Jilboobs : Tubuh Tanpa Ideologi

Membahas wacana hijab style kurang seru tanpa membahas fenomena jilboobs. Julukan bernada pelecehan yang ditujukan kepada muslimah yang jilbabnya takmenutup dada dan mempertontonkan bentuk payudara (boobs) ini mencuat di media sosial pada Agustus 2014. Foto-foto muslimah berjilbab dengan kaos ketat dan celana jins yang membentuk bagian payudara dan bokong beredar di Facebook dan Twitter. Tagar jilboobs sempat ramai di lini masa Twitter. Sebagian orang mengutuk para penggunanya karena telah mencemarkan nama jilbab dan kehormatan muslimah. Sebagian yang lain menanggapinya dengan kesan lebih bijak. Para pengguna jilboobs sedang berproses menuji jilbab yang syar’i. Tidak sepantasnya masyarakat mengutuknya. Alih-alih semakin semangat menggunakan hijab, bisa jadi kutukan itu malah membuat pengguna jilboobs melepas jilbabnya.

Jika dirunut dari sejarah perkembangan gerakan menutup aurat di Indonesia, aliran berpakaian dengan mengenakan jilbab, tapi tetap memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh tertentu sempat menjadi tren pada tahun 1998 s.d. 2004-an. Hal itu bersamaan dengan booming film India di Indonesia, (Al Amin: 2014). Hal ini juga berbarengan dengan mulai berjilbabnya artis Inneke Koesherawati. Ia menjadi pusat tren jilbab gaul pada tahun 2002 yang juga disebut jilbab cekek karena helaian jilbab dililitkan ke leher. Model jilbab ini juga disebut sebagai jilbab pentul korek karena bentuknya yang menyerupai pentul korek. Gaya jilbab yang dililitkan ke leher tentu tidak sesuai dengan aturan Islam (menutup dada) sehingga bentuk payudara terlihat jelas.

Baju dan celana ketat adalah ciri khas komunitas berpakaian ini. Mengapa disebut komunitas? Sejak Januari 2014, setidaknya ada empat grup Jilboobs di jejaring sosial Facebook. Grup Jilboobs paling awal didirikan 25 Januari 2014 dan disukai oleh 9.330 akun (diakses 22/10/2014). Komunitas kedua diluncurkan pada 6 Februari 2014 dan dalam enam bulan sudah diikuti oleh 12.140 akun. Komunitas Jilboobs Lover yang didirikan 6 Agustus 2014 dalam sebulan sudah diikuti oleh 2.292 akun. Kehadiran komunitas-komunitas ini tentu bukan ketaksengajaan. Sebuah grup eksis di jejaring sosial tentu ada pembuatnya dan inisiatornya. Dari sisi kajian budaya, Jilboobs takberbeda dengan Punk yang merupakan aliran subkultur dalam fashion. Pengguna Jilboobs sedang belajar menggunakan jilbab tapi belum rela mengganti baju seksinya dengan jilbab yang serba tertutup. Ia juga bisa jadi merupakan protes terhadap pandangan bahwa pengguna jilbab takdapat terlihat seksi. Komunitas ini seolah ingin menyatakan, “Pengguna jilbab juga bisa terlihat seksi.” Fenomena ini terjadi karena tidak sedikit perempuan yang menumpukan citra kecantikan pada seksualitas tubuh.

Dalam kemudahan akses informasi saat ini, bertebarannya gambar-gambar pengguna jilboobs menjadi satu penanda hilangnya aura tubuh muslimah. Baudrillard menyebut zaman ini sebagai era akhir rahasia, (Piliang, 2011: 169). Aurat yang sejatinya menjadi rahasia seorang muslimah kini dengan mudah dapat terlihat oleh siapapun bahkan ketika ia menggunakan jilbab. Komunitas-komunitas Jilboobs di Facebook membagi gambar-gambar muslimah berjilbab seksi. Tanpa sadar, perempuan-perempuan yang gambarnya disebarkan oleh akun komunitas Jilboobs sedang menjadi tontonan. Pada awalnya meraka menganggap diri menjadi subjek popularitas. Padahal sebenarnya mereka sedang menjadi objek tontonan yang tanpa sadar memarginalkan diri mereka sendiri.

Menurut Piliang, dalam masyarakat tontonan, tubuh perempuan sebagai objek tontonan dalam menjual komoditas mempunyai peran yang sangat sentral. Menjadikan tubuh sebagai tontonan bagi sebagian perempuan merupakan jembatan atau jalan pintas untuk memasuki pintu gerbang budaya populer, mencari popularitas, mengejar gaya hidup, dan memenuhi kepuasan material, tanpa menyadari bahwa mereka sebetulnya telah dikonstruksi secara sosial untuk berada di dunia marginal, dunia objek, dunia citra, dan dunia komoditas,” (2011: 331-332). Ini dialami oleh muslimah yang foto-fotonya disebarkan melalui akun komunitas Jilboobs. Pada saat wacana ini ramai diperbincangkan di media, foto-foto mereka dicaplok oleh portal-portal berita online. Tidak jarang foto mereka pun menjadi bahan pelecehan terhadap jilbab. Keuntungan material takdidapat, malah ujungnya, popularitas yang didapat adalah sebagai citra negatif pengguna jilbab. Inilah yang dinamakan tubuh tanpa ideologi. Perempuan pengguna jilboobs seperti awan yang bergerak ke mana angin berhembus. Ia tidak memiliki pegangan yang jelas dalam berpakaian.

Fenomena Jilboobs yang lahir pada hiruk-pikuk wacana hijab style sebagai sebuah komoditas fashion hanya akan menjadikan pengguna jilboobs sebagai objek belaka. Jilboobs yang merupakan akronil dari Jilbab dan boobs. Secara semiotik kata ini mewakili komunitas perempuan beragama Islam yang familiar disebut muslimah. Boobs berasal dari bahasa Inggris yang berarti payudara. Payudara sebagai salah satu bagian tubuh menandakan sensualitas perempuan. Komunitas Jilboobs seolah menjadi agen pembuka rahasia yang selama ini ditutupi oleh muslimah pengguna jilbab. Dari sisi wacana, tanpa sadar komunitas Jilboobs sedang menanggalkan jilbab dan hijab kaum muslimah dan menelanjanginya. Ia menanggalkan jilbab sebagai identitas ideologis muslimah.

Dilihat dari segi bahasa, lagi-lagi boobs -bahasa Inggris- sebagai wakil dari Barat menjadi biang kerok pelecehan jilbab ini. Pamer tubuh sebagai citra eksistensi kecantikan di Barat mengontaminasi alam pikiran perempuan dan membuatnya mencampurkan antara aturan berpakaian menurut Islam dengan kriteria kecantikan versi Barat. Tubuh yang sejak awal dilindungi, dan diberi identitas dengan jilbab, malah dicampakan, dilecehkan dengan mempertontonkan aurat sebagai citra kecantikan ala Barat. Tubuh dilepaskan dari aturan Islam yang memproteksinya. Fenomena ini menjadi bukti lahirnya budaya ketelanjangan, budaya tanpa rahasia, tanpa hijab dalam dunia muslimah. Aurat sebagai wilayah pribadi dipertontonkan dan berubah menjadi wilayah publik. Tanpa disadari tren hijab style menjauhkan hijab yang digunakan muslimah saat ini dengan pakem hijab yang telah diajarkan dalam Islam.

*Mungkin tulisan ini sangat ketinggalan zaman, tapi takapalah. Sebetulnya ini menjadi salah satu bab dalam calon buku saya, tapi saya terbitkan di blog sebagai penanda bahwa ini adalah pernyataan saya. Bagi pembaca Yasraf Amir Piliang mungkin bisa menangkap kata atau frasa beliau yang memengaruhi tulisan ini. Demikianlah, pernyataan-pernyataan beliau dalam “Dunia yang Dilipat” memang hampir semua saya amini.

Jurnal Estetika Postmodernisme dalam Hijab Style

iklan jurnal panggung

Sebagai produk budaya postmodern, hijab style lahir di era tumpah ruahnya realitas semu. Citra modernitas, pemenuhan hasrat kecantikan, dan citra perempuan kelas atas dapat dibeli dengan cepat di toko-toko hijab online. Menurut Piliang, mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171). Desain hijab yang semakin jauh dari syar’i, harganya yang semakin tinggi, dan mencuatnya fenomena jilboobs menggambarkan bahwa pandangan masyarakat tentang hijab telah berubah. Pasar sudah mengubah hijab bukan lagi sebagai identitas melainkan komoditas bisnis.

Lalu dalam ceceran tanda-tanda ini sebagian besar dari kita hanya dapat berkata bahwa hijab style telah mengubah apa-apa yang dahulu melekat pada hijab dengan dalil syar’i yang sebagian orang awam takbisa menerimanya. Banyak dari kita kelelahan berkata bahwa hijab style sudah taklagi memperlihatkan identitas hijab tapi kesulitan membuktikan tanda identitas mana yang mulai terkikis. Oleh sebab itu, jurnal “Estetika Postmodernisme dalam Hijab Style” menjadi jawaban singkat saya tentang bagian mana yang berubah. Mengapa hijab style takdapat lagi disebut bagian dari hijab syar’i? Mengapa hijab style layak didakwa mengaburkan fungsi hijab sebagai identitas muslimah? Bukti-buktinya visual saya tampilkan dalam jurnal ini..

Jurnal ini terbit di Jurnal Panggung STSI Bandung Vol. 24 No. 1. Ia bergabung dengan beberapa jurnal lain yang membahas “Fenomena dan Estetika Seni.” Bagi teman-teman yang berminat memiliki jurnal tersebut silakan hubungi kontak pada gambar. Mohon maaf saya tidak dapat menjelaskan langsung di blog karena berkaitan dengan hak cipta. InsyaAllah ide jurnal ini akan saya cuplik dalam buku “Hijab Style Undercover” yang masih dalam penggarapan. Mohon doa, semoga lekas terbit.

Tutorial Pashmina Syar’i [Menurutku]

Pashmina adalah kain unik yang bentuknya segi empat panjang. Buat akhwat jilbaber biasanya agak kesulita menggunakan bahan yang biasa digunakan hijabers ini. Namun, beberapa kali melihat teh Nina (Maha Guru dalam perpashminaan buatku), aku jadi yakin kalau aku juga bisa pakek pashmina syar’i. Kebetulan di lemari ada beberapa pashmina yang udah lama gak dipakek karena i have idea to use it. Alhamdulillah setelah bertemu teh Nina, aku jadi tahu cara menggunakan pashmina yang menurutku syar’i. Ini dia teh Nina Mahaguruku eheheh!)


Sebelum mulai menggunakan pashmina, yang aku sarankan: pilihlah pashmina yang tebal agar tidak menerawang dan kita nggak usah pakek jilbab daleman. *di peragaan ini pakek jilbab dobel karena untuk menutupi aurat* #eaaaaa


1. Bentangkan pashminamu. Hmm.. usahakan gunakan pashmina yang panjang. Kebetulan pashmina yang aku pakai kali ini panjangnya 2 meter.
2. Lipat ujung kiri sampe membentuk segi tiga
3. Pastikan bagian yang dilipat ada di sebelah kiri (ikutin madzhabku ya) soalnya ini kebiasaanku ahhahah!
4. Terus pashminanya dipenitiin seperti biasa. Karena wajahku bulet, aku pakek ciput topi. Setelah pakek peniti/ jarum pentul (sesuai kebiasaan) sisi kanan pasti lebih panjang dari sisi kiri. (eiya, ini sisinya berdasarkan gambar ya).

5. Tarik bagian kiri biar menutup dada
6. Penitiin bagian kiri sampai bahu belakang, pokoknya semakin ke belakang semakin oke hehe..
7. Nah sekarang tinggal mempercantik bagian kanan ^^8

8. Tarik bagian kanan pahsmina ke kiri sampe kainnya keangkat semua (jangan tanggung-tanggung ya) hati-hati kecekek ehehehe!
9 (tampak belakang)
10. (tampak samping depan)
11. Jangan lupa bagian belakang dikasih jarum biar diem (hati-hati kalo ketarik jarumnya bisa lepas)

12. Naaaahhh.. bagian kanan udah pindah ke kanan lagi hehe.. Setelah pakek jarum  tinggal ditarik sampe bisa menutupi bahu kita
13. Pakek bros buat nyambungin antara pashmina kanan dan kiri. Usahakan brosnya yang tajam dan kokoh biar kita nyaman dan gak ngerusak pashmina kesayangan kita
Selesai sudah pashmina syar’i yang Alhamdulillah tampak belakangnya lumayan lebar ^^8


Selamat mencoba.. kalau merasa bermanfaat, silakan share ke temen-temen biar pashmina mereka bisa dipakek dan tetep tampil syar’i dengan pashmina ^^8

~ Doakan aku~

NB: Gambar ini diambil dari kamar Zainab binti Huzaimah @baitulmaqdis

Soal aku yang ndut, ruangan yang acak-acakan dan wajahku yang penuh jerawat gak usah dikomenin yaaah ahahah!

Yang motret @essafatimah

Tutorial ini diajari sama teh Nina

Pashmina Syar’i [menurutku]

Setelah beberapa lama menunggu pertemuan dengan teh Nina, photografer yang suka motret dengan kostum pashmina. Akhirnya pekan lalu aku bertemu beliau juga. Karena tahu teh Nina bakal dateng di acara Sekolah Ibu, aku sengaja bawa pashmina buat belajar. Alhamdulillah akhirnya bisa juga makek pashmina yang syar’i *menurutku. Soalnya aku nyaman menggunakannya ke kampus saat presentasi di depan dosen ^^8

Langkah pemakaiannya aku bikin besok ya.. (kalo sempet). Sekarang aku posting hasilnya dulu 😀

Ini dia Gaya Pashmina Maha Guru

Nah, yang ini gaya Pashminaku ^^8

Okey! Tutorialnya klik di sini

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript