Menguliti Cover Buku “Cinta Itu…” Karya @ManJaddaWaJadaa

cinta iitttu

Akhir-akhir ini dunia penerbitan memang sedang gandrung dengan akun-akun komunitas yang mulia mengabadikan tweet mereka dalam bentuk buku. Dari sisi komoditas, salahsatu penggiatnya adalah akun-akun islami dengan mayoritas follower remaja yang belajar Islam. Di lini massa, keshalihan bukan lagi barang langka. Ia jadi trend remaja muslim di era media sosial ini. Dengan misi melunturkan pacaran yang telah menjadi budaya alamiah di seluruh dunia, akun-akun islami ini lantas membawa ide jomblo mulia, menerjemahkan cinta sesuai dengan ajaran Islam. Seperti kita tahu, di masa ini cinta bagai kacang goreng yang dijual murah di pasar malam. Lagu-lagu, film, drama, buku-buku tumpah ruah menawarkan definisinya tentang cinta. Sebagai seseorang yang sudah tua Bangka (sok gitu guwe), aku mau cerita tentang satu sampul buku menarik yang berani-beraninya ngajarin soal cinta.

Jurnalku kali ini menyelisihi idiom orang Inggris “don’t judge a book by its cover,” yang disebut-sebut di buku George Eliot. Ide-ide singkat tentang cover buku “Cinta Itu..” sudah dibahas dalam ceracauku yang bertagar #keposemiotik beberapa waktu lalu. Menurut Barthes, cover buku merupakan mitos yang berisi ideologi di dalamnya. Melalui cover buku, seorang illustrator dan penulis sedang melesapkan, membungkus, dan mengekalkan ideologi yang ada dalam buku tersebut. Mitos baru dibangun untuk meruntuhkan mitos yang telah lama eksis di masyarakat. Ideologi dalam mitos adalah kepercayaan baru (kadang palsu) yang dibangun dengan motif tertentu. [ceritanya ini kajian teori #halah!].

Dalam cover buku “Cinta itu..” sebenarnya ada dua frasa tambahan, yaitu “memantaskan diri, dan memantapkan hati.” Dua frasa ini tentu dipilih untuk membangun ide besar yang terdapat dalam buku. Untuk sebuah judul buku, menggunakan tiga frasa memang terlalu panjang. Maka, dua frasa terakhir ditulis sebagai subjudul cover yang secara tidak langsung menjawab titik-titik kosong setelah frasa pertama. Secara verbal cover ini memberi jawaban atas pertanyaan, “Apasih cinta itu?” dengan jawaban “Cinta itu memantaskan diri dan memantapkan hati.” Lalu bagaimana citra visual menguatkan pesan ini?

Sebagai bacaan kalangan remaja, buku ini memang sengaja dibuat menggunakan ilustrasi kartun, bukan foto yang nyata. Secara sederhana cinta itu digambarkan dengan dua pasang kaki bersepatu perempuan dan laki-laki. Pesan pertama yang dapat ditangkap: ini tentang cinta antara adam dan hawa, bukan cinta dalam keluarga atau persahabatan. Ini tentang cinta kacangan yang benihnya sudah tersebar luas di seluruh dunia. Karena sudah kacangan, dari kulitnya kita dapat melihat kebaikan kualitas, kebersihan, dan nutrisi yang ada di dalamnya. Walaupun kacangan, jika ia berkualitas baik, bersih, dan bernutrisi, mungkin hati akan tergerak untuk memilih definisi cinta yang ditawarkan dalam buku ini. Dari sisi mitologi Barthes, cinta yang sudah kacangan di dunia ini merupakan mitos yang sudah eksis lama dalam kebudayaan manusia. Cinta membara, bergairah, buta, mempesona, bahkan berakhir kematian seperti dalam cerita Romeo-Juliet, Rama-Shinta, atau Kayis-Layla merupakan mitos cinta yang eksis di dunia. Sesengit itukah cinta?

Memang mitos ini terlalu berat nampaknya buat remaja-remaja yang notabene #Galauers #Alayers itu. Belum lagi kisan LDR yang menguras hati haahahaha! Berat banget nampaknya cinta buat anak zaman sekarang. Jadi gue harus mati minum racun dulu untuk tahu apa artinya cinta? Masa gue harus mati buat tahu apa artinya cinta? Dengan gambar kartun, buku ini semacam banyolan yang bilang “gaaaak usaaaaaaah!” Frasa “memantaskan diri” dan “memantapkan hati” juga jadi jawaban sederhana dari pertanyaan besar yang muncul akibat mitos-mitos cinta yang eksis sebelumnya.

Dua pasang kaki yang berhadapan jadi penanda bahwa saat memantaskan diri dan memantapkan hati harus ada jarak antara laki-laki dan perempuan. Bahkan cinta adalah jarak antara mereka. Walaupun dilihat dari gambar, kepantasan dan kemantapan adalah garis finish pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang sedang berhadapan ini. Kaki menjadi penanda sosok karena dengan kaki manusia bisa move on atau move off. *kayak bener aja ni istilah qiqiqiqi. Bergerak selalu diawali dengan langkah kaki. Sejauh apapun sebuah perjalanan, ia diawali oleh gerakan kaki untuk langkah pertama.

Mengapa kedua kaki itu menggunakan sepatu? Ini adalah tanda kesiapan. Kesiapan seorang muslim itu digambarkan dengan formalitas sepatu. Ketika menghadiri wawancara kerja, kita pasti memilih menggunakan sepatu daripada sanda. Saat UAS atau UTS di sekolah atau di kampus mana berani kita menggunakan sandal (kecuali di Sastra Indonesia Unpad angkatan 2005 #abaikan) dan pasti bersepatu. Sepatu sebagai bagian dari fashion adalah cara seseorang menampakkan dirinya ke hadapan dunia.

Perempuan dalam sampul ini digambarkan dengan sepatu feminin bukan cepatu cats atau sandal gunung. Ilustrasi ini berpesan bahwa kepantasan seorang perempuan dalam cinta adalah ketia ia telah menemukan femininitas dalam dirinya. Pantaskan dirimu dengan mempersiapkan diri menjadi perempuan sesungguhnya. Dua kaki perempuan itu merapa lurus menandakan bahwa memantaskan diri itu duduk manis menunggu, bukan agresif (*teriak pakek toa masjid). Untuk seorang perempuan, mencintai lelaki berarti sibuk memantaskan diri untuk menjadi perempuan terbaik baginya. Tidak memalukan bukan, memaknai cinta sebagai kesibukan memantaskan diri. Ini juga gambaran mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Ini juga pesan bahwa sebaik-baiknya menuntuk yang terbaik dari orang lain adalah dengan menyiapkan yang terbaik pada diri sendiri.

Femininitas dalam sampul ini bukan berarti fisik atau penampilan semata ya. Kasihan buat cewek or akhwat casual yang punya azzam untuk memantaskan diri. Kesempurnaan perempuan memang tergambar dari femininitas, ini sudah menjadi sesuatu yang membatu dalam Islam dan kebudayaan Indonesia. Sepatu feminin ini memang gambaran paling lugas untuk memeras makna femininitas secara batiniah, iner beauty kata orang Barat. Takperlu berbaju selalu pink untuk menceritakan bahwa kamu sudah bisa masak, pandai merajut, atau merawat bayi. Takperlu berjubah hitam untuk mengesankan bahwa hafalan Al Quranmu sudah hampir selesai. Sepatu feminin ini adalah gambaran iner beauty yang dimilik perempuan sebagai tanda kesiapan.

Laki-laki digambarkan dengan sepatu casual merah bertali putih. Hmm.. Banyak gak sih laki-laki yang pakek sepatu merah macem begini? Kayaknya sih mayoritas lelaki atau cowok alay yang berani pakek sepatu sengejreng ini. Kamu, iya kamuuu! Hahahah! Ngaku deh, di rak sepatu kamu ada kan sepatu merah macam begini?! Wkwkwk! Yah, yang namanya ilustrasi nggak akan jauh dari tanda-tanda. Walaupun maksa, mari kita artika warna merah atau mirip-mirip merah itu sebagai keberanian. Keberanian itu ada dua dalam cinta kata Ali Bin Abi Thalib: mengambil kesempatan atau mempersilakan. Nah! Soal ini, pesan antiPHP besar banget buat cowok. Kalau kamu cowok sejati, kamu berani maju dan berani mundur juga. Jangan ngasih harapan palsu ke cewek. Kalau sudah ngambil langkah, jangan pernah menyesal! Itulah yang dimaksud memantapkan hati.

Tali putih di sepatu cowok itu ada maknanya gak sih? Ya sudah, kita maknai saja sebagai liku-liku tantangan yang dihadapi cowok dalam memantaskan diri. Keberlikuan itu warnanya tetap putih. Seperti yang disebutkan sebelumnya, cinta yang sudah kacangan ini, carilah yang paling bersih. Putih ini jadi penanda kesucian proses memantaskan diri dan memantapkan hati dalam rangka mewujudkan cinta. Sebagai sebuah perjalanan, sewajarnya sih sepatu ini belepotan kotoran ya. Tetapi, nampaknya pesan kesucian sedang ditanamkan di dalamnya (illustrator: gue gak kepikiran itu sama sekali | aku: bodo amat!). Lalu mengapa sepatu casual yang menggambarkan lelaki dalam sampul ini? Cinta itu hak setiap orang, termasuk remaja. Memantaskan diri dan memantapkan hati adalah hak setiap orang juga. Walaupun masih abangan, selengean, belum mapan, gue juga berhak dong mencintai. *kata cowok alay. Kemantapan hati tidak selalu berbanding lurus dengan kemapanan finansial (yang biasanya digambarkan dengan sepatu pantofel).

Yang agak janggal dalam bangunan makna sampul buku ini adalah langkah kaki laki-laki yang terlihat tidak lurus. Pertanyaan yang akan muncul, “itu kaki mundur karena mau maju sebagai ancang-ancang atau mundur karena ragu-ragu?” Dari sisi semiotik, gambar ini membawa pesan keraguan. Sebagai masyarakat yang lekat dengan aktivitas tubuh bagian kanan, melangkah maju diawali dengan kaki kanan. Gambar ini menyiratkan kemunduran karena kaki kiri lebih maju daripada kaki kanan. Dalam memantapkan hati keraguan adalah tantangan paling biasa, asal jangan kelamaan.

Singkatnya, cinta (antara laki-laki dan perempuan) itu memantaskan diri dan memantapkan hati untuk menikah. Beruntungnya cinta diartikan sebagai proses, maka jodoh akan datang setelah dua proses ini. Boleh jadi jodoh datang saat memantaskan diri walaupun nyatanya belum pantas. Bisa jadi, jodoh datang saat memantapkan hati padahal hati belum benar-benar mantap. Untunglah Allah Swt menilai cinta dari proses bukan hasilnya. Jadi, cinta itu memantaskan diri dan memantapkan hati. Yang menentukan sudah pantas atau sudah mantap biar Allah Swt saja.[]

*gambar dari sini

Advertisements

Perempuan Dalam Singgah Karya Jia Effendie Dkk. [Bagian 1]

singgah
Singgah adalah sebuah kumpulan cerpen karya Jia Effendie dkk yang berisi cerita-cerita dalam setting tempat persinggahan. Stasiun kereta api, dermaga, terminal, bandara adalah tempat-tempat yang menjadi sember energi kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini. Bagi sebagian orang yang menyukai tempat-tempat tersebut (salah satunya adalah aku), takperlu membaca detail review kisah di sampul belakang, melihat gambar tempat yang disukai saja sudah membuat memilih untuk memiliki buku ini.

Hal yang menyihir dari buku ini adalah terapi hati (membaca abjeksi) untuk memahami luka, cinta, rindu, dan sepi dalam kisah yang amat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin kita pernah dengan penuh harap dan cemas menunggu seseorang di stasiun kereta api. Namun, pada waktu yang berbeda kita harus menatap kosong kebingaran stasiun karena harus melepas kepergian seseorang. Maka kisah dalam kumpulan cerpen ini seperti gempuran keras pada hati kita. Ia seolah berujar “It’s Happened!” Kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam kehidupan dan diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Ya, pertemuan selalu melahirkan perpisahan. Persinggahan selalu menagih perhentian dan keberangkatan. Maka, hati yang dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini tak akan ciut. Ia akan semakin kuat menghadapi perjalanan hidup.

Enam dari sebelas penulis kumpulan cerpen ini adalah perempuan. Bagian ini amat menarik untuk ditelusuri. Bagaimana perempuan menggambarkan perpisahan? Bagaimana perempuan menggambarkan ketakterjangkauan dalam sebuah cerita. Mari kita bedah beberapa cerita dalam kumpulan cerpen ini.

Bertolah dari Julia Kristeva

Berdasarkan pemikiran Kristeva, secara psikologis, bagi anak perempuan, tubuh ibu adalah kesenangan primer yang pertama kali mereka miliki. Anak perempuan masih merasa bahwa ibu adalah bagian dari dirinya. Untuk membangun identitas subjek pada dirinya, seorang anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya. Pelepasan diri ini dilakukan melalui penolakan yang diistilahkan oleh Kristeva sebagai abjection (penolakan terhadap tubuh ibu).

“Masa ini menurut Lacanian dan Freudian merupakan masa penyapihan dan pemisahan yang biasanya menimbulkan frustasi dan ketakutan akan kastrasi. Bagi Kristeva masa ini adalah masa antara chora dan tahap cermin yang merupakan tahap pra-linguistik penting pada usia 4-8 bulan” (Christina, 2010:9).

Pada masa ini anak perempuan harus melakukan abjection pada ibunya untuk mengidentifikasi me dan not me.  Kristeva juga berpendapat bahwa  masa ini tidak selalu diwarnai dengan ketakutan, penolakan maupun pemisahan pun bisa menyenangkan. Dalam tahap penyapihan ini terjadi krisis narsistik ketika bayi menjadi antara subjek dan objek, self dan other, hidup dan mati. Masa pemisahan ini oleh Kristeva diasosiasikan dengan abjeksi (Christina, 2010:9).

Hubungan pemikiran Kristeva dengan perempuan dan makna perpisahan?

Disapih dari ibu merupakan keterpisahan pertama yang dialami perempuan dalam hidupnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya karena dirinya sendiri secara psikologis harus menemukan subjek dalam diri. Anak perempuan harus menemukan makna “inilah aku” yang otonom dalam dirinya. Secara psikologis, abjeksi (penolakan terhadap tubuh ibu) adalah cara yang paling tepat untuk menemukan eksistensi diri sendiri. Salah satu konsekuensi logis dari abjeksi ini adalah rasa frustasi dan ketakutan. Walaupun menurut Kristeva bisa penyapihan juga bisa menyenangkan.

Mekanisme abjeksi ini terus menerus dilakukan perempuan secara tidak sadar dalam menghadapi perpisahan demi perpisahan. Perpisahan ini dapat diartikan dalam konteks apa saja. Bukan hanya perpisahan fisik tapi juga psikologis. Bahkan ketidaksinkronan antara kenyataan dengan apa yang diinginkan pun dapat disebut keterpisahana (keterpisahan antara kemauan dan kenyataan). Oleh sebab itu, hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihadapi oleh perempuan dengan abjeksi. Ketakterjangkauan juga dihadapi perempuan dengan abjeksi.

Fantasi Sebagai Abjeksi dalam Cerpen Jantung

Salah satu cara perempuan melakukan abjeksi adalah dengan menulis. Karya fiksi dapat menjadi media abjeksi (dalam konteks ini: penolakan terhadap perpisahan atau kejadian yang tidak disukai) dengan menghadirkan fantasi-fantasi di dalamnya. Fantasi ini bisa berupa imajinasi, mimpi, dongeng, khayalan, dsb.

Dalam cerpen Jantung karya Jia Effendi, kita akan mendapatkan cerita tentang seorang perempuan yang berpisah dengan kekasihnya, padahal dirinya sedang hamil. Kekasihnya tidak mau menikahnya karena lelaki itu merasa bayi yang dikandung bukan anaknya. Ada dua abjeksi dalam cerita ini. Pertama, penolakan perempuan terhadap kehilangan laki-laki yang ia harap-harapkan menjadi suaminya. Kedua, penolakan terhadap perbedaan antara angan-angan kebersamaan dengan perpisahan. Singkatnya, abjeksi pertama dilakukan terhadap tokoh antagonis yaitu lelaki yang menjadi kekasihnya. Abjeksi kedua dilakukan terhadap situasi antagonis, yaitu keterpisahan. Sebagai seorang perempuan yang selalu menjadi second person dalam dunia gender, abjeksi ini diperlihatkan oleh Jia Effendi dengan dramatis.

“Kita berpisah baik-baik. Tapi kamu masih membawa drama ke sini. Aku masih memelukmu! Masih menghargaimu! Tapi kau malah berteriak-teriak mempermalukanku. Aku masih mau memelukmu, membiarkanmu masuk ke rumah ini! Kamu sampah! Aku masih memungutmu!” (Jantung: 16).

Inilah situasi antagonis yang diabjeksi oleh perempuan. “Kamu sampah! Aku memungutmu!” kalimat pedas ini menjadi satu mekanisme yang digunakan perempuan untuk melakukan penolakan terhadap situasi antagonis dan menyadarkan keberadaan dirinya. Saat itu perempuan dalam kisah ini harus berpisah dengan kekasihnya. Ia harus sadar sesadar-sadarnya menerima keadaan ini. Dalam situasi antagonis ini, perempuan dalam cerpen melakukan hal yang dalam kenyataan tak mungkin dilakukan,

“Seperti mendapat kekuatan dari yang tak kasat mata, aku mendorongnya. Dia terpental jauh menabrak dinding. Kepalanya terantuk. Dengan sisa kekuatanku, aku menyeretnya ke dapur, menyapu apapun yang ada di meja makan ke lantai, susah payah mengangkat tubuhnya, menguliti pakaiannya… Dengan selembar rumput tajam, aku menorehkan dari dada ke perutnya. Segumpal jantung yang masih berdenyut kucuri dari dadanya. Kumasukkan ke dalam kotak es. Rintihku berkali-kali bergumam aku mencintaimu.” (Jantung: 17).

Prilaku ini tidak mungkin dilakukan oleh perempuan dalam dunia nyata. Kalaupun ada, tentu hanya segelintir orang yang melakukannya. Abjeksi ini semacam ekspresi kemarahan yang dilakukan untuk benar-benar memperlihatkan bahwa “inilah aku” kata perempuan sebagai tokoh utama. Pencurian jantung yang dilakukan oleh tokoh utama ini sebenarnya hanya ingin menjelaskan sebuah kalimat jujur dari lubuk hatinya,

“Tak ada yang namanya perpisahan baik-baik! Kalau kita baik-baik saja, kau masih bersamaku!”

Perempuan tokoh utama ini lalu menyimpan jantung itu di dalam icebox. Ia membawanya ke sebuah tempat dan melakukan hal irasional.

“Ruang bercat putih itu berukuran 3×3 meter. Tak ada apapun di dalamnya kecuali seorang lelaki telanjang dada yang memunggungiku. Tubuhnya memancarkan sinar seperti bola lampu.

“permisi” Dia tidak bereaksi.

“Sebutkan keinginanmu!”…
“Aku ingin jantung kekasihku bersatu bersama jantungku,” aku berkata mantap.

Jika kalian sudah menyimak sedari tadi, tentu mengerti mengapa aku mengambil jantung kekasihku setelah membelah dadanya. Jantung hatinya, agar dia mencintaiku selamanya. Agar aku tidak pernah terpisah darinya.”

Inilah puncak abjeksi (penolakan terhadap kenyataan) yang dilakukan oleh tokoh perempuan terhadap tokoh antagonis dan situasi antagonis. Pada tokoh antagonis, ia melakukan pencurian jantung dan meminta penyatuan jantung. Penyatuan jantung sebagai tanda bahwa pemilik jantung itu tidak akan berhenti mencintainya. Padahal situasinya justru berkebalikan, lelaki itu sudah tidak mencintainya. Pencurian jantung jadi semacam sebuah penolakan, pemberontakan, kemaranah akibat frustasi dan ketakutan (seperti yang dikatakan Lacanian dan Freudian) menghadapi perpisahan.

Abjeksi terhadap situasi antagonis tergambar dari alur cerita secara utuh. Ini bisa dirasakan oleh tokoh perempuan dalam cerpen, penulis -sebagai perempuan- dan pembaca perempuan. Cerpen Jantung karya Jia Effendie ini semacam abjeksi yang menyadarkan perempuan untuk menemukan dirinya sebagai subjek ketika mengalami perpisahan. Tokoh perempuan dalam cerpen ini mewakili kemarahan dan hasrat perempuan ketika menghadapi perpisahan, ketika disebut sampah, ketika kelimpungan saat hamil dan dibuang begitu saja oleh orang yang dicintai. Ketaksampaian melakukan kekerasan (semacam pembedahan, pembunuhan, mutilasi, bahkan cangkok jantung) sudah diwakili oleh tokoh perempuan dalam cerpen.  Otomatis, pada sebagian perempuan, cerpen ini amat melegakan. Kemarahan dan hasrat yang tertahan di dunia nyata, bisa “terlampiaskan” di dunia fiksi. Perempuan yang mengalami pengalaman yang sama dengan tokoh perempuan dalam cerpen ini akan menemukan me dan melepaskan ketergantungannya terhadap the others melalui efek abjeksi cerpen ini. Efek abjeksi cerpen ini dapat menyadarkan perempuan bahwa selama ini ia telah menjadikan orang lain sebagai kesenangan primer yang mengeliminasi me (baca: dirinya sendiri). Ia telah bergantung pada the others dan telah menjadikan diri sebagai objek. Melalui abjeksi, ia akan kembali menemukan me dan menjadi subjek bagi diri dan kehidupannya.

Bersambung…

foto dari sini

I Miss You

i miss you

Hey! Tahukah kamu? Akhir-akhir ini aku sedang suka nonton drama Korea. Sejak dulupun suka, tapi kali ini aku sedang benar-benar mengejarnya, mencari tahu, hanya untuk menghabiskan waktu. Hmm.. apakah aku kembali tiba pada kehidupan waktu itu? Menghabiskan waktu hanya untuk membunuhnya. atau aku sedang sangat kebingungan dengan tesis yang sedang menyudutkanku? hmm.. entahlah.. tapi aku bisa sedikit abai dengan apapun di sekitarku ketika menonton drama korea. film pertama yang aku saksikan adalah I Miss You. Apa yang aku dapat dari film itu?

Film ini hanya meminta kita menjawab satu pertanyaan sederhana:

Apabila masa lalumu berisi pengalaman mengerikan yang ingin kamu lupakan, tapi di dalamnya ada satu orang yang tidak ingin kamu lupakan, kamu berpisah dengan orang itu selama belasan tahun, dia mencarimu, dia merindukanmu, apa yang kamu pilih? melupakan orang itu agar bisa melupakan masa lalu yang mengerikan? atau tetap mengingat orang itu walaupun masa lalu yang mengerikan terus menghantuimu? dilematis bukan?!

Bagian yang paling aku suka dalam film ini adalah kata “Swaaah!” Seperti seorang pesulap yang sedang mengucapkan mantra, kata “Swaah!” bisa membuatmu melupakan hal-hal buruk dalam masalalumu.

“Swaah!” lalu semua ingatan hilang dan takterjadi apa-apa. Hmm.. menyenangkan bukan?!

“Swaah!” lalu yang kamu hadapi hanya hari ini, kepahitan masa lalu menjadi bagai sebuah dinding berwarna putih tanpa bekas. Menyenangkan bukan?!

Hanya bagian itu yang paling aku suka, karena sisanya hanya cerita mustahil yang takperlu dijelaskan dalam tulisan ini. Silakan saksikan keajaiban mantra “Swaaah!” dengan menonton film I Miss You. Kamu pasti merasakan sensasi lupa yang menyenangkan ;)

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript