Kita Telah Berubah

ci

Ramadhan ketiga ini ditutup dengan gambaran umum soal apa yang menimpa umat Islam, khususnya kalangan anak muda. Mulanya dari pembicaraan soal gerakan kaum liberal yang sedang mengkampanyekan penghapusan arabisasi Islam di Indonesia. Bagian yang paling digugat adalah busana muslimah atau hijab. Pakaian serba hitam dan cadar menjadi  penanda yang digugat. “Lima atau sepuluh tahun ke depan Indonesia akan menjadi Arab.” Belum lagi istilah-istilah Arab banyak digunakan di Indonesia. Bahkan kata ikhwan dan akhwat yang sering muncul di WC masjid pun dibahas oleh mahasiswa/ dosen sastra Arab yang ikut-ikutan menyudutkan Islam. Ikhwanul Muslimin disebut-sebut sebagai salah satu yang memengaruhi kehadiran dua istilah ini. Seorang yang takpaham berujar, “Berarti kalau bukan saudara sedarah gak boleh masuk WC masjid dong!” Di situ kesalahan mereka. Mereka belum paham benar makna persaudaraan menurut Islam yang diimplementasikan oleh Ikhwanul Musliman. “Sesama muslim itu bersaudara,” sederhananya demikian. Namun, liberalis itu alfa soal prinsip ini. Untuk melawan ini, muncullah istilah Islam nusantara, Islam yang asli Indonesia. Salah satu produknya yang paling dekat kita saksikan adalah pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa.

Pagi pertama Ramadhan seorang ustadz membahas ini dalam sebuah kuliah subuh. Ia menyebutkan bahwa sejak kehadirannya, Islam sudah menjadi nafas kehidupan di Indonesia. Buktinya berbagai hal yang berhubungan dengan pengaturan masyarakat, mayoritas menggunakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata hukum, hakim, adil, musyawarah, wakil, mahkamah, dll berbahasa Arab. Apabila pegiat Islam Nusantara ini menggugat istilah Arab semacam ikhwan – akhwat, ubahlah dulu butir Pancasila. Kata keadilan, hikmat, permusyawaratan, perwakilan, dll dalam Pancasila ubah dulu ke bahasa Indonesia asli. Alih- alih mengubah yang Arab jadi Nusantara, justru ujungnya malah westernisasi. Akhirnya ustadz mengutarakan pernyataan paling aku suka, “Orang yang melakukan Arabisasi Islam dan Islam Nusantara, keduanya sama: fundamentalis. Islam ya Islam titik”

Ide Islam nusantara ini pernah terjadi pada Islam di Turki sejak kemunculan Mustafa Kemal Attaturk. Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merobohkan masjid itu. Cerita yang lain mengatakan, ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya. Sejarah mungkin berulang, liberalis Indonesia mungkin rada ketinggalan zaman. Mereka mau melakukan hal yang sama di Indonesia. Ya, semoga mereka juga belajar soal akhir hayat Kemal Attaturk yang mengenaskan itu. Kehadiran Said Nursi menggubah kisah Islam di Turki menjadi lebih baik. Lalu generasi kemudian, Erdogan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya soal posisinya.

“Speaking at Kanal D TV”s Arena program, PM Erdogan commented on the term “moderate Islam”, often used in the West to describe AKP and said, “˜These descriptions are very ugly, it is offensive and an insult to our religion. There is no moderate or immoderate Islam. Islam is Islam and that’s it,” (Source: Milliyet, Turkey, August 21, 2007).

Lalu, di Indonesia, siapakah pembaharu itu? Akhirnya pembicaraan kami berpindah pada kisah pelengseran Sukarno tahun 66. Seperti Said Nursi yang menyebar tulisannya dari penjara, Taufiq Ismail pun menyebar tulisannya kepada sesama mahasiswa untuk berbagi semangat. Kami pun membahas soal posisi mahasiswa di Indonesia. Saat ini mahasiswa sedang “dipindahkan” oleh pemodal media massa dari jalanan ke kursi-kursi penonton di acara-acara televisi. Kegiatan BEM pun saat ini lebih banyak mengundang grup band dan komedian. Kegiatan yang berhubungan dengan penelitian amat langka. Belum lagi hantaman budaya virtual saat ini. Mahasiswa sekarang lebih banyak ngegalau di media sosial ketimbang berkarya. Yang produktif nulis buku, kebanyakan ngegalau di puisi, cerpen, atau novel. Yang berprestasi di bidang akademik dan ilmiah juga ada, tapi jumlahnya sangat sedikit.

Setiap pulang kerja di angkot, setiap seangkot sama anak SMP, SMA, atau mahasiswa laki-laki, pasti yang dibahas adalah game. Bahkan ada yang rela begadang demi naik level sebuah game. It’s oke lah kalo game itu menghasilkan penelitian (baca: tesis). Kalau cuma buang waktu, mau jadi apa hidupmu? Nah, kalau perempuan sekarang lagi dihantam sama drama Korea dan boyband KPOP. *Yang nulis termasuk tersangka. Sometime aku jadi mikir, kalau game adalah part of life-nya cowok-cowok masa kini, apa jadinya generasi mendatang ayahnya tukang ngegame? Begitupun tentang perempuan yang kecanduan drama Korea, “Kapan sih mereka sadar dan bangun?” Aku bahkan curiga ada sekelompok orang yang dibayar oleh pemerintah Korea untuk mengunggah video drama Korea satu detik setelah drama itu selesai ditayangkan di TV. Penelitian ke arah situ kayaknya bakal lama dan multidisipliner banget.

Sebagai anak Kajian Budaya, Ya! Aku mengiyakan bahwa sudah sangat lama anak muda Indonesia digempur dengan imperialisme cultural. Ini lebih menyeramkan dari hantaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina menurutku. Muslim Palestina digempur secara fisik, ruhiyahnya menguat dan semangat perlawanannya hidup. Di Indonesia, gaya hidup dan alam pikiran yang sedang digempur. Akhirnya lahirlah generasi memble. Kapan semua ini akan berakhir? Bergantung kesadaran orang tua masa kini dalam mendidik anaknya di rumah. Itu hal minimal yang harus dilakukan. Namun, anak muda zaman sekarang gak mungkin dihadapi dengan konfrontasi (baca: larangan). Mereka harus benar-benar dipahamkan dan diarahkan.

Semua celoteh di atas bisa disingkat dengan kalimat Piliang:

mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171).

Satu solusi tawaran Piliang yang aku sepakati:

Di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kasih sayang, kedamaian, keadilan, kearifan, dan keshalihan. Kedua, kekuatan militer yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kesatuan, keamanan, stabilitas dan kekuasaan. Ketiga, kekuatan pasar yang dibangun berdasarkan prinsip keuntungan.
………………………………………………………………………………………………………………

Bagi Indonesia, milenium ketiga harus dijadikan sebagai milenium renaisans spiritual atau milenium kebangkitan agama. Agama harus dijadikan way of life, sehinggi tidak sekadar jadi benteng terakhir tapi justru menjadi energi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada kenyataanya konsep-konsep kejujuran, kerja keras, keterbukaan, kesederhanaan yang diperlukan dalam kancah globalisasi ekonomi dan informasi saat dewasa ini adalah konsep-konsep yang berasal dari agama.

Oleh sebab itu, menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi dari berbagai kegiatan ekonomi,sosial, politik tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menyambut milenium ketiga. Tantangan masa depan adalah menciptakan sebuah dunia hiper-modern yang bernuansa spiritual, sebuah supermaju yang berkearifan.

(Dunia Yang Dilipat, Piliang, 2011: 454).

*jurnal paling random

Advertisements

PRINCESS HOURS: TRADISI VS MODERNITAS


Drama Korea, saat ini sedang marak ditayangkan di berbagai stasiun televisi suasta di Indonesia. Tak seperti telenovela yang hanya biasa dinikmati oleh ibu-ibu rumah tangga, tayangan yang sering membuat penontonnya menangis bombai ini juga dinikmati oleh kalangan remaja. Hal itu terjadi karena drama Korea masih menjadikan cinta sebagai tema utamanya. Kelebihannya, tak hanya cinta seorang anak remaja biasa pada “Sesy Girl”; cinta seorang artis dalam “ Full House “ ; cinta seorang putra mahkota pun disajikan dengan sangat apik dalam “ Princess Hours .“

Princess Hours yang ditayangkan di Indosiar adalah sebuah drama Korea yang memang berlatar waktu tahun 2006.Dalam ceritanya, saat itu sistem pemerintahan negara Korea masih bersifat Monarki sehingga raja adalah pemimpin negara. Drama korea ini secara umum mengisahkan perjuangan cinta seorang putra mahkota kerajaan. Karena kepatuhan pada peraturan kerajaan, putra mahkota, yang sering di panggil pangeran (Lee Shin ), bersedia menikah dengan gadis lugu (Shin Chae-kyoung ) yang berasal dari kalangan masyarakat biasa. Peraturan itu ditetapkan berdasarkan surat wasiat yang dibuat oleh raja terdahulu. Pernikahan mereka memang berlangsung dengan berbagai hambatan. Mulai dari kedatangan Yool, sebagai pihak ke tiga, kejahatan ibu Yool yang ingin merebut kembali tahta yang dulu dimilikinya membumbui kisah cinta dalam drama koraea ini.

Pengemasan cerita yang tanpa cela membuat drama seri ini tak hanya dapat dinikmati dari segi alur cerita. Seting, soundtrack, kostum, dan pengambilan gambarnya sangat memperlihatkan kekhasan Korea. Tak salah bila drama seri ini dapat kita sebut “drama seri budaya”. Keunikannya bisa jadi dapat menjadikannya drama korea terbaik tahun ini. Princess Hours dapat menjadi kenangan tak terlupakan di tahun 2006.

Princess Hours, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia secara bebas ke dalam bahasa Indonesia berarti “ waktu ( Shin Chae-kyoung ) menjadi putri “. Kisah cinta yang di dalamnya secara tidak langsung mencerminkan bagaimana orang Korea menghormati tradisi, cinta dan pernikahan. Penghormatan terhadap tradisi diperlihatkan lewat kebijakan Baginda Ratu yang tetap melaksanakan perintah raja yang telah wafat untuk menikahkan putra mahkota dengan gadis pilihan raja. Pada awal cerita, baginda Ratu berkata, “ pernikahan ini adalah untuk memperlihatkan pada rakyat bahwa istana masih memegang teguh peraturan di abad 21 ”. Kepatuhan itu terlihat pula pada kesediaan sang pangeran untuk menikah walaupun dengan keterpaksaan. Di sini juga terlihat bagaimana seorang pangeran dididik untuk menjadi pemimpin negara di masa depan. Kepatuhan adalah salah satu tolak ukur keberhasilan seorang anggota keluarga kerejaan. Kesetiaan rakyat pada istana juga diperlihatkan dengan kesediaan Shin Chae-kyoung ( seorang gadis biasa ) yang pada akhirnya bersedia menikah dan “terkurung” di Istana. “ Ini adalah keputusanku, dan aku akan berusaha menghadapi konsekwensinya. “ Kata Shin Chae-kyoung.

Perjuangan cinta yang dialami oleh putra dan putri mahkota telah memperlihatkan lokalitas negara Korea. Pengemasannya bukan hanya dengan eksplorasi budaya. Namun, ditambahi dengan perbandingan budaya. Tanpa kita sadari, perjuangan cinta putra dan putri mahkota yang merupakan produk kerajaan, telah menjadi pemenang dalam perlombaan dengan cinta Yool. Cinta putra dan putri mahkota merupakan analogi cinta yang dihasilkan budaya Korea yang diwakili oleh kerajaan. Sedangkan cinta Yool merupakan cinta yang dihasilkan oleh budaya Barat, karena Yool baru kembali ke Korea setelah dibesarkan dan menjalani pendidikan di Inggris. Cinta Yool cenderung dicerminkan merugikan dan mendahulukan emosi. Putra mahkota sempat berkata pada Yool, “ Ternyata cintamu pada Chae-kyoung malah membuatnya menderita. “ ( episode 23 ). Peraturan kerajaan juga menjadi jaga menjadi kekuatan cinta bagi permaisuri ( ibu pangeran ) yang tetap mencintai raja sampai sang pangeran menjadi putra mahkota, walaupun sang raja ( suaminya ) tak mencintainya. Hal ini menyiratkan suatu pesan bahwa budaya lokal dapat menjadi kekuatan dan lebih baik dari budaya luar.

Penghargaan terhadap pernikahan juga sangat kental dalam drama Korea ini. Terlihat ketika pangeran berkata pada sahabat-sahabatnya yang menghina putra mahkota. “ Ingat, jangan hina dia, apapun yang terjadi, Shin Chae-kyoung adalah istriku! “ atau pada saat pangeran sedang mencari putri yang hilang dan menanyakannya pada Hyo-rin .Pangeran berkata

“ Aku mencarinya, karena, sebelum sebagai apapun, dia adalah istriku. ‘ Pada akhirnya, status sumi istri lebih berharga dari apapun. Itu sebabnya apabila kita berkenalan dengan orang Korea, tak tabu lagi bila mereka bertanya tentang usia kita, dan bertanya apakah kita sudah menikah atau belum. Jika kita belum menikah, mereka tak tabu untuk menanyakan alasan mengapa kita belum menikah.

Misi kebudayaan sangat terlihat dari seting dan penggunaan kostum. Interior dan eksterior yang mendominasi menjadi agen dari tradisionalitas. Furniture yang hightecnologi mewakili modernitas. Hal ini menunjukkan bahwa tradisionalitas dapat dipadukan dengan modernitas. Bahkan lebih ekstrimnya lagi, modernitas hanyalah pelengkap tradisionalitas. Hal ini juga terlihat dari kostum yang digunakan oleh anggota kerajaan. Ratu, dan permaisuri, sebagai wanita senior di kerajaan lebih sering menggunakan pakaian tradisional Korea. Putri cenderung nertral dalam menggunakan baju tradisional Korea. Hal ini menunjukkan fleksibilitas tradisi dalam menyesuaikan diri dengan zaman.

Dalam segi pengambilan gambar, Drama korea ini sangat memperhatikan estetika. Sebagian besar adegan diambil dalam sebuah bingkai. Bingkai tersebut adalah sebuah sibol yang dapat bersuara nyaring. Bingkai tersebut adalah simbol aturan atau tradisi. Bahwa apapun yang dilakukan oleh keluarga kerajaan, harus dilandasi aturan tradisi.

Pada akhir cerita, idealisme tradisionalitas diruntuhkan melalui sebuah konflik yang menjadi klimaks cerita ini. Keinginan ibu Yool untuk mendapatkan tahtanya kembali telah membuatnya menghalalkan segala cara. Pembakaran istana menjadi simbol bahwa tradisilah yang akan memusnahkan dirinya sendiri. Hal ini akan terjadi jika tradisi dijalani oleh orang yang tidak dididik oleh tradisi tersebut. Pencerahan yang diterima Shin Chae-kyoung dalam masa pengasingan di luar negeri juga merupakan sebuak dobrakan. Ajaran Islam, kristen, budaya Barat yang modern, menurut Caijin dapat disandingkan dengan budaya timur. Hal ini adalah sebuah kritik yang dibawa drama korea ini pada negaranya, karena banyak masyarakat Korea yang tak beragama.

Dari awal sampai akhir cerita, secara keseluruhan, drama korea ini menceritakan perjuangan cinta putra dan putri mahkota kerajaan di abad 21. Sebuah abad yang terkenal dengan modernitas. Namun, cerita itu lahir dari sebuah peraturan kerajaan sebagai duta tradisionalitas. Akhirnya, drama korea ini adalah cermin sebuah modernitas yang dijalani untuk mempertahankan keutuhan tradisi.

*maaf kalo tulisan ini kesannya jadul banget. maklum repost dari tulisan 6 tahun lalu :))

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript