Menuju Pertanyaan Prioritas

islam-di-indonesia

peta persebaran Islam di Indonesia

Baiklah, setelah lama membiarkan blog ini takberguna, akhirnya saya harus kembali menulis. Paling tidak, beberapa tulisan dapat menjadi bukti bahwa ruang tunggu sunyi ini bisa menjadi tempat untuk menemukan-Nya.

Pada awalnya…

Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas muslim. Mayoritas muslim di Indonesia menjadi muslim karena orangtuanya muslim. Berdasarkan pengalaman saya, sebelum teknologi informasi datang ke Indonesia, pengetahuan agama didapat dari ulama-ulama pesantren tradisional. Sebagai anak yang dekat dengan lingkungan Nahdatul Ulama, bagi saya, Islam adalah berbagai hal yang tergambar dalam kitab-kitab kuning dan tafsir Jalalain. Pendidikan Islam tradisional mengajarkan bahwa Islam adalah hukum halal-haram, ritual keagamaan, perbedaan fiqh. Penguasaan bahasa Arab –menghafal kitab Alfiyah misalnya- dilakukan untuk membaca dan menjelaskan kembali kitab-kitab kuning dan beberapa tafsir klasik. Mempelajari Islam lebih dalam berarti mempertajam pengetahuan tentang sufisme. Orang-orang yang sudah menguasai bahasa Arab biasanya berpindah mempelajari syair-syarir sufi yang direpresentasikan sebagai cara untuk mendekati Allah SWT. Pola pendidikan tersebut saya dapatkan  di pesantren.

Hal itu memang kontras dengan pendidikan yang saya dapat di Rohis –pascareformasi tentunya. Islam yang saya pelajari di Rohis bukan lagi lingkaran pengetahuan yang personal dan bersifat teoretis. Islam tidak lagi sebagai aturan hitam-putih yang hanya berbicara halal, haram, bid’ah dalam ibadah. Kesempurnaan Islam mulai terlihat terlihat di mata saya. Sebagai sebuah jalan hidup yang dianut umat manusia, Islam meliputi segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Apalagi ketika Tarbiyah memperkenalkan muslim sebagai sebuah ummah. Tarbiyah memperkenalkan Palestina, Suriyah, Turki, Mekah, Madinah, dan tempat-tempat yang antah berantah bagi saya sebelumnya. Sebelumnya saya tidak pernah tahu Al Aqsa eksis di muka bumi ini. Tarbiyah membuka pengetahuan saya tentang dua kalimat syahatah sebagai sumber ikatan persaudaraan yang lebih kental dari darah. Islam sempurna tidak hanya sebagai jalan hidup tapi juga sebagai sebuah entitas.

Kemudian dua pola pendidikan ini menguat di Indonesia sampai saat ini. Pascareformasi, entitas muslim mulai mengambil langkah politik dengan Islam sebagai identitas. Sebenarnya hal ini wajar terjadi karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Namun, publik membuatnya tidak wajar karena prareformasi muslim dengan keislamanya dikerdilkan di pesantren-pesantren. Sufisme sebagai religiusitas tertinggi ala pesantren membuat citra muslim ideal adalah mereka yang salih pribadi dan jauh dari keramaian dunia. Menghadapi dunia dengan identitas Islam dianggap menodai kesakralan Islam sebagai sebuah agama. Berpolitik dianggap menjual agama demi kekuasaan.

Pada periode selanjutnya gerakan Islam mulai berkembang. Orang-orang dari gerakan muslim di Indonesia mulai sadar bahwa salah satu hal yang dapat menguatkan muslim sebagai ummat adalah ekonomi. Para ustadz mulai sadar bahwa dakwah Islam perlu ditopang dengan dana memadai. Menjadi kaya untuk menopang dakwah adalah sesuatu yang tidak diharamkan dalam Islam. Kemudian lagi-lagi budaya pesantren membentur gerakan ekonomi ini. Ulama yang memiliki harta berlebih dinilai tidak zuhud. Zuhud yang diajarkan sufisme lagi-lagi membuat pelaku dakwah ekonomi menjadi antagonis. Bank syariah, koperasi syariah, asuransi syariah dan berbagai lembaga yang berkaitan dengan syariah dicitrakan sebagai akal-akalan lembaga konvensional untuk menambah nasabah.

Kemudian…

Setelah Indonesia dilanda era media Informasi, muslim –terutama remaja- kebanjiran informasi. Muslim yang mendapatkan pola didik di pesantren kini menjadi orangtua. Sebagian dari mereka tetap berislam dengan pengetahuan pesantren tradisionalnya, sebagian mendapatkan pengetahuan baru dari gerakan-gerakan Islam yang menyentuh realitas. Diterima atau tidak, orangtua yang tetap hidup dengan pengetahuan dasarnya hanya akan sibuk dengan pertikaian sektarian antara kebijakan NU, Muhammadiyah, Persis, dll. Mereka hanya akan sibuk dengan perdebatan qunut dalam salat, hilal Idul Fitri, dan berbagai hal cabang dalam Islam. Orangtua muslim yang meluaskan pengetahuannya melalui gerakan Islam akan terbagi dua golongan: pertama, mereka menerima kesempurnaan Islam sebagai sebuah pengetahuan –sama seperti ketika mereka belajar Islam di pesantren. Kedua, mereka menerima kesempurnaan Islam sebagai sesuatu yang dapat direalisasikan dalam hidup.

Pada saat yang sama, para remaja (anak-anak dari orangtua yang mendapatkan pendidikan Islam seperti saya) menjadi bagian dari masyarakat global melalui internet. Jendela dunia (ponsel pintar) sudah ada di genggaman tangan mereka. Di satu sisi mereka mendapat berbagai pengaruh dunia luar seperti sinetron, musik, drama Korea, KPop, film Hollywood, dsb. yang jauh dari nilai-nilai Islam. Di sisi lain mereka mendapatkan informasi simpang siur tentang Islam yang mereka anut sejak lahir. Sejak internet sampai ke Indonesia, islamophobi bukan lagi sesuatu yang terjadi di barat. Media-media di Indonesia meramunya dan membuat muslim menjadi komunitas antagonis. Perdebatan tentang muslim yang berpolitik dan terjun ke dunia ekonomi menjadi topik yang dikapitalisasi.

Selanjutnya…

Perdebatan antarumat muslim tidak menutup kemungkinan pada satu waktu akan dipertanyakan kepada para remaja yang kebanjiran informasi ini. Lebaran tahun ini kamu ikutan NU atau Muhammadiyah? Kenapa kamu qunut dia nggak qunut? Kenapa di masjid ini tarawihnya 11 rakaat di masjid itu 23 rakaat? Kemudian pertanyaan akan semakin melebar, Indonesia kan negara Pancasila, kenapa sih ada partai politik Islam yang pakek asas Islam? Beneran gak sih bank syariah itu menerapkan sistem syariah? Kok ada ya ustadz yang ke mana-mana pakek mobil mewah? Kamu lihat video pembunuhan oleh ISIS gak? Islam ngajarin membunuh ya? Kemudian pertanyaan itu akan membuat remaja muslim tidak nyaman dengan keislamannya. Remaja yang tidak mengetahui jawabannya akan berkata, “bukan urusan gue.” Remaja yang mulai belajar Islam akan menanyakan jawabannya kepada guru ngajinya sambil feel bad dengan keislamannya. Mereka akan mencari jawaban bukan untuk menambah keimanan tapi untuk melakukan perdebatan. Pertanyaan-pertanyaan cabang ini akan membuat mereka abai dengan pertanyaan utama: Untuk apa saya diciptakan? Apa yang harus saya capai dalam hidup? Ke mana tujuan akhir hidup saya? mengapa saya saya muslim? Mengapa saya menyembah Allah SWT? Benarkah akhirat itu ada? Apakah surga dan neraka itu ada?

Kejadian ini pernah dialami oleh Yahudi dan Nasrani pada zaman dulu. Al Quran mengabadikannya dalam QS As-Syura: 14.

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka  ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pasti hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh orang-orang yang mewarisi kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad SAW) benar-benar berada dalam keraguan mendalam tentang kitab (Al Quran) itu.”

Perdebatan para ahli kitab membuat generasi yang mewarisi kitab setelah mereka pada ratusan tahun kemudian ragu terhadap Al Quran –sebagai wahyu terakhir yang menyempurnakan kitab sebelumnya-. Generasi selanjutnya tidak akan mau bertanya kepada para pemuka agama yang berdebat. Kemudia mereka kehilangan kepercayaan terhadap Taurat dan Injil. Generasi yang mewarisi mereka –ratusan tahun kemudian- tidak percaya bahwa dalam Injil terdapat pesan tentang kehadiran nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Kemudian sebagian besar dari mereka meragukan kebenaran Al Quran yang dibawah oleh Rasulullah SAW.

Apa yang akan terjadi pada generasi muslim Indonesia mendatang? Jika para orangtua sibuk dengan pertanyaan cabang dan dilemahkan keimanannya oleh pertanyaan-pertanyaan absurd yang megantagoniskan Islam dan muslim, siap-siap saja generasi kita ratusan tahun mendatang akan mengalami keraguan yang sama. Pada awalnya mungkin mereka hanya meninggalkan Al Quran. Generasi selanjutnya akan menganggap ibadah sebagai sesuatu yang tidak penting. Generasi selanjutnya mungkin akan menganggap agama sebagai sesuatu yang bukan prioritas. Generasi selanjutnya akan menganggap semua ajaran agama sama. Generasi selanjutnya akan menikah dengan agama lain. Generasi selanjutnya akan hidup dalam keluarga yang berbeda agama. Generasi selanjutnya sudah tidak ada lagi muslim. Naudzubillahimindzalik.

Sebelum hal buruk ini terjadi pada generasi kita mendatang, tidak salah bila kita kembali menguatkan keimanan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan prioritas. Status kita sebagai masyarakat dunia global saat ini membuat kita tidak selamat dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat ragu/tidak percaya diri/merasa buruk/merasa bersalah dengan keimanan dan keislaman kita. Menjadi muslim di era teknologi informasi berarti menjadi muslim yang menguatkan syahadah terus-menerus. Tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan prioritas. Sebelum ajal menjemput, masih ada kesempatan untuk mempelajari Islam sebagai agama yang haq dari Allah SWT dan menjadi muslim yang paham bukan hanya muslim yang memeluk Islam karena keturunan.[]

Bersambung insyaAllah…

*gambar dari sini

Al Wahid – Al Ahad

68Al-Ahad_copy

Barangsiapa yang mengaitkan Allah SWT dengan berbagai keadaan, maka sesungguhnya dia tidak mempercayai keesaan Allah SWT. Yang menyerupakan Allah SWT dengan sesuatu sebenarnya dia tidak mengenal-Nya sedikitpun. Siapapun yang menduga dapat melukiskan-Nya, maka Dia pasti bukan yang dilukiskan. Orang yang menghayaklan-Nya, sebenarnya Dia bukan yang dihayalkan.

Waktu tidak bersama Allah SWT. Wujudnya mendahului waktu. Keberadaan-Nya tidak mendahului ketidakberadaan. Azali-Nya mendahului permulaan. Penciptaan-Nya atas indera diketahui bahwa Allah SWT tidak berindera. Dengan pertentangan dengan berbagai hal, diketahui bahwa Dia tidak mempunyai pertentangan. Dengan persamaan dengan berbagai hal, diketahui bahwa takada satupun yang menyamai-Nya.

Dialah Allah SWT, takterbatas oleh batas, takterhitung dengan jumlah, kata “sejak” ditolak oleh sifat qodim-Nya. Kata “sesudah” tidak sejalan dengan sifat azali-Nya. Kata “seandainya” tidak dikenal dengan sifat kesempurnaan-Nya. Dia tidak melahirkan apapun, sehingga tidak dapat dipandang telah dilahirkan. Dialah Allah SWT, terlalu tinggi untuk punya putra, terlalu suci untuk punya istri. Khayalan tidak dapat menjangkau-Nya. Maka mustahil memberikan kuantitas kepada-Nya. Pengertian tidak dapat memikirkan-Nya, maka bagaimana bisa memberi bentuk untuk-Nya.

Indera tidak dapat menangkap-Nya, sehingga bagaimana dia dapat diraba?! Malam dan siang tidak menjadikan-Nya tua. Terang dan gelap tidak menjadikan-Nya berubah. Dia tidak di dalam sesuatu dan dia juga tidak di luarnya. Dialah Allah SWT, menyampaikan berita bukan dengan lidah, juga bukan dengan bunyi. Dia mendengarkan bukan dengan telinga atau dengan organ pendengar. Dia melihat bukan dengan alat pelihat. Dia berkata-kata tanpa mengeluarkan kata-kata. Dia mengingat tapi tidak menghafal. Dia bertekad tapi bukan dengan ketetapan hati.

Dialah Allah SWT, mencintai tanpa perasaan, menaruh kasih tanpa perih. Dia membenci tanpa derita. Dia marah tanpa gejolak hati.

(Ali Bin Abi Thalib – Nahjul Balaghah).

*gambar dari sini

Efek Gosip di Antara Istri – Istri Rasulullah SAW

Setiap istri Rasulullah SAW punya cerita masing-masing tentang penyebab pernikahannya. Salah satu cerita istimewa adalah pernikahan Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy. Anas RA berkata, sesungguhnya Zainab binti Jahsy RA berbangga di antara istri – istri Rasulullah dan dia berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari tujuh lapis langit,” (HR Bukhari). Selain pernikahannya yang langsung dipernikahkan oleh Allah SWT, Zainab binti Jahsy adalah salah satu istri Rasulullah SAW yang berwajah cantik. Sayyid Quthb menyebutkan bahwa Aisyah RA merasa Zainab RA sebagai saingannya karena kecantikan dan nasabnya yang masih berhubungan dengan Rasulullah SAW dari pihak bibi. Zainab adalah sepupu Rasulullah SAW, (2004:329).

Suatu hari Rasulullah SAW meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy dan membuatnya berlama-lama di rumah Zainab RA. Hal ini membuat Aisyah RA cemburu, bergosip bersama Hafshah RA tentang kejadian itu. Mereka bersepakat apabila Rasulullah SAW mendatangi salah satu di antara mereka, mereka harus berkata, “Anda telah meminum maghafir (getap pohon yang manis tapi baunya tidak sedap). Saya mencium aroma maghafir pada diri Anda.” Ternyata Rasulullah SAW mendatangi Hafshah RA dan ia pun berkata sesuai kesepakatan. Lalu Rasulullah SAW berkata kepada Hafshah RA, “Tidak. Aku meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy, tapi aku tidak akan meminumnya lagi. Aku bersumpah. Maka, kamu jangan memberi tahu hal ini kepada orang lain,” (Qutb, 2004: 332).

Setelah kejadian tersebut, Hafshah RA kembali bertemu Aisyah RA dan menceritakan rahasia yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Gosip di antara mereka berdua menjadi penyebab turunya ayat:

Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab, “Yang telah memberitahuku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (At Tahrim: 3).

Peristiwa ini membuat Rasulullah SAW marah dan melakukan ila – bersumpah tidak akan mendekati keduanya selama sebulan penuh. Tersebarlah gosip di Madinah bahwa Rasulullah SAW akan menceraikan istri-istrinya. Allah SWT memberi peringatan kepada istri-istri Rasulullah SAW dengan ayat:

Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan,” (At Tahrim: 5).

Dengan ayat ini Allah SWT memberi gambaran kepada kita tentang sifat istri yang baik, yang bahkan dapat menjadi pengganti Aisyah RA dan Hafshah RA. Mereka adalah perempuan – janda atau perawan- yang patuh, beriman, taat, ahli taubat, ahli ibadah, dan ahli puasa. Sayyid Quthb menyebutkan bahwa sifat-sifat ini merupakan anjuran untuk istri – istri Rasulullah SAW. Dalam tafsir Fidzilalil Quran dijelaskan dengan rinci sifat-sifat tersebut:

  1. Al Islam adalah sifat yang menunjukkan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
  2. Al Iman adalah sifat yang mendamaikan hati dan membangunkannya dari dirinya dan muncullah sifat islami ketika iman sudah benar dan sempurna.
  3. Al Qanut adalah ketaatan hati.
  4. At Taubah adalah penyesalan atas masiyat dan dosa yang telah dilakukan dan mengarahkan diri pada ketaatan.
  5. Al Ibadah adalah wasilah berhubungan dengan Allah dan penggambaran tentang penghambaan kepada-Nya.
  6. As-Siyahah adalah merenung, bertadabur, dan berpikir tentang penciptaan Allah SWT dan berwisata dengan hati tentang penciptaan makhluk Allah SWT, (2004: 337).

Sifat- sifat tersebut dapat dimiliki oleh janda maupun perawan. Istri – istri Rasulullah SAW pun terdiri dari janda dan perawan.

Dari sisi qiraah, ada dua sifat yang dibaca panjang (maad) dari enam kriteria ini adalah taaibatin (ahli taubat) dan saayihatin (ahli puasa). Jika ditadaburi, dua sifat ini dibaca panjang karena berkaitan dengan maksiyat yang dilakukan kedua istri Rasulullah SAW tersebut. Bertaubat adalah hal yang paling disukai Allah SWT ketika hamba-Nya melakukan dosa atau maksiyat. Tidak ada seorangpun hamba yang terbebas dari dosa. Oleh sebab itu, taubat adalah sifat yang harus terus-menerus dilakukan oleh seorang istri yang baik. Terlebih kesalahan terhadap suami yang amat dekat dengan dirinya, bertemu, bercengkrama setiap hari. Tentu ada dosa-dosa kecil yang takterasa telah menyakiti hati suami. Tentang dosa kecil yang takterasa ini Rasulullah SAW bersabda,

“Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya di akhirat dari bidadari akan berkata, “Janganlah engkau mengganggunya, semoga Allah membinasakanmu. Sesungguhnya ia hanyalah tamu (sebentar) di sisimu, sebentar lagi ia akan meninggalkanmu menuju kami,” (HR At-Thirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah).[1]

Adakah perempuan yang rela suaminya dilirik oleh perempuan lain? Bahkan oleh bidadari dari surga pun seorang istri pasti tidak rela suaminya dilirik. Maka, bertaubat dengan wasilah meminta maaf kepada suami atas kecemburuan atau kecurigaan yang dirasakan adalah keutamaan.

Sifat istimewa kedua adalah saayihatin. Dalam terjemahan bebas, kata ini diartikan sebagai ahli puasa. Sayid Qutb menafsirkannya sebagai sifat merenung, bertadabur, dan berpikir tentang penciptaan Allah SWT dan berwisata dengan hati tentang penciptaan makhluk Allah SWT. Menjadi ahli puasa dan ahli tadabur merupakan keunggulan seorang muslimah. Berpuasa tentu bukan hanya berkaitan dengan makan dan minum tapi juga berpuasa dari hal-hal yang tidak disukai Allah SWT, salah satunya adalah bergosip. Mengistirahatkan lisan dari gosip adalah hal berat bagi perempuan.

Abu Musa Al-Asy’ari berkata, Rasulullah SAW ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab, “(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya,” (HR Bukhari & Muslim).[2]

Mampu menjaga lisan berarti mampu menjaga aib diri, aib suami, dan rahasia rumah tangga sendiri. Lisan seorang istri adalah interpretasi pendidikan sang suami terhadap dirinya. Oleh sebab itu, menjaga lisan sama dengan menjaga kehormatan suami ketika mereka tidak ada bersama kita. Dua sifat ini tentu merupakan buah dari keislaman, keimanan, ketaatan, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Sayyid Quthb menyebutkan bahwa setelah ayat (At tahrim: 5) ini turun, Rasulullah SAW kembali ridha dan tenang. Rumah yang mulia itu kembali damai setelah goncangan dahsyat. Rasulullah SAW tidak mungkin marah karena perkara yang ringan dan kecil. Kemarahannya karena pada perkara tersebut akan turun risalah dan petunjuk Allah SWT tentang sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang istri.

Pada penghujung surat At tahrim, Allah SWT kembali menjelaskan tentang istri mulia yang ada pada masa sebelumnya. “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.’ dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat,” (At tahrim: 11-12).

Sayid Quthb berpendapat bahwa, dua perempuan ini yaitu Asiyah binti Muzahim dan Maryam binti Imran merupakan teladan bagi perempuan mukmin yang suci, membenarkan, percaya, dan taat. Allah SWT telah memaparkannya sebagai perumpamaan bagi istri-istri Rasulullah SAW berkenan dengan kasus yang menjadi penyebab turunya ayat-ayat pembuka surat ini dan memaparkannya sebagai perumpamaan bagi perempuan mukmin pada setiap generasi sesudah mereka, (2004:344).

Rasulullah SAW juga menyebutkan, “Yang sempurna dari kaum lelaki sangatlah banyak, tetapi yang sempurna dari kaum wanita hanyalah Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid (roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah) atas segala makanan yang ada,” (HR Bukhari).[3]

Gosip terakhir di dunia ini adalah gosip yang dilakukan oleh Aisyah RA dan Hafshah RA karena setelah kejadian itu Allah SWT memberikan penjelasan paling jelas tentang sifat-sifat perempuan baik yang layak dijadikan pengganti istri yang suka bergosip. Peristiwa ini tidak mengurangi sedikitpun kemuliaan Aisyah RA dan Hafshah RA di mata kita. Bahkan Rasulullah SAW pernah bercengkrama dengan Amr bin ‘Ash dengan pembicaraan berikut, Suatu hari Amr bin ‘Ash bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, siapa manusia yang paling engkau cintai?” Rasulullah menjawab, “Aisyah,” (HR Bukhari).[4]

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan pengikutnya sampai akhir zaman.[]

Pustaka:

Quthb, Sayyid. Tafsir Fidzilalil Quran, Jilid 9. 2004. Jakarta: Gema Insani Press.

Quthb, Sayyid. Tafsir Fidzilalil Quran, Jilid 11. 2004. Jakarta: Gema Insani Press.

[1] http://muslimafiyah.com/berdoa-agar-kelak-tidak-mendapat-bidadari-di-surga-dan-hanya-berdua-dengan-istri.html

[2] http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/06/01/keutamaan-menjaga-lisan-dan-buah-hasilnya/

[3] http://www.dakwatuna.com/2012/04/15/19504/teladan-wanita-sepanjang-masa/#axzz3KiGQntK3

[4] http://kisahmuslim.com/kemuliaan-dan-keutamaan-aisyah/

Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Istri yang Baik

AgarDicintaiSuami

Perihal Boikot Produk Prozionis

boycott-bullets.560x388

Berita tentang bagaimana zionis menjajah Palestina telah sampai padaku sejak SMA. Seperti sebuah mimpi buruk atau bahkan film perang sadis, kejadian yang dialami warga Palestina takpernah terbayangkan akan terjadi di Indonesia. Seruan untuk memboikot produk-produk prozionis baru aku ketahui sejak kuliah. Setelah dilihat daftar produknya, waw! Barang-barang yang aku gunakan bukan hanya ada tapi banyak! Ada kecamuk di benak ketika memutuskan untuk mengganti barang-barang yang biasa digunakan. Sampai hari ini aku bisa katakan bahwa memboikot produk prozionis adalah sebuah perjalanan gaya hidup. Ini amat personal dan idelogis. Ini tentang kemana uangmu kamu belanjakan.

Produk-produk perusahaan prozionis ini banyak macamnya, ada yang takterhindarkan dan ada yang bisa disubstitusi dengan produk lain. Berdasarkan pengalamanku, yang takterhindarkan adalah intel yang ada di komputer atau laptop. Dalam keadaan takdapat menggunakan produk lain, pada bagian ini aku mengaku, aku punya satu intel dan sedang aku gunakan untuk menyerukan bahwa produk ini menjadi bagian dari produsen peluru pembunuh saudaraku di Palestina. Semoga tulisan ini bisa menggerakkan anak bangsa untuk membuat produk dalam negeri serupa intel bahkan lebih canggih dari itu.

Yang berkali-kali ditanyakan oleh rekan seperguruan soal boikot ini adalah Facebook dan jejaring sosial yang pemiliknya berdarah Yahudi. Aku hanya bisa bilang, media sosial ini aku gunakan untuk membagi gambar-gambar kedzaliman yang dilakukan oleh bangsa si empunya Facebook. Prinsipku mengacu pada Al quran, “Mereka punya makar, Allah punya makar. Allah sebaik-baik pembuat makar.” Aku dengan jelas dapat membayangkat keresahan zionis yang bekerja di Facebook ketika server mereka pada beberapa hari ini penuh dengan foto-foto kejahatan bangsanya. Mungkin boleh jadi mereka tertawa menang. Tetapi hati nurani siapa yang takakan gelisah membaca kutukan atas kejahatan mereka yang diunggah oleh ribuan bahkan jutaan orang dan lembaga di berbagai negara. Selain itu, masih banyak pula orang baik dan lembaga yang menggunakan Facebook untuk menyeru pada kebaikan. Menurutku, ini adalah bagian dari makar Allah SWT. Allah SWT memberi fasilitas menggunakan tangan musuh-Nya. Yang salah, adalah yang tidak menggunakannya untuk kebaikan.

boycott-card.jan2012.front.640

Perusahaan yang menyokong zionis rata-rata adalah perusahaan multinasional. Strategi marketinyapun tentu takmain-main. Yang ditawarkan bukan lagi produk tapi gaya hidup. Keyakinan palsu ditanamkan kepada konsumen yang kemudian mengubah gaya hidup. Contohnya, sampo Clear sebagai mitos sampo antiketombe di Indonesia. Ketika membaca produk sampo antiketombe yang diluncurkan oleh perusahaan dalam negeri, mungkin kita akan sok pintar mencari tahu bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Bagaimana produk ini bisa menghilangkan ketombe? Apakah benar rempah-rempah ini dapat membersihkan kulit kepala? Lalu dengan bodoh kita menyandingkan bahan-bahan yang tertulis dalam kemasan Clear dengan bahan-bahan yang terdapat pada produk sampo lokal. Demikianlah kepercayaan palsu itu dibuat oleh produsen Clear. Dengan tangan terbuka kita menerima penghinaan “Orang Indonesia cuma punya ketombe!”

Kepercayaan palsu ini membuat setiap orang ragu mencoba produk lain. Padahal Clear nggak bikin kepala bersih dari ketombe. Bahkan ketombe itu tetap ada dan bertahan karena kalau ketombe hilang, orang akan berhenti menggunakan Clear. Personalitas memboikot produk tersebut ada pada bagian ini. Relakah kita –yang seolah-olah sudah mempercayakan rambut kepada Clear- mencoba dan mengganti sampo dengan produk lain? Belum lagi dari sisi harga yang lebih murah, atau potongan harga yang lebih tinggi. Ah, cuma kasih sayang kepada sesama muslim yang bisa membuat kita (terutama perempuan) bergerak. Karena perihal kepercayaan terhadap sebuah produk konsumer di zaman ini berkaitan dengan hasrat. Hasrat ini bersifat bawah sadar, dan pengendalian hasrat hanya bisa dilakukan dengan rasionalitas ideologi yang mengakar dalam diri.

boycott-card.jan2012.back.640
Produk-produk yang masuk list boikot itu kualitasnya selalu lebih baik dari produk substitusinya. Ya! Benar sekali. Pemutih wajah, pelembut pakaian, kopi instan, minuman ringan, makanan siap saji, coklat, kosmetik, dan berbagai produk yang sudah seperti jaring laba-laba yang membelenggu kita itu dari sisi branding memang selalu terlihat paling baik. Namun, lagi-lagi aku katakan, itu hanya citra-citra yang dibuat agar kita sebagai konsumen terus menerus mereproduksi kebutuhan terhadap produk-produk tersebut. Saat meminum kopi di Starbucks pada dasarnya pahit yang kamu rasakan sama dengan pahit kopi tubruk di angkringan. Bedanya hanya satu, ketika kamu minum kopi Starbucks saat itu pula kamu sedang menyeruput darah rakyat Palestina.

Mereka yang suka berapologi acap berargumen padaku, “Orang Palestina juga minum Pepsi.” Atau, “Berdasarkan riset ekonomi, angka konsumsi negara-negara muslim terhadap produk prozionis ini tidak signifikan. Kita lihat lah, mayoritas muslim itu berada di negara miskin dan negara berkembang. Mana mungkin angka konsumsinya bisa berpengaruh terhadap pendanaan senjata untuk menyerang Palestina!” Lagi-lagi aku katakan, pemboikotan produk prozionis ini sesuatu yang ideologis. Ini bukan lagi tentang kepedulian kepada warga Palestina berdasarkan hitung-hitungan matematika. Bahkan rasa kemanusiaanpun takcukup. Ini sudah berkaitan dengan rasa cinta kepada saudara seaqidah. Ini tentang bagaimana Islam sebagai ideologi diintegrasikan dalam gaya hidup. Lebay? Bodo amat!

Bagaimana dengan orang-orang yang berteriak boikot tapi pada kenyataannya tetap menggunakan produk prozionis itu? Inilah yang membuatku setelah bertahun-tahun baru berani menulis hari ini. Aku amat takut menjadi bagian dari orang-orang yang menjilat ludah sendiri. Kembali aku katakan, memboikot produk prozionis merukapan perjalanan panjang tentang mengendalikan gaya hidup. Tidak semua orang bisa melakukannya dengan sempurna. Aku cuma bisa menyampaikan kalimat ustadzah Yoyoh Yusroh, “Bersikap ketatlah terhadap diri sendiri, dan berusaha longgar terhadap orang lain.” Ketika kamu yang membaca tulisan ini takpernah teriak-terika boikot tapi berkeinginan untuk memboikot, lakukanlah. Jangan biarkan mereka yang takkonsisten membuatmu terpengaruh. Jangan biarkan mereka yang goyah membuatmu memuntahkan pertanyaan nyinyir. Kita yang nggak ngaku aktivis dakwah tapi boikot produk prozionis dalam diam menurutku berkali-kali lebih keren ketimbang orang-orang yang ngaku da’i, antizionis, tapi di kamar mandinya masih ada produk prozionis.

Perjalanan gaya hidup ini seperti gelombang, ada pasang surutnya. Di depan kulkas eskrim kadang pikiran mulai mengungkapkan permakluman untuk sekali saja merasakan Magnum. Atau rasa penasaran dengan wangi parfum Kelvin Clain membuat kita balik kanan dari kios parfum isi ulang. Tapi itulah perjalanan. Kalau sudah mengalami sengitnya perjalanan ini, saudara-saudaramu di Palestina seolah menyapamu ketika memilih produk di swalayan. Mereka akan kamu ingat ketika mengambil satu demi satu bumbu yang ada di dapur. Mereka akan ada pada pilihan air mineral yang kamu minum ketika kehausan. Bahkan, mereka bisa tiba-tiba kamu ingat ketika memasuki kamar mandi teman, guru ngaji, atau orang yang baru saja kamu kenal. Produk-produk itu tanpa sadar bertebaran di sekeliling kita. Menghindarinya perlu perjuangan.

10384734_10202181152351272_8505087147279214557_n
Kalau sudah terbiasa, kamu akan merasa biasa-biasa saja berbelok dari Dunkin Donuts ke kios Donat Madu. Kamu akan merasa acuh menggunakan krim pemutih Wardah ketika yang lain memakai Ponds atau Maybelline. Kamu akan tenang-tenang saya makan di warteg ketika yang lain makan siang di KFC atau McD. Kamu akan biasa-biasa saya menyeruput kopi tubruk di angkringan ketika yang lain meminum Starbucks Coffee. Kamu akan biasa saja takpernah seumur hidup merasakan eskrim Magnum demi cintamu kepada sesama muslim di Palestina. Semua produk itu jadi indah karena citra yang ditampilkan dalam iklan. Padahal aslinya biasa-biasa saja. Biasa-biasa sajalah, karena hidup hanya tentang perjalanan yang berakhir dengan kematian. Yang menggiurkan di dunia hanya sementara. Keabadian itu cuma ada di akhirat. Di sana kita tidak akan ditanya tentang bagaimana manisnya eskrim Magnum, nyamannya ngopi di Starbucks Coffee, atau segarnya minum Coca cola. Tetapi, di sana kita pasti ditanya kemana uang kita dibelanjakan. []

*gambar dari sini

Sakitkah Hatimu?

 

broken heart

 

: langit

Dalam sebuah majelis ilmu, Imam Ibnul Qayyim ditanya tentang hati sakit. Ia menjawab,

“ Ia adalah hati yang hidup tetapi memiliki penyakit. Hati terdiri dari dua materi, kadang kala yang satu lebih kuat dan kadang kala yang satunya lagi. Yang paling dominan akan menjadi paling kuat di antara keduanya. Hati yang tidak normal itu di dalamnya terdapat rasa cinta kepada Allah Swt, iman, dan bertakwa kepada-Nya, serta ikhlas karena-Nya. Namun, di dalamnya terdapat kesenangan terhadap syahwat, mengutamakan dan selalu berambisi meraihnya, hasad, sombong, congkak, suka meninggikan diri sendiri dan melakukan kerusakan di muka bumi dan melakukan kerusakan dalam kepemimpinan.”

sakitkah hatimu?

Qolbu Itu Tempat Keimanan dan Ketaatan

Semoga Air Mata Ini Adalah Air Mata Taubat

What Should You Do On Waiting!

waiting

By Tere Liye

Ini selalu saja menjadi pertanyaan banyak orang. Bagaimana sebaiknya menunggu sesuatu? Bagaimana berharap sesuatu? Apa yang harus dilakukan saat menunggu? Apa yang harus dikerjakan saat berharap? Bagaimana kalau ternyata hasilnya sia-sia, mengecewakan?

Saya tidak punya jawaban pastinya; tulisan ini hanya menawarkan beberapa konsep atau pemikiran yang mungkin bisa digunakan sebagai penjelasan, lantas membentuk pemahaman baik. Saya selalu menyukai pendekatan ini, temukan beberapa pemikirannya, jadikan dia kaki-kaki pondasi, lantas baru bangun pemahaman yang kokoh.

Setidaknya ada tiga poin pemikiran dalam mengelola proses menunggu dan berharap. Here we go:

1. Kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk.

Ini pondasi paling mendasar. Ditegaskan berkali-kali dalam banyak rujukan. Tapi Bang Tere, saya ingin sekolah di situ, ingin kuliah di sana, saya ingin dia jadi jodoh saya, ingin pekerjaan itu, ingin hasil tersebut. Well, itu manusiawi, namanya juga keinginan. Namun sungguh, kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Bahkan dalam kasus ekstrem, kita harus berangkat naik pesawat, menjenguk Ibu di kampung halaman, sudah menunggu lama, pesawatnya delay, sudah ditunggu lebih lama lagi, pesawatnya malah cancel. Secara kasat mata, berangkat naik pesawat, menjenguk Ibu, itu baik buat kita. Tapi apakah demikian? Belum tentu. Boleh jadi delay-cancel tersebut menyelamatkan nyawa kita, karena di perjalanan ternyata terjadi bencana.

Nah, apalagi dalam urusan menunggu jodoh misalnya, berharap pada seseorang. Mau dia tampan pol macam anggota boyband, baik hati maksimal seperti Poh si kungfu panda, kaya, dsbgnya, dstnya, kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Boleh jadi pernikahan tersebut malah berantakan, kacau balau.

Pun sebaliknya, untuk hal-hal buruk yang tidak kita harapkan. Kita sudah berharap habis2an lulus kuliah di sebuah kampus; sudah menunggu pengumuman, ternyata tidak diterima. Sedih? Marah? Ayolah, siapa yang bilang tidak diterimanya kita tersebut berarti kabar buruk? Kita saja yang mendefinisikannya demikian. Apalagi saat ujian PNS, teman2 di terima, kita tidak, siapa bilang itu kabar buruk? Kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Pondasi ini harus dalam sekali, tidak bisa digoyah-goyah oleh urusan kecil.

2. Bukan hasilnya, tapi prosesnya.

Nah, pondasi pemikiran kedua adalah: selalu pentingkan prosesnya. Bukan hasilnya. Bicara tentang proses, maka jelas dia melingkupi dari awal hingga akhir. Ujung ke ujung. Ketika orang hanya fokus ke hasil akhir, mudah sekali dia akan kecewa. Menyalahkan orang lain. Tapi saat dia fokus ke prosesnya, kalaupun kecewa, ya tidak terlalu amat.

Kita sudah belajar mati2an untuk lulus SNMPTN, gagal. Nah, lihat prosesnya. Kita sudah belajar; boleh jadi ilmu tersebut berguna untuk tes di kampus lain yang ternyata lebih baik. Kita sudah menunggu bertahun2 seseorang, lihat prosesnya, apa yang kita lakukan saat menunggu? Tidak akan kecewa kalau kita menggunakan seluruh waktu tersebut untuk terus memperbaiki diri. Toh hasil tersebut juga kita tidak tahu baik atau buruk; tapi dengan proses yang dijalani dengan baik hingga ke ujung, kita masih punya sesuatu.

3. Berharaplah kepada yang maha tempat semua pengharapan bermuara.

Pondasi pemikiran ketiga yang melengkapi kaki-kaki konsep ini adalah kepada siapa kita berharap? Kepada siapa kita menambatkan proses menunggu tersebut? Saya tidak akan panjang lebar membahasnya, silahkan direnungkan dengan panjang lebar saja. Baca berulang2 kalimat ini, sambil memejamkan mata: Berharaplah kepada yang maha tempat semua pengharapan bermuara.

Dengan ketiga pondasi ini, maka pertanyaannya sekarang adalah apakah kita perlu jawaban bagaimana menunggu dan berharap yang baik? Saya rasa tidak. Kuasai tiga pondasinya, maka dengan sendirinya akan tumbuh pemahaman baik yang kokoh.

*Sebagai pemilik waiting room, tulisan ini harus aku camkan 🙂

Putus Asa Bisa Jadi Obat Cinta #eh

danbo-2

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya…” (Al A’raf [7]:189).

Tazkiyyatun Nafs

Cinta kepada istri dan hamba sahaya yang dimiliki oleh sorang laki-laki termasuk kecintaan yang bermanfaat. Hal itu akan menolongnya dalam melaksanakan apa yang disyariatkan Allah Swt dalam hal nikah dan kepemilikan hamba sahaya, yakni menjadikan seorang laki-laki menahan diri dari melakukan maksiat baik menyangkut diri maupun keluarganya. Dengan demikian, ia bisa menahan diri dari nafsunya tidak mengarahkannya kepada yang haram. Lalu semakin sempurna dan kuat kecintaan antar suami-istri, maka semakin lengkap antara suami-istri, maka semakin lengkap dan sempurna pula maksud dari pernikahan itu. Allah Swt berfirman,

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya…” (Al A’raf [7]:189).

“dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar rum[30]:21).

Dalam Ash Shahih disebutkan disebutkan bahwa Rasulullah Saw ditanya, “Siapa orang yang paling engkau cintai?” beliau menjawab, “Aisyah.” Dan diriwayatkan dengan sanad shahih dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda, “Dijadikan kesenanganku dari dunia ada pada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuka hati ada dalam salat.” (HR. An-Nasa’i).

Karena itu, bagi laki-laki yang mencintai dan menyayangi istrinya kecuali hal tersebut menyibukkan dirinya dari kecintaan yang lebih bermanfaat baginya, yakni kecintaan kepada Allah Swt dan rasul-Nya serta jika kecintaanya mengalahkan cintanya kepada rasul-Nya. Setiap cinta yang mengalahkan cinta kepada Allah Swt dan rasul-Nya sehingga mengurangi atau melemahkan kecintaan tersebut, maka ia adalah cinta yang tercela. Cinta yang mendorong dan menguatkan cinta kepada Allah Swt dan rasul-Nya adalah cinta yang terpuji. Rasulullah Saw senang minum air dingin dan manis, senang manisan dan madu, dan pakaian yang paling ia sukai adalah gamis karena dapat menutupi seluruh tubuh. Kecintaan Rasulullah Saw terhadap hal-hal itu tidak mengurangi kecintaanya kepada Allah Swt. Bahkan kecintaan tersebut dapat menjadikan hati dan keinginan untuk fokus mencintai Allah Swt. Akhirnya niat bergantung pada niat dan maksud pemiliknya.

Jika seseorang meniatkan dengan kecintaannya itu agar kuat dalam melaksanakan perintah Allah Swt dan dalam menaati-Nya maka ia termasuk ibadah. Jika ia melakukan hal itu hanya berdasarkan hal alamiah dan kecenderungan hati belaka, ia tidak akan diberi pahala dan tidak akan disiksa. Ia tidak akan mendapat derajat yang diperoleh orang yang mencintai karena mengharap ridha Allah Swt.

Dengan demikian, kecintaan yang bermanfaat ada tiga macam;
1. Cinta kepada Allah Swt
2. Cinta karena Allah Swt
3. Cinta yang menguatkan kecintaan kepada Allah Swt

Sebaliknya, cinta yang membahayakan ada tiga macam:
1. Menyekutukan cinta dengan Allah Swt
2. Cinta yang membuat kemurkaan Allah Swt
3. Cinta yang mengurangi kecintaan kepada Allah Swt

Cinta kepada Allah Swt adalah asal dari segala cinta yang bermanfaat, asal keimanan dan tauhiid, sedang dua macam cinta berikutnya adalah cabang daripadanya. Menyekutukan cinta dengan Allah Swt adalah asal dari kesyirikan dan cinta yang tercela, sedang dua macam berikutnya adalah cabang daripadanya (Ibnu’l Qayyim Al Jauziyyah, Igasatu’lLahfani fi Masayidi Asy Syaitani, Juz 2, 852-854).

Riyadus Salihin

Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Pakaian yang disukai Rasulullah Saw adalah gamis, (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, dan ia berkata ini hasan shahih).

Hadits di atas mengandung beberapa faidah, antara lain bahwa nabi Saw menyukai gamis sebagai baju yang dijahit karena lebih menutupi bagian tubuh daripada sarung atau mantel. (Dr. Musthafa Sa’d Al Khin, Nuzhatul Muttaqin Sarhu Riyadhi al Shalihina, Jiz 1, 1407 H/1987 M: 629).

Medical Hadits

Dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw bersabda, “Ruh-ruh itu seperti prajurit yang berkelompok-kelompok. Jika saling mengenal mereka akan menjadi akrab dan jika saling bermusuhan mereka akan saling berselisi.” (HR. Muslim) dalam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, At Tibbun Nabawi:210).

Tibbun Nabawi – Mengobati Cinta Membara

Cinta adalah penyakit hati yang berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain, baik wujud, sebab, maupun cara penyembuhannya. Jika cinta yang membara ini sudah mencapai puncaknya, dokter dan obat macam apapun tidak dapat menyembuhkannya. Ada dua golongan yang dijelaskan Allah Swt dalam kitab-Nya tentang cinta yang membara ini, yaitu istri Al Aziz terhadap Yusuf As. dan kaum luth yang mencintai anak laki-laki yang tampan.

Cinta yang membara merupakan rangkaian dua perkara: menganggap bagus orang yang dicintai dan keinginan untuk berhubungan dengannya. Cinta itu sendiri bermacam-macam. Yang paling utama dan paling agung  adalah cinta karena Allah Swt dan bagi Allah Swt. Cinta ini mengharuskan cinta terhadap apa yang dicinta Allah Swt, mengharuskan cinta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.

Karena cinta yang membara itu merupakan jenis penyakit hati, maka ia maih dapat disempuhkan dengan cara apapun. Jika orang yang mengalami cinta membara mendapat jalan untuk berhubungan dengan orang yang dicintainya tepat dengan syariat dan ketetapan (menikah), itulah jalan penyembuhannya. Jika dia tidak mendapatkan jalan untuk berhubungan dengan orang yang dicintai, maka itu merupakan penyakit yang berat. Cara penyembuhannya ialah dengan menimbulkan keputusasaan tentang apa yang hendak diinginkannya sehingga ia benar-benar berputus asa untuk mendapatkannya. (Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Zadul Ma’adi fi Hadyi Khayril Ibadi, Juz 4, 265-278).

Sumber:Terapi Qur’ani dalam Al Quran Cordoba

Jangan Menghalangi Muslimah Menikahi Pria Pilihannya

foto

Memilih suami adalah hak besar wanita Muslimah tanpa intervensi siapapun baik itu keluarganya, orang lain maupun negara. Ayah, ibu, saudara, saudari, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan dan semua keluarga, dekat atau jauh tidak berhak mencegah pilihan suami wanita. Demikian pula shahabat, bos, guru, Musyrif, Musyrifah, Murobbi, Murobbiyah, Mursyid, Mursyidah, ustadz, ustadzah, Amir, bahkan Khalifah juga tidak berhak mengintervensi (yang bersifat memaksa/menekan) keputusan wanita dalam memilih suami. Memilih suami adalah hak penuh wanita. Dialah yang berhak menentukan siapa calon suaminya, dan dia pula yang berhak menentukan apakah menerima seorang lelaki atau menolaknya.

Dalil yang menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita adalah Nash-Nash berikut:

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Gadis tidak boleh dinikahi hingga dimintai izin, dan janda tidak bleh dinikahi hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “tandanya diam.” (H.R. Bukhari)

Riwayat Muslim berbunyi:

‘Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)

Riwayat Muslim dari Ibnu Abbas berbunyi;

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya adalah izinnya.” Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis), maka ayahnya harus meminta persetujuan atas dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya.” Atau mungkin beliau bersabda: “Dan diamnya adalah persetujuannya.” (H.R. Muslim)

Wanita tidak lepas dari kondisi; janda atau gadis. Dalam kondisi gadis, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang dia dinikahkan sebelum dimintai izinnya, dalam kondisi janda Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang dia dinikahkan sebelum diajak musyawarah untuk dimintai pertimbangan. Semua perlakuan ini menunjukkan bahwa wanita dalam kondisi apapun tidak boleh dipaksa menikah dengan seseorang yang tidak dia inginkan. Maknanya, hak penuh memilih ada pada tangannya, bukan ditangan walinya atau orang lain.

Nabi pernah merekomendasikan kepada seorang wanita untuk menikahi seorang lelaki yang sangat mencintainya. Sayangnya wanita tersebut tidak mencintai lelaki itu sehingga dia menolaknya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam tidak memaksa wanita itu untuk menikahi lelaki itu meski sang lelaki sangat mencintainya. Bukhari meriwayatkan:

Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Bariroh adalah seorang budak. Namanya Mughits. Sepertinya aku melihat ia selalu menguntit di belakang Bariroh seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Bariroh dan kebencian Bariroh terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “andaisaja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Bariroh bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Bariroh pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” (H.R. Bukhari)

Mughits sangat mencintai Bariroh. Besarnya cinta ini sampai membuat Mughits mengikuti kemanapun Bariroh pergi dengan derai air mata yang membasahi janggutnya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam iba dengan penderitaan Mughits, lalu merekomendasikan Bariroh agar berkenan menikah dengan Mughits. Ternyata Bariroh menolaknya dan Nabipun tidak memaksa. Tidak adanya paksaan dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kepada Bariroh kepada Mughits padahal Mughits sangat mencintai Bariroh, menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita hingga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sendiripun tidak berani intervensi yang bersifat memaksa/menekan.

Bahkan pembangkangan seorang wanita terhadap ayahnya atau ibunya dalam hal pilihan suami, tidak tergolong kedurhakaan. Bukhari meriwayatkan;

Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya -ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. (H.R. Bukhari)

Riwayat Ahmad berbunyi;

Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (H.R. Ahmad)

Seandainya pembangkangan Khonsa’ binti Khidzam kepada ayahnya dalam hal pilihan suami termasuk kedurhakaan, niscaya Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam akan memerintahkan Khonsa’ taat atas keputusan ayahnya dalam hal pilihan suami. Ketika Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam justru memberikan pilihan kepada Khonsa’ untuk membatalkan pernikahan atau melanjutkannya, maka hal ini menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak besar wanita yang bahkan menjadi Takhsish atas keumuman perintah taat kepada Ayah/wali atau perintah berbakti kepada orang tua.

Lebih jauh dari itu, aktivitas menghalang-halangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang telah menjadi pilihannya adalah kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan Fikih Islam dengan istilah ‘Adhl. Adhl hukumnya haram dan pelakunya dihukumi fasik yang gugur hak perwaliannya dan tidak diterima persaksiannya. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl.

Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)

Ayat ini turun berkaitan Adhl yang dilakukan seorang shahabat bernama Ma’qil bin Yasar yang tidak mau menikahkan saudarinya ketika dilamar seorang lelaki. At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya:

Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menikahkan saudarinya dengan seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya tinggal bersama suaminya beberapa waktu, setelah itu dia menceraikannya begitu saja, ketika masa Iddahnya usai, ternyata suaminya cinta kembali kepada waanita itu begitu sebaliknya, wanita itu juga mencintainya, kemudian dia meminangnya kembali bersama orang-orang yang meminang, maka Ma’qil berkata kepadanya; hai Tolol, aku telah memuliakanmu dengannya dan aku telah menikahkannya denganmu, lalu kamu menceraikannya, demi Allah dia tidak akan kembali lagi kepadamu untuk selamanya, inilah akhir kesempatanmu.” Perawi berkata; “Kemudian Allah mengetahui kebutuhan suami kepada istrinya dan kebutuhan isteri kepada suaminya hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya.” QS Al-Baqarah: 231 sampai ayat “Sedang kamu tidak Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar dan patuh kepada Rabbku, lalu dia memanggilnya (mantan suami saudarinya yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.” (At-Tirmidzi)

Semua aktivitas menghalang-halangi pernikahan wanita dengan calon suami pernikahannya secara zalim termasuk ‘Adhl yang hukumnya haram. Tidak boleh menghalang-halangi pernikahan wanita dengan alasan misalnya calon suaminya kurang ganteng, kurang kaya, kurang punya kedudukan sosial, tidak bisa dibanggakan, bukan keturunan ningrat, sudah menikah, keluarganya tidak terkenal, bukan satu ras/kabilah/keluarga/marga/kelompok/partai/harokah/organisasi, belum menyelesaikan studi dan mengamankan masa depan, dll. Adapun jika alasannya Syar’I seperti calon suaminya kafir, fasik (tidak/jarang sholat, mabuk-mabukan, penjudi, pezina, rusak akhlaknya-penipu-), termasuk mahrom, wanita masih di masa iddah, wanita pernah berzina dan blm melakukan istibro’ dll maka menghalangi demikian tidak teramsuk ‘Adhl karena bukan kezaliman.

Atas dasar ini, memilih calon suami adalah hak penuh wanita dan tidak boleh dihalang-halangi menikah dengan lelaki pilihannya. Penanya hendaknya memeriksa kasusnya, apakah halangan dari keluarga bisa dikatakan Syar’I ataukah termasuk ‘Adhl. Jika halangannya Syar’i, maka hendaknya dihilangkan dulu penghalang-penghalang tersebut, sementara jika sudah terkategori Adhl maka lanjutkan terus tanpa ada keberatan. Wali yang melakukan ‘Adhl gugur hak perwaliannya dan berpindah pada wali yang terdekat. Jika ayah gugur perwaliannya, maka hak perwalian untuk menikahkan pindah ke kakek (ayah-nya ayah), buyut (ayahnya ayah ayah), saudara, paman, dst sesuai aturan gradasi wali dalam fikih Islam. Wallahua’lam.

repost dari sini

*tulisan arab haditsnya nggak dimasukin, soalnya ribet rata kiri or kanannya.

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript