguliti pakaiannya… Dengan selembar rumput tajam, aku menorehkan dari dada ke perutnya. Segumpal jantung yang masih berdenyut kucuri dari dadanya. Kumasukkan ke dalam kotak es. Rintihku berkali-kali bergumam aku mencintaimu.” (Jantung: 17).

Prilaku ini tidak mungkin dilakukan oleh perempuan dalam dunia nyata. Kalaupun ada, tentu hanya segelintir orang yang melakukannya. Abjeksi ini semacam ekspresi kemarahan yang dilakukan untuk benar-benar memperlihatkan bahwa “inilah aku” kata perempuan sebagai tokoh utama. Pencurian jantung yang dilakukan oleh tokoh utama ini sebenarnya hanya ingin menjelaskan sebuah kalimat jujur dari lubuk hatinya,

“Tak ada yang namanya perpisahan baik-baik! Kalau kita baik-baik saja, kau masih bersamaku!”

Perempuan tokoh utama ini lalu menyimpan jantung itu di dalam icebox. Ia membawanya ke sebuah tempat dan melakukan hal irasional.

“Ruang bercat putih itu berukuran 3×3 meter. Tak ada apapun di dalamnya kecuali seorang lelaki telanjang dada yang memunggungiku. Tubuhnya memancarkan sinar seperti bola lampu.

“permisi” Dia tidak bereaksi.

“Sebutkan keinginanmu!”…
“Aku ingin jantung kekasihku bersatu bersama jantungku,” aku berkata mantap.

Jika kalian sudah menyimak sedari tadi, tentu mengerti mengapa aku mengambil jantung kekasihku setelah membelah dadanya. Jantung hatinya, agar dia mencintaiku selamanya. Agar aku tidak pernah terpisah darinya.”

Inilah puncak abjeksi (penolakan terhadap kenyataan) yang dilakukan oleh tokoh perempuan terhadap tokoh antagonis dan situasi antagonis. Pada tokoh antagonis, ia melakukan pencurian jantung dan meminta penyatuan jantung. Penyatuan jantung sebagai tanda bahwa pemilik jantung itu tidak akan berhenti mencintainya. Padahal situasinya justru berkebalikan, lelaki itu sudah tidak mencintainya. Pencurian jantung jadi semacam sebuah penolakan, pemberontakan, kemaranah akibat frustasi dan ketakutan (seperti yang dikatakan Lacanian dan Freudian) menghadapi perpisahan.

Abjeksi terhadap situasi antagonis tergambar dari alur cerita secara utuh. Ini bisa dirasakan oleh tokoh perempuan dalam cerpen, penulis -sebagai perempuan- dan pembaca perempuan. Cerpen Jantung karya Jia Effendie ini semacam abjeksi yang menyadarkan perempuan untuk menemukan dirinya sebagai subjek ketika mengalami perpisahan. Tokoh perempuan dalam cerpen ini mewakili kemarahan dan hasrat perempuan ketika menghadapi perpisahan, ketika disebut sampah, ketika kelimpungan saat hamil dan dibuang begitu saja oleh orang yang dicintai. Ketaksampaian melakukan kekerasan (semacam pembedahan, pembunuhan, mutilasi, bahkan cangkok jantung) sudah diwakili oleh tokoh perempuan dalam cerpen.  Otomatis, pada sebagian perempuan, cerpen ini amat melegakan. Kemarahan dan hasrat yang tertahan di dunia nyata, bisa “terlampiaskan” di dunia fiksi. Perempuan yang mengalami pengalaman yang sama dengan tokoh perempuan dalam cerpen ini akan menemukan me dan melepaskan ketergantungannya terhadap the others melalui efek abjeksi cerpen ini. Efek abjeksi cerpen ini dapat menyadarkan perempuan bahwa selama ini ia telah menjadikan orang lain sebagai kesenangan primer yang mengeliminasi me (baca: dirinya sendiri). Ia telah bergantung pada the others dan telah menjadikan diri sebagai objek. Melalui abjeksi, ia akan kembali menemukan me dan menjadi subjek bagi diri dan kehidupannya.

Bersambung…

foto dari sini

Advertisements

Belajar Mencintai Indonesia Dari Deddy Mizwar

Beberapa hari setelah deklarasi pencalonan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat dari koalisi PKS, PBB, Partai Hanura, dan PPP pada Pilgub 2013 saya terkaget dengan sebuah selebaran yang bertajuk “Kalem We da Aya #Ayobalikkekampus! H2S Hari-hari Sastra.” Pasalnya selebaran yang dibagikan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya tersebut adalah undangan untuk mengikuti KURUCETRA “Kumpul Rutin Cerita Sastra” yang membedah film “Tanah Surga Katanya” bersama Deddy Mizwar. Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang (hanya baru) melek politik, saya berpikir acara ini akan menjadi ajang kampanye buat Deddy Mizwar. Namun, setelah mengikuti acara tersebut ada ruh lain yang saya dapat.

Ya! Ruang-ruang diskusi sastra adalah tempat bisu untuk para praktisi politik. Di sana mereka tidak dapat berkampanye secara vulgar. Sastra adalah tempat insan-insannya menjual gagasan. Takada ruang istimewa bagi yang bertangan kosong dalam sastra. Siapapun menjual ideologi dalam karyanya. Pramoedya Ananta Toer dengan sosialismenya, Ayu Utami dengan feminismenya, atau M. Irfan Hidayatullah dengan Islamnya, mereka dengan penuh kesadaran membawa ideologi dalam karya-karyanya. Orang-orang yang bertangan kosong hanya akan berada di pinggiran dengan karya absurd yang tanpa sadar mendukung ideologi mainstream. Takada karya tanpa gagasan yang dijual dalam sastra.

Berbicara film berarti berbicara isi cerita. Membaca isi cerita berarti membaca gagasan yang ditawarkan oleh seorang seniman. Begitupun pada film “Tanah Surga Katanya..” yang diproduseri oleh Deddy Mizwar. Film ini menceritakan perjalanan panjang seorang Salman mengeja kecintaan terhadap bangsanya. Ia dihadapkan dengan situasi-situasi antagonis yang memaksanya untuk mencari penghidupan di Malaysia. Ayahnya menikah dengan perempuan malaysia agar lebih mudah menjadi warga negara sana. Ia diajak ikut pindah dan menjadi warga negara malaysia. Di sisi lain, kakeknya adalah mantan relawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965. Kakeknya tentu takmengizinkan Salman pindah kewarganegaraan. Sesederhana apapun kehidupan di Perbatasan Indonesia-Malaysia itu, kakeknya tetap lebih memilih hidup di negeri sendiri ketimbang di negeri orang.

“Perjalanan cinta Salman pada negaranya ini mengajari kita soal anugerah terindah dalam mencintai,” kata Deddy Mizwar. “Cintailah manusia tanpa harus mengingkari kebenaran,” tambahnya. Film ini mengajari kita soal banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghargai negara ini. Di Malaysia bendera Indonesia hanya dijadikan alas dagangan rempah-rempah. Ia taklebih dari warna merah dan putih yang takberbeda dengan warna kuning, hijau, dan coklat. Adegan ini jadi simbol bahwa pihak yang menjual Sumber Daya Alam Indonesia ke luar negeri hanya menjadikan negara sebagai alas dagangannya untuk memperkaya diri. Salman sampai harus bersiasat untuk mengambil bendera itu dari orang yang menjadikannya sebagai alas. Ia menukarnya dengan sebuah sarung dan mengibarkannya sambil berlari ke Indonesia. Dalam adegan itu sangat terlihat perbedaan jalan Indonesia – Malaysia. Jalan di Malaysia lebih bagus daripada jalan di Indonesia. “Namun, sejelek apapun, itulah kebenarannya. Saya tidak mungkin membagus-baguskan negara kita dalam film itu. Nanti saya bohong!” ujar Deddy Mizwar. “Kalau dalam sepakbola Indonesia dikalahkan Malaysia, saya juga tidak mungkin menceritakan Indonesia menang dalam film ini, nanti saya bohong lagi. Citra visual dalam film adalah refleksi realitas yang ada di Indonesia.” Tambahnya.

Pesan dalam film ini terrangkum dalam puisi Salman ketika menyambut pejabat pemerintah dari Jakarta:

Tanah Surga Katanya

Bukan lautan hanya kolam susu, katanya

Tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu

Kail dan jala cukup menghidupimu, katanya

tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara

Tiada badai tiada topan kau temui, katanya

Tapi kenapa ayahku tertiup angin ke malaysia?

Ikan dan udang menghamiri dirimu, katanya

Tapi kata kakek, “Awas ada udang di balik batu!”

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya

Tapi kata dokter intel, belum semua rakyatnya sejahtera. Banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri

Benar kata Deddy Mizwar, cintailah bangsa ini tanpa harus mengingkari kebenaran. Pesan ini dirangkum dalam adegan terakhir, pesan sang kakek sebelum wafat, “Apapun yang terjadi jangan pernah kehilangan cinta pada negeri ini!” Film ditutup dengan adegan Salman berlari membawa bendera merah putih sambil berlari dari Malaysia ke Indonesia. Kembali gagasan nasionalisme disampaikan oleh Deddy Mizwar. Namun, kali ini disajikan dengan lebih halus, tidak sesatir Nagabonar Jadi Dua dan Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Gagasan nasionalisme ini adalah ajakan untuk membenahi negara ini berdasarkan realitas yang ada di perbatasan. Generasi mudalah yang menjadi pemegang amanah perbaikan negara ini. “Kaum Nabi Nuh dimusnahkan oleh Allah karena takmelakukan perbaikan, kaum Nabi Luth juga demikian, bahkan Turki Utsmani juga dimusnahkan oleh Allah, jangan sampai negara kita mengalami hal yang sama. Kalau ada ketidakberesan di negeri ini, lakukan sesuatu karena merasa tidak suka dalam hati adalah perbuatan selemah-lemahnya iman. Kalaupun negara ini akan dimusnahkan, paling tidak, saya ada di barisan orang-orang yang berbuat sesuatu melalui film,” ujar Deddy Mizwar. “Tapi janganlah sampai negeri ini dimusnahkan. Ayo kita berbuat sesuatu untuk negeri kita dengan karya paling tidak.” Tambahnya. Moderator diskusi waktu itu sampai berkata, “Saya merasa sedang ada di PPT (Para Pencari Tuhan-pen). Serasa dinasehati sama Bang Jek.”

Gagasan dalam film ini sudah menjadi salah satu alasan saya untuk memilihnya dalah Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013 nanti. Ide perbaikan dan nasionalisme sudah ada dalam film-film Deddy Mizwar. Saatnya ia bekerja konkret untuk Jawa Barat sebagai salah satu bagian dari Indonesia. Gagasan besar untuk negara ini selalu hadir dari seorang besar bukan?!

Ada Apa Dengan [ Hujan Bulan Juni – SDD ] ?



Hujan Bulan Juni


1/
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

2/
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

3/
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono

Ada apa dengan hujan di bulan Juni? Tidak terjadi apa-apa pada hujan di bulan Juni. Ia sedang asyik masyuk dengan ketabahan, kebijakan, dan kearifannya di langit. Juni memang musim kemarau seharusnya dan bukan saatnya hujan menemui pohon, bunga, tanah, dan segala yang ada di bumi. Saat itu hujan sedang bersiap turun menunggu saatnya menjumpai bumi. Hujan menahan rindu sekuat-kuatnya untuk tidak turun ke bumi. Berikut adalah pembacaan singkat tentang Hujan Bulan Juni.

“Mari kita mulai dari yang takmungkin,” Jacques Derrida

Membaca puisi berarti sedang membaca teks merdeka yang telah mendeklarasikan kemerdekaannya sesaat setelah penyair menyelesaikannya. Untuk mendapatkan makna terdalamnya, ia dapat dibedah dari sisi manapun, dengan logika apapun. Demikianlah Derrida mengajarkan cara membaca sebuah teks. Oleh sebab itu, kali ini Hujan Bulan Juni akan saya baca dengan pembacaan terbalik seperti ini:

3/
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

2/
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

1/
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Secara tipografi puisi ini berlogika dari bawah ke atas: 3, 2, lalu 1. Saya menggunakan logika dari bawah ke atas karena hujan bergerak dari musim hujan ke musim kemarau naik dari bawah ke atas. Hujan diserap oleh akar pada bagian paling bawah. Itulah sebabnya bait yang memuat tentang penyerapan itu disimpan pada akhir puisi. Bait kedua adalah penghapusan jejak, disimpan di tengah sebagai proses kepergian. Bait pertama adalah puncak perjuangan hujan bulan Juni menahan rindunya. Ia disimpan pada posisi paling atas karena pada bulan Juni hujan sedang berdiam diri di atas langit. Penjelasannya mari kita simak:

3/
//tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan Juni/ dua larik ini menggambarkan eksistensi kearifan hujan bulan Juni. Dengan larik ini Damono berani berkata secara lugas bahwa yang paling arif di dunia ini adalah hujan bulan Juni! Tidak ada yang lebih arif kecuali dia. Dalam kamus Bahasa Indonesia arif berarti bijaksana, paham dan mengerti. Mengapa hujan bulan Juni mendapat kemewahan kearifan dari Damono? Hal ini dijelaskan pada dua larik selanjutnya, //dibiarkannya yang tak terucapkan/ diserap akar pohon bunga itu// Dua larih ini bercerita tentang kerelaan hujan memberikan “yang takterucapkan” kepada pohon bunga. “Yang takterucapkan” ini tergambar jelas dalam puisi “Aku Ingin” yang sebelumnya telah dibahas dalam jurnal “Ketaksederhanaan dalam Aku Ingin SDD.” //Aku ingin mencintaimu/ dengan sederhana/ dengan isyarat yang taksempat/diucapkan awan kepada hujan/ yang menjadikannya tiada// Dalam bait ini Damon meminjam isyarat yang taksempat diucapkan awan kepada hujan sebagai cara mencintai. Lalu, sekali lagi Damono meminjam isyarat yang taksempat diucapkan awan kepada hujan ini sebagai “yang takterucapkan” dalam puisi Hujan Bulan Juni. “Yang takterucapkan” dalam puisi ini adalah cinta sederhana yang sebetulnya tidak sederhana. Ketaksederhanaan inilah yang membuatnya takterucapkan.

Pada musim hujan, bulan Oktober – April, hujan menemani pohon bunga dan membiarkan “yang takterucapkan” diserap akarnya. Beginilah cinta yang sederhana dimetaforkan. “Biar” adalah kata penghubung untuk menyatakan hal-hal yg tidak bersyarat. Hujan pada musim basah atau pada musim hujan memberikan energi kepada pohon bunga tanpa syarat. Bukankah sejatinya cinta adalah memberi tanpa mengharapkan balasan? Inilah mengapa hujan bulan Juni menjadi mahluk paling arif di dunia ini. Ia paham bahwa air sangat dibutuhkan oleh pohon bunga. Ia memberikannya dengan penuh kerelaan tanpa syarat. Ia mengerti bahwa air adalah kekuatan yang ditampung oleh pohon bunga untuk menghadapi musim kemarau. Air adalah bekal pohon bunga untuk menjalani April – Oktober tanpanya. Air adalah bekal yang menjadi energi untuk pohon bunga menghadapi jarak dan waktu yang memisahkannya dengan hujan. Hujan bulan Juni telah membiarkan dirinya yang lalu diserap oleh akar pohon bunga.

Inilah mungkin yang dimaksud dengan kearifan sejati dalam mencintai. Seseorang memberikan yang terbaik untuk yang dicintainya tanpa syarat. Cintanya memberi energi besar dan membuat yang dicintainya kuat menghadapi keterpisahan. Cintanya menjadi energi untuk menghapus bentangan jarak dan waktu. Cintanya mengalahkan rindu.

2/
//tak ada yang lebih bijak/ dari hujan bulan Juni// Melalui dua baris pertama dalam bait ini Damono kembali mengukuhkan hujan bulan juni sebaga satu-satunya mahluk yang paling bijak di dunia ini. Takada yang lebih bijak kecuali dia. Bijak berarti selalu menggunakan akal budinya, pandai, dan mahir. Mengapa hujan disebut bijak? Karena takada yang lebih logis, panda, dan mahir dalam menghapus jejak-jejak kaki daripada hujan bulan Juni. Hal ini disampaikan dalam dua larik berikutnya, // dihapusnya jejak-jejak kakinya/ yang ragu-ragu di jalan itu// Dalam kamus, jejak adalah bekas tapak kaki; bekas langkah. jatuhnya kaki di tanah dsb; tingkah laku (perbuatan) yg telah dilakukan; perbuatan (kelakuan) yg jadi teladan; bekas yg menunjukkan adanya perbuatan dsb yg telah dilakukan. Jekak kaki adalah penanda kehadiran. Hujan hadir semusim, menem
ani pohon bunga. Sampai musim panas datang, ia dengan cermat menghapus keberadaannya. Ia merelakan keberadaan dirinya menjadi ketiadaan selama semusim mendatang. Kepergiannya adalah sebuah keniscayaan.

Menghapus jejak yang ragu-ragu, kacau adalah sesuatu yang harus dilakukan agar tidak ada yang berbekas di bumi. Tidak ada apapun dan siapapun yang tidak ragu meninggalkan apa atau siapa yang dicintainya bukan? Tidak ada apapun dan siapapun yang mau meninggalkan apapun dan siapapun yang dicintainya, termasuh hujan. Ia masih ingin membersamai pohon bunga sampai tiba masanya pohon itu benar-benar berbunga. Namun, musim panas adalah keniscayaan. Menghapus jejak-jejak kaki adalah keharusan. Menghapus tanda keberangkatannya pergi meninggalkan pohon bunga adalah kewajiban agar yang ditinggalkan takterlalu sedih.

1/
//tak ada yang lebih tabah/ dari hujan bulan Juni// Damono menobatkan hujan bulan Juni sebagai sesuatu yang paling tabah di dunia ini. Dalam kamus, tabah berarti tetap dan kuat hati (dalam menghadapi bahaya) dan berani. Kata ini menggambarkan kekuatan yang amat besar. Ia tidak identik dengan sikap menyerah dan kediaman. Tabah adalah tanda perjuangan hati untuk tetap kuat. Itulah mengapa ia digunakan untuk mengibaratkan sesuatu yang sedang menahan rindu. Dulu, kemarau pada bulan Juni hampir menjadi sebuah keniscayaan. Inilah yang menjadi alasan Damono menggunakan hujan bulan juni sebagai metafora perindu yang takada yang lebih tabah darinya dalam hal merahasiakan rindu. Kerahasiaan rindu yang ia ciptakan bukan gambaran ketakutan melainkan gambaran keberanian.

//dirahasiakannya rintik rindunya/ kepada pohon berbunga itu// Dua larik ini menggambarkan bahwa hujan memutuskan untuk merahasiakan kerinduannya pada pohon berbunga sampai pada rintiknya. Rinti adalah bagian terkecil dari hujan. Rintik rindu adalah bagian terkecil dari rindu. Dengan demikian, hujan telah memutuskan untuk takserintikpun rindunya yang boleh diketahui oleh pohon berbunga itu. Ia tutup rapat menjadi sebuah rahasia paling rahasia. Ia merahasiakannya agar yang dirindukan tetap subur. Pohon apapun yang disiram pada waktu taktepat justru akan mati. Tentu hujan takmenginginkan pohon bunga itu mati.

Kepada siapa hujan bulan juni merahasiakan rindunya? Ya, hujan rindu kepada pohon berbunga. Tidak akan ada rindu tanpa pertemuan sebelumnya bukan? Bait inilah yang menggambarkan bahwa pada musim sebelumnya hujan telah bertemu dengan pohon bunga. Bait ini merangkup bait sesudahnya. Setelah kepergiannya, pohon bunga itu mulai berbunga. Hujanlah yang mengalirkan energi agar pohon yang sebelumnya takberbunga menjadi berbunga. Energi inilah yang menjadi ibarat dari cinta. Semusim hujan mengalirkan cintanya kepada pohon dan semusim ia harus menahan dirinya. Pada musim penantian, itulah waktu yang paling menguras energi bagi hujan. Pada saat itulah puncak perjuangan kekuatan hati hujan sebagai metafora dari perindu. Ia merahasiakan rindu setelah sebelumnya menghapus jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu. Inilah alasan terkuat yang membuat hujan bulan Juni menjadi sesuatu yang paling tabah.

Ketabahan inilah yang harus dimiliki setiap orang yang menghadapi keterpisahan. Ia sunyi, senyap, takberisik tapi penuh keyakinan bahwa yang dirindukan sedang baik-baik saja. Kerinduannya paripurna karena sebelumnya ia telah membekali yang ditinggalkannya dengan energi cinta yang sempurna. Ia hanya menjalani kerinduan bukan kekhawatiran. Ia hanya menahan diri dari keinginan untuk bertemu bukan ketakutan akan ditinggalkan. Cintanya sudah maksimal dialirkan, cintanya sudah genap memberikan energi kepada yang ditinggalkan untuk bertahan menghadapi keterpisahan. Cintanya seperti “yang takterucapkan” membuat pohon bunga menjadi pohon berbunga. []

*aku adalah orang yang memandang sesuatu dari perspektifku sendiri. silakan memiliki analisisi yang berbeda ^^8

*gambar dari om google dan lupa linknya

Internasionale Karya Goenawan Muhammad


Menurut Franz Magis-Suseno dalam bukunya Pemikiran Karl Marx, Internasionale adalah Asosiasi buruh Internasional yang terdiri dari buruh Inggris dan Prancis. Asosiasi ini didirikan tahun 1864. Tujuan Internasionale adalah untuk melakukan pembebasan kelas buruh yang berdasarkan usaha kelas buruh sendiri. Tujuan usaha ini bukan mendirikan kelas lagi melainkan menghapus segala kekuasaan sebuah kelas atas kelas lainnya.

Dalam puisi Goenawan Muhammad yang berjudul Internasionale, kata ini adalah ikon dari buruh, ideologi buruh,dan apa yang dialami oleh mereka sejak dulu hingga kini. Puisi yang ditulis Goenawan ini ibarat sebuah’catatan pinggir’ tentang hal-hal yang berhubungan dengan sosialisme yang identik dengan bagaimana kaum buruh memperjuangkan dirinya untuk keluar dari penderitaan-penderitaan. Dalam puisi ini tertulis “Bersatulah buruh dunia, bersatulah! Kita yang dimiskinkan…” Kalimat ini cukup menjadikan internasionale sebagai ikon puisi ini.

Betapa mudahnya setiap orang menemukan literature yang berhubungan dengan sosialisme yang dibuat oleh Karl Mark sehingga kata pertama yang ditulis Goenawan dalam puisinya adalah //Di sebuah perpustakaan/ di sebuah penderitaan// Dari kalimat ini terlihat bahwa Karl Mark memarketkan ideologinya dengan menyebarkannya di perpustakaan. Orang-orang pengikutnya menyebarkan sosialisme di perpustakaan. Selain itu sosialisme juga ada pada penderitaan yang dialami oleh kaum buruh. Melalui penderitaan-penderitaan ini sosialisme dilancarkan marketnya. Terjadi marketisasi sosialisme dalam perjuangan-perjuangan mengangkat hak-hak kaum buruh di dunia internasional.

//Lihatlah, Karl, kemerdekaan ini diperjuangkan/ dengan empat lobang kantong/yang pipih kosong/dan seorang anak yang menggantung mati kelaparan// Kalimat ini seolah sebuah pengingat untuk Karl Marx bahwa ideologi yang ia usung kini diperjuangkan bukan lagi lewat perpustakaan namun sudah lewat penderitaan yang dibuktikan dengan peristiwa bunuhdirinya seorang anak karena kelaparan.

/Kita melihat jam besar di dinding pabrik itu/gemetar/dan buruh-buruh yang pucat/penyap tersandar// Kalimat ini memperlihatkan sejauh mana perjuangan buruh-buruh pabrik bekerja. Jam besarpun sampai gemetar kelelahan berputar. Sama seperti para buruh yang tak hentinya bekerja sampai kelelahan. Hegemoni pemodal atas diri buruh diperlihatkan secara tidak langsung dalam kalimat trsebut. Namun, setelah Internasionale terbentuk, ada sebuah pencerahan yang disebutkan dalam puisi ini :

//Kemarin tidak pernah dirancang kehidupan/tapi hari ini adalah lain/dunia telah terlepas dari hambatan yang abadi, terasing dari hari tadi/daulat telah diserahkan/ kepada kehidupan/dan bumi adalah takhta maha baik/yang dimenangkan//

Kehidupan berubah. Setelah internasionale dibentuk, kaum buruh merasa diperhitugkan oleh strata sosial lainnya. Berdiriya internasionale bagi kaum buruh merupakan sebuah cara untuk menghilangkan domiasi dari strata lain. Hal ini terlihat dari penuntutan hak asosiasi internasionale terhadap pemodal di sebuah persidangan. Perjuangan mereka menuntut hak buruh saat itu gagal. Asosiasi ini kalah dalam persidangan. Kekalahan ini terjadi tahun 1864, seratus tahun sebelum puisi ini dibuat. Betapa berjayanya sosialisme sampai saat itu. Bahkan saat ini sosialisme masih dianut oleh berbagai ilmu pengetahuan dan gerakan-gerakan mahaiswa.

//Di dalam moesoleumnya Stalinpun indu/dan mengaritkan kakinya menulis sajak/di luar kaca itu melihat bumi, bumi yang bersalju/sepi, sepi.. tak beranjak.// Kalimat ini menyiratkan pandangan Stalin yang tengah berada di bangunan makam yang luas dan megah sebagai symbol kemapanan. Ia melihat bagaimana sosialisme dan komunisme dianut oleh kaum muda. //Ketika seseorang membaca sajak-sajak/ bagi anak-anak muda di dunia/ karena mereka dalah setia, wakil sunyi dan lapar/ sementara kita// Kalimat ini menjelaskan bahwa sosialisme dianut oleh kaum muda dengan setian tapi kaum tua yang telah mapan biasanya berhianat dari faham ini.

*pembacaan paling permukaan dan menguras pemikiran waktu itu
** gambar dari sini

Membaca JADI Sutardji Calzoum Bachri


Seperti apa yang ia katakan dalam Kredo Puisi , Sutardji membiarkan kata-kata dalam puisinya bebas. Ia membiarkan kata-kata meloncat-loncat sendiri dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lain karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya. Sutardji hanya menjaga agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal (1981:13).

Deklarasi Sutardji atas ciri khasnya membebaskan kata dari maknanya membuat pembaca bebas memproduksi makna yang dibentuk oleh kata tersebut. Tugas pembaca bukan lagi hanya mengapresiasi kata berdasarkan makna yang ia miliki sebelumnya tapi mencari makna baru yang ingin dibentuk oleh kata-kata tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Kristeva (Ahil semiotik).

“Dalam puisi arti tidak terletak di balik penanda (tanda bahasa: kata) seperti sesuatu yang dipikirkan oleh pengarang, melainkan tanda itu (kata-kata itu) manjadikan sebuah arti (arti-arti yang harus diusahakan diproduksi oleh pembaca” (Premingen dkk,1974:982 dalam Pradopo,2005:150)

Berikut ini salah satu sajak Sutardji (1981:27) yang penuh persejajaran bentuk dan arti. Pengulangan yang terdapat di dalamnya membentuk sebuah irama. Iraman menyebabkan liris dan konsentrasi. Ini adalah makna di luar kebahasaan.

JADI
tidak setiap derita
Jadi luka
tidak setiap sepi
Jadi duri
tidak setiap tanda
jadi makna
tidak setiap tanya
jadi ragu
tidak setiap jawab
jadi sebab
tidak setiap seru
jadi mau
tidak setiap tangan
jadi pengan
tidak setiap kabar
jadi tahu
tidak setiap luka
jadi kaca
memandang Kau
pada wajahku!

Berbicara tentang kebebasan kata dalam menempatkan diri, maka setelah kata-kata tersebut memutuskan untuk bergabung dengan kata lain ia sudah tidak memiliki kebebasan untuk berpindah. Ia sudah tidak memiliki kebebasan untuk mejadi dirinya sendiri karena ia sudah membentuk makna yang ia bangun bersama kata lain. Makna-makna ini diproduksi dengan bebas oleh pembaca. Seperti pada puisi “JADI” di atas. Berdasarkan pendapat Kristeva, ia dapat diapresiasi atau dimaknai dengan berbagai cara. Dalam analisis ini penulis menerjemahkan puisi ini sebagai berikut :

//Memandang Kau/pada wajahku/ JADI/ tidak setiap derita jadi luka//

Jika melihat kasih sayang Kau yang terdapat pada diri ku sebagai manusia akhirnya ku akan tersadar atas keagungan-Mu hingga tidak setiap duka yang aku alami melukai hati ku.

//Memandang Kau/pada wajahku/JADI/tidak setiap sepi/jadi duri//

Jika melihat keramaian, kebahagiaan yang Kau berikan pada diri ku, aku akan tersadar akan kasih-Mu hingga tidak setiap sepi, (kesendirian, hal yang menyakitkan) serasa duri.

//Memandang Kau/ pada wajahku/JADI/tidak setiap tanda/jadi makna//

Memandang (kemuliaan) Kau di wajahku akan ditemukan bahwa tidak setiap tanda yang diramalkan oleh manusia akan menjadi makna yang disimpulkan oleh manusia. Karena Kau memiliki kata JADI.

//Tidak setiap tanya/ jadi ragu//

Tidak setiap pertanyaan akan keberadaan-Mu akan membuat aku ragu akan keberadaan-Mu.

//Tidak setiap jawab/jadi sebab//

Tidak setiap apa yang aku usahakan di dunia ini jadi sebab apa yang terjadi di muka bumi ini. Contohnya tidak semua keberhasilan yang diraih di muka bumi ini berdasarkan apa yang diusahakan manusia.

//Tidak setiap seru/jadi mau//
Tidak setiap seruan untuk membuat aku menjauhi-Nya membuat aku mau mengikuti seruan itu karena tidak semua seruan menuju ke arah-Nya.

//Tidak setiap tangan/jadi pegangan//

Tidak setiap hal yang diusahakan dapat menjadi penyebab apa yang diraih. Hanya kepada-Nyalah kita (manusia) bergantung.

//Tidak setiap kabar/jadi tahu//
Tidak setiap berita yang dikabarkan tentang-Nya membuat aku tahu akan diri-Nya.

//tidak setiap luka/ jadi kaca//memandang Kau pada wajahku!//
Tidak setiap luka (musibah) yang Ia berikan pada manusia akan menjadi kaca (pada mata). Maksudnya tidak semua luka akan membuat mata kberkaca-kaca atau menangis atau bersedih.

Baris pertama sampai baris ke delapan belas puisi “JADI” adalah pengulangan kondisi yang terkadang tidak memiliki hubungan kausalitas antar kondisi / kata-kata tersebut apabila kita telah melihat Tuhan pada wajah kita. Wajah adalah citraan paling kuat yang mewakili diri manusia. Kata wajahku paling tepat mewakili manusia karena bukan manusia jika diri seseorang tidak memiliki wajah. Wajah adalah kehormatan bagi seorang manusia. Wajah adalah sesuatu yang mewakili pertemuan manusia dengan Tuhan. Dalam bacaan sholat terdapat kalimat “Inni wajahtu wajhialillahi..” ‘sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhanku.’

Wajah adalah cerminan diri maka apabila kita melihat kembali karunia Tuhan yang terdapat pada diri kita (manusia) maka manusia akan berserah pada Tuhan. Manusia akan berserah pada Tuhan karena Tuhan memiliki kata “JADI .“ Dalam bahasa arab padanan kata ini adalah KUN. Kata ini terasa lebih berenergi dalam bahasa Arab. Kita sering mendengar kalimat “Kun! fa yakun” ‘jadi! Maka jadilah!’ Kalimat ini adalah representasi bahwa Tuhan Maha berkehendak. Oleh karena itu, tidak setiap hal mengakibatkan hal lain yang menurut kita punya hubungan kausalitas antar keduanya jika Tuhan tidak menghendakinya.

Jika memang kata-kata dalam puisi ini bergerak sendiri untuk membentuk puisi, terlihatlah dengan jelas bahwa keagungan Tuhan, kemahaberkehendakan Tuhan diakui oleh semua mahluk di muka bumi ini termasuk kata. Tuhan dalam bahasa arab berarti illah yang kata tersebut lalu berganti bentuk menjadi Allah. Merugilah orang yang masih sombong dan tidak meyakini kebenaran agama yang dilindungi oleh Allah.

*tugas KSKU semester akhir. analisis sederhana sekali

** gambar dari sini

PRINCESS HOURS: TRADISI VS MODERNITAS


Drama Korea, saat ini sedang marak ditayangkan di berbagai stasiun televisi suasta di Indonesia. Tak seperti telenovela yang hanya biasa dinikmati oleh ibu-ibu rumah tangga, tayangan yang sering membuat penontonnya menangis bombai ini juga dinikmati oleh kalangan remaja. Hal itu terjadi karena drama Korea masih menjadikan cinta sebagai tema utamanya. Kelebihannya, tak hanya cinta seorang anak remaja biasa pada “Sesy Girl”; cinta seorang artis dalam “ Full House “ ; cinta seorang putra mahkota pun disajikan dengan sangat apik dalam “ Princess Hours .“

Princess Hours yang ditayangkan di Indosiar adalah sebuah drama Korea yang memang berlatar waktu tahun 2006.Dalam ceritanya, saat itu sistem pemerintahan negara Korea masih bersifat Monarki sehingga raja adalah pemimpin negara. Drama korea ini secara umum mengisahkan perjuangan cinta seorang putra mahkota kerajaan. Karena kepatuhan pada peraturan kerajaan, putra mahkota, yang sering di panggil pangeran (Lee Shin ), bersedia menikah dengan gadis lugu (Shin Chae-kyoung ) yang berasal dari kalangan masyarakat biasa. Peraturan itu ditetapkan berdasarkan surat wasiat yang dibuat oleh raja terdahulu. Pernikahan mereka memang berlangsung dengan berbagai hambatan. Mulai dari kedatangan Yool, sebagai pihak ke tiga, kejahatan ibu Yool yang ingin merebut kembali tahta yang dulu dimilikinya membumbui kisah cinta dalam drama koraea ini.

Pengemasan cerita yang tanpa cela membuat drama seri ini tak hanya dapat dinikmati dari segi alur cerita. Seting, soundtrack, kostum, dan pengambilan gambarnya sangat memperlihatkan kekhasan Korea. Tak salah bila drama seri ini dapat kita sebut “drama seri budaya”. Keunikannya bisa jadi dapat menjadikannya drama korea terbaik tahun ini. Princess Hours dapat menjadi kenangan tak terlupakan di tahun 2006.

Princess Hours, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia secara bebas ke dalam bahasa Indonesia berarti “ waktu ( Shin Chae-kyoung ) menjadi putri “. Kisah cinta yang di dalamnya secara tidak langsung mencerminkan bagaimana orang Korea menghormati tradisi, cinta dan pernikahan. Penghormatan terhadap tradisi diperlihatkan lewat kebijakan Baginda Ratu yang tetap melaksanakan perintah raja yang telah wafat untuk menikahkan putra mahkota dengan gadis pilihan raja. Pada awal cerita, baginda Ratu berkata, “ pernikahan ini adalah untuk memperlihatkan pada rakyat bahwa istana masih memegang teguh peraturan di abad 21 ”. Kepatuhan itu terlihat pula pada kesediaan sang pangeran untuk menikah walaupun dengan keterpaksaan. Di sini juga terlihat bagaimana seorang pangeran dididik untuk menjadi pemimpin negara di masa depan. Kepatuhan adalah salah satu tolak ukur keberhasilan seorang anggota keluarga kerejaan. Kesetiaan rakyat pada istana juga diperlihatkan dengan kesediaan Shin Chae-kyoung ( seorang gadis biasa ) yang pada akhirnya bersedia menikah dan “terkurung” di Istana. “ Ini adalah keputusanku, dan aku akan berusaha menghadapi konsekwensinya. “ Kata Shin Chae-kyoung.

Perjuangan cinta yang dialami oleh putra dan putri mahkota telah memperlihatkan lokalitas negara Korea. Pengemasannya bukan hanya dengan eksplorasi budaya. Namun, ditambahi dengan perbandingan budaya. Tanpa kita sadari, perjuangan cinta putra dan putri mahkota yang merupakan produk kerajaan, telah menjadi pemenang dalam perlombaan dengan cinta Yool. Cinta putra dan putri mahkota merupakan analogi cinta yang dihasilkan budaya Korea yang diwakili oleh kerajaan. Sedangkan cinta Yool merupakan cinta yang dihasilkan oleh budaya Barat, karena Yool baru kembali ke Korea setelah dibesarkan dan menjalani pendidikan di Inggris. Cinta Yool cenderung dicerminkan merugikan dan mendahulukan emosi. Putra mahkota sempat berkata pada Yool, “ Ternyata cintamu pada Chae-kyoung malah membuatnya menderita. “ ( episode 23 ). Peraturan kerajaan juga menjadi jaga menjadi kekuatan cinta bagi permaisuri ( ibu pangeran ) yang tetap mencintai raja sampai sang pangeran menjadi putra mahkota, walaupun sang raja ( suaminya ) tak mencintainya. Hal ini menyiratkan suatu pesan bahwa budaya lokal dapat menjadi kekuatan dan lebih baik dari budaya luar.

Penghargaan terhadap pernikahan juga sangat kental dalam drama Korea ini. Terlihat ketika pangeran berkata pada sahabat-sahabatnya yang menghina putra mahkota. “ Ingat, jangan hina dia, apapun yang terjadi, Shin Chae-kyoung adalah istriku! “ atau pada saat pangeran sedang mencari putri yang hilang dan menanyakannya pada Hyo-rin .Pangeran berkata

“ Aku mencarinya, karena, sebelum sebagai apapun, dia adalah istriku. ‘ Pada akhirnya, status sumi istri lebih berharga dari apapun. Itu sebabnya apabila kita berkenalan dengan orang Korea, tak tabu lagi bila mereka bertanya tentang usia kita, dan bertanya apakah kita sudah menikah atau belum. Jika kita belum menikah, mereka tak tabu untuk menanyakan alasan mengapa kita belum menikah.

Misi kebudayaan sangat terlihat dari seting dan penggunaan kostum. Interior dan eksterior yang mendominasi menjadi agen dari tradisionalitas. Furniture yang hightecnologi mewakili modernitas. Hal ini menunjukkan bahwa tradisionalitas dapat dipadukan dengan modernitas. Bahkan lebih ekstrimnya lagi, modernitas hanyalah pelengkap tradisionalitas. Hal ini juga terlihat dari kostum yang digunakan oleh anggota kerajaan. Ratu, dan permaisuri, sebagai wanita senior di kerajaan lebih sering menggunakan pakaian tradisional Korea. Putri cenderung nertral dalam menggunakan baju tradisional Korea. Hal ini menunjukkan fleksibilitas tradisi dalam menyesuaikan diri dengan zaman.

Dalam segi pengambilan gambar, Drama korea ini sangat memperhatikan estetika. Sebagian besar adegan diambil dalam sebuah bingkai. Bingkai tersebut adalah sebuah sibol yang dapat bersuara nyaring. Bingkai tersebut adalah simbol aturan atau tradisi. Bahwa apapun yang dilakukan oleh keluarga kerajaan, harus dilandasi aturan tradisi.

Pada akhir cerita, idealisme tradisionalitas diruntuhkan melalui sebuah konflik yang menjadi klimaks cerita ini. Keinginan ibu Yool untuk mendapatkan tahtanya kembali telah membuatnya menghalalkan segala cara. Pembakaran istana menjadi simbol bahwa tradisilah yang akan memusnahkan dirinya sendiri. Hal ini akan terjadi jika tradisi dijalani oleh orang yang tidak dididik oleh tradisi tersebut. Pencerahan yang diterima Shin Chae-kyoung dalam masa pengasingan di luar negeri juga merupakan sebuak dobrakan. Ajaran Islam, kristen, budaya Barat yang modern, menurut Caijin dapat disandingkan dengan budaya timur. Hal ini adalah sebuah kritik yang dibawa drama korea ini pada negaranya, karena banyak masyarakat Korea yang tak beragama.

Dari awal sampai akhir cerita, secara keseluruhan, drama korea ini menceritakan perjuangan cinta putra dan putri mahkota kerajaan di abad 21. Sebuah abad yang terkenal dengan modernitas. Namun, cerita itu lahir dari sebuah peraturan kerajaan sebagai duta tradisionalitas. Akhirnya, drama korea ini adalah cermin sebuah modernitas yang dijalani untuk mempertahankan keutuhan tradisi.

*maaf kalo tulisan ini kesannya jadul banget. maklum repost dari tulisan 6 tahun lalu :))

Ikonisasi Bunga Mawar dalam Novel Rose Karya Sinta Yudisia

rose sinta yudisia

Judul Buku: Rose

Penulis: Sinta Yudisia
Ukuran : 13,5 cm x 20,5 cm
Tebal : 320 hlm
Harga : Rp32.000,-
ISBN : 978-602-8277-46-4
Lini : Novel
Novel ini dijuduli Rose yang mewakili Mawar sebagai tokoh utama. Sebenarnya dalam konstruksi budaya Barat dan Timur tentu berbeda antara Rose dan Mawar. Walaupun dalam kamus Rose dan Mawar menunjuk pada konsep yang sama, cara pandang orang Barat terhadap rose dan cara pandang orang Indonesia terhadap bunga mawar tentu berbeda. Tidak akan ada yang sama persis dalam cara kedua suku bangsa memandang sebuah konsep. Nampaknya penggunaan judul Rose berkaitan dengan strategi marketing. Yang paling pasti, konsep yang sama antara Rose dan Mawar adalah bunga merah yang tetap indah walaupun diselimuti duri.
Novel bersampul bunga mawar ini bercerita tentang pembentukan karakter Mawar dalam keluarganya yang taman bunga. Keluarga ini disebut taman bunga karena tokoh-tokoh yang menjadi keluarganya dalam cerita ini diikonkan dengan bunga-bunga: Kusuma, Dahlia, Cempaka, Mawar, Melati, dan Yasmin. Membaca Rose seperti membaca kisah sebuah taman yang ditinggal pergi oleh tukang kebunya. Sosok ayah dalam keluarga Mawar meninggal. Mereka harus menjalani ujian hidup tanpa kepala keluarga. Seperti halnya taman bunga, takada lagi yang menyiram, takada lagi yang memupuk. Ayah sebagai sumber kekuatan mereka meninggal. Perlu banyak penyesuaian, pelipatgandaan kekuatan mental dalam keluarga Mawar. Ujian demi ujian memperlihatkan bagaimana konflik dan tokoh-tokoh di sekitar Mawar membentuk karakternya.
Tidak dapat dielakkan lagi, membaca novel yang menggunakan nama tokoh sebagai judul berarti sedang membaca sajian tentang detail karakter tokoh tersebut. Pertanyaan yang akan muncul: mengapa dia begini? Siapa yang menyebabkan dia mengambil keputusan itu? Apa yang akan dia lakukan menghadapi ini? Akhirnya pembaca akan tertarik pada karakter tokoh utama dan tokoh-tokoh di sekitarnya. Karakter tokoh utama dapat dibaca melalui tuturan pengarang, konflik yang ada dan bagaimana ia menyelesaikannya. Karakter mawar juga dapat dilihat dari bagaimana ia menghadapi tokoh lain dan bagaimana tokoh lain memandangnya.
Bunga Mawar dan Karakter Tokoh Mawar
“Bunga Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa sekaligus nama bunga yang dihasilkan tanaman ini. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies kebanyakan tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter,” (wikipedia.co.id).
Ikonisasi adalah cara untuk menjelaskan tanda yang bentuk fisiknya memiliki kaitan erat dengan sifat khas dari apa yang diacunya (Sudaryanto, 1989). Ikonisasi kerap dijadikan cara pengarang untuk mengambil inspirasi karakter tokoh-tokoh novelnya. Dalam novel ini bunga mawar dan bagian-bagiannya menandai detail tokoh mawar secara fisik maupun karakter. Tokoh Mawar diikonkan dengan bunga mawar merah. Paling tidak, itulah yang dapat kita lihat pada sampul depannya. Warna merah adalah penanda keberaniannya.
“Terlalu!” umpat Mawar “Dari maghrib gak pulang-pulang. Ngomongin apa sih? Kalau hujan begini tambah malam lagi pulangnya!” (hlm. 13). “Biarin! Biar tahu rasa, tuh, cowok kalau sudah waktunya balik. Dihalusin gak bisa, mending kasarin aja sekalian. Daripada bertele-tele malah bikin perasaan jadi nggak karuan, bikin dosa!” (hlm. 13).
Dua kutipan tersebut memperlihatkan karakter pemberani, tegas, dan keras tokoh Mawar. Saat itu, Cempaka, kakaknya sedang diapeli oleh beberapa laki-laki hingga larut malam. Karena mengganggu kenyamanan di rumah, Mawar membuat keributan agar membuat lelaki-lelaki itu tidak nyaman dan pergi. Karakter tegas dan keras ini juga dikuatkan oleh tokoh lain yaitu mama atau Kusuma,
“Iya, maaf kalau keadaan rumah agak mengganggu,” sahut Mama lembut. “Maklum rata-rata anak mama berwatak keras. Keturunan ayahnya barangkali.” (hlm.14).
 
Bunga mawar berduri, untuk melindungin dirinya sendiri. Duri ini tidak menghilangkan keindahan yang ada pada bunga mawar. Ia terlihat indah tapi tidak sembarang orang berani memetiknya. Ikonisasi duri pada mawar ini digambarkan dalam maskulinitas yang ia miliki. “Mawar sendiri bukannya tak cantik. Hanya saja, dulu ayah begitu mendambakan anak lelaki. Begitu terobsesinya sehingga putri ketiganya dididik cara laki-laki. Gesit, keras, rasional, berpikir praktis,” (hlm. 21). “Hanya aku yang jika diganggu teman akan membalas dengan lemparan tempat pensil atau sepatu,” (hlm. 31).
Ikonisasi duri pada bunga mawar juga terdapat pada kekuatan karakter tokoh Mawar. Mawar mental dalam menghadapi konflik-konflik dalam kisah ini. Hal ini terdapat dalam percakapan tokoh Rasyid dan Intan. “Mawar orang yang tangguh. Dia pantang menyerah. Sekalipun saat itu tomboy dan metal, dia bisa menjaga diri.” “Aku nggak ngerti bagaimana orang seperti Mawar justru tahan banting terhadap permasalahan.” “Karakter,” Rasyid menambahkan. “Dia seorang pembelajar. Ingin mencari tahu jawaban, jalan keluar dari setiap masalah. Kukira itu yang membuatnya survive.” (hlm. 231).
Selain memiliki duri yang dapat melindungi dirinya sendiri, mawar juga tanaman semak yang memanjat yang tingginya bisa mencapai 2 sampai 5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain bisa mencapai 20 meter, (wikipedia.co.id). Ikonisasi pada bagian ini tidak boleh luput dari perhatian kita. Tokoh mawar dalam novel ini diikonkan dengan mawar langka, spesial, dan jarang ditemui. Mawar langka ini merambat di tanaman lain sampai 20 meter dan melindunginya dengan duri-duri yang menempel pada batangnya. Begitupun tokoh Mawar pada novel ini. Ia menanggung beban untuk mengembalikan kehormatan keluarganya. “Membantu Mama, melindungi keluarga, meninggalkan kuliah, bekerja mengurus ayam adalah hal yang dipilihnya sendiri. Ia takmenyesal bersusah payah. Sama sekali tak sempat berpikir pamrih atau menonjolkan diri di hadapan siapapun untuk mengatakan: akulah yang paling berkorban untuk keluarga. Ia menyayangi semuanya termasuk cempaka,” (hlm. 211). Mawar berhenti kuliah, memilih beternak ayam untuk menambah penghasilan keluarga. Ia membiayai kuliah Melati, adik bungsunya dan merelakan Melati mendahuluinya menikah.
Tegar di antara Dua Melati
Mawar adalah pusat. Itulah yang bisa ditangkap dari konflik yang ada pada novel ini. Dari sekian banyak konflik yang dialami tokoh Mawar, sebenarnya novel ini hanya menyuguhkan dua konflik besar. Dua konflik ini berkaitan dengan dua melati: tokoh Melati dan Yasmin. Dua tokoh ini pun diikonkan dengan bunga Melati. Dalam bahasa Indonesia, Yasmin berarti melati. Melati merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Melati putih (Jasminum sambac) yang harum melambangkan kesucian dan kemurnian. Bunga ini merupakan suatu keharusan hiasan rambut pengantin dalam upacara perkawinan berbagai suku di Indonesia, terutama suku Jawa dan Sunda (wikipedia.co.id).
Tentang kesucian dan kemurnian, bunga melati diikonkan pada tokoh Yasmin. Walaupun ia adalah anak yang lahir dari hubungan yang tidak senonoh antara Cempaka dan Fani, Yasmin tetap suci dan tidak bersalah. Tokoh mawar bersikeras meminta Cempaka untuk tidak menggugurkannya. Tentang ini tokoh Mawar berujar, “Ia memberiku firasat aneh. Berkali-kali mbak cempaka berusaha membunuhnya dengan minum jamu dan segala makanan berbahaya. Ingat waktu kita menolongnya ketika terjatuh di kos-kosannya dulu?” Melati mengangguk. “Hingga Mbak Cempaa mengalami pendarahan. Seakan-akan Yasmin ditakdirkan dengan kekuatan Allah untuk bertahan terhadap segaka serangan. Anak ini kuat Mel. Semoga kelak ia kuat menghadapi semua kebusukan hidup,” (hlm. 220-221).
Kekuatan tokoh Yasmin ini memberi kekuatan kepada Mawar untuk bertahan membersarkannya. Ini juga menjadi konstruksi karakter yang dilakukan tokoh lain terhadap tokoh utama. Yang satu menguatkan yang lain, dapat kita istilahkan demikian. Kehadiran Yasmin membuat Mawar yang awalnya tomboy berubah 180% menjadi keibuan. Perubahan ini menjadi bukti bahwa konflik dapat membangun karakter tokoh utama menjadi lebih baik.
Melati kedua adalah Melati, adik bungsu Mawar. Melati diikonkan sebagai suatu keharusan hiasan rambut pengantin dalam upacara perkawinan berbagai suku di Indonesia, terutama suku Jawa. Bunga melati yang kecil menjadi ikon tokoh Melati yang bungsu. Hiasan rambut pengantin menjadi ikon konflik kedua yang menimpa tokoh Mawar. Adik bungsunya, Melati meminta izin untuk menikah lebih awal, mendahuluinya. Kepada ibunya Mawar berujar, “Jujur, awalnya Mawar pun sempat kaget dan nggak percaya. Tapi, setelah berpikir jernih, Mawar ikhlas. Kita akan tenang, kan, Ma, melepas orang yang kita cintai ke tangan laki-laki yang salih dan bertanggung jawab?” (hlm. 251).
Dua konflik utama ini membentuk karakter utama pada tokoh Mawar yaitu ikhlas. Satu demi satu konflik ia hadapi untuk membangun keikhlasan dalam dirinya. Perjalanan kehidupannya menggambarkan bahwa ikhlas itu tidak karbitan. Ikhlas lahir dari kemampuan seseorang untuk mengatasi setiap masalah satu demi satu yang ditakdirkan Tuhan. Ikhlas itu manusiawi dan tidak akan melahirkan kata “mengapa?” pada setiap takdir dan ujian apapun.
“Sejak dahulu, Mawar tidak pernah kecewa dan membenci kehidupan yang memiliki corak beragam. Ia tak pernah iri kepada cempaka yang memiliki kecantikan sempurna, takpernah iri pada Dahlia, takpernah iri pada Melati yang seakan mendapatkan kesempatan hidup jauh lebih baik darinya. Ia takpernah merasakan Yasmin adalah baian penghambat kehidupannya sebagai perempuan,” (hlm.292).
Kepasrahan dan keberserahan dalam menghadapi satu demi satu ujiannya membuat Mawar mereguk kenikmatan ikhlas. Keikhlasan ini yang akhirnya menjadi ikon dari aroma bunga mawar yang harum ketika mekar. Pada episode akhir, Mawar menikah dengan Ito, sahabatnya semasa kuliah. Ujian demi ujian seperti pupuk dan air yang menyirami bunga mawar membuatnya semakin mekar merekah, dan dihinggapi kumbang. Tokoh mawarpun demikian. Pada akhir episode, Rasyid datang untuk mewakili Ito melamarnya. Mawar menikah dengan Ito dan lengkaplah kebahagiaan mereka. Seperti novel-novel FLP lainnya, kisah ini berakhir bahagia.
Yang Agak Mengganggu
Bagian yang agak menggangu dalam novel ini adalah kesibukan pengarang mengenakan satu demi satu tokohnya di awal. Seolah mengenalkan karakter tokoh di awal cerita merupakan fardu ain bagi seorang pengarang. Satu demi satu diary tokoh dideretkan. Seolah diberi tugas, setiap tokoh menceritakan karakter masing-masing atau pandangannya terhadap karakter tokoh lain. Tokoh Dahlia ditugasi bercerita tentang karakternya sendiri. Tokoh Cempaka ditugasi menceritakan dirinya, Ayah, dan Mama. Tokoh Mawar ditugasi menceritakan karakternya dan karakter saudara-saudaranya. Tokoh Melati ditugasi menceritakan kebungsuannya dan apa yang ia rasakan. Padahal semua itu dapat dilihat dari konflik yang membangun kisah.
Khatimah
Setelah membaca lengkap buku ini, saya jadi teringat Dr. Lina Meilinawati, Ketua Program Studi Sastra Kontenporer Pascasarjana FIB Unpad yang mengatakan bahwa setiap karya sastra selalu mengaitkan dirinya pada sesuatu. Sesuatu itu bisa ayat pada kitab suci, mitos, atau apapun. Pesan terdalam dari perjalanan hidup tokoh Mawar merangkup makna ayat Al Quran: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut: 2). Novel ini relatif tipis, hanya 318 halaman. Untuk pembaca yang tidak terlalu akrab dengan novel, Rose tidak terlalu menyesakkan dada. Ia relatif ringan dibandingkan dengan karya-karya Sinta Yudisia yang mayoritas bernuansa sejarah. Selain itu, novel ini sangat berpihak pada perempuan yang memiliki segudang aktivitas. Tokoh-tokohnya yang tidak terlalu banyak dan mudah diingat membuat mahasiswa, ibu rumah tangga, atau para perempuan yang sibuk di kantor dapat membacanya pada satu waktu, menyelanya dengan pekerjaan, lalu melanjutkannya di waktu lain tanpa takut lupa alur ceritanya. Seperti kata Roland Barthes, setelah karya lahir, pengarang telah mati. Dengan demikian pembaca bebas memaknai karya berdasarkan pembacaannya masing-masing. Selamat membaca.

Ketidaksederhanaan dalam Aku Ingin (SDD)

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang taksempat
diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang taksempat
Diucapkan awan kepada hujan
Yang menjadikannyanya tiada
(Sapardi Djoko Damono)
Puisi ini saya temukan saat duduk di bangku SMP, pada masa pencarian yang penuh pertanyaan tentang cinta itu apa. Waktu itu, puisi ini ada pada kutipan-kutipan majalah remaja edisi Februari yang celakanya diakhiri dengan kata “anoname” di belakangnya. Namun, sampai dipertemukan dengan nama Sapardi Djoko Damono, saya ingat betul, inilah puisi yang saya kutip waktu itu. Larik-larik sederhana ini saya gunting dan saya tempel di depan pintu kamar. Ah.. ternyata sense ketertarikan saya terhadap sastra sudah ada sejak dulu.
Yang hendak saya bicarakan bukan itu. Saya ingin berbicara tentang kebertemuan, tentang keberpapasan, tentang akhir dari sebuah pertanyaan bodoh saya sebagai seorang penikmat sastra. Saya ingin menceritakan tentang akhir perjalanan saya menelusuri kata demi kata dalam puisi ini. Mungkin ini bukan akhir, karena tidak ada kata akhir dalam pemaknaan terhadap sebuah karya sastra. Ini adalah awal pencerahan yang saya alami dalam memaknai puisi ini. Mungkin –bahkan saya yakin- saya termasuk orang yang amat sangat terlambat dan leeemot dalam memaknai puisi ini. Mbah –eh, Prof- Damono, maafkan saya..
Hari ini saya mendapat mata kuliah Industri Seni dari Acep Iwan Saidi (AIS), seorang seniman dan dosen tamu di Kajian Budaya Unpad. Kami membahas kreavitas dalam berseni, sastra termasuk di dalamnya. Dalam proses kreatif atau penciptaan karya sastra, terdapat proses empati atau penghilangan jarak antara pencipta, media, dan karya yang diciptakan. Puisi adalah sebuah karya sastra dan bahasa sebagai medianya. Pada saat seorang penyair menciptakan puisi, ia akan menghilangkan jarak antara dirinya dengan bahasa. Ia juga akan menghapus jarak antara dirinya dengan sesuatu yang sedang ia sampaikan. Bersajak berarti sedang bermetafora. Menurut Acep Iwan Saidi, “Ilmu tentang metafora adalah ilmu tentang ketahupersisan seseorang tentang apa yang sedang ia metaforkan.” Orang yang suka berpuisi, pasti tahu persis dan mengalami hal ini. Yang harus dihindari dalam berpuisi atau berkarya sastra adalah menciptakan metafora mati. “Hindari metafora mati!” kata AIS. Setiap penyair harus mampu membuat metafora-metafora hidup tentang sesuatu yang ia sampaikan agar pembacanya dapat menafsirkan apa yang ia sampaikan dengan bebas. Inilah yang dilakukan Damono dalam puisi Aku Ingin. Ia menyampaikan ketidaksederhanaan cinta dalam kesederhanaan.
Tentang Ketaksederhanaan
//aku ingin mencintaimu dengan sederhana// larik ini menggambarkan ungkapan cinta seseorang terhadap yang dicintainya. Kecintaan inipun tidak hanya bisa kita terjemahkan sebagai kecintaan terhadap seseorang, tapi juga sebagai kecintaan terhadap sesuatu. Dalam larik ini aku-syair sedang mencerminkan konsep kesederhanaan cinta yang ada di benaknya. “Ini lho kesederhanaan cinta menurutku!” singkatnya begitu. Cinta yang sederhana diungkapkan oleh penyair // dengan kata yang taksempat/ diucapkan kayu kepada api/ yang menjadikannya abu//. Mari kita maknai, apakah proses perubahan kayu menjadi abu adalah sesuatu yang sederhana? Mahasiswa fisika pasti genap tahu kerumitan dan detail proses tersebut. Dari sebuah kayu utuh, terbakar, menjadi bara, lalu setelah beberapa lama ia akan berubah menjadi abu. Tidak jarang ada kayu yang berdiam sebagai bara atau arang di akhirnya. Namun, pada puisi ini, kayu tersebut sempurna berubah menjadi abu. Kualitas api yang mengubah kayu menjadi arang, dan mengubah kayu menjadi abu tentu berbeda bukan? Api yang ngubah kayu menjadi abu tentu lebih kuat daripada api yang hanya mengubahnya menjadi bara. Api yang mengubah kayu menjadi abu bekerja sempurna sampai selesai. Ia tidak padam di pertengahan. Pembakaran yang dilakukannya sempurna. Api telah mengubah kayu dengan sempurna menjadi abu.
Ungkapan terima kasih yang dalam, inilah mungkin yang dimaksud dengan cinta sederhana oleh penyair. Kayu taksempat mengatakan terima kasih kepada api atas perubahan sempurna yang dialaminya. Ketaksempatan ini juga menggambarkan betapa besar api yang membakar kayu tersebut sehingga proses pembakarannya pun amat cepat dan sempurna. Kecepatan perubahan ini menggambarkan betapa besar motivasi kita untuk berubah. Motivasi besar yang menggerakkan seseorang pada perubahan itulah yang bisa kita namai cinta. Mencintai berarti berterimakasih kepada seseorang yang telah mengubahmu menjadi lebih baik, berada dalam kebaikan sempurna dengan cepat. Berubah dari kayu menjadi api tentu bukan sesuatu yang sederhana. Berubah dari acak-acakan menjadi rapi jali tentu bukan hal yang sederhana. Berubah dari jarang mandi menjadi rajin mandi tentu bukan sesuatu yang sederhana. Namun, perubahan ini dapat terjadi dengan kekuatan cinta yang besar bukan?
Lantas kekuatan cinta yang besar akankah dibalas dengan cinta yang sederhana? O, tentu tidak! Penyair sedang memperlihatkan sederhana versinya. Kesederhanaan cinta menurut penyair adalah ungkapan cinta atas cinta yang membara api. Sunggu ini bukan cinta lemah. Ia cinta yang membara kuat dalam hati dan melahirkan perubahan dan perbuatan.
//aku ingin mencintaimu dengan sederhana// larik ini menggambarkan kesahajaan penyair di hadapan yang dicintainya. Ia tidak mengemas sesuatu yang dalam dengan kerumitan. Ia membungkus detai dengan kesederhanaan. Ia menyampaikan gebu dengan ketenangan. Inilah sikap yang ia pilih di hadapan yang dicintainya. Penyair mengungkapkan cinta //Dengan isyarat yang taksempat/ Diucapkan awan kepada hujan/ Yang menjadikannyanya tiada// Lagi-lagi penyair sedang menggambarkan kesederhanaan dalam versinya. Adakah sederhana perubahan awan menjadi tiada? Dari ada menjadi tiada.
Kembali penyair sedang memperlihatkan kesederhanaan atas kerumitan. Awan yang berubah menjadi hujan dan menghilang apakah mengalami proses yang sederhana? Apakah awan benar-benar tiada? Atau apakah dia sebenarnya pergi bersama hujan lalu tiada? Berubah dari air menjadi awan, menjadi hujan, dan menjadi tiada adalah perjalanan. Jika ingin mengetahui detailnya dapat dibaca di sini. Dalam perjalanan panjang itu ada rintangan yang dialami air. Saya kutipkan sebagian statment dari artikel
tersebut,
“Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.”
Hujan perlu mengalami panjang untuk mencapai tanah. Sebagiannya mengalami perjalanan panjang untuk kembali menjadi awan. It’s not a simple thing! Awan bukan tiada, tapi ia bersama hujan beranjak dari langit ke bumi. Siapa yang tidak bahagia dibersamai? Ungkapan cinta yang kedua adalah ungkapan terima kasih atas kebersamaan. Kebersamaan yang dijalani dengan tidak tanpa hambatan. Ungkapan cinta yang digambarkan sebagai ungkapan terima kasih atas kebersamaan tentu tidak sederhana bukan? Ia besar, lengkap, dan sempurna. Inilah cinta sederhana yang dimaksud oleh Sapardi Djoko Damono. Inilah cinta sederhana yang amat tidak sederhana. Damono meminjam kata dan isyarat yang akan diungkapkan kayu dan awan atas ketidaksederhanaan peristiwa yang mereka alami. Damono meminjam ungkapan -mungkin- terima kasih atas cinta yang membara dan kebersamaan yang sempurna untuk mengungkapkan kesederhanaan cintanya.
Saya jadi berpikir tentang cinta saya, apakah sebesar itu? Apakah cintaku memang benar-benar sederhana dalam arti yang sebenarnya? Ah.. semoga tidak.
*ini hanya pembacaan saya, silakan memaknai dengan cara berbeda.
**gambar di sini

*Ranting Jangan Mudah Patah -sinopsis-

Menunggu? Kamu pernah menunggu? Keindahan menunggu telah genap dialami oleh Sabillah, tokoh utama dalam novel ini. Sedih, cemas, harap, putus asa, dan keinginan untuk keluar dari ruang tunggu telah genap dia rasakan. Namun, hanya orang-orang sabar dan berpikiran positif yang akan menang melawan penantian.
Sabilla, seorang mahasiswa tingkat akhir yang berpacaran dengan seorang lelaki bernama Runo. Salah seorang teman Sabilla memperkenalkan Runo kepadanya. Sabilla menyukainya sejak pertemuan pertama. Cinta pada pandangan pertama boleh dikata. Dalam beberapa waktu hubungan mereka berlanjut serius dan akhirnya Runo melamarnya.
Saat dilamar, apa yang dirasakan peremuan kecuali bahagia? Pertunangan Sabilla dan Runo tidak biasa. Sabilla tidak dipinang dengan sepasang cincin pertunangan tapi dengan sepasang jam tangan. Satu untuknya, satu untuk Runo.
“Ia mengeluarkan sebuah kotak yang lebih besar dari kotak cincin. Ternyata sepasang jam tangan. Tak ada satupun dari kami yang menyangka bahwa tak ada cincin dalam proses lamaran ini. Jauh dari pikiranku untuk menikahi pria seperti ini. Untuk menikahi pria seistimewa kekasihku,” (hlm 13).
Dalam benda ini penulis berpesan kepada Sabilla dan pembaca tentang waktu. Pertunangan adalah satu momen berjeda sebelum pernikahan. Jeda itu bisa memakan waktu sebentar, bisa juga memakan waktu lama.
Apa yang abadi dalam waktu selain perubahan? Takada yang abadi selain perubahan, begitupun pada kisah ini. Baru beranjak pada halaman 22, kita disuguhi perubahan yang klimaks.
Runo berkata, “Aku rasa kita takbisa melanjutkan hubungan ini. Atau mungkin kita harus untuk waktu yang entah kapan,” (hlm 22).
Baru memasuki chapter dua kita sudah disuguhi halilintar perpisahan Sabilla dan Rona. Pertanyaan selanjutnya adalah: Apa yang dirasakan seorang perempuan yang batal menikah? Takada yang lain kecuali luka dalam. Lalu apa yang dirasakan perempuan yang takjadi menikah ketika menghadiri pernikahan temannya, sementara semua orang sudah tahu bahwa pernikahannya yang kandas itu tinggal 5 bulan. “Ternyata datang ke kota ini hanya menambah lukaku. Luka tentang takbisa menerima bahagia yang orang punya,” begitulah penulis mengawali awal chapter tiga yang menyedihkan.
Untuk mengobati luka diri sendiri, Sabilla memutuskan untuk pindah, menyendiri di apartemen. Sabilla tidak membicarakan sedikitpun tentang pembatalan pernikahannya kepada keluarganya. Walhasil, tanpa ia sadari waktu berjalan begitu cepat, tiba saatnya pertemuan keluarga untuk mempersiapkan pernikahan. Kedua orang tuanya menyiapkan segalanya di rumah sementara ia di apartemen. Pada hari H, ia ditelpon dan terpaksa menjelaskan semuanya kepada keluarganya.
“Kami sudah mempersiapkan semua ini, Sabilla. Mengapa kau mendadak bicaranya?” tanyanya-kakak Sabilla- lagi dengan nada yang tidak mengenakkan.

“Mengapa bicara begitu seenaknya? tanyaku. Aku sudah mengatur emosi dengan baik, tapi ternyata gagal.

“Jika kau mau tahu Runo di mana, aku pun tak tahu Runo di mana! Dan jika kau kira setiap hubungan akan berakhir seperti ceritamu, kau salah besar! Setiap hubungan takkan selalu berakhir seperti hubungan kau dengan suamimu!” (hlm 64). Sabilla menumpahkan kesedihannya dengan nada marah.

Pada chapter 4 ada sebuah percakapan, “Kau akan pulang hari ini?” tanyaku.
“Mungkin esok hari, pagi-pagi sekali, sepertinya esok meeting tentang kepergianku ke Jerman,” ucapnya.
“Tiga tahun bukan waktu yang sebentar,” tangkasku, (hlm 56).
Ternyata kepergiannya ke Jerman yang menjadi alasan Runo memutuskan pernikahan. Namun, begitulah lelaki dudul, pendiam, bicara seperlunya, Runo tidak mengungkapkan alasannya kepada Sabilla.
Orang tua Sabilla pasti kaget menerima keputusan Runo yang mendadak. Dalam hal ini penulis menggambarkannya dalam akhir chapter empat, “Aku takpernah melihat orangtuaku serapuh ini. Serapuh aku,” (hlm 74).
Kerahasiaan pemutusan pernikahannya masih memenuhi benak Sabilla. Setiap Runo online di jejaring sosial, ia selalu bertanya. Namun, takpernah ada jawaban pasti. Sampai pada suatu hari Runo mengajak Sabilla bertemu di Bandung. Pada bagian ini penulis menggambarkan dalam sebuah kutipan,
Kuakui setiap datang Runo selalu mencerahkan hariku. Menjauhkan belengguku dan membekukannya lagi ketika ia pergi. Kami membatasi apa yang harus dibatasi. Tentang aku yang bukan calon istrinya, tentang ia yang bukan calon imamku. Bicara dengan alasan ingin bicara. Bukan rindu,” (hlm 86).
Pertemuan mereka berupa percakapan,
“Ada yang ingin kau sampaikan? tanya Runo.
“Bisa tak menatapku seperti itu?” balasku.
“Aku rindu bola matamu. Bola mata yang selalu bersinar, yang selalu membuatku ingin melihatnya lagi,” ujar Runo.
Sabilla menangis.
“Mengapa menangis? Aku tidak sedang membual,” Runo meyakinkan.
“Mengapa kamu tidak mengondisikan hari ini sebagai hari di mana hubungan ini memang selesai dan aku tidak perlu berharap banyak?” ujarku dengan tangis tak henti (hlm 90).
Di akhir chapter 5 tertulis, “Ada pesan yang belum terbaca di ponselku, ‘terima kasih ya kemarin. Kau selalu membuatku terpesona ketika melihatmu lagi. Jaga dirimu baik-baik ya Sabilla. Suatu saat aku kembali, pasti, dan bersiap lagi terpesona lagi melihatmu,” (hlm 9).
Setelah pertemuan itu, pada chapter-chapter berikutnya hari-hari penting dilalui Sabilla tanpa Runo. Hari wisuda, hari ulang tahunnya, hari kematian neneknya dan hari kepergiannya ke Jepang untuk melanjutkan sekolah. Ya! Sabilla harus mengambil putusan untuk tidak terpuruk dalam kesedihan. “Aku lelah dengan posisiku yang takjelas. Aku harus mengajarkan (mengajari-edited) diriku untuk lebih kuat tentang hal ini,” (hlm 147).
Pada waktu-waktu terakhir sebelum S
abilla berangkat ke Jepang, Runo mengajaknya bercakap.
“Mengapa kamu membiarkan hubungan kita berantangan saat selangkah lagi menuju pelaminan?”
“Aku takyakin Sabilla. Dengan kau yang masih muda, wanita seumurmu masih bisa ke mana-mana. Masih bisa berdansa dengan egomu. Sedangkan kau, ketika resmi menjadi istriku dan kau masih ingin seperti mereka..”
“Lalu di mana egomu? Gila. Aku mengubah banyak hal untukmu. Kau tahu bagaimana perasaanku saat kau meninggalkanku begitu saja dan memikul malu saat semua tahu kita begitu serasi tapi kau putuskan untuk meninggalkan aku begitu saja?” (172).
Akhirnya Sabilla pergi ke Jepang selama dua tahun. Di akhir chapter, ia kembali ke Indonesia dan di sambut oleh semua temannya. Tanpa disadari, ternyata selama Sabilla ada di Jepang, Runo yang mengurusi keluarganya. Ayahnya yang sakit dan berbagai hal lainnya. Ternyata juga setiap hari ulang tahun Sabilla, Runo selalu mengiriminya kartu pos dan kado ulang tahun.
Setelah sebulan tinggal di Indonesia, Sabilla kedatangan tamu: Runo.
“Aku sudah menaklukkan semua yang aku cita-citakan,” ucap Runo.
“Aku juga,” balasku.
“Tapi aku merasa ada yang kurang,” ucapnya lagi.
“Aku merasa tidak ada yang kurang. Semuanya lengkap,” ucapku.
“Eh, aku juga” ralatnya.
“Mengapa pernyataanmu berubah?” tanyaku.
“Setelah kupikir-pikir, kau bukan bagian dari cita-citaku,” ungkap Runo.
“Ya sudah, mau ketemu ayah kan?” tuturku.
“Tapi bagian dari masa depanku Bill.. Kembalilah!,” ucap Runo.
“Dengan satu syarat,” ucapku.
“Apa?” tanya Runo.
“Jangan pergi lagi,” ucapku menerobos bola matanya.
Runo mengangguk. Melihat ke arah ayah dan sahabat barunya sambil tersenyum, (hlm 214).
Pada chapter penghabisan Sabilla menulis surat untuk almarhum neneknya:
Nek, benar yang nenek katakan dulu, tentang sesuatu yang takkan datang bila memang takbaik, tentang sesuatu yang takkan datang bila memang taktepat waktunya. Takperlu khawatir lagi ya. Runo cucu nenek sudah kembali” (hlm 214).
* penulis Ericka Citra Sejati
** Resensi dan analisisnya menyusul ya

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript