Manusia Jenaka Dan Sebuah Pertemuan

image

: embun

Hai Embun, apa kabar?

Kau pasti kembali penasaran tentang manusia jenaka yang selalu berpapasan denganku akhir-akhir ini. Semoga hatimu takmenagih kisah takdir yang takmungkin kuwujudkan tanpa kehendak Tuhan. Kisah kita takpernah benar-benar sama. Ia hanya mirip. Aku takkan pernah berani mengatanyannya sama, karena takdirku sudah mendahuluimu.

Embun, manusia jenaka itu sudah pernah berpapasan denganku puluhan purnama lalu. Namun, aku amat malu mengangkat kepalaku saat bertemu dulu. Ia adalah hiruk pikuk stasiun kereta sedangkan aku hanya riuh taman kota. Ia manusia yang selalu banyak bicara sedangkan aku sibuk mencari makna. Ia adalah ramai pasar malam sedang aku hanya hening musium. Aku yang merasa diri bagian paling bising dari dunia ini ternyata bertemu ia yang memekakkan telinga.

Waktu mengantarku berjumpa dengannya sana. Di belantara hiruk pikuk ia memulai percakapan kita. Taklebih dari satu kalimat jeda, semua berlalu dengan mudahnya. Cukuplah aku memaknainya sebagai badut jenaka. Semoga ia bukan pinokio yang terlalu terbiasa berdusta. Semoga.

Berhentilah Berbalik!

danbo keep moving

Akhir-akhir ini ada yang mencariku demi mendapatkan kondisi ideal yang diinginkan dalam lingkungan barunya. Hidup yang dihadapi dianggapnya tidak sesuai dengan apa yang ada di benak. Yang disasar adalah orang sekitar. Konsekuansi perpindahan adalah adaptasi. Baik pindah secara fisik, mental, maupun dimensi hidup, kita dituntut untuk siap menerima realitas yang taksesuai dengan kondisi ideal yang diharap-harapkan.

Tanpa disadari, setiap hari kita sedang berpindah dari masa lalu ke masa depan. Modal utama yang dipunyai hanya hari ini, dan kondisi ideal yang kita inginkan mungkin akan terjadi besok, lusa, bahkan puluhan tahun mendatang. Kondisi ideal juga bisa memiliki jarak yang amat jauh dari realitas kita. Bahkan mungkin kondisi ideal itu keluar dari orbit hidup kita karena yang dinginkan hanya angan-angan, takrealistis, atau taksesuai dengan yang disukai oleh Allah Swt. Hati-hatilah pada bagian ini.

Ya! Perubahan dalam hidup kadang menghadirkan kekecewaan. Agar sukses menjalaninya, kita harus berbuat sesuatu.  Langkah pertama adalah penerimaah, selanjutnya adalah adaptasi. Mengapa? Karena kehidupan baru kita melibatkan orang lain dan boleh jadi masalah orang lain lebih kompleks dari kita. Jadi, saat bertemu dengan realitas baru dalam hidup, menagih perbaikan kepada orang lain adalah jalan yang kurang tepat.

Ada juga orang yang menghadapi realitas dengan membuka-buka koper masa lalu yang dianggap lebih ideal dari hidup yang sedang dijalani. Dikiranya kondisi ideal di masa lalu dapat memperbaiki kehidupan yang sedang dijalani. Dihubunginya orang-orang di masa lalu yang dianggapnya ideal membantunya melahirkan kondisi ideal. Padahal realitas dan orang-orang yang membersamainya di masa lalu belum tentu sempurna. Bahkan bisa jadi, dahulu ketika menjalaninya, kehidupan yang dijalani jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, yang harus didahulukan adalah mengubah pandangan tentang realitas yang sedang dihadapi dan berjuang total untuk beradaptasi dengan lingkungan. Mengapa? Karena selain diri sendiri lingkungan punya kekuatan untuk mendukung perbaikan.

Cara lain yang dapat melahirkan perbaikan adalah menghilangkan perasaan bahwa diri sedang bermasalah dan biangkerok dari masalah tersebut adalah realitas. Jangan sampai ada kalimat, “Sadar gak siy kalian bermasalah?! Sikap itu akan melahirkan dua respon. Kita dianggap malaikat atau tukang sulap yang dapat memperbaiki keadaan dengan cepat. Sebaliknya, kita dianggap mencampuri urusan orang lain. Orang akan berkata “Suka-suka gue, inikan kehidupan gw!”

Berhentilah berbalik ke masa lalu dan mencari orang-orang lama untuk menyelesaikan masalah kompleks yang ada dalam kehidupan baru! Boleh jadi, realitas hari ini serasa jadi masalah hanya karena diri kita belum diterima atau belum bisa menerima orang baru. Padahal aset terbesar menghadapi hari ini untuk masa depan yang lebih baik adalah orang-orang yang ada di sekitar. Mereka juga ingin memperbaiki hidup. Mereka juga ingin dilibatkan dan menjadi bagian dari perbaikan. Hubungi orang-orang disekitarmu mulai detik ini. Keep fight!

Akhir Sebuah Do’a

balon

: Embun

Tahukah kau bagaimana rasanya dipisahkan dari do’a-do’a yang setiap saat dirapalkan? sangat menyakitkan! Ia diasingkan, dikunci di ruang gelap takdir yang belum tentu terjadi. Pada setiap rintik hujan yang mulai jatuh, ada bahagia yang harus ditanggalkan. “Karena takdir yang sudah terjadi ini, kamu tidak boleh lagi merapal do’amu,” sebuah bisikan yang takbertuan. Datangnya entah dari mana. Deras hujan takbisa mendobrak pintu terlarang tempat do’amu dipencilkan. Pada setiap hujan yang memercik ke wajah, sukmamu tertelan ke lorong gelap, di depannya ada sebuah ruang berjendela sempit. Dari sana kau melihat do’amu menunduk duduk di sudut ruangan, kuyu takbisa ikut bersama temannya naik ke langit menjelma pengabulan. Petir yang menyambar-nyambar diredam, di sana hanya ada sunyi. Saat-saat sebelum hujan sudah tak jadi masa yang mendebarkan. Takada lagi barisan do’a jika punggawanya sudah takada.

Tahukah kau apa rasanya hidup tanpa harapan? Padahal semua sisi hidup menghadirkan kemungkinan, tapi seketika itu juga kemungkinan itu harus berubah menjadi ketakmungkinan karena penolakan manusia. Amat sakit rasanya puan. Padahal harapan itu hanya kau sampaikan kepada-Nya lewat do’a yang kau rapalkan. Kau diharuskan mengganti do’amu. Padahal do’a itu yang membuatmu berada dalam kondisi batin paling dekat dengan-Nya. Padahal do’a itu yang membuatmu jadi manusia yang penuh dengan prasangka baik kepada-Nya. Apalah artinya manusia tanpa harapan. Apalah artinya manusia tanpa do’a. Bukankah Sayidina Ali Ra berkata, kemungkinan dan ketidakmungkinan hanya ada pada dimensi manusia. Bagi Allah, hanya ada kemungkinan. Takada yang takmungkin bagi-Nya.

Bukankah Tuhan berkata, “Berdo’alah niscaya kukabulkan!” Maka taksalah jika manusia meminta kebaikan apapun. Takada sesiapa yang boleh melarang do’a kebaikan. Bukankah pengabulan hanya milik-Nya? Maka pada setiap pinta yang dirapalkan, hanya keyakinan kepada-Nya yang ditagihkan. Minta kebaikan apapun kepada-Nya! Cukupkan harapan hanya kepada-Nya. Upayakan segala cara yang disukai-Nya! Maka pada do’a apapun manusia bebas merapalnya bukan?! Tugas manusia hanya berharap bahwa do’a yang dipanjatkan adalah do’a tebaik, dan hasil yang akan didapat adalah pengabulan. Perkara dikabulkan atau diganti dengan pengabulan lain, itu bukan urusan manusia, karena setiap ketetapan-Nya pasti terbaik. Menguatkan keyakinan hati bahwa semua ketetapan-Nya pasti baik, hanya itulah keharusan.

Maka kuputuskan untuk mendatangi lorong gelap itu, mengetuk jendela kaca yang di dalamnya tergugu do’a-do’aku. Akan kubawa dia keluar dari ruang gelap itu. Akan kurapal ia sampai habis waktuku. Masih ada kemungkinan menyemangatinya naik ke langit menjelma pengabulan. Karena Allah taksuka hamba-Nya yang putus harapan. Karena Allah taksuka hamba-Nya yang berhenti meminta. Karena Allah hanya memiliki kemungkinan, lancanglah yang memancang ketakmungkinan kepada-Nya. Karena aku masih ingin tetap berdo’a. Karena aku masih ingin tetap berharap. Karena aku masih ingin tetap hidup.[]

*gambar dari sini

Tentang Sepotong Rindu

edited

: Embun

Adakah yang salah dengan sepotong rindu? Ia dapat berupa harapan yang besar terhadap sesuatu, atau keinginan kuat untuk bertemu. Rindu kepada Tuhan, rindu pada kemerdekaan, rindu orang tua, atau rindu pada kekasih. Buatku, takada yang salah pada setiap potongan rindu. Ia anugerah penanda bahwa hati kita masih ada. Sekelam apapun rindu yang kau rasa, jangan sampai ia meredupkan cahaya Tuhan di hatimu. Itu pesanku.

Kau sedang rindu bukan? Jujur saja kepadaku. Tapi entah untuk siapa kau rela menyimpan rindu itu, bersakit menahan diri di hulu ingin tanpa tahu kapan akan sampai ke hilirnya. Aku agak yakin, rindu itu bukan untukku. Coba kau dalami lagi rasanya, pasti takada aku di sana. Atau mungkin, aku adalah obat kerinduanmu kepadanya. Sabdaku seperti percikan air pelebur gumpalan rindu yang hampir mengerak di dinding hatimu. Oh Embun.. adakah rindu yang kau rasakan itu semacam rindu terlaran seperti yang biasa didendangkan manusia?

Seorang penyair bijak dalam buku putihnya pernah berkata, seperti halnya langit dan bumi, siang dan malam,  jauh dan dekat, menunggu dan ditunggu, di dunia ini semuanya berpasangan. Termasuk engkau yang sedang merindu. Jika ada orang yang merindu pasti ada yang dirindukan. Namun, tahukah kau? Katanya, yang menunggu tidak harus bertemu dengan yang ditunggu. Seperti halnya langit tidak harus bertemu dengan bumi. Jika mereka bertemu, berarti mereka bukan lagi pasangan. Maka, perindu tidak selamanya harus bertemu dengan yang dirindukan. Tidak ada lagi rindu jika perindu bertemu dengan yang dirindukan. Maka biarlah ia bergeming. Semoga yang dirindukan turut sadar bahwa dirinya sedang dirindukan.

Yang terpenting adalah kepada siapa rindu itu kau titipkan wahai Puan. Kepada dinding-dinding ratapan yang bisu dari kebenaran? Kepada deretan huruf bernomor kode yang kosong dari kerelaan? Atau kepada harapan-harapan yang naik ke langit menuju Si Empunya semesta? Kita makhluk lemah yang takpunya daya untuk menentukan apa-apa. Bahkan rindu yang membatu badar itu pun tanpa sadar sedikit demi sedikit menyesaki hatimu. Kita lemah takdaya apa-apa.

Meranalah kau jika pikirmu bersiasat mencari cara melepas kekang rindu dengan belati dosa. Padahal rindu itu milik-Nya. Dirimu milik-Nya. Si empunya rindu pun milik-Nya. Kendalikan hatimu, kuasai kekang rindumu agar ia takjadi rindu dendam. Tenangkanlah.. tenangkanlah.. tenangkanlah hatimu. Jangan sampai ia menjadi jelmaan ketakrelaanmu pada bentangan jarak dan waktu. Padahal milik-Nya pulalah jarak dan waktu yang membentang itu.

Embun.. sebagian manusia mungkin memencilkan rindumu di lorong gelap kelalaian. Mereka mengantagoniskannya sebagai penanda ketaktaatan. Buktikanlah! Buktikan bahwa rindumu menjadi energi untuk merangkak naik menuju kesadaran akan ketakbedayaan atas bentangan jarak dan waktu milik-Nya. Perlihatkanlah! Pacu tali kekang rindumu menuju Ia, Si Empunya semesta. Setiap pahit adalah biang bahagia yang dapat menyamuderah dan mempercepat perahu rindumu sampai kepada-Nya. Apapun kehendak-Nya selalu baik jika bermuara kepada-Nya. Cukup yakinlah, rindu adalah do’a yang dirapal sepanjang hujan yang berjanjikan pengabulan. Maka mintalah sebaik-baiknya kebaikan menurut-Nya. Lepaskan dirimu dari do’amu! Biarkan Ia berbuat sesuka-Nya. Rindumu akan bertemu jalan-Nya. Berprasangka baiklah bahwa pemiliknya adalah si empunya yang engkau sangka. Jikapun bukan ia, mintalah agar perahu rindumu takkaram sebelum bertemu dengan si empunya yang sebenarnya. []

Foto jepretan teh Nina

#3 PENYELINAP

Kisah ini lanjutan dari #2 Kucing Dan Majikannya

: Langit Senja
Sore itu aku memberanikan diri bertanya kepadanya soal kalimat suram yang ia sampaikan padaku tempo hari. Tentu aku takmendatanginya karena jarak kami amat jauh. Aku hanya bertanya padanya melalui sebuah surat elektronik berisi seikat alasan keberanianku menanyakan keberadaanku dalam kisah hidupnya. Aku mengiriminya sebuah alasan panjang tentang kebahagiaan atas kisah panjang perjalananku bertemu dengan-Nya.

Penyelinap    : Seperti biasa, kau selalu hebat

Langita             : Kau juga hebat. lalu masihkah aku memiliki kemungkinan itu?

Penyelinap    : Kemungkinan itu hanya milik Allah Ta. Namun, kali ini aku takbisa melanjutkan kisah itu. Hanya itu.

Langita     : Okey! Paling tidak, aku sudah memberanikan diri untuk bertanya.

Penyelinap    : Kau harus mencoba mencari lelaki yang lebih baik dariku.

Langita        : Hanya Allah yang bisa menyamakan persepsi antara pesan panjang  yang  kukirim dengan isi hatimu.

Setelah percakapan itu, aku berani mengatakan, perempuan itu mungkin bukan aku. Waktu bicara soal pernikahan, ia sedang berbasa-basi, melemparkan pertanyaan kosong tentang kegamangannya atas masa depan. Jawabannya membuatku sadar. Serupa tangan yang menampar pipiku saat taksadar tertidur di perjalanan. Kalimatnya mengingatkanku tentang kesiaan yang kupupuk berlipat-lipat waktu.

Pada waktu yang telah lama berlalu, aku sepertimu, berbahagia dalam kegelisahan. Dulu ia sempat pergi dariku, mengasingkanku dari hidupnya. Namun, perlahan ia timbul tenggelam dalam hari-hariku. Prilakunya itu membuatku kembali berpikir, “Ia sedang berjuang membenahi hidupnya, maka akupun harus ikut berjuang, bertahan dalam sebuah keyakinan akan kembalinya.” Berkemasnya kami waktu itu kupikir akan berakhir pada sebuah pertemuan di ujunga jalan. Bahkan aku sudah mengantongi sebuah pernyataan yang kusimpan rapi bila suatu hari nanti ia benar-benar kembali. “Jangan pernah pergi lagi!” Hmm.. Pernyataan itu benar-benar tersimpan rapi bahkan terkunci dalam palung hatiku. Ia terpencil kini. Ia terkucil oleh realitas yang mendesaknya pergi jauh.

Embun.. dia bukan lelaki yang singgah dan hanya berani ada didepan pintu. Dia bukan hanya lelaki yang takberani mengetuk apalagi masuk, seperti yang kau katakan. Dia adalah manusia ruang tunggu. Dulu.. dulu sekali, sejak pertama kami mengenalnya, aku pernah berkata padanya, “Jika kau lelah menunggu, sesekali bergeraklah ke luar, bukalah pintu, dan carilah takdirmu. Bolehjadi ia ada di depan pintu sedang menunggumu.” Ia pemalu. Ia amat pemalu. Lalu akulah perempuan penyelisihnya yang ia permalukan di muka bumi ini.

Aku seperti tertidur di musim dingin dan terbangun di musim panas. Keyakinanku seperti pakaian lengkap musim dingin yang seketika harus kutanggalkan di musim panas. Pernyataannya seperti petir yang menyambarku saat bermain-main di rintik hujan, di sisi taman. Dalam kondisi ini, apa dayaku selain benar-benar membenahi hati, berpikir kembali soal kecenderungan hati yang tidak dapat dicampuri kecuali oleh Pemilik langit dan bumi. Ia tersembunyi amat lubuk, jauh di dalam sana. Tidak dapat ditaksir dari raut muka. Ia digenggam erat oleh Pemilik semesta. Ia takterjangkau olehku yang renta.

Kini tugasku mengobati hati yang tertikam berkali-kali. “Jangan panik!” itu saja yang kuwanti-wanti pada diri ini. Hadapi apapun dengan biasa-biasa saja. Apapun, jika Ia tidak menghendaki, tidak akan terjadi. []

Bersambung…..

#2 Kucing Dan Majikannya

cerita ini sambungan dari #1 Penyelinap

: Embun

Adalah setetes manis yang menyentuh hidup hambarku ketika menyimah berita kehidupanmu sekarang. Percayalah, sakitmu takhanya sembuh dengan setumpuk obat-obat itu. Jauh di lubuk sana, ada qolbu yang harus dipapah perlahan menuju kesehatan.

Embun, kau tahu, aku suka berbicara, memberi keterangan, mengabadikan detik demi detik pelajaran yang Allah titipkan dalam setiap cambukan atau belaian hidupku. Tapi jujur saja kukatakan, ini bagaikan menggarami luka dalam yang menganga. Harus kutahan perihnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ingin rasanya berhenti bercerita, tapi ada sebaris manusia yang perlu belajar salah-salah kita, agar mereka tidak jatuh pada lubang yang sama.

***

Mendengar kedekatanmu dengan kitab suci kita, aku iri sekali wahai Embun. Di sini aku masih lemah, tergopoh mengeja dentang denting irama hidupku. Senin kembali ke Senin aku bahkan kadang sibuk mencari faidah yang dapat kuberikan untuk orang lain. Aaah.. mencari diriku sendiri saja aku masih sangat kesulitan. Apalagi harus menyematkan faidah untuk orang lain. Rasanya masih beribu mil jaraknya dari aku yang ada kini. Huffh..

Aku iri padamu, soal mata yang masih bisa terjaga pukul 2 dini hari. Aku iri padamu soal tinta yang masih bisa tergores di siang hari. Ingin! Aku ingin betul dapat menguatkan diri ini untuk terjaga sampai selarut itu. Tapi aku amat rindu kesegaranku pada dini hari. Aku belum mampu berdiri bertemu Dia disepertiga malam bila tak mulai memejamkan mata pukul 10. Terlambat sedikit saja, aku bisa kehilangan makna tahajjudku. Rakaatnya bisa sangat singkat hanya untuk mengejar selimut dan menghilangkan kantukku. Aaah.. aku takmau itu! Sejatinya tahajjud adalah pertemuan paling nyaman untuk menumpahkan kemasygulan hidup kita yang sangat rapat tersimpan bukan?! Aku akan kehilangan munajjatku bila taktidur tepat waktu.

Embun..

Aku bukan kau yang dapat dengan ringan bercerita kepada siapapun tentang kucing-kucing dan majikannya itu. Aku bukan kau yang yang dengan ringan mengenalkannya kepada setiap dinding kamar di tempat kita dulu. Mendengar ceritamu, aku agak khawatir. Kisahmu yang satu ini jadi sebercak noda dari perjalanan panjangmu menuju-Nya. Mungkin karena kita pernah mengalami hal yang sama, lalu kau dapat ringan-ringan saja bercerita tentang dia.

Embun, apa yang kau alami itu hanya kepernahan buatku. Saat ini kau masih sedang asyik masyuk menikmati kebahagiaan semu dari seorang lelaki maya, majikan kucing-kucing itu. Sungguh, setiap episode yang kau alami sudah pernah kurasakan. Manis, asam, lalu pahit. Dia sudah terlalu lama mengganjali perjalananmu menuju-Nya. Ia sudah terlalu lama menjadi persimpangan setiap jalan lurus yang sudah dengan susah payah kau kuarkan. Berhenti! Berhenti! Berhenti merasa bahagia dengan keberadaannya. Itu hanya bagai gincu yang kau lihat di bibir merah pelacur hina. Demi Allah, Berhentilah!

Mulanya kau hanya berkirim pesan singkat dengannya. Sederet peraturan ketat kau buat untuk menjaraki interaksi. Lalu siapa? Tahukah kau siapa yang paling bahagia dalam kebahagiaan semumu itu? Dia musuh kita, setan yang selalu membisikkan kepalsuan berkedok bahagia. Dia membisikimu untuk melanggar satu-persatu peraturan ketat itu. Kadang aku berpikir soal pertarungan antara setan dan diri kita. Adakah ia berjuang keras untuk menyesatkan kita? Atau hanya kita yang takmampu bertahan menjaga keimanan yang terus menerus melemah tak tahu arah.

Seperti kecepatan detakannya, secepat itulah hati kita dapat berubah. Perjuangannya menuju kekukuhan membaja memang perlu kesungguhan. Apalagi bila ujiannya adalah kebahagiaan. Detaknya akan semakin memburu, kecepatan perubahannya akan semakin melaju. Jika kau takpandai menelisik satu-persatu usaha setan dalam menggodamu, bersiaplah menangis di ujung kisahmu. Putuskan untuk berhenti! Jangan campurkan kelemahan logikamu dengan Kemahaberkehendakan Allah! Semua kebetulan-kebetulan itu hanya ujian. Pernahkah ia menjanjikanmu sebuah kepastian? Atau hanya setitik iktikad baik untuk berjanji setia di hadapan-Nya?  Sungguh kau hanya sedang tertipu dengan kekosongan tempat yang kau jejali orang itu.

Embun.. kita berbeda. Kau dan aku sudah genap tahu itu. Lalu mengapa kita harus mencari-cari orang untuk membagi perbedaan ini? Berhentilah membagi penat atau bahagiamu kepada orang itu. Berhentilah menganggap deretan kata yang kau lihat di layar kecil handphonemu sebagai pernyataan dari mahluk bernyawa. Sungguh, realitasnya dia hanya manusia maya. Kau hanya mencintai sederet kata menggugah dari kode angka. Kau hanya mencintai kelegaan dari sebuah akun percakapan dengan sebuah nama samaran.

Embun.. sampai kapanpun kau takakan menemukan kekurangan lelaki itu. Karena kaulah ketaksempurnaan itu. Kau dan dia amat berbeda. Oleh karenanya, logikamu berkata, ia sempurna dan kau taksempurna tanpanya. Ia sempurna dan kau takperlu menyempurnakan kekuranganmu karena cukup ada dia. Tanya pada nuranimu! Ketaksempurnaan itu bisa kau isi sendiri tanpa bantuan orang lain. Ada Allah Yang Maha Sempurna dengan mudah dapat menutupi kekuranganmu.

Ingatlah saat Allah dengan mudah membuatmu hafal ayat-ayat-Nya. Kemampuan itu bukan milikmu! Itu adalah karunia dari-Nya. Lalu mengapa kau memisahkan ketaatan sebagai sebuah taman dan pertemuanmu dengan lelaki itu sebagai padang ilalang lainnya. Kau seolah dapat dengan bebas berlari ke sana-kemari tanpa berpikir bahwa takada patahan dalam hidup ini. Allah melihatnya sempurna. Jangan sampai satu kebaikan kau hapus dengan puluhan keburukan yang menjelma kebahagiaan. Jangan permainkan Allah!

Allah adalah Allah! Ia bukan berhala yang kau persembahi ketaatan yang dengan kebaikannya dapat membuatnya menakdirkan serentetan kebaikan, menggerakan hati lelaki itu menujumu. Lalu siapa Tuhanmu yang sebenarnya? Allah yang sama denganku? Atau tuhan yang kau simpan dalam telpon genggam? Allah bukan mesin kebaikan yang bisa kau minta setiap saat. Dia bukan perantara antara kau dengannya. Dia adalah Pusat.

Embun… aku sayang padamu. Jangan terlalu lama berbahagia dalam kesemuan itu. Kita genap tahu bahwa kita berbeda dengan yang lain. Yang bisa mengisi kekosongan ruang itu hanya Allah. Ia tempat kita berkisah, berkeluh kesah. Ia yang menggenggam hidup kita. Seluruh isi hati ada dalam pengetahuan-Nya. Bahkan Allah-lah yang menciptakan isi hati kita. Mulanya akan sangat sulit memang, mendesak orang yang kita sekap dalam hati untuk keluar dengan cepat. Sakitnya takubah meregang nyawa. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya. tinggalkan dia secepatnya. Sebelum kau tersungkur dalam penyesalan pada kerak dosa yang kau perbuat di masa lalu. Yang kau sesali nanti bukan indahnya masa lalu yang mulai beringsut pergi, bukan ketiadaanya di masa depanmu, tapi dosa yang kau lalui dengan bahagia.

Namun, Dialah Allah Yang Maha Menyembuhkan. Saat sadar bahwa setiap yang bernyawa ada dalam genggaman-Nya, saat insyaf bahwa setiap isi hati yang takterkata sudah ada dalam rencana-Nya, maka tak sulit bagi-Nya untuk menenangkan hati kita. Saat tangisan tentang kenangan akan pecah, ada enggan yang datang dengan sendirinya. Bukankan kenangan adalah bagian yang paling jauh dari diri kita? Bukankah Allah selalu menutup mata pada masa lalu kelam kita? Dia-lah yang selalu mengingatkan kita pada perbaikan hari ini dan masa depan. Berlarilah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya pelarian. Melepaskan genggaman tangan lelaki itu memang sangat sulit. Namun, jangan biarkan kau harus berjuang keras untuk menggenggam tangan Allah sehingga perjuanganmu akan terasa amat sakit. []

Bersambung……

#1 PENYELINAP [akuan]

: Embun

Apa kabar? Terima kasih telah bersedia menyimak ceritaku. Semoga embun matamu takmenetes setelah ini. Karena ia berharga. Hari-hari tanpamu menjadi biasa-biasa saja. Hmm.. Sejak kapan aku  mengganggap hari menjadi spesial? Kau pun tahu bahwa hariku selalu begini-begini saja. Mungkin karena rutinitasku takberubah, atau karena aku telah menggantungkan perubahan kepada orang lain. Jikapun  berubah, perubahannya hanya bagai siput yang beringsut dari inchi ke inchi. Ah.. kembali pada ketiadaanmu. Semua biasa-biasa saja, hanya mungkin takada yang menguntitku dengan pertanyaan soal menulis, soal masa depanku, soal penyelinap itu, dan soal kucing-kucing bersama majikannya.

Yang agak menggangguku justru tentang orang baru yang datang ke tempatku. Dia amat lembut dan berperawakan persis denganmu. Kadang aku berpikir, “Kau takakan benar-benar pergi dari tempat ini sebelum Tuhan mendatangkan orang yang mirip denganmu.” Ah.. akhirnya ia pun datang. Dan yang mencengangkan, dia penyuka warna hijau. Ia bagaikan dirimu waktu belum tercemari oleh warna biru. Ia benar-benar polos, cerdas, dan baik hati. Ah.. kadang aku pikir, ada sebagian dirimu yang ia ambil. Atau kau harus segera berbenah, berkemas, agar takterjebak dalam labirin gelap bersama kucing-kucing dan majikannya itu. Soal penghuni baru itu, kucukupkan sekian. Aku justru rindu mendengar ceritamu di sana. Bagaimana kisah indah tempatmu diobati kini? Kisah kucing-kucing dan majikannya dapatkah aku mendengar ceritanya lagi? Atau soal embun di negeri sakura, sudahkah ia kembali? Semoga kau dapat menceritakannya kepadaku.

***

Nampaknya kau sedang tertarik dengan cerita penyelinap itu, bukan? Beberapa hari lalu ia mengagetkanku. Senja itu, awalnya kami hanya berbincang tentang pernikahan seseorang dan persiapannya. Hmm.. orang yang kami bicarakan telah menyiapkan pernikahannya sejah 120 hari akad nikah. Dengan tiba-tiba ia bertanya soal pernikahannya.

penyelinap     : Kalau aku akan menikah bulan depan, bagaimana menurutmu?

Membaca pesan itu rasanya tombol “ON” roller coaster hidupku kembali ditekan, nampaknya ia akan kembali lupa kapan harus menghentikannya.

langita              : siapa perempuan beruntung itu? ini sebuah peningkatan!

penyelinap    : belum tahu 😀

Mendapat jawaban itu penilaianku kembali ke titik nol.

langita            :  kau akan menyiapkan pernikahan dalam hitungan 30 hari?

penyelinap    : pekan lalu, ada yang hanya 4 hari

langita             : menikah bukan sedang mengajak orang lain untuk nonton bioskop, Tuan!

penyelinap    : tak ada yang takmungkin bagi Tuhan

Embun, Kau mengerti apa yang dikatakan lelaki itu? Samar bukan? Tapi menurutku, itu adalah pernyataannya yang ini amat melegakan. Dunia sudah takmemberatkannya soal takdir. Ia sudah sedikit mengerti bahwa pernihakan adalah sesuatu yang amat ruhaniyah. Ini tentang bagaimanan takdir-Nya -yang serupa kematian- dirayakan. Ini tentang membaca dengan pembacaan yang paling cermat apa yang telah dituliskan Tuhan di langit. Ini tentang pembacaan iman.

Aaah.. Roller coaster itu berpacu lagi, bahkan kecepatannya diduakalikan. Selepas perbincangan itu tiba waktuku pulang dari kantor. Di perjalanan senyum di wajahku takhenti tersungging. Sukma dan logikaku berdialog sahut menyahut.

“Bagaimana kalau aku harus menikah bulan depan? Rambutku belum memanjang dengan sempurna. Berat badanku belum stabil. Krim pemutin ini belum genap sebulan aku gunakan!”

“Bukankah pernikahan takhanya bicara soal fisik semata? Kau sudah belajar banyak setahun ini. Kepergiannya waktu itu sudah membawamu pada berbagai persiapan bukan?”

Aku bahkan takgenap mengerti perkataan mana yang diajukan sukma, mana yang disampaikan logika. Yang paling pasti, percakapan tadi menggerakkanku untuk memutar MP3 handphoneku dengan senandung ini,

“ku berdoa untuk dia yang kurindukan
Jangan pernah lupakan aku jangan tinggalkan diri
Jangan pernah lupakan aku jangan pergi dari aku”

Seperti yang kau tahu, aku takpernah membiarkan keraguan merajaiku dalam waktu lama. Aku butuh tahu perempuan itu. Menurutmu aku tanyakan langsung, atau aku tunggu dia menanyaiku? Apakah seorang perempuan bertanya langsung tentang keberadaanya dalam skenario seorang lelaki adalah sebuah dosa?

Sukma dan logikaku kembali berdebat,

“Padahal pertanyaan itu sudah bertahun lalu dijawabnya. Padahal berkali-kali ia memintamu untuk menawarkan hati ini.”

“Tapi mengapa ada bahagia ketika mendapat pertanyaan bagaimana darinya?”

“Padahal boleh jadi, itu adalah paling standar dari seorang lelaki pengecut.”

“Tapi mengapa dia bercerita soal pernihakan jika bukan bermasud menikahiku?” Ah.. logika memang selalu mengakali kemungkinan dari setiap ketidakmungkinan.

“Lelaki labil selalu bisa menembakkan pelurunya ke segala arah. Sudah berapa lama ia kenghubungimu? Takterpikirkah dia sedang bercerita tentang dirinya sendiri dan orang lain? Dia hanya sedang bermain-main denganmu!”

Selepas angkot yang kutumpangi berhenti,  kutemukan satu simpulan: aku harus bertanya langsung padanya!

Bersambung..

*sengaja dibuat lebih realis biar mudah dimengerti 😉

gambar jepretan siriusbintang

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript