Menuju Pertanyaan Prioritas

islam-di-indonesia

peta persebaran Islam di Indonesia

Baiklah, setelah lama membiarkan blog ini takberguna, akhirnya saya harus kembali menulis. Paling tidak, beberapa tulisan dapat menjadi bukti bahwa ruang tunggu sunyi ini bisa menjadi tempat untuk menemukan-Nya.

Pada awalnya…

Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas muslim. Mayoritas muslim di Indonesia menjadi muslim karena orangtuanya muslim. Berdasarkan pengalaman saya, sebelum teknologi informasi datang ke Indonesia, pengetahuan agama didapat dari ulama-ulama pesantren tradisional. Sebagai anak yang dekat dengan lingkungan Nahdatul Ulama, bagi saya, Islam adalah berbagai hal yang tergambar dalam kitab-kitab kuning dan tafsir Jalalain. Pendidikan Islam tradisional mengajarkan bahwa Islam adalah hukum halal-haram, ritual keagamaan, perbedaan fiqh. Penguasaan bahasa Arab –menghafal kitab Alfiyah misalnya- dilakukan untuk membaca dan menjelaskan kembali kitab-kitab kuning dan beberapa tafsir klasik. Mempelajari Islam lebih dalam berarti mempertajam pengetahuan tentang sufisme. Orang-orang yang sudah menguasai bahasa Arab biasanya berpindah mempelajari syair-syarir sufi yang direpresentasikan sebagai cara untuk mendekati Allah SWT. Pola pendidikan tersebut saya dapatkan  di pesantren.

Hal itu memang kontras dengan pendidikan yang saya dapat di Rohis –pascareformasi tentunya. Islam yang saya pelajari di Rohis bukan lagi lingkaran pengetahuan yang personal dan bersifat teoretis. Islam tidak lagi sebagai aturan hitam-putih yang hanya berbicara halal, haram, bid’ah dalam ibadah. Kesempurnaan Islam mulai terlihat terlihat di mata saya. Sebagai sebuah jalan hidup yang dianut umat manusia, Islam meliputi segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Apalagi ketika Tarbiyah memperkenalkan muslim sebagai sebuah ummah. Tarbiyah memperkenalkan Palestina, Suriyah, Turki, Mekah, Madinah, dan tempat-tempat yang antah berantah bagi saya sebelumnya. Sebelumnya saya tidak pernah tahu Al Aqsa eksis di muka bumi ini. Tarbiyah membuka pengetahuan saya tentang dua kalimat syahatah sebagai sumber ikatan persaudaraan yang lebih kental dari darah. Islam sempurna tidak hanya sebagai jalan hidup tapi juga sebagai sebuah entitas.

Kemudian dua pola pendidikan ini menguat di Indonesia sampai saat ini. Pascareformasi, entitas muslim mulai mengambil langkah politik dengan Islam sebagai identitas. Sebenarnya hal ini wajar terjadi karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Namun, publik membuatnya tidak wajar karena prareformasi muslim dengan keislamanya dikerdilkan di pesantren-pesantren. Sufisme sebagai religiusitas tertinggi ala pesantren membuat citra muslim ideal adalah mereka yang salih pribadi dan jauh dari keramaian dunia. Menghadapi dunia dengan identitas Islam dianggap menodai kesakralan Islam sebagai sebuah agama. Berpolitik dianggap menjual agama demi kekuasaan.

Pada periode selanjutnya gerakan Islam mulai berkembang. Orang-orang dari gerakan muslim di Indonesia mulai sadar bahwa salah satu hal yang dapat menguatkan muslim sebagai ummat adalah ekonomi. Para ustadz mulai sadar bahwa dakwah Islam perlu ditopang dengan dana memadai. Menjadi kaya untuk menopang dakwah adalah sesuatu yang tidak diharamkan dalam Islam. Kemudian lagi-lagi budaya pesantren membentur gerakan ekonomi ini. Ulama yang memiliki harta berlebih dinilai tidak zuhud. Zuhud yang diajarkan sufisme lagi-lagi membuat pelaku dakwah ekonomi menjadi antagonis. Bank syariah, koperasi syariah, asuransi syariah dan berbagai lembaga yang berkaitan dengan syariah dicitrakan sebagai akal-akalan lembaga konvensional untuk menambah nasabah.

Kemudian…

Setelah Indonesia dilanda era media Informasi, muslim –terutama remaja- kebanjiran informasi. Muslim yang mendapatkan pola didik di pesantren kini menjadi orangtua. Sebagian dari mereka tetap berislam dengan pengetahuan pesantren tradisionalnya, sebagian mendapatkan pengetahuan baru dari gerakan-gerakan Islam yang menyentuh realitas. Diterima atau tidak, orangtua yang tetap hidup dengan pengetahuan dasarnya hanya akan sibuk dengan pertikaian sektarian antara kebijakan NU, Muhammadiyah, Persis, dll. Mereka hanya akan sibuk dengan perdebatan qunut dalam salat, hilal Idul Fitri, dan berbagai hal cabang dalam Islam. Orangtua muslim yang meluaskan pengetahuannya melalui gerakan Islam akan terbagi dua golongan: pertama, mereka menerima kesempurnaan Islam sebagai sebuah pengetahuan –sama seperti ketika mereka belajar Islam di pesantren. Kedua, mereka menerima kesempurnaan Islam sebagai sesuatu yang dapat direalisasikan dalam hidup.

Pada saat yang sama, para remaja (anak-anak dari orangtua yang mendapatkan pendidikan Islam seperti saya) menjadi bagian dari masyarakat global melalui internet. Jendela dunia (ponsel pintar) sudah ada di genggaman tangan mereka. Di satu sisi mereka mendapat berbagai pengaruh dunia luar seperti sinetron, musik, drama Korea, KPop, film Hollywood, dsb. yang jauh dari nilai-nilai Islam. Di sisi lain mereka mendapatkan informasi simpang siur tentang Islam yang mereka anut sejak lahir. Sejak internet sampai ke Indonesia, islamophobi bukan lagi sesuatu yang terjadi di barat. Media-media di Indonesia meramunya dan membuat muslim menjadi komunitas antagonis. Perdebatan tentang muslim yang berpolitik dan terjun ke dunia ekonomi menjadi topik yang dikapitalisasi.

Selanjutnya…

Perdebatan antarumat muslim tidak menutup kemungkinan pada satu waktu akan dipertanyakan kepada para remaja yang kebanjiran informasi ini. Lebaran tahun ini kamu ikutan NU atau Muhammadiyah? Kenapa kamu qunut dia nggak qunut? Kenapa di masjid ini tarawihnya 11 rakaat di masjid itu 23 rakaat? Kemudian pertanyaan akan semakin melebar, Indonesia kan negara Pancasila, kenapa sih ada partai politik Islam yang pakek asas Islam? Beneran gak sih bank syariah itu menerapkan sistem syariah? Kok ada ya ustadz yang ke mana-mana pakek mobil mewah? Kamu lihat video pembunuhan oleh ISIS gak? Islam ngajarin membunuh ya? Kemudian pertanyaan itu akan membuat remaja muslim tidak nyaman dengan keislamannya. Remaja yang tidak mengetahui jawabannya akan berkata, “bukan urusan gue.” Remaja yang mulai belajar Islam akan menanyakan jawabannya kepada guru ngajinya sambil feel bad dengan keislamannya. Mereka akan mencari jawaban bukan untuk menambah keimanan tapi untuk melakukan perdebatan. Pertanyaan-pertanyaan cabang ini akan membuat mereka abai dengan pertanyaan utama: Untuk apa saya diciptakan? Apa yang harus saya capai dalam hidup? Ke mana tujuan akhir hidup saya? mengapa saya saya muslim? Mengapa saya menyembah Allah SWT? Benarkah akhirat itu ada? Apakah surga dan neraka itu ada?

Kejadian ini pernah dialami oleh Yahudi dan Nasrani pada zaman dulu. Al Quran mengabadikannya dalam QS As-Syura: 14.

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka  ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pasti hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh orang-orang yang mewarisi kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad SAW) benar-benar berada dalam keraguan mendalam tentang kitab (Al Quran) itu.”

Perdebatan para ahli kitab membuat generasi yang mewarisi kitab setelah mereka pada ratusan tahun kemudian ragu terhadap Al Quran –sebagai wahyu terakhir yang menyempurnakan kitab sebelumnya-. Generasi selanjutnya tidak akan mau bertanya kepada para pemuka agama yang berdebat. Kemudia mereka kehilangan kepercayaan terhadap Taurat dan Injil. Generasi yang mewarisi mereka –ratusan tahun kemudian- tidak percaya bahwa dalam Injil terdapat pesan tentang kehadiran nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Kemudian sebagian besar dari mereka meragukan kebenaran Al Quran yang dibawah oleh Rasulullah SAW.

Apa yang akan terjadi pada generasi muslim Indonesia mendatang? Jika para orangtua sibuk dengan pertanyaan cabang dan dilemahkan keimanannya oleh pertanyaan-pertanyaan absurd yang megantagoniskan Islam dan muslim, siap-siap saja generasi kita ratusan tahun mendatang akan mengalami keraguan yang sama. Pada awalnya mungkin mereka hanya meninggalkan Al Quran. Generasi selanjutnya akan menganggap ibadah sebagai sesuatu yang tidak penting. Generasi selanjutnya mungkin akan menganggap agama sebagai sesuatu yang bukan prioritas. Generasi selanjutnya akan menganggap semua ajaran agama sama. Generasi selanjutnya akan menikah dengan agama lain. Generasi selanjutnya akan hidup dalam keluarga yang berbeda agama. Generasi selanjutnya sudah tidak ada lagi muslim. Naudzubillahimindzalik.

Sebelum hal buruk ini terjadi pada generasi kita mendatang, tidak salah bila kita kembali menguatkan keimanan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan prioritas. Status kita sebagai masyarakat dunia global saat ini membuat kita tidak selamat dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat ragu/tidak percaya diri/merasa buruk/merasa bersalah dengan keimanan dan keislaman kita. Menjadi muslim di era teknologi informasi berarti menjadi muslim yang menguatkan syahadah terus-menerus. Tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan prioritas. Sebelum ajal menjemput, masih ada kesempatan untuk mempelajari Islam sebagai agama yang haq dari Allah SWT dan menjadi muslim yang paham bukan hanya muslim yang memeluk Islam karena keturunan.[]

Bersambung insyaAllah…

*gambar dari sini

Bahagia Walaupun Ditakdirkan Berbeda

Al Quran edited

Bergabung di Pesantren Tinggi Quran Maqdis merupakan hal baru buat saya. Takpernah terbayangkan sebelumnya bisa berkumpul bersama orang-orang yang tinggi semangatnya dalam bersahabat dengan Al Quran. Setelah setahun lebih tinggal di pondok dengan tangan kosong (baca: nggak punya hafalan dan tajwid yang acak-acakan) Alhamdulillah saya mulai punya hafalan Al Quran, walaupun mungkin jumlahnya jauh lebih sedikit dari orang-orang yang menghafal pribadi di rumah.

Mengalahkan Diri Sendiri

Dengan jumlah hafalan yang amat sangat minim ini, saya tidak pernah mengecilkan diri atau ciut, walaupun ada teman yang berkata ketika saya menghafal juz 29, “Si Fulan udah hafal juz 29 dalam 1 bulan. Padahal dia kerja dari pagi sampai sore.” It’s not my bussines kata saya dalam hati. Yang menjadi urusan saya adalah kondisi diri dan hafalan saya sendiri, bukan kondisi orang lain. Memotivasi? Ya, boleh saya, walaupun saya paling tidak mempan dimotivasi dengan cara dibandingkan dengan orang lain. Well soal hafalan Al Quran, itu sifatnya amat pribadi buat saya.

Menghafal Al Quran itu mengalahkan diri sendiri bukan mengalahkan orang lain dalam hal jumlah hafalan. Menghafal Al Quran itu berjuang mengalahkan nafsu diri agar tidak bermaksiyat kepada Allah Swt. Al Quran itu kalamullah, ia bukan bacaan sembarangan. Ada ikatan dan kriteria ruhiyah untuk bisa mendekatinya. Al Quran tidak bisa dibohongi. Orang yang lalai sudah pasti tertolak oleh Al Quran. Jangankan untuk menghafalnya, menyentuhnya pun pasti enggan. Kondisi-kondisi buruk ini mungkin dialami oleh siapapun termasuk saya yang berada di pondok tahfidz. Saya mungkin lebih mudah mengembalikan semangat karena dikelilingi oleh penghafal Al Quran. Ahh.. Allah Maha Tahu kondisi saya, Ia sampai mendamparkan saya di tempat ini agar bisa beringsut naik menuju derajat sebagai keluarga-Nya.

Menghafal Sesuai Kemampuan

Di pondok ini, setiap santri harus menyetorkan hafalan 1 halaman. Rasanya dapat dihitung jari kemampuan saya menyetorkan hafalan sebanyak itu. Saya baru bisa menyetorkan hafalan 1/2 halaman perhari, itupun dengan terbata dan pasti ada koreksi. Kadang ada huruf yang tertukar, harokah yang salah, atau maad yang belum dibaca panjang. Walhasil, esoknya saya harus mengulang hafalan hari ini plus menambah 1/2 halaman. Begitu seterusnya. Di akhir surat, saya menyetorkan seluruh hafalan, lengkap 1 surat. Rasanya amazing ketika mampu menyetorkan hafalan surat 3 halaman secara lengkap. Mengapa? Karena saya tergopoh sebelumnya. Perjuangan sederhana mengumpulkan ayat demi ayat yang membuat hati ini bahagia menyetorkan hafalan. Photo-0036

Beberapa hari lalu saya merajuk kepada ustadzah, “kenapa saya ini, kok diulang terus. Ada aja yang kelewat.” Ustadzah hanya berkomentar, “Justru bagus, semakin banyak pengulangan, bacaanmu akan semakin halus.” Tidak jarang ustadzah menandai lubang-lubang kecil yang menjadi tempat saya keliru membaca. “Jangan sampai berkali-kali diulang hanya karena terperosok di lubang yang sama!” ujarnya. Saya terkadang iri melihat teman yang setiap hari menyetorkan 1 halaman hanya bermodal menghafal sejak sebelum subuh. Di luar itu, dia bebas beraktivitas. Itu adalah kebaikan besar dari Allah memang. Namun, rekan saya ini juga mengakui, semakin cepat hafal semakin cepat juga lupa.

Keistimewaan Al Quran itu terbukti dengan lahirnya ratusan buku motivasi untuk menjadi pecinta Al Quran. Membacanya saya perlu dihadirkan buku motivasi. Pernahkan Anda menemukan buku motivasi untuk menjadi sahabat Injil atau sahabat Weda, Tripitaka? Nampaknya tidak ada. Pantaslah jika menghafal Al Quran perlu kemauan keras. Inti dari menghafal Al Quran adalah pengulangan terus-menerus.

“Kebahagiaan menjadi penghafal Al Quran adalah interaksi yang intens dengan kalamullah, interaksi yang intens dengan Allah.”

kalimat inilah yang selalu saya pegang ketika malas atau kecewa karena terlalu sering mengulang setoran hafalan. Mana mungkin bisa hafal jika membacapun tidak. Mana mungkin bisa membaca jika memantaskan diri untuk bisa membaca Al Quran pun tidak.

Rapikan Urusanmu!

Kata ustadzah, “Kalau urusan pribadi belum rapi, pasti hafalan pun tak akan rapi.”

Jleb banget mendengar pernyataan ini. Kalau baju dilemari belum rapi, cucian masih menumpuk, kamar masih berantakaan, amanah remeh-temeh belum bisa terselesaikan, lihatlah hafalan Al Quranmu, pasti acak-acakan juga. Apalagi kalau hati masih remuk-redam, acak-acakan karena perasaan yang tidak hak ada di dalamnya, jangan berharap Al Quran mau mendekat. Semuanya sebanding, karena yang sedang dihafalkan adalah perkataan Allah, Pencipta kita. Maka semua urusan harus rapi terselesaikan demi Al Quran.

Orang yang bisa setor hafalan tiap pagi, pasti orang-orang yang rapi dalam mengatur jadwal kegiatannya tiap hari. Soal ini, aku menyaksikan sendiri ada seorang teman yang setiap jam punya jadwal yang akurat. Setiap hari hafalannya bertambah.

Alakullihal..

Wahai diri, saya tidak pernah kecewa pada kemampuanmu yang baru bisa mengumpulkan hafalan dalam jumlah yang sedikit. Tetaplah bersemangat mengalahkan dirimu sediri. Hayo beringsut, rapikan satu demi satu urusanmu! Pasti hafalanmu bertambah! Yakinlah! Pokoknya never ending memorizing Al Quran! Semoga tidak diwafatkan sebelum hafal 30 juz. Aamiin.

foto dari sini

Surat Untuk Adik Kecilku

Bergerak jemarinya di atas agenda kecilnya, menggambarkan suasana hati yang sedang tak mampu mengadu pada siapapun yang mengacu pada waktu.

“…waktu itu makhluk yang tak pernah diam
Alam semesta juga tak pernah diam
Angin pun selalu berhembus, tak pernah diam
Masihkah manusia malas-malasan dan tetap diam
Malam dan siang selalu hadir disiplin setiap hari
Tata surya sangat disiplin mengelilingi matahari
Planet buni bergerak disiplin dalam rotasi
Nafas dan denyut jantung berdisiplin sebelum mati….”

Afifah berhenti sejenak dalam sajaknya. Mengingat sosok yang ia kagumi sejak dulu.  Sosok yang memotivasi dan memperkenalkan ia dengan keindahan kalam-Nya. Sosok yang kini hanya menjadi bayang-bayang motivatornya. Di bukanya kertas putih bergaris folio.

“…adikku, pernahkah anda berdialog dengan Allah? Tuhan kita secara langsung tanpa hijab? Tentu tidak ada yang pernah merasakannya dan mustahil kecuali Nabi Musa yang beruntung berbicara dan bisa melihat cahaya-Nya. Benar! Ia hanya diizinkan menatap nur-Nya di Gunung Tursina. Allah menampakkan cahaya-Nya supaya bisa berdialog dengan makhluk-Nya. Siapa yang tidak ingin berdialog dengan Allah, curhat kepada Tuhan yang Maha menciptakan kita. Curhat pada raja diraja alam semesta. Allah Maha Kuasa. Maha Sempurna. Maha Lembut. Maha Bijaksana. Maha yang semaha-mahanya. Kita hamba yang dhoif dan hina lalu ingin curhat kepadaNya. Wah, alangkah mulianya, suatu kehormatan yang tiada terkira.

Adikku, curahan hati adalah pelepas rasa. Pelepas beban dari segala tekanan dan himpitan hidup. Lalu kita lepaskan beban dan rasa itu kepada Allah. Mencurahkan hati itu kepada Alah sepenuh harap, kepatuhan, sampai kehampaan dosa. Tapi bagaiman caranya, kapan waktunya, kondisinya seperti apa, mengapa harus curhat kepada-Nya dan apa hasil curhatnya? Bukankah cahaya-Nya tidak terlihat mata, cahaya-Nya tidak terindera, tidak nampak, terbiaskan oleh ruang dan masa? Yang ada sekarang hanya cahaya –cahaya tua seusia dunia, yang makin meredup. Cahaya matahari pun semakin kehabisan energinya. Cahaya bintang banyak yang hilang. Lalu planet-planet berpamitan. Cahaya cakrawala mulai mengerut. Dan akhirnya menyempit kembali ke titik semula. Alangkah malangnya dunia yang kecil dan sementara. Masihkan mau curhat kepadanya dan memburu bangkainya? Alangkah tertipunya manusia yang rindu pada dunia.

Adikku, mari kita mencari cahaya Allah yang abadi itu. Menerobos celah-celah kegelapan lalu menembus sisa warisan cahaya Allah yang masih tersimpan di bumi ini. Lalu kita bisa menatapnya, merasakannya. Memahami pancarannya. Yang lebih terang dari cahaya siang. Petunjuknya lebih lurus dari mistar. Kasih sayangnya lebih halus dari belaian kain sutera. Ungkapannya berbahasa indah. Puitis. Sentuhan tema bervariasi. Kisahnya sangat rekreatif. Ilmunya mengajak untuk berwisatadan berimajinatif.

Tahukah, apakah cahaya itu wahai saudaraku?

Cahaya itu adalah kalam-Nya, firman-Nya. Dialah yang disebut Allah bernama Al Quran. ‘Bacaan’. Nurnya masih hadir di dunia kini, yang banyak cahaya lampu listrik tapi gelap petunjuknya. Ayo marilah kita berdialog dengannya, kepada yang merindukan menatap wajah Allah sejelas purnama bulan yang bukan hanya cahayanya di surga kelak. Mari kita curahkan segala isi hati kita pada Al Quran. Ungkapkan perasaan terdalam kita kepada Al Quran. Membuka belenggu kecemasan. Gelisah jiwa dengan curhat kepada Al Quran menjadi tenang. Akhirnya bergembira ria. Perjuangan pun terasa.

Tentu harus berkenalan dulu dengannya. Dengan perkenalan yang akrab dan sempurna. Pelajari nama-namanya yang indah. Fadhilah yang besar. Syafaatnya yang tinggi. Kisah-kisah rahasianya yang menguak masa lalu dan menembus masa depan. Bersahabatlah dengannya! Untuk kita kenali karakternya, tabiat kepribadiannya, sifat buruk manusia, perintah dan larangannya. Berteman mesra dengan maknanya. Kita mengenali secara mendalam tentang Al Quran barulah bisa curhat kepadanya secara rutin dan seksama.

Hai! Ternyata Al Quran itu menjawab semua isi curhatmu. Menyimak keluhan dan pengaduanmu. Begitu perhatian. Al Quran terus menatap matamu yang sendu. Semangatmu yang kembali layu. Tenanglah. Terus berharap jangan putus asa. Masalahmu akan direspon dengan lembut dan bijaksana. Adikku…pernahkah merasakan semua itu? Bukan satu kali tapi berkali-kali. Al Quran secara ajaib juga mengenali siapa dirimu, karaktermu, sifat keprobadianmu. Insin bersahabat dengan akrab denganmu.

Curhat kepada Al Quran harus dengan pengulangan yang berkali-kali. Bukan pertemuan biasa di pinggir jalan. Tapi pertemuan khusus di waktu yang rutin. Sudah dibilang curhat kepada Allah salah satunya dengan curhat kepada Al Quran, kalam-Nya, firman-Nya. Berbeda kalau curhat kepada teman, guru, orang tua, ustadz. Mereka kadang tidak merespon karena ada bayaran. Kadang bosan, tidak perhatian. Kadang marah dan salah dalam memberikan solusi permasalahan. Lalu kita pun kecewa untuk mencurahkan hati lagi kepada mereka.

Curhatlah kepada Al Quran. Anda tidak akan kecewa. Al Quran tidak akan bosan mendengar lantunan suaramu. Sampai anda merasa bosan sendiri, atau ketagihan terus menyampaikan lantunan pengaduan berkali-kali. Al Quran tidak akan salah. Tidak akan menyimpan baik dari kira ataupun kanan. Tidak memberimu keputus asaan.

Al Quran selalu mendengar curhatmu itu dengan pendekatanmu. Bersahabat akrab dengan pendekatanmu. Maka dengan modal tilawah, tahfidz muraja’ah , tadabur, amalan dan dakwah, hidupmu insyaallah selalu bersama Al-quran berada dalam naungannya. Tentu tidak sampai disini. Kalau Al Quran sudah hadir di hidupmu, mengalir di jiwamu, memenuhi lisan dan akalmu. Terlukis dalam akhlakmu. Mari kita teruskan perjalanan. Karena jalan masih panjang dan banyak tugas besar.

Curhatku ini adalah proses sepanjang masa!
Karena perjuangannya di jalan yang panjang.
Allahu akbar!!!

Sudut kanan masjid,
Akhir malam, 02.00.

Cerpen dari blog Nabila Jazakillah inspirasinya ^^8

Games Al Quran


*Siapin Al Quran sebelum mencoba Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin..pagi ini, setelah selesai talaqqi 1 Rubu’ dan 2 Tsumun (dalam al-quran ada 30 juz, dalam setiap juz ada 2 Hizb, dalam setiap Hizb ada 2 nishf, dalam setiap Nishf ada 2 Rubu’, dan dalam setiap Rubu’ ada 2 Tsumun.. *walaupun dalam setiap riwayat ada perbedaan penandaan, sperti dalam riwayat Hafs, yg dikasi tanda hanya Rubu’ dan Hizb, dalam riwayat Qaaluun ada sampai Tsumun tapi tidak dicantumkan Nishf, dll,, tp ini dibahas lain kali aja ya,, tp penting untuk para penghafal,, beneran deh..) beliau almukarram al hafidz syaikh abdullaah Sa’ady, yg mengajar Qira’ah ‘Asyrah(10 riwayat quran) setiap hari di surau taman ilmu, memberikan games kepadaku. karena blio ahli statistik, dan saya orang engineering, jadi gamesnya juga itung2an dikit lah.. tapi subhaanallaah ttp sangat berma’na..

bliau tanya: Syaikh: miftah, do you know how to get the exact page nomber of the begining of juz? especially for Mushaf madiinah (Utsmany)

I: No i Dont, but i’d like to know..

syaikh: hmm, ok, let me know what page nomber of Juz 10?

I: hmm, 1 juz contains of 20 pages, so it means around 200, but i guess less than 200, bcause there are 2 pages for Alfatihah and 5 ayat of albaqarah..

He opened that page (200), and he said: see,, this is not the begining of juz 10 exactly,, let me show you how to get the right one.. there is the formula.. 🙂

I: formula? *penasaran

I: so how syaikh?

Syaikh: it’s simple, the formula is like this : Page Nomber : our desired Juz x 2 -2 and put 2 at the end of result..

I: *confused,, could you give me an example?

syaikh: e.g. what Juz you want?

I: Juz 4

syaikh: so just , 4 x 2 -2 = 6 , and put 2 at the end of result.. : 62.. thats all..

ane cek deh halaman 62, apa bener itu awal dari juz 4, eeh ternyata bener.. trus ane coba lagi deh dg juz lain,,

juz 8: 8 x 2 – 2 =14, jd halaman 142,, ane cek lagi,, hwaaaaa bener,,

belum puas, coba lagi, juz 25: 25 x 2 -2 = 48, jd halaman 482,, hwaaaa bener lagi..

yee,, alhamdulillaah,, akhirnya tertawa bersama syaikh dipagi hari yang cerah.. dan forumpun di akhiri dengan do’a kafaratul majlis..;)

love you all.. 😉

Dapet Tag dari Miftah di sini

siapa kamu?

Kamu yang masih betah dengan rakaat singkat di sepertiga malam?

Kamu yang masih tumbang saat qiyamulail dengan satu juz tiap rakaat bahkan sangat kurang dari itu?

Kamu yang selalu takbetah mengingat lembar demi lembar Quran?

Kamu yang menjadikan Quran sebagai pemberat bawaan di ransel?

Kamu yang lebih panjang meminta, berdoa ketimbang mengingatKu?

Kamu yang terlalu percaya diri dengan doa-doamu yang taksebanding dengan ikhtiar?

Kamu yang dihatinya masih mengganjal ketakikhlasan?

——-

Ya. Saya, Tuhan..
Saya mohon ampun.

Muhasabah Cinta

Hari ini bantuin ummi bikin slide laporan pesantren. Isinya tentang perkembangan hafalan santriyah di sini. Nama kami diurutkan berdasarkan jumlah hafalan kami. Tita, belia yang baru menginjak usia 18 menduduki peringkat teratas: 30juz. Hmm.. Hafidzhah kami memanggilnya. Setelah itu kami diurutkan dari 19, 15, 12, 10, 6, 5, 4, 3, 2, dan 1 juz. Beragam sekali akhirnya.

Ah.. Saya jadi teringat suatu hari nanti, saat syafaat sangat dinantikan. Banyak hal yang menghambat hafalan dideretkan. Pekerjaan: pekerjaan takpasti dapat memberi syafaat untuk kita. Pernikahan: suami tidak bisa memberi syafaat buat kita. Bahkan ada pasangan yang di dunia saling cinta di akhirat saling dorong ke neraka. Hanya Al quran yang telah menjanjikan syafaat buat kita. Tapi interaksi kita dengannya hanya sekadarnya. Ia sisa membaca novel. Ia sisa membaca TL orang ternama. Suatu hari nanti ia akan kita rindukan tapi ia takmerindukan kita..
Jangan sampai…

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript