Lelaki Musim Semi

image

: Sukab

percik cemburu takmampu menghancurkan kebatuan
setiamu pada ingatan
rinduku redup di kelam matamu yang menggugurkan
kepahitan dari petirahan kenangan

sejuk rayuan mengelabukan terik risau
pada katamu yang kemarau
aku ranting kering, terhempas
sebab kedukaan sekerat senja takmau lepas

biarpun beku di masa lalu
kau musim semi di nuraniku
subuhmu hangat mentari yang menyemai doa-doa
tentang kita

Aku dan Kamu

Yang Selalu Rindu

Maneka

Balasan untuk Sukab dalam #DuetPuisi

Advertisements

Pada Suatu Hari Nanti #SDD

alone

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari

Sapardi Djoko Damono

Gadis Kecil #SDD

ada gadis kecil, diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang ada pohon dan seekor burung

Sapardi Djoko Damono

gambar dari sini

#1 Rindu

Aku punya banyak rindu
Tapi dia sudah takberbentuk
Babak belur ketika memasuki gerbang hatimu
Ia tergilas oleh ribuan rindu yang berlari melawan arahnya
Entah pergi ke mana rindumu itu
Yang kutahu dia menuju satu titik bertuliskan masa lalu

041011 -in memorial

Proposal Tesis S2 Penciptaan

 

Buat kamu-kamu yang asing dengan dunia seni dan budaya, pasti kaget dengan postingku ini. Tesis biasanya sebuah karya ilmiah tebal yang dipertanggungjawabkan dalam sidang magister. Kalau yang jurusannya MIPA or sejenisnya, tesis juga bisa berupa produk inovasi.  Nggak jauh beda dengan itu, beberapa waktu lalu aku menyimak kakak kelas S2 yang kuliah di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung yang lagi seminar proposal tesis mereka. Bagaimana calon tesis mereka? Ini dia:

Sebelum masuk ruangan kita dikasih stiker ini. Isinya menggambarkan apa yang akan kami saksikan. Sebenernya ada banyak pertunjukan, tapi kerana aku telat jadi yang terdokumentasi hanya sedikit.

Drama dengan judul Massa Mengambang

Drama ini mengangkat kondisi politik saat masa kampanye dalam PEMILU di negara kita. Massa mengambang adalah sekelompok masyarakat yang belum punya putusan pilihan sebelum PEMILU. Biasanya calon yang menjadi peserta PEMILU memanfaatkan suara dari massa mengambang ini dengan bagi-bagi uang. Nah, orang-orang yang ada di bawah ini adalah oknum partai yang bertugas membagi-bagi uang untuk membeli suara. Lucunya mereka tidak hanya membagi uang dari partai biru tapi juga dari partai merah.

Sutradara Massa Mengambang:

Musik : Boboko

Boboko ini bener-bener pentas yang i have no idea about that. Ide dasarnya adalah boboko, tempat makan yang berasal dari sebilah bambu. Bambu kan punya ruang di tengahnya, sama seperti kerongkongan kita. Nah, ternyata bambu itu dibuat menjadi boboka (tempat nasi) dalam bahasa sunda. Nasi yang kita makan juga melalui kerongkongan bukan? Musisi ini akhirnya terinspirasi untuk membuat musik yang vokalisnya menggunakan kerongkongan, musik underground. Pokoknya bunyinya nggak jauh dari orang yang teriak-teriak deh. Karena penampilannya serba hitam, aku nggak bisa ngambil gambarnya. Dalam pentas ini ada dupa sebagai penanda kematian dan kemagisan boboko. Secara, sekarang boboko sudah hilang fungsinya. Magicom sudah mengganti fungsi boboko. Musik ini jadi terasa agak bisa dinikmati karena diiringi piano. sayangnya aku gak bisa dapet gambarnya karena gelap.

Komposer:

Drama Musikal: Aku Ingin

Penampilan ketiga adalah drama musikal Aku ingin. Drama ini terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul sama dengan judul drama ini. Ceritanya klasik soal percintaan anak SMU yang mulai masuk kuliah. Drama ini digabung dengan video. Jadi gimana ya jelasinnya,,, hmmm.. ketika kita nonton drama, latar suasana di belakangnya berupa video shooting. Selain nonton drama, kita juga nonton rekaman video anak-anak itu sebagai citra visual juga sebaga latar suasana. Ini inovasi latar. Misalnya, orang yang di depan stage lagi akting ngelamun, nah,,,, di layar akan terlihat citra visual yang sedang ia lamunkan. begitu sederhananya..

Di akhir para aktor musikalisasi puisi Aku Ingin:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

sutradara:

The end

Setelah aku nonton tiga proposal itu, entah kenapa terbersit sebuah puisi #halah.. Aku tulis di secarik tisyu yang udah GJ. Daaaaan puisi ini jadi mantra paling mujarab buat temenku yang baru-baru ini menikah. Ahaha!

 

 

 

 

Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta

Kau takan mengerti lukaku
Karena cinta telah sembunyikan pisaunya
Bayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun dalam darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti, aku tungku tanpa api

WS. Rendra

gambar dari sini

Hatiku Selembar Daun

hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput
nanti dulu
biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi
sebelum kau sapu tamanmu
setiap pagi
[sapardi djoko damono]
*gambar dari sini
** musikalisasinya di sini

Ketidaksederhanaan dalam Aku Ingin (SDD)

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang taksempat
diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang taksempat
Diucapkan awan kepada hujan
Yang menjadikannyanya tiada
(Sapardi Djoko Damono)
Puisi ini saya temukan saat duduk di bangku SMP, pada masa pencarian yang penuh pertanyaan tentang cinta itu apa. Waktu itu, puisi ini ada pada kutipan-kutipan majalah remaja edisi Februari yang celakanya diakhiri dengan kata “anoname” di belakangnya. Namun, sampai dipertemukan dengan nama Sapardi Djoko Damono, saya ingat betul, inilah puisi yang saya kutip waktu itu. Larik-larik sederhana ini saya gunting dan saya tempel di depan pintu kamar. Ah.. ternyata sense ketertarikan saya terhadap sastra sudah ada sejak dulu.
Yang hendak saya bicarakan bukan itu. Saya ingin berbicara tentang kebertemuan, tentang keberpapasan, tentang akhir dari sebuah pertanyaan bodoh saya sebagai seorang penikmat sastra. Saya ingin menceritakan tentang akhir perjalanan saya menelusuri kata demi kata dalam puisi ini. Mungkin ini bukan akhir, karena tidak ada kata akhir dalam pemaknaan terhadap sebuah karya sastra. Ini adalah awal pencerahan yang saya alami dalam memaknai puisi ini. Mungkin –bahkan saya yakin- saya termasuk orang yang amat sangat terlambat dan leeemot dalam memaknai puisi ini. Mbah –eh, Prof- Damono, maafkan saya..
Hari ini saya mendapat mata kuliah Industri Seni dari Acep Iwan Saidi (AIS), seorang seniman dan dosen tamu di Kajian Budaya Unpad. Kami membahas kreavitas dalam berseni, sastra termasuk di dalamnya. Dalam proses kreatif atau penciptaan karya sastra, terdapat proses empati atau penghilangan jarak antara pencipta, media, dan karya yang diciptakan. Puisi adalah sebuah karya sastra dan bahasa sebagai medianya. Pada saat seorang penyair menciptakan puisi, ia akan menghilangkan jarak antara dirinya dengan bahasa. Ia juga akan menghapus jarak antara dirinya dengan sesuatu yang sedang ia sampaikan. Bersajak berarti sedang bermetafora. Menurut Acep Iwan Saidi, “Ilmu tentang metafora adalah ilmu tentang ketahupersisan seseorang tentang apa yang sedang ia metaforkan.” Orang yang suka berpuisi, pasti tahu persis dan mengalami hal ini. Yang harus dihindari dalam berpuisi atau berkarya sastra adalah menciptakan metafora mati. “Hindari metafora mati!” kata AIS. Setiap penyair harus mampu membuat metafora-metafora hidup tentang sesuatu yang ia sampaikan agar pembacanya dapat menafsirkan apa yang ia sampaikan dengan bebas. Inilah yang dilakukan Damono dalam puisi Aku Ingin. Ia menyampaikan ketidaksederhanaan cinta dalam kesederhanaan.
Tentang Ketaksederhanaan
//aku ingin mencintaimu dengan sederhana// larik ini menggambarkan ungkapan cinta seseorang terhadap yang dicintainya. Kecintaan inipun tidak hanya bisa kita terjemahkan sebagai kecintaan terhadap seseorang, tapi juga sebagai kecintaan terhadap sesuatu. Dalam larik ini aku-syair sedang mencerminkan konsep kesederhanaan cinta yang ada di benaknya. “Ini lho kesederhanaan cinta menurutku!” singkatnya begitu. Cinta yang sederhana diungkapkan oleh penyair // dengan kata yang taksempat/ diucapkan kayu kepada api/ yang menjadikannya abu//. Mari kita maknai, apakah proses perubahan kayu menjadi abu adalah sesuatu yang sederhana? Mahasiswa fisika pasti genap tahu kerumitan dan detail proses tersebut. Dari sebuah kayu utuh, terbakar, menjadi bara, lalu setelah beberapa lama ia akan berubah menjadi abu. Tidak jarang ada kayu yang berdiam sebagai bara atau arang di akhirnya. Namun, pada puisi ini, kayu tersebut sempurna berubah menjadi abu. Kualitas api yang mengubah kayu menjadi arang, dan mengubah kayu menjadi abu tentu berbeda bukan? Api yang ngubah kayu menjadi abu tentu lebih kuat daripada api yang hanya mengubahnya menjadi bara. Api yang mengubah kayu menjadi abu bekerja sempurna sampai selesai. Ia tidak padam di pertengahan. Pembakaran yang dilakukannya sempurna. Api telah mengubah kayu dengan sempurna menjadi abu.
Ungkapan terima kasih yang dalam, inilah mungkin yang dimaksud dengan cinta sederhana oleh penyair. Kayu taksempat mengatakan terima kasih kepada api atas perubahan sempurna yang dialaminya. Ketaksempatan ini juga menggambarkan betapa besar api yang membakar kayu tersebut sehingga proses pembakarannya pun amat cepat dan sempurna. Kecepatan perubahan ini menggambarkan betapa besar motivasi kita untuk berubah. Motivasi besar yang menggerakkan seseorang pada perubahan itulah yang bisa kita namai cinta. Mencintai berarti berterimakasih kepada seseorang yang telah mengubahmu menjadi lebih baik, berada dalam kebaikan sempurna dengan cepat. Berubah dari kayu menjadi api tentu bukan sesuatu yang sederhana. Berubah dari acak-acakan menjadi rapi jali tentu bukan hal yang sederhana. Berubah dari jarang mandi menjadi rajin mandi tentu bukan sesuatu yang sederhana. Namun, perubahan ini dapat terjadi dengan kekuatan cinta yang besar bukan?
Lantas kekuatan cinta yang besar akankah dibalas dengan cinta yang sederhana? O, tentu tidak! Penyair sedang memperlihatkan sederhana versinya. Kesederhanaan cinta menurut penyair adalah ungkapan cinta atas cinta yang membara api. Sunggu ini bukan cinta lemah. Ia cinta yang membara kuat dalam hati dan melahirkan perubahan dan perbuatan.
//aku ingin mencintaimu dengan sederhana// larik ini menggambarkan kesahajaan penyair di hadapan yang dicintainya. Ia tidak mengemas sesuatu yang dalam dengan kerumitan. Ia membungkus detai dengan kesederhanaan. Ia menyampaikan gebu dengan ketenangan. Inilah sikap yang ia pilih di hadapan yang dicintainya. Penyair mengungkapkan cinta //Dengan isyarat yang taksempat/ Diucapkan awan kepada hujan/ Yang menjadikannyanya tiada// Lagi-lagi penyair sedang menggambarkan kesederhanaan dalam versinya. Adakah sederhana perubahan awan menjadi tiada? Dari ada menjadi tiada.
Kembali penyair sedang memperlihatkan kesederhanaan atas kerumitan. Awan yang berubah menjadi hujan dan menghilang apakah mengalami proses yang sederhana? Apakah awan benar-benar tiada? Atau apakah dia sebenarnya pergi bersama hujan lalu tiada? Berubah dari air menjadi awan, menjadi hujan, dan menjadi tiada adalah perjalanan. Jika ingin mengetahui detailnya dapat dibaca di sini. Dalam perjalanan panjang itu ada rintangan yang dialami air. Saya kutipkan sebagian statment dari artikel
tersebut,
“Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.”
Hujan perlu mengalami panjang untuk mencapai tanah. Sebagiannya mengalami perjalanan panjang untuk kembali menjadi awan. It’s not a simple thing! Awan bukan tiada, tapi ia bersama hujan beranjak dari langit ke bumi. Siapa yang tidak bahagia dibersamai? Ungkapan cinta yang kedua adalah ungkapan terima kasih atas kebersamaan. Kebersamaan yang dijalani dengan tidak tanpa hambatan. Ungkapan cinta yang digambarkan sebagai ungkapan terima kasih atas kebersamaan tentu tidak sederhana bukan? Ia besar, lengkap, dan sempurna. Inilah cinta sederhana yang dimaksud oleh Sapardi Djoko Damono. Inilah cinta sederhana yang amat tidak sederhana. Damono meminjam kata dan isyarat yang akan diungkapkan kayu dan awan atas ketidaksederhanaan peristiwa yang mereka alami. Damono meminjam ungkapan -mungkin- terima kasih atas cinta yang membara dan kebersamaan yang sempurna untuk mengungkapkan kesederhanaan cintanya.
Saya jadi berpikir tentang cinta saya, apakah sebesar itu? Apakah cintaku memang benar-benar sederhana dalam arti yang sebenarnya? Ah.. semoga tidak.
*ini hanya pembacaan saya, silakan memaknai dengan cara berbeda.
**gambar di sini
Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript