Kita Telah Berubah

ci

Ramadhan ketiga ini ditutup dengan gambaran umum soal apa yang menimpa umat Islam, khususnya kalangan anak muda. Mulanya dari pembicaraan soal gerakan kaum liberal yang sedang mengkampanyekan penghapusan arabisasi Islam di Indonesia. Bagian yang paling digugat adalah busana muslimah atau hijab. Pakaian serba hitam dan cadar menjadi  penanda yang digugat. “Lima atau sepuluh tahun ke depan Indonesia akan menjadi Arab.” Belum lagi istilah-istilah Arab banyak digunakan di Indonesia. Bahkan kata ikhwan dan akhwat yang sering muncul di WC masjid pun dibahas oleh mahasiswa/ dosen sastra Arab yang ikut-ikutan menyudutkan Islam. Ikhwanul Muslimin disebut-sebut sebagai salah satu yang memengaruhi kehadiran dua istilah ini. Seorang yang takpaham berujar, “Berarti kalau bukan saudara sedarah gak boleh masuk WC masjid dong!” Di situ kesalahan mereka. Mereka belum paham benar makna persaudaraan menurut Islam yang diimplementasikan oleh Ikhwanul Musliman. “Sesama muslim itu bersaudara,” sederhananya demikian. Namun, liberalis itu alfa soal prinsip ini. Untuk melawan ini, muncullah istilah Islam nusantara, Islam yang asli Indonesia. Salah satu produknya yang paling dekat kita saksikan adalah pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa.

Pagi pertama Ramadhan seorang ustadz membahas ini dalam sebuah kuliah subuh. Ia menyebutkan bahwa sejak kehadirannya, Islam sudah menjadi nafas kehidupan di Indonesia. Buktinya berbagai hal yang berhubungan dengan pengaturan masyarakat, mayoritas menggunakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata hukum, hakim, adil, musyawarah, wakil, mahkamah, dll berbahasa Arab. Apabila pegiat Islam Nusantara ini menggugat istilah Arab semacam ikhwan – akhwat, ubahlah dulu butir Pancasila. Kata keadilan, hikmat, permusyawaratan, perwakilan, dll dalam Pancasila ubah dulu ke bahasa Indonesia asli. Alih- alih mengubah yang Arab jadi Nusantara, justru ujungnya malah westernisasi. Akhirnya ustadz mengutarakan pernyataan paling aku suka, “Orang yang melakukan Arabisasi Islam dan Islam Nusantara, keduanya sama: fundamentalis. Islam ya Islam titik”

Ide Islam nusantara ini pernah terjadi pada Islam di Turki sejak kemunculan Mustafa Kemal Attaturk. Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merobohkan masjid itu. Cerita yang lain mengatakan, ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya. Sejarah mungkin berulang, liberalis Indonesia mungkin rada ketinggalan zaman. Mereka mau melakukan hal yang sama di Indonesia. Ya, semoga mereka juga belajar soal akhir hayat Kemal Attaturk yang mengenaskan itu. Kehadiran Said Nursi menggubah kisah Islam di Turki menjadi lebih baik. Lalu generasi kemudian, Erdogan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya soal posisinya.

“Speaking at Kanal D TV”s Arena program, PM Erdogan commented on the term “moderate Islam”, often used in the West to describe AKP and said, “˜These descriptions are very ugly, it is offensive and an insult to our religion. There is no moderate or immoderate Islam. Islam is Islam and that’s it,” (Source: Milliyet, Turkey, August 21, 2007).

Lalu, di Indonesia, siapakah pembaharu itu? Akhirnya pembicaraan kami berpindah pada kisah pelengseran Sukarno tahun 66. Seperti Said Nursi yang menyebar tulisannya dari penjara, Taufiq Ismail pun menyebar tulisannya kepada sesama mahasiswa untuk berbagi semangat. Kami pun membahas soal posisi mahasiswa di Indonesia. Saat ini mahasiswa sedang “dipindahkan” oleh pemodal media massa dari jalanan ke kursi-kursi penonton di acara-acara televisi. Kegiatan BEM pun saat ini lebih banyak mengundang grup band dan komedian. Kegiatan yang berhubungan dengan penelitian amat langka. Belum lagi hantaman budaya virtual saat ini. Mahasiswa sekarang lebih banyak ngegalau di media sosial ketimbang berkarya. Yang produktif nulis buku, kebanyakan ngegalau di puisi, cerpen, atau novel. Yang berprestasi di bidang akademik dan ilmiah juga ada, tapi jumlahnya sangat sedikit.

Setiap pulang kerja di angkot, setiap seangkot sama anak SMP, SMA, atau mahasiswa laki-laki, pasti yang dibahas adalah game. Bahkan ada yang rela begadang demi naik level sebuah game. It’s oke lah kalo game itu menghasilkan penelitian (baca: tesis). Kalau cuma buang waktu, mau jadi apa hidupmu? Nah, kalau perempuan sekarang lagi dihantam sama drama Korea dan boyband KPOP. *Yang nulis termasuk tersangka. Sometime aku jadi mikir, kalau game adalah part of life-nya cowok-cowok masa kini, apa jadinya generasi mendatang ayahnya tukang ngegame? Begitupun tentang perempuan yang kecanduan drama Korea, “Kapan sih mereka sadar dan bangun?” Aku bahkan curiga ada sekelompok orang yang dibayar oleh pemerintah Korea untuk mengunggah video drama Korea satu detik setelah drama itu selesai ditayangkan di TV. Penelitian ke arah situ kayaknya bakal lama dan multidisipliner banget.

Sebagai anak Kajian Budaya, Ya! Aku mengiyakan bahwa sudah sangat lama anak muda Indonesia digempur dengan imperialisme cultural. Ini lebih menyeramkan dari hantaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina menurutku. Muslim Palestina digempur secara fisik, ruhiyahnya menguat dan semangat perlawanannya hidup. Di Indonesia, gaya hidup dan alam pikiran yang sedang digempur. Akhirnya lahirlah generasi memble. Kapan semua ini akan berakhir? Bergantung kesadaran orang tua masa kini dalam mendidik anaknya di rumah. Itu hal minimal yang harus dilakukan. Namun, anak muda zaman sekarang gak mungkin dihadapi dengan konfrontasi (baca: larangan). Mereka harus benar-benar dipahamkan dan diarahkan.

Semua celoteh di atas bisa disingkat dengan kalimat Piliang:

mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171).

Satu solusi tawaran Piliang yang aku sepakati:

Di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kasih sayang, kedamaian, keadilan, kearifan, dan keshalihan. Kedua, kekuatan militer yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kesatuan, keamanan, stabilitas dan kekuasaan. Ketiga, kekuatan pasar yang dibangun berdasarkan prinsip keuntungan.
………………………………………………………………………………………………………………

Bagi Indonesia, milenium ketiga harus dijadikan sebagai milenium renaisans spiritual atau milenium kebangkitan agama. Agama harus dijadikan way of life, sehinggi tidak sekadar jadi benteng terakhir tapi justru menjadi energi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada kenyataanya konsep-konsep kejujuran, kerja keras, keterbukaan, kesederhanaan yang diperlukan dalam kancah globalisasi ekonomi dan informasi saat dewasa ini adalah konsep-konsep yang berasal dari agama.

Oleh sebab itu, menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi dari berbagai kegiatan ekonomi,sosial, politik tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menyambut milenium ketiga. Tantangan masa depan adalah menciptakan sebuah dunia hiper-modern yang bernuansa spiritual, sebuah supermaju yang berkearifan.

(Dunia Yang Dilipat, Piliang, 2011: 454).

*jurnal paling random

Advertisements

Jilboobs : Tubuh Tanpa Ideologi

Membahas wacana hijab style kurang seru tanpa membahas fenomena jilboobs. Julukan bernada pelecehan yang ditujukan kepada muslimah yang jilbabnya takmenutup dada dan mempertontonkan bentuk payudara (boobs) ini mencuat di media sosial pada Agustus 2014. Foto-foto muslimah berjilbab dengan kaos ketat dan celana jins yang membentuk bagian payudara dan bokong beredar di Facebook dan Twitter. Tagar jilboobs sempat ramai di lini masa Twitter. Sebagian orang mengutuk para penggunanya karena telah mencemarkan nama jilbab dan kehormatan muslimah. Sebagian yang lain menanggapinya dengan kesan lebih bijak. Para pengguna jilboobs sedang berproses menuji jilbab yang syar’i. Tidak sepantasnya masyarakat mengutuknya. Alih-alih semakin semangat menggunakan hijab, bisa jadi kutukan itu malah membuat pengguna jilboobs melepas jilbabnya.

Jika dirunut dari sejarah perkembangan gerakan menutup aurat di Indonesia, aliran berpakaian dengan mengenakan jilbab, tapi tetap memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh tertentu sempat menjadi tren pada tahun 1998 s.d. 2004-an. Hal itu bersamaan dengan booming film India di Indonesia, (Al Amin: 2014). Hal ini juga berbarengan dengan mulai berjilbabnya artis Inneke Koesherawati. Ia menjadi pusat tren jilbab gaul pada tahun 2002 yang juga disebut jilbab cekek karena helaian jilbab dililitkan ke leher. Model jilbab ini juga disebut sebagai jilbab pentul korek karena bentuknya yang menyerupai pentul korek. Gaya jilbab yang dililitkan ke leher tentu tidak sesuai dengan aturan Islam (menutup dada) sehingga bentuk payudara terlihat jelas.

Baju dan celana ketat adalah ciri khas komunitas berpakaian ini. Mengapa disebut komunitas? Sejak Januari 2014, setidaknya ada empat grup Jilboobs di jejaring sosial Facebook. Grup Jilboobs paling awal didirikan 25 Januari 2014 dan disukai oleh 9.330 akun (diakses 22/10/2014). Komunitas kedua diluncurkan pada 6 Februari 2014 dan dalam enam bulan sudah diikuti oleh 12.140 akun. Komunitas Jilboobs Lover yang didirikan 6 Agustus 2014 dalam sebulan sudah diikuti oleh 2.292 akun. Kehadiran komunitas-komunitas ini tentu bukan ketaksengajaan. Sebuah grup eksis di jejaring sosial tentu ada pembuatnya dan inisiatornya. Dari sisi kajian budaya, Jilboobs takberbeda dengan Punk yang merupakan aliran subkultur dalam fashion. Pengguna Jilboobs sedang belajar menggunakan jilbab tapi belum rela mengganti baju seksinya dengan jilbab yang serba tertutup. Ia juga bisa jadi merupakan protes terhadap pandangan bahwa pengguna jilbab takdapat terlihat seksi. Komunitas ini seolah ingin menyatakan, “Pengguna jilbab juga bisa terlihat seksi.” Fenomena ini terjadi karena tidak sedikit perempuan yang menumpukan citra kecantikan pada seksualitas tubuh.

Dalam kemudahan akses informasi saat ini, bertebarannya gambar-gambar pengguna jilboobs menjadi satu penanda hilangnya aura tubuh muslimah. Baudrillard menyebut zaman ini sebagai era akhir rahasia, (Piliang, 2011: 169). Aurat yang sejatinya menjadi rahasia seorang muslimah kini dengan mudah dapat terlihat oleh siapapun bahkan ketika ia menggunakan jilbab. Komunitas-komunitas Jilboobs di Facebook membagi gambar-gambar muslimah berjilbab seksi. Tanpa sadar, perempuan-perempuan yang gambarnya disebarkan oleh akun komunitas Jilboobs sedang menjadi tontonan. Pada awalnya meraka menganggap diri menjadi subjek popularitas. Padahal sebenarnya mereka sedang menjadi objek tontonan yang tanpa sadar memarginalkan diri mereka sendiri.

Menurut Piliang, dalam masyarakat tontonan, tubuh perempuan sebagai objek tontonan dalam menjual komoditas mempunyai peran yang sangat sentral. Menjadikan tubuh sebagai tontonan bagi sebagian perempuan merupakan jembatan atau jalan pintas untuk memasuki pintu gerbang budaya populer, mencari popularitas, mengejar gaya hidup, dan memenuhi kepuasan material, tanpa menyadari bahwa mereka sebetulnya telah dikonstruksi secara sosial untuk berada di dunia marginal, dunia objek, dunia citra, dan dunia komoditas,” (2011: 331-332). Ini dialami oleh muslimah yang foto-fotonya disebarkan melalui akun komunitas Jilboobs. Pada saat wacana ini ramai diperbincangkan di media, foto-foto mereka dicaplok oleh portal-portal berita online. Tidak jarang foto mereka pun menjadi bahan pelecehan terhadap jilbab. Keuntungan material takdidapat, malah ujungnya, popularitas yang didapat adalah sebagai citra negatif pengguna jilbab. Inilah yang dinamakan tubuh tanpa ideologi. Perempuan pengguna jilboobs seperti awan yang bergerak ke mana angin berhembus. Ia tidak memiliki pegangan yang jelas dalam berpakaian.

Fenomena Jilboobs yang lahir pada hiruk-pikuk wacana hijab style sebagai sebuah komoditas fashion hanya akan menjadikan pengguna jilboobs sebagai objek belaka. Jilboobs yang merupakan akronil dari Jilbab dan boobs. Secara semiotik kata ini mewakili komunitas perempuan beragama Islam yang familiar disebut muslimah. Boobs berasal dari bahasa Inggris yang berarti payudara. Payudara sebagai salah satu bagian tubuh menandakan sensualitas perempuan. Komunitas Jilboobs seolah menjadi agen pembuka rahasia yang selama ini ditutupi oleh muslimah pengguna jilbab. Dari sisi wacana, tanpa sadar komunitas Jilboobs sedang menanggalkan jilbab dan hijab kaum muslimah dan menelanjanginya. Ia menanggalkan jilbab sebagai identitas ideologis muslimah.

Dilihat dari segi bahasa, lagi-lagi boobs -bahasa Inggris- sebagai wakil dari Barat menjadi biang kerok pelecehan jilbab ini. Pamer tubuh sebagai citra eksistensi kecantikan di Barat mengontaminasi alam pikiran perempuan dan membuatnya mencampurkan antara aturan berpakaian menurut Islam dengan kriteria kecantikan versi Barat. Tubuh yang sejak awal dilindungi, dan diberi identitas dengan jilbab, malah dicampakan, dilecehkan dengan mempertontonkan aurat sebagai citra kecantikan ala Barat. Tubuh dilepaskan dari aturan Islam yang memproteksinya. Fenomena ini menjadi bukti lahirnya budaya ketelanjangan, budaya tanpa rahasia, tanpa hijab dalam dunia muslimah. Aurat sebagai wilayah pribadi dipertontonkan dan berubah menjadi wilayah publik. Tanpa disadari tren hijab style menjauhkan hijab yang digunakan muslimah saat ini dengan pakem hijab yang telah diajarkan dalam Islam.

*Mungkin tulisan ini sangat ketinggalan zaman, tapi takapalah. Sebetulnya ini menjadi salah satu bab dalam calon buku saya, tapi saya terbitkan di blog sebagai penanda bahwa ini adalah pernyataan saya. Bagi pembaca Yasraf Amir Piliang mungkin bisa menangkap kata atau frasa beliau yang memengaruhi tulisan ini. Demikianlah, pernyataan-pernyataan beliau dalam “Dunia yang Dilipat” memang hampir semua saya amini.

Jurnal Estetika Postmodernisme dalam Hijab Style

iklan jurnal panggung

Sebagai produk budaya postmodern, hijab style lahir di era tumpah ruahnya realitas semu. Citra modernitas, pemenuhan hasrat kecantikan, dan citra perempuan kelas atas dapat dibeli dengan cepat di toko-toko hijab online. Menurut Piliang, mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171). Desain hijab yang semakin jauh dari syar’i, harganya yang semakin tinggi, dan mencuatnya fenomena jilboobs menggambarkan bahwa pandangan masyarakat tentang hijab telah berubah. Pasar sudah mengubah hijab bukan lagi sebagai identitas melainkan komoditas bisnis.

Lalu dalam ceceran tanda-tanda ini sebagian besar dari kita hanya dapat berkata bahwa hijab style telah mengubah apa-apa yang dahulu melekat pada hijab dengan dalil syar’i yang sebagian orang awam takbisa menerimanya. Banyak dari kita kelelahan berkata bahwa hijab style sudah taklagi memperlihatkan identitas hijab tapi kesulitan membuktikan tanda identitas mana yang mulai terkikis. Oleh sebab itu, jurnal “Estetika Postmodernisme dalam Hijab Style” menjadi jawaban singkat saya tentang bagian mana yang berubah. Mengapa hijab style takdapat lagi disebut bagian dari hijab syar’i? Mengapa hijab style layak didakwa mengaburkan fungsi hijab sebagai identitas muslimah? Bukti-buktinya visual saya tampilkan dalam jurnal ini..

Jurnal ini terbit di Jurnal Panggung STSI Bandung Vol. 24 No. 1. Ia bergabung dengan beberapa jurnal lain yang membahas “Fenomena dan Estetika Seni.” Bagi teman-teman yang berminat memiliki jurnal tersebut silakan hubungi kontak pada gambar. Mohon maaf saya tidak dapat menjelaskan langsung di blog karena berkaitan dengan hak cipta. InsyaAllah ide jurnal ini akan saya cuplik dalam buku “Hijab Style Undercover” yang masih dalam penggarapan. Mohon doa, semoga lekas terbit.

Menguliti Cover Buku “Cinta Itu…” Karya @ManJaddaWaJadaa

cinta iitttu

Akhir-akhir ini dunia penerbitan memang sedang gandrung dengan akun-akun komunitas yang mulia mengabadikan tweet mereka dalam bentuk buku. Dari sisi komoditas, salahsatu penggiatnya adalah akun-akun islami dengan mayoritas follower remaja yang belajar Islam. Di lini massa, keshalihan bukan lagi barang langka. Ia jadi trend remaja muslim di era media sosial ini. Dengan misi melunturkan pacaran yang telah menjadi budaya alamiah di seluruh dunia, akun-akun islami ini lantas membawa ide jomblo mulia, menerjemahkan cinta sesuai dengan ajaran Islam. Seperti kita tahu, di masa ini cinta bagai kacang goreng yang dijual murah di pasar malam. Lagu-lagu, film, drama, buku-buku tumpah ruah menawarkan definisinya tentang cinta. Sebagai seseorang yang sudah tua Bangka (sok gitu guwe), aku mau cerita tentang satu sampul buku menarik yang berani-beraninya ngajarin soal cinta.

Jurnalku kali ini menyelisihi idiom orang Inggris “don’t judge a book by its cover,” yang disebut-sebut di buku George Eliot. Ide-ide singkat tentang cover buku “Cinta Itu..” sudah dibahas dalam ceracauku yang bertagar #keposemiotik beberapa waktu lalu. Menurut Barthes, cover buku merupakan mitos yang berisi ideologi di dalamnya. Melalui cover buku, seorang illustrator dan penulis sedang melesapkan, membungkus, dan mengekalkan ideologi yang ada dalam buku tersebut. Mitos baru dibangun untuk meruntuhkan mitos yang telah lama eksis di masyarakat. Ideologi dalam mitos adalah kepercayaan baru (kadang palsu) yang dibangun dengan motif tertentu. [ceritanya ini kajian teori #halah!].

Dalam cover buku “Cinta itu..” sebenarnya ada dua frasa tambahan, yaitu “memantaskan diri, dan memantapkan hati.” Dua frasa ini tentu dipilih untuk membangun ide besar yang terdapat dalam buku. Untuk sebuah judul buku, menggunakan tiga frasa memang terlalu panjang. Maka, dua frasa terakhir ditulis sebagai subjudul cover yang secara tidak langsung menjawab titik-titik kosong setelah frasa pertama. Secara verbal cover ini memberi jawaban atas pertanyaan, “Apasih cinta itu?” dengan jawaban “Cinta itu memantaskan diri dan memantapkan hati.” Lalu bagaimana citra visual menguatkan pesan ini?

Sebagai bacaan kalangan remaja, buku ini memang sengaja dibuat menggunakan ilustrasi kartun, bukan foto yang nyata. Secara sederhana cinta itu digambarkan dengan dua pasang kaki bersepatu perempuan dan laki-laki. Pesan pertama yang dapat ditangkap: ini tentang cinta antara adam dan hawa, bukan cinta dalam keluarga atau persahabatan. Ini tentang cinta kacangan yang benihnya sudah tersebar luas di seluruh dunia. Karena sudah kacangan, dari kulitnya kita dapat melihat kebaikan kualitas, kebersihan, dan nutrisi yang ada di dalamnya. Walaupun kacangan, jika ia berkualitas baik, bersih, dan bernutrisi, mungkin hati akan tergerak untuk memilih definisi cinta yang ditawarkan dalam buku ini. Dari sisi mitologi Barthes, cinta yang sudah kacangan di dunia ini merupakan mitos yang sudah eksis lama dalam kebudayaan manusia. Cinta membara, bergairah, buta, mempesona, bahkan berakhir kematian seperti dalam cerita Romeo-Juliet, Rama-Shinta, atau Kayis-Layla merupakan mitos cinta yang eksis di dunia. Sesengit itukah cinta?

Memang mitos ini terlalu berat nampaknya buat remaja-remaja yang notabene #Galauers #Alayers itu. Belum lagi kisan LDR yang menguras hati haahahaha! Berat banget nampaknya cinta buat anak zaman sekarang. Jadi gue harus mati minum racun dulu untuk tahu apa artinya cinta? Masa gue harus mati buat tahu apa artinya cinta? Dengan gambar kartun, buku ini semacam banyolan yang bilang “gaaaak usaaaaaaah!” Frasa “memantaskan diri” dan “memantapkan hati” juga jadi jawaban sederhana dari pertanyaan besar yang muncul akibat mitos-mitos cinta yang eksis sebelumnya.

Dua pasang kaki yang berhadapan jadi penanda bahwa saat memantaskan diri dan memantapkan hati harus ada jarak antara laki-laki dan perempuan. Bahkan cinta adalah jarak antara mereka. Walaupun dilihat dari gambar, kepantasan dan kemantapan adalah garis finish pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang sedang berhadapan ini. Kaki menjadi penanda sosok karena dengan kaki manusia bisa move on atau move off. *kayak bener aja ni istilah qiqiqiqi. Bergerak selalu diawali dengan langkah kaki. Sejauh apapun sebuah perjalanan, ia diawali oleh gerakan kaki untuk langkah pertama.

Mengapa kedua kaki itu menggunakan sepatu? Ini adalah tanda kesiapan. Kesiapan seorang muslim itu digambarkan dengan formalitas sepatu. Ketika menghadiri wawancara kerja, kita pasti memilih menggunakan sepatu daripada sanda. Saat UAS atau UTS di sekolah atau di kampus mana berani kita menggunakan sandal (kecuali di Sastra Indonesia Unpad angkatan 2005 #abaikan) dan pasti bersepatu. Sepatu sebagai bagian dari fashion adalah cara seseorang menampakkan dirinya ke hadapan dunia.

Perempuan dalam sampul ini digambarkan dengan sepatu feminin bukan cepatu cats atau sandal gunung. Ilustrasi ini berpesan bahwa kepantasan seorang perempuan dalam cinta adalah ketia ia telah menemukan femininitas dalam dirinya. Pantaskan dirimu dengan mempersiapkan diri menjadi perempuan sesungguhnya. Dua kaki perempuan itu merapa lurus menandakan bahwa memantaskan diri itu duduk manis menunggu, bukan agresif (*teriak pakek toa masjid). Untuk seorang perempuan, mencintai lelaki berarti sibuk memantaskan diri untuk menjadi perempuan terbaik baginya. Tidak memalukan bukan, memaknai cinta sebagai kesibukan memantaskan diri. Ini juga gambaran mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Ini juga pesan bahwa sebaik-baiknya menuntuk yang terbaik dari orang lain adalah dengan menyiapkan yang terbaik pada diri sendiri.

Femininitas dalam sampul ini bukan berarti fisik atau penampilan semata ya. Kasihan buat cewek or akhwat casual yang punya azzam untuk memantaskan diri. Kesempurnaan perempuan memang tergambar dari femininitas, ini sudah menjadi sesuatu yang membatu dalam Islam dan kebudayaan Indonesia. Sepatu feminin ini memang gambaran paling lugas untuk memeras makna femininitas secara batiniah, iner beauty kata orang Barat. Takperlu berbaju selalu pink untuk menceritakan bahwa kamu sudah bisa masak, pandai merajut, atau merawat bayi. Takperlu berjubah hitam untuk mengesankan bahwa hafalan Al Quranmu sudah hampir selesai. Sepatu feminin ini adalah gambaran iner beauty yang dimilik perempuan sebagai tanda kesiapan.

Laki-laki digambarkan dengan sepatu casual merah bertali putih. Hmm.. Banyak gak sih laki-laki yang pakek sepatu merah macem begini? Kayaknya sih mayoritas lelaki atau cowok alay yang berani pakek sepatu sengejreng ini. Kamu, iya kamuuu! Hahahah! Ngaku deh, di rak sepatu kamu ada kan sepatu merah macam begini?! Wkwkwk! Yah, yang namanya ilustrasi nggak akan jauh dari tanda-tanda. Walaupun maksa, mari kita artika warna merah atau mirip-mirip merah itu sebagai keberanian. Keberanian itu ada dua dalam cinta kata Ali Bin Abi Thalib: mengambil kesempatan atau mempersilakan. Nah! Soal ini, pesan antiPHP besar banget buat cowok. Kalau kamu cowok sejati, kamu berani maju dan berani mundur juga. Jangan ngasih harapan palsu ke cewek. Kalau sudah ngambil langkah, jangan pernah menyesal! Itulah yang dimaksud memantapkan hati.

Tali putih di sepatu cowok itu ada maknanya gak sih? Ya sudah, kita maknai saja sebagai liku-liku tantangan yang dihadapi cowok dalam memantaskan diri. Keberlikuan itu warnanya tetap putih. Seperti yang disebutkan sebelumnya, cinta yang sudah kacangan ini, carilah yang paling bersih. Putih ini jadi penanda kesucian proses memantaskan diri dan memantapkan hati dalam rangka mewujudkan cinta. Sebagai sebuah perjalanan, sewajarnya sih sepatu ini belepotan kotoran ya. Tetapi, nampaknya pesan kesucian sedang ditanamkan di dalamnya (illustrator: gue gak kepikiran itu sama sekali | aku: bodo amat!). Lalu mengapa sepatu casual yang menggambarkan lelaki dalam sampul ini? Cinta itu hak setiap orang, termasuk remaja. Memantaskan diri dan memantapkan hati adalah hak setiap orang juga. Walaupun masih abangan, selengean, belum mapan, gue juga berhak dong mencintai. *kata cowok alay. Kemantapan hati tidak selalu berbanding lurus dengan kemapanan finansial (yang biasanya digambarkan dengan sepatu pantofel).

Yang agak janggal dalam bangunan makna sampul buku ini adalah langkah kaki laki-laki yang terlihat tidak lurus. Pertanyaan yang akan muncul, “itu kaki mundur karena mau maju sebagai ancang-ancang atau mundur karena ragu-ragu?” Dari sisi semiotik, gambar ini membawa pesan keraguan. Sebagai masyarakat yang lekat dengan aktivitas tubuh bagian kanan, melangkah maju diawali dengan kaki kanan. Gambar ini menyiratkan kemunduran karena kaki kiri lebih maju daripada kaki kanan. Dalam memantapkan hati keraguan adalah tantangan paling biasa, asal jangan kelamaan.

Singkatnya, cinta (antara laki-laki dan perempuan) itu memantaskan diri dan memantapkan hati untuk menikah. Beruntungnya cinta diartikan sebagai proses, maka jodoh akan datang setelah dua proses ini. Boleh jadi jodoh datang saat memantaskan diri walaupun nyatanya belum pantas. Bisa jadi, jodoh datang saat memantapkan hati padahal hati belum benar-benar mantap. Untunglah Allah Swt menilai cinta dari proses bukan hasilnya. Jadi, cinta itu memantaskan diri dan memantapkan hati. Yang menentukan sudah pantas atau sudah mantap biar Allah Swt saja.[]

*gambar dari sini

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript