Menuju Pertanyaan Prioritas

islam-di-indonesia

peta persebaran Islam di Indonesia

Baiklah, setelah lama membiarkan blog ini takberguna, akhirnya saya harus kembali menulis. Paling tidak, beberapa tulisan dapat menjadi bukti bahwa ruang tunggu sunyi ini bisa menjadi tempat untuk menemukan-Nya.

Pada awalnya…

Indonesia adalah negara yang penduduknya mayoritas muslim. Mayoritas muslim di Indonesia menjadi muslim karena orangtuanya muslim. Berdasarkan pengalaman saya, sebelum teknologi informasi datang ke Indonesia, pengetahuan agama didapat dari ulama-ulama pesantren tradisional. Sebagai anak yang dekat dengan lingkungan Nahdatul Ulama, bagi saya, Islam adalah berbagai hal yang tergambar dalam kitab-kitab kuning dan tafsir Jalalain. Pendidikan Islam tradisional mengajarkan bahwa Islam adalah hukum halal-haram, ritual keagamaan, perbedaan fiqh. Penguasaan bahasa Arab –menghafal kitab Alfiyah misalnya- dilakukan untuk membaca dan menjelaskan kembali kitab-kitab kuning dan beberapa tafsir klasik. Mempelajari Islam lebih dalam berarti mempertajam pengetahuan tentang sufisme. Orang-orang yang sudah menguasai bahasa Arab biasanya berpindah mempelajari syair-syarir sufi yang direpresentasikan sebagai cara untuk mendekati Allah SWT. Pola pendidikan tersebut saya dapatkan  di pesantren.

Hal itu memang kontras dengan pendidikan yang saya dapat di Rohis –pascareformasi tentunya. Islam yang saya pelajari di Rohis bukan lagi lingkaran pengetahuan yang personal dan bersifat teoretis. Islam tidak lagi sebagai aturan hitam-putih yang hanya berbicara halal, haram, bid’ah dalam ibadah. Kesempurnaan Islam mulai terlihat terlihat di mata saya. Sebagai sebuah jalan hidup yang dianut umat manusia, Islam meliputi segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Apalagi ketika Tarbiyah memperkenalkan muslim sebagai sebuah ummah. Tarbiyah memperkenalkan Palestina, Suriyah, Turki, Mekah, Madinah, dan tempat-tempat yang antah berantah bagi saya sebelumnya. Sebelumnya saya tidak pernah tahu Al Aqsa eksis di muka bumi ini. Tarbiyah membuka pengetahuan saya tentang dua kalimat syahatah sebagai sumber ikatan persaudaraan yang lebih kental dari darah. Islam sempurna tidak hanya sebagai jalan hidup tapi juga sebagai sebuah entitas.

Kemudian dua pola pendidikan ini menguat di Indonesia sampai saat ini. Pascareformasi, entitas muslim mulai mengambil langkah politik dengan Islam sebagai identitas. Sebenarnya hal ini wajar terjadi karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Namun, publik membuatnya tidak wajar karena prareformasi muslim dengan keislamanya dikerdilkan di pesantren-pesantren. Sufisme sebagai religiusitas tertinggi ala pesantren membuat citra muslim ideal adalah mereka yang salih pribadi dan jauh dari keramaian dunia. Menghadapi dunia dengan identitas Islam dianggap menodai kesakralan Islam sebagai sebuah agama. Berpolitik dianggap menjual agama demi kekuasaan.

Pada periode selanjutnya gerakan Islam mulai berkembang. Orang-orang dari gerakan muslim di Indonesia mulai sadar bahwa salah satu hal yang dapat menguatkan muslim sebagai ummat adalah ekonomi. Para ustadz mulai sadar bahwa dakwah Islam perlu ditopang dengan dana memadai. Menjadi kaya untuk menopang dakwah adalah sesuatu yang tidak diharamkan dalam Islam. Kemudian lagi-lagi budaya pesantren membentur gerakan ekonomi ini. Ulama yang memiliki harta berlebih dinilai tidak zuhud. Zuhud yang diajarkan sufisme lagi-lagi membuat pelaku dakwah ekonomi menjadi antagonis. Bank syariah, koperasi syariah, asuransi syariah dan berbagai lembaga yang berkaitan dengan syariah dicitrakan sebagai akal-akalan lembaga konvensional untuk menambah nasabah.

Kemudian…

Setelah Indonesia dilanda era media Informasi, muslim –terutama remaja- kebanjiran informasi. Muslim yang mendapatkan pola didik di pesantren kini menjadi orangtua. Sebagian dari mereka tetap berislam dengan pengetahuan pesantren tradisionalnya, sebagian mendapatkan pengetahuan baru dari gerakan-gerakan Islam yang menyentuh realitas. Diterima atau tidak, orangtua yang tetap hidup dengan pengetahuan dasarnya hanya akan sibuk dengan pertikaian sektarian antara kebijakan NU, Muhammadiyah, Persis, dll. Mereka hanya akan sibuk dengan perdebatan qunut dalam salat, hilal Idul Fitri, dan berbagai hal cabang dalam Islam. Orangtua muslim yang meluaskan pengetahuannya melalui gerakan Islam akan terbagi dua golongan: pertama, mereka menerima kesempurnaan Islam sebagai sebuah pengetahuan –sama seperti ketika mereka belajar Islam di pesantren. Kedua, mereka menerima kesempurnaan Islam sebagai sesuatu yang dapat direalisasikan dalam hidup.

Pada saat yang sama, para remaja (anak-anak dari orangtua yang mendapatkan pendidikan Islam seperti saya) menjadi bagian dari masyarakat global melalui internet. Jendela dunia (ponsel pintar) sudah ada di genggaman tangan mereka. Di satu sisi mereka mendapat berbagai pengaruh dunia luar seperti sinetron, musik, drama Korea, KPop, film Hollywood, dsb. yang jauh dari nilai-nilai Islam. Di sisi lain mereka mendapatkan informasi simpang siur tentang Islam yang mereka anut sejak lahir. Sejak internet sampai ke Indonesia, islamophobi bukan lagi sesuatu yang terjadi di barat. Media-media di Indonesia meramunya dan membuat muslim menjadi komunitas antagonis. Perdebatan tentang muslim yang berpolitik dan terjun ke dunia ekonomi menjadi topik yang dikapitalisasi.

Selanjutnya…

Perdebatan antarumat muslim tidak menutup kemungkinan pada satu waktu akan dipertanyakan kepada para remaja yang kebanjiran informasi ini. Lebaran tahun ini kamu ikutan NU atau Muhammadiyah? Kenapa kamu qunut dia nggak qunut? Kenapa di masjid ini tarawihnya 11 rakaat di masjid itu 23 rakaat? Kemudian pertanyaan akan semakin melebar, Indonesia kan negara Pancasila, kenapa sih ada partai politik Islam yang pakek asas Islam? Beneran gak sih bank syariah itu menerapkan sistem syariah? Kok ada ya ustadz yang ke mana-mana pakek mobil mewah? Kamu lihat video pembunuhan oleh ISIS gak? Islam ngajarin membunuh ya? Kemudian pertanyaan itu akan membuat remaja muslim tidak nyaman dengan keislamannya. Remaja yang tidak mengetahui jawabannya akan berkata, “bukan urusan gue.” Remaja yang mulai belajar Islam akan menanyakan jawabannya kepada guru ngajinya sambil feel bad dengan keislamannya. Mereka akan mencari jawaban bukan untuk menambah keimanan tapi untuk melakukan perdebatan. Pertanyaan-pertanyaan cabang ini akan membuat mereka abai dengan pertanyaan utama: Untuk apa saya diciptakan? Apa yang harus saya capai dalam hidup? Ke mana tujuan akhir hidup saya? mengapa saya saya muslim? Mengapa saya menyembah Allah SWT? Benarkah akhirat itu ada? Apakah surga dan neraka itu ada?

Kejadian ini pernah dialami oleh Yahudi dan Nasrani pada zaman dulu. Al Quran mengabadikannya dalam QS As-Syura: 14.

“Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka  ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. Jika tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dahulunya dari Tuhanmu (untuk menangguhkan azab) sampai batas waktu yang ditentukan, pasti hukuman bagi mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh orang-orang yang mewarisi kitab (Taurat dan Injil) setelah mereka (pada zaman Muhammad SAW) benar-benar berada dalam keraguan mendalam tentang kitab (Al Quran) itu.”

Perdebatan para ahli kitab membuat generasi yang mewarisi kitab setelah mereka pada ratusan tahun kemudian ragu terhadap Al Quran –sebagai wahyu terakhir yang menyempurnakan kitab sebelumnya-. Generasi selanjutnya tidak akan mau bertanya kepada para pemuka agama yang berdebat. Kemudia mereka kehilangan kepercayaan terhadap Taurat dan Injil. Generasi yang mewarisi mereka –ratusan tahun kemudian- tidak percaya bahwa dalam Injil terdapat pesan tentang kehadiran nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Kemudian sebagian besar dari mereka meragukan kebenaran Al Quran yang dibawah oleh Rasulullah SAW.

Apa yang akan terjadi pada generasi muslim Indonesia mendatang? Jika para orangtua sibuk dengan pertanyaan cabang dan dilemahkan keimanannya oleh pertanyaan-pertanyaan absurd yang megantagoniskan Islam dan muslim, siap-siap saja generasi kita ratusan tahun mendatang akan mengalami keraguan yang sama. Pada awalnya mungkin mereka hanya meninggalkan Al Quran. Generasi selanjutnya akan menganggap ibadah sebagai sesuatu yang tidak penting. Generasi selanjutnya mungkin akan menganggap agama sebagai sesuatu yang bukan prioritas. Generasi selanjutnya akan menganggap semua ajaran agama sama. Generasi selanjutnya akan menikah dengan agama lain. Generasi selanjutnya akan hidup dalam keluarga yang berbeda agama. Generasi selanjutnya sudah tidak ada lagi muslim. Naudzubillahimindzalik.

Sebelum hal buruk ini terjadi pada generasi kita mendatang, tidak salah bila kita kembali menguatkan keimanan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan prioritas. Status kita sebagai masyarakat dunia global saat ini membuat kita tidak selamat dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat ragu/tidak percaya diri/merasa buruk/merasa bersalah dengan keimanan dan keislaman kita. Menjadi muslim di era teknologi informasi berarti menjadi muslim yang menguatkan syahadah terus-menerus. Tidak ada kata terlambat untuk memulai belajar dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan prioritas. Sebelum ajal menjemput, masih ada kesempatan untuk mempelajari Islam sebagai agama yang haq dari Allah SWT dan menjadi muslim yang paham bukan hanya muslim yang memeluk Islam karena keturunan.[]

Bersambung insyaAllah…

*gambar dari sini

Advertisements

Kita Telah Berubah

ci

Ramadhan ketiga ini ditutup dengan gambaran umum soal apa yang menimpa umat Islam, khususnya kalangan anak muda. Mulanya dari pembicaraan soal gerakan kaum liberal yang sedang mengkampanyekan penghapusan arabisasi Islam di Indonesia. Bagian yang paling digugat adalah busana muslimah atau hijab. Pakaian serba hitam dan cadar menjadi  penanda yang digugat. “Lima atau sepuluh tahun ke depan Indonesia akan menjadi Arab.” Belum lagi istilah-istilah Arab banyak digunakan di Indonesia. Bahkan kata ikhwan dan akhwat yang sering muncul di WC masjid pun dibahas oleh mahasiswa/ dosen sastra Arab yang ikut-ikutan menyudutkan Islam. Ikhwanul Muslimin disebut-sebut sebagai salah satu yang memengaruhi kehadiran dua istilah ini. Seorang yang takpaham berujar, “Berarti kalau bukan saudara sedarah gak boleh masuk WC masjid dong!” Di situ kesalahan mereka. Mereka belum paham benar makna persaudaraan menurut Islam yang diimplementasikan oleh Ikhwanul Musliman. “Sesama muslim itu bersaudara,” sederhananya demikian. Namun, liberalis itu alfa soal prinsip ini. Untuk melawan ini, muncullah istilah Islam nusantara, Islam yang asli Indonesia. Salah satu produknya yang paling dekat kita saksikan adalah pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa.

Pagi pertama Ramadhan seorang ustadz membahas ini dalam sebuah kuliah subuh. Ia menyebutkan bahwa sejak kehadirannya, Islam sudah menjadi nafas kehidupan di Indonesia. Buktinya berbagai hal yang berhubungan dengan pengaturan masyarakat, mayoritas menggunakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata hukum, hakim, adil, musyawarah, wakil, mahkamah, dll berbahasa Arab. Apabila pegiat Islam Nusantara ini menggugat istilah Arab semacam ikhwan – akhwat, ubahlah dulu butir Pancasila. Kata keadilan, hikmat, permusyawaratan, perwakilan, dll dalam Pancasila ubah dulu ke bahasa Indonesia asli. Alih- alih mengubah yang Arab jadi Nusantara, justru ujungnya malah westernisasi. Akhirnya ustadz mengutarakan pernyataan paling aku suka, “Orang yang melakukan Arabisasi Islam dan Islam Nusantara, keduanya sama: fundamentalis. Islam ya Islam titik”

Ide Islam nusantara ini pernah terjadi pada Islam di Turki sejak kemunculan Mustafa Kemal Attaturk. Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merobohkan masjid itu. Cerita yang lain mengatakan, ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya. Sejarah mungkin berulang, liberalis Indonesia mungkin rada ketinggalan zaman. Mereka mau melakukan hal yang sama di Indonesia. Ya, semoga mereka juga belajar soal akhir hayat Kemal Attaturk yang mengenaskan itu. Kehadiran Said Nursi menggubah kisah Islam di Turki menjadi lebih baik. Lalu generasi kemudian, Erdogan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya soal posisinya.

“Speaking at Kanal D TV”s Arena program, PM Erdogan commented on the term “moderate Islam”, often used in the West to describe AKP and said, “˜These descriptions are very ugly, it is offensive and an insult to our religion. There is no moderate or immoderate Islam. Islam is Islam and that’s it,” (Source: Milliyet, Turkey, August 21, 2007).

Lalu, di Indonesia, siapakah pembaharu itu? Akhirnya pembicaraan kami berpindah pada kisah pelengseran Sukarno tahun 66. Seperti Said Nursi yang menyebar tulisannya dari penjara, Taufiq Ismail pun menyebar tulisannya kepada sesama mahasiswa untuk berbagi semangat. Kami pun membahas soal posisi mahasiswa di Indonesia. Saat ini mahasiswa sedang “dipindahkan” oleh pemodal media massa dari jalanan ke kursi-kursi penonton di acara-acara televisi. Kegiatan BEM pun saat ini lebih banyak mengundang grup band dan komedian. Kegiatan yang berhubungan dengan penelitian amat langka. Belum lagi hantaman budaya virtual saat ini. Mahasiswa sekarang lebih banyak ngegalau di media sosial ketimbang berkarya. Yang produktif nulis buku, kebanyakan ngegalau di puisi, cerpen, atau novel. Yang berprestasi di bidang akademik dan ilmiah juga ada, tapi jumlahnya sangat sedikit.

Setiap pulang kerja di angkot, setiap seangkot sama anak SMP, SMA, atau mahasiswa laki-laki, pasti yang dibahas adalah game. Bahkan ada yang rela begadang demi naik level sebuah game. It’s oke lah kalo game itu menghasilkan penelitian (baca: tesis). Kalau cuma buang waktu, mau jadi apa hidupmu? Nah, kalau perempuan sekarang lagi dihantam sama drama Korea dan boyband KPOP. *Yang nulis termasuk tersangka. Sometime aku jadi mikir, kalau game adalah part of life-nya cowok-cowok masa kini, apa jadinya generasi mendatang ayahnya tukang ngegame? Begitupun tentang perempuan yang kecanduan drama Korea, “Kapan sih mereka sadar dan bangun?” Aku bahkan curiga ada sekelompok orang yang dibayar oleh pemerintah Korea untuk mengunggah video drama Korea satu detik setelah drama itu selesai ditayangkan di TV. Penelitian ke arah situ kayaknya bakal lama dan multidisipliner banget.

Sebagai anak Kajian Budaya, Ya! Aku mengiyakan bahwa sudah sangat lama anak muda Indonesia digempur dengan imperialisme cultural. Ini lebih menyeramkan dari hantaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina menurutku. Muslim Palestina digempur secara fisik, ruhiyahnya menguat dan semangat perlawanannya hidup. Di Indonesia, gaya hidup dan alam pikiran yang sedang digempur. Akhirnya lahirlah generasi memble. Kapan semua ini akan berakhir? Bergantung kesadaran orang tua masa kini dalam mendidik anaknya di rumah. Itu hal minimal yang harus dilakukan. Namun, anak muda zaman sekarang gak mungkin dihadapi dengan konfrontasi (baca: larangan). Mereka harus benar-benar dipahamkan dan diarahkan.

Semua celoteh di atas bisa disingkat dengan kalimat Piliang:

mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171).

Satu solusi tawaran Piliang yang aku sepakati:

Di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kasih sayang, kedamaian, keadilan, kearifan, dan keshalihan. Kedua, kekuatan militer yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kesatuan, keamanan, stabilitas dan kekuasaan. Ketiga, kekuatan pasar yang dibangun berdasarkan prinsip keuntungan.
………………………………………………………………………………………………………………

Bagi Indonesia, milenium ketiga harus dijadikan sebagai milenium renaisans spiritual atau milenium kebangkitan agama. Agama harus dijadikan way of life, sehinggi tidak sekadar jadi benteng terakhir tapi justru menjadi energi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada kenyataanya konsep-konsep kejujuran, kerja keras, keterbukaan, kesederhanaan yang diperlukan dalam kancah globalisasi ekonomi dan informasi saat dewasa ini adalah konsep-konsep yang berasal dari agama.

Oleh sebab itu, menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi dari berbagai kegiatan ekonomi,sosial, politik tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menyambut milenium ketiga. Tantangan masa depan adalah menciptakan sebuah dunia hiper-modern yang bernuansa spiritual, sebuah supermaju yang berkearifan.

(Dunia Yang Dilipat, Piliang, 2011: 454).

*jurnal paling random

Jangan Menghalangi Muslimah Menikahi Pria Pilihannya

foto

Memilih suami adalah hak besar wanita Muslimah tanpa intervensi siapapun baik itu keluarganya, orang lain maupun negara. Ayah, ibu, saudara, saudari, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan dan semua keluarga, dekat atau jauh tidak berhak mencegah pilihan suami wanita. Demikian pula shahabat, bos, guru, Musyrif, Musyrifah, Murobbi, Murobbiyah, Mursyid, Mursyidah, ustadz, ustadzah, Amir, bahkan Khalifah juga tidak berhak mengintervensi (yang bersifat memaksa/menekan) keputusan wanita dalam memilih suami. Memilih suami adalah hak penuh wanita. Dialah yang berhak menentukan siapa calon suaminya, dan dia pula yang berhak menentukan apakah menerima seorang lelaki atau menolaknya.

Dalil yang menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita adalah Nash-Nash berikut:

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Gadis tidak boleh dinikahi hingga dimintai izin, dan janda tidak bleh dinikahi hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “tandanya diam.” (H.R. Bukhari)

Riwayat Muslim berbunyi:

‘Aisyah berkata; “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ya, dia dimintai izin.” ‘Aisyah berkata; Lalu saya berkata kepada beliau; “Sesungguhnya dia malu (mengemukakannya).” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (H.R. Muslim)

Riwayat Muslim dari Ibnu Abbas berbunyi;

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis) harus dimintai izin darinya, dan diamnya adalah izinnya.” Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan dengan isnad ini, beliau bersabda: “Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan (gadis), maka ayahnya harus meminta persetujuan atas dirinya, dan persetujuannya adalah diamnya.” Atau mungkin beliau bersabda: “Dan diamnya adalah persetujuannya.” (H.R. Muslim)

Wanita tidak lepas dari kondisi; janda atau gadis. Dalam kondisi gadis, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang dia dinikahkan sebelum dimintai izinnya, dalam kondisi janda Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam melarang dia dinikahkan sebelum diajak musyawarah untuk dimintai pertimbangan. Semua perlakuan ini menunjukkan bahwa wanita dalam kondisi apapun tidak boleh dipaksa menikah dengan seseorang yang tidak dia inginkan. Maknanya, hak penuh memilih ada pada tangannya, bukan ditangan walinya atau orang lain.

Nabi pernah merekomendasikan kepada seorang wanita untuk menikahi seorang lelaki yang sangat mencintainya. Sayangnya wanita tersebut tidak mencintai lelaki itu sehingga dia menolaknya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam tidak memaksa wanita itu untuk menikahi lelaki itu meski sang lelaki sangat mencintainya. Bukhari meriwayatkan:

Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Bariroh adalah seorang budak. Namanya Mughits. Sepertinya aku melihat ia selalu menguntit di belakang Bariroh seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Bariroh dan kebencian Bariroh terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “andaisaja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Bariroh bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Bariroh pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” (H.R. Bukhari)

Mughits sangat mencintai Bariroh. Besarnya cinta ini sampai membuat Mughits mengikuti kemanapun Bariroh pergi dengan derai air mata yang membasahi janggutnya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam iba dengan penderitaan Mughits, lalu merekomendasikan Bariroh agar berkenan menikah dengan Mughits. Ternyata Bariroh menolaknya dan Nabipun tidak memaksa. Tidak adanya paksaan dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kepada Bariroh kepada Mughits padahal Mughits sangat mencintai Bariroh, menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita hingga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sendiripun tidak berani intervensi yang bersifat memaksa/menekan.

Bahkan pembangkangan seorang wanita terhadap ayahnya atau ibunya dalam hal pilihan suami, tidak tergolong kedurhakaan. Bukhari meriwayatkan;

Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya -ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. (H.R. Bukhari)

Riwayat Ahmad berbunyi;

Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (H.R. Ahmad)

Seandainya pembangkangan Khonsa’ binti Khidzam kepada ayahnya dalam hal pilihan suami termasuk kedurhakaan, niscaya Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam akan memerintahkan Khonsa’ taat atas keputusan ayahnya dalam hal pilihan suami. Ketika Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam justru memberikan pilihan kepada Khonsa’ untuk membatalkan pernikahan atau melanjutkannya, maka hal ini menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak besar wanita yang bahkan menjadi Takhsish atas keumuman perintah taat kepada Ayah/wali atau perintah berbakti kepada orang tua.

Lebih jauh dari itu, aktivitas menghalang-halangi wanita untuk menikah dengan lelaki yang telah menjadi pilihannya adalah kezaliman yang diharamkan oleh Islam dan disebut dalam pembahasan Fikih Islam dengan istilah ‘Adhl. Adhl hukumnya haram dan pelakunya dihukumi fasik yang gugur hak perwaliannya dan tidak diterima persaksiannya. Allah berfirman ketika mengharamkan ‘Adhl.

Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah ada saling ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf (Al-Baqoroh; 232)

Ayat ini turun berkaitan Adhl yang dilakukan seorang shahabat bernama Ma’qil bin Yasar yang tidak mau menikahkan saudarinya ketika dilamar seorang lelaki. At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya:

Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia menikahkan saudarinya dengan seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya tinggal bersama suaminya beberapa waktu, setelah itu dia menceraikannya begitu saja, ketika masa Iddahnya usai, ternyata suaminya cinta kembali kepada waanita itu begitu sebaliknya, wanita itu juga mencintainya, kemudian dia meminangnya kembali bersama orang-orang yang meminang, maka Ma’qil berkata kepadanya; hai Tolol, aku telah memuliakanmu dengannya dan aku telah menikahkannya denganmu, lalu kamu menceraikannya, demi Allah dia tidak akan kembali lagi kepadamu untuk selamanya, inilah akhir kesempatanmu.” Perawi berkata; “Kemudian Allah mengetahui kebutuhan suami kepada istrinya dan kebutuhan isteri kepada suaminya hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat: “Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya.” QS Al-Baqarah: 231 sampai ayat “Sedang kamu tidak Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar dan patuh kepada Rabbku, lalu dia memanggilnya (mantan suami saudarinya yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.” (At-Tirmidzi)

Semua aktivitas menghalang-halangi pernikahan wanita dengan calon suami pernikahannya secara zalim termasuk ‘Adhl yang hukumnya haram. Tidak boleh menghalang-halangi pernikahan wanita dengan alasan misalnya calon suaminya kurang ganteng, kurang kaya, kurang punya kedudukan sosial, tidak bisa dibanggakan, bukan keturunan ningrat, sudah menikah, keluarganya tidak terkenal, bukan satu ras/kabilah/keluarga/marga/kelompok/partai/harokah/organisasi, belum menyelesaikan studi dan mengamankan masa depan, dll. Adapun jika alasannya Syar’I seperti calon suaminya kafir, fasik (tidak/jarang sholat, mabuk-mabukan, penjudi, pezina, rusak akhlaknya-penipu-), termasuk mahrom, wanita masih di masa iddah, wanita pernah berzina dan blm melakukan istibro’ dll maka menghalangi demikian tidak teramsuk ‘Adhl karena bukan kezaliman.

Atas dasar ini, memilih calon suami adalah hak penuh wanita dan tidak boleh dihalang-halangi menikah dengan lelaki pilihannya. Penanya hendaknya memeriksa kasusnya, apakah halangan dari keluarga bisa dikatakan Syar’I ataukah termasuk ‘Adhl. Jika halangannya Syar’i, maka hendaknya dihilangkan dulu penghalang-penghalang tersebut, sementara jika sudah terkategori Adhl maka lanjutkan terus tanpa ada keberatan. Wali yang melakukan ‘Adhl gugur hak perwaliannya dan berpindah pada wali yang terdekat. Jika ayah gugur perwaliannya, maka hak perwalian untuk menikahkan pindah ke kakek (ayah-nya ayah), buyut (ayahnya ayah ayah), saudara, paman, dst sesuai aturan gradasi wali dalam fikih Islam. Wallahua’lam.

repost dari sini

*tulisan arab haditsnya nggak dimasukin, soalnya ribet rata kiri or kanannya.

[XENOPHOBIA] Sebangku Dengan Brahmana

Mungkin ini kisah tentang akibat chauvunisme di kalangan anak-anak. Chauvunisme adalah sebuah paham membanggakan ras, ideologi, serta identitas sosial secara berlebihan. Entah siapa yang memulai, saya atau dia. Semuanya terjadi begitu saja, mengalir, dan membekas pada diri bertahun-tahun.

Denpasar 1991

Pada awalnya, menjadi seorang Sunda muslim di Denpasar yang mayoritas Hindu terasa amat biasa. Internalisasi keislaman memang ditanamkan ketat. Masa Taman Kanak-kanak saya habiskan di TK Aisyiyah yang tentu seluruh siswanya muslim. Setiap ba’da subuh dan ba’da maghrib saya dan teman-teman lainnya belajar mengaji Al Quran dan pelajaran keislaman lainnya di masjid dekat rumah. Dari pengajian itulah saya mulai mengerti bahwa orang-orang Hindu dikategorikan kafir dan ahli neraka. Stigma tentang Hindu mulai tertanam halus. Ada kebencian yang aneh tertanam dalam diri. Belum lagi tetangga Hindu sekitar rumah kesehariannya hanya mabuk, berjudi, dan tajen di sekitar gardu yang biasa dijadikan Pos Ronda malam. Bukannya menjadi tempat paling menenangkan, melewati gardu itu selalu menyeramkan baik siang ataupun malam.

Denpasar 1993

Kebencian itu semakin terpupuk setelah saya memasuki Sekolah Dasar. Saya bersekolah di SDN 2 Pemecutan yang waktu itu satu lingkungan dengan SDN 9 Pemecutan. Dari dua sekolah itu, hanya 11 siswa muslim. Menjadi minoritas ternyata mulai takmenyenangkan. Saat kelas 1 saya duduk di bangku paling depan, berhadapan dengan meja guru. Itu berarti saya berhadapan dengan canang dan dupa. Di benak terpikir bahwa asap dupa itu akan berefek negatif secara spiritual pada diri saya. Dengan pemahaman keislaman yang terbatas, saya melapor kepada ibu. Esoknya ibu datang ke sekolah dan meminta kepada wali kelas agar posisi duduk saya dipindahkan. Akhirnya, teman sebangku saya berpindah duduk di depan dupa dan canang tersebut.

Duduk di kelas 1 dan 2 tidak terlalu terasa berat. Ketika memasuki kelas 3, saya harus masuk sekolah siang hari. Sekolah berlangsung pukul 13.00 s.d. 17.00 WITA. Yang menjadi masalah adalah shalat dzuhur dan ashar. Di sekolah tidak ada masjid. Jangankan masjid, kesempatan untuk izin shalat pun tidak diberikan. Akhirnya setiap hari, sebelum dzuhur kami sudah standby di masjid dengan mukena. Saat adzan dzuhur berkumandang kami langsung shalat. Setelah itu saya langsung tancap sepeda merah saya ke sekolah. Pada waktu istirahat –yang bertepatan dengan waktu ashar- saya kembali pulang untuk shalat ashar di rumah. Pengalaman ini tertanam di benak sebagai diskriminasi atas keislaman saya.

Hal baru di kelas 3 adalah kehadiran pelajaran Bahasa Bali. Ini adalah pelajaran paling berat. Mempelajari bahasa asing yang melekat dengan identitas kekafiran sungguh terasa tidak menyenangkan. Belum lagi guru yang mengajar Bahasa Bali juga mengajar pelajaran Agama Hindu. Waktu itu, kepada beliaulah pertama kali saya meminta izin untuk shalat ashar dan nyatanya tidak dizinkan. Makin kuatlah stigma soal pelajaran ini.

Denpasar 1997

Tiap awal tahun ajaran, di SDN 2 Pemecutan, mungkin juga di sekolah-sekolah lain, selalu diadakan pertukaran teman sebangku siswa-siswanya. Waktu itu saya memasuki kelas 4 SD. Kami dibariskan di halaman depan kelas. Siswa laki-laki satu baris berbanjar, siswa perempuan pun demikian. Siswa laki-laki yang berbaris sejajar dengan saya, dialah yang akan menjadi teman duduk selama setahun. Ida Bagus Dwipa, dialah teman sebangku saya nanti. Karena ia adalah siswa pindahan dari sekolah lain, saya baru mengenalnya sesaat setelah kami duduk di sebuah bangku paling pojok, dekat pintu masuk, dan tepat di bawah pura kecil tempat canang disimpan setiap pagi. Sejak saat itu pengalaman buruk sebangku dengan anak berkasta Brahmana ini dimulai.

Dengan stigma tentang Hindu yang tertanam sejak awal, saya menjalani hari-hari buruk dengan Dwipa. Ternyata perkataan William Shakespeare, yang berbunyi, “apalah arti sebuah nama” tidak berlaku di Bali kala itu. Setiap nama menggambarkan status sosial yang disandang oleh setiap orang Hindu yang dikenal sebagai kasta. Ida Bagus (laki-laki) dan Ida Ayu (perempuan) adalah gelar yang disandang oleh orang yang berkasta Brahmana, kasta tertinggi yang konstituennya adalah keluarga pendeta. Salah satu di antara keluarga besar mereka pasti ada yang menjadi pendeta. Secara ekonomi pun biasanya mereka termasuk orang berada.

Apa yang terjadi pada saya setelah itu? Tempat duduk dan meja kami diberi garis pembatas. Ruang gerak saya amat terbatas. Saya tidak boleh melalui garis pembatas yang ia buat. Jangankan meminjam pinsil, penghapus atau alat tulis lainnya, barang-barang saya tidak boleh melebihi garis pembatas yang sudah dibuat. Ini mungkin hal biasa di kalangan anak-anak, tapi menjadi terasa tidak biasa bagi saya yang mendapatkan diskriminasi keagamaan sejak awal. Bagi saya, identitas sebagai muslim dan pendatang adalah alasan utama perlakuannya. Apalagi pada pelajaran Bahasa Bali yang sudah barang tentu amat dikuasai, teman sebangku saya ini amat hati-hati. Dengan wajah sinis ia berucap, “kejengat-kejengit sajan ci!” (baca: “kamu nengok-nengok terus!”). Bertanya sedikit kepada rekan yang duduk di belakang kami pun saya selalu dilarang. Padahal saya bertanya bukan pada saat ujian.

Pada suatu hari, salah satu teman merayakan ulang tahunnya dan membawa beberapa kaleng softdrink. Satu kaleng diminum oleh empat orang. Saya amat kaget ketika teman yang berkasta Sudra tidak boleh meminum softdrink sebelum teman sebangku saya meminumnya. Ternyata, Kasta Brahmana tidak boleh meminum atau memakan makanan bekas kasta di bawahnya. Perlakuan istimewa sudah biasa ia terima dari banyak orang. Nampaknya sikap-sikap aneh yang ia lakukan adalah cara men
agih perlakuan istimewa dari saya yang benar-benar tidak mengetahui keistimewaan kastanya. Masih banyak lagi sikap aneh yang ia lakukan. Air mata saya terkuras habis karena sikapnya. Akhirnya beberapa waktu kemudian ayah saya datang ke sekolah dan meminta kepada wali kelas untuk mengganti teman sebangku saya. Setelah kejadian tersebut, saya duduk dengan teman yang berkasta Waisya dan sudra. Mereka ramah, bersahabat, dan tidak pernah memperlakukan saya seperti Dwipa. Setelah berkali-kali berganti teman sebangku, ternyata sebangku dengan orang kristen lebih menentramkan ketimbang duduk dengan orang Hindu. Lebih tepatnya, duduk dengan orang yang sama-sama pendatang lebih menyenangkan.

Akibat Chauvinisme

Seperti yang saya sebutkan di awal, ini adalah akibat chauvinisme yang terjadi pada anak-anak. Saya dengan keawaman Islam yang kental, dan Dwipa dengan kebrahmanaannya yang lekat. Dia dengan keasingannya sebagai orang Hindu di mata saya dan saya dengan keasingan sebagai orang Sunda di matanya. Sebagai anak-anak, ini pengalaman pertama kami menghadapi perbedaan. Pengetahuan yang kami dapat dari orang yang kami percayai, itulah yang kami pegang pada akhirnya. Saya amat mempercayai pelajaran agama dari ustadz dan dia yang bersikukuh dengan internalisasi kasta di keluarganya. Dua chauvinisme berbenturan yang akhirnya melahirkan Xenophobia.

Efek taksadar yang melekat beberapat tahun kemudian adalah perasaan terbebas setelah pada akhir 1998 –semester 2, kelas 6 SD- saya pindah sekolah ke Tasikmalaya. Terbebas dari pelajaran bahasa Bali rasanya sangat menyenangkan. Selain itu, saat mendapatkan ijazah SD, saya mati-matian memperjuangkan tempat lahir di Tasikmalaya karena di akta kelahiran tertulis Denpasar. Saya pun tidak terlalu ambil peduli dengan Bahasa Bali. Setiap ada yang berkata, “Linda pindahan dari Bali? Bisa Bahasa Bali dong! Coba bicara Bahasa Bali!” Saya selalu menolak. Bahkan tempat wisata yang ada di Bali pun sangat sedikit saya ingat waktu itu. Pengalaman tentang Bali rasanya ingin saya buang jauh-jauh.

Sampai tiba saatnya saya sadar bahwa ayah sudah 32 menjadi warga Denpasar. Ia lebih memilih membeli rumah di Bali daripada di Tasikmalaya. Setelah mempelajari Islam dengan lebih lengkap, akhirnya saya pun paham bahwa Bali tidak lebih dari sebuah tempat tinggal. Bahkan setelah tragedi bom Bali, itu kali pertama saya kembali lagi ke sana dengan gamis dan jilbab lebar. Tidak sedikitpun ada rasa takut dicurigai dengan identitas keislaman karena ayah sudah sangat akrab dengan orang-orang di sekitar rumah. Orang-orang Hindu terpelajar yang berbisnis dengan ayah tidak sedikitpun melakukan diskriminasi.

Pengalaman mengikuti kegiatan Lembaga Dakwah Kampus Universitas Udayana juga menjadi pengobat. Di sana tidak sedikit peserta yang mengikuti mentoring Agama Islam dengan nama Bali. Mereka warga Bali asli yang terlahir muslim. Ini membuat stigma saya terhadap masyarakat asli Bali menghilang. Terakhir saya mengunjungi Bali, Februari lalu, pura-pura yang berjejer di setiap rumah, saya maknai sebagai bagian dari kebudayaan yang ada di Bali. Toh setiap ada upacara keagamaan yang menyebabkan kemacetan, di jalan raya selalu ada tulisan “Maaf Ada Upacara Adat.” Secara tidak langsung masyarakat Bali sendiri mengakui bahwa yang mereka kerjakan adalah adat. Salah satu teman pernah berucap, “Lin, di Bali itu banyak banget thoguht ya!” Saya hanya tertawa lepas mendengan pernyataanya. Stigma tentang Bali yang menjadi tempat maksiyat, pusat turis asing, gudang kekafiran telah saya abaikan. Toh di sana ada juga orang-orang yang berda’wah. Bahkan saat ini sudah mulai banyak TK, SD, dan SMP Islam Terpadu berdiri di sana.

Dua bulan lalu saya kembali menemukan teman-teman sekelas di jejaring sosial. Saya pun kembali menemukan akun Ida Bagus Dwipa. Kami menjadi anggota group alumni SDN 2 Pemecutan. Semuanya sudah menjadi biasa saja. Akhirnya, untuk mengatasi kebencian atas keasingan, penanaman pemahaman tentang keberagaman sebagai sesuatu yang biasa menjadi sebuah keharusan terhadap anak-anak. Orang tua, institusi pendidikan, dan lingkungan harus memberikan pemahaman bahwa berbeda adalah sesuatu yang biasa. Dengan demikian, anak-anak akan terbiasa menerima perbedaan orang lain dan merasa percaya diri dengan keasingannya saat menjadi minoritas. Identitas yang ada pada diri kita adalah karunia yang diberikan Tuhan. Tidak ada satupun anak yang meminta untuk dilahirkan Islam, Hindu, Kristen, atau Yahudi. Jika sejak kecil anak-anak diajari Islam yang benar, mereka akan bangga dengan keislaman dan tidak akan gentar dengan diskriminasi. Jika sejak kecil anak-anak diajari menerima perbedaan, mereka akan mampu menyeru di kalangan beda agama dengan cara yang benar. []

*Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba artikel tentan Xenophobia yang diadain sama Mbak Wayan Lessy

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript