Efek Gosip di Antara Istri – Istri Rasulullah SAW

Setiap istri Rasulullah SAW punya cerita masing-masing tentang penyebab pernikahannya. Salah satu cerita istimewa adalah pernikahan Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy. Anas RA berkata, sesungguhnya Zainab binti Jahsy RA berbangga di antara istri – istri Rasulullah dan dia berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari tujuh lapis langit,” (HR Bukhari). Selain pernikahannya yang langsung dipernikahkan oleh Allah SWT, Zainab binti Jahsy adalah salah satu istri Rasulullah SAW yang berwajah cantik. Sayyid Quthb menyebutkan bahwa Aisyah RA merasa Zainab RA sebagai saingannya karena kecantikan dan nasabnya yang masih berhubungan dengan Rasulullah SAW dari pihak bibi. Zainab adalah sepupu Rasulullah SAW, (2004:329).

Suatu hari Rasulullah SAW meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy dan membuatnya berlama-lama di rumah Zainab RA. Hal ini membuat Aisyah RA cemburu, bergosip bersama Hafshah RA tentang kejadian itu. Mereka bersepakat apabila Rasulullah SAW mendatangi salah satu di antara mereka, mereka harus berkata, “Anda telah meminum maghafir (getap pohon yang manis tapi baunya tidak sedap). Saya mencium aroma maghafir pada diri Anda.” Ternyata Rasulullah SAW mendatangi Hafshah RA dan ia pun berkata sesuai kesepakatan. Lalu Rasulullah SAW berkata kepada Hafshah RA, “Tidak. Aku meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy, tapi aku tidak akan meminumnya lagi. Aku bersumpah. Maka, kamu jangan memberi tahu hal ini kepada orang lain,” (Qutb, 2004: 332).

Setelah kejadian tersebut, Hafshah RA kembali bertemu Aisyah RA dan menceritakan rahasia yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Gosip di antara mereka berdua menjadi penyebab turunya ayat:

Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab, “Yang telah memberitahuku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (At Tahrim: 3).

Peristiwa ini membuat Rasulullah SAW marah dan melakukan ila – bersumpah tidak akan mendekati keduanya selama sebulan penuh. Tersebarlah gosip di Madinah bahwa Rasulullah SAW akan menceraikan istri-istrinya. Allah SWT memberi peringatan kepada istri-istri Rasulullah SAW dengan ayat:

Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan,” (At Tahrim: 5).

Dengan ayat ini Allah SWT memberi gambaran kepada kita tentang sifat istri yang baik, yang bahkan dapat menjadi pengganti Aisyah RA dan Hafshah RA. Mereka adalah perempuan – janda atau perawan- yang patuh, beriman, taat, ahli taubat, ahli ibadah, dan ahli puasa. Sayyid Quthb menyebutkan bahwa sifat-sifat ini merupakan anjuran untuk istri – istri Rasulullah SAW. Dalam tafsir Fidzilalil Quran dijelaskan dengan rinci sifat-sifat tersebut:

  1. Al Islam adalah sifat yang menunjukkan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
  2. Al Iman adalah sifat yang mendamaikan hati dan membangunkannya dari dirinya dan muncullah sifat islami ketika iman sudah benar dan sempurna.
  3. Al Qanut adalah ketaatan hati.
  4. At Taubah adalah penyesalan atas masiyat dan dosa yang telah dilakukan dan mengarahkan diri pada ketaatan.
  5. Al Ibadah adalah wasilah berhubungan dengan Allah dan penggambaran tentang penghambaan kepada-Nya.
  6. As-Siyahah adalah merenung, bertadabur, dan berpikir tentang penciptaan Allah SWT dan berwisata dengan hati tentang penciptaan makhluk Allah SWT, (2004: 337).

Sifat- sifat tersebut dapat dimiliki oleh janda maupun perawan. Istri – istri Rasulullah SAW pun terdiri dari janda dan perawan.

Dari sisi qiraah, ada dua sifat yang dibaca panjang (maad) dari enam kriteria ini adalah taaibatin (ahli taubat) dan saayihatin (ahli puasa). Jika ditadaburi, dua sifat ini dibaca panjang karena berkaitan dengan maksiyat yang dilakukan kedua istri Rasulullah SAW tersebut. Bertaubat adalah hal yang paling disukai Allah SWT ketika hamba-Nya melakukan dosa atau maksiyat. Tidak ada seorangpun hamba yang terbebas dari dosa. Oleh sebab itu, taubat adalah sifat yang harus terus-menerus dilakukan oleh seorang istri yang baik. Terlebih kesalahan terhadap suami yang amat dekat dengan dirinya, bertemu, bercengkrama setiap hari. Tentu ada dosa-dosa kecil yang takterasa telah menyakiti hati suami. Tentang dosa kecil yang takterasa ini Rasulullah SAW bersabda,

“Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya di akhirat dari bidadari akan berkata, “Janganlah engkau mengganggunya, semoga Allah membinasakanmu. Sesungguhnya ia hanyalah tamu (sebentar) di sisimu, sebentar lagi ia akan meninggalkanmu menuju kami,” (HR At-Thirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah).[1]

Adakah perempuan yang rela suaminya dilirik oleh perempuan lain? Bahkan oleh bidadari dari surga pun seorang istri pasti tidak rela suaminya dilirik. Maka, bertaubat dengan wasilah meminta maaf kepada suami atas kecemburuan atau kecurigaan yang dirasakan adalah keutamaan.

Sifat istimewa kedua adalah saayihatin. Dalam terjemahan bebas, kata ini diartikan sebagai ahli puasa. Sayid Qutb menafsirkannya sebagai sifat merenung, bertadabur, dan berpikir tentang penciptaan Allah SWT dan berwisata dengan hati tentang penciptaan makhluk Allah SWT. Menjadi ahli puasa dan ahli tadabur merupakan keunggulan seorang muslimah. Berpuasa tentu bukan hanya berkaitan dengan makan dan minum tapi juga berpuasa dari hal-hal yang tidak disukai Allah SWT, salah satunya adalah bergosip. Mengistirahatkan lisan dari gosip adalah hal berat bagi perempuan.

Abu Musa Al-Asy’ari berkata, Rasulullah SAW ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab, “(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya,” (HR Bukhari & Muslim).[2]

Mampu menjaga lisan berarti mampu menjaga aib diri, aib suami, dan rahasia rumah tangga sendiri. Lisan seorang istri adalah interpretasi pendidikan sang suami terhadap dirinya. Oleh sebab itu, menjaga lisan sama dengan menjaga kehormatan suami ketika mereka tidak ada bersama kita. Dua sifat ini tentu merupakan buah dari keislaman, keimanan, ketaatan, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Sayyid Quthb menyebutkan bahwa setelah ayat (At tahrim: 5) ini turun, Rasulullah SAW kembali ridha dan tenang. Rumah yang mulia itu kembali damai setelah goncangan dahsyat. Rasulullah SAW tidak mungkin marah karena perkara yang ringan dan kecil. Kemarahannya karena pada perkara tersebut akan turun risalah dan petunjuk Allah SWT tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang istri.

Pada penghujung surat At tahrim, Allah SWT kembali menjelaskan tentang istri mulia yang ada pada masa sebelumnya. “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.’ dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat,” (At tahrim: 11-12).

Sayid Quthb berpendapat bahwa, dua perempuan ini yaitu Asiyah binti Muzahim dan Maryam binti Imran merupakan teladan bagi perempuan mukmin yang suci, membenarkan, percaya, dan taat. Allah SWT telah memaparkannya sebagai perumpamaan bagi istri-istri Rasulullah SAW berkenan dengan kasus yang menjadi penyebab turunya ayat-ayat pembuka surat ini dan memaparkannya sebagai perumpamaan bagi perempuan mukmin pada setiap generasi sesudah mereka, (2004:344).

Rasulullah SAW juga menyebutkan, “Yang sempurna dari kaum lelaki sangatlah banyak, tetapi yang sempurna dari kaum wanita hanyalah Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid (roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah) atas segala makanan yang ada,” (HR Bukhari).[3]

Gosip terakhir di dunia ini adalah gosip yang dilakukan oleh Aisyah RA dan Hafshah RA karena setelah kejadian itu Allah SWT memberikan penjelasan paling jelas tentang sifat-sifat perempuan baik yang layak dijadikan pengganti istri yang suka bergosip. Peristiwa ini tidak mengurangi sedikitpun kemuliaan Aisyah RA dan Hafshah RA di mata kita. Bahkan Rasulullah SAW pernah bercengkrama dengan Amr bin ‘Ash dengan pembicaraan berikut, Suatu hari Amr bin ‘Ash bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, siapa manusia yang paling engkau cintai?” Rasulullah menjawab, “Aisyah,” (HR Bukhari).[4]

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan pengikutnya sampai akhir zaman.[]

Pustaka:

Quthb, Sayyid. Tafsir Fidzilalil Quran, Jilid 9. 2004. Jakarta: Gema Insani Press.

Quthb, Sayyid. Tafsir Fidzilalil Quran, Jilid 11. 2004. Jakarta: Gema Insani Press.

[1] http://muslimafiyah.com/berdoa-agar-kelak-tidak-mendapat-bidadari-di-surga-dan-hanya-berdua-dengan-istri.html

[2] http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/01/keutamaan-menjaga-lisan-dan-buah-hasilnya/

[3] http://www.dakwatuna.com/2012/04/15/19504/teladan-wanita-sepanjang-masa/#axzz3KiGQntK3

[4] http://kisahmuslim.com/kemuliaan-dan-keutamaan-aisyah/

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Istri yang Baik

AgarDicintaiSuami

Happy Waiting on Learning

Image

Hmm, buat aku, kamu (yang gakbisa disebut namanya) itu abstraknya tingkat tinggi. Referensiku tentang kamu cuma satu, diriku sendiri. Pantaslah kamu belum dateng, aku masih gini-gini aja di sini. Pantes kamu belum dateng, aku masih belum bener-bener pantas dijemput. Yaudah, kalau kamu masih mau memperbaiki diri jadi lebih shalih, silakan. Aku mau ngerjain tesis sampe beres and wisuda. Dateng beberapa hari setelah wisuda juga gak apa-apa, tapi bukan berarti aku ngelarang kamu dateng lebih cepat ya. Keep Fight!

*efek muter-muter di IBF Bandung, beli kado buat temen yang mau nikah besok :p

Jangan Menghalangi Muslimah Menikahi Pria Pilihannya

foto

Memilih suami adalah hak besar wanita Muslimah tanpa intervensi siapapun baik itu keluarganya, orang lain maupun negara. Ayah, ibu, saudara, saudari, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan dan semua keluarga, dekat atau jauh tidak berhak mencegah pilihan suami wanita. Demikian pula shahabat, bos, guru, Musyrif, Musyrifah, Murobbi, Murobbiyah, Mursyid, Mursyidah, ustadz, ustadzah, Amir, bahkan Khalifah juga tidak berhak mengintervensi (yang bersifat memaksa/menekan) keputusan wanita dalam memilih suami. Memilih suami adalah hak penuh wanita. Dialah yang berhak menentukan siapa calon suaminya, dan dia pula yang berhak menentukan apakah menerima seorang lelaki atau menolaknya.

Dalil yang menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita adalah Nash-Nash berikut:

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Gadis tidak boleh dinikahi hingga dimintai izin, dan janda tidak bleh dinikahi hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “tandanya diam.” (H.R. Bukhari)

Riwayat Muslim berbunyi:

‘Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)

Riwayat Muslim dari Ibnu Abbas berbunyi;

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya adalah izinnya.” Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis), maka ayahnya harus meminta persetujuan atas dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya.” Atau mungkin beliau bersabda: “Dan diamnya adalah persetujuannya.” (H.R. Muslim)

Wanita tidak lepas dari kondisi; janda atau gadis. Dalam kondisi gadis, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang dia dinikahkan sebelum dimintai izinnya, dalam kondisi janda Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang dia dinikahkan sebelum diajak musyawarah untuk dimintai pertimbangan. Semua perlakuan ini menunjukkan bahwa wanita dalam kondisi apapun tidak boleh dipaksa menikah dengan seseorang yang tidak dia inginkan. Maknanya, hak penuh memilih ada pada tangannya, bukan ditangan walinya atau orang lain.

Nabi pernah merekomendasikan kepada seorang wanita untuk menikahi seorang lelaki yang sangat mencintainya. Sayangnya wanita tersebut tidak mencintai lelaki itu sehingga dia menolaknya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam tidak memaksa wanita itu untuk menikahi lelaki itu meski sang lelaki sangat mencintainya. Bukhari meriwayatkan:

Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Bariroh adalah seorang budak. Namanya Mughits. Sepertinya aku melihat ia selalu menguntit di belakang Bariroh seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Bariroh dan kebencian Bariroh terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “andaisaja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Bariroh bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Bariroh pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” (H.R. Bukhari)

Mughits sangat mencintai Bariroh. Besarnya cinta ini sampai membuat Mughits mengikuti kemanapun Bariroh pergi dengan derai air mata yang membasahi janggutnya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam iba dengan penderitaan Mughits, lalu merekomendasikan Bariroh agar berkenan menikah dengan Mughits. Ternyata Bariroh menolaknya dan Nabipun tidak memaksa. Tidak adanya paksaan dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kepada Bariroh kepada Mughits padahal Mughits sangat mencintai Bariroh, menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita hingga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sendiripun tidak berani intervensi yang bersifat memaksa/menekan.

Bahkan pembangkangan seorang wanita terhadap ayahnya atau ibunya dalam hal pilihan suami, tidak tergolong kedurhakaan. Bukhari meriwayatkan;

Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya -ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. (H.R. Bukhari)

Riwayat Ahmad berbunyi;

Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (H.R. Ahmad)

Seandainya pembangkangan Khonsa’ binti Khidzam kepada ayahnya dalam hal pilihan suami termasuk kedurhakaan, niscaya Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam akan memerintahkan Khonsa’ taat atas keputusan ayahnya dalam hal pilihan suami. Ketika Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam justru memberikan pilihan kepada Khonsa’ untuk membatalkan pernikahan atau melanjutkannya, maka hal ini menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak besar wanita yang bahkan menjadi Takhsish atas keumuman perintah taat kepada Ayah/wali atau perintah berbakti kepada orang tua.

Lebih jauh dari itu, aktivitas menghalang-halangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang telah menjadi pilihannya adalah kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan Fikih Islam dengan istilah ‘Adhl. Adhl hukumnya haram dan pelakunya dihukumi fasik yang gugur hak perwaliannya dan tidak diterima persaksiannya. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl.

Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)

Ayat ini turun berkaitan Adhl yang dilakukan seorang shahabat bernama Ma’qil bin Yasar yang tidak mau menikahkan saudarinya ketika dilamar seorang lelaki. At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya:

Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menikahkan saudarinya dengan seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya tinggal bersama suaminya beberapa waktu, setelah itu dia menceraikannya begitu saja, ketika masa Iddahnya usai, ternyata suaminya cinta kembali kepada waanita itu begitu sebaliknya, wanita itu juga mencintainya, kemudian dia meminangnya kembali bersama orang-orang yang meminang, maka Ma’qil berkata kepadanya; hai Tolol, aku telah memuliakanmu dengannya dan aku telah menikahkannya denganmu, lalu kamu menceraikannya, demi Allah dia tidak akan kembali lagi kepadamu untuk selamanya, inilah akhir kesempatanmu.” Perawi berkata; “Kemudian Allah mengetahui kebutuhan suami kepada istrinya dan kebutuhan isteri kepada suaminya hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya.” QS Al-Baqarah: 231 sampai ayat “Sedang kamu tidak Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar dan patuh kepada Rabbku, lalu dia memanggilnya (mantan suami saudarinya yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.” (At-Tirmidzi)

Semua aktivitas menghalang-halangi pernikahan wanita dengan calon suami pernikahannya secara zalim termasuk ‘Adhl yang hukumnya haram. Tidak boleh menghalang-halangi pernikahan wanita dengan alasan misalnya calon suaminya kurang ganteng, kurang kaya, kurang punya kedudukan sosial, tidak bisa dibanggakan, bukan keturunan ningrat, sudah menikah, keluarganya tidak terkenal, bukan satu ras/kabilah/keluarga/marga/kelompok/partai/harokah/organisasi, belum menyelesaikan studi dan mengamankan masa depan, dll. Adapun jika alasannya Syar’I seperti calon suaminya kafir, fasik (tidak/jarang sholat, mabuk-mabukan, penjudi, pezina, rusak akhlaknya-penipu-), termasuk mahrom, wanita masih di masa iddah, wanita pernah berzina dan blm melakukan istibro’ dll maka menghalangi demikian tidak teramsuk ‘Adhl karena bukan kezaliman.

Atas dasar ini, memilih calon suami adalah hak penuh wanita dan tidak boleh dihalang-halangi menikah dengan lelaki pilihannya. Penanya hendaknya memeriksa kasusnya, apakah halangan dari keluarga bisa dikatakan Syar’I ataukah termasuk ‘Adhl. Jika halangannya Syar’i, maka hendaknya dihilangkan dulu penghalang-penghalang tersebut, sementara jika sudah terkategori Adhl maka lanjutkan terus tanpa ada keberatan. Wali yang melakukan ‘Adhl gugur hak perwaliannya dan berpindah pada wali yang terdekat. Jika ayah gugur perwaliannya, maka hak perwalian untuk menikahkan pindah ke kakek (ayah-nya ayah), buyut (ayahnya ayah ayah), saudara, paman, dst sesuai aturan gradasi wali dalam fikih Islam. Wallahua’lam.

repost dari sini

*tulisan arab haditsnya nggak dimasukin, soalnya ribet rata kiri or kanannya.

How Does It Feel?

Image

How does it feel? Hatiku tentu berkata demikian soal pengalaman itu. Tentang adanya seseorang yang memeras keberaniannya, menanggalkan keraguannya dan berbisik soal akad suci. Tentang diajak berjuang bersama menjalani kehidupan berdua. Walaupun sudah mengikuti pendidikan tentang pernikahan, sudah berkali-kali menghadiri walimahan, sudah membaca buku soal rumah tangga, tapi pertanyaan itu tetap muncul. How does it feel?

Perasaan itu benar-benar misteri buatku. Mengapa? Ia terasa amat dekaaat. Setelah pada suatu hari seorang teman memintaku menemaninya sebelum pernikahan. Fulanah, Fulanah, Fulanah, mereka kutemani semalam sebelum seorang lelaki mengucapkan akad suci dengan ayah mereka. I just can be someone beside them! Apa yang mereka rasakan tetap tak aku alami bukan? Belum lagi amanah membuat rundown acara pernikahan. How amazing it is? Rasanya pertemuan suci itu semakiin dekat! Allah semakin mempersiapkanku untuk menghadapi hari itu dengan penuh keberanian dan kemantapan.

“Baju ini cocok nggak buat akad?” ujar seorang teman. Subhanallah.. senyumku tersungging lebar. Bahagia sekali melihat mereka bahagia. Baju akad, baju resepsi, baju pertama yang akan digunakan untuk memuliakan suami. Semua diperlihatkan kepadaku. Hanya bisa menilai, membayangkan tapi perasaan itu tetap saja misteri.

Terakhir, saudaraku yang lain bertanya soal cincin yang diberikan oleh suami, apakah itu termasuk mahar atau hanya hadiah. Nampaknya saudaraku ini sedang ditanya oleh calon suaminya tentang mahar yang ia minta. Aku tentu takboleh berkata, “kok nanya ke aku siy! aku kan belum nikah!” Hmm.. How amazing this story. Namun hatiku tetep berujar, “how does it feel?”

yang aku tahu hanya soal menjaga diri, memantaskan diri, mempersiapkan diri sebelum pernikahan. aku sudah jelas pernah merasakannya. yang aku tahu hanya soal kebisuan menjadi perempuan. biarlah Allah yang mengunci sebuah ruang di hati ini sampai tiba saatnya seseorang membukanya. biarlah aku duduk di ruang tunggu ini sampai ada seseorang yang keluar dari sebuah ruangan atau dia membuka pintu dan membawaku ke tempat lain. i certanly know this feeling!

sebiasa apapun perasaan itu, semoga aku merasakannya. sebuah kelegaan yang amat sangat pada akhirnya.

DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang, Darah namanya |
Dalam diriku menggenang telaga darah, Sukma namanya |
Dalam diriku meriak gelombang sukma, Hidup namanya |
Dan karena hidup itu indah, Aku menangis sepuas-puasnya [SDD]

Menikah: Berjuang Bersama

Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan salah satu teman yang baru resign dari pekerjaannya. Alasan terbesarnya berhenti bekerja adalah keterpisahannya dengan sang istri. Menurut saya keputusannya memang sangat tepat. Bayangkan, teman saya ini bekerja mobile Yogyakarta-Solo-Semarang-Surabaya. Dalam sepekan atau dua pekan, empat tempat itu harus ia sambangi. Tentu sangat sedikit waktu yang dapat ia isi bersama istrinya yang tinggal di Yogyakarta. Belum lagi sang istri adalah pegawai negeri yang sama-sama sering melakukan perjalanan dinas. Ada di mana kebersamaan yang menjadi tujuan utama pernikahan saat itu? Akhirnya ia memuntuskan untuk bekerja di Yogyakarta.

Beberapa pekan setelah ia resign, saya bercakap lagi dengan sahabat saya ini. Dia bercerita bahwa dalam sepekan ia akan melaksanakan turing Bandung-Jakarta. Dalam percakapan itu ia berujar, “Lagi lobi biar nyonya bisa diajak,” ujarnya. Ternyata keterpisahan itu tidak hanya disebabkan oleh pihak suami tapi juga oleh pihak istri. Pun ketika sang suami sudah resign, mereka belum bisa bersama karena sang istri masih terikat dengan rutinitas pekerjaan. Walaupun hasilnya tidak sama persis dengan harapan, mungkin paling tidak kebersamaan itu sudah diupayakan dan intensitas pertemuan bisa lebih banyak ketimbang ketika teman saya masih bekerja di tempat yang lama.

Pada waktu yang tidak lama saya juga bercakap dengan teman lain yang baru menikah dan sedang menjalankan studi magister di Malaysia. “Apa kabarmu dan istri? Sudah kembali ke Malaysia?” tanya saya. “Alhamdulillah baik. Ane sudah di Malaysia, istri sudah kembali ke Indonesia” Ujarnya. “Ho.. jadi istrimu nggak diajak ke sana?” saya bertanya lagi. “InsyaAllah sedang diikhtiarkan,” ujarnya.

Dua kisah ini dialami oleh dua teman saya yang baru menikah dan posisinya sebagai suami. Mereka mengusahakan kebersamaan dengan beberapa cara yang dapat diusahakan.

Kisah yang lain saya dapat dari teman halaqah yang tentu posisi mereka sebagai istri. Teman saya yang satu ini tinggal di Bandung dan suaminya bekerja sebagai pelaut. Selama 6 bulan suaminya melaut, setelah itu mendapat libur 2 bulan. Jadi, dalam 1 tahun mereka memiliki kesempatan bersama selama 4 bulan. Keterpisahan mereka jauh lebih lama ketimbang kebersamaan mereka. Sebagai seorang istri, teman saya bersedia ditinggalkan oleh suaminya yang sedang berikhtiar melaksanakan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga. Berdasarkan dua contoh sebelumnya, saya yakin suami teman saya ini pasti juga sedang mengusahakan pekerjaan lain yang dapat meminimalkan keterpisahan mereka.

***

Menikah itu berjuang bersama bukan hanya hidup bersama. Inilah simpulan sederhana yang saya dapat dari pengalaman tiga teman saya. Diusahakan sekeras apapun, keterpisahan itu pasti tetap ada. Saat benar-benar hidup bersama Senin – Minggu pun, seorang suami pasti berpisah dengan istrinya ketika bekerja. Sang suami pasti bekerja di kantor minimal dari pukul 08.00 s.d. 16.00. Jika pun sang suami adalah pembisnis, tetap saja ia harus melakukan marketing keluar rumah, tidak selamanya ada di rumah dan berkumpul bersama istri dan anak. Saya jadi teringat dengan ayah yang seorang pembisnis. Pusat bisnis ayah saya memang di rumah. Namun, tetap saja ada masanya ayah harus pergi ke luar rumah seharian. Ini menjadi bukti bahwa pada jenis pekerjaan apapun, keterpisahan pasti ada.

Begitupun sang istri, ada masanya ia mengantar anak ke sekolah atau bahkan menunggu anak disekolah. Ada juga masa ketika istri berbelanja sendiri tanpa perlu ditemani sang suami. Belum lagi biasanya lelaki mudah bosan dan enggan menemani istrinya berbelanja. Ini juga dapat kita kategorikan sebagai keterpisahan bukan? Ketika benar-benar bersama pun, suami-istri tentu tidak bisa terus menerus “gelendotan” berdua. Pasti akan muncul keterpisahan di antara mereka.

Kondisi di atas masih berkaitan dengan kehidupan keluarga pada umumnya. Tentu berbeda bagi keluarga-keluarga yang meniatkan pernikahannya sebagai keluarga da’wah. Ada masanya seorang suami harus mengisi halaqah. Ada masanya sang istri harus mengisi jalasah ruhiyah. Belum lagi daurah, mukhayyam, dan acara-acara yang berkaitan dengan kepentingan da’wah lainnya. Tentu amanah-amanah tersebut menuntuk hadirnya keterpisahan bukan? Keridhaan untuk ditinggalkan dan berjuang di ranah masing-masing adalah sesuatu yang harus disiapkan. Kebersamaan tidak lagi menjadi tujuan utama pernikahan. Berjuang bersama menjadi sesuatu yang diprioritaskan.

Di pondok Maqdis, kami dididik oleh Ustadz Saiful Islam dan Ummi Erna. Subhanallah, dalam sepekan ustadz mengisi kajian di beberapa radio, di televisi lokal, dan bahkan menjadi pembimbing umrah yang tentu ikut berangkat umroh. Beberapa waktu ini beliau mengisi daurah Quran di Brunai Darussalam. Tentu Ummi tidak ikut bepergian. Ia menjadi pemimpin rumah tangga di rumah, menggerakkan roda perekonomian rumah tangga. Tagihan listrik, telpon, keperluan dapur semua manajemen keuangannya diatur oleh ummi. Pihal-pihak luar yang akan mengundang ustadz untuk mengisi acara pun menghubungi ummi. Jadwal harian ustadz diatur oleh ummi. Belum lagi dalam sebulan ustadz bisa membimbing umarah dua kali. Ia lebih banyak beraktivitas di Makkah dan Madinah ketimbang di Indonesia. Kondisi ini pun melahirkan keterpisahan bukan?

***

Setiap orang punya kecemasan masing-masing, takterkecuali saya. Harus mengajar 3 tahun di universitas yang ditentukan DIKTI adalah sesuatu yang melahirkan keseraman tersendiri di benak saya. Mana ada suami yang mau ditinggal-tinggal oleh istrinya. Alih-alih bersedia menjadi suami, ikhwan-ikhwan pasti menolak sejak membaca proposal yang berisi pernyataan tentang keterpisahan ini. *ngenes banget bayangannya ahaha! Inilah kekhawatiran saya awalnya. Mana ada suami yang mau mengalah dengan terkesan “menguntit” istrinya. Di mana-mana, istri yang ikut suami bukan suami yang ikut istri. *jedeeeng!

“Tapi kan Allah Swt nyiptain satu orang spesial buat kamu Nda! Dia pasti mau nemenin kamu ke mana ajah.” Eciye ciyeee! Hati kecil saya membagi kegembiraan. Suami saya bukan orang yang menikah untuk kebersamaan. Dia meminang saya untuk sebuah perjuangan. Menikah itu bukan hanya untuk hidup bersama tapi juga berjuang bersama. Biarlah kami terserak di dunia tapi bisa bersama selamanya di surga Aamiin. Husnudzhan itu indah ^^9

*dari sini
** gambar hasil googling 😀

Berita Pernikahan*


“Hal yang paling menyedihkan adalah merasa sedih dan kehilangan sesuatu
yang tidak pernah kita miliki” (shabira ika)

Berita pernikahan itu menggetarkan hatinya, mengoyak penantian rumpangnya yang hari demi hari ia tambal dengan harapan akan berubahnya sebuah keputusan. “Bukankah doa dari hati yang ikhlas dapat membuat-Nya mengubah ketetapan? Bukankah bersama doa selalu ada pengabulan di belakangnya?” Ia kembali meyakinkan diri.

Berita pernikahan itu membuat hatinya penasaran. “Dengan siapa lelaki berperawakan jangkung itu akan melayari samudera kehidupan barunya?” “Siapa perempuan yang membuatnya menjadi lelaki paling pemberani, memutuskan satu langkah besar? Dengan siapa ia akan melangkahkan kakinya ke Surga?”

“Sudah! Jangan kau garami lukamu!” ujar salah seorang sahabatnya.

“Aku hanya penasaran,” ujarnya tanpa bisa membendung tetesan lembut dari matanya.

Lelaki sahaja itu memang masih muda tapi ilmunya sudah jauh melebihi usianya. Kapasitas manfaatnya sudah merambah jauh, ribuah kilometer dari desa tempat tinggalnya. Tidak ada satu perempuan pun yang berani menolaknya. Namun, apalah daya seorang perempuan. Bagaimana bisa menolak jika dipilih pun tidak. Air matanya kembali menetes saat mengenal masa-masa perkenalan dengannya. Bertemu pun tidak, tapi karya-karyanya membuat perempuan itu dan setiap orang ingin lebih mengenalnya.

Berita pernikahan itu semakin jelas kebenarannya. Lelaki cerdas itu mengaku bahwa dirinya telah melamar seorang perempuan. Tentu bukan perempuan itu yang sedang berselisih dengan waktu agar ia berhenti saja atau kembali ke masa lalu.

“Nampaknya yang terpilih adalah perempuan yang sekantor dengannya,” ujar perempuan itu.

“Mungkin,” jawab salah satu temannya takbegitu yakin.

Berita ucapan selamat atas kelancaran pernikahannya dengan perempuan itu sudah mulai berdatangan. “Mereka memang satu kantor, satu pekerjaan, satu perjuangan, pantaslah jika dinikahkan.” ujar perempuan itu. Namun, pengumuman yang pasti tentang pernikahan itu belum juga muncul. Rasa penasaran semakin menggerogoti keyakinannya pada penantian.

Berita pernikahan itu memang benar adanya. Tuhan telah menggenapkan penantiannya. Ia menyudahinya, semua yang terjadi sudah tertulis di buku-Nya. Tinta sudah mengering, waktu sudah bergulir, air mata sudah menetes. Kini saatnya perempuan itu menyeka air matanya dengan tangannya sendiri.

***

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab-Nya (Lauhl Mahfudz) sebelum Kami mewujudkanya. Sunggu yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati atas apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira atas apa yang telah diberikan-Nya kepadamu...(Al Hadid 22-23).

*belajar bikin FF ^^8
** foto dari sini

*Tentang Pilihan


Kehidupan ini tak selalu memberikan kita pilihan terbaik. Terkadang yang tersisa hanya pilihan – pilihan berikutnya. Orang yang bahagia selalu berpegang pada pilihan kedua yang terbaik, melupakan pilihan pertama yang tak bisa kau capai _TereLiye

Bagaimana dengan ungkapan langit? “Kamu tahu, pilihan pertama yang sejati ialah yang terus diperjuangkan. Bila aku harus memilih pilihan kedua, setidaknya bukan aku yang salah karena menyerah, tapi dia yang mulai lelah dan menghentikan semua”..:)

* dari sini
**foto tetap jepretan teh Nina

Kepastian dan Ketidakpastian

“Perempuan suka eskrim dan coklat, tapi lebih suka kepastian” (Sujiwotejo).
Seperti semacam takdir, menjadi perempuan memang harus mau mengakrabi kepastian. Dunia dan seisinya memproteksi perempuan dengan kebutuhannya pada kepastian. Karena itu pula, Sujiwotejo sebagai seorang budayawan laki-laki mengicaukan pernyataannya tentang perempuan dan kepastian di twitternya. Mungkin karena dianggap lemah atau karena -sebenarnya saya tidak sepakat- perempuan memang lemah, dunia menganggapnya akan lebih selamat dengan hal-hal yang telah pasti. Dalam filsafat biologi, perempuan yang diwakili oleh ovum lebih memiliki kepastian ketimbang laki-laki. Pada saat pembuahan, perempuan hanya mengeluarkan satu sel telur sedangkan laki-laki mengeluarkan jutaan sel sperma. Ovum yang hanya keluar satu pada saat pembuahan memperlihatkan kepastiannya. Sedangkan sperma yang keluar jutaan memperlihatkan ketakpastiannya. Inilah salah satu filosofi keakraban perempuan dengan kepastian. Dalam hal budaya, salah satu bukti keakraban perempuan dengan kepastian ada pada suku Sunda. Para orang tua di Sunda lebih memilih anaknya tinggak bersama keluarga ketimbang harus pergi-pergi ke luar kota. Ini adalah salah satu proteksi mereka terhadap anak perempuan. Tinggal di rumah dengan sederhana lebih menentramkan ketimbang membiarkan anaknya pergi ke luar daerah tanpa kepastian nasib anak perempuan mereka. Proteksi ini saya alami sebagai perempuan Sunda yang sebenarnya takterlalu akrab dengan budayanya sendiri.
Girang Bukan Main
Beberapa hari lalu saya girang bukan main. Rasanya seperti mendapatkan undian berhadiah umrah *lebay! Pasalnya sekitar dua hari lalu saya berhasil memperjuangkan kontrak sebagai pengajar di Unpad untuk 3 tahun mendatang. Saya, yang awalnya mendaftar sebagai calon dosen yang siap ditempatkan di universitas manapun di Indonesia, kini mendapat kepastian mengajar di Unpad setelah lulus S2 nanti. Siapa yang tidak girang? Berpindah dari ketakpastian menuju kepastian? Apalagi saya adalah perempuan yang lahir dari suku Sunda. Ayah sangat senang menerima berita ini. Namun, ternyata sebagai seseorang yang suka kebebasan *tsaaah! Saya jadi berpikir, “Haruskan saya menua di Bandung? Padahal dunia ini amat luas untuk dikeliling dan dikunjungi!” Saya mulai berpikir ulang tentang kontrak tersebut. Belum lagi mengenai ketidaktahuan saya tentang dengan siapa saya dijodohkan oleh-Nya. Oh My God! What kind of relationship that i will made? Emang ada gituh ikhwan yang mau tinggal di Bandung? Emang kamu tahu jodohmu bukan orang Bandung? Lagi-lagi saya dituntut untuk memastikan bahwa otomatis suami saya nanti harus orang yang bersedia tinggal di Bandung atau memang benar-benar orang Bandung. Untuk yang demikian itu apa kuasa saya? Hati saya berbisik, “Robb, ampuni aku jika telah menyandarkan kepastianMu pada ketakpastian mahlukMu. Aku benar-benar tidak tahu.” Namun, begitulah Dia, memberi saya beberapa jalan untuk belajar.
Mencari dan Bertemu dengan Kepastian
Kemarin, sebelum saya harus memastikan nasib karir 3 tahun mendatang, Allah memberi saya jalan untuk mengunjungi blog seorang akhwat. Ketika sedang berkuliah ia menjalin hubungan “tanpakepastian” dengan seorang ikhwan -tidak berani saya menyebutnya pacaran. Dari yang saya baca, sang ikhwan tidak menjanjikan sesuatu, ia hanya memberi akhwat itu banyak cinta. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk menunggu kepastian dari sang ikhwan. Sampai pada suatu hari ia lulus kuliah dan mengikuti CPNS. Entah apa pertimbangannya -tidak dijelaskan di blog tersebut, sang akhwat memilih ditempatkan di kota tenpat tinggal -afwan- kekasihnya. Allah Yang Maha Berkehendak mengabulkan lamaran PNSnya. Ia ditempatkan di kota kekasihnya. Namun, apa yang terjadi? Pada sisi kehidupannya yang lain, Allah memperlihatkan pula Kemahaberkehendakan-Nya. Hubungan mereka kandas. Beberapa bulan kemudian sang akhwat dilamar oleh ikhwan lain. Allah memilihkan orang lain dan mereka menikah. Takdirnya, suaminya harus bekerja sebagai PNS juga di kota yang cukup jauh dari tempat sang akhwat bekerja. What kind of relationship that is? Menikah tapi dalam keadaan long distance! Apakah tujuan pernikahan akan tercapai? I don’t really know heuheu.. Ia harus menjalani pernikahan jarak jauh sama seperti kontrak saya, 3 tahun. Inilah akibatnya jika menggantungkan kepastian pada ketidakpastian. Paling tidak, itulah yang saya dapat dari kisah penuh pelajaran ini. Dia memilih tempat itu karena ada kekasih yang sudah ia “pastikan” sebagai suami. Namun, ternyata, Allah menakdirkannya menikah dengan ikhwan lain. Kepastian manusia itu amat lemah.
Mengeja Kepastian-Nya
Ahh.. ini jadi mengingatkan saya pada perkataan seorang dosen yang memberi saran, “Kamu cepat-cepatlah menikah. Kalau sudah menikah, kamu bisa mengajukan mutasi ke tempat tinggal suamimu minimal setelah 6 bulan mengajar.” Pernyataannya terlihat mudah, tapi nampaknya prosesnya akan alot. Saya tidak mau menggantungkan kepastian-Nya pada ketidakpastian. Lantas apa yang saya putuskan? Apakah saya memilih kontrak 3 tahun di Unpad yang sudah pasti? Hmm.. ternyata pilihan yang menentramkan buat saya adalah kebebasan memilih. Mengapa? Dulu, saya mengajukan beasiswa sebagai calon dosen yang bersedia ditempatkan di universitas manapun. “Di antara kebebasan itu, tetap ada peluang untuk mengajar di Unpad kan?” Itu yang saya sampaikan kepada ayah. Ketetapan dan kepastian hanya milik Allah. Saya tidak boleh mematung pada satu ketetapan manusia. Allah menakdirkan apapun dengan pertimbangan paling lengkap, tidak hanya berdasarkan kontrak kerja bukan? Pena telah terangkat dan lembara tulisan pada takdir telah mengering, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Allah sebaik-baik pemberi kepastian. Hari ini, ketika saya mengunjungi kantor pascasarjana Unpad, kontrak saya masih tergeletak di atas meja petugas yang diamanahi mengantarkan surat kontrak ke DIKTI. “Surat kontraknya terlambat Neng. Bapaknya sudah ke DIKTI sejak dua hari lalu. Kalau Neng Linda mau mengajukannya ke DIKTI, silakan mengirimkannya langsung, tidak boleh melalui POS,” ujar salah seorang ibu yang ada di ruangan tersebut. Saya lebih memilih melipat kontrak kerja itu dan menyimpannya di arsip surat-surat yang pernah saya perjuangkan saja. Pada apapun keputusan-Nya nanti, semoga membuat saya naik kelas dalam setiap ujian keimanan ini. Menghadapi sebuah pilihan sendirian memang terasa berat. Mengingat target menikah tinggal menghitung bulan heuheu.. Semoga ini putusan yang tidak salah. Semoga ini yang terbaik menurut-Nya. Semoga kelak suami saya ridho menerima di manapun saya ditempatkan. Semoga..
“Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”
may this journal have same meaning with that quote
*edisi curhat dan menggunakan kata “saya” di jurnal. sulit bukan main
**gambar di sini

Tentang Birul Walidain

Setelah menikah, hidup mandiri adalah keinginan setiap pasangan. Lalu biasanya mengunjungi ayah dan ibu adalah sesuatu yang terkadang tidak jadi prioritas. Anggaran menjenguk ayah, ibu, dan mertua sudah terdahului oleh anggaran rumah tangga. Bila tiba waktu melahirkan, baru berani merepotkan mereka. Saat lahir anak pertama, ibu diminta mengajari memandikan bayi sampai beberapa minggu. Saat lahir anak kedua, ibu dititipi anak pertama plus dimintai memandikan anak kedua. Begitu seterusnya. Jika ada kesalahan pada anak yang dititipkan, kita berujar “Mama siy si kakak dikasih minum es, padahal dia kan sensitif, gampang batuk!” Aaah.. yang namanya anak, di mana-mana kerjanya hanya merepotkan. Setelah direpotkan dengan titipi cucu, ibu disalahkan.

Menghormatinya sebagai orang tua, itulah yang harus kita camkan. Walaupun kita sibuk dan pusing dengan anak-anak yang “nakal” *padahal tidak ada anak nakal di dunia ini. Kita harus tetap bisa menjaga perasaan ibu yang semakin tua akan semakin sensitif. Selain itu, kepada mertua, kadang pandangan negatif sering muncul. Padahal sebenarnya mertua posisinya sama dengan orang tua kita. Penghormatan dan kecintaan kita harus sama seperti kepada orang tua kandung.

Tentang birulwalidain ini, bukan hanya perlu dilihat dari kacamata anak yang memang harus diperbaiki, suatu saat kita, aku, kamu, akan menjadi seorang kakek atau nenek. Pola asuh kita kepada anak akan berefek pada kita saat menjadi nenek dan kakek. Boleh jadi, mereka demikian karena saat kecil logika benar-salah telah kita tanamkan. Mendidik anak adalah berinvestasi untuk kehidupan kita di masa tua. Bila kita mendidiknya dengan benar di masa kecil, kebahagiaan akan kita tuai di masa tua.

*part of Samudera Rumah Tangga. Saran Mas Iwan ^^

Tentang Bekal Sosial

Apa gunanya sholeh individu jika kita tidak sholeh sosial? Ini yang mungkin harus dipelajari olehku dengan amat sangat. Ilmu agama yang dimiliki seseorang belum tentu ada manfaatnya untuk orang lain jika ia tidak memiliki kecerdasan sosial. Orang yang menjadi panutan di sebuah komunitas atau jamaah tidak akan menjadi panutan di lingkungan sekitarnya jika ia hanya bergaul dengan komunitasnya. Apalagai jika komunitas itu memang benar-benar melarang kita untuk mengikuti pengajian-pengajian yang katanya “bid’ah.” Sempit sekali rasanya dunia ini. Bukankah muslim yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Tidak perlu banyak uang, tapi dapat membuka akses orang lain untuk menjadi kaya. Tidak perlu banyak ilmu, tapi dapat menjadi pembuka akses yang membuat orang lain lebih banyak ilmu. Kaya dan berilmu lalu bermanfaat untuk tetangga dan masyarakat sekitar tentu lebih utama.

Eksklusivitas aktivis kampus biasanya yang membuat aktivis sulit bergaul dengan masyarakat. Apalagi untuk aktivis yang biasa mengurusi isu-isu politik nasional, mana bisa ia aktif di masyarakat. Kecuali jika di sela aktivitasnya, ia pernah mengajar TPA. Mereka sudah terbiasa menghadapi wali-wali murid TPA mereka. Bekal sosial ini memang perlu modal “nekad.” Bagi yang memang benar-benar jarang bergaul dengan masyarakat, harus berani nekad bergaul. Setelah berumah tangga, sang ibu muda akan menjadi peserta arisan RT dan sang ayah akan menghadiri rapat kepala keluarga. Semua posisi itu tidak dapat di wakilkan. Di rumah hanya ada kita sebagai istri dan kita sebagai suami.

Bila sosialisasi kita baik terhadap tetangga dan lingkungan, mereka pun takakan segang membantu kita saat dibutuhkan. Bukankah saat kita sakit, bahkan meninggal, yang akan pertama kali menemukan jenazah kita adalah tetangga? Bukankah saat kehabisan garam di dapur, yang pertama kali kita ketuk pintunya adalah tetangga? Bukankah ketika masakan kita gosong yang pertama kali dapat mencegah rumah kita dari kebakaran adalah tetangga? Itulah mengapa orang yang memuliakan tetangga mendapat jaminan surga. Bagian ini perlu dipelajari waktu demi waktu, takhabis-habisnya.

*part of Samudera Rumah Tangga. Saran dari Mas Iwan ^^

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript