Penghuni Kursi Bisu 3

Dear Perempuan,

Surat terakhir ini aku tulis di Sabtu malam yang paling ajaib, hadiah berupa kekosongan yang tidak akan meninggalkan sedikitpun beban dalam tidurku malam ini. Bersama sisa rintik hujan yang tersesat di jendela kamarku. Kata orang, seharusnya ini musim kemarau. Namun, ada saja hujan yang taksabar menahan rindu, menembus waktu ke daun-daun sunyi di belakang rumahku.

 

Apa kabar perempuan? Rindukah kau pada tulisanku yang sudah seperti obat penawar racun mematikan, datangnya amat lama karena harus dicari ke ujung dunia. Ngomong-ngomong, berapa cangkir kopi yang sudah kau habiskan untuk sebuah ketenangan? Apakah kau sudah benar-benar terbangun dari angan-angan panjangmu? Apakah keterlepasan ini membuatmu beku, seperti jasad yang frustasi akibat gagal menolak perpisahan dengan jiwanya? Apakah ia seperti manis yang dipaksa mengucapkan selamat tinggal pada madu?

 

Keterpisahan dengan dia yang selama ini membelenggumu akhirnya berlalu juga bukan. Hari itu benar-benar datang. Waktu yang kau cemaskan akhirnya menjadi kenangan. Bila dibayangkan, sakitnya seperti meregang nyawa. Tidak ada bagian dari keterlepasan, apalagi dengan orang yang ditafsirkan sebagai belahan jiwa. Dia meninggalkanmu bersama kesetiaan penantian. Sudah seperti apa kebergantunganmu kepadanya dulu? Apakah seperti matahari yang selalu setia membagi bahagia pada bumi? Apakah seperti bulan yang bersedia lembur demi menemanimu tidur? Apakah seperti udara yang kau hirup tanpa meminta balas jasa? Apakah seperti jantung yang dengan senyap berdegup dalam tubuhmu tanpa kenal waktu?

 

Biasa sajalah, ia hanya bagian kuat dari dirimu yang sedang dengan sengaja kau lemahkan. Ia hanya satu ruang hangat yang sengaja kau kosongkan demi sebuah kelengkapan. Ia hanya waktu-waktu senggang dari semua kesibukanmu yang kau izinkan diselinapi angan-angan. Ia hanya secari kisah yang kau paksapasangkan dalam lembaran-lembaran hidupmu yang sudah sempurna. Kini sudah saatnya ia terlepas.

 

Mata yang sulit terpejam di akhir malam, ketakutan yang datang saat terjaga pagi hari, rasa yang tiba-tiba linglung mencari persembunyiannya, biarkan saja. Rindu yang merengek setengah mati, sesal yang tak mau beranjak pergi, kehampaan yang membuntuti, abaikan saja. Mereka hanya sedang menghibur diri setelah menyadari bahwa kau benar-benar akan bergegas pergi ke masa depan. Mereka hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan tentang takdir yang selalu berakhir di kotak kenangan.

 

Kini tiba waktumu membuka lembaran baru. Kebergantungan terhadap dia yang amat lemah itu ternyata membuat-Nya cemburu. Padahal takpernah sedikitpun dia menjadi musabab ketenanganmu. Kata-Nya, ketenangan hanya ada pada keyakinan dan ketaatan. Renungkanlah![]

Sahabat lamamu,

Maneka

Sit In Pertama

Udah jam 10 malem dan aku masih pengen mengabadikan pengalaman hari ini, walaupun
menurut kalian (yang nyasar di sini) super duper gak penting. Ini Selasa, hari pertamaku sit in di kelas-kelas Mata Kuliah Tata Tulis Karya Ilmiah ITB. Sit in itu apa sih? Yes! Sit in istilah bahasa
Inggris yang kalo dijabarkan dalam bahasa Indonesia sama dengan “Ikut duduk, melihat,
mengamati, dan belajar bagaimana seorang dosen mengajar.” Karena aku dosen baru yang
masih (amat sangat) hijau, aku harus ikut sit in di beberapa kelas yang diampu oleh dosen-
dosen senior.

Hari ini aku sit in di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Aku ikut masuk ke kelas seorang
dosen senior perempuan yang keren banget. Dalam kelas yang desiannya berundak -mirip
kursi bioskop- beliau bisa menjelaskan dengan suara lantang tanpa pengeras suara.
Mahasiswa yang hadir minimal 70 orang. Aku yang duduk di kursi paling belakang bisa
mendengar suaranya dengan jelas. Waktu aku memperkenalkan diri dari kursi paling
belakang, kerasa banget suara gak nyampe ke depan kalo gak teriak. So that, ini perlajaran
pertama, harus bicara lantang tanpa pengeras suara. Pelajaran kedua adalah tulisan di
papan tulis. Kelas yang aku masuki masih menggunakan kapur tulis putih dan papan tulis hijau
-bukan hoax walaupun gak ada fotonya :p_ Tulisan beliau kebaca normal walaupun dari kursi
paling belakang. Ini pelajaran kedua: harus terbiasa nulis gede-gede banget.

Setelah menjelaskan teori, dosen tersebut meninggalkan kelas. Aku dan seorang temanku
mendampingi mahasiswa ngerjain tugas bikin topik, tema, dan judul penelitian. Ide-ide
mereka kreatif banget. Yang paling penting, ketika mereka bikin rencana penelitian, di otak
mereka gak ada kekhawatiran tentang hambatan penelitian. Objek yang banyak banget,
teknik yang borongan -kuisioner, wawancara, observasi- nggak bikin mereka mundur. Ketika
aku bilang, “Inget ya, waktu kamu terbatas.” Mereka bergeming. Dari sisi bahasa, ya begitulah,
memang tata tulis ide brilian mereka perlu pembenahan. Itulah mengapa Mata Kuliah TTKI ini
ada.

kkik

Aku dan Keluarga Baruku di Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan, Sostek ITB

Setelah selesai mengajar, waktunya istirahat. Kami ngobrol di “base camp” bersama tamu dari Brunei Darussalam. Namanya Siti Salwanan binti Juni (kerudung hijau) dan Nur Aqilah binti Saban (baju hitam). Pagi ini Siti bawa kue jala dan kue cincin, khas Brunei Darussalam. Itu dia tantangan di KK-IK, banyak banget makanan. Kalo lagi shaum harus kuat iman deh! #YakaliAnakTK Keluarga baruku sangat hangat, menyenangkan, dan Sunda pisaaan. Pokoknya bertemu mereka seperti dipertemukan kembali dengan saudara jauh. Ada yang seperti ayah, ibu, kakak, pokoknya lengkap. How lucky i am!

Sorenya, aku sit in ke Fakultas Teknik Elektro dan Informatika. Kesan pertama, “Di sini banyak
orang Jawa ya!” Hahaha! Logat mahasiswa yang konsultasi tugas mayoritas Jawa gitu. Gak
maksud rasis siy. Ini cuma simpulan sederhana setelah hampir semua mahasiswa yang nanya
ke aku logatnya Jawa semua. *dibahaaaaas =))

Oke lah ya. Setelah perkuliahan selesai 3.30 sore aku ke Salman sampai jam 4 dan pulang.
Perjalanan Ganesha – Riung Bandung naik angkot (plus macet) itu 120 menit alias 2 jam.
Sesuwatu banget kan! Ditambah jadwal ngajar Jurnalistik yang slide-nya belum dipersiapkan,
di situ saya merasa sedih. Alhamdulillah masih ada waktu persiapan 30 sebelum shalat
maghrib. Matkul Jurnalistik pun terlalui sederhana slidenya.

Ya, sejak hari ini sampai entah, demikianlah hari-hariku akan terkisah. Semoga aku
bisa mencintai pekerjaan baruku. Oneday mungkin aku bakalan ketawa baca jurnal ini. Doakan aku 🙂

*Cuma curhatan, bahasanya gak perlu baku yaw :p

**foto dari sini

Penghuni Kursi Bisu 2

ballon

Dear Perempuan,

Surat kedua ini kutulis khusus untukmu bersama pagi yang takpernah bosan kembali membawa harapan. Di sini jendela sengaja takkubuka. Pagi ini, khusus pagi ini, aku ingin memberi waktu lebih panjang pada kehangatan malam untuk tinggal di sini, di kamarku yang masih saja sepi, agar ia dapat kubagi bersamamu lewat suratku.

Perempuan, apa kabar? Apakah kamu sedang terjaga akibat pahit empedu yang kau minum dengan sengaja sambil memutar kembali memori bisu bersama Sang Pengembara? Ah, aku lupa, siapa pengembara sebenarnya. Dia atau kamu? Sudah berapa jauh kamu pergi akhir-akhir ini? Berapa banyak manusia yang kau temui? Semoga kepergianmu kemarin bukan pelarian. Semoga ia takhanya menyegarkan raga tapi juga ingatan. Aku hanya takut, tamasya itu sebenarnya langkah-langkah rapat yang membuat ingatanmu tentangnya semakin melekat. Kau bawa ia ke mana-mana bersama angan-angan yang menikam harapan pelan-pelan. Pesiarmu adalah ritual merayakan firasat tentang kepergiannya yang semakin dekat. Sadarkah kau wahai Perempuan? Ia seperti pil penahan nyeri rasa stroberi yang membuatmu lupa pada luka yang semakin menganga. Aku hanya kawatir kau taksadar sebenarnya ingatanmu takpernah beranjak dari dunia bernama dia.

Kini dia pergi juga. Waktu mengusirnya dari ruang tunggumu. Bagaimana rasanya? Tak sesakit yang kau bayangkan bukan? Ia seperti helaan nafas amat panjang yang kau keluarkan di awal, terputus-putus bersama air mata yang mulai menganak sungai, membuatmu tergugu mengeluarkan sesal bernama penantian panjang. Ia hanya keinginan yang terus saja menekan “undo” atau bahkan diam-diam menyinggahi “recycle bin” sambil menekan “restore all item”. Ia bagaikan air dingin dari kutub utara yang tersembur membuatmu sulit tidur karena tak berani terbangun. Dunia seakan tak memiliki esok tanpanya.

Ah, anggap saja itu cubitan ringan di wajah yang menyegarkan pembuluh darah. Setelah itu ia akan menjadi kegelapan yang tiba-tiba menghadiahkan layar besar, terang-benderang bernama harapan. Benar-benar baru. Kau bisa berlari sejauh-jauhnya, sekencang-kencangnya ke dunia nyata. Masa depan yang telah lama bersabar menahan rindu, sedang menyambut hangat senyummu.

Jangan lupa singgah ke ruang tungguku, sebuah ruangan berpintu biru di persimpangan jalan. Aku akan menemani awal perjalananmu. Di sini sudah aku siapkan permen asam manis yang ada tebak-tebakan di bungkus belakangnya. Ada satu kotak pendingin berisi eskrim rasa blueberry. Kita memang takperlu bawa air putih. Itu bisa kita dapatkan di setiap persinggahan dengan cuma-cuma. Kamu bawa apa? Jangan bawa komik Naruto, aku tidak suka! Assalamualaikum Beijing! jangan juga, aku sudah baca. Cukup bawa berlembar-lembar kertas kosong yang bisa kita isi dengan tawa ceria.

Kamu mau main ke stasiun, tempat kesukaanku? Di sana kita akan bertemu lalu-lalang kereta, berteriak sekencang-kencangnya, mengucapkan selamat tinggal pada ia yang beranjak ke Kota Kenangan. Agak katrok memang, tapi ini lumayan ampuh untuk mengeluarkan kepenatan. Hmm.. kamu sudah terlalu sering main ke pantai kan?! Lautan sudah penuh dengan nama-namanya sejak dulu. Kita takperlu pergi ke situ. Kita main di kamarku, memanggil orang-orang yang lewat dari jendela, saat mereka menoleh kita pura-pura takmelihatnya. Hmm.. apa lagi ya, kita nonton film horor Thailand, teriak suka-suka, tanpa air mata. Ah, ngomong-ngomong, yang aku bahas hedon semua hahaah!

Apapun. Setelah ini lebih banyaklah sibuk dengan diri sendiri. Orang di sekitarmu hanya pemeran figuran, siapapun dia. Kamu adalah tokoh utama dalam kehidupanmu. Jika takkau temukan dia yang baru, izinkan dia menemukanmu. Berjalanlah bersisian dengan masa lalu, agar kau taktergoda untuk berbalik. Tunjukkan bahwa kau kuat menghadapinya, mendahuluinya, dan meninggalkannya. Yakinlah, kamu yang sekarang adalah sebenarnya kamu.

Sahabat lamamu,

Maneka

PS: surat pertamaku dulu

* gambar dari sini

Banjir #DearSukab dan #30HariMenulisSuratCinta

Februari hampir berakhir (walopun 6 hari lagi siy). Bulan depan aku mau mindahin tulisanku yang berkategori #DearSukab dan #30HariMenulisSuratCinta dari blog sebelah. Maaf kalo bulan depan reader banjir tulisan gakpenting… Tabik 🙂

Astaghfirullahadzim

Subhanallah.. Bijak sekali adikku ini.. Salam kenal..

what has happened?

Hari ini ke-empat kalinya gue menyengajakan diri ikutan ashar di mesjid. Namanya Leeds Grand Mosque (LGM). Lumayan lah dari flat sekitar 20 menit jalan kaki sambil terombang-ambing angin. Eh btw kenapa ‘terombang’ pasangan repeat nya sama ‘ambing’ sih? kenapa beda? kenapa ga terombang-ombang? ahh yaudalah..

Jadi gue abis sholat dzuhur dan makan siang di rumah, lalu cabut ke LGM. Motivasi gue adalah karena kangen rumah Jakarta yang deket masjid depan belakang. Sehari minimal 1 kali denger adzan. Dan kalo udah sampe LGM apalagi yg lantai atas bagian perempuan itu rasanya enaaak, orang sliwar-sliwer menyapa “assalamualaikum” sambil senyum. Sukaa 🙂 rasanya adem dan kayak disayang deh. Rata-rata isinya adalah orang kebangsaan hidung mancung gitu, semacam arab, iran, lebanon, kuwait, oman, qatar, pakistani, dan beberapa melayu seperti si doi tetangga sebelah dan kita deh orang Indonesia.

Di mesjid inilah gue pertama kalinya sholat idul adha pas awal baru dateng. Takbiran di negeri…

View original post 533 more words

Alasan Zubair Bin Awwam Menceraikan Asma Binti Abu Bakar

yaya

Setelah beberapa waktu lalu menyumbang terkaan tentang alasan Zubair Bin Awwam menceraikan Asma Binti Abu Bakar, hari ini Allah SWT menjodohkanku dengan sebuah ensiklopedi yang memuat biografi singkat Asma Binti Abu Bakar. Ya, memang tak ada yang tahu alasan pasti perceraian mereka.

Asma’ memang ditalak oleh suaminya, Zubair. Mengenai penyebab talaknya ulama berbeda pendapat. Satu pendapat mengatakan bahwa Abdullah (anaknya) berkata kepada Zubair, “Orang sepertiku, ibunya tidak akan diwathi.” Teman-teman yang belum tahu tentang wathi silakan baca di sini. Pendapat lain mengatakan bahwa Asma sudah tua dan sudah melahirkan tiga anak bagi Zubair yaitu Abdullah, Urwah, dan Mundzir. Pendapat lain mengatakan bahwa Zubair pernah memukulnya, lalu Asma menjerit memanggil anaknya, Abdullah. Zubair berkata, “Kalau engkau masuk, maka ibumu aku talak.” Lalu Abdullah berkata, “Mengapa engkau menjadikan ibuku sebagai target sumpahmu?” Abdullah masuk sehingga Zubair melepaskan Asma dan mentalaknya dengan talak ba’in, (Ensiklopedia Nabi Muhammad di antara Para Shahabiyah, Jilid 4).

Nah, itu dia pendapat para ulama tentang penyebab perceraian Asma dan Zubair. Tulisan sebelumnya mungkin kisah pemicu perceraian ya. Mohon maaf bila ada kesalahan pada tulisan sebelumnya. Wallahua’lam.

 

Mengapa Zubair bin Awwam Menceraikan Asma binti Abu Bakar?

brh

“Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah talak”, (Abu Dawud, al-Baihaqi, dan Ibn ‘Ady)

Dewasa ini gosip tentang perceraian artis sudah seperti kacang goreng di televisi. Pemicunya pun dipaparkan begitu rupa oleh infotainment dengan jelasnya. Kehadiran orang ketiga kerap menjadi pemicu terbanyak sebuah perceraian. Kali ini, kita tidak sedang bergosip tentang retaknya pernikahan seorang yang biasa.

Sekali lagi, kita tidak sedang bergosip. Kita hanya sedang mengambil ibrah dari perceraian pasangan mulia ‘Asma binti Abu Bakar dan Az Zubair Bin Awwan. Mereka adalah dua sosok generasi pertama yang menikah dan memperlihatkan bahwa perceraian pun dapat terjadi pada pernikahan para sahabat. Dalam buku Pengikat Surga, disebutkan bahwa kehadiran Atikah binti Zaid adalah penyebab utama perceraian mereka. Para muslimah tentu dapat membayangkan betapa terlukanya hati ‘Asma binti Abu Bakar, seorang istri yang diceraikan karena kehadiran istri lain.

Mengapa ‘Asma binti Abu Bakar diceraikan oleh seorang suami yang kiprahnya dalam medan jihad membuatnya mendapat kabar dijamin masuk surga, Az Zubair bin Awwan? Siapakah sosok Atikah binti Zaid? Mengapa Az Zubair menikahinya? Benarkah ia yang menyebabkan Az Zubair menceraikan ‘Asma? Mengapa seorang yang dijamin masuk surga berani menceraikan putri khalifah pertama, sahabat kepercayaan Rasulullah SAW? Artikel ini mencoba ngengurai kekusutan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

‘Asma binti Abu Bakar adalah shahabiyah yang diberi gelar dzaatun nithaaqain (perempuan pemilik dua selendang) oleh Rasulullah SAW. ‘Asma bertutur “Aku membuat makanan untuk Rasulullah dan ayahku ketika mereka hendak bertolak ke Madinah untuk berhijrah. Aku berkata kepada ayah, ‘aku tidak membawa sesuatu untuk mengikat makanan kecuali selendang pinggangku ini.’ Ayahku berkata, ‘Belahlah selendangmu menjadi dua,’ Aku mengikuti perkataannya, maka aku dijuluki dzaatun nithaaqain” (HR Bukhari).

‘Asma binti Abu bakar memang perempuan pemberani. Tidak salah jika ia ditugasi mengantarkan makanan untuk Rasulullah SAW dalam suasana penuh ancaman kafir Quraisy. Saat ia kecil, ketika ia dan keluarganya masuk Islam, saat keislaman menghadirkan konsekuensi lepasnya nyawa, Asma ditugasi oleh Abu Bakar ra. untuk mengawasi kelangsungan ibadah sahabat-sahabat yang baru masuk Islam. Keceriaannya dan keakrabannya dengan siapapun membuat ayahnya memintanya tetap bermain dan melihat perlakuan kaum kafir terhadap sahabat yang baru masuk Islam. Jika ada sahabat yang terkena diskriminasi, ia harus melaporkannya kepada Abu Bakar.

Az Zubair Bin Awwan adalah sosok sepermainan ‘Asma. Az Zubair dan Thalhah bin Ubaidillah kerap menjadi pengganggu saat ‘Asma bermain bersama Ruqayah binti Muhammad SAW. Walaupun sering mengganggu ternyata dua pemuda tersebut juga menjadi generasi pertama yang memeluk Islam. ‘Asma mengenal Az Zubair dengan segala keberaniannya di medan perang. Tidak ada seorang perempuan pun yang tidak tertarik kepada pendamping setia Rasulullah SAW.

Zubair Bin Awwam menikahi asma setelah sebelumnya pernah menikah dengan Amah binti Sa’id bin Al Ash. Az Zubair meminang ‘Asma setelah ia melaksanakan hijrah ke Habasiyah. Berberapa hari sebelum Az Zubair berangkat hijrah, ‘Asma memperlihatkan ketertarikannya. Lelaki yang dijuluki Hawari ini pun menyambut ketertarikan ‘Asma dengan jawaban pasti. Beberapa hari setelah pulang dari Habasiyah Abu Bakar bertemu Az Zubair di rumah Rasulullah SAW. Di sana ia menawarkan pernikahan dengan putrinya. Az Zubair menjawab pertanyaan Abu Bakar pada hari yang sama dengan mengunjungi rumahnya. Betapa senangnya hati ‘Asma seketika itu. Az Zubair menerima tawaran ayah ‘Asma. Alasan terbesar Az Zubair menikahi ‘Asma adalah karena ketertarikan ‘Asma kepadanya. Saat peristiwa hijrah ke Madinah, ‘Asma sedang hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan. Abdullah bin Zubair pun lahir dan menjadi bayi pertama yang lahir di Madinah. Kelahirannya menempas kedustaan kaum Yahudi akan kutukan bahwa tidak akan ada bayi yang lahir di Madinah setelah peristiwa hijrah.

‘Asma mendampingi Az Zubair selama 28 tahun. Ia memiliki putra dan putri Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra, Ummul Hasan, dan Aisyah dalam pernikahannya bersama Lelaki Surga itu. Dalam pernikahannya, ‘Asma selalu menjaga perasaan suaminya. Ketika ia pulang menempuh jarak 3,4km dari kebun kurma milik suaminya dengan membawa berkilo-kilo kurma, Rasulullah SAW berpapasan dengannya. Ia menawari agar ‘Asma ikut menaiki unta rombongan Rasulullah SAW. Namun, ‘Asma menolak karena ia tahu bahwa suaminya sangat pencemburu. Saat tiba di rumah ia berkata kepada suaminya, “Tadi aku bertemu Rasulullah SAW ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa orang sahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya. Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.” Az Zubair menanggapinya, “Demi Allah, keadaanmu membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku daripada kau naik unta bersama beliau.”

* * *

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya,karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang bergama, (jika tidak) maka celakalah kamu.” (HR. Jamaah kecuali Tirmidzi).

Ia adalah wanita yang sangat cantik. Abdullah bin Abu Bakar, kakak ‘Asma berkata, “Ia adalah wanita yang gerak-geriknya menggerlorakan cinta.” Atikah binti Zaid pertama kali menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar. Dengan demikian, Atikah pernah menjadi kakak ipar ‘Asma.

Pada saat menikah dengan Abdullah bin Abu Bakar, Atikah pernah membuat suaminya melupakan perniagaan karena terlalu mencintainya. Oleh sebab itu, Abu Bakar meminta Abdullah menceraikan Atikah. Setelah beberapa saat Abdullah dapat melobi ayahnya dan diizinkan untuk rujuk. Pada sebuah perang, Abdullah bin Abu Bakar syahid di medan jihad. Karena kecintaannya yang besar, ia mewariskan sejumlah harta dan meminta Atikah untuk tidak menikah lagi. Namun, pada saat itu Zaid bin Khatab (salah satu saudara Umar bin Khatab) tertarik kepadanya. Ia teringat dengan ucapan Umar bin Khatab, “Wahai Atikah, janganlah kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kepadamu.” Karena perkataan tersebut, setelah masa iddal, Atikah menikah dengan Zaid bin Khatab.

Pada perang Uhud, Zaid bin Khatab syahid. Ia menitipkan istrinya kepada Umar bin Khatab. Oleh sebab itu, Atikah menikah dengan Umar bin Khatab setelah kematian Zaid. Pada saat Umar meminangnya, Atikah meberikan syarat Umar tidak boleh melarangnya shalat ke masjid Nabawi. Umar menyanggupinya walaupun ia kurang setuju karena kecantikan Atikah dapat menimbulkan fitnah yang membahayakan. Suatu hari Abu Musa Al Asy’ari pernah memberi sebuah karpet kepada Atikah. Saat karpet tersebut dibawa ke rumah, Umar marah melihat pemberian tersebut. Ia langsung mendatangi Abu Musa dan bertanya, “Apa alasanmu memberikan barang ini kepada istriku?” Umar mengembalikan karpet tersebut sembari berkata, “kami tidak membutuhkannya.” Kecantikan Atikah membuat suami-suaminya amat menjaganya dan menjadi pencemburu.

Pada 23 Hijriyah Umar bin Khatab syahid karena ditusuk dengan belati oleh Abu Lu’luah, seorang penganut Majusi. Ia melipat kesedihannya dalam sebuah syair:

Hai mata, berikanlah ratapan dan tangisan

Kepada imam yang mulia jangan bosan

Kabar duka, penunggang kuda menyampaikan

Di saat bertugas dan peperangan

Katakan kepada orang-orang susah, matilah!

Karena kematian telah menjemput

Aku tidak bisa tidur, mataku terjaga

oleh isi hati penuh ketakjubab

Hari ini mataku benar-benar terjaga

Aku tangisi Amirul Mukminin dan semuanya

Kepada para pelayan kemanfaatnan dan kelapangan

Keindahan syair itu membuat Az Zubair kagum kepadanya. Kecintaannya terhadap Atikah sangat terlihat dari kekagumannya. Setelah Umar bin Khatab wafat, Atikah dipinang oleh Az Zubair bin Awwam, suami ‘Asma. Az Zubair tetap mengizinkannya untuk shalat ke masjid Nabawi. Namun, ia tetap membuntuti Atikah dari belakang. Tapi tak lama setelah itu, Az Zubair resmi melarang Atikah pergi ke masjid Nabawi dan ia tidak pernah melakukannya lagi. Az Zubair memang pencemburu.

Perhatiannya kepada Atikah seolah menyiratkan pertanyaan di hati ‘Asma, “Az Zubair, kau memberikan padaku segalanya. Menanamkan benih-benih hebat pejuang tauhid. Kau mengokohkanku dengan kisah-kisah pengorbanan tulus dalam setiap desahmu. Kau memberikan segalanya, kecuali cinta yang bergelora. Az Zubair, suamiku, jenis cinta apakah yang kemu miliki untukku?” Kecantikan Atikah membuat Az Zubair harus menjaga istrinya yang satu ini dengan ekstra ketat. Sedangkan ‘Asma yang sejak kecil merupakan perempuan pemberani tentu tidak melahirkan kekhawatiran di hati Az Zubair. Oleh sebab itu, perhatian Az Zubair terhadap ‘Asma tidak sebesar perhatiannya terhadap Atikah. Ketidakseimbangan inilah yang menjadi badai dalam pernikahan ‘Asma dan Az Zubair. Pada suatu siang, sekitar tahun ke 29 Hijriyah, setelah selama 28 tahun Asma mendampinginya, Az Zubair menceraikan ‘Asma. Entah karena alasan spesifik apa. Kecenderungan Az Zubair kepada Atikah yang menjadi alasan terbesar perceraian tersebut.

Pada tahun ke 36 Hijriyah Az Zubair syahid saat Atikah berusia lebih dari 50 tahun. Ia adalah wanita yang diketahui seantero dunia telah meratapi kematian suaminya dengan syair. Pada saat itu tidak pernah disebut-sebut tentang ‘Asma binti Abu Bakar. Yang terkenal pada peristiwa kematian Az Zubair adalah syair yang dibuat oleh Atikah:

Anak Jarmuz mengkhianati pemimpin pasukan

Suatu hari tanpa perlawanan

Hai ‘Amr, jika kau beritahu, dia akan siaga

Tidak akan gemetar jiwa dan tangannya

Berapa banyak kesulitan dilewatinya

Dia tidak akan tercela, wahai orang yang akan disiksa

Demi Allah, kau telah membunuh seorang muslim

Layak engkau dihukum, pembunuh dengan sengaja

* * *

Walaupun pernah bersama adalah ‘Asma, ternyata yang menjadi pendampingnya dikala syahid adalah Atikah. Bahkan pada kematian Az Zubair membuat Atikah terkenal sebagai istri para syuhada. Ia sempat dipinang oleh Ali bin Abi Thalib. Namun, pada saat itu, Atikah mengajukan syarat agar Ali tidak berperang karena takut Ali syahid seperti suami-suaminya yang lain. Karena persyaratan itu, Ali tidak jadi menikahinya. Atikah lalu menikah dengan Hasan bin Ali. Inilah pernikahan terakhirnya. Atikah wafat pada tahun 41 Hijriyah.

Setelah perceraian dengan Az Zubair, sejarah ‘Asma binti Abu Bakar adalah sejarah perjuangannya bersama putra-putranya. Ia tidak pernah menikah lagi. Keputusan ini karena perkataan ayahnya, “Putriku, Sabarlah. jika seorang wanita mempunyai suami yang shaleh dan dia meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan dipersatukan kembali di surga.” Asma meninggal tujuh belas hari setelah Abdullah bin Az Zubair meninggal dunia. Ia wafat pada tahun ke 73 Hijriyah. Adz Dzahabi berkata, “Asma adalah orang terakhir yang meninggal di antara golongan kaum Muhajjirin.”

Allah menakdirkannya berusia 100 tahun. Ia tidak pikun, giginya tidak satupun yang tanggal, pikirannya pun tetap kuat dan prima. Begitu pun keimanannya masih tetap teguh dalam ketakwaan.

KESIMPULAN

Terkadang dinikahi oleh orang yang dicintai selalu menghasilkan tanya, “Cintakah kau kepadaku?” Seperti pertanyaan ‘Asma ra. kepada Az Zubair ra. yang jawabannya belum dapat ditemukan dalam literatur manapun. Kecantikan dapat menjadi salah satu hal yang menjadi alasan mengapa perempuan dinikahi tapi ketinggian iman merupakan pilihan yang paling menyelamatkan. Di samping keshalihan dan kecerdasan, ternyata kecantikan merupakan kriteria penting yang membuat lelaki memilih istri, termasuk pada sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Kecemburuan adalah duri dan belenggu dalam pernikahan terutama pada pernikahan poligami. Hal terpenting dari kisah ini, mempertahankan pernikahan lebih sulit daripada meraihnya.

Pustaka

Al Misri, Muhammad. 2006. 35 Shirah Shahabiyah jilid 2. Jakarta: Al Itishom

Bent Soe, Hisani. 2010. Pengikat Surga. Cimahi: Ten-Q

Ridha, Akram. 2006. Cerdas dan Dicintai. Jakarta: Maghfirah

Kameela, Ayyesha.2009.Menjadi Hamba Allah Yang Dirindukan Surga. Jakarta: Jendela Dunia

Hidayatullah, Irfan. 2009. Perempuan Bersayap Surga. Bandung: DAR! Mizan

repost dari sini

Tanyamu

penjara

: Sahabat

Seperti sebuah berangkas yang hanya bisa dibuka dengan kode tertentu, disimpan di sebuah sudut ruangan, bahkan ada yang ditutupi dengan berbagai kelabuan agar takseorangpun dapat menemukan, demikian satu ruang dalam hati menyimpan rahasia paling rahasia. Di sana tersekap satu pertanyaan yang si empunya pun takberani membukanya. Mungkin ia merasa takpantas bertanya. Mungkin ia merasa kelelahan belum sampai ujungnya. Pada jeda yang belum juga terasa lama, si empunya menerka-nerka “mungkinkah ia membusuk di sana?” Namun, ternyata pekerjaan dan berbagai kesibukan dunia berhasil mengawetkannya. Tahukah kamu apa fungsi pengawet? Ia membuat sesuatu segar bugar, kaku, dan palsu.

Coba periksa pertanyaanmu sebelum ia lelah menunggu dan terbujur kaku. Jangan sampai ia menjadi darah beku yang membuat pusing kepalamu, pucat pasi wajahmu. Hidup tanpa kehidupan menyedihkan bukan? Ia menyisakan pertanyaan “kapan pertanyaan itu boleh diajukan? Kepada siapa soal itu boleh ditanyakan?” Hati menuntuk ketepatan karena ketakutan tentang sebuah penolakan atau penundaan telah menyelimutinya lebih dulu. Ia ingin berkata payah tapi tak tahu hakikat kepayahan yang sebenarnya.

Pada waktunya, ia harus diusir juga dari persembunyian. Karena pertanyaan paling sukar dijawab adalah pertanyaan yang belum diajukan. Jika takada manusia lain yang dapat membantu memberikan jawaban, kamu bisa melepaskan terkaan yang diam-diam terpancang . Siapa tahu sebenarnya mereka kawan  dekat yang lama terpisah.

Yang selalu rindu

Langitshabrina

*gambar dari sini

Al Wahid – Al Ahad

68Al-Ahad_copy

Barangsiapa yang mengaitkan Allah SWT dengan berbagai keadaan, maka sesungguhnya dia tidak mempercayai keesaan Allah SWT. Yang menyerupakan Allah SWT dengan sesuatu sebenarnya dia tidak mengenal-Nya sedikitpun. Siapapun yang menduga dapat melukiskan-Nya, maka Dia pasti bukan yang dilukiskan. Orang yang menghayaklan-Nya, sebenarnya Dia bukan yang dihayalkan.

Waktu tidak bersama Allah SWT. Wujudnya mendahului waktu. Keberadaan-Nya tidak mendahului ketidakberadaan. Azali-Nya mendahului permulaan. Penciptaan-Nya atas indera diketahui bahwa Allah SWT tidak berindera. Dengan pertentangan dengan berbagai hal, diketahui bahwa Dia tidak mempunyai pertentangan. Dengan persamaan dengan berbagai hal, diketahui bahwa takada satupun yang menyamai-Nya.

Dialah Allah SWT, takterbatas oleh batas, takterhitung dengan jumlah, kata “sejak” ditolak oleh sifat qodim-Nya. Kata “sesudah” tidak sejalan dengan sifat azali-Nya. Kata “seandainya” tidak dikenal dengan sifat kesempurnaan-Nya. Dia tidak melahirkan apapun, sehingga tidak dapat dipandang telah dilahirkan. Dialah Allah SWT, terlalu tinggi untuk punya putra, terlalu suci untuk punya istri. Khayalan tidak dapat menjangkau-Nya. Maka mustahil memberikan kuantitas kepada-Nya. Pengertian tidak dapat memikirkan-Nya, maka bagaimana bisa memberi bentuk untuk-Nya.

Indera tidak dapat menangkap-Nya, sehingga bagaimana dia dapat diraba?! Malam dan siang tidak menjadikan-Nya tua. Terang dan gelap tidak menjadikan-Nya berubah. Dia tidak di dalam sesuatu dan dia juga tidak di luarnya. Dialah Allah SWT, menyampaikan berita bukan dengan lidah, juga bukan dengan bunyi. Dia mendengarkan bukan dengan telinga atau dengan organ pendengar. Dia melihat bukan dengan alat pelihat. Dia berkata-kata tanpa mengeluarkan kata-kata. Dia mengingat tapi tidak menghafal. Dia bertekad tapi bukan dengan ketetapan hati.

Dialah Allah SWT, mencintai tanpa perasaan, menaruh kasih tanpa perih. Dia membenci tanpa derita. Dia marah tanpa gejolak hati.

(Ali Bin Abi Thalib – Nahjul Balaghah).

*gambar dari sini

Perempuan dengan Telepon Genggam di Tangannya

alone woman

Ia mengukuhkan kesunyiannya dengan mengejar keramaian yang fana. Digantungkannya hidup kepada mahluk yang sesungguhnya lemah takberdaya. Hari-harinya adalah pencarian tentang rasa memiliki. Takdisadari bahwa sejatinya ia sedang merapal rasa kehilangan. Ia mencari orang lain dan melepas dirinya sendiri.

Setiap melihatnya, hatiku berguman, “Kau sudah kehilangan dirimu sendiri. Entah kapan, aku taktahu. Keinginanmu untuk memiliki dirinya sama dengan kepercayaanmu pada kehilangan yang sebentar lagi tiba. Kau tagih ia terus-menerus, kau kukuhkan keraguanmu, dan ternyata kau sedang menyulam kehilangan yang sebenarnya. Berhentilah sebelum kau benar-benar kehilangan dirimu. Berhentilah sebelum kesunyian benar-benar menyekapmu.”

Maneka

foto dari sini

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript