Aku dan Dhira

aku dan dhira

Bagi sebagian orang, hari lahir adalah waktu paling istimewa, momen membahagiakan ketika orang-orang sekitar mengucapkan selamat, kejutan lilin di tengah malam. Ada juga orang yang amat gugup menghadapi hari ini, karena deretan target yang belum tercapai, atau karena angka yang semakin menggelayut, apalagi bagi perempuan yang belum menikah di usia matang [stop sampe sini, gak akan dibahas :p ]. Buatku hari ini amat biasa. Semalam sebelum tidur taksedikitpun ada kecemasan menghadapi tanggal keramat ini. Satu-satunya alasan adalah kepulangan Dhira, temanku di kamar Sofiyah Binti Huyyay.

Hari-hariku bersama Dhira diawali dengan berita baik tentang pekerjaan baruku. Dia satu-satunya orang yang benar-benar menemaniku menjalani pengalaman pertama ini. Sejak berubah status dari pengangguran terselubung menjadi dosen, hari-hariku berubah drastis. Aku yang pada awalnya menghabiskan waktu di kamar kini harus setiap pagi berangkat ke kampus yang lumayan jauh dari asrama. Yang paling aku khawatirkan adalah kebiasaan Dhira menyendiri di kamar. Selalu terpikir bagaimana sarapan dan makan siangnya, karena aku hanya bisa benar-benar bertemu dia pada malam hari. Karena lebih banyak diam, waktu itu aku taksempat menyampaikan kekhawatiran itu.

Suatu hari ada sebuah perlombaan resensi buku. Waktu itu aku berencana meresensi novel Assalamualaikum Beijing. Ternyata Dhira sudah pernah menonton versi filmnya. Aku jadi bisa menanyakan persamaan dan perbedaan jalan cerita antara film dan novel. Sejak saat itu kami mulai sering bertukar pikiran. Dhira ternyata termasuk anak yang sudah terbiasa membaca sejak kecil. Novel bacaannya sudah pasti jauh lebih banyak daripada bacaanku. Tidak hanya karya penulis Indonesia, dia juga membaca novel-novel terjemahan yang notabene termasuk sastra kanon di dunia. Dhira juga sering cerita soal film yang diangkat dari dongeng anak-anak di Barat. Kemampuanya menganalisis tanda di film atau video clip sebuah lagu juga luar biasa. Menurutku, waktu seusianya aku takpernah berpikir untuk menganalisis setajam kemampuannya.

Sekamar dengan Dhira mulai menyenangkan. Ia suka sendirian karena sudah terhibur dengan kebiasaan menonton Running Man. Siapapun akan mengakui bahwa acara ini sangat menghibur. Akupun mulai ikut menemaninya nonton, mengenal Joong Ki, Joong Kok, Ji Suk, Suk Jin, Ji Hyo, Haha, Gwang Soo, dan Gery. Semua penghuni asrama mungkin terganggu dengan suara tawaku yang nyaring. Nonton juga pasti dianggap aktivitas terlarang untuk penghafal Al Quran. Sebab itu, kami juga selalu saling mengingatkan tentang target hafalan.

Sejak mengenalnya sampai saat ini, aku dapat pelajaran dari Dhira tentang memahami diri dan orang lain. Kita pasti pernah mengalami posisi ambang, berada di pertengahan jalan menuju sebuah capaian. Di depan kita ada sebuah tebing terjal yang harus didaki seorang diri. Persiapan yang harus dijalani ternyata membutuhkan waktu yang amat panjang. Hari demi hari harus diisi dengan kerumitan sebuah persiapan. Tentu yang hadir adalah kebosanan. Yang diperlukan adalah hiburan, bukan kebosanana yang lain lagi. Ada kalanya kecemasan, stress hanya bisa dihadapi seorang diri karena tidak semua orang mampu menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain.

Ada orang yang menyimpan rapat kecemasannya dan hanya menceritakan sesuatu paling permukaan tentang hidupnya. Kehidupan membuatnya amat selektif memilih teman dekat. Boleh jadi sikap ini muncul karena hasil pola didik orang tua, atau karena pengalaman pernah dikhianati oleh orang yang pada awalnya sangat dipercaya. Akhirnya kepercayaan hanya jatuh kepada orang tua dan saudara kandung. Tidak ada satupun orang luar yang dianggap berhak mendapatkan cerita (bahkan remeh-temeh) tentang dirinya. Kami termasuk manusia jenis ini.

Aku sering bercerita kepadanya tentang berbagai pengalaman pertama di dunia baruku karena tahu dia tidak akan menceritakannya kembali kepada sembarang orang. Aku juga tahu, dia tidak akan peduli dengan ceritaku yang tidak penting baginya. Ia hanya akan mendengarkan tanpa berminat untuk menceritakannya (baca: menggosipkannya) kepada orang lain. Dia juga terkadang bercerita tentang pengalamannya di luar asrama. Aku mengerti bahwa yang dia ceritakan adalah segala sesuatu yang memang ingin dia ceritakan dan aku berhak mengetahuinya.

Hal lucu yang sering terjadi di kamar Sofiyah adalah kekagetan kami akibat kebiasaan orang-orang membuka pintu tanpa mengetuk atau mengucapkan salam. Mereka kadang membuka pintu kamar, melihat-lihat ke dalam tanpa bicara, dan pergi tanpa bicara pula. Mungkin itu terjadi karena mereka sedang mencari sesuatu atau seseorang yang ternyata tidak ada di kamar kami. Kadang ada juga orang yang tiba-tiba masuk dan berkata “minjem setrika.” Kemudian dia mengambil setrika dan keluar. Ada juga orang yang datang karena minta garam, berkonsultasi skripsi, mengingatkan tugas piket asrama, atau meminjam laptop. Semuanya hampir tanpa kata-kata pembuka dan itu cukup mengganggu ketenangan kami.

Selain tawa, setiap selesai menonton sebuah film kami sering membahas isi ceritanya. Analisisnya membuat aku sadar bahwa hidup adalah rangkaian kejadian. Hidup adalah transaksi kepentingan yang menagih keberanian untuk mempersiapkan diri menghadapi kejadian-kejadian tersebut. Percaya, dikhianati – berkhianat, penyesalan, ketakutan – keberanian, pertanyaan – jawaban, menunggu – ditunggu, mencintai – dicintai, bertemu – berpisah, mengingat – diingat, melupakan – dilupakan, tersenyum, tertawa, menangis, marah, bersalah, dan berbagai hal  membuat hidup jadi hidup. Kehidupan bukan hanya tentang perjuangan mencapai mimpi yang berakhir kebahagiaan. Bahagia takselama datang dari kesenangan. Hantaman berbagai kejadian yang semena-mena datang bertubi-tubi kadang menyenangkan, paling tidak untuk berkata pada dunia bahwa kita masih bertahan.

Hari ini paling tidak aku berani mengatakan bahwa aku kini kembali sendirian. Bertemu Dhira seperti menemukan aku di masa lalu. Bersamanya seperti bercakap-capak dengan diriku yang dulu. Ya, pulang dan menggapai cita-cita bersama keluarga adalah jalan terbaik untuknya. Aku baru bisa menjadi teman, belum bisa mengambil posisi kakak, guru, apalagi orang tua buatnya. Semoga Dhira mendapat ketetapan terbaik, diterima di universitas pilihan Allah yang mendekatkannya dengan Al Quran. Semoga suatu hari kami bisa kembali berbagi malam, berbagi kecemasan dan tawa. Uhibbukifillah.[]

Sit In Pertama

Udah jam 10 malem dan aku masih pengen mengabadikan pengalaman hari ini, walaupun
menurut kalian (yang nyasar di sini) super duper gak penting. Ini Selasa, hari pertamaku sit in di kelas-kelas Mata Kuliah Tata Tulis Karya Ilmiah ITB. Sit in itu apa sih? Yes! Sit in istilah bahasa
Inggris yang kalo dijabarkan dalam bahasa Indonesia sama dengan “Ikut duduk, melihat,
mengamati, dan belajar bagaimana seorang dosen mengajar.” Karena aku dosen baru yang
masih (amat sangat) hijau, aku harus ikut sit in di beberapa kelas yang diampu oleh dosen-
dosen senior.

Hari ini aku sit in di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Aku ikut masuk ke kelas seorang
dosen senior perempuan yang keren banget. Dalam kelas yang desiannya berundak -mirip
kursi bioskop- beliau bisa menjelaskan dengan suara lantang tanpa pengeras suara.
Mahasiswa yang hadir minimal 70 orang. Aku yang duduk di kursi paling belakang bisa
mendengar suaranya dengan jelas. Waktu aku memperkenalkan diri dari kursi paling
belakang, kerasa banget suara gak nyampe ke depan kalo gak teriak. So that, ini perlajaran
pertama, harus bicara lantang tanpa pengeras suara. Pelajaran kedua adalah tulisan di
papan tulis. Kelas yang aku masuki masih menggunakan kapur tulis putih dan papan tulis hijau
-bukan hoax walaupun gak ada fotonya :p_ Tulisan beliau kebaca normal walaupun dari kursi
paling belakang. Ini pelajaran kedua: harus terbiasa nulis gede-gede banget.

Setelah menjelaskan teori, dosen tersebut meninggalkan kelas. Aku dan seorang temanku
mendampingi mahasiswa ngerjain tugas bikin topik, tema, dan judul penelitian. Ide-ide
mereka kreatif banget. Yang paling penting, ketika mereka bikin rencana penelitian, di otak
mereka gak ada kekhawatiran tentang hambatan penelitian. Objek yang banyak banget,
teknik yang borongan -kuisioner, wawancara, observasi- nggak bikin mereka mundur. Ketika
aku bilang, “Inget ya, waktu kamu terbatas.” Mereka bergeming. Dari sisi bahasa, ya begitulah,
memang tata tulis ide brilian mereka perlu pembenahan. Itulah mengapa Mata Kuliah TTKI ini
ada.

kkik

Aku dan Keluarga Baruku di Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan, Sostek ITB

Setelah selesai mengajar, waktunya istirahat. Kami ngobrol di “base camp” bersama tamu dari Brunei Darussalam. Namanya Siti Salwanan binti Juni (kerudung hijau) dan Nur Aqilah binti Saban (baju hitam). Pagi ini Siti bawa kue jala dan kue cincin, khas Brunei Darussalam. Itu dia tantangan di KK-IK, banyak banget makanan. Kalo lagi shaum harus kuat iman deh! #YakaliAnakTK Keluarga baruku sangat hangat, menyenangkan, dan Sunda pisaaan. Pokoknya bertemu mereka seperti dipertemukan kembali dengan saudara jauh. Ada yang seperti ayah, ibu, kakak, pokoknya lengkap. How lucky i am!

Sorenya, aku sit in ke Fakultas Teknik Elektro dan Informatika. Kesan pertama, “Di sini banyak
orang Jawa ya!” Hahaha! Logat mahasiswa yang konsultasi tugas mayoritas Jawa gitu. Gak
maksud rasis siy. Ini cuma simpulan sederhana setelah hampir semua mahasiswa yang nanya
ke aku logatnya Jawa semua. *dibahaaaaas =))

Oke lah ya. Setelah perkuliahan selesai 3.30 sore aku ke Salman sampai jam 4 dan pulang.
Perjalanan Ganesha – Riung Bandung naik angkot (plus macet) itu 120 menit alias 2 jam.
Sesuwatu banget kan! Ditambah jadwal ngajar Jurnalistik yang slide-nya belum dipersiapkan,
di situ saya merasa sedih. Alhamdulillah masih ada waktu persiapan 30 sebelum shalat
maghrib. Matkul Jurnalistik pun terlalui sederhana slidenya.

Ya, sejak hari ini sampai entah, demikianlah hari-hariku akan terkisah. Semoga aku
bisa mencintai pekerjaan baruku. Oneday mungkin aku bakalan ketawa baca jurnal ini. Doakan aku 🙂

*Cuma curhatan, bahasanya gak perlu baku yaw :p

**foto dari sini

Penghuni Kursi Bisu 2

ballon

Dear Perempuan,

Surat kedua ini kutulis khusus untukmu bersama pagi yang takpernah bosan kembali membawa harapan. Di sini jendela sengaja takkubuka. Pagi ini, khusus pagi ini, aku ingin memberi waktu lebih panjang pada kehangatan malam untuk tinggal di sini, di kamarku yang masih saja sepi, agar ia dapat kubagi bersamamu lewat suratku.

Perempuan, apa kabar? Apakah kamu sedang terjaga akibat pahit empedu yang kau minum dengan sengaja sambil memutar kembali memori bisu bersama Sang Pengembara? Ah, aku lupa, siapa pengembara sebenarnya. Dia atau kamu? Sudah berapa jauh kamu pergi akhir-akhir ini? Berapa banyak manusia yang kau temui? Semoga kepergianmu kemarin bukan pelarian. Semoga ia takhanya menyegarkan raga tapi juga ingatan. Aku hanya takut, tamasya itu sebenarnya langkah-langkah rapat yang membuat ingatanmu tentangnya semakin melekat. Kau bawa ia ke mana-mana bersama angan-angan yang menikam harapan pelan-pelan. Pesiarmu adalah ritual merayakan firasat tentang kepergiannya yang semakin dekat. Sadarkah kau wahai Perempuan? Ia seperti pil penahan nyeri rasa stroberi yang membuatmu lupa pada luka yang semakin menganga. Aku hanya kawatir kau taksadar sebenarnya ingatanmu takpernah beranjak dari dunia bernama dia.

Kini dia pergi juga. Waktu mengusirnya dari ruang tunggumu. Bagaimana rasanya? Tak sesakit yang kau bayangkan bukan? Ia seperti helaan nafas amat panjang yang kau keluarkan di awal, terputus-putus bersama air mata yang mulai menganak sungai, membuatmu tergugu mengeluarkan sesal bernama penantian panjang. Ia hanya keinginan yang terus saja menekan “undo” atau bahkan diam-diam menyinggahi “recycle bin” sambil menekan “restore all item”. Ia bagaikan air dingin dari kutub utara yang tersembur membuatmu sulit tidur karena tak berani terbangun. Dunia seakan tak memiliki esok tanpanya.

Ah, anggap saja itu cubitan ringan di wajah yang menyegarkan pembuluh darah. Setelah itu ia akan menjadi kegelapan yang tiba-tiba menghadiahkan layar besar, terang-benderang bernama harapan. Benar-benar baru. Kau bisa berlari sejauh-jauhnya, sekencang-kencangnya ke dunia nyata. Masa depan yang telah lama bersabar menahan rindu, sedang menyambut hangat senyummu.

Jangan lupa singgah ke ruang tungguku, sebuah ruangan berpintu biru di persimpangan jalan. Aku akan menemani awal perjalananmu. Di sini sudah aku siapkan permen asam manis yang ada tebak-tebakan di bungkus belakangnya. Ada satu kotak pendingin berisi eskrim rasa blueberry. Kita memang takperlu bawa air putih. Itu bisa kita dapatkan di setiap persinggahan dengan cuma-cuma. Kamu bawa apa? Jangan bawa komik Naruto, aku tidak suka! Assalamualaikum Beijing! jangan juga, aku sudah baca. Cukup bawa berlembar-lembar kertas kosong yang bisa kita isi dengan tawa ceria.

Kamu mau main ke stasiun, tempat kesukaanku? Di sana kita akan bertemu lalu-lalang kereta, berteriak sekencang-kencangnya, mengucapkan selamat tinggal pada ia yang beranjak ke Kota Kenangan. Agak katrok memang, tapi ini lumayan ampuh untuk mengeluarkan kepenatan. Hmm.. kamu sudah terlalu sering main ke pantai kan?! Lautan sudah penuh dengan nama-namanya sejak dulu. Kita takperlu pergi ke situ. Kita main di kamarku, memanggil orang-orang yang lewat dari jendela, saat mereka menoleh kita pura-pura takmelihatnya. Hmm.. apa lagi ya, kita nonton film horor Thailand, teriak suka-suka, tanpa air mata. Ah, ngomong-ngomong, yang aku bahas hedon semua hahaah!

Apapun. Setelah ini lebih banyaklah sibuk dengan diri sendiri. Orang di sekitarmu hanya pemeran figuran, siapapun dia. Kamu adalah tokoh utama dalam kehidupanmu. Jika takkau temukan dia yang baru, izinkan dia menemukanmu. Berjalanlah bersisian dengan masa lalu, agar kau taktergoda untuk berbalik. Tunjukkan bahwa kau kuat menghadapinya, mendahuluinya, dan meninggalkannya. Yakinlah, kamu yang sekarang adalah sebenarnya kamu.

Sahabat lamamu,

Maneka

PS: surat pertamaku dulu

* gambar dari sini

Al Wahid – Al Ahad

68Al-Ahad_copy

Barangsiapa yang mengaitkan Allah SWT dengan berbagai keadaan, maka sesungguhnya dia tidak mempercayai keesaan Allah SWT. Yang menyerupakan Allah SWT dengan sesuatu sebenarnya dia tidak mengenal-Nya sedikitpun. Siapapun yang menduga dapat melukiskan-Nya, maka Dia pasti bukan yang dilukiskan. Orang yang menghayaklan-Nya, sebenarnya Dia bukan yang dihayalkan.

Waktu tidak bersama Allah SWT. Wujudnya mendahului waktu. Keberadaan-Nya tidak mendahului ketidakberadaan. Azali-Nya mendahului permulaan. Penciptaan-Nya atas indera diketahui bahwa Allah SWT tidak berindera. Dengan pertentangan dengan berbagai hal, diketahui bahwa Dia tidak mempunyai pertentangan. Dengan persamaan dengan berbagai hal, diketahui bahwa takada satupun yang menyamai-Nya.

Dialah Allah SWT, takterbatas oleh batas, takterhitung dengan jumlah, kata “sejak” ditolak oleh sifat qodim-Nya. Kata “sesudah” tidak sejalan dengan sifat azali-Nya. Kata “seandainya” tidak dikenal dengan sifat kesempurnaan-Nya. Dia tidak melahirkan apapun, sehingga tidak dapat dipandang telah dilahirkan. Dialah Allah SWT, terlalu tinggi untuk punya putra, terlalu suci untuk punya istri. Khayalan tidak dapat menjangkau-Nya. Maka mustahil memberikan kuantitas kepada-Nya. Pengertian tidak dapat memikirkan-Nya, maka bagaimana bisa memberi bentuk untuk-Nya.

Indera tidak dapat menangkap-Nya, sehingga bagaimana dia dapat diraba?! Malam dan siang tidak menjadikan-Nya tua. Terang dan gelap tidak menjadikan-Nya berubah. Dia tidak di dalam sesuatu dan dia juga tidak di luarnya. Dialah Allah SWT, menyampaikan berita bukan dengan lidah, juga bukan dengan bunyi. Dia mendengarkan bukan dengan telinga atau dengan organ pendengar. Dia melihat bukan dengan alat pelihat. Dia berkata-kata tanpa mengeluarkan kata-kata. Dia mengingat tapi tidak menghafal. Dia bertekad tapi bukan dengan ketetapan hati.

Dialah Allah SWT, mencintai tanpa perasaan, menaruh kasih tanpa perih. Dia membenci tanpa derita. Dia marah tanpa gejolak hati.

(Ali Bin Abi Thalib – Nahjul Balaghah).

*gambar dari sini

Main (Lagi) Ke Pasar Seni ITB

: Yang terlambat

Kemarin, 23 November 2014 aku balik lagi ke Pasar Seni ITB. Setelah empat tahun berlalu, walaupun datang dengan status lama, paling tidak, kemarin aku datang dengan suasana hati dan isi kepala yang jauh lebih baik. Penting banget aku bahas status hahaha! Sebenernya cuma karena ada temen yang gak mau main bareng ke sana pakek alesan setatus ini.

Empat tahun lalu, ketika heng ot di sana ada temen yang bilang, “Gak akan ada yang ngira kamu udah kerja.” Okey, tahun ini dapat dipastikan nggak akan ada yang ngira perempuan pecicikan ini adalah dosen -walopun ngajar Minggu doang-. Karena aku ngajar setiap Minggu jam 11.20 Wib, acara heng ot kali ini nggak terlalu lama. Apalagi aku dateng bareng adik yang have no idea mau ngapain setiap main bareng aku. Kerjanya cuma nguntit dan bantuin moto.

Kamera yang resolusinya lumayan bagus ketinggalan di kosan adik, akhirnya moto cuma pakek kamera HP. Ini dia beberapa foto gak penting yang bisa jadi bukti kalau kemarin aku udah main ke Pasar Seni ITB.

aku aku

aku yang blur 😀

mata mata

mata mata

main stage

main stage

Melihat icon Pasar Seni ITB tahun  ini, nampaknya mata satu yang diistilahkan sebagai mata ketiga sedang menjadi tanda estetika kebaruan di dunia seni. Dari sisi kombinasi warna, aku suka banget. Buat yang alergi sama aliran Kaballah pasti selama di sana otaknya muter, memecahkan tanda-tanda di sekelilingnya.

pagoda cinta

pagoda cinta

Beneran lho, foto yang atas bukan aku yang namain. Itu beneran tertulis di samping menara yang di atasnya ada beberapa orang lagi nongkrong. Pokoknya, seperti biasa, ritual seni empat tahunan ini bener-bener dikuncungi ribuan orang, desek-desekan, dan nggak nyaman banget buat motret.

Sampe jam 10 teng, saatnya pulang menuju kampus. Alhamdulillah, nyampe depan Gedung Sate hujan turung deres banget. Beruntungnya, aku dan adik udah pakek mantel. Selama perjalanan senyum-senyum sendiri ngerasain hujan sederas itu. Seperti biasa, rasanya menyenangkan diguyur pengabulan doa.[]

Cinta Sendiri

짝사랑

Ini judul mirip sekali dengan sebuah lagu milik Kahitna. Sempat ada masa aku suka memutar lagu itu bolak-balik. Hari ini rasanya teramat lucu mengingatnya. Ah, paling tidak, aku pernah mengalaminya. Rasanya memang belum lengkap sebuah blog bertajuk waitingroom tanpa tulisan cinta sendiri ini. Harus ada dan pernah satu tulisan yang mewakili penantian panjang tanpa ujung! Inilah satu-satunya tulisan itu.

Cinta sendiri  memang jarang disebut-sebut di negara ini. Ia hanya ada di judul lagu. Orang Indonesia lebih akrab menyebutnya cinta bertepuk sebelah tangan. Ya, sebuah gerakan yang sebenarnya hanya goyangan tangan. Bukan tepukan kalau dilakukan hanya oleh sebelah tangan. Tidak pernah akan ada suara tepukan jika yang melakukan bukan kedua tangan. Barangkali, dengan cara inilah ketidakmungkinan disampaikan.

Dalam bahasa Inggris, cinta sendiri sering dibahasakan dengan “Unrequited love” atau cinta yang takberbalas. Ini jelas sama dengan kasih taksampai versi Indonesia. Keduanya memang jelas-jelas menyiratkan pesan bahwa cinta itu takmungkin lagi bertemu di sebuah persimpangan. Bahasa baru soal cinta sendiri ini aku temukan juga di Korea, negara yang menurutku paling dramatis soal cinta. Ia lebih drama dari telenovela zaman dulu. Mungkin karena kedekatan warna rambut atau bagaimana, aku gak ngerti juga. Yang pasti ceritanya lebih bisa diterima ketimbang telenovela. Di Korea, cinta sendiri dibahasakan dengan kata  짝사랑  “caksarang” atau cinta sepihak.  Ada beberapa drama yang menceritakan jenis cinta ini, walaupun akhirnya cinta sang perempuan/ laki-laki berbalas juga. Tetapi mereka amat sangat terbebas dengan cinta sepihak ini.

Dalam cinta sepihak, seseorang bisa melihat dan memerhatikan orang yang dicintai dari jauh dengan perasaan bahagia, walaupun orang yang dicintai telah berpasangan atau menikah. Bila yang dicintai berbahagia, ia dapat berbahagia tanpa harus meminta izin pada siapapun. Sebaliknya, bila yang dicintai bersedih, si empunya cinta boleh ikut bersedih tanpa harus menceritakannya pada siapapun. Cinta sepihak membebaskan seseorang berkorban semaunya untuk yang dicintainya. Tentu dalam keheningan tanpa harus diketahui oleh siapapun, termasuk orang yang dicintai. Cinta sepihak takmengenal batas waktu. Dia bisa terus ada sampai kapanpun walaupun yang mencintai secara formal sudah memiliki kekasih atau bahkan menikah. Ini gila memang. Tetapi begitulah salah satu kenyataan cinta sepihak. Cinta sepihak berakhir bukan karena status hubungan. Ia tamat ketika si empunya cinta memutuskan  untuk mengakhirinya.

Sederhana bukan? Tidak ada paksaan untuk sebuah balasan. Tidak ada kengerian tentang kesedihan karena yang dicinta sedang bersama orang lain. Ini bukan tentang dua orang, ini hanya tentang satu orang dengan cintanya. Di sebagian negara, ini mungkin masuk pada kategori penyakit jiwa hahaha! Di sebagian lagi mungkin dianggap sebuah dosa. “Iya lah! Mencintai seseorang yang sudah berpasangan resmi apa namanya kalau bukan dosa?!” kata sebagiannya. Semua akan biasa-biasa saja jika yang cinta sendiri ini takmenutup hati untuk cinta lain. Dia hanya sedang bersenang-senang dengan cintanya tanpa menutup peluang untuk yang mencintainya. Lagi-lagi, ini gila memang. Sebagia menyebutnya obsesi. Hmm.. Obsesikah ia jika tanpa rasa ingin memiliki? Dari terminologi-terminologi ini aku hanya tahu dalam cinta sendiri yang ada cuma bahagia.

“Kasihan!” mungkin itu yang tercetus dalam pikiran orang-orang yang mengamati. Apakah yang dicintai takpunya hati, sampai-sampai taksadar ada sosok yang mencintai begitu rupa?  Ya, mungkin aku termasuk yang berujar  demikian. Tetapi, ketika sampai pada pernyataan itu, aku jadi ingat Yang Selalu Cinta Sendiri tanpa berharap balasan. Dialah Allah SWT yang menciptakan cerita terbaik tentang kita, memberi pelajaran terbaik tentang jalan hidup yang kita pilih, memberi kebaikan-kebaikan demi kebahagiaan kita tanpa mengharap balasan. Kepada-Nya setiap kita pun jelas-jelas harus belajar membuka hati. Dari sini kita jadi tahu bahwa memberi tanpa mengharap balasan pun bisa terjadi, dan membuka hati untuk membalas cinta pun perlu perjuangan. Jika kamu kasihan pada yang cinta sendirian, paling tidak, belajarlah untuk membalas cinta Allah SWT padamu. Jangan biarkan Ia mencinta sendirian.[]

*tulisan ini takbernas. Maaf jika ada yang taksepakat 🙂

gambar dari sini

Perihal Boikot Produk Prozionis

boycott-bullets.560x388

Berita tentang bagaimana zionis menjajah Palestina telah sampai padaku sejak SMA. Seperti sebuah mimpi buruk atau bahkan film perang sadis, kejadian yang dialami warga Palestina takpernah terbayangkan akan terjadi di Indonesia. Seruan untuk memboikot produk-produk prozionis baru aku ketahui sejak kuliah. Setelah dilihat daftar produknya, waw! Barang-barang yang aku gunakan bukan hanya ada tapi banyak! Ada kecamuk di benak ketika memutuskan untuk mengganti barang-barang yang biasa digunakan. Sampai hari ini aku bisa katakan bahwa memboikot produk prozionis adalah sebuah perjalanan gaya hidup. Ini amat personal dan idelogis. Ini tentang kemana uangmu kamu belanjakan.

Produk-produk perusahaan prozionis ini banyak macamnya, ada yang takterhindarkan dan ada yang bisa disubstitusi dengan produk lain. Berdasarkan pengalamanku, yang takterhindarkan adalah intel yang ada di komputer atau laptop. Dalam keadaan takdapat menggunakan produk lain, pada bagian ini aku mengaku, aku punya satu intel dan sedang aku gunakan untuk menyerukan bahwa produk ini menjadi bagian dari produsen peluru pembunuh saudaraku di Palestina. Semoga tulisan ini bisa menggerakkan anak bangsa untuk membuat produk dalam negeri serupa intel bahkan lebih canggih dari itu.

Yang berkali-kali ditanyakan oleh rekan seperguruan soal boikot ini adalah Facebook dan jejaring sosial yang pemiliknya berdarah Yahudi. Aku hanya bisa bilang, media sosial ini aku gunakan untuk membagi gambar-gambar kedzaliman yang dilakukan oleh bangsa si empunya Facebook. Prinsipku mengacu pada Al quran, “Mereka punya makar, Allah punya makar. Allah sebaik-baik pembuat makar.” Aku dengan jelas dapat membayangkat keresahan zionis yang bekerja di Facebook ketika server mereka pada beberapa hari ini penuh dengan foto-foto kejahatan bangsanya. Mungkin boleh jadi mereka tertawa menang. Tetapi hati nurani siapa yang takakan gelisah membaca kutukan atas kejahatan mereka yang diunggah oleh ribuan bahkan jutaan orang dan lembaga di berbagai negara. Selain itu, masih banyak pula orang baik dan lembaga yang menggunakan Facebook untuk menyeru pada kebaikan. Menurutku, ini adalah bagian dari makar Allah SWT. Allah SWT memberi fasilitas menggunakan tangan musuh-Nya. Yang salah, adalah yang tidak menggunakannya untuk kebaikan.

boycott-card.jan2012.front.640

Perusahaan yang menyokong zionis rata-rata adalah perusahaan multinasional. Strategi marketinyapun tentu takmain-main. Yang ditawarkan bukan lagi produk tapi gaya hidup. Keyakinan palsu ditanamkan kepada konsumen yang kemudian mengubah gaya hidup. Contohnya, sampo Clear sebagai mitos sampo antiketombe di Indonesia. Ketika membaca produk sampo antiketombe yang diluncurkan oleh perusahaan dalam negeri, mungkin kita akan sok pintar mencari tahu bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Bagaimana produk ini bisa menghilangkan ketombe? Apakah benar rempah-rempah ini dapat membersihkan kulit kepala? Lalu dengan bodoh kita menyandingkan bahan-bahan yang tertulis dalam kemasan Clear dengan bahan-bahan yang terdapat pada produk sampo lokal. Demikianlah kepercayaan palsu itu dibuat oleh produsen Clear. Dengan tangan terbuka kita menerima penghinaan “Orang Indonesia cuma punya ketombe!”

Kepercayaan palsu ini membuat setiap orang ragu mencoba produk lain. Padahal Clear nggak bikin kepala bersih dari ketombe. Bahkan ketombe itu tetap ada dan bertahan karena kalau ketombe hilang, orang akan berhenti menggunakan Clear. Personalitas memboikot produk tersebut ada pada bagian ini. Relakah kita –yang seolah-olah sudah mempercayakan rambut kepada Clear- mencoba dan mengganti sampo dengan produk lain? Belum lagi dari sisi harga yang lebih murah, atau potongan harga yang lebih tinggi. Ah, cuma kasih sayang kepada sesama muslim yang bisa membuat kita (terutama perempuan) bergerak. Karena perihal kepercayaan terhadap sebuah produk konsumer di zaman ini berkaitan dengan hasrat. Hasrat ini bersifat bawah sadar, dan pengendalian hasrat hanya bisa dilakukan dengan rasionalitas ideologi yang mengakar dalam diri.

boycott-card.jan2012.back.640
Produk-produk yang masuk list boikot itu kualitasnya selalu lebih baik dari produk substitusinya. Ya! Benar sekali. Pemutih wajah, pelembut pakaian, kopi instan, minuman ringan, makanan siap saji, coklat, kosmetik, dan berbagai produk yang sudah seperti jaring laba-laba yang membelenggu kita itu dari sisi branding memang selalu terlihat paling baik. Namun, lagi-lagi aku katakan, itu hanya citra-citra yang dibuat agar kita sebagai konsumen terus menerus mereproduksi kebutuhan terhadap produk-produk tersebut. Saat meminum kopi di Starbucks pada dasarnya pahit yang kamu rasakan sama dengan pahit kopi tubruk di angkringan. Bedanya hanya satu, ketika kamu minum kopi Starbucks saat itu pula kamu sedang menyeruput darah rakyat Palestina.

Mereka yang suka berapologi acap berargumen padaku, “Orang Palestina juga minum Pepsi.” Atau, “Berdasarkan riset ekonomi, angka konsumsi negara-negara muslim terhadap produk prozionis ini tidak signifikan. Kita lihat lah, mayoritas muslim itu berada di negara miskin dan negara berkembang. Mana mungkin angka konsumsinya bisa berpengaruh terhadap pendanaan senjata untuk menyerang Palestina!” Lagi-lagi aku katakan, pemboikotan produk prozionis ini sesuatu yang ideologis. Ini bukan lagi tentang kepedulian kepada warga Palestina berdasarkan hitung-hitungan matematika. Bahkan rasa kemanusiaanpun takcukup. Ini sudah berkaitan dengan rasa cinta kepada saudara seaqidah. Ini tentang bagaimana Islam sebagai ideologi diintegrasikan dalam gaya hidup. Lebay? Bodo amat!

Bagaimana dengan orang-orang yang berteriak boikot tapi pada kenyataannya tetap menggunakan produk prozionis itu? Inilah yang membuatku setelah bertahun-tahun baru berani menulis hari ini. Aku amat takut menjadi bagian dari orang-orang yang menjilat ludah sendiri. Kembali aku katakan, memboikot produk prozionis merukapan perjalanan panjang tentang mengendalikan gaya hidup. Tidak semua orang bisa melakukannya dengan sempurna. Aku cuma bisa menyampaikan kalimat ustadzah Yoyoh Yusroh, “Bersikap ketatlah terhadap diri sendiri, dan berusaha longgar terhadap orang lain.” Ketika kamu yang membaca tulisan ini takpernah teriak-terika boikot tapi berkeinginan untuk memboikot, lakukanlah. Jangan biarkan mereka yang takkonsisten membuatmu terpengaruh. Jangan biarkan mereka yang goyah membuatmu memuntahkan pertanyaan nyinyir. Kita yang nggak ngaku aktivis dakwah tapi boikot produk prozionis dalam diam menurutku berkali-kali lebih keren ketimbang orang-orang yang ngaku da’i, antizionis, tapi di kamar mandinya masih ada produk prozionis.

Perjalanan gaya hidup ini seperti gelombang, ada pasang surutnya. Di depan kulkas eskrim kadang pikiran mulai mengungkapkan permakluman untuk sekali saja merasakan Magnum. Atau rasa penasaran dengan wangi parfum Kelvin Clain membuat kita balik kanan dari kios parfum isi ulang. Tapi itulah perjalanan. Kalau sudah mengalami sengitnya perjalanan ini, saudara-saudaramu di Palestina seolah menyapamu ketika memilih produk di swalayan. Mereka akan kamu ingat ketika mengambil satu demi satu bumbu yang ada di dapur. Mereka akan ada pada pilihan air mineral yang kamu minum ketika kehausan. Bahkan, mereka bisa tiba-tiba kamu ingat ketika memasuki kamar mandi teman, guru ngaji, atau orang yang baru saja kamu kenal. Produk-produk itu tanpa sadar bertebaran di sekeliling kita. Menghindarinya perlu perjuangan.

10384734_10202181152351272_8505087147279214557_n
Kalau sudah terbiasa, kamu akan merasa biasa-biasa saja berbelok dari Dunkin Donuts ke kios Donat Madu. Kamu akan merasa acuh menggunakan krim pemutih Wardah ketika yang lain memakai Ponds atau Maybelline. Kamu akan tenang-tenang saya makan di warteg ketika yang lain makan siang di KFC atau McD. Kamu akan biasa-biasa saya menyeruput kopi tubruk di angkringan ketika yang lain meminum Starbucks Coffee. Kamu akan biasa saja takpernah seumur hidup merasakan eskrim Magnum demi cintamu kepada sesama muslim di Palestina. Semua produk itu jadi indah karena citra yang ditampilkan dalam iklan. Padahal aslinya biasa-biasa saja. Biasa-biasa sajalah, karena hidup hanya tentang perjalanan yang berakhir dengan kematian. Yang menggiurkan di dunia hanya sementara. Keabadian itu cuma ada di akhirat. Di sana kita tidak akan ditanya tentang bagaimana manisnya eskrim Magnum, nyamannya ngopi di Starbucks Coffee, atau segarnya minum Coca cola. Tetapi, di sana kita pasti ditanya kemana uang kita dibelanjakan. []

*gambar dari sini

Sebenarnya Kamu

image

Dear Sukab,

Sukab, apa kabar senja? Masihkah ia menawarkan keindahan yang pasti berakhir? Masihkan ia mencampurkan keremangan dengan rasa getir yang sukar dijelaskan? Sudah lama aku tidak dapat menikmatinya. Terlalu banyak bangunan yang menghalangiku untuk menengadahkan kepala. Atau aku memang sedang takmengizinkan diriku mengamatinya untuk waktu yang agak lama. Rasionalitas hidup memaksaku untuk menghindari perasaan sentimentil saat menatap senja. Ia terasa biasa saja kini. Hanya gurat jingga penanda malam akan segera tiba.

Sukab, pada pertemuan kita nanti, bolehkah aku bertanya tentang luka? tentang siapa yang paling menorehkan luka terdalam di hatimu dan bagaimana kau menyembuhkannya. Aku hanya tidak ingin menjadi orang itu. Aku hanyai ingin menghindari apa yang ia lakukan terhadapmu.

Bermain di dunia luar membuat aku bertemu banyak jenis manusia, merasakan bagaimana menghadapi mereka. Kepelikanku hanya satu, memperlakukan mereka dari sudut pandang mereka, bukan hanya dari sudut pandangku sendiri. Yang berat adalah menyadari demikianlah mereka hidup, menjalaninya sebagai rutinitas, dan menerimaku sebagai satu bagian dari rutinitas hidup mereka. Menangkap kecemasan mereka sekuat tenaga dengan cara paling benar ternyata rumit juga. Apalagi ketika kadang kala kecemasan itu takberarti sedikitpun buatku. Membaca kekecewaan mereka terhadap sesuatu ternyata tidak mudah, karena setiap orang memiliki sumber kekecewaan masing-masing.

Aku kadang berpikir, dengan kehadiran yang singkat, dapatkan aku menjadi bagian yang menyisakan kenang paling lama dalam ingatan mereka? Aku amat sangat sadar, bahkan dalam dunia yang sementara ini, aku masih ditakdirkan untuk menjadi yang sementara. Itulah pekerjaan rumahku kemudian. Bagaimana membuat satu demi satu bagian dalam hidupku memasukanku dalam kenangan dan ingatan mereka. Bukankah manusia hidup dalam kenangan dan ingatan?

Bagaimana cara menatap orang lain bukan dari perspektifku? Bagaimana cara membaca aku dari perspektif mereka? Bagi sebagian orang mungkin sangat mudah dan mengalir begitu saja, tapi bagiku itu perlu dipelajari. Belum lagi kebiasaanku yang payah dalam basa-basi. Lebih baik diam daripada salah bicara. Soal ini semua, semoga aku bisa belajar darimu Sukab.

Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan sosok serupa kamu. Mengagumkan memang, terlihat tulus dan berusaha sebaik mungkin menjadi dirimu. Tapi rutinitas mengembalikannya pada dirinya yang asli. Ah, bicara apa aku ini? Benar kata seorang teman, kamu bukan sosok mengagumkan, tapi menenangkan. Pantaslah waktu aku melihat manusia seolah-olah kamu itu, ada kecemasan aneh dalam benakku. Ada semacam ketakrelaan. Pada pertemuan pertama kita nanti, aku mohon jadilah sebenar-benarnya kamu agar aku takterlalu sulit menemukanmu.

Yang selalu rindu,

Maneka

*gambar dari sini

Dare To Dream: Work In Progress!

inprogress
Mimpiku yang lain nggak jauh beda sama daily dream perempuan-perempuan biasa. Aku ingin punya keluarga kecil dengan rumah dan berbagai fasilitas yang memadai. Mungkin aku salah satu korban film Full House sampai-sampai salah satu rumah impianku arsitekturnya semacam itu, luas, dipenuhi cahaya matahari, dekat dengan alam, dan nyaman dijadikan tempat menulis. Itu aku targetkan maksimal pada tahun 2023. Hmm.. sembilan tahun lagi berarti. Semoga terwujud.

Full_House
Pada waktu yang sama aku juga ingin punya empat orang anak. Dalam mimpi-mimpiku tak ada hal spesifik yang aku tuliskan tentang anak-anakku kecuali di mana mereka akan kuliah dan berapa jumlah hafalan Al Quran mereka. Entah mengapa aku menargetnya amat sangat lama. Dalam sembilan tahun anak pertamaku hafal 8 Juz, anak kedua hafal 6 juz, anak ketiga hafal 4 juz, dan anak keempat hafal 2 juz. Mungkin karena aku termasuk perempuan yang ingin mendidik anakku sendiri. Aku tidak mau kehilangan anakku dengan menyimpannya di asrama atau lembaga hafalan Quran yang biasa menargetkan anak untuk hafal Al Quran dalam dua tahun.

reading quran together
Pada tahun 2024-2029, tanpa menghitung berapa usia anak-anakku, aku menargetkan mereka sekolah di Turki, Mesir, atau negara lainnya. Mungkin di pikiranku lima tahun lalu, aku ingin mereka kuliah di sana. Pada rentang tahun yang sama, aku berharap kedua orangtuaku tinggal di rumahku. Hafalan Al Quran anak-anakku semakin bertambah. Anak pertama 20 Juz, Anak kedua 18 Juz, Anak ketiga 16 Juz, Anak keempat 14 Juz, Anak kelima 12 Juz, Anak keenam 10 Juz. Pada usia 42 tahun bahkan target hafalanku baru 15 juz. Target ini membuatku sadar bahwa aku termasuk manusia yang mementingkan proses, bukan hasil. Progress adalah sesuatu yang kuanggap lebih menyenangkan dijalani daripada hasil yang dicapai.

Sampai akhir 2029 aku punya lembaga tahsin-tahfidz, butik, lembaga bimbingan bahasa asing di berbagai kota di Indonesia. Aku juga ingin I’tikaf di masjidil haram bersama keluarga, haji, umroh, reportase pembebasan Al Aqsa ke Palestina, dan berbagai mimpi yang kadang logis kadang tidak. Terkadang aku juga sadar daily dream sebagai seorang perempuan jauh dari sinkron dengan big dream yang aku buat. Pada saat aku ingin menjaga anak-anakku di rumah, aku juga masih ingin menjadi pembicara di konfrensi Internasional yang membahas Islam dan Perkembangan Kebudayaan di Era Postmodern. Pada saat aku ingin menikmati rumah yang nyaman untuk bekerja sebagai penulis, aku juga ingin reportase ke Palestina. Ketidaksinkronan ini pula yang mungkin beberapa orang menolaknya bahkan mempertanyakannya.

Sederhananya, aku hanya perempuan biasa yang ingin masuk surga karena rahmat Allah dan punya generasi sahabat Al Quran, punya kiprah di bidang cultural studies dan jurnalistik. Membangun surga di dunia dan di akhirat. Untunglah di akhir mimpiku, aku taklupa menulis “Hanya berharap atas kemahaberkehendakan Allah. Apabila ada yang tidak rasional, ini adalah mimpi yang diberi batas waktu. Mohon maaf.”

*tulisan getir orang yang nulis mimpinya di excel dan selama hampir setahun nggak pernah nengok mimpi-mimpinya.
** bukan pencitraan

*** gambar dari sini sini sini

Dare To Dream: Semangat Taubat dan Munajat Bikin Kita Kuat

dream

Dalam usia yang tidak muda lagi, mungkin amat konyol mengikuti GA tentang mimpi. Pada angka 27, bercerita soal mimpi mungkin semacam membenturkan kepada ke tembok berlapis baja sekuat-kuatnya untuk menyadarkan keterlambatan diri. Hmm, tapi biarlah. Aku hanya ingin bercerita dan mungkin mengenang soal seberapa membara semangatku waktu membuat target hidup beberapa tahun lalu. Semoga percikannya masih ada dan bisa mengingatkanku kembali soal mimpi-mimpi itu.

Menuliskan mimpi dengan serius baru aku pelajari lima tahun lalu. Setiap mimpi diberi batas waktu agar ia berubah menjadi target hidup. Waktu itu visi utamaku “Semangat Taubat dan Munajat Bikin Kita Kuat.” Hmm, entah dari mana kalimat tersebut tercetus. Hari ini amazing aja bacanya, ternyata taubat sudah menjadi semacam mantra yang aku rapal sejak dulu. Semoga kata itu bisa terus menerus aku lakukan sepanjang hayat, karena tidak ada manusia yang selamat dari dosa-dosanya tanpa taubat.

Mimpi-mimpi itu dibuat dalam rentang lima tahunan. Targetnya dibagi menjadi ruhiyah (rohani), jasadiyah (fisik), maliyah (keuangan), fikriyah (pengetahuan), dan lain-lain. Karena terlalu banyak, aku share beberapa mimpi yang menurutku agak aneh aja ya. Pada target 2010-2011 target lain-lainku ternyata berkaitan dengan attitudeku yang agak miring. Dalam setahun aku bertarget: Makin rapi, Makin hemat, Makin logis matematis, Ramah, Sabar, Shalehah, Menghargai orang lain. Ngomong-ngomong ternyata penilaianku terhadap attitude pribadi minim sekali, sampe bikin target demikian. Hikmahnya siy, kadang bikin target pada detail diri sendiri pun perlu ternyata. Itu memperlihatkan seberapa besar cintamu terhadap dirimu sendiri.

Target selanjutnya pada tahun 2012-2017 yang tentu sekarang target itu belum berakhir. Beberapa target ruhiyah yang tercatat: Hafal 3 Juz, Menikah di 15 April 2012, QL Bersama Suami, 2 anak. Dari target-target itu, cuma target hafalan yang tercapai. Setelah sempat menjadi bagian dari lembaga hafalan Quran aku jadi tahu bahwa targetku itu sangat rendah. Banyak temen-temen di sana yang menargetkan hafal 30 juz dalam satu tahun. Kadang terpikir, begitulah Allah SWT mengabulkan permintaan hamba-Nya. Kalau target sedikit, tetap dikabulkan dengan yang sedikit itu. Saranku, buat temen-temen yang nyasar ke sini, soal hafalan Quran, targetkanlah 30 Juz agar tidak menyesal di kemudian hari. Target lain kalo dilihat lagi, lucu aja rasanya mau menikah sampai sudah ada tanggal tanpa memikirkan bagaimana mewujudkannya hahaha! Aku jadi tahu, seberapa utopis otakku waktu itu. Aku masih punya waktu 3 tahun lagi memang. Tapi nampaknya target ini sudah jelas kegagalannya.

magister

Target konyol lainnya di tahun 2012-2017 adalah punya BB atau Iphone. Yang kayak begituan musti ditulis ya?! Berita buruknya, sampai saat ini aku belum dapat ilham untuk memiliki dua benda tersebut. Nampaknya lima tahun lalu benda itu udah jadi mitos sampe-sampe aku nulis di list target hidup. Dari sisi fikriyah atau pengetahuan, target yang baru tercapai (walaupun agak meleset) adalah menjadi Master of Art atau Magister Humaniora. Soal pencapaian target ini aku bisa bilang kalau kekuatan menulis mimpi itu memang bekerja. It works! Resign dari kantor juga jadi salah satu target (karena mau ngurus anak) hahaha! Ini anaknya belum ada, resign-nya udah. Itu lawakan selanjutnya.

korean

Mimpi (yang menurutku) gila selanjutnya adalah adalah keinginan untuk melanjutkan kuliah Cultural Studies di Korea University pada 2018 – 2023. Kenapa harus Korea? Apa aku termasuk salah satu yang terkena wabah Korean Wave di Indonesia? Hmm.. Justru itulah yang membuat aku amat tertarik untuk mengambil Cultural Studies di sana. Bagaimana cultural imperealism direncanakan dan dijalankan oleh Korea pada beberapa negara? Tentang hal ini aku sangat penasaran. Mengapa semua ini gila? Karena ternyata minatku pada mengajar amat sangat rendah. Sejak awal mengambil kuliah lanjutan hanya karena keinginanku untuk kembali belajar, mendekam di perpustakaan, dan mencium bau khas buku-buku tua perpustakaan. Mengapa rencanaku dalam dunia akademik begitu jelas, sampai-sampai pada 2024-2029 aku berencana menjadi salah satu guru besar di sebuah universitas. Nah! Gilanya sebelah situ.

Masih banyak kegilaan lain yang ingin aku share, tapi nampaknya bakal telat, udah deadline. Insya Allah ada part 2 hehe..

I DECLARE, I WILL ACCOMPLISH MY DREAMS

 

*Part 2: Dare to Dream: Work In Progress di sini

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript