Perempuan Dalam Singgah Karya Jia Effendie Dkk. [Bagian 1]

singgah
Singgah adalah sebuah kumpulan cerpen karya Jia Effendie dkk yang berisi cerita-cerita dalam setting tempat persinggahan. Stasiun kereta api, dermaga, terminal, bandara adalah tempat-tempat yang menjadi sember energi kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini. Bagi sebagian orang yang menyukai tempat-tempat tersebut (salah satunya adalah aku), takperlu membaca detail review kisah di sampul belakang, melihat gambar tempat yang disukai saja sudah membuat memilih untuk memiliki buku ini.

Hal yang menyihir dari buku ini adalah terapi hati (membaca abjeksi) untuk memahami luka, cinta, rindu, dan sepi dalam kisah yang amat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin kita pernah dengan penuh harap dan cemas menunggu seseorang di stasiun kereta api. Namun, pada waktu yang berbeda kita harus menatap kosong kebingaran stasiun karena harus melepas kepergian seseorang. Maka kisah dalam kumpulan cerpen ini seperti gempuran keras pada hati kita. Ia seolah berujar “It’s Happened!” Kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam kehidupan dan diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Ya, pertemuan selalu melahirkan perpisahan. Persinggahan selalu menagih perhentian dan keberangkatan. Maka, hati yang dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini tak akan ciut. Ia akan semakin kuat menghadapi perjalanan hidup.

Enam dari sebelas penulis kumpulan cerpen ini adalah perempuan. Bagian ini amat menarik untuk ditelusuri. Bagaimana perempuan menggambarkan perpisahan? Bagaimana perempuan menggambarkan ketakterjangkauan dalam sebuah cerita. Mari kita bedah beberapa cerita dalam kumpulan cerpen ini.

Bertolah dari Julia Kristeva

Berdasarkan pemikiran Kristeva, secara psikologis, bagi anak perempuan, tubuh ibu adalah kesenangan primer yang pertama kali mereka miliki. Anak perempuan masih merasa bahwa ibu adalah bagian dari dirinya. Untuk membangun identitas subjek pada dirinya, seorang anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya. Pelepasan diri ini dilakukan melalui penolakan yang diistilahkan oleh Kristeva sebagai abjection (penolakan terhadap tubuh ibu).

“Masa ini menurut Lacanian dan Freudian merupakan masa penyapihan dan pemisahan yang biasanya menimbulkan frustasi dan ketakutan akan kastrasi. Bagi Kristeva masa ini adalah masa antara chora dan tahap cermin yang merupakan tahap pra-linguistik penting pada usia 4-8 bulan” (Christina, 2010:9).

Pada masa ini anak perempuan harus melakukan abjection pada ibunya untuk mengidentifikasi me dan not me.  Kristeva juga berpendapat bahwa  masa ini tidak selalu diwarnai dengan ketakutan, penolakan maupun pemisahan pun bisa menyenangkan. Dalam tahap penyapihan ini terjadi krisis narsistik ketika bayi menjadi antara subjek dan objek, self dan other, hidup dan mati. Masa pemisahan ini oleh Kristeva diasosiasikan dengan abjeksi (Christina, 2010:9).

Hubungan pemikiran Kristeva dengan perempuan dan makna perpisahan?

Disapih dari ibu merupakan keterpisahan pertama yang dialami perempuan dalam hidupnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya karena dirinya sendiri secara psikologis harus menemukan subjek dalam diri. Anak perempuan harus menemukan makna “inilah aku” yang otonom dalam dirinya. Secara psikologis, abjeksi (penolakan terhadap tubuh ibu) adalah cara yang paling tepat untuk menemukan eksistensi diri sendiri. Salah satu konsekuensi logis dari abjeksi ini adalah rasa frustasi dan ketakutan. Walaupun menurut Kristeva bisa penyapihan juga bisa menyenangkan.

Mekanisme abjeksi ini terus menerus dilakukan perempuan secara tidak sadar dalam menghadapi perpisahan demi perpisahan. Perpisahan ini dapat diartikan dalam konteks apa saja. Bukan hanya perpisahan fisik tapi juga psikologis. Bahkan ketidaksinkronan antara kenyataan dengan apa yang diinginkan pun dapat disebut keterpisahana (keterpisahan antara kemauan dan kenyataan). Oleh sebab itu, hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihadapi oleh perempuan dengan abjeksi. Ketakterjangkauan juga dihadapi perempuan dengan abjeksi.

Fantasi Sebagai Abjeksi dalam Cerpen Jantung

Salah satu cara perempuan melakukan abjeksi adalah dengan menulis. Karya fiksi dapat menjadi media abjeksi (dalam konteks ini: penolakan terhadap perpisahan atau kejadian yang tidak disukai) dengan menghadirkan fantasi-fantasi di dalamnya. Fantasi ini bisa berupa imajinasi, mimpi, dongeng, khayalan, dsb.

Dalam cerpen Jantung karya Jia Effendi, kita akan mendapatkan cerita tentang seorang perempuan yang berpisah dengan kekasihnya, padahal dirinya sedang hamil. Kekasihnya tidak mau menikahnya karena lelaki itu merasa bayi yang dikandung bukan anaknya. Ada dua abjeksi dalam cerita ini. Pertama, penolakan perempuan terhadap kehilangan laki-laki yang ia harap-harapkan menjadi suaminya. Kedua, penolakan terhadap perbedaan antara angan-angan kebersamaan dengan perpisahan. Singkatnya, abjeksi pertama dilakukan terhadap tokoh antagonis yaitu lelaki yang menjadi kekasihnya. Abjeksi kedua dilakukan terhadap situasi antagonis, yaitu keterpisahan. Sebagai seorang perempuan yang selalu menjadi second person dalam dunia gender, abjeksi ini diperlihatkan oleh Jia Effendi dengan dramatis.

“Kita berpisah baik-baik. Tapi kamu masih membawa drama ke sini. Aku masih memelukmu! Masih menghargaimu! Tapi kau malah berteriak-teriak mempermalukanku. Aku masih mau memelukmu, membiarkanmu masuk ke rumah ini! Kamu sampah! Aku masih memungutmu!” (Jantung: 16).

Inilah situasi antagonis yang diabjeksi oleh perempuan. “Kamu sampah! Aku memungutmu!” kalimat pedas ini menjadi satu mekanisme yang digunakan perempuan untuk melakukan penolakan terhadap situasi antagonis dan menyadarkan keberadaan dirinya. Saat itu perempuan dalam kisah ini harus berpisah dengan kekasihnya. Ia harus sadar sesadar-sadarnya menerima keadaan ini. Dalam situasi antagonis ini, perempuan dalam cerpen melakukan hal yang dalam kenyataan tak mungkin dilakukan,

“Seperti mendapat kekuatan dari yang tak kasat mata, aku mendorongnya. Dia terpental jauh menabrak dinding. Kepalanya terantuk. Dengan sisa kekuatanku, aku menyeretnya ke dapur, menyapu apapun yang ada di meja makan ke lantai, susah payah mengangkat tubuhnya, menguliti pakaiannya… Dengan selembar rumput tajam, aku menorehkan dari dada ke perutnya. Segumpal jantung yang masih berdenyut kucuri dari dadanya. Kumasukkan ke dalam kotak es. Rintihku berkali-kali bergumam aku mencintaimu.” (Jantung: 17).

Prilaku ini tidak mungkin dilakukan oleh perempuan dalam dunia nyata. Kalaupun ada, tentu hanya segelintir orang yang melakukannya. Abjeksi ini semacam ekspresi kemarahan yang dilakukan untuk benar-benar memperlihatkan bahwa “inilah aku” kata perempuan sebagai tokoh utama. Pencurian jantung yang dilakukan oleh tokoh utama ini sebenarnya hanya ingin menjelaskan sebuah kalimat jujur dari lubuk hatinya,

“Tak ada yang namanya perpisahan baik-baik! Kalau kita baik-baik saja, kau masih bersamaku!”

Perempuan tokoh utama ini lalu menyimpan jantung itu di dalam icebox. Ia membawanya ke sebuah tempat dan melakukan hal irasional.

“Ruang bercat putih itu berukuran 3×3 meter. Tak ada apapun di dalamnya kecuali seorang lelaki telanjang dada yang memunggungiku. Tubuhnya memancarkan sinar seperti bola lampu.

“permisi” Dia tidak bereaksi.

“Sebutkan keinginanmu!”…
“Aku ingin jantung kekasihku bersatu bersama jantungku,” aku berkata mantap.

Jika kalian sudah menyimak sedari tadi, tentu mengerti mengapa aku mengambil jantung kekasihku setelah membelah dadanya. Jantung hatinya, agar dia mencintaiku selamanya. Agar aku tidak pernah terpisah darinya.”

Inilah puncak abjeksi (penolakan terhadap kenyataan) yang dilakukan oleh tokoh perempuan terhadap tokoh antagonis dan situasi antagonis. Pada tokoh antagonis, ia melakukan pencurian jantung dan meminta penyatuan jantung. Penyatuan jantung sebagai tanda bahwa pemilik jantung itu tidak akan berhenti mencintainya. Padahal situasinya justru berkebalikan, lelaki itu sudah tidak mencintainya. Pencurian jantung jadi semacam sebuah penolakan, pemberontakan, kemaranah akibat frustasi dan ketakutan (seperti yang dikatakan Lacanian dan Freudian) menghadapi perpisahan.

Abjeksi terhadap situasi antagonis tergambar dari alur cerita secara utuh. Ini bisa dirasakan oleh tokoh perempuan dalam cerpen, penulis -sebagai perempuan- dan pembaca perempuan. Cerpen Jantung karya Jia Effendie ini semacam abjeksi yang menyadarkan perempuan untuk menemukan dirinya sebagai subjek ketika mengalami perpisahan. Tokoh perempuan dalam cerpen ini mewakili kemarahan dan hasrat perempuan ketika menghadapi perpisahan, ketika disebut sampah, ketika kelimpungan saat hamil dan dibuang begitu saja oleh orang yang dicintai. Ketaksampaian melakukan kekerasan (semacam pembedahan, pembunuhan, mutilasi, bahkan cangkok jantung) sudah diwakili oleh tokoh perempuan dalam cerpen.  Otomatis, pada sebagian perempuan, cerpen ini amat melegakan. Kemarahan dan hasrat yang tertahan di dunia nyata, bisa “terlampiaskan” di dunia fiksi. Perempuan yang mengalami pengalaman yang sama dengan tokoh perempuan dalam cerpen ini akan menemukan me dan melepaskan ketergantungannya terhadap the others melalui efek abjeksi cerpen ini. Efek abjeksi cerpen ini dapat menyadarkan perempuan bahwa selama ini ia telah menjadikan orang lain sebagai kesenangan primer yang mengeliminasi me (baca: dirinya sendiri). Ia telah bergantung pada the others dan telah menjadikan diri sebagai objek. Melalui abjeksi, ia akan kembali menemukan me dan menjadi subjek bagi diri dan kehidupannya.

Bersambung…

foto dari sini

Cerita tentang Yang Pendek #SGA

OLEH SENO GUMIRA AJIDARMA

• Judul Buku: Terima Kasih, Anakku

• Penulis: Rayni N Massardi

• Penerbit: Padasan, Ciputat

• Cetakan: 2012

• Tebal: xvi + 172 halaman

• ISBN: 978-602-19280-5-9

Seno Gumira Ajidarma

Bukunya kecil, isinya pendek-pendek. Namun, panjang atau pendek tentu bukan ukuran mutu. Jadi apa ukurannya? Inilah masalahnya. Setiap kepala yang membaca dan menilai punya ukurannya masing-masing sehingga hasil penilaian bisa saling bertentangan.

Nah, apakah mengukur dan menilai itu memang begitu perlu? Kalau tidak perlu mengukur dan menilai, tetapi membacanya saja bagaimana? Betapapun, rupa-rupanya, mengukur dan menilai tak terhindarkan, ketika ukuran dan nilai memang telanjur ada.

Coba kita periksa buku Rayni N Massardi ini. Dari judulnya, Terima Kasih Anakku: Kumpulan Cerita, terjelaskan bahwa isinya tentu sejumlah cerita. Sampai di sini saja sudah dapat dipertanyakan, cerita dalam pengertian apa? Cerita dalam pengertian gagasan atau cerita dalam pengertian alur? Kodok mati adalah cerita, kodok mati karena terlindas stoom adalah alur. Namun kalau yang dimaksud dengan cerita adalah gagasan saja, apakah perlu dibukukan lantas dijual? Kalau filsafat, memang tentang gagasan, tapi tak disebut cerita tentunya; kalau cerita, tentu tak mengandalkan gagasannya, karena ada pendapat, “Tak penting temanya besar atau kecil, yang penting cara berceritanya.” Cara? Mungkinkah maksudnya seni bercerita? Kita tengok saja.

Gembira!

Rasa senang sekali, selalu saya hindari. Karena selalu ada sesuatu di balik kegembiraan. Ada sebuah misteri yang setiap saat bisa terkuak.

Dan kalau itu terbongkar, akan mental-lah kita ke sana-ke mari bak lontaran bongkah es! Ih, dingin! Makanya waktu sudah tampak gelagat akan senang, saya selalu siap ancang-ancang untuk lari kencang!

Mengingat keterbatasan ruang, saya kutip yang cukup pendek, meski ada yang lebih pendek. Di manakah, atau adakah, “seninya”? Tentu ada perbandingan: “kisah-kisah telapak tangan Kawabata”, puisi prosa Solzhenitsyn, dan tentu saja “cerita” Sapardi Djoko Damono, seperti terdapat dalam Pengarang Telah Mati. Untuk diketahui, Sapardi adalah penerjemah Kawabata dan Solzhenitsyn dari bahasa Inggris, padahal masing-masingnya menulis dalam bahasa Jepang dan Rusia. Artinya, gejala penulisan cerita-sependek-mungkin ini sudah membentuk tradisinya sendiri. Namun jika dalam hal Kawabata merupakan “konversi” haiku, dan dalam hal Solzhenitsyn lahir dari keterpenjaraannya di gulag pengasingan Siberia, yang sebagai produk susastra lantas mendorong penulisan Sapardi, apakah ujung-ujungnya mendorong pula penulisan Rayni?

Lebih baik dibandingkan saja, misalnya “Bis Jemputan Sekolah” karya Sapardi. Cerita dan bahasa seolah tidak istimewa. Namun menjadi lebih dari biasa ketika naratornya ternyata bus sekolah itu. Nah, ada “seninya”! Bukan dalam bahasa, melainkan sudut pandang. Mundur ke belakang, Kawabata dan Solzhenitsyn memperlihatkan ketenangan luar biasa, ibarat permukaan danau yang dapat digunakan untuk berkaca. Dengan kata lain, format yang pendek terbentuk bukan karena menghemat atau kehabisan tinta, melainkan konstruksi faktor determinan. Tidak terkecuali cerita-cerita Rayni dalam buku ini. Menjadi menarik tentunya: faktor determinan macam apa?

Tentu mesti disisir penanda-penandanya, yang tentu bukan haiku bukan pula kesempitan ruang waktu dalam penjara. Namun karena tak mungkin menyisir serinci mungkin, barangkali bisa dipertimbangkan saja cerita “Gembira!” tadi. Jika Kawabata, Solzhenitsyn, dan Sapardi dapat dianggap menuliskan usaha pencapaian kebahagiaan, dalam cerita ini naratornya secara eksplisit justru takut dengan kebahagiaan itu. Apakah ketakutan ini semacam angst-nya Heidegger? Argumennya sendiri minimalis, dan ketika misteri terkuak, yang ada bongkah es. Entah bongkah es konkret atau simbolik, ada pengingkaran terhadap kefanaan hidup bahwa kebahagiaan tak mungkin abadi. Namun alih-alih menerima kebahagiaan seadanya, lebih baik tidak pernah bahagia saja, daripada kehidupan—bukan kematian—merenggutnya.

Tergantung kepada pembaca

Dalam dunia yang tua, adakah cara baru menyikapi hidup? Mungkin saja. Generasi media sosial adalah generasi yang merasa sahih urusan dengkulnya sendiri diketahui orang banyak. Ketika kesadaran ruang privat makin tinggi, media sosial bagaikan kompensasi lebay atas pembatasan diri di ruang publik yang konkret. Jadinya media sosial bukan untuk kepentingan sosial, melainkan kepentingan personal. Hehe. “The personal is political”.

Banyak buku terbit sebagai kepanjangan tangan media sosial yang maya. Jika tidak, mentalitas media sosial pun, yakni curhat secepatnya tanpa saksama, lebih dari cukup untuk menyahihkan keberadaan dirinya di media cetak. Namun, betapapun, seperti judul buku Sapardi, yang teracu ke Roland Barthes, pengarang sudah mati bukan? Tergantung kepada pembaca sendiri untuk memberi makna bacaannya, akan berguna bagi dirinya atau tidak. Dalam hal saya, izinkanlah untuk memberi makna dengan cara mengutip cerita lain di dalam buku ini:

Tolong!

Teriakan tolong di mana-mana.

Rintihan kesakitan!

Amukan kemarahan sangat!

So what!

Sirine menguing-nguing!

Selalu sebuah tanda.

Sumber : Kompas edisi Minggu 10 Maret 2013
SENO GUMIRA AJIDARMA Wartawan

PS: Orang yang bisa membaca dengan teliti tulisan ini pasti bisa membaca kualitas buku yang diresensi.

Tentang Sepotong Rindu

edited

: Embun

Adakah yang salah dengan sepotong rindu? Ia dapat berupa harapan yang besar terhadap sesuatu, atau keinginan kuat untuk bertemu. Rindu kepada Tuhan, rindu pada kemerdekaan, rindu orang tua, atau rindu pada kekasih. Buatku, takada yang salah pada setiap potongan rindu. Ia anugerah penanda bahwa hati kita masih ada. Sekelam apapun rindu yang kau rasa, jangan sampai ia meredupkan cahaya Tuhan di hatimu. Itu pesanku.

Kau sedang rindu bukan? Jujur saja kepadaku. Tapi entah untuk siapa kau rela menyimpan rindu itu, bersakit menahan diri di hulu ingin tanpa tahu kapan akan sampai ke hilirnya. Aku agak yakin, rindu itu bukan untukku. Coba kau dalami lagi rasanya, pasti takada aku di sana. Atau mungkin, aku adalah obat kerinduanmu kepadanya. Sabdaku seperti percikan air pelebur gumpalan rindu yang hampir mengerak di dinding hatimu. Oh Embun.. adakah rindu yang kau rasakan itu semacam rindu terlaran seperti yang biasa didendangkan manusia?

Seorang penyair bijak dalam buku putihnya pernah berkata, seperti halnya langit dan bumi, siang dan malam,  jauh dan dekat, menunggu dan ditunggu, di dunia ini semuanya berpasangan. Termasuk engkau yang sedang merindu. Jika ada orang yang merindu pasti ada yang dirindukan. Namun, tahukah kau? Katanya, yang menunggu tidak harus bertemu dengan yang ditunggu. Seperti halnya langit tidak harus bertemu dengan bumi. Jika mereka bertemu, berarti mereka bukan lagi pasangan. Maka, perindu tidak selamanya harus bertemu dengan yang dirindukan. Tidak ada lagi rindu jika perindu bertemu dengan yang dirindukan. Maka biarlah ia bergeming. Semoga yang dirindukan turut sadar bahwa dirinya sedang dirindukan.

Yang terpenting adalah kepada siapa rindu itu kau titipkan wahai Puan. Kepada dinding-dinding ratapan yang bisu dari kebenaran? Kepada deretan huruf bernomor kode yang kosong dari kerelaan? Atau kepada harapan-harapan yang naik ke langit menuju Si Empunya semesta? Kita makhluk lemah yang takpunya daya untuk menentukan apa-apa. Bahkan rindu yang membatu badar itu pun tanpa sadar sedikit demi sedikit menyesaki hatimu. Kita lemah takdaya apa-apa.

Meranalah kau jika pikirmu bersiasat mencari cara melepas kekang rindu dengan belati dosa. Padahal rindu itu milik-Nya. Dirimu milik-Nya. Si empunya rindu pun milik-Nya. Kendalikan hatimu, kuasai kekang rindumu agar ia takjadi rindu dendam. Tenangkanlah.. tenangkanlah.. tenangkanlah hatimu. Jangan sampai ia menjadi jelmaan ketakrelaanmu pada bentangan jarak dan waktu. Padahal milik-Nya pulalah jarak dan waktu yang membentang itu.

Embun.. sebagian manusia mungkin memencilkan rindumu di lorong gelap kelalaian. Mereka mengantagoniskannya sebagai penanda ketaktaatan. Buktikanlah! Buktikan bahwa rindumu menjadi energi untuk merangkak naik menuju kesadaran akan ketakbedayaan atas bentangan jarak dan waktu milik-Nya. Perlihatkanlah! Pacu tali kekang rindumu menuju Ia, Si Empunya semesta. Setiap pahit adalah biang bahagia yang dapat menyamuderah dan mempercepat perahu rindumu sampai kepada-Nya. Apapun kehendak-Nya selalu baik jika bermuara kepada-Nya. Cukup yakinlah, rindu adalah do’a yang dirapal sepanjang hujan yang berjanjikan pengabulan. Maka mintalah sebaik-baiknya kebaikan menurut-Nya. Lepaskan dirimu dari do’amu! Biarkan Ia berbuat sesuka-Nya. Rindumu akan bertemu jalan-Nya. Berprasangka baiklah bahwa pemiliknya adalah si empunya yang engkau sangka. Jikapun bukan ia, mintalah agar perahu rindumu takkaram sebelum bertemu dengan si empunya yang sebenarnya. []

Foto jepretan teh Nina

Belajar Mencintai Indonesia Dari Deddy Mizwar

Beberapa hari setelah deklarasi pencalonan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat dari koalisi PKS, PBB, Partai Hanura, dan PPP pada Pilgub 2013 saya terkaget dengan sebuah selebaran yang bertajuk “Kalem We da Aya #Ayobalikkekampus! H2S Hari-hari Sastra.” Pasalnya selebaran yang dibagikan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya tersebut adalah undangan untuk mengikuti KURUCETRA “Kumpul Rutin Cerita Sastra” yang membedah film “Tanah Surga Katanya” bersama Deddy Mizwar. Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang (hanya baru) melek politik, saya berpikir acara ini akan menjadi ajang kampanye buat Deddy Mizwar. Namun, setelah mengikuti acara tersebut ada ruh lain yang saya dapat.

Ya! Ruang-ruang diskusi sastra adalah tempat bisu untuk para praktisi politik. Di sana mereka tidak dapat berkampanye secara vulgar. Sastra adalah tempat insan-insannya menjual gagasan. Takada ruang istimewa bagi yang bertangan kosong dalam sastra. Siapapun menjual ideologi dalam karyanya. Pramoedya Ananta Toer dengan sosialismenya, Ayu Utami dengan feminismenya, atau M. Irfan Hidayatullah dengan Islamnya, mereka dengan penuh kesadaran membawa ideologi dalam karya-karyanya. Orang-orang yang bertangan kosong hanya akan berada di pinggiran dengan karya absurd yang tanpa sadar mendukung ideologi mainstream. Takada karya tanpa gagasan yang dijual dalam sastra.

Berbicara film berarti berbicara isi cerita. Membaca isi cerita berarti membaca gagasan yang ditawarkan oleh seorang seniman. Begitupun pada film “Tanah Surga Katanya..” yang diproduseri oleh Deddy Mizwar. Film ini menceritakan perjalanan panjang seorang Salman mengeja kecintaan terhadap bangsanya. Ia dihadapkan dengan situasi-situasi antagonis yang memaksanya untuk mencari penghidupan di Malaysia. Ayahnya menikah dengan perempuan malaysia agar lebih mudah menjadi warga negara sana. Ia diajak ikut pindah dan menjadi warga negara malaysia. Di sisi lain, kakeknya adalah mantan relawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965. Kakeknya tentu takmengizinkan Salman pindah kewarganegaraan. Sesederhana apapun kehidupan di Perbatasan Indonesia-Malaysia itu, kakeknya tetap lebih memilih hidup di negeri sendiri ketimbang di negeri orang.

“Perjalanan cinta Salman pada negaranya ini mengajari kita soal anugerah terindah dalam mencintai,” kata Deddy Mizwar. “Cintailah manusia tanpa harus mengingkari kebenaran,” tambahnya. Film ini mengajari kita soal banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghargai negara ini. Di Malaysia bendera Indonesia hanya dijadikan alas dagangan rempah-rempah. Ia taklebih dari warna merah dan putih yang takberbeda dengan warna kuning, hijau, dan coklat. Adegan ini jadi simbol bahwa pihak yang menjual Sumber Daya Alam Indonesia ke luar negeri hanya menjadikan negara sebagai alas dagangannya untuk memperkaya diri. Salman sampai harus bersiasat untuk mengambil bendera itu dari orang yang menjadikannya sebagai alas. Ia menukarnya dengan sebuah sarung dan mengibarkannya sambil berlari ke Indonesia. Dalam adegan itu sangat terlihat perbedaan jalan Indonesia – Malaysia. Jalan di Malaysia lebih bagus daripada jalan di Indonesia. “Namun, sejelek apapun, itulah kebenarannya. Saya tidak mungkin membagus-baguskan negara kita dalam film itu. Nanti saya bohong!” ujar Deddy Mizwar. “Kalau dalam sepakbola Indonesia dikalahkan Malaysia, saya juga tidak mungkin menceritakan Indonesia menang dalam film ini, nanti saya bohong lagi. Citra visual dalam film adalah refleksi realitas yang ada di Indonesia.” Tambahnya.

Pesan dalam film ini terrangkum dalam puisi Salman ketika menyambut pejabat pemerintah dari Jakarta:

Tanah Surga Katanya

Bukan lautan hanya kolam susu, katanya

Tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu

Kail dan jala cukup menghidupimu, katanya

tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara

Tiada badai tiada topan kau temui, katanya

Tapi kenapa ayahku tertiup angin ke malaysia?

Ikan dan udang menghamiri dirimu, katanya

Tapi kata kakek, “Awas ada udang di balik batu!”

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya

Tapi kata dokter intel, belum semua rakyatnya sejahtera. Banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri

Benar kata Deddy Mizwar, cintailah bangsa ini tanpa harus mengingkari kebenaran. Pesan ini dirangkum dalam adegan terakhir, pesan sang kakek sebelum wafat, “Apapun yang terjadi jangan pernah kehilangan cinta pada negeri ini!” Film ditutup dengan adegan Salman berlari membawa bendera merah putih sambil berlari dari Malaysia ke Indonesia. Kembali gagasan nasionalisme disampaikan oleh Deddy Mizwar. Namun, kali ini disajikan dengan lebih halus, tidak sesatir Nagabonar Jadi Dua dan Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Gagasan nasionalisme ini adalah ajakan untuk membenahi negara ini berdasarkan realitas yang ada di perbatasan. Generasi mudalah yang menjadi pemegang amanah perbaikan negara ini. “Kaum Nabi Nuh dimusnahkan oleh Allah karena takmelakukan perbaikan, kaum Nabi Luth juga demikian, bahkan Turki Utsmani juga dimusnahkan oleh Allah, jangan sampai negara kita mengalami hal yang sama. Kalau ada ketidakberesan di negeri ini, lakukan sesuatu karena merasa tidak suka dalam hati adalah perbuatan selemah-lemahnya iman. Kalaupun negara ini akan dimusnahkan, paling tidak, saya ada di barisan orang-orang yang berbuat sesuatu melalui film,” ujar Deddy Mizwar. “Tapi janganlah sampai negeri ini dimusnahkan. Ayo kita berbuat sesuatu untuk negeri kita dengan karya paling tidak.” Tambahnya. Moderator diskusi waktu itu sampai berkata, “Saya merasa sedang ada di PPT (Para Pencari Tuhan-pen). Serasa dinasehati sama Bang Jek.”

Gagasan dalam film ini sudah menjadi salah satu alasan saya untuk memilihnya dalah Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013 nanti. Ide perbaikan dan nasionalisme sudah ada dalam film-film Deddy Mizwar. Saatnya ia bekerja konkret untuk Jawa Barat sebagai salah satu bagian dari Indonesia. Gagasan besar untuk negara ini selalu hadir dari seorang besar bukan?!

: kepada mereka aku rindu

Dear Sukab,

Kepada kursi ruang tunggu stasiun, Kepada bangku taman, kepada rumah ibadah, kepada kertas-gunting-batu, kepada rak-rak buku di toko itu, kepada setiap sudut jalan, sudah kusampaikan salam darimu. Salam pura-pura yang kuterjemahkan sendiri. Entah pernah terlintas lagi atau tidak di benakmu tentang mereka.

Sampaikan salamku kepada pantai, kepada suara kereta api, kepada bising terminal, kepada pintu yang kau ketuk setiap larut malam, kepada anak-anak kecil yang rajin mengaji, kepada teman pengajianmu yang mengajari soal tahnik bayi, kepada perempuan bercadar yang waktu itu berlalu, kepada penjaga rental play stasion, dan kepada setiap remeh-temeh yang aku tanyakan dan kau jawab selalu dengan sekenanya. Kepada semua yang hanya kudengar dan taksedikitpun dapat kulihat, katakan, “aku rindu.”

Kepada senja, tolong bisikkan kerinduanku. Takberniatkah kau memberi sekerat untukku? Cukup sekerat saja. Takperlu sebesar potongan yang kau berikan kepada Alina. Aku berjanji, takkanan membalas potongan senja darimu dengan surat ketus semacam yang Alina lakukan.

Kepada Ar Rahmaan, tolong sampaikan “Apa kabarmu?”
Kepada syalku, titip pesan, “baik-baiklah di sana.”
Terakhir, kepada ibu sampaikan maafku karena selalu takada kesempatan untuk bertemu.

Penuh Cinta

Maneka

____________________________________________________________________________________

*potongan syair:

ku berjalan terus tanpa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdoa di tengah indahnya dunia
ku berdoa untuk dia yang kurindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang kurindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
bernyanyilah na na na na na
bernyanyilah untuk dia yang kurindukan

jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan pergi dari aku

Lagu: Jangan Lupakan – Nidji
Lagu dan lirik lagu dari sini 

*ada beberapa syair yang dihilangkan karena beberapa alasan*

kisah Sukab dapat dibaca di website Seno Gumira Ajidarma

gambar tetap jepretan siriusbintang

: but i need to know

Dear Sukab,

Seemed impossible, seemed absurd, I didn’t even know you before
Kept my distance, closing in, I don’t mind caressing your skin

Kebingaran. Itulah aku. Aku adalah manusia keterangan. Segala yang kualami rasanya harus kusampaikan kembali kepada orang lain seterang-terangnya. Segala sesuatu harus diberi keterangan. Semakin banyak kalimat pengurai, semakin terasa jelas apa yang dimaksudkan. Lalu aku mulai menerangkan segala yang terasa baru. keterangan menjadi keseharian. mampu menerangkan apa yang dirasakan padamu menjadi kebahagiaan amat sangat. mungkin waktu itu tujuanku hanya satu, menerjemahkan apa yang aku rasakan agar kamu mengeri dan merasakan hal yang sama. Namun aku lupa, taksemua orang perlu keterangan.

Kebisuan. Itulah kamu. Kamu adalah manusia yang takperlu keterangan. Segala sesuatu yang kamu alamai cukup dirasakan sedalam-dalamnya. Takperlu sedikitpun keterangan. Semakin dalam perasaan yang kamu rasakan, semakin ringkas pernyataan yang tersampaikan. Singkatan menjadi keseharian. Akhirnya aku taktahu banyak soal kamu. Rahasia adalah inti dirimu. Namun kamu taksadar, taksemua orang bisa menerima kebisuan.

Waktu mengajari kita belajar tentang kebingaran dan kebisuan. Bila taksatupun yang mengambil pelajaran, yang akan muncul pasti pertanyaan soal keterangan tentang kita. Tapi tetap saja jawabannya adalah kebisuan. Lalu pada sebuah jeda, aku sangat suka bernyataan manusiawimu tentang pertanyaan dan jawaban:

“Lah? Mana ada orang gak boleh tanya kalau gak tau jawabannya.

Ada juga orang nanya karena butuh jawaban”

That’s right! Pernyataanmu benar dan sangat tepat. Tapi mengapa itu terdengar agak aneh ya? Semua yang kamu katakan menyelisihi apa yang kamu lakukan.

Setiap pertanyaan perlu jawaban. Setiap orang yang bertanya perlu jawaban atas pertanyaannya. Dalam hidup, banyak pertanyaan yang menyediakan pilihan: boleh dijawab atau tidak. Namun, ada juga pertanyaan yang harus dijawab. Banyak juga pertanyaan yang tidak dapat ditimpali dengan kalimat “terserahku dong, mau dijawab atau enggak!” Ada pertanyaan yang benar-benar harus dijawab. Celakanya, kebisuan tidak dapat dihitung sebagai jawaban.

Seperti halnya ujian sekolah, setiap pertanyaan bebas kamu jawab dengan jenis jawaban manapun. Namun, jangan lupa! Setiap ujian punya batas waktu menjawab. Setiap pertanyaan punya usianya. Setiap jawaban punya masa kadaluarsa. Mungkin ada pertanyaan yang bisa kamu tangguhkan menjawabnya, tapi ada pertanyaan yang harus kamu jawab saat itu juga.

Waktu mengajariku tentang kebisuanmu. Aku mencoba menerjemahkan setiap kebisuan sebagai sebuah keterangan. Namun, hasilnya hanya membuatku tersesat dalam makna ketiadaan dan kelemahan. Jawabanmu mungkin berumur panjang, tapi pertanyaanku berbatas waktu. Huffh.. Aku rindu keteranganmu. Terangkanlah…

Something old, something new, something I didn’t thought could be true
Love’s too strong and a bit cliché, For now this is enough, I’ve got a long way
Something old, something new, Something I didn’t thought could be true
I’m afraid to ask but I need to know, Would you want me to stay?Or would you want me to go?

These are my feeling I hope you’ll understand  It might not be much, but it’s more than I can spend

Penuh Cinta

Maneka

*song: Better Than Love [Sherina]

kisah-kisah Sukab bisa dibaca di blog Seno Gumira Ajidarma

[FF] Sebuah Taman

akhir-akhir ini ada kacau balau risau di benakku, tentang keinginanku yang menggebu mengenai masa depan. ada kebencian, ada cemburu, ada ketakutan, ada kekhawatiran tentang ketiadaanku di benak seseorang. ingatan itu menyelimuti waktuku, mendekapnya sampai sesak dan kehabisan nafas. ingatan itu mengambil hampir separuh waktuku. bahkan tidurpun aku mengingatnya. ia melesat-lesat dalam mimpi dan ngambil perhatianku.ini berawal dari pertemuanku dengan seorang lelaki di persimpangan jalan ketika aku sedang menatap bentangan kota waktu. aku duduk di halte menuju sebuat tempat bernama masa depan. hanya ada nama itu dipetaku. lelaki itu duduk di sampingku menatap sejurus ke arahku dan pandangan kami pun bertemu. karena ketidaktahuanku, aku mengajaknya sedikit berbincang.

“apakah kau tahu tentang suatu tempat bernama masa depan?”

ia terdiam, di wajahnya hanya terlukis segurat senyum indah.

“aku ingin pergi ke sana, tapi aku buta arah.”

sebuah bus datang bertuliskan masa lalu – masa depan. tanpa banyak bicara lelaki itu menarik tanganku erat dan menaiki bis itu. kami duduk di kursi paling belakang. ia menyuruhku duduk di dekat jendela agar aku takterganggu oleh para bedagang. alangkah uniknya bis yang kutumpangi ini di dalamnya banya orang yang berjualan rindu, dan ingatan. entang mengapa banyak sekali orang yang memborong benda itu. “banyak yang menitip,” kudengar lirih dari penumpang yang ada di depanku. bahkan di tepi jalan orang-orang berdecak bahagia saat membeli dua hal itu.

sejurus kulihat lelaki di sampingku, ia sedang menata ulang benda yang ada dikopernya. kulihat setumpuk kenangan ada di dalamnya. saat kucoba mengambil sebuah kenangan, dipegangnya tanganku. nampaknya betapa sakral kenangan-kenangan itu baginya. takdibolehkan melakukan apa-apa, akhirnya aku hanya sibuk menatap pemandangan dari jendela. kulihat semuanya pergi melawan arahku. pemandangan yang kulihat melesat-lesat ke depan dan aku rasa meraka pergi mendahuluiku. mengapa bis ini mundur? ungkap benakku. tapi aku tak bisa bertanya sesuatu. lelaki di sampingku tetap membisu.

Bisku berhenti. lelaki itu menarik tanganku lagi. mengajakku bermain di sebuah taman. aku telanjur suka dengan tempat itu. kuabadikan semua, kuambil satu demi satu detail yang ada di sana. taklupa kusimpan gambar kami berdua. wah!kini koperku penuh dengan apa-apa yang ada di sana. sebentar tapi menyenangkan.

lelaki itu menarik tanganku lagi. ia mengajakku menaiki bis yang sama jurusan masa lalu – masa depan. aku kembali duduk di sampingnya. kini bis kami duduk di kursi paling depan. pemandangan pun terlihat lebih jelas. kunikmati perjalananku dengan memandang lurus ke depan. hmm.. nampaknya sebentar lagi aku tiba di tempat tujuanku.

bis itu tetiba berhenti. tanpa permisi lelaki itu ia pergi. ia takberbalik atau memberi isyarat padaku. kulihat ia berhenti di tempat kami bertemu tadi. aku semakin yakin bahwa kali ini aku benar, menuju suatu tempat bernama masa depan.

Di pemberhentian terakhir aku turun dengan sekoper kenangan. kudapati seorang wanita duduk di sebuat taman dekat halte.

“apakah ini masa depan?”

“kau dari arah mana?”

“dari sana,” ungkapku sambil menunjuk arah tempatku berasar.

“ya, untukmu tapi bukan untukku” ungkapnya dengan senyum lebih indah dari senyum lelaki tadi.

Aku mengeryitkan kening. ia kembali tersenyum.

“tempat ini masa depan bagimu dan masa kini bagiku.”

kami berbincang lama. kubuka koperku, kutata rapi apa yang ada di dalamnya. peremuan itu berusaha mengambil gambarku di taman tadi. kupegang tangannya.

“ini milikku, jangan kau ambil”

“aku hanya ingin melihatnya, nampaknya aku punya yang serupa.”

ia membuka kopernya dan menunjukkan gambarnya bersama lelaki yang sama.

“siapa dia?”

“dia adalah lelaki kenangan. diajaknya setiap orang menuju masa lalu dan mengantungi kenangan bersamanya. ia takperna pergi ke masa depan. ia mengajakmu larut dan tinggal di masa lalu. masa lalumu akan kau bawa karena sekoper kenangan itu.sampai kapanpun kau tidak akan tiba di masa depan”

“aku takmau. aku ingin pergi dari sini.”

“baiklah.” ujarnya sambil melepaskan tanganku dari koperku. ia menarik tanganku sambil melambaikan tangannya pada seorang lelaki yang sudah menaiki sebuah bis. entah mengapa aku percaya saja pada perempuan itu. aku duduk di belakangnya dan ia duduk bersama lelaki itu di depanku. mereka berbincang mesra dan aku hanya sesekali berbalik karena memikirkan koperku yang tertinggal.

Bis kami berhenti. kali ini benar, aku dengan jelas melihat ucapan “selamat datang di masa depan.” perempuan itu pergi meninggalkanku. aku kembali pergi mencari sebuah taman. namun entah mengapa aku kembali menemukan koperku di tempat duduk yang sama. seperti waktu itu.

*nemu FF di sebuah blog
** gambar dari sini

Aku Sakit [aleia]

Kenapa orang yang mengaku sakit itu harus terlihat sakit secara fisik? Padahal banyak orang di dunia ini yang sakit secara psikis dan disebut sakit jiwa. Mengapa manusia sangat alergi dengan kata “sakit jiwa” ? Psikisku sakit. Dengar! Dan semoga kau satu-satunya orang yang takmenyebutku gila. [aleia]

Membaca JADI Sutardji Calzoum Bachri


Seperti apa yang ia katakan dalam Kredo Puisi , Sutardji membiarkan kata-kata dalam puisinya bebas. Ia membiarkan kata-kata meloncat-loncat sendiri dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lain karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya. Sutardji hanya menjaga agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal (1981:13).

Deklarasi Sutardji atas ciri khasnya membebaskan kata dari maknanya membuat pembaca bebas memproduksi makna yang dibentuk oleh kata tersebut. Tugas pembaca bukan lagi hanya mengapresiasi kata berdasarkan makna yang ia miliki sebelumnya tapi mencari makna baru yang ingin dibentuk oleh kata-kata tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Kristeva (Ahil semiotik).

“Dalam puisi arti tidak terletak di balik penanda (tanda bahasa: kata) seperti sesuatu yang dipikirkan oleh pengarang, melainkan tanda itu (kata-kata itu) manjadikan sebuah arti (arti-arti yang harus diusahakan diproduksi oleh pembaca” (Premingen dkk,1974:982 dalam Pradopo,2005:150)

Berikut ini salah satu sajak Sutardji (1981:27) yang penuh persejajaran bentuk dan arti. Pengulangan yang terdapat di dalamnya membentuk sebuah irama. Iraman menyebabkan liris dan konsentrasi. Ini adalah makna di luar kebahasaan.

JADI
tidak setiap derita
Jadi luka
tidak setiap sepi
Jadi duri
tidak setiap tanda
jadi makna
tidak setiap tanya
jadi ragu
tidak setiap jawab
jadi sebab
tidak setiap seru
jadi mau
tidak setiap tangan
jadi pengan
tidak setiap kabar
jadi tahu
tidak setiap luka
jadi kaca
memandang Kau
pada wajahku!

Berbicara tentang kebebasan kata dalam menempatkan diri, maka setelah kata-kata tersebut memutuskan untuk bergabung dengan kata lain ia sudah tidak memiliki kebebasan untuk berpindah. Ia sudah tidak memiliki kebebasan untuk mejadi dirinya sendiri karena ia sudah membentuk makna yang ia bangun bersama kata lain. Makna-makna ini diproduksi dengan bebas oleh pembaca. Seperti pada puisi “JADI” di atas. Berdasarkan pendapat Kristeva, ia dapat diapresiasi atau dimaknai dengan berbagai cara. Dalam analisis ini penulis menerjemahkan puisi ini sebagai berikut :

//Memandang Kau/pada wajahku/ JADI/ tidak setiap derita jadi luka//

Jika melihat kasih sayang Kau yang terdapat pada diri ku sebagai manusia akhirnya ku akan tersadar atas keagungan-Mu hingga tidak setiap duka yang aku alami melukai hati ku.

//Memandang Kau/pada wajahku/JADI/tidak setiap sepi/jadi duri//

Jika melihat keramaian, kebahagiaan yang Kau berikan pada diri ku, aku akan tersadar akan kasih-Mu hingga tidak setiap sepi, (kesendirian, hal yang menyakitkan) serasa duri.

//Memandang Kau/ pada wajahku/JADI/tidak setiap tanda/jadi makna//

Memandang (kemuliaan) Kau di wajahku akan ditemukan bahwa tidak setiap tanda yang diramalkan oleh manusia akan menjadi makna yang disimpulkan oleh manusia. Karena Kau memiliki kata JADI.

//Tidak setiap tanya/ jadi ragu//

Tidak setiap pertanyaan akan keberadaan-Mu akan membuat aku ragu akan keberadaan-Mu.

//Tidak setiap jawab/jadi sebab//

Tidak setiap apa yang aku usahakan di dunia ini jadi sebab apa yang terjadi di muka bumi ini. Contohnya tidak semua keberhasilan yang diraih di muka bumi ini berdasarkan apa yang diusahakan manusia.

//Tidak setiap seru/jadi mau//
Tidak setiap seruan untuk membuat aku menjauhi-Nya membuat aku mau mengikuti seruan itu karena tidak semua seruan menuju ke arah-Nya.

//Tidak setiap tangan/jadi pegangan//

Tidak setiap hal yang diusahakan dapat menjadi penyebab apa yang diraih. Hanya kepada-Nyalah kita (manusia) bergantung.

//Tidak setiap kabar/jadi tahu//
Tidak setiap berita yang dikabarkan tentang-Nya membuat aku tahu akan diri-Nya.

//tidak setiap luka/ jadi kaca//memandang Kau pada wajahku!//
Tidak setiap luka (musibah) yang Ia berikan pada manusia akan menjadi kaca (pada mata). Maksudnya tidak semua luka akan membuat mata kberkaca-kaca atau menangis atau bersedih.

Baris pertama sampai baris ke delapan belas puisi “JADI” adalah pengulangan kondisi yang terkadang tidak memiliki hubungan kausalitas antar kondisi / kata-kata tersebut apabila kita telah melihat Tuhan pada wajah kita. Wajah adalah citraan paling kuat yang mewakili diri manusia. Kata wajahku paling tepat mewakili manusia karena bukan manusia jika diri seseorang tidak memiliki wajah. Wajah adalah kehormatan bagi seorang manusia. Wajah adalah sesuatu yang mewakili pertemuan manusia dengan Tuhan. Dalam bacaan sholat terdapat kalimat “Inni wajahtu wajhialillahi..” ‘sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhanku.’

Wajah adalah cerminan diri maka apabila kita melihat kembali karunia Tuhan yang terdapat pada diri kita (manusia) maka manusia akan berserah pada Tuhan. Manusia akan berserah pada Tuhan karena Tuhan memiliki kata “JADI .“ Dalam bahasa arab padanan kata ini adalah KUN. Kata ini terasa lebih berenergi dalam bahasa Arab. Kita sering mendengar kalimat “Kun! fa yakun” ‘jadi! Maka jadilah!’ Kalimat ini adalah representasi bahwa Tuhan Maha berkehendak. Oleh karena itu, tidak setiap hal mengakibatkan hal lain yang menurut kita punya hubungan kausalitas antar keduanya jika Tuhan tidak menghendakinya.

Jika memang kata-kata dalam puisi ini bergerak sendiri untuk membentuk puisi, terlihatlah dengan jelas bahwa keagungan Tuhan, kemahaberkehendakan Tuhan diakui oleh semua mahluk di muka bumi ini termasuk kata. Tuhan dalam bahasa arab berarti illah yang kata tersebut lalu berganti bentuk menjadi Allah. Merugilah orang yang masih sombong dan tidak meyakini kebenaran agama yang dilindungi oleh Allah.

*tugas KSKU semester akhir. analisis sederhana sekali

** gambar dari sini

Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta

Kau takan mengerti lukaku
Karena cinta telah sembunyikan pisaunya
Bayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun dalam darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti, aku tungku tanpa api

WS. Rendra

gambar dari sini
Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript