Nada Sumbang

 

girl_heart_balloon

: Sukab

Tanya menjelma berita gembira kepada lara sukma nan lupa rasanya bahagia. Bimbangmu merdu lagu sendu menyapu layu rindu yang meragu.

Katamu peluru lugu menipu waktu. Remang kenang meregang tenang centang perentang. Gerimis tangis nyaris habis. Perlahan Tuhan menjelaskan: Cinta bukan kata, bukan luka.

Yang Selalu Rindu

Maneka

 

Balasan puisi Sukab dalam #DuetPuisi

*gambar dari sini

Batas Waktu

danbo

Hai Sukab, pengerat senjaku, apa kabar? Aku mau cerita sesuatu nih…

Udah berbulan-bulan ya aku nggak cerita-cerita ke kamu. Ini kata-kata udah jlimet apa gimana gitu. Mau nyerita apa, aku juga bingung. Ngabisin waktu di kosan, di kamar, di masjid tanpa berhubungan sama orang lain, aku mau nyeritain apa coba? After all, akhirnya ada juga sesuatu yang mungkin jadi simpulan atau hmm jadi sesuatu yang bisa menjangkiti pikiran kita sebagai sebuah keresahan… mungkin ya..

Sukab, sang penggembiran, aku mulai memutuskan kediaman ini sejak Februari tahun ini. Terdiam emang kebiasaan aku siy, cerewet juga lebih sering. Tetapi kali ini jedanya cukup lama menurutku. Setelah selesai kuliah S2, ternyata Tuhan ngasih aku kuliah tambahan dalam perjalanan sunyi ini. Dramatis banget kesannya hahaha! Setelah lebih dari setengah usiaku meninggalkan rumah, merantau jauh untuk menuntut ilmu akhirnya aku dikasih izin nemenin keluarga agak lama. Kadang sebagai melankolis yang kebanyakan mikir aku sempet kepikiran, “Ada apa ini? Kok lama banget dapet kesempatan nemenin keluarga? Apa aku bakal dapet kerja di tempat yang jauh ya? Atau bentar lagi aku bakal ketemu kamu Sukab? Atau umur aku udah bentar lagi?” Bukan maksud minta kematian (kayak cowok di facebook) yang konyol itu sih. Diakui atau enggak, kematian kan satu-satunya takdir menakutkan yang paling pasti kita hadapi.

Setelah libur lebaran, semua orang pergi dari rumah nenek. Lama di Bandung, beberapa keluarga ngiranya aku libur panjang di Tasik. Aku sebut aja begitu, walaupun sebenernya lagi ngegarap kerjaan freelance yang gak ada liburnya. Selama pengalamanku berkutat dengan tulisan, sampai titik ini aku baru bisa bersyukur ada kata waktu di dunia ini. Buat siapapun yang sedang tenggelam dalam dunia berdeadline, kadang waktu jadi momok bahkan musuh mungkin. Aku maklum, aku juga baru kali ini menemukan kebahagiaan dalam batas waktu.

Pada kesibukanku mencari homebase mengajar selama beberapa bulan ini, mungkin sudah 11 kampus yang aku kirimi surat lamaran. Semuanya tanpa keyakinan dan kepercayaan diri. Benarlah, hanya dua kampus yang memberikan sinyal positif, dan itu belum aku tindak lanjut karena takada deadline. Pokoknya ikhtiar dan jangan diam. Seperti beban yang dicangkokkan ke otak, kewajiban mengabdi tiga tahun itu terus-terusan menuntut. Akhirnya kuciptakan batas waktu, “suatu saat Dikti pasti menerbitkan SK homebase tanpa kamu mencari sendiri kok. Suatu hari waktu pencarian homebase  itu akan berakhir. Suatu hari kamu akan sibuk ngajar dan menyelesaikan tugas pengabdian sesuai dengan waktu yang disyaratkan Dikti.”

Dalam hirup-pikuk mengedit buku, awalnya aku takterlalu memikirkan batas waktu yang diajukan pemilik naskah. Aku pikir, semua ada di tanganku. Aku dengan bebas dapat menentukan kapan naskah ini selesai kukerjakan. Tetapi ternyata hari ini batas waktu itu sedang aku gunakan untuk menetapkan kapan aku harus beranjak dari sini dan kembali pada kehidupan lain. Batas waktu yang awalnya menyeramkan itu, aku gunakan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaanku. Batas waktu itu juga yang aku jadikan patokan untuk menjawab teman-teman yng bertanya “kapan ke Bandung lagi?”

Ternyata, pada satu kejadian, batas waktu dapat menjadi harapan. Walaupun kita sedikitpun nggak tahu, kebahagiaan apa yang akan didapat setelah batas waktu itu terlampaui. Bahkan kita pun takpernah dapat memastikan apakah masa-masa setelah batas waktu itu terlampaui, kita akan merasakan jalan cerita yang lebih bermakna dari pengalaman hiruk-pikuk ketika mengejar batas waktu. Kita juga takpernah tahu, apakah setelah batas waktu itu terlangkahi, kita bisa benar-benar menemukan diri kita sendiri seperti ketika dalam keripuhan menyelesaikan semuanya sebelum batas waktu. Beruntungnya Tuhan memberi semangat, keresahan, dan usaha untuk menyelesaikannya di batas waktu.

Di sini aku hidup berdua dengan seorang nenek yang sudah ditinggalkan suaminya hampir tujuh tahun lalu. Dengan 12 putra-putri ia menjalani hidup dan melayani suaminya. Waktu aku masih duduk di bangku SMP, dia amat kuat dan tegar. Penggarapan sawah milik keluarga diatur olehnya dari awal sampai akhir. Tidak ada hari tanpa pergi ke sawah. Lepas SMA dan kuliah aku baru sadar ia sudah menua. Bahkan hari ini, dia takpernah benar memanggil namaku. Rupanya dia sudah mulai pikun. Senin, Selasa, Rabu, dll sudah mulai membingungkan untuknya. Hari-hari ini tugasku adalah memasak dan mengingatkannya untuk makan pagi, siang, dan malam dengan teratur.

Selain makan, shalat, dan berjalan-jalan di sekitar rumah, tak ada lagi yang  ia lakukan. Sesekali anak-anaknya dari perantauan menelponnya. Anak-anak yang setahun sekali datang itu memberinya harapan dengan kiriman uang sebulan sekali. Ya, mungkin inilah batas waktu yang terus-menerus menjadi sepercik energi untuknya. Setiap tanggal 1 akan ada anaknya yang mengirimkan uang. Harapan pada kehadiran tanggal 1 itu selalu ada, walaupun  ia takpernah membeli sesuatu yang istimewa setelahnya. Dengan penyakit hipertensi, makan daging ayam atau sapi tentu tak boleh. Cukup dengan menu-menu yang takbisa disebut istimewa.

Pada masanya, kematian akan jadi batas waktu yang takterhindarkan. Mengamati apa yang dialami nenekku ini, aku tersadar, setiap orang sedang ada dalam kesibukannya. Di satu sudut dunia ada yang sibuk bergulat dengan usia dan berlelah menunggu kematian. Di sisi lain ada yang sengit bertarung memperebutkan keuntungan dari kekuasaan. Di titik lain ada yang asik masyuk mengingat satu demi satu kalamullah mengejar janji mahkota untuk orangtua. Pada akhirnya kematian adalah batas waktu yang paling pasti sudah menunggu setiap orang. Beruntunglah Tuhan telah menjanjikan sesuatu setelah batas waktu itu. Beruntunglah Ia telah menjanjikan bahwa setelah batas waktu, tak akan ada lagi batas waktu. Beruntunglah, Ia telah memberikan acuan tentang bagaimana menempuh surga dan menghindari neraka.

Pertanyaaannya, apakah kita bisa dengan rendah diri menerima apa-apa yang harus dikerjakan untuk meraih surga? Pertanyaanya apakah kita dapat menguatkan hati untuk menghindari neraka?[]

takdir kita selalu datang di saat yang tepat dan selalu tepat pula dengan kondisi keimanan kita saat itu. Semoga kematian kita, saat itulah puncak keimanan kita.-Tya

 

 

Yang selalu rindu,

Maneka

 

*gambar dari sini

** baca sambil dengerin ini:

Perempuan Pada Dasarnya

perempuan 2

Dear Sukab,

Sudah beberapa hari aku gelisah tentang apa-apa yang berkaitan dengan diriku yang terlahir perempuan. Berkali-kali aku membolak-balik pikiran untuk menulis surat ini buatmu. Sebenarnya ingin kulepaskan saja surat ini sebagai cerita biasa. Tetapi sunggu aku lebih ingin bercengkerama denganmu soal ini. Riwayat ini mungkin bisa kamu saksikan dari siapapun yang ada di penjuru dunia. Namun, aku benar-benar ingin menyampaikannya kepadamu.

Yang selalu dianggap lemah fisik adalah perempuan. Entah organ tubuh bagian mana yang membuat dunia memandangnya demikian. Mendaki gunung, menyelami laut padahal perempuan bisa. Namun, entah mengapa kecemasan laki-laki akan keselamatan mereka selalu dua kali lipat. Bisa jadi, kecelakaan yang menimpa perempuan pada hal-hal yang dianggap berbahaya terjadi bukan karena fisik mereka, melainkan ketidakpercayaan laki-laki pada kekuatan perempuan. Biasa sajalah menyikapi perempuan. Membawa kandungan selama sembilan bulan pun mereka bisa. Ini sebuah beban yang takbisa direhat sedetikpun. Pada masa itu mereka makan untuk dua badan. Pada waktu itu ada dua detak jantung dalam satu tubuh. Ini takakan terjadi pada laki-laki. Maka jangan terlalu melemahkan mereka dengan kecemasanmu wahai laki-laki. Biasa sajalah!

Pada sekali waktu, perempuan ketakutan melihat binatang-binatang melata atau serangga. Aku sempat kaget dengan ekspresi temanku saat melihat segerombolan semut hitam di balik tirai penutup becak. Mungkin geli, jijik, atau takut dengan gigitannya. Ini bagian yang akupun sukar menjelaskannya. Seperti kebencianku pada kecoa. Jijik, inilah alasan yang dapat kulontarkan soal kecoa. Aku bisa dengan segera mengambil sandal dan menginjaknya dalam hitungan detik bila ia muncul di hadapanku. Takadil memang. Hanya karena jijik, satu nyawa kecoa melayang. Padahal satu nyawa kecoa serupa dengan satu nyawa manusia pada dasarnya. Pada perkara ini, yang aku pesankan hanya satu, jangan berlelucon menakut-nakuti perempuan dengan serangga dan binatang melata. Tertawamu pada ketakutan perempuan justru memperlihatkan seberapa lemah kau sebagai laki-laki.

Hal lain yang mengelilingi perempuan adalah perhiasan. Semua perempuan menyukainya. Yang membedakan adalah sebanyak apa dan bagaimana mereka menyukainnya. Anting, kalung, gelang, cincin, baju, sepatu, tas, dan perhiasan mahal lainnya acap kali membuat perempuan merasa berharga. Mungkin, perempuan adalah perhiasan. Oleh sebab itu, ia suka menampakkan perhiasannya. Alfa aku soal bagaimana rasanya memiliki barang-barang mewah itu. Tas bermerek terkenal dengan harga jutaan rupiah, bagaimana rasanya menggunakannya? Aku takgenap tahu soal ini. Apakah benda-benda itu membebaskan perempuan dari rendah diri? Perempuan adalah konsumen dan marketer paling hebat memang. Sebab itu, pemodal dan pengiklan menjadikan mereka sebagai sasaran empuk. Aku kadang bertanya pada diriku sendiri, “perasaan macam apa yang akan menghinggapimu jika kau ditakdirkan untuk selalu menggunakan barang-barang mewah?” Soal ini, aku hanya ingin kamu takterlalu menjadikan penampilan sebagai pusat segala sesuaitu. Ini tidak hanya membebani perempuan tapi juga membebanimu sebagai laki-laki.

Ayah Pidi berkata bahwa perempuan jatuh cinta berdasarkan apa yang ia dengar dan laki-laki berdasarkan apa yang ia lihat. Ini menjadi muasal perempuan berlomba-lomba untuk mengindahkan penampilannya. Lalu cantik hanya berakhir pada dimensi fisik. Aku tahu, cantik itu relatif, tapi industri membuat satu prototipe kecantikan yang kalian amini. Lantas perempuan berbondong-bondong mencari krim paling ampuh untuk memutihkan wajah dan kulitnya, mencari minuman paling efektif untuk melangsingkan perut, dan meninggikan postur tubuh. Belum lagi perawatan rambut yang membuat sebagian perempuan enggan berhijab.

Akibatnya mantra “cantik itu putih, langsing, tinggi,” yang diciptakan oleh industri kecantikan menyihir perempuan dan membuat kalimat “kamu harus cantik,” tertanam di benak mereka. Demikianlah perempuan melakukannya demi perhatian kalian. Aku mungkin kurcaci jelek atau bebek buruk rupa jika harus mengikuti semua kriteria cantik versi industri. Bahkan aku sempat berpikir, “Kamu takmudah percaya pada manusia, lantas mengapa dengan mudah kamu memercayakan kulit wajahmu pada sebuah produk pembersih wajah yang bahan-bahannya tidak kamu ketahui dengan pasti komposisinya?” Padahal krim pembersih muka itu adalah satu-satunya kosmetik yang aku gunakan. Maka putar otakmu sedikit agar benar-benar terlihat bahwa dirimu berlogika. Fisik adalah bagian paling fana dari diri manusia. Carilah dimensi lain yang lebih nyata tentang kecantikan perempuan.

Satu hal lagi yang masih aku pertanyakan soal perempuan adalah keselamatan. Yang paling cemas pada keselamatan perempuan saat pulang malam adalah kalian. Lalu mengapa penjahat-penjahat yang merampok, mencopet, memerkosa lalu membunuhnya adalah manusia pada jenis kalian, laki-laki. Mengapa sebagian dari kalian berpikiran untuk menjahati perempuan? Tidak ingatkah mereka pada ibu, adik, istri, dan anak-anak yang juga perempuan? Berhentilah menjadikan diri sebagai pusat, karena perempuan juga punya ruang di dunia ini yang mewajibkan keamanan dan kenyamanan bagi diri mereka. Udara yang sama, sinar matahari, dinginnya malam, derasnya hujan, dan sejuknya pagi juga menjadi hak perempuan. Berhentilah menjadi ancaman bagi manusia lain.

Ini sebagian yang dapat aku catat tentang perempuan. Dunia membisikinya dengan hal-hal tersebut, tapi mereka juga manusia yang memiliki kemampuan dan hak untuk balik berteriak “Ya, itu saya!” atau “Tidak, itu bukan saya!”[]

Perempuanmu,

Maneka

*foto bidikan @siriusbintang

Seperti Masa Lalu

image

Dear Sukab,

Hari ini aku hanya ingin membagi kisah ringan denganmu Sukab. Ini kali pertama aku menginap di sebuah hotel yang membawaku ke masa lalu. Lihat saja AC itu, otakku malah berpikir tentang sebuah radio yang selalu kutempeli telinga waktu aku kecil dulu. Mirip bukan? Hahaha! Ini ada dan aku alami sendiri. Apakah kamu pernah mengalami hal serupa?

Simpan ceritamu untuk kita bicarakan ketika bertemu nanti. Aku rindu.

Yang selalu rindu,

Maneka

Waktu dan Sekotak Rindu

sukab 2

Dear Sukab,

Wahai penyabar, semoga kau sempat membaca suratku hari ini. Gerimis tadi pagi, pekerjaan yang akan menggelayuti esok hari, semoga takmerintangimu untuk sekadar duduk membaca kabar keramaian ruang tunggu yang sesungguhnya bisu. Di sana hanya ada waktu, sekotak rindu, dan aku. Hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang semacam hologram yang menjadi sekat paling dekat antara aku dan kau. Kita sudah saling tahu bukan? Hanya saja, sekotak rindu yang kau beri takdapat ditukar dengan sekoper keberanian untuk bertemu. Maafkan aku.

Ruang tunggu ini senyap Sukab. Keheningannya mencecahkan ketakutan pada rindu yang hanya sekotak itu. Kebingaran ragu memencilkan keyakinanku tentang pintu yang akan terbuka pada suatu waktu. Kata “tidak tahu” seolah menjadi isyarat kelomponganku tentang kau. Kala kelu. Ia taksedikitpun sudi untuk sekadar merisik tentang kapan kau akan mengetuk pintu. Ah, sungguh. Keantapan ini menikamku. Aku beku.

Maka tetaplah menjadi lelaki musim semi agar aku taksulit mengetahui kehadiranmu. Sampaikan kebaikan Tuhan ke segala penjuru. Jeda ini memang taksingkat, tapi takterlalu lena jika ditukar dengan kebahagiaan semasa usiaku dan usiamu. Aku akan tetap di sini, bersama waktu dan sekotak rindu. Tentang nasib doa-doaku, mungkin harus aku kabarkan selanjutnya kepadamu.[]

yang selalu rindu,

Maneka

foto diedit dari sini

Lelaki Musim Semi, Apa Kabar?

lelaki musim semi apa kabar

Dear Sukab,

Lelaki Musim Semi, apa kabar? Mungkin ini panggilan paling mewah yang aku berikan setelah berbulan-bulan lamanya takmenyuratimu. Bukan takrindu. Aku hanya bimbang, apakah suratku akan sampai tepat waktu. Aku hanya ragu, apakah kali ini suratku akan sampai padamu. Tidak seperti dulu, tukang POS salah alamat dan suratku dibaca bedebah itu. Maafkan aku.

Bukan cuma itu Sukab,  berbulan-bulan aku takmenyuratimu karena waktu berlari tepat di belakangku. Ia mengejarku tanpa henti, memasang kacamata kuda di mataku, memaksaku untuk belajar –sebuah peran paling membosankan dalam drama kehidupan yang semoga takmenjauhkanku denganmu. Akhirnya sketsa itu tuntas! Akhirnya belenggu bertahun-tahun itu lepas! Semoga ia takmemberatkan apalagi mengeraskan kepalaku. Semoga ia takmenutupi mata hatiku.

Andai kau ada di sini waktu itu, kita tentu akan berjalan ke stasiun, menunggu kereta lewat dan berterikan bersama “Akhirnya kau enyaaah jugaaa dari kehidupankuuu!” Ah.. takpenting memang. Mungkin karena sudah berlalu, mungkin karena sudah terlalu lama aku mengulur waktu, mungkin karena aku belum bertemu kamu, semuanya terasa biasa-biasa saja waktu itu. Ingin menangis, tapi takada air mata yang menetes. Ingin berteriak, tapi aku terlalu malas untuk pergi ke stasiun. Ingin melebih-lebihkan, tapi semua yang kulakukan masih penuh kekurangan. HAHAHA!

Kali ini, semoga semua sampai padamu. Pada jantung yang masih berdetak kencang hingga saat ini. Pada hati yang tetap sabar melipat jarak dan waktu. Pada kehangatan budi yang selalu kau sebarkan ke penjuru bumi. Pada langkah yang hanya tertuju pada-Nya. Tolong sampaikan, aku rindu. Tentang kebekuan ruang tunggu, akan aku ceritakan lain waktu.[]

Aku yang selalu rindu,

Maneka

: but i need to know

Dear Sukab,

Seemed impossible, seemed absurd, I didn’t even know you before
Kept my distance, closing in, I don’t mind caressing your skin

Kebingaran. Itulah aku. Aku adalah manusia keterangan. Segala yang kualami rasanya harus kusampaikan kembali kepada orang lain seterang-terangnya. Segala sesuatu harus diberi keterangan. Semakin banyak kalimat pengurai, semakin terasa jelas apa yang dimaksudkan. Lalu aku mulai menerangkan segala yang terasa baru. keterangan menjadi keseharian. mampu menerangkan apa yang dirasakan padamu menjadi kebahagiaan amat sangat. mungkin waktu itu tujuanku hanya satu, menerjemahkan apa yang aku rasakan agar kamu mengeri dan merasakan hal yang sama. Namun aku lupa, taksemua orang perlu keterangan.

Kebisuan. Itulah kamu. Kamu adalah manusia yang takperlu keterangan. Segala sesuatu yang kamu alamai cukup dirasakan sedalam-dalamnya. Takperlu sedikitpun keterangan. Semakin dalam perasaan yang kamu rasakan, semakin ringkas pernyataan yang tersampaikan. Singkatan menjadi keseharian. Akhirnya aku taktahu banyak soal kamu. Rahasia adalah inti dirimu. Namun kamu taksadar, taksemua orang bisa menerima kebisuan.

Waktu mengajari kita belajar tentang kebingaran dan kebisuan. Bila taksatupun yang mengambil pelajaran, yang akan muncul pasti pertanyaan soal keterangan tentang kita. Tapi tetap saja jawabannya adalah kebisuan. Lalu pada sebuah jeda, aku sangat suka bernyataan manusiawimu tentang pertanyaan dan jawaban:

“Lah? Mana ada orang gak boleh tanya kalau gak tau jawabannya.

Ada juga orang nanya karena butuh jawaban”

That’s right! Pernyataanmu benar dan sangat tepat. Tapi mengapa itu terdengar agak aneh ya? Semua yang kamu katakan menyelisihi apa yang kamu lakukan.

Setiap pertanyaan perlu jawaban. Setiap orang yang bertanya perlu jawaban atas pertanyaannya. Dalam hidup, banyak pertanyaan yang menyediakan pilihan: boleh dijawab atau tidak. Namun, ada juga pertanyaan yang harus dijawab. Banyak juga pertanyaan yang tidak dapat ditimpali dengan kalimat “terserahku dong, mau dijawab atau enggak!” Ada pertanyaan yang benar-benar harus dijawab. Celakanya, kebisuan tidak dapat dihitung sebagai jawaban.

Seperti halnya ujian sekolah, setiap pertanyaan bebas kamu jawab dengan jenis jawaban manapun. Namun, jangan lupa! Setiap ujian punya batas waktu menjawab. Setiap pertanyaan punya usianya. Setiap jawaban punya masa kadaluarsa. Mungkin ada pertanyaan yang bisa kamu tangguhkan menjawabnya, tapi ada pertanyaan yang harus kamu jawab saat itu juga.

Waktu mengajariku tentang kebisuanmu. Aku mencoba menerjemahkan setiap kebisuan sebagai sebuah keterangan. Namun, hasilnya hanya membuatku tersesat dalam makna ketiadaan dan kelemahan. Jawabanmu mungkin berumur panjang, tapi pertanyaanku berbatas waktu. Huffh.. Aku rindu keteranganmu. Terangkanlah…

Something old, something new, something I didn’t thought could be true
Love’s too strong and a bit cliché, For now this is enough, I’ve got a long way
Something old, something new, Something I didn’t thought could be true
I’m afraid to ask but I need to know, Would you want me to stay?Or would you want me to go?

These are my feeling I hope you’ll understand  It might not be much, but it’s more than I can spend

Penuh Cinta

Maneka

*song: Better Than Love [Sherina]

kisah-kisah Sukab bisa dibaca di blog Seno Gumira Ajidarma

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript