Happy Waiting on Learning

Image

Hmm, buat aku, kamu (yang gakbisa disebut namanya) itu abstraknya tingkat tinggi. Referensiku tentang kamu cuma satu, diriku sendiri. Pantaslah kamu belum dateng, aku masih gini-gini aja di sini. Pantes kamu belum dateng, aku masih belum bener-bener pantas dijemput. Yaudah, kalau kamu masih mau memperbaiki diri jadi lebih shalih, silakan. Aku mau ngerjain tesis sampe beres and wisuda. Dateng beberapa hari setelah wisuda juga gak apa-apa, tapi bukan berarti aku ngelarang kamu dateng lebih cepat ya. Keep Fight!

*efek muter-muter di IBF Bandung, beli kado buat temen yang mau nikah besok :p

Advertisements

Tes Toefl [Lagi]

sendal buluk

dulu yang difoto kakiku sama kaki Galuh. Sekarang sendirian :(

Senin, 21 Januari lalu aku tes toefl lagi, sebagai salah satu pemenuhan syarat Sidah Usulan Penelitian tesisku. Hmm.. tes toefl ini mengingatkanku pada tes toefl 2009 lalu. Waktu itu aku tes toefl bareng Galz dan temen-temen yang lain. Huffh.. kenapa ngobrolin hal-hal yang udah lewat siy Nda? Inilah aku, referensiku soal toefl memang cuma pengalamanku waktu tes bersama teman-teman empat tahun lalu. Pengalaman tes toefl itu mengiringi posting perdanaku di MP. Menggerutu soal toefl di QN pertama MP yang sudah almarhumah kini =))

Waktu berlalu, dunia memang berubah, ruangan tesku juga berubah. Senin lalu aku tes bersama mahasiswa-mahasiswa S2 yang sedang mengejar kesempatan untuk SUP bulan depan. Pada masa perkuliahanku kali ini, kampus hanya tempat belajar, tidak ada kehidupan di sana. Mungkin diri ini sudah menutup pintu kehidupanku yang (padahal) disesaki kelengangan. Padahal yang tes toefl itu temen seangkatan, walaupun nggak sejurusan, tapi tetep aja males nyapa or sekadar say hi sama mereka. Selain speachless, kadang kalo udah S2, males banget ngobrol sama orang kalo gak ada hubungannya sama nilai kuliah atau penelitian.

Setelah masuk ke ruangan  dan bertatapan dengan soal-soal tes itu, ternyata jenis soalnya sama persis dengan soal yang aku kerjakan waktu tes masuk S2 2011 lalu. Seidentik apapun soal itu, aku tetep nggak bisa ngerjain dengan cepat. Soalnya, aku kan nggak pernah ngebahas kunci jawabab soal toefl itu. Bagian listening agak pabaliut gegara sibuk ngebuletin. Bagian gramer lumayan ngerti, banyak soal-soal yang udah dipelajari. Etapi tetep kerasa kesusu pas bapaknya bilang, “25 menit lagi,” dan aku masih ngerjain gramer, padahal 50 soal reading masih menunggu.  Alakullihal, yang paling terbantu adalah bagian reading karena teks yang dulu sama yang sekarang udah pasti sama. Aku nggak perlu baca detail teksnya karena udah pernah baca. Pilihan gandanya pun udah pernah aku pilih. Bagian ini lumayan bikin menghemat waktu. :)

tempat tes

ini dia ruangan tesnya. dari dulu FIB tetap gelap yah..

Kalo dijalani, selesai juga kan yah.. Akhisnya setelah tes, aku pulang bawa buku-buku bahan tesis yang setumpuk itu. Pekan depan hasil tesnya keluar, semoga diberi yang terbaik oleh-Nya. Aamiin.

Belajar Mencintai Indonesia Dari Deddy Mizwar

Beberapa hari setelah deklarasi pencalonan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat dari koalisi PKS, PBB, Partai Hanura, dan PPP pada Pilgub 2013 saya terkaget dengan sebuah selebaran yang bertajuk “Kalem We da Aya #Ayobalikkekampus! H2S Hari-hari Sastra.” Pasalnya selebaran yang dibagikan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya tersebut adalah undangan untuk mengikuti KURUCETRA “Kumpul Rutin Cerita Sastra” yang membedah film “Tanah Surga Katanya” bersama Deddy Mizwar. Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang (hanya baru) melek politik, saya berpikir acara ini akan menjadi ajang kampanye buat Deddy Mizwar. Namun, setelah mengikuti acara tersebut ada ruh lain yang saya dapat.

Ya! Ruang-ruang diskusi sastra adalah tempat bisu untuk para praktisi politik. Di sana mereka tidak dapat berkampanye secara vulgar. Sastra adalah tempat insan-insannya menjual gagasan. Takada ruang istimewa bagi yang bertangan kosong dalam sastra. Siapapun menjual ideologi dalam karyanya. Pramoedya Ananta Toer dengan sosialismenya, Ayu Utami dengan feminismenya, atau M. Irfan Hidayatullah dengan Islamnya, mereka dengan penuh kesadaran membawa ideologi dalam karya-karyanya. Orang-orang yang bertangan kosong hanya akan berada di pinggiran dengan karya absurd yang tanpa sadar mendukung ideologi mainstream. Takada karya tanpa gagasan yang dijual dalam sastra.

Berbicara film berarti berbicara isi cerita. Membaca isi cerita berarti membaca gagasan yang ditawarkan oleh seorang seniman. Begitupun pada film “Tanah Surga Katanya..” yang diproduseri oleh Deddy Mizwar. Film ini menceritakan perjalanan panjang seorang Salman mengeja kecintaan terhadap bangsanya. Ia dihadapkan dengan situasi-situasi antagonis yang memaksanya untuk mencari penghidupan di Malaysia. Ayahnya menikah dengan perempuan malaysia agar lebih mudah menjadi warga negara sana. Ia diajak ikut pindah dan menjadi warga negara malaysia. Di sisi lain, kakeknya adalah mantan relawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965. Kakeknya tentu takmengizinkan Salman pindah kewarganegaraan. Sesederhana apapun kehidupan di Perbatasan Indonesia-Malaysia itu, kakeknya tetap lebih memilih hidup di negeri sendiri ketimbang di negeri orang.

“Perjalanan cinta Salman pada negaranya ini mengajari kita soal anugerah terindah dalam mencintai,” kata Deddy Mizwar. “Cintailah manusia tanpa harus mengingkari kebenaran,” tambahnya. Film ini mengajari kita soal banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghargai negara ini. Di Malaysia bendera Indonesia hanya dijadikan alas dagangan rempah-rempah. Ia taklebih dari warna merah dan putih yang takberbeda dengan warna kuning, hijau, dan coklat. Adegan ini jadi simbol bahwa pihak yang menjual Sumber Daya Alam Indonesia ke luar negeri hanya menjadikan negara sebagai alas dagangannya untuk memperkaya diri. Salman sampai harus bersiasat untuk mengambil bendera itu dari orang yang menjadikannya sebagai alas. Ia menukarnya dengan sebuah sarung dan mengibarkannya sambil berlari ke Indonesia. Dalam adegan itu sangat terlihat perbedaan jalan Indonesia – Malaysia. Jalan di Malaysia lebih bagus daripada jalan di Indonesia. “Namun, sejelek apapun, itulah kebenarannya. Saya tidak mungkin membagus-baguskan negara kita dalam film itu. Nanti saya bohong!” ujar Deddy Mizwar. “Kalau dalam sepakbola Indonesia dikalahkan Malaysia, saya juga tidak mungkin menceritakan Indonesia menang dalam film ini, nanti saya bohong lagi. Citra visual dalam film adalah refleksi realitas yang ada di Indonesia.” Tambahnya.

Pesan dalam film ini terrangkum dalam puisi Salman ketika menyambut pejabat pemerintah dari Jakarta:

Tanah Surga Katanya

Bukan lautan hanya kolam susu, katanya

Tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu

Kail dan jala cukup menghidupimu, katanya

tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara

Tiada badai tiada topan kau temui, katanya

Tapi kenapa ayahku tertiup angin ke malaysia?

Ikan dan udang menghamiri dirimu, katanya

Tapi kata kakek, “Awas ada udang di balik batu!”

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya

Tapi kata dokter intel, belum semua rakyatnya sejahtera. Banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri

Benar kata Deddy Mizwar, cintailah bangsa ini tanpa harus mengingkari kebenaran. Pesan ini dirangkum dalam adegan terakhir, pesan sang kakek sebelum wafat, “Apapun yang terjadi jangan pernah kehilangan cinta pada negeri ini!” Film ditutup dengan adegan Salman berlari membawa bendera merah putih sambil berlari dari Malaysia ke Indonesia. Kembali gagasan nasionalisme disampaikan oleh Deddy Mizwar. Namun, kali ini disajikan dengan lebih halus, tidak sesatir Nagabonar Jadi Dua dan Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Gagasan nasionalisme ini adalah ajakan untuk membenahi negara ini berdasarkan realitas yang ada di perbatasan. Generasi mudalah yang menjadi pemegang amanah perbaikan negara ini. “Kaum Nabi Nuh dimusnahkan oleh Allah karena takmelakukan perbaikan, kaum Nabi Luth juga demikian, bahkan Turki Utsmani juga dimusnahkan oleh Allah, jangan sampai negara kita mengalami hal yang sama. Kalau ada ketidakberesan di negeri ini, lakukan sesuatu karena merasa tidak suka dalam hati adalah perbuatan selemah-lemahnya iman. Kalaupun negara ini akan dimusnahkan, paling tidak, saya ada di barisan orang-orang yang berbuat sesuatu melalui film,” ujar Deddy Mizwar. “Tapi janganlah sampai negeri ini dimusnahkan. Ayo kita berbuat sesuatu untuk negeri kita dengan karya paling tidak.” Tambahnya. Moderator diskusi waktu itu sampai berkata, “Saya merasa sedang ada di PPT (Para Pencari Tuhan-pen). Serasa dinasehati sama Bang Jek.”

Gagasan dalam film ini sudah menjadi salah satu alasan saya untuk memilihnya dalah Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013 nanti. Ide perbaikan dan nasionalisme sudah ada dalam film-film Deddy Mizwar. Saatnya ia bekerja konkret untuk Jawa Barat sebagai salah satu bagian dari Indonesia. Gagasan besar untuk negara ini selalu hadir dari seorang besar bukan?!

MAHA PENGHIBUR

Kamu percaya nggak, Allah Swt Yang Maha Baik itu ternyata Maha Penghibur???? Kalau aku percaya dan yakin bangeeeeeeet! Kalau ada satu bagian hidupku yang do’a tentangnya sedang ditangguhkan, atau waktu pengabulannya belum tepat menurut-Nya, Allah Swt selalu memudahkan hidupku pada bagian lain. Aku yakin, bagian lain yang ia mudahkan dan sempurnakan itu adalah salah satu wasilah buatku memantaskan diri menyambut pengabulan do’a yang lain dari-Nya.

Beberapa waktu lalu aku nyari buku Hijab Style official diterbitkan oleh Hijabers Community. Pertama aku dateng ke Palasari. Ternyata bukunya nggak ada. Akhirnya aku malah nemu buku Elemen-Elemen Semiologi karya Roland Barthes. Aku beli buku ini buku Barthes memang langka, takut keabisan. Jadi, kepaksa beli.


Takmenyerah, aku nyari lagi buku hijab style ke Gramedia, tapi ternyata gak ada. Sempat sedih siy. Eh, ternyata aku nemu buku Hijab Street Style karya Dian Pelangi yang justru mendukung penelitianku. Buku Elemen-elemen Semiologi sama Hijab Street Style itu cetak pertama bulan September 2012. Jadi, wajar aja Allah Swt nggak menakdirkan aku kepikiran mau nulis tesis soal Hijab Style sejak sebelum Ramadhan, wong Dia menakdirkan dua buku itu terbit setelah bulan Ramadhan.

Yang mencengangkan lainnya, aku kan mau nganalisis hijab style dari sisi fashion atau gaya berpakaian ya.. Eeeeh, di teori elemen semiologi itu ada definis pakaian sebagai elemen semiologi. Howaaaah! Tambah bahagia ajah. Padahal beli buku itu aja nggak sengaja. Aaahh.. takada kebetulan di dunia ini. Semuanya sempurna diukur oleh Allah Swt.
Kemaren sore, hal yang sama kembali aku alami. Pas hati lagi perlu dirapikan dengan penuh perjuangan, lagi cemas gak jelas, tetiba chagie sms, “Teh, Hari ini aku ke Bandung, bawa buku pesananmu.. Kapan bisa bersua?” Begitulah Allah Swt merapikan hati yang sedang runyam. Akhirnya janjian sama chagi di Masjid Al Jihad Unpad. Di sana aku dapet 3 buku baru.

Semiologi Roland Barthes

Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya karya Benny H. Hoed

  Imaji, Musik, Teks karya Roland Barthes.

Setelah dapet buku, kami makan siang di WS sambil berbincang soal soal PILGUB Jabar, kepemimpinan orang Sunda, Perang Bubat, larangan orang Sunda menikah dengan orang Jawa, semuanya dari sudut pandang mitologi dan semiologi 😀 Senang sekali ada teman yang bisa diajak mengasah otak, memuntahkan satu bagian kepala yang mulai mendesak. Semoga hiburan dari Allah Swt ini tidak aku sia-siakan. Februari 2013 sudah ada di depan mata. Agustus 2013 sudah mulai berlari mengejarnya. Hap! Hap! Prioritas hari ini adalah ~> Amanah editing Buku Tauhiid, Hafalan Quran, Tesis, dan Adik Liqoan. Website Kemuslimahan KAMMI sama Website Sekolah Ibu gimana? *Hadeuuuh banyak yang harus dikerjain, tapi yang malah banyak tulisannya justeru blog ini ahahahah!

Semoga terselesaikannya amanah ini menjadi wasilah tibanya waktu yang tepat itu #Halah! Doakan aku temans! Doakan agar aku selalu punya alasan untuk berkata, “Takdir Allah Swt pasti selalu baik ^^9”

Main Ke Jogja

Pekan lalu aku main ke Jogja. Hmm.. aku katakan main karena inti acara itu memang main. Selain main, hari itu ada pertemuan penerima Beasiswa Unggulan DIKTI yang lagi mempertanyakan nasibnya setelah lulus nanti. Peserta yang dateng dari berbagai univ di ENDONESA. Dari Unpad cuman 4 orang hadeuuuh.. Dari Sumatra, Jawa, NTB, Sulawesi, dll pada dateng. Hasil terpenting dari acara itu adalah: Setelah selesai kuliah para penerima beasiswa akan dikembalikan ke universitas pengirim. Kalau statusnya kayak aku, yang nggak dikirim sama universitas, akan ditempatkan di 28 universitas baru di Indonesia. Bahagianya adalah: salah satu universitas baru itu adalah Universitas Siliwangi yang ada di Tasikmalaya, tempat kelahiranku hehehe..

All Peserta

dicari sampe botakpun nggak akan nemu aku, secara aku gak ikutan foto ahaha

Rumah Quran

aku transit di sebuah rumat tempat calon bidadari, penghafal Al Quran ^^8

masjid Apung Sekolah Pascasarjana UGM

tempat Neng Tya murajaah hafalannya. arsiteknya terispirasi dari surga yg dibawahnya mengalir sungai

registrasi peserta

gedung lengkungUGM


aula lantai 5 gedung sekolah pascasarjana UGM

sebelum acara dibuka

sebelum berangkat ke Kaliurang

lambang di belakangnya sesuatu banget

akhirnya bisa foto kereta batman

setelah dari Kaliurang sempet main ke Ayon dan Shali. Subhanallah dianterin beli oleh-oleh bareng Neng Tya juga. Seneng banget bertemu orang-orang keren di sana. Semoga bisa ke sana lagi with Suami Kucay ^^8

suatu saat semoga bisa bersama, menapak tanah yang sama di bawah langit yang sama

Proposal Tesis S2 Penciptaan

 

Buat kamu-kamu yang asing dengan dunia seni dan budaya, pasti kaget dengan postingku ini. Tesis biasanya sebuah karya ilmiah tebal yang dipertanggungjawabkan dalam sidang magister. Kalau yang jurusannya MIPA or sejenisnya, tesis juga bisa berupa produk inovasi.  Nggak jauh beda dengan itu, beberapa waktu lalu aku menyimak kakak kelas S2 yang kuliah di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung yang lagi seminar proposal tesis mereka. Bagaimana calon tesis mereka? Ini dia:

Sebelum masuk ruangan kita dikasih stiker ini. Isinya menggambarkan apa yang akan kami saksikan. Sebenernya ada banyak pertunjukan, tapi kerana aku telat jadi yang terdokumentasi hanya sedikit.

Drama dengan judul Massa Mengambang

Drama ini mengangkat kondisi politik saat masa kampanye dalam PEMILU di negara kita. Massa mengambang adalah sekelompok masyarakat yang belum punya putusan pilihan sebelum PEMILU. Biasanya calon yang menjadi peserta PEMILU memanfaatkan suara dari massa mengambang ini dengan bagi-bagi uang. Nah, orang-orang yang ada di bawah ini adalah oknum partai yang bertugas membagi-bagi uang untuk membeli suara. Lucunya mereka tidak hanya membagi uang dari partai biru tapi juga dari partai merah.

Sutradara Massa Mengambang:

Musik : Boboko

Boboko ini bener-bener pentas yang i have no idea about that. Ide dasarnya adalah boboko, tempat makan yang berasal dari sebilah bambu. Bambu kan punya ruang di tengahnya, sama seperti kerongkongan kita. Nah, ternyata bambu itu dibuat menjadi boboka (tempat nasi) dalam bahasa sunda. Nasi yang kita makan juga melalui kerongkongan bukan? Musisi ini akhirnya terinspirasi untuk membuat musik yang vokalisnya menggunakan kerongkongan, musik underground. Pokoknya bunyinya nggak jauh dari orang yang teriak-teriak deh. Karena penampilannya serba hitam, aku nggak bisa ngambil gambarnya. Dalam pentas ini ada dupa sebagai penanda kematian dan kemagisan boboko. Secara, sekarang boboko sudah hilang fungsinya. Magicom sudah mengganti fungsi boboko. Musik ini jadi terasa agak bisa dinikmati karena diiringi piano. sayangnya aku gak bisa dapet gambarnya karena gelap.

Komposer:

Drama Musikal: Aku Ingin

Penampilan ketiga adalah drama musikal Aku ingin. Drama ini terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul sama dengan judul drama ini. Ceritanya klasik soal percintaan anak SMU yang mulai masuk kuliah. Drama ini digabung dengan video. Jadi gimana ya jelasinnya,,, hmmm.. ketika kita nonton drama, latar suasana di belakangnya berupa video shooting. Selain nonton drama, kita juga nonton rekaman video anak-anak itu sebagai citra visual juga sebaga latar suasana. Ini inovasi latar. Misalnya, orang yang di depan stage lagi akting ngelamun, nah,,,, di layar akan terlihat citra visual yang sedang ia lamunkan. begitu sederhananya..

Di akhir para aktor musikalisasi puisi Aku Ingin:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

sutradara:

The end

Setelah aku nonton tiga proposal itu, entah kenapa terbersit sebuah puisi #halah.. Aku tulis di secarik tisyu yang udah GJ. Daaaaan puisi ini jadi mantra paling mujarab buat temenku yang baru-baru ini menikah. Ahaha!

 

 

 

 

Internasionale Karya Goenawan Muhammad


Menurut Franz Magis-Suseno dalam bukunya Pemikiran Karl Marx, Internasionale adalah Asosiasi buruh Internasional yang terdiri dari buruh Inggris dan Prancis. Asosiasi ini didirikan tahun 1864. Tujuan Internasionale adalah untuk melakukan pembebasan kelas buruh yang berdasarkan usaha kelas buruh sendiri. Tujuan usaha ini bukan mendirikan kelas lagi melainkan menghapus segala kekuasaan sebuah kelas atas kelas lainnya.

Dalam puisi Goenawan Muhammad yang berjudul Internasionale, kata ini adalah ikon dari buruh, ideologi buruh,dan apa yang dialami oleh mereka sejak dulu hingga kini. Puisi yang ditulis Goenawan ini ibarat sebuah’catatan pinggir’ tentang hal-hal yang berhubungan dengan sosialisme yang identik dengan bagaimana kaum buruh memperjuangkan dirinya untuk keluar dari penderitaan-penderitaan. Dalam puisi ini tertulis “Bersatulah buruh dunia, bersatulah! Kita yang dimiskinkan…” Kalimat ini cukup menjadikan internasionale sebagai ikon puisi ini.

Betapa mudahnya setiap orang menemukan literature yang berhubungan dengan sosialisme yang dibuat oleh Karl Mark sehingga kata pertama yang ditulis Goenawan dalam puisinya adalah //Di sebuah perpustakaan/ di sebuah penderitaan// Dari kalimat ini terlihat bahwa Karl Mark memarketkan ideologinya dengan menyebarkannya di perpustakaan. Orang-orang pengikutnya menyebarkan sosialisme di perpustakaan. Selain itu sosialisme juga ada pada penderitaan yang dialami oleh kaum buruh. Melalui penderitaan-penderitaan ini sosialisme dilancarkan marketnya. Terjadi marketisasi sosialisme dalam perjuangan-perjuangan mengangkat hak-hak kaum buruh di dunia internasional.

//Lihatlah, Karl, kemerdekaan ini diperjuangkan/ dengan empat lobang kantong/yang pipih kosong/dan seorang anak yang menggantung mati kelaparan// Kalimat ini seolah sebuah pengingat untuk Karl Marx bahwa ideologi yang ia usung kini diperjuangkan bukan lagi lewat perpustakaan namun sudah lewat penderitaan yang dibuktikan dengan peristiwa bunuhdirinya seorang anak karena kelaparan.

/Kita melihat jam besar di dinding pabrik itu/gemetar/dan buruh-buruh yang pucat/penyap tersandar// Kalimat ini memperlihatkan sejauh mana perjuangan buruh-buruh pabrik bekerja. Jam besarpun sampai gemetar kelelahan berputar. Sama seperti para buruh yang tak hentinya bekerja sampai kelelahan. Hegemoni pemodal atas diri buruh diperlihatkan secara tidak langsung dalam kalimat trsebut. Namun, setelah Internasionale terbentuk, ada sebuah pencerahan yang disebutkan dalam puisi ini :

//Kemarin tidak pernah dirancang kehidupan/tapi hari ini adalah lain/dunia telah terlepas dari hambatan yang abadi, terasing dari hari tadi/daulat telah diserahkan/ kepada kehidupan/dan bumi adalah takhta maha baik/yang dimenangkan//

Kehidupan berubah. Setelah internasionale dibentuk, kaum buruh merasa diperhitugkan oleh strata sosial lainnya. Berdiriya internasionale bagi kaum buruh merupakan sebuah cara untuk menghilangkan domiasi dari strata lain. Hal ini terlihat dari penuntutan hak asosiasi internasionale terhadap pemodal di sebuah persidangan. Perjuangan mereka menuntut hak buruh saat itu gagal. Asosiasi ini kalah dalam persidangan. Kekalahan ini terjadi tahun 1864, seratus tahun sebelum puisi ini dibuat. Betapa berjayanya sosialisme sampai saat itu. Bahkan saat ini sosialisme masih dianut oleh berbagai ilmu pengetahuan dan gerakan-gerakan mahaiswa.

//Di dalam moesoleumnya Stalinpun indu/dan mengaritkan kakinya menulis sajak/di luar kaca itu melihat bumi, bumi yang bersalju/sepi, sepi.. tak beranjak.// Kalimat ini menyiratkan pandangan Stalin yang tengah berada di bangunan makam yang luas dan megah sebagai symbol kemapanan. Ia melihat bagaimana sosialisme dan komunisme dianut oleh kaum muda. //Ketika seseorang membaca sajak-sajak/ bagi anak-anak muda di dunia/ karena mereka dalah setia, wakil sunyi dan lapar/ sementara kita// Kalimat ini menjelaskan bahwa sosialisme dianut oleh kaum muda dengan setian tapi kaum tua yang telah mapan biasanya berhianat dari faham ini.

*pembacaan paling permukaan dan menguras pemikiran waktu itu
** gambar dari sini

Membaca JADI Sutardji Calzoum Bachri


Seperti apa yang ia katakan dalam Kredo Puisi , Sutardji membiarkan kata-kata dalam puisinya bebas. Ia membiarkan kata-kata meloncat-loncat sendiri dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lain karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya. Sutardji hanya menjaga agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal (1981:13).

Deklarasi Sutardji atas ciri khasnya membebaskan kata dari maknanya membuat pembaca bebas memproduksi makna yang dibentuk oleh kata tersebut. Tugas pembaca bukan lagi hanya mengapresiasi kata berdasarkan makna yang ia miliki sebelumnya tapi mencari makna baru yang ingin dibentuk oleh kata-kata tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Kristeva (Ahil semiotik).

“Dalam puisi arti tidak terletak di balik penanda (tanda bahasa: kata) seperti sesuatu yang dipikirkan oleh pengarang, melainkan tanda itu (kata-kata itu) manjadikan sebuah arti (arti-arti yang harus diusahakan diproduksi oleh pembaca” (Premingen dkk,1974:982 dalam Pradopo,2005:150)

Berikut ini salah satu sajak Sutardji (1981:27) yang penuh persejajaran bentuk dan arti. Pengulangan yang terdapat di dalamnya membentuk sebuah irama. Iraman menyebabkan liris dan konsentrasi. Ini adalah makna di luar kebahasaan.

JADI
tidak setiap derita
Jadi luka
tidak setiap sepi
Jadi duri
tidak setiap tanda
jadi makna
tidak setiap tanya
jadi ragu
tidak setiap jawab
jadi sebab
tidak setiap seru
jadi mau
tidak setiap tangan
jadi pengan
tidak setiap kabar
jadi tahu
tidak setiap luka
jadi kaca
memandang Kau
pada wajahku!

Berbicara tentang kebebasan kata dalam menempatkan diri, maka setelah kata-kata tersebut memutuskan untuk bergabung dengan kata lain ia sudah tidak memiliki kebebasan untuk berpindah. Ia sudah tidak memiliki kebebasan untuk mejadi dirinya sendiri karena ia sudah membentuk makna yang ia bangun bersama kata lain. Makna-makna ini diproduksi dengan bebas oleh pembaca. Seperti pada puisi “JADI” di atas. Berdasarkan pendapat Kristeva, ia dapat diapresiasi atau dimaknai dengan berbagai cara. Dalam analisis ini penulis menerjemahkan puisi ini sebagai berikut :

//Memandang Kau/pada wajahku/ JADI/ tidak setiap derita jadi luka//

Jika melihat kasih sayang Kau yang terdapat pada diri ku sebagai manusia akhirnya ku akan tersadar atas keagungan-Mu hingga tidak setiap duka yang aku alami melukai hati ku.

//Memandang Kau/pada wajahku/JADI/tidak setiap sepi/jadi duri//

Jika melihat keramaian, kebahagiaan yang Kau berikan pada diri ku, aku akan tersadar akan kasih-Mu hingga tidak setiap sepi, (kesendirian, hal yang menyakitkan) serasa duri.

//Memandang Kau/ pada wajahku/JADI/tidak setiap tanda/jadi makna//

Memandang (kemuliaan) Kau di wajahku akan ditemukan bahwa tidak setiap tanda yang diramalkan oleh manusia akan menjadi makna yang disimpulkan oleh manusia. Karena Kau memiliki kata JADI.

//Tidak setiap tanya/ jadi ragu//

Tidak setiap pertanyaan akan keberadaan-Mu akan membuat aku ragu akan keberadaan-Mu.

//Tidak setiap jawab/jadi sebab//

Tidak setiap apa yang aku usahakan di dunia ini jadi sebab apa yang terjadi di muka bumi ini. Contohnya tidak semua keberhasilan yang diraih di muka bumi ini berdasarkan apa yang diusahakan manusia.

//Tidak setiap seru/jadi mau//
Tidak setiap seruan untuk membuat aku menjauhi-Nya membuat aku mau mengikuti seruan itu karena tidak semua seruan menuju ke arah-Nya.

//Tidak setiap tangan/jadi pegangan//

Tidak setiap hal yang diusahakan dapat menjadi penyebab apa yang diraih. Hanya kepada-Nyalah kita (manusia) bergantung.

//Tidak setiap kabar/jadi tahu//
Tidak setiap berita yang dikabarkan tentang-Nya membuat aku tahu akan diri-Nya.

//tidak setiap luka/ jadi kaca//memandang Kau pada wajahku!//
Tidak setiap luka (musibah) yang Ia berikan pada manusia akan menjadi kaca (pada mata). Maksudnya tidak semua luka akan membuat mata kberkaca-kaca atau menangis atau bersedih.

Baris pertama sampai baris ke delapan belas puisi “JADI” adalah pengulangan kondisi yang terkadang tidak memiliki hubungan kausalitas antar kondisi / kata-kata tersebut apabila kita telah melihat Tuhan pada wajah kita. Wajah adalah citraan paling kuat yang mewakili diri manusia. Kata wajahku paling tepat mewakili manusia karena bukan manusia jika diri seseorang tidak memiliki wajah. Wajah adalah kehormatan bagi seorang manusia. Wajah adalah sesuatu yang mewakili pertemuan manusia dengan Tuhan. Dalam bacaan sholat terdapat kalimat “Inni wajahtu wajhialillahi..” ‘sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhanku.’

Wajah adalah cerminan diri maka apabila kita melihat kembali karunia Tuhan yang terdapat pada diri kita (manusia) maka manusia akan berserah pada Tuhan. Manusia akan berserah pada Tuhan karena Tuhan memiliki kata “JADI .“ Dalam bahasa arab padanan kata ini adalah KUN. Kata ini terasa lebih berenergi dalam bahasa Arab. Kita sering mendengar kalimat “Kun! fa yakun” ‘jadi! Maka jadilah!’ Kalimat ini adalah representasi bahwa Tuhan Maha berkehendak. Oleh karena itu, tidak setiap hal mengakibatkan hal lain yang menurut kita punya hubungan kausalitas antar keduanya jika Tuhan tidak menghendakinya.

Jika memang kata-kata dalam puisi ini bergerak sendiri untuk membentuk puisi, terlihatlah dengan jelas bahwa keagungan Tuhan, kemahaberkehendakan Tuhan diakui oleh semua mahluk di muka bumi ini termasuk kata. Tuhan dalam bahasa arab berarti illah yang kata tersebut lalu berganti bentuk menjadi Allah. Merugilah orang yang masih sombong dan tidak meyakini kebenaran agama yang dilindungi oleh Allah.

*tugas KSKU semester akhir. analisis sederhana sekali

** gambar dari sini

Lady Gaga: Pornografi dan Komoditas Budaya Kapitalisme

Belum selesai kontroversi buku Irshad Manji yang menjadi penyulut pertentangan antara Islam dan kebudayaan di Indonesia, kini api pertentangan itu kembali disulut dengan kehadiran Lady Gaga. Indonesia sebagai negara yang notabene disebut “Timur” oleh negara-negara Barat akan didatangi oleh penyanyi popular yang menobatkan dirinya sebagai Mother Monster. Keanehan, ketidakbiasaan, dan keliyanan gaya berpakaiannya digadang-gadangkan sebagai simbol kreativitas diri dan manajemennya dalam berseni. Fashionnya yang menurut mayoritas orang timur –mungkin juga barat- terlihat aneh dan porno disebut-sebut sebagai estetika baru yang merupakan bagian takterpisahkan dari kreativitas seni dan kebudayaan. Seksualitas dan erotisitas yang dieksploitasi dalam video clip lagu-lagunya dimitoskan sebagai kreativitas kontenporer yang modern. Lady Gaga menjadi mitos kemutakhiran selera musik seseorang. Jumlah followernya di twitter mengonstruksi dirinya menjadi mitos dalam dunia musik barat. Seolah, “Nggak tau lagu Lady Gaga berarti gak gaul! Gak bisa nyanyi lagu Lady Gaga berarti bukan penikmat musik sejati.” Padahal lagi-lagi Lady Gaga hanyalah komoditas dari sebuah upaya budaya kapitalisme untuk mempraktekkan politik tubuh.

Komoditas politik tubuh yang mewakili budaya kapitalisme ini kini akan dipertontonkan di Indonesia. Ribuan penonton yang mayoritasnya adalah remaja akan merogoh sakunya –saku orang tuanya- untuk menonton seksualitas, erotisitas (baca: pornoaksi) Lady Gaga ini bulan depan. Filter sosial budaya Indonesia yang “Timur” bekerja keras menghadapi ini. Ormas, tokoh agama, politikus, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat sebagai filter menolak kedatangannya ke Indonesia. Penolakan ini dilakukan karena penampilan Lady Gaga di panggung sudah melampaui batas-batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu, dan agama yang ada di Indonesia. Karena Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, penentang terbanyak pun adalah ormas, tokoh agama, politikus, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakan yang berlatar Islam. Majelis Ulama Indonesia pun ikut menanggapi karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Namun, penolakan ini selalu dipertentangkan dengan estetika kebudayaan kontenporer. Seolah elemen-elemen masyarakat yang menolak ini fanatik dan tidak mengerti estetika seni kontenporer. Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia dituduh tidak ramah terhadap budaya kontenporer. Kebhinekaan yang ada di Indonesia selalu dijadikan kambing hitam oleh pihak-pihak yang merasa paling tahu tentang estetika seni. Bali, koteka, dan keterbukaan pakaian-pakaian adat daerah dijadikan alasan basi tuduhan terhadap Islam.

Kondisi ini mewajibkan kita untuk kembali membuka catatan yang ditulis oleh Yasraf Amir Piliang tentang “Libidosophy: Kapitalisme, Tubuh, dan Pornografi”. Dalam tulisan tersebut pakem-pakem yang digunakan oleh budaya kapitalisme untuk mempertontonkan tubuh perempuan dipaparkan. Benarkah Lady Gaga adalah komoditas budaya kapitalisme? Dalam kacamata budaya kontenporer, apakah estetika yang diperlihatkan oleh Lady Gaga adalah pornografi? Apakah alasan moral, norma, etika, budaya, adat, tabu, dan agama yang diajukan oleh elemen-elemen masyarakat Indonesia bisa dibuktikan dari sisi kebudayaan? Tulisan singkat yang banyak mengutip pendapat Yasraf ini akan memberi sedikit sudut pandang baru kepada kita tentang Lady Gaga dari kacamata budaya kontenporer.

Sistem Budaya Kapitalisme: Pronografi dan Lady Gaga

Berbicara perempuan dan pornografi akan membawa kita pada pembahasan sistem kebudayaan yang kental dengan pronografi dan eksploitasi perempuan di dalamnya. Salah satu sistem budaya yang di dalamnya perempuan (tubuh, tanda, dan hasratnya) dieksploitasi adalah sistem budaya kapitalisme. Kapitalisme yang di dalamnya inheren ideologi patriarki menjadikan perempuan sebagai komoditas melalui pornografi. Tidak hanya sebagai komoditas, tubuh perempuan pun dijadikan metakomoditas yaitu komoditas yang digunakan untuk menjual (mengkomunikasikan) komoditas lain melalui potensi fisik, tanda, dan hasratnya.

Lady Gaga menjadi salah satu wakil dari komodifikasi hasrat perempuan. Libido perempuan dipertontonkan dan dijadikan ajang eksploitasi ekonomi. Sebagai contoh, dalam video clip Alejandro, Lady Gaga menjadi tanda bagaimana libido perempuan disalurkan, digairahan, dikendalikan atau dijinakkan. Dalam video clip ini Lady Gaga tentu tidak sedang menjual hasratnya. Hasratnya dijadikan objek psikis yang dipertukarkan untuk memproduksi hasrat seksual penontonnya agar tertarik melihat video clipnya. Efek paling diincar sebenarnya hanyalah agar selanjutnya para penonton menonton video clip ini berkali-kali, mendengarkan lagunya, dan mendatangi konsernya.

Secara ideologis, video clip Alejandro ini digadang-gadang sebagai representasi perlawanan perempuan terhadap ideologi patriarki melalui estetika tarian. Hubungan fisik antara laki-laki yang dipertontonkan dalam tarian dilihat sebagai relasi sosial antara laki-laki dan perempuan. Perempuan sebagai second sex yang lemah, pasif, tidak berdaya dipertontonkan sebagai bagian yang justru sebaliknya. Dalam video clip tersebut Lady Gaga memperlihatkan penguasaannya terhadap fisik penari laki-laki. Perlawanan terhadap ideologi patriarki ini dipertontonkan dalam pornografi sebagai arenanya. Walaupun secara implisit adegan ini adalah kemenangan perempuan sebagai entitas sosial budaya, tetap saja perempuan menjadi objek komoditas.

Perlawanan ideologis ini tidak selamanya akan ditangkap langsung oleh para penonton yang ada di Indonesia. Penyuka Lady Gaga di Indonesia yang notabene remaja tidak berkepentingan dengan perlawanan perempuan-perempuan di Amerika Serikat terhadap ideologi patriarki. Citra yang tertangkap dalam benak remaja hanya hasrat seksualnya saja bukan nilai estetik sebuah tarian. Gerakat-gerakan estetis sublim menjadi hilang. Yang tertangkap hanyalah gerakan erotis, sensual, seksual yang hanya menghadirkan kesenangan visual yang segera dan rendahan. Ketidaksamaan frekwensi ideologi ini menjadikan estetika Lady Gaga yang diagungkan di Amerika Serikat menjadi estetika kitsch di Indonesia.

Lady Gaga: Estetika Kitsch

Terlepas dari simbol-simbol ideologis Kabbalah dan Illuminati yang dibawanya, dari pembacaan paling luar terhadap tarian, gaya berpakaian, dan video-video clipnya, Lady Gaga telah menjadi bagian dari penjual estetika kitsch. Secara sederhana, kitsch merupakan salah satu bentuk selera rendah (bad taste) atau sampah artistik disebabkan rendahnya standar estetika yang digunakan. Pornografi yang dipertontonkan di dalamnya bukan nilai estetika sublim melainkan nilai erotisme, sensualitas, dan seksualitas yang dapat memprovokasi hasrat penontonnya. Pornografi dianggap menjadi bagian dari selera rendah karena secara etimologi istilah porno dalam bahasa Yunani berarti prostitusi pada tingkatan yang paling rendah. Dari kualitas tanda pun, estetika Lady Gaga menjadi representasi dari selera rendah karena terjadi pendangkalan kualitas tanda melalui bombardir detail tubuh perempuan.

Dalam konteks semiotika atau ilmu tanda, setiap tanda mempunyai nilai berdasarkan kemampuannya menghasilkan makna. Ferdinand de Saussure menyebutkan bahwa, “Nilai sebuah kata atau teks terutama atau pertama-tama dinilai dari kemampuannya merepresentasikan gagasan, ide, atau konsep tertentu.” Tidak bisa dipungkiri, video clip Lady Gaga sebagai konstruksi simbol Kabbalah dan Illuminati memiliki nilai yang amat tinggi. Namun, jika gestur, kostum, dan koreografi
dipandang sebagai sebuat teks, penonton awam hanya dapat menangkap makna erotis, sensual, seksual, dan libidialnya saja. Nilai semiotik dalam teks lagu dan video clip Lady Gaga menjadi sangat rendah.

Lady Gaga dan Budaya Timur

Di negara-negara kapitalis, tubuh perempuan akan menjadi bahan kreativitas yang semakin lama akan semakin melampaui batas-batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu, dan agama. Keuntungan sebesar-besarnya akan diraup oleh negara kapitalis dan efek negatif dari gerakan komodifikasi ini akan merusak moral negara-negara konsumennya, tidak terkecuali Indonesia. Remaja penggemar Lady Gaga mengalami penggiringan otak dengan dominasi muatan sensualitas. Otak mereka didominasi oleh fantasi dan imajinasi seksual. Hal ini dapat merusak kerja otak dan menurunkan nilai moralitas. Di masa depan, peran negara tidak lagi dapat diharapkan dalam mengatur dan mengendalikan berbagai aspek sosial, termasuk komoditas. Negara akan semakin kehilangan kedaulatan dalam mengatur arus globalisasi ekonomi, informasi, dan budaya. Untuk itu, upaya untuk menggerakkan berbagai kekuatan elemen masyarakat seperti ulama, komunitas warga, kekuatan intelektual, kekuatan profesi, diharapkan dapat menghambat kecenderungan mekanisme ekonomi-politik kapitalisme.

Filter kebudayaan di Indonesia sebagai wakil dari budaya timur kini sedang bergerak. Dialog antara pihak yang pro dan kontra terhadap konser Lady Gaga ini sedang berlangsung. Dari pandangan budaya, ternyata pornografi yang menempel pada konsep estetika Lady Gaga memang harus diwaspadai. Tidak hanya karena melampaui batas-batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu, dan agama yang berlaku di Indonesia tapi juga karena telah mengeksploitasi tubuh perempuan yang membuka ruang perkembangbiakan pornografi secara tanpa batas, tanpa kendali, dan bahkan nantinya akan melampaui akal sehat. []

Bibliografi:
Amir Piliang, Yasraf. 2010. Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Bandung: Matahari.

Buah Perbincangan

Setiap pulang kuliah, aku selalu dapat pelajaran tentang hidup dari Mbak Dewi. Dia teman sekelasku yang usianya terpaut 7 tahun denganku. Dia juga psikolog. Beberapa hal yang dapat aku endapkan dari perkataannya:

– Bahagia itu tidak hanya hadir dari apa yang kita alami. Bahagiamu bisa lahir dari kebahagiaan orang-orang yang kamu cintai. Siapapun dapat menjadi sumber kebahagiaan.

– “Kamu ngertiin aku dong! Aku kan udah ngertiin kamu!” atau “Kamu seharusnya gini. Kan aku udah bilang, aku gak suka kamu begitu.” Itu adalah percakapan orang-orang yang mencintai secara kanak-kanak. Usia cintanya takkan bertahan lama.

– Mencintai sesungguhnya hanyalah memberi, bukan menuntut. Mencintai adalah menanam tanpa berharap akan menuai.

– Menjadi perempuan mandiri itu wajib! Kita tidak pernah tahu, suatu hari suami kita pergi meninggalkan kita.

– Pada akhirnya pernikahan bukan hanya soal cinta, ia lebih banyak memuat kompromi.

– Bersikaplah apa adanya di depan semua orang. Walaupun, pada dasarnya manusia tidak pernah mau dinilai buruk oleh yang lain.

– Hidup itu sementara, mencintai pun sementara. Maka, jangan terlalu berlebihan mencintai apapun.

*next time dilanjut

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript